Bab 1

"Anisa maukah kamu menjadi istri dan ibu sambung untuk Kayla?" tanya mas Arman saat itu.

"Iya Mas, demi Kayla aku mau jadi istrimu," jawabku yakin pada mas Arman.

**

Setelah menikah aku langsung diboyong ke rumah mas Arman di Jakarta karena mas Arman banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal terlalu lama.

Bahagia rasanya karena anak sambungku menerimaku dengan baik, bahkan kami sudah sangat lengket seperti sudah lama kenal padahal kami bertemu pertama kali saat ijab kabul pernikahanku dan Papanya.

Pertama-tama aku di ajak berkeliling rumah bernuansa putih yang memiliki dua lantai, taman, kolam renang, dan fasilitas lainnya yang lumayan mewah hampir mirip dengan rumah orangtuaku.

Aku Anisa Rahmawati, menikah dengan duda anak satu yaitu Arman Hermansyah seorang manajer di salah satu perusahaan ternama. Kami bertemu di cafe favoritku, saat itu aku sendirian di cafe tak sengaja kami bertabrakan kemudian berkenalan.

Disana ia bercerita jika sedang bersedih karena istri tercintanya telah meninggalkannya untuk selama lamanya karena sakit keras, diriku tersentuh mendengar ceritanya kuberi dia semangat agar tidak ia tak tenggelam dalam kesedihannya.

Hari-hari berjalan dengan sempurna dan aku pun jatuh cinta padanya, tidak munafik wanita mana yang tidak luluh jika terus-terusan diberi perhatian oleh pria yang tampan dan juga mapan.

Sampai suatu hari ia melamarku dengan cara yang sangat romantis, aku dibawanya ke sebuah taman yang sudah dihiasi dengan indah ada lantunan musik nan syahdu dan ia berlutut di hadapanku sambil menyematkan cincin di jari manis ku.

"Anisa Rahmawati maukah kamu menjadi istriku dan ibu sambung dari anakku Kayla?" katanya kala itu tanpa berpikir panjang kuterima lamaran dari pria idamanku itu.

Dia menjadikanku ratu di hatinya biarpun aku belum menjelaskan lebih dalam mengenai diriku, mengingat hal manis itu membuatku ingin terbang di awan-awan.

Kini sudah 4 hari aku menjadi istri mas Arman sekaligus ibu sambung untuk Kayla putrinya. Bahagia rasanya menikahi seorang pria yang sukses dan juga tampan, bahkan Kayla sangat mudah berbaur denganku.

Malam sudah menunjukkan pukul 21.15 aku dan Kayla masih setia menunggu kepulangan mas Arman.

"Assalamualaikum," suara mas Arman sosok yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga.

"Wa'alaikumsalam," kubuka pintu rumah dengan senyum yang sumringah menyambut kedatangan suamiku.

"Papa kok pulangnya malam banget sih," ucap Kayla gadis kecil mas Arman.

"Papa lagi banyak kerjaan di kantor makanya pulangnya malam kamu kok belum tidur sayang sudah malam loh," balas mas Arman kemudian mengecup kening putrinya.

"Kayla pengen main sama Papa, kapan kita main? Papa sibuk terus sih," rengek Kayla ya memang mas Arman terlampau sibuk bahkan

setelah menikah mas Arman tak pernah mengajakku jalan-jalan sekedar belanja kebutuhan rumah tangga.

"Nanti ya main ya, sekarang kamu tidur sudah malam besok sekolah kan, ayo masuk kamar terus tidur,"

Dengan kecewa Kayla menuruti perkataan Papanya, sedih rasanya melihat gadis kecil itu padahal dari tadi ia sangat bersemangat menunggu kepulangan sang Papa berharap bisa bermain katanya.

"Mas makan malam yuk, aku udah masakin makanan kesukaanmu loh," ajakku masih dengan senyum yang mengembang.

"Aku capek mau langsung tidur saja," balasnya dengan dingin.

Deg.... apa ini secepat inikah mas Arman berubah?.

"Mas kamu kok sekarang berubah sama aku?" tanyaku penuh kecewa.

"Memang apa yang berubah, aku kan sudah bilang kalau aku capek di kantor banyak kerjaan bikin stress," jawabnya lagi-lagi sangat dingin.

Tanpa memperdulikan kekecewaanku mas Arman berlalu begitu saja dari pandangan mata ini, mengapa kau berubah secepat ini mas kita baru saja beberapa hari menjadi pasangan suami-istri.

Aku mengelus dada, menenangkan hati yang sedang berkecamuk dan belajar memahaminya mungkin benar di kantornya banyak pekerjaan, aku yang terlalu banyak menuntut perhatian. Semoga pekerjaan yang membuatnya begitu lelah, menjadi Lillah Mas.

**

Pagi-pagi sekali mas Arman sudah pergi ke kantornya, sedangkan aku tengah sibuk mempersiapkan Kayla untuk bersekolah semenjak menikah urusan antar-jemput dan semua kebutuhan Kayla menjadi tugasku sebagai istri sekaligus ibu sambung Kayla.

Sepulang sekolah Kayla, aku dan putri sambungku mampir ke cafe untuk melepaskan kebosanan sejenak. Namun mata ini menangkap sepasang kekasih yang nampak sangat mesra yang lelakinya sangat familiar di mataku.

"Mas Arman.... ya itu mas Arman siapa wanita itu mengapa mereka berdua sangat dekat." Mata ini terus mengawasi sepasang manusia itu hingga mereka keluar sambil bergandengan tangan mesra.

Mata ini memanas, dan dada ini bergerumuh tega sekali kau mas.

"Kayla tunggu sebentar disini ya Nak," kataku pada anak sambungku yang nampak anteng menikmati minumannya.

Aku mengejar mas Arman dan wanita itu, tak ingin ketinggalan dengan langkah keduanya.

"Mas Arman..." Panggilku setengah berteriak, mereka pun berhenti dan menyadari kehadiranku.

"Mas siapa dia? kok kalian gandengan tangan mesra seperti itu?" mendengar pertanyaanku keduanya pun melepaskan gandengannya.

"Kenalin aku pacar mas Arman sekaligus calon istrinya," jawab wanita yang berdiri tepat di samping mas Arman.

Deg... dia bilang calon istri? apa aku tak salah dengar, lalu untuk apa mas Arman menikahiku bila dia punya pacar dan calon istri.

"Apa-apaan ini mas, kita ini baru beberapa hari menikah sekarang kamu sudah pacaran dengan wanita lain," kataku sambil menatap tajam mata mas Arman sebisa mungkin kutahan air mataku agar tak jatuh.

"Aku dan Nita bukan baru beberapa hari berpacaran kami sudah berpacaran jauh sebelum kita berdua menikah," jawabnya dengan sangat enteng.

"Apa mas? maksudnya apa?" tanyaku lagi tak percaya dengan perkataan mas Arman.

"Aku sama mas Arman sudah pacaran sebelum kalian saling kenal! ngerti gak sekarang?" wanita disamping mas Arman yang menjawab pertanyaanku kali ini.

"Kalian..... kalian selama ini sudah pacaran?" Aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar.

"Iiiih.... Mas kamu nemu dimana cewek budek begini dijelasin berapa kali nggak ngerti ngerti juga,"

"Denger ya Nisa aku gak pernah cinta sama kamu, aku cuma cinta sama Nita!" ucap mas Arman berhasil membuat air mataku mengalir.

"Dengerin tuh, gimana udah ngerti belum kalau cintanya mas Arman ini cuma buat aku doang," ejek Nita dengan senyum penuh ejekan.

"Lalu untuk apa kamu menikahiku Mas?"

"Jelasin Mas, apa tujuan sebenarnya kamu nikahi dia," sahut wanita yang berani menggandeng mesra suamiku di hadapan istri sahnya.

"Kamu yakin mau tahu alasannya aku nikahin kamu?" bukannya menjawab pertanyaan dariku mas Arman justru memberiku pertanyaan yang sudah jelas tak perlu ku jawab.

"Iya aku mau tahu apa alasannya dan aku siap dengan mendengar jawaban darimu," jawabku yakin.

Mas Arman hanya tersenyum mengejek saat mendengar perkataan ku, apa ada yang salah dengan kata-kataku tadi sehingga ia bersikap seolah menghinaku.

"Jelasin Mas, maksudnya apa?" tanyaku lagi menuntut jawaban mas Arman.

Bab 2

Tanpa sedikitpun merasa bersalah mas Arman justru menggandeng mesra Nita dan sengaja membuatku semakin terbakar oleh api cemburu.

"Makanya jangan terlalu pede dulu, aku menikahimu karena Kayla tidak cocok dengan Nita, aku juga butuh orang untuk mengurus rumah dan menjaga Kayla,"

"Apa katamu Mas?" tanyaku masih tak percaya dengan ucapan mas Arman.

"Aku menikahimu supaya ada yang menjaga kayla,"

"Jadi kamu cuma anggap aku baby sister anakmu Mas?"

"No, no lebih tepatnya babu gratisan," balas Nita disertai tawa oleh keduanya.

"Sadar diri dong, nggak mungkin seorang mas Arman jatuh cinta sama perempuan miskin kayak kamu nggak pantes," lanjutnya.

Tanpa memperdulikan keberadaan dan kekecewaanku Mas Arman dan kekasihnya pergi sambil terus menertawakan penderitaan ku.

Banjir sudah buliran air bening ini ke pipi, sakit, sedih, kecewa, marah semua menjadi satu mengapa ini harus terjadi padamu Anisa.... dosa apa yang telah kau berbuat hingga harus menanggung semua Kenyataan pahit ini.

"Mama....... Mama kenapa nangis?" suara Kayla menyadarkan ku, segera ku hapus sisa-sisa air mata dengan cepat.

"Nggak kok Mama Nisa gak nangis cuma kelilipan debu aja," kilahku.

"Mama gak usah bohong deh ini pasti gara-gara Papa dan Tante Nita kan" balasnya seolah-olah memahami segalanya.

"Kamu kenal dengan Tante Nita?"

"Dia Tante jahat, dia yang sudah bikin Mama kayla meninggal dan waktu itu Papa mau nikah sama Tante Nita tapi aku gak mau," balas gadis kecil itu matanya tampak berkaca-kaca mungkin ia rindu akan ibunya.

"Mama Nisa jangan tinggalin Kayla ya, Kayla takut kalau Papa nanti jadi nikah sama Tante jahat itu," katanya lagi sambil memeluk erat tubuhku.

Tak tega rasanya bila melihat Kayla menangis, entahlah kesedihan apa saja yang sudah ditanggung oleh gadis kecil ini.

"Iya sayang Mama Nisa janji gak akan ninggalin Kayla sendirian, sudah Nak jangan nangis ya ayo kita pulang,"

Sebenarnya hati ini sudah tak kuasa menghadapi perubahan sikap mas Arman yang menurutku sudah keterlaluan walaupun baru beberapa hari menikah, rasa-rasanya ingin ku akhiri pernikahan ini dan menjalani kehidupan baru. Namun hati kecil ini merasa iba dengan Kayla, kasihan dia bila aku tinggalkan entah siapa yang akan mengurusnya dan memberikan kasih sayang.

*

"Mulai malam ini kamu tidur di kamar pembantu aku muak melihat wajahmu," kata mas Arman dengan ekspresi dingin.

"Kenapa kamu nyiksa aku dengan pernikahan ini Mas?"

Bukannya menjawab pertanyaanku mas Arman malah menatapku dengan sinis dan pergi meninggalkanku di kamar sendiri.

Sungguh sakit rasanya, seharusnya ini adalah saat-saat bahagiaku bersama mas Arman apalagi kami belum genap satu minggu menikah. Tanpa banyak berpikir ku bereskan barang-barang milikku di kamar ini dengan linangan air mata.

Di kamar ukuran 2×4 meter ini aku menghabiskan malam yang panjang seorang diri. Dadaku semakin sesak mengingat perubahan mas Arman kepadaku, mengapa ia harus menikahiku bila dirinya sudah punya kekasih, sampai kapan penderitaan ini harus ku alami.

Kuputuskan mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam, mengadukan segala rasa yang ku alami pada Rabb ku Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya semoga Allah melembutkan hatimu Mas.

Samar-samar kudengar suara adzan yang bersahutan ternyata aku tertidur di atas sajadah lengkap dengan mukena, mungkin karena terlalu banyak menangis membuatku lelah dan tertidur begitu saja.

Setelah menunaikan sholat subuh, aku langsung ke dapur menyiapkan sarapan untuk mas Arman dan Kayla.

"Mas sarapan yuk sarapan dulu aku udah siapin," ajakku pada mas Arman yang sudah rapi dengan jas dan tas kantornya.

"Aku sarapan di kantor saja," jawabnya dengan ekspresi yang dingin.

"Sayang, cepet habisin sarapannya Papa tunggu di mobil ya," kata mas Arman pada Kayla yang hanya dibalas anggukan.

Dingin dan cuek itulah gambaran mas Arman sekarang berbeda jauh dengan saat pertama kali kami berkenalan, saat itu mas Arman selalu bersikap manis dan lembut itulah yang membuatku cepat jatuh cinta padanya.

Mas Arman dan Kayla sudah berangkat, kini saatnya bagi diriku untuk melakukan tugas ibu rumah tangga. Semua pekerjaan menyangkut rumah tangga di rumah sebesar ini adalah tugasku mengingat tidak ada asisten rumah tangga, kata mas Arman asisten rumah tangganya resign dan pulang kampung.

"CK... pasti ini bekas lipstik wanita itu menjijikkan!" gerutuku kesal saat kudapati bekas kecupan bibir berwarna merah terang di jas suamiku.

Mood ku menjadi buruk seketika sungguh tega mas Arman yang menikahiku tetapi berzina dengan wanita lain.

Setelah semua pekerjaan beres, aku merehatkan badanku di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselku kubuka aplikasi hijau dan melihat-lihat status teman-temanku. Tiba-tiba muncul status mas Arman yang sedang mencium pipi wanita itu dengan mesra, dadaku bergemuruh sungguh sepasang manusia tak tahu malu berani mengumbar zina walaupun sudah memiliki istri, dan wanita itu sungguh murahan hingga suami orang pun diembatnya.

Ku matikan ponselku sebelum setan menggoda dan membuatku melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan.

Melihat status wa mas Arman membuat diriku semakin jijik menyandang status sebagai istrinya, sesal yang kini tengah kurasakan andai saja saat itu aku tak menerima lamarannya begitu saja dan mengenalnya lebih jauh, pantas saja saat pernikahan dilakukan secara intimate hanya keluarga saja yang mengetahui ternyata ada wanita idaman lain dibalik semua ini.

"Andai saja saat itu aku menuruti perkataan Mama dan Papa dan gak nekat, pasti ku takkan terjebak dengan pernikahan ini." Menyesal memang terjadi di belakang, saat itu aku sudah terbutakan dengan cinta bahkan tidak mengindahkan nasehat orangtuaku yang membuatku mau menikah dengannya di rumah sederhana Pakdeku di kampung dan Pakde jugalah yang menjadi wali nikahku.

Sekarang beginilah aku masuk dalam neraka berkedok pernikahan, dinikahi untuk dijadikan babu sungguh miris nasibku berubah 180 derajat dulunya aku tak pernah melakukan pekerjaan-pekerjaan ini ada bibi yang mengurus segala kebutuhanku. Untungnya mas Arman sendiri tak tahu siapa aku sebenarnya aku, jika tahu mungkin ia sudah menggerogotiku dan membuatku bertambah buta akan cintanya yang palsu.

Tak terasa buliran air bening telah lolos dari mata indahku karena menyesali hal yang sudah terjadi, kulirik jam dinding menunjukkan hampir pukul 12 siang itu artinya aku terlambat menjemput Kayla.

"Astaghfirullah.... Kayla," kataku sambil menepuk jidatku, bagaimana aku bisa seceroboh ini bagaimana kalau Kayla menangis karena aku terlambat menjemputnya.

Dengan cepat ku mengambil jilbab dan kunci mobil, kulajukan dengan cepat mobil putih ini agar cepat sampai di sekolahan anak sambungku.

"Assalamualaikum Buk, maaf Ibu lihat Kayla anak saya tidak?" tanyaku pada seorang guru yang kutemui di sekolah.

"Kayla ya, sudah pulang tadi Bu dijemput ayahnya tadi sempat menangis karena tidak ada jemput jadi saya selaku wali kelas menelpon pak Arman, baru saja dijemput ayahnya," jelas guru itu.

"Maaf sebelumnya Ibu siapa ya?" tanya guru itu lagi.

"Oh iya Bu, saya Anisa Ibu sambung Kayla," jawabku setelah selesai mengenalkan diri aku pun pamit.

Drrt...drrrt....drrrtt... Getar ponselku mengagetkanku yang sedang fokus menyetir, ternyata mas Arman yang tengah menelpon. Kutepikan mobil terlebih dahulu dan mengangkat teleponku.

"Heh istri tak berguna, gara gara kamu Kayla nangis nih!" kukepalkan tanganku emosiku kembali terpancing, astaghfirullah siapa yang berani lancang berkata seperti itu?

Bab 3

"Heh budek ya? denger gak gara-gara kamu Nayla nangis terus nih," katanya lagi dengan nada ketus terdengar pula tangisan lirih Kayla.

Rupanya wanita itu yang sedang berbicara denganku saat ini, ya memang karena kecerobohanku Kayla menangis seperti saat ini.

"Iya maaf, sekarang dimana Kayla?" tanyaku.

"Di rumah, cepat pulang gue sama mas Arman sibuk!" jawabanya kemudian mematikan ponselnya begitu saja.

Kutarik nafas panjang, ingin sekali berkata kasar padanya. Namun aku pun sadar ini juga adalah kesalahanku, saat ini aku hanya harus cepat-cepat sampai dirumah.

"Mama Nisa ......," ucap Kayla saat melihatku sembari berlari ke arahku dan memelukku.

"Iya sayang.... maafin Mama Nisa ya," kataku sambil menenangkannya.

"Kamu tuh dari mana saja sih? jemput Kayla saja tidak beres!" bentak mas Arman saking emosinya wajah mas Arman memerah terdengar pula gemeretakan giginya.

"Maaf Mas aku kecapean kerjain pekerjaan rumah, jadinya lupa jemput Kayla," jawabku dengan wajah menunduk, sadar akan kecerobohanku.

"Hah..... alasan saja," ucapnya setengah berteriak.

"Makanya jangan males! dimarah kan," lontar wanita berpakaian seksi itu.

"Nita ayo kita pergi dari sini, sungguh aku muak melihat wajahnya yang sok lugu itu!" ajak mas Arman pada wanita yang tengah mengejekku dengan senyuman mengejekku, jadi nama wanita itu Nita aku lupa namanya.

Mobil hitam mengkilap mas Arman pun hilang dari pandangan mata ini, dadaku bergemuruh mengingat setiap kata-kata yang ia keluarkan tadi kutahan air mata yang siap meluncur bebas ini, aku tak ingin terlihat lemah apalagi di hadapan anak sambungku.

Kayla nampaknya sudah tenang dalam pelukanku, ya memang sedari tadi ia memelukku dengan erat. Suara tangis yang tadinya lirih pun sudah tak terdengar lagi, kutatap wajahnya yang ayu matanya menyiratkan kesedihan yang dalam, entah apa yang sudah dihadapinya saat aku lupa menjemputnya.

"Kayla..... sayang maafin Mama ya Nak," kataku dengan lembut dibalas dengan anggukan kepalanya saja.

"Mama janji nggak akan telat jemput lagi," kataku lagi.

"janji ya Ma, Kayla takut sendirian," balasnya sambil mengangkat jari kelingkingnya dan kami pun saling mengaitkan jari kelingking sambil tersenyum.

Saat bersama Kayla hatiku terasa hangat, mungkin karena kasih sayangnya sebagai anak yang membuatku nyaman. Namun saat bersama mas Arman duniaku bagai di neraka penuh dengan penderitaan dan air mata.

**

Ting!... sebuah pesan dari mas Arman

[hari ini aku tidak pulang dan nginap di hotel, jadi tidak usah tunggu saya pulang] ketiknya dalam pesan singkat itu.

Huft apakah dia menginap dengan Nita wanita idamannya itu? entahlah lebih baik sekarang aku tidur badanku juga terasa lelah.

"Ma....," baru saja aku mengunci pintu depan Kayla sudah memanggilku.

"Papa mana Ma? kok pintunya sudah dikunci?" tanya gadis kecil itu.

"Papa tidak pulang malam ini banyak pekerjaan di kantor jadi harus gak bisa pulang," jawabku dengan sedikit berbohong agar Kayla tidak sedih.

"Ya.... Papa pasti capek ya Ma, padahal Kayla pengen ditemenin bobo," ujar Kayla wajahnya terlihat murung mungkin kecewa.

"Gimana kalau Mama Nisa yang nemenin Kayla bobo," tawarku padanya barangkali kekecewaannya bisa hilang bila ku temani.

"Mau banget dong," balasnya dengan senyum manisnya.

Kayla pun menggandeng tanganku menuju kamarnya yang serba pink, dihiasi boneka-boneka lucu tentunya.

"Mama Nisa sini ayok duduk disini!" ajak Kayla yang sudah duduk di tepi ranjang, aku tersenyum dan menghampirinya.

"Mama Nisa masih sedih ya karena Papa marah-marah tadi siang?" tanya Kayla dengan wajah lugunya.

"Nggak kok, memangnya Kayla lihat Mama nangis nggak kan,"

"Dulu waktu Mama Kayla masih hidup, sering nangis karena Papa dan Tante jahat itu," pinta Kayla jadi mas Arman dan Nita sudah menjalani hubungan sejak Ibu Kayla masih hidup? sungguh teganya mas Arman berbuat itu.

"Jadi dulu Mama Kayla sering nangis karena Papa?" tanyaku pada Kayla.

"Iya, makanya Kayla gak mau kalau Papa nikah sama Tante jahat itu, Mama Kayla bilang Papa gak boleh sampai nikah sama Tante itu habis Mama bilang begitu tiba-tiba Mama tidur gak bangun-bangun lagi, hiks....hiks ...hiks ....." jelas Kayla disertai tangisan mungkin saat ini ia begitu merindukan sosok ibu kandungnya.

Aku terdiam mendengar penuturan Kayla, melihat air matanya membuat hatiku teriris sungguh teganya mas Arman menyakiti dua hati yang sangat berharga di kehidupannya bahkan tidak ada tanda-tanda kesedihan setelah kehilangan istrinya sendiri.

Kubawa Kayla dalam dekapanku, menghiburnya dengan elusan lembut di kepala dan rambut indahnya mungkin dengan ini kerinduannya pada sang ibu dapat terobati.

Setelah tenang kuberi dia air minum yang memang selalu disiapkan di meja belajarnya, dan kutidurkannya dengan lantunan sholawat agar hatinya tenang.

Kayla sudah tertidur pulas kulirik jam di handphoneku ternyata sudah menunjukkan pukul 22.00 astaghfirullah aku belum sholat isya, ku tarik panjang nafasku dan pergi mengambil wudhu untuk menunaikan sholat isya.

**

Setelah selesai menyiapkan semua kebutuhan anak sambungku dan mengantarnya ke sekolah aku bersantai ria di kamar, Karena keadaan rumah masih bersih sebab kemarin semua sudah kubereskan jadi hari ini aku tak perlu mengerjakan semuanya pekerjaan seperti kemarin.

Ting! sebuah pesan dari aplikasi wa yang kupunya kulihat siapa yang mengirimkan pesan tersebut dan ternyata Ibuku, ah aku sangat merindukannya.

[Nisa apa kabar Nak? Besok ibu dan ayah akan berangkat ke Jakarta, ingin menengokmu dan suamimu] kata Ibu dalam pesan teks itu.

"Pasti Pakde dan Bude yang memberitahumu kalau aku nekat nikah," gumam ku.

[Nisa baik-baik saja Bu, bagaimana keadaan ayah dan ibu?] balasku.

[Semua baik-baik saja pembukaan pabrik di cabang Papua pun sukses sayang, oh ya kenapa kamu tak memberitahu kami jika kamu sudah menikah?]

Ya ampun harus kujawab apa pertanyaan ibu yang satu ini, tidak mungkin kan aku bilang kalau ngebet nikah hehe.

[Maaf Bu, mas Arman yang ingin pernikahan ini cepat-cepat dilangsungkan dan Nisa sudah sangat mencintainya Bu, maaf Nisa gak dengerin nasehat ibu jadi Nisa nekat nikah di rumah pakde]

Memang saat itu mas Arman yang menginginkan pernikahan kami cepat-cepat dilangsungkan supaya cepat sah katanya ibu sempat melarang ku agar tak buru-buru mengambil keputusan. Namun karena hati dan mataku telah dibutakan dengan cinta palsu mas Arman aku menyetujui rencananya, menikah diam-diam tanpa diketahui Ayah dan Ibu.

[Maafkan ibu dan ayah karena melarangmu saat itu, kami hanya ingin kenal lebih dalam pada calon menantu kami sebelum menjadikannya suami untuk putri semata wayang kami]

Maafkan aku Ibu, feeling kalian memang benar akulah yang menyebabkan kesengsaraan dalam hidupku sendiri. Andai saat itu aku mau mengerti dan menurut pada kalian berdua aku tak mengalami semua ini.

[Apa kamu bahagia Nisa menikah dengan pria pilihanmu itu? apakah dia memperlakukanmu dengan lembut Nak? jujurlah jika kamu tidak bahagia]

Deg.... kenapa pesan dari ibu seperti ini? apakah sebenarnya ibu tahu bila aku disini menderita? bagaimana aku menjawabnya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED