Bab 1

"Mil, ini jatah belanja bulanan untuk kamu. Lima juta rupiah. Cukup, 'kan?" tanyaku pada Mila, wanita muda yang baru sebulan lalu kunikahi dan kujadikan istri kedua.

Kuangsurkan selembar amplop berwarna coklat padanya yang segera diterima dengan senyum tipis terkembang di bibirnya.

Mila memang cantik. Ia selalu bisa memanjakan mata ini dengan penampilannya yang menyenangkan dan sedap dipandang. Ia juga tak pernah menolak setiap kali aku membutuhkan pelayanan darinya.

Tak salah jika akhirnya aku mengambil keputusan untuk menjadikannya istri kedua guna melengkapi hidup yang selama ini terasa bosan dan menjemukan.

Mila mengambil amplop gaji di tanganku lalu menyimpannya sedikit tak bersemangat.

Melihat ekspresinya yang tampak tak bersemangat itu, aku pun memicingkan mata dan bertanya heran.

"Kenapa? Kurang ya?" tanyaku sembari meneliti paras cantik di depanku itu.

Perempuan itu memandangku sekilas lalu menundukkan kepalanya, menyembunyikan raut wajahnya.

"I ... iya sih, Mas ... tadinya aku berencana mau ke klinik kecantikan, beli baju baru dan nambahin koleksi perhiasan, tapi karena Mas cuma bisa ngasih lima juta ya terpaksa aku tunda dulu semua itu," ujar istri mudaku itu sambil menggandeng tanganku lalu menghela langkahku menuju ruang makan.

Mendengar kalimat bernada mengeluh dan manja darinya, aku pun memeluk wanita cantik itu lebih erat.

"Ya, udah nanti pertengahan bulan mas tambahin lagi ya, tunggu proyek cair dulu tapi. Jangankan lima juta, dua puluh juta juga pasti mas kasih!" sahutku sembari mencubit pipinya dan menggoda istri mudaku itu agar ia tak lagi sedih.

Benar saja. Mendengar jawabanku, Mila tersenyum girang lalu memelukku erat-erat.

"Janji ya, Mas! Mas baik banget deh. Nggak nyesel aku jadi istri walaupun cuma istri kedua kalau begitu," ucapnya lagi lalu dengan penuh semangat segera menghidangkan makanan yang barusan kupesan di sebuah rumah makan via ojek online dan segera menikmati makan siang berdua.

Usai makan siang, seperti biasanya, Mila mengajakku ke peraduan. Memberi kebutuhan batin yang selama ini jarang kudapatkan dari Andin, istri pertamaku.

Andin yang selalu sibuk dengan urusan rumah, urusan anak, belum lagi harus mengurus ibuku yang stroke, memang akhir-akhir ini tak bisa lagi secara maksimal melayani kebutuhanku.

Aku memang sengaja meminta istriku itu untuk merawat kedua putri kami dan ibuku yang sedang sakit dengan tangannya sendiri. Maklum, aku tak percaya ART dan merasa lebih nyaman jika semua urusan itu ditangani istriku sendiri.

Namun, aku tak pernah menyangka jika akibatnya, Andin jadi melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri terhadapku.

Malam demi malam jadi sering kulalui dalam kesepian dan kedinginan. Setiap kali aku meminta hak, Andin selalu melakukannya dengan terpaksa. Kadang malah menolak dengan alasan tidak mood dan capek karena harus mengurus semua urusan rumah tangga sendirian.

Itulah sebabnya, dari pada harus bertengkar dan mengemis padanya setiap hari, akhirnya aku pun memutuskan untuk menikah lagi. Tak sanggup rasanya jika harus berpuasa menahan kebutuhan batin setiap hari.

Begitulah hari-hari penuh keceriaan kulalui sejak memiliki istri muda. Aku yang biasanya hidup datar-datar saja, sekarang jadi bisa merasakan keseruan beristri dua.

Aku yang biasanya pusing memikirkan kebutuhan akan batin ini yang tak pernah tertunaikan, sekarang sudah bisa merasa nyaman dan tenteram karena ada istri kedua yang selalu siap sedia melayani saat dibutuhkan.

Ya, rasanya wajar jika aku menikah lagi karena istri pertamaku enggan menunaikan kewajibannya itu terhadapku.

Selama ini pertemuanku dengan Mila sendiri hanya kulakukan di siang hari saja, karena malam hari aku harus pulang ke rumah sebab aku tak mau Andin sampai tahu jika aku diam-diam telah menikah lagi. Aku belum siap kehilangan wanita yang sudah memberiku dua orang buah hati itu.

Jika Andin sampai tahu dan marah, siapa lagi yang akan mengurus kedua buah hatiku dan ibu yang sedang sakit serta hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur?

Ya, Andin tak boleh sampai tahu jika aku sudah menikah lagi dan memiliki istri baru.

Lanjut?

Bab 2

"Aaaaa ... aaaa ... aaaa ...." Teriak ibu saat aku melintas di depan kamar beliau yang pintunya terbuka lebar.

Seperti biasanya, itu kode jika ibu menginginkan sesuatu. Bukan ingin BAB atau BAK karena jika ingin melakukan dua hal itu, ibu cukup membuangnya di tempat tidur lalu Andin akan buru-buru membersihkan.

Kode itu berarti ibu ingin minum atau makan, yang kedua-duanya harus disuapkan dengan telaten.

Mendengar teriakan ibu itu, bergegas aku memanggil Andin yang barusan kulihat sedang membersihkan diri di kamar mandi.

Aku sendiri sedang buru-buru karena Mila sudah menungguku di apartemen, hendak mengajakku sama-sama hunting baju baru di butik.

"Din, Andin. Ini ibu manggil-manggil. Pengen makan mungkin!" teriakku pada Andin yang masih berada di dalam kamar mandi.

Mendengar teriakanku, Andin diam saja. Tumben? Biasanya istri penurutku itu akan cepat-cepat datang untuk melaksanakan perintahku. Tapi kali ini kelihatannya tidak meski aku yakin Andin pasti mendengar seruanku.

"Din? Andin?"

Ceklek. Pintu kamar mandi terkuak. Andin muncul dengan handuk melilit kepalanya.

"Ada apa, Mas?" tanyanya datar sambil dengan acuh tak acuh mengeringkan rambut lalu menggantung handuk di kapstok.

"Itu ibu manggil-manggil. Mungkin minta makan, Din," jawabku.

"Terus?"

"Terus? Maksudnya?" Aku mengernyitkan kening. Merasa heran dengan pertanyaan istriku itu. Apa perlu aku mengingatkannya untuk memberikan ibu makan?

Selama ini toh ia sudah tahu dan paham tugas itu tanpa harus diingatkan lagi?

"Kalau ibu minta makan terus kenapa? Hari ini Mas libur kerja kan? Apa nggak bisa Mas yang suapin ibu makan?" tanya Andin sembari membuka lemari pakaian lalu memilah-milih baju.

Lho, memangnya ia mau ke mana? Biasanya di rumah juga cuma dasteran. Tapi kenapa sudah dasteran kok masih mencari baju yang lain lagi?

"Mas yang suapin? Kan biasanya juga kamu yang nyuapin? Kok jadi mas?" Aku kembali mengernyitkan dahi menatap bingung istriku.

"Iya, itu kan kalau mas kerja. Kalau mas libur, apa salahnya gantian? Toh, itu ibu mas sendiri kan? Aku mau jalan sekali-kali Mas, suntuk di rumah terus. Hidup kan harus seimbang. Ada saat capek ada saatnya refreshing. Lagipula sudah lama aku nggak keluar. Pengen beli baju, Mas," ucap Andin sembari mengambil selembar gamis dan mematutnya di depan cermin.

Gamis itu seingatku dibelinya dua tahun yang lalu saat hendak lebaran. Masih terlihat baru karena memang jarang dipakai. Meski harganya tidak mahal, tetapi karena jarang dipakai jadi masih terlihat bagus. Lalu untuk apa lagi Andin ingin beli baju baru kalau yang lama juga masih bagus?

"Tapi, mas juga mau keluar, Din. Mas ada janji sama rekan bisnis, ada tender yang mau dibicarakan siang ini. Kamu aja urus ibu, ya?" kelitku beralasan supaya Andin batal keluar sehingga acara jalan-jalanku bersama Mila tidak terancam gagal.

Namun, melihat ekspresi datar wajah Andin, aku terpaksa menelan ludah.

Aku tahu watak istriku yang tidak banyak bicara dan tidak banyak permintaan ini.

Namun, jika ia sudah punya keinginan, pantang ditolak. Kalau tidak, bisa sebulanan ia ngambek hingga bisa-bisa ibu terlantar karena Andin tak mau lagi mengurus beliau.

"Setiap hari Mas keluar, sedangkan aku? Coba Mas hitung dalam satu tahun ini pernah nggak aku keluar dan ninggalin ibu sendirian? Aku juga manusia biasa, Mas. Punya rasa capek dan lelah. Pengen refreshing sekali-kali. Aku sudah berusaha menjadi istri dan menantu yang baik di rumah ini. Tapi, kalau Mas nggak puas juga silahkan Mas cari yang lain. Aku nggak masalah dan nggak keberatan sama sekali kok," ujarnya datar lalu tanpa menghiraukan protes dariku, Andin membuka dasternya dan menggantinya dengan gamis di tangannya.

Mendengar perkataannya, aku hanya bisa menutup mulut dengan rasa kaget yang tidak bisa kusembunyikan.

Andin, ada apa dengan istriku itu hingga tiba-tiba sikapnya berubah dingin dan ketus seperti ini???

Bab 3

"Mas, aku pergi dulu ya. Tolong jaga Sekar dan Seruni. Aku nggak akan lama. Paling mau ke butik Jeng Dina aja. Lihat-lihat koleksi terbarunya yang kemarin dipajang di Instagram," ucap Andin sembari menyampirkan tas di pundak lalu bersiap pergi.

Aku yang sedang menyuapi ibu bubur nasi, hanya bisa melongo heran.

Aneh.

Tak biasa-biasanya Andin begini, ingin pergi ke butik segala untuk belanja pakaian.

Biasanya ia hanya akan menunggu setahun sekali untuk beli baju baru, itu pun cuma beli di kios kaki lima pinggir jalan, bukan di butik seperti ini. Apalagi butik milik Jeng Dina, seleb kompleks perumahan yang punya bisnis toko pakaian besar di kota ini.

Satu pertanyaan lagi, alasan apa sih yang tiba-tiba membuat istriku berubah drastis secepat ini? Dari istri kampungan dan tak bisa dandan, menjadi istri yang tiba-tiba peduli fashion, sampai hendak ke butik segala.

Ya. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri Andin hingga dia yang biasanya penurut dan tak pernah menuntut apa-apa kini seolah menjelma menjadi istri yang banyak maunya. Belum lagi sikapnya yang mendadak jadi dingin, sedingin salju dan ketus dalam berbicara. Ada apa ini???

Dan ... si*l! Harusnya aku yang pergi ke butik bersama Mila, bukan dirinya. Tapi apa daya, karena sibuk memikirkan perubahan sikap Andin yang begitu luar biasa ini, aku jadi luput mencegah kepergiannya sehingga jadilah rencanaku pergi bersama Mila gagal total.

"Oh ya, aku boleh pinjam ATM-nya Mas? Karena ATM-ku nggak berlaku lagi, harus ganti yang baru dulu baru bisa digunain lagi. Masalahnya aku belum sempat ke bank, Mas. Jadi, sementara aku bawa ATM mas aja ya buat belanja. Tenang, nggak akan habis dua puluh juta kok," ucapnya datar.

"Maksudnya?" Aku memicingkan mata, tak suka dan merasa semakin aneh mendengar perkataannya itu.

Ah, apa jangan-jangan Andin tahu ya kalau aku baru saja mentransfer uang pada Mila sebesar nominal itu hasil dari menang tender proyek kemarin ya?

Tapi tidak mungkin! Andin tak pernah sekalipun menyentuh ponselku apalagi mengetahui sandinya. Lalu bagaimana bisa ia tahu kalau aku baru saja memberi Mila sejumlah uang sebanyak itu?

Ia istri yang polos dan tak banyak menuntut. Tak mungkin berbuat macam-macam seperti kebanyakan perempuan lain. Jadi, tak perlu rasanya aku menjatuhkan rasa curiga secara berlebihan kepadanya.

"Nggak papa, Mas. Ya, sudah ya. Aku pergi dulu. Nanti nggak selesai-selesai kalau nggak pergi-pergi. Mana ATM-nya, nanti aku kembalikan lagi," ujarnya sembari mengulurkan telapak tangan hingga aku terpaksa merogoh dompet dan mengeluarkan benda itu dari dalamnya.

Andin menerima dengan wajah datar tetapi netranya fokus menatap ke arahku.

"Password-nya? Masih yang lama, Mas?" tanyanya.

Ya, Tuhan. Bagaimana ini? Password-nya baru saja kuganti!

Password lama ATM itu adalah tanggal pernikahan kami, tetapi sejak menikah dengan Mila sebulan lalu, password itu sudah kuganti menjadi tanggal pernikahanku dengannya, atas permintaan Mila.

Ah, bagaimana ini? Gawat kalau Andin sampai marah dan curiga akibat password ATM itu telah kuganti menjadi tanggal pernikahanku dengan Mila. Bisa-bisa ia ngambek dan tak mau lagi merawat ibu selama-lamanya.

"Kenapa, Mas?"

"Emm ... password-nya udah kuganti, Din. Kan kita disuruh sering-sering ganti password supaya nggak dibobol orang," kelitku berusaha membuatnya tidak curiga.

"Oh. Jadi berapa nomornya?" tanyanya dengan suara datar.

Aku menyebutkan sederet nomor yang kuingat di luar kepala yang membuat sejenak wajah Andin berubah.

"Oh, itu bukannya tanggal saat Mas pamit keluar kota kemarin terus nggak pulang-pulang ya? Tahu-tahu posting foto lagi di Bali? Ya, udah. Aku bawa dulu. Jangan lupa kalau ibu BAB dan BAK, tolong dibersihkan ya!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED