Agustus, 2020
Hanya ada suara hembusan angin, aku berada di ruangan kosong di lantai tiga. Memandang nanar pada dinding putih, padahal beberapa saat lalu ini adalah ruangan kantor yang penuh dengan meja-meja pegawai. Lemari besar berisi tumpukan naskah, buku-buku sastra Inggris sebagai referensi. Dua mesin fotocopy, scanner, komputer di tiap meja pegawai. Satu AC yang dihidupkan ketika intensitas pekerjaan semakin mendesak dan lembur tiada henti. Kami melakukannya dengan baik, dan tidak keberatan kehilangan sedikit istirahat. Aku bangga memiliki karyawan yang berdedikasi, mereka menolak beristirahat jika belum menemukan pemecahan masalah mereka. Ini baru satu ruangan, ada beberapa ruangan lainnya yang memiliki isi sama persis seperti yang kusebutkan tadi.
Terpaksa aku harus memberikan mereka pesangon untuk menyokong kehidupan beberapa bulan kedepan mereka sebelum mendapatkan pekerjaan baru, untuk pegawai senior aku berusaha keras merekomendasikan mereka ke perusahaan lainnya agar tidak perlu mencari pekerjaan sendiri. Aku yakin kemampuan mereka sudah sangat profesional, terkadang aku menerima pesan penyemangat. Mereka janji akan kembali lagi padaku jika aku memulai perusahaan baru. Aku tertawa getir tiap membaca pesan sejenis, dapat uang dari mana? Aku terlalu malu meminta dukungan finansial dari orangtuaku untuk memulai bisnis, walau mereka akan memberikannya dengan senang hati. Kurasa aku trauma untuk memulai semuanya dari awal lagi, aku butuh waktu untuk sendiri.
Barangkali sekarang sudah jam sembilan, Aku duduk termangu sambil memeluk lututku, sendirian di tengah ruangan. Semua barang-barang yang ada di gedung ini baru saja diangkut menuju gudang di rumahku. Polisi belum memberikan kabar lagi, Chad memintaku untuk beristirahat terlebih dahulu. Chad Wilson, pengacara keluargaku dan sangat dipercayai oleh Ayah.
Aku tidak sadar ponselku terus berdering sejak tadi, setelah aku cek rupanya ada panggilan masuk sampai tujuh belas kali dari Ibuku, aku akan mengangkatnya jika meneleponku lagi nanti. Hal yang paling membuatku syok sekarang ini adalah gedung ini kepemilikannya sudah berubah, padahal aku membelinya dengan uangku sendiri. Tega sekali Emily menjualnya pada orang Perancis yang aku tidak kenal siapa. Saat ini Emily dan Andrew tengah menjadi buronan, belum diketahui kabar pastinya mereka ada di mana. Kata detektif yang menangani kasusku, bisa dipastikan Andrew dan Emily sudah sangat matang merencanakan penipuan ini, mereka bisa saja mengganti identitas mereka dan menyiapkan rekening baru jauh-jauh hari.
Suara dobrakan pintu kasar dan langkah kaki yang begitu cepat membuatku menoleh ke belakang. Seorang wanita setinggi 165 sentimeter dengan rambut lurus, serta gaya pakaian yang modis melambaikan tangannya padaku. Rupanya Jenna, ia menyembunyikan ekspresi asli wajahnya yang terlihat khawatir. Ia langsung duduk berhadapan denganku.
“Shiloh, ibumu meneleponku menanyakan kau di mana ini seharian. Angkatlah panggilannya! Kau ini benar-benar anak nakal!” gerutunya kesal.
Aku menunjukkan ponselku acuh tak acuh ketika ia semakin mendekat.
“Aku tidak tahu kalau dia menelepon.”
“Kan, sudah kubilang dulu … sebelum kau mengundurkan diri dari pekerjaan, jangan bekerjasama dengan Emily. Dia itu sejak jaman kuliah memang suka culas, sekarang penerbitanmu hancur begini dan kau harus membayar penalti kontrak para klien,” Jenna marah.
“Aku tidak tahu,” sesalku sekarang.
“Makanya kuberi tahu, sayangnya kau terlalu percaya pada kata-kata manisnya.”
“Iya, iya. Aku minta maaf, Jen. Lain kali aku akan mempertimbangkan semua saranmu.”
Aku menatapi kosong pada jendela yang terbuka dan dan tertutup karena tertiup angin. Jenna benar, aku salah menilai orang. Aku tidak memiliki apapun sekarang kecuali diriku sendiri, benar-benar hancur luar dan dalam.
“Kupikir manusia bisa berubah, aku yang bodoh. Selama dua tahun ini mempercayainya seperti orang tolol. Tapi aku yakin aku selalu mengunci brankas dan tidak pernah meninggalkan ruanganku tanpa kunci ganda!”
“Brengsek memang dua orang itu,” keluh Jenna dengan emosi yang meluap-luap.
“Aku juga mau mengatakan itu, Jen.”
“Aduh, aku lelah sekali karena semalam begadang menggambar.”
“Aku iri sekali pada orang yang punya kesibukan.”
“Aku bukannya sibuk, aku cuma menyalurkan ide dan tiba-tiba sudah pagi.”
Perempuan berambut panjang dan lurus alami itu berbaring di sebelah kananku, Hasegawa Jenna adalah anak dari kakak ibuku. Kami hanya selisih beberapa bulan, sudah mengenal sejak kami masih belum berjalan, terkadang Jenna bercanda kalau kami itu sudah kenal sejak di dalam kandungan. Ayahku orang Korea dan ibuku orang Jepang, ketika ditanya orang asing yang baru berkenalan denganku … entah mengapa aku bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan tentang orang manakah aku ini?
Aku menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya sepelan mungkin, lalu ikut berbaring di sebelah Jenna. Tiba-tiba membuatku mengantuk, sepertinya aku harus tidur siang jua mulai sekarang. Dua tahun belakangan aku bekerja seperti tiada hari esok, aku jarang menyisihkan waktu untukku sendiri. Apa seharusnya aku berterima kasih pada dua penipu yang membuatku bangkrut itu? Karena membuatku memiliki semua waktu yang tidak pernah kumiliki. Seperti ada bongkahan besi panas di dalam dadaku, membujur dan baranya tidak pernah padam.
“Hei, Jen!”
“Apa?”
“Lebih menyedihkan mana diselingkuhi pacarmu jika dibandingkan dengan bangkrut dalam satu malam?”
“Kau gila? Aku lebih memilih diselingkuhi pacar.”
“Kurasa aku masih menyukai Louis. Bodoh ya?”
“Shiloh, jika aku jadi kau …, kau tahu? Meski rasa sakit hatiku tidak akan sembuh dengan cepat, setidaknya aku masih punya banyak uang,” aku tertawa keras sekali mendengarnya, tawa getir.
“Tapi aku kehilangan keduanya dalam hitungan bulan.”
“Si pirang itu masih belum meminta maaf padamu? Dasar, muka tembok!”
Tanpa sadar aku menangis, Louis akan bertunangan minggu depan dan dia akan benar-benar menghapus tujuh tahun kenangan hubungannya denganku. Selain tidak pandai memilih rekan bisnis, aku juga sudah terbukti tidak memiliki kemampuan untuk mencari kekasih yang baik. Kemalangan bertubi-tubi datang tanpa bisa kucegah, apa karena aku jarang pergi ke gereja?
Jenna menguap, memilikinya sebagai sahabat sekaligus saudara adalah satu-satunya hal yang bisa aku syukuri sekarang ini. Setidaknya dia tidak akan pernah bisa mengkhianatiku karena hubungan darah kami.
“Shiloh?”
“Apa?”
“Tapi aku penasaran pada satu hal, kalian berhubungan seks?”
“Tidak, kami hanya berciuman, berpelukan dan sedikit sentuhan. Kurasa selama kami berpacaran nuansanya seperti serial TV remaja, hanya saling mendukung dan bertemu jika butuh, saling memuji dan marah lalu balikan. Louis memperlakukan aku seperti Ratu.”
“Membosankan sekali, ini karena kau terlalu banyak menonton Mickey Mouse.”
“Apa salahnya, aku cukup puas dengan hubungan semacam itu.”
Jenna langsung duduk dan kurasa akan marah-marah. Dia mengambil segelas soda, menyesapnya dalam-dalam kemudian bersendawa.
“Itu masalahnya! Ini membuatku sangat kesal!”
“Karena kami tidak bercinta?” Tanyaku heran. Karena hubungan kami dimulai dari sekolah menengah dari kenalan, menjadi teman baik lalu berpacaran ala film keluarga yang bisa ditonton siapa saja. Tentang apa yang dimaksudkan Jenna rasanya aneh memikirkannya saja.
Jenna menautkan kedua alisnya, tampak tidak puas. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya kesal dengan pemikiran polosku.
“Bukan! Aku marah karena aku terlihat buruk karena sudah tidak perawan sejak lulus sekolah menengah. Sedangkan anak tunggal bibiku yang namanya Shiloh masih begitu suci saat usianya hampir seperempat abad!” Jenna lalu memukul-mukul udara, membuatku tertawa lepas sampai perutku sakit.
“Sialan, kau! Hahahahaha!” aku menendangnya dengan kaki dan ia tertawa juga.
“Tapi memangnya kau tidak ingin?” selidiknya untuk memenuhi rasa ingin tahu, kurasa dia sangat penasaran dan kadang-kadang dalam hati mengira aku lesbian.
“Aku tidak tahu, mungkin karena aku terlalu sibuk dengan pendidikan kemudian pekerjaanku, perasaan semacam itu jarang terbersit dalam benakku. Aku bertemu dengan Louis saat lelah, kami hanya mengobrol dan makan bersama,” kataku jujur. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal semacam itu, dan selalu kehabisan energi tiap harinya.
“Dasar, seharusnya kau jadi biksu saja,” tawa kami kembali pecah.
Baru berhenti disaat yang bersamaan pesanan makanan datang. Kurasa ibuku mengkhawatirkanku apakah sudah makan, kemudian Jenna mendatangiku dan mengajakku bicara. Bagaimana cara mereka menghiburku dengan hal-hal sederhana dan membuatku senang, walau perasaan nyeri di dalam rongga dadaku tidak akan terangkat semudah itu.
Aku masih sesekali mengecek laman sosial media milik Louis, ia menghapus semua foto kebersamaan kami. Menggantikannya dengan sosok perempuan baru yang memiliki jenis rambut pirang yang sama dengannya. Perempuan itu bahkan tidak lebih cantik dariku, memang sih …, orangtuanya kurang suka tiap aku datang ke rumahnya. Tidak semua orang Amerika menyambut baik orang-orang dari ras Asia timur karena menganggap orang China adalah musuh mereka. Harus aku jelaskan berapa kali kalau aku bukan orang China? Mataku terlalu lebar untuk disebut orang China.
Jenna berterima kasih pada kurirnya lalu kembali duduk di dekatku untuk membuka pizza, ayam goreng dan kentang goreng kesukaanku. Sebenarnya aku tidak pilih-pilih makanan, siapa pula yang menolak makanan cepat saji seperti ini? Aku belum makan sama sekali sejak pagi, hanya melamun di gedung yang besok aku tidak boleh datang kemari lagi karena semua barang-barang yang ada di dalamnya sudah diangkut keluar.
“Wah! Masih hangat semua, Shiloh! Ayo makan!”
Aku bangun dari tiduranku, duduk bersila dan memandangi Jenna yang sibuk memilih sisi pizza bagian mana yang seharusnya dia makan. Aku mengambil satu potongan kentang goreng, mencelupkannya ke saos tomat.
Kami makan banyak sekali, Jenna terus menyerocos menceritakan gosip-gosip terbaru dan betapa dia iri pada keluarga Kadarshian. Satu keluarga bisa kaya raya semudah itu hanya karena video yang viral tersebar, seluruh anggota keluarga tersebut rata-rata melakukan operasi plastik.
“Kau tahu, ini adalah pekerjaan yang paling santai di dunia. Menjual kehidupan pribadi dan berakhir memiliki pulai pribadi semudah membalikkan telapak tangan,” cerocosnya tanpa henti. Betapa dia ingin menjadi semacam Kim dan klan Kadarshiannya.
“Jen, jangan bercanda.” Aku merasa pemikirannya sangat konyol untuk yang satu ini.
“Saat aku iseng ke dokter bedah aku lihat banyak orang ingin merubah bagian tubuhnya karena terobsesi pada Kim, ini gila sekali.”
“Tapi kau masih suka menontonnya walau sering mencelanya.”
“Karena hidup mereka seperti serial televisi, bisa marah-marah dan berkonflik dengan mudah sekali. Dan anehnya, ada banyak orang yang menontonnya! Gila!” Ujarnya berapi-api.
“Habiskan ayammu, aku muak mendengarkan ceritamu.” Jenna membentuk kata ‘Ok’ dengan jari tangannya.
Aku makan suap demi suap seolah mengisi kekosongan yang tidak tahu bagaimana menutupnya. Putus setelah tujuh tahun pacaran, jatuh miskin dalam semalam …, aku ingin minum sebotol vodka, tiga soju, miras campuran dan kehilangan pikiranku sendiri.
“Menurutmu kau akan tidur dengan suamimu di masa depan atau kau mau mencoba pengalaman baru sebelum menikah?” tanya Jenna penasaran padaku. Astaga, dia mulai lagi.
“Kenapa kau tertarik sekali pada kehidupan pribadi orang lain, sih?”
“Kehidupan pribadi apanya, kau ini adik sepupuku. Aku berhak ikut campur, tau!” ucapnya tidak mau kalah.
“Jenna …,” aku mengiba dan berharap dia berhenti membicarakan hal tabu ini.
“Apa?” alisnya saling bertaut tidak merasa bersalah.
Jenna sangat antusias jika membicarakan hal-hal semacam ini, untung saja kami lahir dan besar di Chicago. Topik ini cukup sensitif untuk orang Asia Timur. Aku mendengus dan melemparkan tulang ayam padanya, Jenna mengelak lalu mengambilnya dengan tisu, menaruhnya di kumpulan tulang lainnya. Sepertinya dia tidak akan berhenti sampai aku memberikan jawaban yang memuaskannya.
“Aku tidak yakin apakah aku bisa menikah,” jawabku dengan jujur. Bisa saja Louis menyebarkan rumor buruk tentang putusnya kami, teman-teman kami sudah cukup penasaran dan mengirimiku banyak pesan di sosial media.
“Argh! Ayolah, aku sangat iri pada itu!”
Jenna menunjuk pada dadaku, aku menunduk mengamati dadaku yang terbungkus kaos seadanya karena aku malas berdandan. Lalu menatap Jenna dengan pandangan kesal.
“Ukurannya sangat pas untukmu, aku ingin mengoperasi milikku seperti Kim tapi ibuku pasti akan mengutukku seumur hidup. Mengusirku dan menganggap Johnny sebagai anak tunggal.”
“Aku tersinggung, millikku tidak sebesar milik Kim.” Lalu aku menyilangkan tangan di depan dada.
“Aku tahu, tapi itu cukup menggoda, sih. Asal kau tahu, tidak berlebihan seperti milik Kim tapi juga tidak datar seperti milik orang Asia kebanyakan,” sambil tangannya memegangi dadanya yang tepos. Dia cantik seperti super model tetapi satu hal yang selalu membuatnya mengeluh adalah ukuran payudaranya yang nyaris rata.
“Kau itu cantik, cari saja pacar lagi. Apa susahnya?” ujar Jenna tidak mau berhenti membicarakan hal-hal yang membuatku pusing. Aku memelototinya kesal.
“Tidak ada gunanya menjadi cantik kalau hidupmu malang,” selorohku asal.
“Hidupmu bukannya malang, Sis! Anggap saja ini adalah babak baru untuk memulai lembaran baru. Dimulai dengan tidur dengan pria yang seksi semisal?”
“Kenapa harus soal tidur lagi, sih?” aku risih sendiri, aku belum siap untuk hal semacam itu.
Aku memicingkan kedua mataku, idenya Jenna tidak ada yang benar-benar bisa dianggap serius. Beginilah jadinya jika terlalu bebas, apa dia mencoba menyarankan aku tidur dengan sembarangan pria? Tidak akan, aku hanya akan tidur pertama kalinya dengan pria yang ingin kunikahi. Aku tahu ini kolot, tapi kuharap seseorang seperti itu ada.
“Aku menolak, aku lebih suka minum alkohol.” Ini fakta, aku sangat menyukai alkohol.
“Shiloh, ini abad dua puluh satu! Saatnya melakukan apapun yang kita suka, jangan terlalu kolot.”
“Terserah …,” kataku ketus.
Jenna gemas dan langsung menyerangku dengan menggelitiki badanku, anak ini suka sekali memaksakan pemikirannya pada orang lain. Aku tertawa sampai air mataku keluar karena tidak tahan dengan geli.
“Tolong! Aku diperkosa!” teriakku dengan tawa karena Jenna berusaha mengukur sebesar apa dadaku.
“Aku harus memeriksanya untuk dijadikan referensi!”
“Hentikan!” pekikku karena dia meremas buah dadaku.
Jenna menyetir, sementara aku memperhatikan jalanan. Aku menguap beberapa kali, aku tidak tidur dengan nyenyak semalam. Kalaupun aku kehilangan orientasi waktu, itu pasti karena aku meminum dua botol soju dan tiba-tiba terbangun pagi hari.
Tujuan kami adalah Hasegawa in Style, butiknya Jenna, Jenna adalah seorang pecinta mode sejak kecil, rancangan pertama Jenna adalah gaun pesta dia buat sendiri dengan memaksa pembantunya untuk menjahit untuknya, Bibi dan Paman yang melihat bakat mendesain putrinya langsung mencarikkannya tutor dan menjaga anak bungsu mereka tersebut agar tetap fokus pada bakatnya. Saat kuliah dulu Jenna selalu meledekku, untuk apa orang yang tinggal di daratan Amerika selama bertahun-tahun belajar sastra Inggris?. Membuatku hanya tersenyum simpul, aku melakukannya karena menyukai sastra dan ingin memperbaiki tata bahasaku, namun jika menjawab pertanyaan Jenna biasanya aku hanya akan menjawab karena aku suka, mau bagaimana lagi? Sepupuku yang suka memaksakan kehendak.
Silsilah dan kebiasaan kami membuatku terpikirkan sesuatu, memiliki usaha sendiri apakah sudah menjadi kebiasaan keluarga kami? Maksudku Jenna, Johnny dan aku memiliki garis keturunan yang sama, meski aku tidak bermarga Hasegawa. Johnny nama Jepannya adalah Ataru Hasegawa , sedangkan Jenna adalah Aiko Hasegawa, Shiloh Hasegawa? Memang sedikit aneh, untungnya aku adalah Jung Shiloh, nama Koreaku adalah Jung Ah Reum. Dulu saat aku berusia enam tahun, ibuku bilang aku juga harus memiliki nama Jepang, dia menyebutkan namaku adalah Hasegawa Seina. Karena kakek dan nenekku di Jepang pastinya hanya akan memanggil nama Jepang anak dan cucu mereka. Membuatku pusing saja.
“Ngantuk? Tidurlah, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai. Bagaimana kalau sementara ini kau jadi modelku?”
Aku mengibaskan telapak tanganku dengan cepat. Memikirkannya saja membuatku muak.
“Kau gila?”
“Padahal menyombongkanmu pada teman-teman priaku sangat menyenangkan. Kita harus ke Hawai atau Bali kapan-kapan!” Ujar Jena berapi-api.
“Aku tidur saja ….”
Rasa kantukku tidak tertahan, kebetulan waktunya pas sekali, cocok untuk menghindari cerewetnya Jenna. Kakaknya tidak secerewet ini, Johnny lebih tenang meski juga sedikit gila kerja.
***
Aku dibangunkan Jenna ketika mobil sudah terparkir di tempat parkir butik, butuh keyakinan kuat untuk membuka kelopak mataku yang berat. Tidur setelah makan memang sangat menyenangkan, walau tenggorokannya terasa seperti terbakar setelahnya.
“Aku haus, Jen.”
Jenna sudah sibuk mengumpulkan coretan-coretan kertas yang ada di dashboard mobilnya, biasanya Jenna akan menggambar di sembarangan kertas kupon atau struk belanja ketika ide sedang datang di mana saja. Kuakui dia jenius, meski sedikit menjengkelkan.
“Minum di ruanganku saja. Bantu aku, hei!”
Aku tertawa melihatnya panik seperti ini, padahal tidak ada yang akan memburunya. Semua klien bersedia menantikan jahitan gaunnya walau sampai mati. Dengan setengah hati aku membantunya. Kami berjalan dengan cepat, sebuah bangunan khas butik yang menampilkan manekin dengan baju terbaru menyapa siapa saja yang baru menaiki dua atau tiga anak tangga.
Beberapa karyawan Jenna mengucapkan salam padanya, Jenna terlihat berkharisma jika menyangkut pekerjaannya. Melewati pintu masuk dengan mulus, ada banyak sekali ornamen cantik dan pakaian modis yang dipajang untuk menarik pelanggan. Di tempat kasir sudah ada kerumunan orang yang akan membayar, aku menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan para wanita dan gadis cantik memilih pakaian mereka. Melihat pakaianku sendiri sekarang pasti sangat kontras dengan gaya mereka yang fashionable.
Malahan, aku belum mandi sejak pagi tadi. Aku sembarangan mengenakan kaos hitam yang pas badan, dan celana legging hitam. Ibuku terbangun ketika aku keluar kamar dan mencari kunci mobil. Dia tidak bertanya bagaimana perasaanku setelah mabuk dan menangis semalam, ia hanya bertanya kapan aku nanti akan pulang. Aku menjawab mungkin malam atau aku akan menginap di tempat Jenna.
Ruangan kerja Jenna sangat luas, langit-langitnya sangat tinggi, ruangan ini berwarna putih, meja kaca di ujung sebagai tempat berdiskusi dengan klien atau tempatnya menggambar, biasanya selalu rapi kecuali ketika Jenna sedang bersemangat untuk membuat gaun baru, para karyawannya dengan senang hati membersihkannya.
Jenna meletakkan tas dan bawaannya dengan kasar di atas meja. Ia memelototiku, aku tidak tahu salah apa aku tapi bukankah beberapa saat lalu kau masih menghiburku?
“Shiloh, kau harus memblokir pesan SPAM dan telepon iseng. Saat kau tidur tadi aku sangat terganggu dengan suara panggilan dari ponselmu.”
Aku terbelalak, segera mengecek ponsel di tas selempangku.
“Apa-apaan ini? Padahal aku sudah memblokir semuanya. Ada beberapa kombinasi nomor baru.”
“Atau sekalian bawa ke kantor polisi agar hidup kita tenang.”
“Kurasa ini hanya panggilan penipuan dan sejenisnya, diblokir saja seharusnya sudah cukup.”
“Aku menghargai sikap positifmu.”
Ponsel ini menerima banyak pesan tawaran pinjaman uang, link belanja dan undian hadiah yang tidak pernah aku ikut mendaftar. Semenjak putus dari Louis, kira-kira tiga bulan yang lalu. Tidak sering tetapi jika muncul pasti ada hari dimana akan menumpuk. Aku tidak pernah berniat untuk mengangkat panggilan atau sejenisnya. Kurasa hanya orang iseng.
***
Kupingku sakit sekali, aku duduk menikmati minumanku. Menyesapnya sedikit demi sedikit, Jenna memaksaku datang ke sini. Anak itu sekarang sedang menari-nari bersama teman-teman modelnya, untung saja aku tidak dipaksa mengenakan pakaian minim sepertinya. Hanya gaun selutut dengan ornamen bunga yang menurutku sedikit norak, salah satu hasil eksperimennya. Kurasa kelab ini tidak pernah sepi pengunjung karena wisatawan lokal maupun internasional suka datang kemari selain di kelab malam lainnya, alasannya karena DJ di sini biasanya sudah punya jam terbang tinggi, bahkan kadang tempat ini menghadirkan selebriti.
Jenna mendatangiku, ia kesulitan berjalan karena hak sepatunya terlalu tinggi. Kurasa dia mencoba untuk mengajakku melantai lagi, atau menjebakku berkenalan dengan pria sembarangan dan menyuruhku bercinta dengannya.
Jenna menabrak seorang pria yang lewat, ia kurang fokus dan meminta maaf pada pria Asia tersebut.
“Maafkan aku, aku minta maaf.”
Pria itu tampak tidak masalah dan langsung berjalan pergi ke kerumunan orang-orang yang menari. Aku tidak memperhatikan jelas wajahnya, kurasa memang orang Asia.
Jenna berlari mendekatiku dan menarik-narik tanganku.
“Ayo, Shiloh! Nikmati masa mudamu. Jangan hanya duduk dan minum seperti orang tua. Ini bukan upacara minum teh!”
“Kurasa kau mabuk, Jen!” Kami saling berteriak agar perkataan kami sampai ke kuping masing-masing.
“Tidak, tidak, tidak! Aku tidak mabuk. Pokoknya kau harus bersenang-senang dengan pria yang tak sengaja kau temui. Semisal saja pria yang bertabrakan denganku tadi. Seperti takdir. Ini semua adalah takdir!”
Bicaranya sudah mulai melantur, aku akan membopongnya sampai ke parkiran dan pulang ke tempatnya.
Jenna tertidur di kursi belakang, ia meracaukan apa saja. Aku menyetir dengan kesal, berharap jarak lebih pendek tetapi sialnya tempat ini cukup jauh dari butik Jenna.