Bab 2

Jenna menautkan kedua alisnya, tampak tidak puas. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya kesal dengan pemikiran polosku.

“Bukan! Aku marah karena aku terlihat buruk karena sudah tidak perawan sejak lulus sekolah menengah. Sedangkan anak tunggal bibiku yang namanya Shiloh masih begitu suci saat usianya hampir seperempat abad!” Jenna lalu memukul-mukul udara, membuatku tertawa lepas sampai perutku sakit.

“Sialan, kau! Hahahahaha!” aku menendangnya dengan kaki dan ia tertawa juga.

“Tapi memangnya kau tidak ingin?” selidiknya untuk memenuhi rasa ingin tahu, kurasa dia sangat penasaran dan kadang-kadang dalam hati mengira aku lesbian.

“Aku tidak tahu, mungkin karena aku terlalu sibuk dengan pendidikan kemudian pekerjaanku, perasaan semacam itu jarang terbersit dalam benakku. Aku bertemu dengan Louis saat lelah, kami hanya mengobrol dan makan bersama,” kataku jujur. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal semacam itu, dan selalu kehabisan energi tiap harinya.

“Dasar, seharusnya kau jadi biksu saja,” tawa kami kembali pecah.

Baru berhenti disaat yang bersamaan pesanan makanan datang. Kurasa ibuku mengkhawatirkanku apakah sudah makan, kemudian Jenna mendatangiku dan mengajakku bicara. Bagaimana cara mereka menghiburku dengan hal-hal sederhana dan membuatku senang, walau perasaan nyeri di dalam rongga dadaku tidak akan terangkat semudah itu.

Aku masih sesekali mengecek laman sosial media milik Louis, ia menghapus semua foto kebersamaan kami. Menggantikannya dengan sosok perempuan baru yang memiliki jenis rambut pirang yang sama dengannya. Perempuan itu bahkan tidak lebih cantik dariku, memang sih …, orangtuanya kurang suka tiap aku datang ke rumahnya. Tidak semua orang Amerika menyambut baik orang-orang dari ras Asia timur karena menganggap orang China adalah musuh mereka. Harus aku jelaskan berapa kali kalau aku bukan orang China? Mataku terlalu lebar untuk disebut orang China.

Jenna berterima kasih pada kurirnya lalu kembali duduk di dekatku untuk membuka pizza, ayam goreng dan kentang goreng kesukaanku. Sebenarnya aku tidak pilih-pilih makanan, siapa pula yang menolak makanan cepat saji seperti ini? Aku belum makan sama sekali sejak pagi, hanya melamun di gedung yang besok aku tidak boleh datang kemari lagi karena semua barang-barang yang ada di dalamnya sudah diangkut keluar.

“Wah! Masih hangat semua, Shiloh! Ayo makan!”

Aku bangun dari tiduranku, duduk bersila dan memandangi Jenna yang sibuk memilih sisi pizza bagian mana yang seharusnya dia makan. Aku mengambil satu potongan kentang goreng, mencelupkannya ke saos tomat.

Kami makan banyak sekali, Jenna terus menyerocos menceritakan gosip-gosip terbaru dan betapa dia iri pada keluarga Kadarshian. Satu keluarga bisa kaya raya semudah itu hanya karena video yang viral tersebar, seluruh anggota keluarga tersebut rata-rata melakukan operasi plastik.

“Kau tahu, ini adalah pekerjaan yang paling santai di dunia. Menjual kehidupan pribadi dan berakhir memiliki pulai pribadi semudah membalikkan telapak tangan,” cerocosnya tanpa henti. Betapa dia ingin menjadi semacam Kim dan klan Kadarshiannya.

“Jen, jangan bercanda.” Aku merasa pemikirannya sangat konyol untuk yang satu ini.

“Saat aku iseng ke dokter bedah aku lihat banyak orang ingin merubah bagian tubuhnya karena terobsesi pada Kim, ini gila sekali.”

“Tapi kau masih suka menontonnya walau sering mencelanya.”

“Karena hidup mereka seperti serial televisi, bisa marah-marah dan berkonflik dengan mudah sekali. Dan anehnya, ada banyak orang yang menontonnya! Gila!” Ujarnya berapi-api.

“Habiskan ayammu, aku muak mendengarkan ceritamu.” Jenna membentuk kata ‘Ok’ dengan jari tangannya.

