Suara petir yang saling bersahutan disertai kilatan cahaya di langit telah menghentikan langkah seorang gadis yang terburu-buru ingin pulang. Satu tangannya memegang daun talas yang cukup lebar untuk menutupi tubuhnya dari guyuran hujan yang semakin deras dan satu tangannya lagi memegang sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
"Sebaiknya aku berteduh dulu di gubuk itu, ini hujannya malah semakin deras," gumamnya sendiri dengan kaki yang sudah tidak beralas sandal karena sengaja dilepas untuk menghindari terpeleset dari tanah yang licin.
Sebuah gubuk tua yang berdinding anyaman bambu yang sudah terlihat bolong di beberapa tempat, gadis itu pakai sementara untuk berteduh dari guyuran hujan yang tidak bersahabat.
Pintu tua yang telah usang perlahan gadis itu buka. Daun talas yang dipakai untuk melindungi dirinya tadi dari guyuran hujan, diletakan begitu saja di atas meja yang telah tua dimakan waktu.
"Lebih baik aku berteduh sebentar di sini, sangat bahaya bagiku jika melanjutkan perjalanan," gumam gadis itu melihat isi gubuk yang tidak terlalu besar.
Sebuah kursi tua satu-satunya yang ada di dalam gubuk, gadis itu pakai untuk meletakan wadah yang dari tadi tidak dilepas dari tangannya untuk meletakan wadah.
"Rokku basah dan kotor," gumamnya melihat ujung roknya yang selutut terlihat basah dan sedikit kotor terkena cipratan tanah.
Tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar membuat gadis itu langsung berjongkok dan menutup telinganya disertai jeritan yang ke luar dari bibir kecilnya. "Aaaa!"
Belum habis dari rasa terkejut karena suara petir yang begitu kencang disertai kilatan cahaya, tiba-tiba pintu didorong seseorang dari luar dengan kencang.
"Ya Tuhan, aku sangat takut," terdengar suara seorang wanita.
Gadis itu langsung melihat siapa yang datang dengan posisi masih berjongkok serta tangan yang masih menutup telinganya.
"Rupanya ada orang di sini," wanita itu melihat gadis yang sedang berjongkok sehingga mata mereka beradu. "Syukurlah ternyata aku tidak sendirian."
Gadis itu berdiri. "Aku sedang berteduh di sini."
"Aku boleh ikut berteduh di sini?" Tanya wanita itu. "Aku baru dari kebun habis petik sayuran, tapi di jalan mau pulang hujan begitu deras dan petirnya sangat menyeramkan. Aku sangat takut."
"Silahkan saja kalau mau berteduh di sini. Gubuk ini juga bukan punyaku," jawab gadis itu. "Kita sama-sama numpang berteduh."
Tiba-tiba terdengar suara petir diluar begitu kencang disertai kilatan cahaya sehingga membuat kedua orang yang sedang berteduh di dalam gubuk berteriak kencang karena kaget. "Aaa!"
Keduanya langsung berjongkok dengan kedua tangan menutup telinga serta mata yang terpejam.
"Aku paling takut dengan petir," ucap wanita itu.
"Aku juga takut dengan petir," gadis itu melihat ke arah jendela yang terbuka sedikit dan terlihat hujan masih begitu deras.
"Apa tidak berbahaya kita berteduh di sini?" Tanya wanita itu.
"Mudah-mudahan tidak, kita mau berteduh di mana lagi? Hanya gubuk ini tempat yang paling aman. Jarak dari sini ke rumah penduduk sangat jauh."
"Iya," jawab wanita itu. "Ngomong-ngomong kita belum berkenalan. Aku Asih. Panggil saja aku Asih, walau sepertinya kamu lebih muda dariku."
"Aku Cinta," jawab gadis itu kembali berdiri.
"Nama yang cantik, secantik yang punya nama," puji Asih.
"Terima kasih," jawab Cinta melihat sebuah wadah dari bambu yang tidak jauh berbeda dari miliknya di atas meja berisikan sayuran segar dan cabe merah.
"Itu sayuran yang aku petik tadi dari kebun," Asih seperti tahu dengan apa yang sedang dipikirkan Cinta.
"Sayurannya segar-segar."
"Aku sendiri yang menanam sayurannya. Kalau kamu mau, boleh kamu ambil. Kita bagi dua," Asih mengambil wadah miliknya.
"Eh, tidak usah. Itu punyamu, pasti kamu sangat membutuhkannya sampai hujan-hujan kamu memetiknya," Cinta menolaknya.
"Tidak apa-apa. Ini juga terlalu banyak buatku. Di rumah aku hanya tinggal berdua dengan Nenek." Asih mengambil beberapa sayuran dalam wadah miliknya dan dimasukkan ke dalam wadah milik Cinta yang terlihat kosong.
"Benar ini tidak apa-apa?" Tanya Cinta untuk lebih memastikan.
"Iya, ini untukmu. Masak dengan enak sayurannya di rumahmu."
"Terima kasih," jawab Cinta senang melihat wadahnya sekarang terisi sayuran.
"Kamu sendiri darimana?" Tanya Asih. "Sampai bisa berada di tempat seperti ini."
"Aku tadi dari kebun. Niatnya mau mencabut singkong, tapi belum juga dapat singkongnya sudah hujan, turun begitu deras," jawab Cinta.
Selagi mereka asik bicara, tiba-tiba pintu didorong dari luar kemudian masuk tiga orang pria dengan tubuh setengah basah serta tangan yang memegang daun pisang yang lebar.
Cinta dan Asih serta tiga pria itu saling berpandangan dalam beberapa saat.
"Maaf, kami kira tidak ada orang," ucap salah satu pria yang tubuhnya lebih pendek dari kedua temannya.
"Biasanya kami kalau lewat gubuk ini tidak pernah ada orang," sambung pria yang kulitnya lebih putih melihat Cinta dan Asih dari atas sampai bawah.
Sementara pria yang satunya lagi tidak bicara, tapi sorot dari kedua bola matanya terlihat tidak bersahabat.
Cinta dan Asih tanpa sadar saling berpegangan tangan, karena melihat gerak-gerik dan mata ketiga orang tersebut sangat tidak bersahabat.
"Kalian berdua dari kebun?" Tanya pria berkulit putih melihat wadah yang ada di atas meja penuh dengan sayuran segar.
"Iya," jawab Asih mencoba bersikap sewajarnya agar tidak terlihat ketakutan.
Salah satu dari ketiga pria tersebut yang bertubuh pendek melangkah mendekati Asih dan Cinta. "Kalian hanya berdua di sini?"
"Iya," jawab Cinta semakin erat memegang tangan Asih. "Kami kehujanan."
"Rumahmu di mana?" Tanyanya lagi.
"Tidak jauh dari sini," jawab Asih tetap bersikap biasa saja.
"Setahuku kampung yang terdekat dari sini cukup jauh," ucap pria berkulit putih. "Kami sering melewati tempat ini, jadi kami tahu jarak setiap kampung ke kampung yang lainnya."
"Kalian bukan penduduk sini?" Tanya Cinta.
"Bukan, kami hanya sedang melewati tempat ini saja," jawabnya.
Tiba-tiba terdengar petir yang menggelegar sehingga membuat Cinta dan Asih menutup kedua telinganya karena terkejut, tapi berbeda dengan ketiga pria tersebut yang sama sekali tidak terpengaruh dengan suara petir.
Salah satu pria yang dari tadi tidak bicara, tiba-tiba datang mendekati Cinta dan Asih. "Kalian berdua sangat cantik."
Cinta dengan cepat memegang tangan Asih karena takut. "Terima kasih."
"Aku tidak bohong," ucapnya lagi sambil melihat Cinta dari atas sampai bawah. "Bukankah begitu teman-teman, gadis ini sangat cantik?"
"Iya betul. Sepertinya mereka kembang Desa," jawab pria berkulit putih.
Asih melihat pria yang ada di depannya sudah penuh dengan kecurigaan. Digenggamnya tangan Cinta jika sewaktu-waktu mereka berdua harus lari karena tindak tanduk ketiga pria tersebut sudah tidak wajar.
"Jangan takut, kami tidak berbahaya. Ha-ha-ha," pria yang bertubuh pendek tertawa.
Asih melihat ke arah jendela, hujan terlihat masih deras tapi tidak sederas tadi. "Hujan sudah mulai reda, kami akan pulang."
"Kenapa terburu-buru?" Tanya pria berkulit putih sambil menutup pintu rapat-rapat untuk mencegah kedua gadis itu ke luar.
"Di luar masih hujan, tunggulah sebentar lagi," ucap pria bertubuh pendek.
Asih semakin erat memegang tangan Cinta. "Lebih baik kami pulang, orang di rumah pasti sangat khawatir menunggu kepulangan kami."
"Tunggu hujannya reda saja," ucap pria berkulit putih.
"Temani kami bertiga sebentar saja di sini sambil menunggu hujan reda," pria bertubuh pendek mendekati Cinta.
"Kami harus pulang," Asih menarik lengan Cinta agar ikut dengannya mengambil wadah sayuran yang ada di atas meja.
"Nanti kamu bisa sakit kalau pulang hujan-hujanan. Tunggu sampai hujannya reda baru kamu bisa pulang," pria berkulit putih tersenyum.
Asih tidak mempedulikan ucapan ketiga pria tersebut, setelah mengambil wadah sayurannya, dengan cepat segera berjalan ke arah pintu yang telah ditutup rapat.
"Kalian tidak bisa pergi kemana-mana," tiba-tiba pria bertubuh pendek menghadang langkah Asih dan Cinta.
"Apa maksudmu? Kami akan pulang," Asih menatap pria yang ada di depannya.
"Aku tadi sudah bilang, tunggu sampai hujannya reda, baru kamu dan temanmu boleh pulang. Sekarang temani kami di sini sebentar saja," jawabnya.
Cinta yang berdiri di belakang Asih melihat satu per satu ketiga pria tersebut. Wajah mereka terlihat seperti orang yang akan menerkam mangsanya sampai habis.
Asih masih mencoba untuk bersabar dan berharap ada keajaiban, ketiga pria yang ada di depannya tidak berbuat macam-macam kepadanya dan Cinta. "Maaf, bisa kami lewat?"
Bukan jawaban yang ke luar dari bibir ketiga pria tersebut, tapi senyum menyeringai dan tatapan lapar yang sekarang mereka perlihatkan.
Cinta dan Asih mulai bisa membaca apa yang sedang dipikirkan ketiga pria tersebut. Wadah sayur yang ada di tangan masing-masing dipegangnya kuat-kuat berharap bisa dipakai sebagai senjata jika sesuatu terjadi.
Pria bertubuh pendek menatap Cinta dengan senyum menyeringai. "Gadis ini milikku. Kalian berdua boleh mencicipinya setelah aku yang melakukannya pertama."
"Matamu memang tidak pernah salah dalam menilai gadis cantik. Aku tahu dari pertama kamu melihatnya, otakmu sudah dipenuhi bayangan tubuhnya. Ha-ha-ha," jawab pria berkulit tubuh.
Jantung Cinta dan Asih semakin berdetak kencang begitu mendengar percakapan mereka. Sekarang terlihat jelas, kalau niat mereka memang tidak baik.
"Ayo manis, hujan begini lebih baik kita melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan. Daripada kalian pulang hujan-hujanan, lebih baik kita berolahraga yang akan membuat tubuh kita sehat," ucap pria bertubuh pendek.
"Ha-ha-ha. Betul apa katamu," jawab pria berkulit putih menatap Asih. "Jangan takut, kita tidak akan mencelakai kalian berdua, justru kami akan memberi kalian kenikmatan yang tiada tara."
"Mari manis, aku sudah tidak tahan. Hanya dengan melihat rokmu yang basah karena hujan saja, kamu sudah membangunkan sesuatu dari diriku sejak pertama melihatmu," pria bertubuh pendek tiba-tiba dengan cepat menarik tangan Cinta.
"Aaa!" Cinta kaget bukan kepalang, tanpa persiapan untuk mengelak tiba-tiba pria itu menariknya.
"Lepaskan temanku!" Asih berusaha membantu dengan menarik kembali tangan Cinta, tapi kedua teman pria itu tidak tinggal diam, dengan cepat segera memegang tubuh Asih.
"Lepaskan!" Teriak Cinta memukul lengan pria yang menarik tangannya dengan wadah yang dipegangnya sehingga bisa terlepas.
Begitupun dengan Asih, wadah sayuran yang dipegangnya segera dilempar ke wajah kedua pria tersebut. "Kurang ajar! Lepaskan!"
Asih dan Cinta tidak membuang kesempatan, di saat ketiga pria tesebut sibuk dengan wadah sayuran yang dilempar kemuka mereka, dengan cepat Cinta dan Asih segera menuju ke arah pintu yang telah ditutup rapat. "Ayo, cepat. Kita pergi dari sini!"
Pintu berhasil mereka buka dengan paksa, hujan yang tidak terlalu deras diluar sekarang terlihat di depan mata Asih dan Cinta, tapi belum kakinya menginjak tanah luar, tubuh Asih dan Cinta tiba-tiba melayang masuk kembali ke dalam gubuk.
"Mau lari ke mana kalian?" Tanya pria berkulit putih.
"Lepaskan!" Cinta berontak berusaha melepaskan diri ketika melihat pinggangnya dipeluk erat dari belakang, begitupun dengan Asih yang kondisinya tidak jauh berbeda dari Cinta.
"Kalian tidak bisa lolos dari kami bertiga. Layani kami dulu, baru kalian bisa pulang dengan selamat!" Ancam pria yang berada di belakang tubuh Cinta.
"Tutup pintunya! Jangan sampai kedua wanita itu lolos, aku sudah tidak tahan ingin segera menikmati tubuh keduanya yang kelihatanya mereka masih perawan," ucap pria berkulit putih.
"Mereka masih perawan?" Tanya pria berkulit hitam. "Ha-ha-ha. Berarti kita mendapatkan rejeki nomplok."
"Ha-ha-ha. Kelihatanya sih begitu, tubuh mereka terlihat masih kencang. Ha-ha-ha," pria berkulit putih tertawa terbahak.
"Kalau begitu, ayo cepat kita lakukan sebelum ada orang datang. Kelihatannya hujan juga mulai reda," pria berkulit putih menarik tubuh Asih dari belakang ke sudut.
"Lepaskan!" Asih berteriak sambil berontak memukulkan tangannya ke belakang, tapi usahanya sia-sia. Tenaga pria yang dibelakangnya tidak sebanding dengan tenaganya.
"Diamlah! Aku akan memberimu kenikmatan yang belum kamu rasakan, tapi apa benar kamu masih perawan?" Tanya pria itu lagi.
"Lepaskan!" Asih berontak tetap berusaha untuk melepaskan diri, baju yang dipakainya sudah tidak beraturan.
"Kamu bantu aku untuk memegang tangannya. Gadis ini tenaganya kuat juga," pria berkulit putih minta tolong pada temannya yang hanya melihat dari tadi.
"Ok, siap!" Jawabnya segera memegang tangan Asih.
"Lepaskan!" Wajah Asih semakin ketakutan, sekarang dua orang sudah memegang tubuh dan tangannya.
Cinta yang melihat Asih dipegang dua orang, matanya terbelalak lebar, tapi dirinya juga tidak bisa menolong karena tubuhnya pun sedang dipegang pria bertubuh pendek.
Beberapa detik Cinta terdiam. "Tenang Cinta, tenang. Kendalikan dirimu, berpikir, ayo berpikir. Cari cara agar bisa lepas dari ketiga pria gila ini. Ya Tuhan, berikan petunjukmu. Beri aku jalan ke luar agar bisa lepas dari orang-orang ini," hati Cinta bicara sendiri.
Satu keajaiban datang, ditengah kesulitan pasti selalu ada pertolongan jika hati dengan bersungguh-sungguh berdoa. Dilihatnya ke bawah, lalu dengan sekuat tenaga diinjaknya kaki pria bertubuh pendek tersebut.
"Aaa!" Teriak pria itu kencang langsung melepaskan pelukannya dan segera memegang kakinya yang terasa berdenyut diinjak sekuat tenaga oleh Cinta dengan kaki yang beralas sandal. "Sakit!"
Cinta tidak membuang kesempatan, segera diambilnya wadah sayur yang tergeletak di bawah kemudian dipukulkan pada kedua pria yang sedang memegang tubuh Asih. "Lepaskan temanku brengsek! Lepaskan!"
Satu pria berhasil Cinta pukul dengan wadah sayuran sehingga pegangan pria itu terlepas dari tangan Asih. Kesempatan juga tidak dibuang Asih, dengan cepat satu pria yang masih memegang tangannya segera digigitnya.
"Aaa!" Pria itu menjerit kencang ketika gigi tajam Asih berhasil menancap ditangannya. "Aaa, sakit!"
Asih dengan cepat segera bangun lalu menendang pria berkulit putih yang masih merasakan sakit di tangannya karena bekas gigitannya. "Brengsek! Rasakan itu!"
Cinta terus menerus memukul kepala pria berkulit hitam itu dengan wadah sayuran hingga pria itu jatuh tersungkur.
"Cepat! Kita pergi dari sini!" Asih menarik tangan Cinta.
"Ayo!"
Cinta dan Asih tanpa membuang waktu segera pergi berlari ke luar dari gubuk. Hujan yang belum reda sudah tidak mereka pedulikan, yang ada di dalam keinginan Cinta dan Asih hanya ingin cepat pergi untuk menyelamatkan diri dari ketiga pria tersebut.
Tanah licin dan hujan yang belum reda, Cinta dan Asih terobos. Tubuh dan baju yang keduanya pakai telah basah kuyup, tapi tidak menghalangi untuk terus berlari dengan tangan yang saling berpegangan erat.
Napas Cinta dan Asih sudah tidak beraturan dengan jantung yang berdegup kencang. Asih berhenti sejenak untuk mengambil napas dan menghapus wajahnya dari air hujan, begitupun dengan Cinta melakukan hal yang sama.
"Apa kita dikejar oleh ketiga orang itu?" Tanya Asih dengan napas naik turun.
"Aku tidak tahu, tadi terus berlari tanpa melihat ke belakang," jawab Cinta melihat ke sekeliling yang banyak pohon-pohon rindang. "Kita ada di mana?"
Asih pun melihat ke sekeliling dan baru tersadar kalau mereka telah berlari tanpa arah. "Aku tidak tahu kita ada di mana, tapi ini sepertinya hutan. Kita telah salah jalan."
Cinta melihat lagi ke sekelilingnya yang banyak ditumbuhi pohon-pohon di antara guyuran hujan. "Benar, ini sepertinya hutan. Kita telah salah arah, kita memasuki hutan."
"Benar, ini hutan," Asih melihat kesekelilingnya yang terlihat sunyi. "Kita berlari memasuki hutan."
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Jika kita kembali, mungkin kita akan bertemu lagi dengan ketiga orang tersebut, tapi jika kita terus ke depan, sudah pasti kita akan semakin memasuki hutan."
"Sejauh apa kita tadi berlari memasuki hutan ini?" Tanya Asih dengan napas yang belum normal.
"Tidak tahu, aku lupa. Tadi yang aku pikirkan terus saja berlari untuk menyelamatkan diri dari ketiga pria gila itu," jawab Cinta. "Apa mereka tidak mengejar kita?"
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya tidak," jawab Asih melihat ke belakang di mana tadi mereka berdua berlari, tapi yang terlihat hanya hujan dan pohon-pohon.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Tanya Cinta.
Selagi Cinta dan Asih sedang berbincang, samar-samar terdengar suara orang yang berteriak di antara suara hujan.
"Apa kamu mendengarnya?" Tanya Cinta dengan wajah kembali tegang.
"Iya, aku mendengarnya. Mereka ternyata mengejar kita," jawab Asih memasang telinga dengan penuh kewaspadaan.
"Sialan! Mereka tidak menyerah," gumam Cinta.
Terdengar lagi suara teriakan. "Di mana kalian? Jangan kabur!"
Wajah Cinta dan Asih semakin tegang, suara yang berteriak semakin jelas terdengar.
"Sebaiknya kita cepat pergi dari sini sebelum mereka bertiga datang," ajak Asih.
"Tapi ke mana?" Tanya Cinta. "Kita di hutan dan tersesat. Ke mana kita harus berlari?"
Asih melihat sekelilingnya yang banyak pohon-pohon. "Ke mana saja yang penting kita bisa selamat dari ketiga pria gila itu."
"Tapi aku juga takut, bukankah di hutan itu banyak binatangnya? Bagaimana kalau kita bertemu dengan hewan buas?" Tanya Cinta tubuhnya mulai menggigil.
"Tidak mungkin kalau kita tetap waspada. Aku lebih baik mati dimakan binatang buas, daripada kehormatanku diambil ketiga pria brengsek itu."
Wajah Cinta seketika langsung sedih dengan bibir yang terlihat mulai memucat karena kedinginan. "Kenapa aku mengalami kejadian seperti ini? Aku sangat takut."
Asih melihat Cinta dan memegang tangannya yang dingin dan basah. "Sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan, yang harus kita pikirkan adalah, bagaimana caranya agar kita bisa selamat?"
"Tapi jika kita terus berlari ke depan, kita akan terjebak di dalam hutan ini ---," kalimat Cinta dipotong Asih.
"Kalau kita kembali ke belakang, kita akan menjadi boneka mainan ketiga pria brengsek itu. Aku lebih memilih terjebak di dalam hutan daripada tertangkap lagi oleh ketiga pria gila itu," sambung Asih.
Terdengar lagi suara orang yang berteriak dari arah belakang mereka sehingga membuat Cinta dan Asih terkejut.
"Di mana kalian? Ayolah, jangan mencoba kabur dari kami! Kemanapun kalian berlari, kami pasti menemukan kalian!"
"Di mana kalian!" Teriak mereka.
"Ayo! Kita harus cepat pergi sebelum mereka melihat kita!" Asih memegang tangan Cinta untuk mengajaknya pergi. "Mereka semakin mendekat."
Cinta menengok ke belakang, yang terlihat masih pohon dan hujan yang mulai reda. Terlihat sekali wajahnya yang bingung dan ketakutan.
"Tidak ada waktu untuk berpikir, mereka semakin mendekat." Asih menarik tangan Cinta untuk pergi.
Mau tidak mau, Cinta ikut bersama Asih melanjutkan pelariannya masuk ke dalam hutan. Melewati tanah yang penuh genangan air serta ranting-ranting yang sesekali menggores kulit kaki mereka berdua.
"Mereka tidak ada, kita sudah mencarinya sampai sejauh ini, tapi tidak ada jejak keberadaan mereka," kata pria bertubuh pendek.
"Tapi aku yakin mereka berlari ke arah sini. Hanya jalan ini yang mudah dilewati karena semak belukarnya tidak terlalu tinggi," jawab pria berkulit putih.
"Sapto, coba kamu lihat ini," panggil pria berkulit hitam sedikit berjongkok seperti sedang melihat sesuatu.
"Apa itu Didin?" tanya yang dipanggil namanya datang mendekat.
"Ini lihat! Bukankah sobekan kain ini sama dengan warna baju yang dipakai salah satu gadis itu?" Didin mengambil sobekan kain kecil dari ranting pohon.
"Sepertinya begitu," jawab Sapto. "Lihat ini Karto, apa sobekan kain ini sama dengan baju yang dipakai salah satu gadis itu?" Tanya Sapto pada pria bertubuh pendek.
"Iya sama, kain ini sama dengan gadis yang dari awal aku incar. Gadis itu sangat cantik dengan kulit putihnya," jawab Karto mengambil sobekan kain yang ada di tangan Sapto.
Sapto melihat ke sekelilingnya. "Kira-kira mereka berlari ke arah mana? Semuanya nampak sama di sini. Hanya ilalang dan pohon, apalagi sekarang mulai turun kabut. Hujan reda, kabut datang."
"Udara juga mulai dingin, apalagi dengan baju basah begini," Didin melihat baju yang dipakainya. "Bisa masuk angin."
"Kita lanjut mencari gadis itu atau kita pulang?" Tanya Sapto melihat kedua temannya.
"Aku penasaran dengan gadis yang sudah aku incar dari awal. Gadis itu sangat cantik," Karto membayangkan wajah Cinta yang sekarang keberadaanya entah ada di mana.
"Jika dibandingkan dengan istrimu yang setiap hari hanya di dapur dan kebun, gadis itu tentunya sangat cantik. Bahkan jauh lebih cantik," ledek Sapto. "Ibaratnya langit dan bumi. Kulit gadis itu sangat mulus, wajahnya sangat cantik meskipun tanpa riasan. Berbanding terbalik dengan istrimu yang hitam, apalagi dengan alisnya seperti golok yang sering kamu bawa ke kebun."
Didin tertawa terbahak mendengar ucapan Sapto. "Ha-ha-ha. Alis golok namanya."
"Kalian malah menghina istriku. Dia memang jelek, tapi goyangannya hebat di atas ranjang. Aku selalu kalah kalau dia sudah bergoyang pasti selalu cepat untuk keluar," jawab Karto.
"Pantas kamu bertahan dengannya. Senang melihat wanita cantik, tapi istri jelekmu itu kamu pertahankan. Ternyata selama ini kamu terbuai dengan goyangannya," jawab Sapto. "Ha-ha-ha. Goyangan maut."