Aku makan suap demi suap seolah mengisi kekosongan yang tidak tahu bagaimana menutupnya. Putus setelah tujuh tahun pacaran, jatuh miskin dalam semalam …, aku ingin minum sebotol vodka, tiga soju, miras campuran dan kehilangan pikiranku sendiri.

“Menurutmu kau akan tidur dengan suamimu di masa depan atau kau mau mencoba pengalaman baru sebelum menikah?” tanya Jenna penasaran padaku. Astaga, dia mulai lagi.

“Kenapa kau tertarik sekali pada kehidupan pribadi orang lain, sih?”

“Kehidupan pribadi apanya, kau ini adik sepupuku. Aku berhak ikut campur, tau!” ucapnya tidak mau kalah.

“Jenna …,” aku mengiba dan berharap dia berhenti membicarakan hal tabu ini.

“Apa?” alisnya saling bertaut tidak merasa bersalah.

Jenna sangat antusias jika membicarakan hal-hal semacam ini, untung saja kami lahir dan besar di Chicago. Topik ini cukup sensitif untuk orang Asia Timur. Aku mendengus dan melemparkan tulang ayam padanya, Jenna mengelak lalu mengambilnya dengan tisu, menaruhnya di kumpulan tulang lainnya. Sepertinya dia tidak akan berhenti sampai aku memberikan jawaban yang memuaskannya.

“Aku tidak yakin apakah aku bisa menikah,” jawabku dengan jujur. Bisa saja Louis menyebarkan rumor buruk tentang putusnya kami, teman-teman kami sudah cukup penasaran dan mengirimiku banyak pesan di sosial media.

“Argh! Ayolah, aku sangat iri pada itu!”

Jenna menunjuk pada dadaku, aku menunduk mengamati dadaku yang terbungkus kaos seadanya karena aku malas berdandan. Lalu menatap Jenna dengan pandangan kesal.

“Ukurannya sangat pas untukmu, aku ingin mengoperasi milikku seperti Kim tapi ibuku pasti akan mengutukku seumur hidup. Mengusirku dan menganggap Johnny sebagai anak tunggal.”

“Aku tersinggung, millikku tidak sebesar milik Kim.” Lalu aku menyilangkan tangan di depan dada.

“Aku tahu, tapi itu cukup menggoda, sih. Asal kau tahu, tidak berlebihan seperti milik Kim tapi juga tidak datar seperti milik orang Asia kebanyakan,” sambil tangannya memegangi dadanya yang tepos. Dia cantik seperti super model tetapi satu hal yang selalu membuatnya mengeluh adalah ukuran payudaranya yang nyaris rata.

“Kau itu cantik, cari saja pacar lagi. Apa susahnya?” ujar Jenna tidak mau berhenti membicarakan hal-hal yang membuatku pusing. Aku memelototinya kesal.

“Tidak ada gunanya menjadi cantik kalau hidupmu malang,” selorohku asal.

“Hidupmu bukannya malang, Sis! Anggap saja ini adalah babak baru untuk memulai lembaran baru. Dimulai dengan tidur dengan pria yang seksi semisal?”

“Kenapa harus soal tidur lagi, sih?” aku risih sendiri, aku belum siap untuk hal semacam itu.

Aku memicingkan kedua mataku, idenya Jenna tidak ada yang benar-benar bisa dianggap serius. Beginilah jadinya jika terlalu bebas, apa dia mencoba menyarankan aku tidur dengan sembarangan pria? Tidak akan, aku hanya akan tidur pertama kalinya dengan pria yang ingin kunikahi. Aku tahu ini kolot, tapi kuharap seseorang seperti itu ada.

“Aku menolak, aku lebih suka minum alkohol.” Ini fakta, aku sangat menyukai alkohol.

“Shiloh, ini abad dua puluh satu! Saatnya melakukan apapun yang kita suka, jangan terlalu kolot.”

“Terserah …,” kataku ketus.

Jenna gemas dan langsung menyerangku dengan menggelitiki badanku, anak ini suka sekali memaksakan pemikirannya pada orang lain. Aku tertawa sampai air mataku keluar karena tidak tahan dengan geli.

“Tolong! Aku diperkosa!” teriakku dengan tawa karena Jenna berusaha mengukur sebesar apa dadaku.

“Aku harus memeriksanya untuk dijadikan referensi!”

“Hentikan!” pekikku karena dia meremas buah dadaku.

Bab 3

Jenna menyetir, sementara aku memperhatikan jalanan. Aku menguap beberapa kali, aku tidak tidur dengan nyenyak semalam. Kalaupun aku kehilangan orientasi waktu, itu pasti karena aku meminum dua botol soju dan tiba-tiba terbangun pagi hari.

Tujuan kami adalah Hasegawa in Style, butiknya Jenna, Jenna adalah seorang pecinta mode sejak kecil, rancangan pertama Jenna adalah gaun pesta dia buat sendiri dengan memaksa pembantunya untuk menjahit untuknya, Bibi dan Paman yang melihat bakat mendesain putrinya langsung mencarikkannya tutor dan menjaga anak bungsu mereka tersebut agar tetap fokus pada bakatnya. Saat kuliah dulu Jenna selalu meledekku, untuk apa orang yang tinggal di daratan Amerika selama bertahun-tahun belajar sastra Inggris?. Membuatku hanya tersenyum simpul, aku melakukannya karena menyukai sastra dan ingin memperbaiki tata bahasaku, namun jika menjawab pertanyaan Jenna biasanya aku hanya akan menjawab karena aku suka, mau bagaimana lagi? Sepupuku yang suka memaksakan kehendak.

Silsilah dan kebiasaan kami membuatku terpikirkan sesuatu, memiliki usaha sendiri apakah sudah menjadi kebiasaan keluarga kami? Maksudku Jenna, Johnny dan aku memiliki garis keturunan yang sama, meski aku tidak bermarga Hasegawa. Johnny nama Jepannya adalah Ataru Hasegawa , sedangkan Jenna adalah Aiko Hasegawa, Shiloh Hasegawa? Memang sedikit aneh, untungnya aku adalah Jung Shiloh, nama Koreaku adalah Jung Ah Reum. Dulu saat aku berusia enam tahun, ibuku bilang aku juga harus memiliki nama Jepang, dia menyebutkan namaku adalah Hasegawa Seina. Karena kakek dan nenekku di Jepang pastinya hanya akan memanggil nama Jepang anak dan cucu mereka. Membuatku pusing saja.

“Ngantuk? Tidurlah, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai. Bagaimana kalau sementara ini kau jadi modelku?”

Aku mengibaskan telapak tanganku dengan cepat. Memikirkannya saja membuatku muak.

“Kau gila?”

“Padahal menyombongkanmu pada teman-teman priaku sangat menyenangkan. Kita harus ke Hawai atau Bali kapan-kapan!” Ujar Jena berapi-api.

“Aku tidur saja ….”

Rasa kantukku tidak tertahan, kebetulan waktunya pas sekali, cocok untuk menghindari cerewetnya Jenna. Kakaknya tidak secerewet ini, Johnny lebih tenang meski juga sedikit gila kerja.

***

Aku dibangunkan Jenna ketika mobil sudah terparkir di tempat parkir butik, butuh keyakinan kuat untuk membuka kelopak mataku yang berat. Tidur setelah makan memang sangat menyenangkan, walau tenggorokannya terasa seperti terbakar setelahnya.

“Aku haus, Jen.”

Jenna sudah sibuk mengumpulkan coretan-coretan kertas yang ada di dashboard mobilnya, biasanya Jenna akan menggambar di sembarangan kertas kupon atau struk belanja ketika ide sedang datang di mana saja. Kuakui dia jenius, meski sedikit menjengkelkan.

“Minum di ruanganku saja. Bantu aku, hei!”

Aku tertawa melihatnya panik seperti ini, padahal tidak ada yang akan memburunya. Semua klien bersedia menantikan jahitan gaunnya walau sampai mati. Dengan setengah hati aku membantunya. Kami berjalan dengan cepat, sebuah bangunan khas butik yang menampilkan manekin dengan baju terbaru menyapa siapa saja yang baru menaiki dua atau tiga anak tangga.

Beberapa karyawan Jenna mengucapkan salam padanya, Jenna terlihat berkharisma jika menyangkut pekerjaannya. Melewati pintu masuk dengan mulus, ada banyak sekali ornamen cantik dan pakaian modis yang dipajang untuk menarik pelanggan. Di tempat kasir sudah ada kerumunan orang yang akan membayar, aku menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan para wanita dan gadis cantik memilih pakaian mereka. Melihat pakaianku sendiri sekarang pasti sangat kontras dengan gaya mereka yang fashionable.

Malahan, aku belum mandi sejak pagi tadi. Aku sembarangan mengenakan kaos hitam yang pas badan, dan celana legging hitam. Ibuku terbangun ketika aku keluar kamar dan mencari kunci mobil. Dia tidak bertanya bagaimana perasaanku setelah mabuk dan menangis semalam, ia hanya bertanya kapan aku nanti akan pulang. Aku menjawab mungkin malam atau aku akan menginap di tempat Jenna.

Ruangan kerja Jenna sangat luas, langit-langitnya sangat tinggi, ruangan ini berwarna putih, meja kaca di ujung sebagai tempat berdiskusi dengan klien atau tempatnya menggambar, biasanya selalu rapi kecuali ketika Jenna sedang bersemangat untuk membuat gaun baru, para karyawannya dengan senang hati membersihkannya.

Jenna meletakkan tas dan bawaannya dengan kasar di atas meja. Ia memelototiku, aku tidak tahu salah apa aku tapi bukankah beberapa saat lalu kau masih menghiburku?

“Shiloh, kau harus memblokir pesan SPAM dan telepon iseng. Saat kau tidur tadi aku sangat terganggu dengan suara panggilan dari ponselmu.”

Aku terbelalak, segera mengecek ponsel di tas selempangku.

“Apa-apaan ini? Padahal aku sudah memblokir semuanya. Ada beberapa kombinasi nomor baru.”

“Atau sekalian bawa ke kantor polisi agar hidup kita tenang.”

“Kurasa ini hanya panggilan penipuan dan sejenisnya, diblokir saja seharusnya sudah cukup.”

“Aku menghargai sikap positifmu.”

Ponsel ini menerima banyak pesan tawaran pinjaman uang, link belanja dan undian hadiah yang tidak pernah aku ikut mendaftar. Semenjak putus dari Louis, kira-kira tiga bulan yang lalu. Tidak sering tetapi jika muncul pasti ada hari dimana akan menumpuk. Aku tidak pernah berniat untuk mengangkat panggilan atau sejenisnya. Kurasa hanya orang iseng.

***

Kupingku sakit sekali, aku duduk menikmati minumanku. Menyesapnya sedikit demi sedikit, Jenna memaksaku datang ke sini. Anak itu sekarang sedang menari-nari bersama teman-teman modelnya, untung saja aku tidak dipaksa mengenakan pakaian minim sepertinya. Hanya gaun selutut dengan ornamen bunga yang menurutku sedikit norak, salah satu hasil eksperimennya. Kurasa kelab ini tidak pernah sepi pengunjung karena wisatawan lokal maupun internasional suka datang kemari selain di kelab malam lainnya, alasannya karena DJ di sini biasanya sudah punya jam terbang tinggi, bahkan kadang tempat ini menghadirkan selebriti.

Jenna mendatangiku, ia kesulitan berjalan karena hak sepatunya terlalu tinggi. Kurasa dia mencoba untuk mengajakku melantai lagi, atau menjebakku berkenalan dengan pria sembarangan dan menyuruhku bercinta dengannya.

Jenna menabrak seorang pria yang lewat, ia kurang fokus dan meminta maaf pada pria Asia tersebut.

“Maafkan aku, aku minta maaf.”

Pria itu tampak tidak masalah dan langsung berjalan pergi ke kerumunan orang-orang yang menari. Aku tidak memperhatikan jelas wajahnya, kurasa memang orang Asia.

Jenna berlari mendekatiku dan menarik-narik tanganku.

“Ayo, Shiloh! Nikmati masa mudamu. Jangan hanya duduk dan minum seperti orang tua. Ini bukan upacara minum teh!”

“Kurasa kau mabuk, Jen!” Kami saling berteriak agar perkataan kami sampai ke kuping masing-masing.

“Tidak, tidak, tidak! Aku tidak mabuk. Pokoknya kau harus bersenang-senang dengan pria yang tak sengaja kau temui. Semisal saja pria yang bertabrakan denganku tadi. Seperti takdir. Ini semua adalah takdir!”

Bicaranya sudah mulai melantur, aku akan membopongnya sampai ke parkiran dan pulang ke tempatnya.

Jenna tertidur di kursi belakang, ia meracaukan apa saja. Aku menyetir dengan kesal, berharap jarak lebih pendek tetapi sialnya tempat ini cukup jauh dari butik Jenna.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED