Kinanti duduk terdiam dan menundukkan kepalanya saat Sang Ayah memberikan beberapa wejangan untuk dirinya yang berusaha meminta ijin untuk pergi ke Jakarta melakukan tes wawancara.
"Kamu itu kayak ndak Bapak urus, Kinan! Kamu sudah berhasil menyelesaikan studimu dengan baik dan cepat. Disini walaupun kota kecil, juga banyak pekerjaan yang layak kamu perjuangkan dengan gaji yang sesuai! Tidak perlu harus ke Jakarta!!" ucap Sang Ayah dengan suara tegas kepada anak bungsu kesayangannya itu.
Kinanti terdiam. Baru dua hari yang lalu, Kinanti mendapatkan rekomendasi dari dosen fakultasnya untuk melamar di sebuah perusahaan besar di Jakarta, karena nilainya yang sempurna dosen fakultasnya itu memberikan rekomendasi untuk langsung melakukan tes wawancara di Jakarta.
Melihat putri bungsunya yang tidak memperhatikan ucapannya malah terlihat sedang melamun pun, Sang Ayah langsung murka.
"Kinanti!! Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Bapak?!" tanya Sang Ayah dengan suara tegas.
Suara lantang Bapak begitu terasa menggema di telinga Kinanti hingga Kinanti mengangkat wajah cantiknya dan memberanikan diri menatap wajah Sang Ayah.
"Maaf Pak. Kinanti tidak mendengar pertanyaan Bapak, bisa di ulang?" tanya Kinanti dengan suara lirih penuh keraguan.
"Kamu itu benar-benar tidak bisa menghargai Bapak, Kinan!!" suara lantang Bapak begitu terasa menakutkan.
"Ma ... Maafkan Kinan, Pak," ucap Kinan pelan penuh rasa takut.
"Bapak tidak akan mengijinkan kamu untuk pergi ke Jakarta!! Apapun alasan kamu, Kinan!! Tetap dirumah dan kalau perlu kamu urus usaha Bapak yang di turunkan dari Kakekmu itu," ucap Bapak Kinan dengan tegas. Semua keputusan ada di tangan Bapak, dan tidak bisa di ganggu gugat.
"Ta ... Tapi Pak. Ini kesempatan langka, yang tidak datang dua kali. Ijinkan Kinan untuk melakukan tes wawancara disana," ucap Kinanti melembut yang masih mencari cara untuk meyakinkan Sang Ayah agar tetap mau memberikan ijin untk dirinya berangkat ke Jakarta esok hari.
"Sekali Bapak bilang tidak, jawabannya pun tetap tidak!! Tidak ada yang boleh membantah apapun perintah Bapak," tegas Bapak Kinan dan langsung pergi meninggalkan Kinan sendiri di ruang tengah itu.
Kinanti hanya bisa diam menatap Sang Ayah yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya dengan keputusa yang sebenartnya tidak bisa di terima baik oleh Kinan. Kenapa harus ada perbedaan dengan kedua kakak laki-lakinya. Dulu Mas ardi dan Mas Dimas tidak masalah mau mencari kerja hingga ke ujung pulau sekalipun, tetapi kini Kinanti harus ada sikap posesif dari Bapak.
"Argh ... Kenapa harus berbeda!!" teriak Kinan dengan kesal. Suaranya tidak keras, cukup terdengar untuk dirinya sendiri.
Kinanti pun bangkit berdiri dan pergi menuju kamar tidurnya. Tas berukuran sedang dan satu koper besar untuk keberangkatannya besok sudah di persiapkan sejak kemarin.
Saat dosen fakultasnya memberikan kesempatan baik itu, Kinanti menerimanya dengan senyum lebar. Kinanti adalah mahasiswi cerdas dan pintar.
"Ndok ...." panggil Ibu Kinan dengan suara pelan.
Sejak tadi, Ayu, Ibu Kinan memperhatikan perdebatan antara Suami dan anaknya itu.
Kinanti menoleh ke arah pintu kamar. Sudah ada Ibu yang sedang masuk ke dalam kamarnya.
"Ya Bu," jawab Kinanti dengan pelan.
"Kamu yang sabar ya Ndok. Kamu tahu kan, bagaimana sifat Bapak. Bapak itu keras dan apapun yang menjadi permintaannya harus dituruti," ucap Ibu Kinan menjelaskan dengan suara lembut.
Ayu duduk tepat di depan Kinanti yang bersandar pada sofa malas yang ada di kamar tidurnya. Bersandar sambil memegang boneka panda yang berbulu lembut dan menatap ke arah jendela besar yang mengarah pada pemandangan jalanan.
"Kinan hanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bapak, Bu. Ini kesempatan langka lho Bu. Kapan lagi, Kinanti dapat rekomendasi dari dosen fakultas untuk masuk ke Perusahaan besar sekelas PT. Surya Atmaja di Jakarta, dan Kinanti langsung tes wawancara dan tidak melalui tes-tes lainnya karena nilai Kinanti yang bagus," ucap Kinanti pelan menjelaskan kepada Ayu, Ibunya.
Ayu mengangguk pelan. Ayu mengerti sekali perasaan Kinanti, putri bungsunya itu. Tentu kputusan Suaminya itu sudah dipikirkan dengan matang dan Sugondo memiliki aasan khusus yang tetap pada pendiriannya untuk tidak memperbolehkan Kinanti mencari pekerjaan dan bekerja di Kota Jakarta.
"Kamu harus sabar Ndok. Lalu, sekarang kamu ingin bagaimana?" tanya Ayu dengan suara lembut memberikan kesempatan keada Kinanti untuk memilih jalannya sendiri.
Kinanti menggelengkan kepalanya pean.
"Ndak tahu Bu. Kinanti juga bingung. Lihat semua sudah Kinanti persiapkan, termasuk memesan tiket kereta dengan jadwal keberangkatan besok pagi," ucap Kinanti dengan suara pelan. Terlihat kebingungan dan kecemasan Kinanti saat ini. Kinanti kecewa dan sangat kecewa dengan keputusan Bapak.
"Jangan pernah nekat Ndok. Pasti Bapak punya alasan lain tidak memperbolehkan kamu untuk berangkat ke Jakarta. Ambil sisi positifnya saja Ndok. Kota Jakarta itu sangat besar dan memiliki segudang misteri yang tidak kita ketahui sebagai pendatang," ucap Ayu, Ibu Kinan mengingatkan.
Kinanti mengangguk pelan. Hal itu yang selalu di ucapkan kedua kakak lelakinya yang selalu memberikan nasihat kepada adik perempuan semata wayangnya.
"Tapi, Kinan juga punya cita-cita Bu. Apakah Kinan tdak boleh menggapai cita-cita? Percuma Kinan sekolah tinggi kalau akhirnya hanya dduk diam di rumah tidak bekerja dan menunggu jodoh datang dengan sendirinya. Apa salah Kinan ingin menjadi wanita karir?" tanya Kinan dengan rentetan pertanyaan yang masuk akal.
"Ibu tahu Ndok. Ibu paham dengan perasaan kamu, Kinan. Tapi, Ibu sendiri tidak bisa berbuat banyak dan Ibu tidak bisa membantumu, apalagi harus membantu untuk merayu Bapak, agar niatmu initerkabulkan," ucap Ayu pelan sambil mengusap kepala Kinanti dengan lembut.
Kinanti mengangguk pelan dan hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Beginilah hidup di desa dengan segala adat istiadat yang masih diagung-agungkan hingga banyak aturan baku yang harus benar-benar diterapkan tanpa bisa menerima perubahan jaman yang sudah mulai mengikis aturan adat istiadat.
"Ya sudah Bu. Kinan hanya bisa diam bukan? Kinan hanya bisa menerima keputusan Bapak tanpa bisa mengelak atau membela diri. Biarkan ijasah dan transkip nilai Kinan di museumkan saja. Tidak perlu di keluarkan lagi, toh itu semua tidak ada gunanya," ucap Kinanti dengan rasa kecewa.
"Maafkan Ibu, Kinan. Ibu mau melanjutkan masak dulu. Hari ini akan ada teman Bapak yang mau mampir ke rumah ini," ucap Ayu dengan pelan memberitahu.
Ucapan Ayu hanya di dengarkan oleh Kinanti dan tidak sedikit pun di perhatikan dengan seksama. Kinanti memang tipe gadis yang tidak mau tahu dengan urusan orang lain, apalagi urusan kedua orang tuanya. Bapak pernah memberi pesan, bahwa jangan terlalu ingin tahu dengan urusan orang lain, karena sifat seperti itu sangat tidak baik bisa berujung kepada iri dan kecemburuan sosial hingga tidak bisa menerima diri sendiri dan kehidupan yang di jalani dengan penuh rasa syukur. Intinya manusia tidak akan pernah puas dengan semua yang telah dimiliki.
Hari semakin sore, kedua kakak laki-laki Kinan juga sudah datang sesuai dengan permintaan Bapak. Hari ini adalah hari yang penting bagi keluarga Sugondo. Tamu yang akan datang bukan hanya teman atau sahabat Bapak, sekaligus teman berbisnis Bapak Sugondo
"Hei, anak perawan masih saja tertidur? Bangun!! Mandi, siap-siap mau ada tamu penting," ucap Ardi, Kakak tertua Kinan yang paling perhatian kepada adik bungsunya itu.
Kinanti mengerjapkan kedua matanya karena terkejut mendengar suara keras Sang Kakak yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Kinan tanpa permisi.
"Mas Ardi? Ada apa datang? Ini kan hari Kamis?" ucap Kinanti pelan dengan suara polosnya.
Ardi pun berjalan menuju tempat tidur Kinanti dan duduk di tepi kasur menatap Kinanti.
"Demi kamu ini, Kinan," ucap Ardi sambil tertawa terbahak-bahak.
Kedua mata Kinan melotot sambil memukul lengan kekar Kakaknya itu.
"Kok demi Kinan sih? Kan acara makan-makan wisuda juga sudah Mas? Emang ada acara apa lagi?" tanya Kinanti pelan dengan raut wajah bingung.
Kinan membuka kedua matanya lebar, mata yang bulat dan besar dengan bola mata yang hitam legam semakin membuat wajah Kinan semakin manis dan anggun.
Sejenak Ardi dengan sengaja, terlihat seperti sedang berpikir dan mengerutkan keningnya agar kinanti semakin penasaran dengan acara malam ini.
"Mas Ardi juga tidak tahu mau ada apa sekarang. Mas Ardi hanya di telepon Bapak untuk menyempatkan datang, karena ada acara penting," ucap Mas Ardi pelan seperti menyerah.
"Ih ... Mas Ardi ini lho ... sukanya membuat Kinan dag dig dug. Apa sih? Kok Kinanti jadi ikut penasaran? Habis Bapak dan Ibu tidak bicara apa-apa tentang hal ini?" ucap Kinan dengan santai. Seolah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi, tentu tidak mungkin bersinggungan dengan dirinya acara sore ini.
"Gak tahu. Mas mau mandi ya. kamu mandi sana, masa ada tamu Bapak, kamu masih seperti ini?" ucap Mas Ardi dengan suara pelan.
Ardi pun langsung bangkit berdiri dan berjalan keluar. Tidak mau acara malam ini gagal karena kecerobohannya yang membuka rahasia kepada Kinan.
"Mas Ardi!! Mas Ardi pasti tahu mau ada apa sebenarnya ini," ucap Kinan dengan suara keras sambil melempar bantal.
Lemparan bantal berhasil meleati tubuh ardi yang dengan sigap menghindar dan ....
BUGH!!
"Arghh ... Sakit," teriak nyaring suara seorang wanita yang kaget dengan sebuah bantal terayun tepat mengenaik wajahnya.
"Maaf Ibu ..." teriak Kinan yang lagsung berlari menghampiri wanita itu.
"Tidak apa-apa, saya hanya kaget. Mbak Kinan, kan?" tanya wanita itu pelan sambil memberikan bantal yang tadi mengenai wajahnya kepada Kinan.
Kinanti mengangguk, mengiyakan pertanyaan wanita paruh baya yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Iya saya Kinan, Bu. Ada apa?" tanya Kinan dengan sopan sambil memeluk bantal itu dengan erat.
"Oh Iya ... Ini Kinanti. Buat adik bungsu saya ini secantik mungkin, biar tidak malu-maluin untuk acara nanti malam. Selamat mempercantik diri, adikku sayang," ucap Ardi menggoda Kinan lalu pergi begitu saja meninggalkan Kinan dengan sejuta tanya.
Wanita paruh baya yang bertugas untuk merias wajah Kinan pun hanya mengangguk dn tersenyum lebar.
"Ayok Mbak Kinan, kita mulai sekarang?" ucap Sang Perias sambil menggandeng tangan Kinan yang masih menganga karena terkejut dnegan ucapan Ardi.
Kinanti penasaran, sebenarnya ada acara apa nanti malam, hingga Kinanti yang beradadi rumah tidak mengetahui.
"Sebenarnya ada acara apa Bu? Kok, Kinan tidak tahu Bapak sama Ibu mau ada acara di rumah ini nanti malam?" tanya Kinan yang duduk di depan meja rias. Tiba-tiba saja perasaan Kinan tidak enak, ada sesuatu hal yang mengganjal sepertinya ada sesuatu yang akan membuat dirinya malu malam ini.
Perias itu hanya tersenyum lebar lalu terkekeh pelan.
"Katanya mau ada acara lamaran," jawab Perias itu pelan dan mulai membuka peralatan make up nya.
"Apa?! Lamaran?!! Siapa?? Mas Ardi? Atau Mas Dimas? Kok, Kinan malah tidak tahu. Mas Ardi baru aja putus bulan lalu, sedangkan Mas Dimas juga belum ada pacar," ucap Kinan pelan. Pikirannya mulai bercabang.
"Mbak Kinan sudah mandi? Mau mandi dulu? Sebelum di rias?" tanya perias itu pelan sambil menatap kedua mata Kinan yang terlihat kosong.
"Ekhem ... Mandi dulu Bu," jawab Kinan dengan sopan lalu berjalan menuju kamar mandi.
Pikiran Kinanti masih saja terus berpikir keras. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Selama mandi, Ayu, Ibu Kinan masuk ke kamar Kinan dan memberikan pakaian yang akan di pakai Kinan untuk acara malam ini.
Kinan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang di lilitkan di tubuhnya.
"Ibu? Itu apa?" tanya Kinan pelan saat melihat pakaian yang masih ada di tangan Ayu, Ibu Kinan.
"Ini pakaian yang harus kamu pakai, Kinan. Kamu pasti cantik sekali, ini pilihan Pak Surya," ucap Ayu, Ibu Kinan dengan suara pelan.
"Hah? Pak Surya? Pak Surya itu siapa?" tanya Kinan dengan penasaran.
"Nanti kamu juga tahu, Kinan," ucap Ayu pelan.
"Sebenarnya, ada acara apa sih Bu?" tanya Kinan pelan.
Ayu hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kinan lalu tersenyum lebar.
"Nanti juga tahu, yang penting sekarang kamu persiapkan diri untuk acara nanti malam," ucap Ayu pelan sambil mengedipkan satu mata kepada Kinan.
"Siapa yang lamaran sih Bu? Mas Ardi atau Mas Dimas?" tanya Kinan pelan.
Kedua mata Ayu berputar ke atas. Pertanyaan Kinan membuatnya tersudut, karena acara ini memang sengaja di persiapkan tanpa sepengetahuan Kinan. Ayah Kinan sengaja merahasiakan acara ini, karena yang ditakutkan Kinan akan menolak dan marah.
"Bu, Tolong rias Kinan jadi secantik mungkin," ucap Ayu, Ibu Kinan pelan berpesan kepada perias itu sambil mengedipkan satu matanya.
Pemandangan itu pun tidak luput dari tatapan Kinan yang semkin di buat penasaran.
"Ini sebenarnya ada apa Bu?" tanya Kinan dengan rasa penasaran.
Ayu lagi-lagi terdiam menatap Kinan, putri bunsu semata wayangnya tu. Rasanyaingin memberi tahu, tapi memang amanah dari Sugondo, suaminya untuk tidak memberitahu Kinan perihal acara nanti malam.
"Tunggu nanti malam, setelah maghrib. Kamu juga akan tahu," ucap Ayu, Ibu Kinan singkat lalu berlalu pergi keluar kamar Kinan dan menutup kembali pintu kamar itu.
Kini tatapan Kinan kembali beralih ke arah perias itu hingga Sang perias pun menjadi keki saat di tatap dengan setajam silet oleh Kinan. Perias itu berusaha tenang dan tetap profesional, walaupun tahu tentang acara nanti malam.
"Mbak Kinan, sini duduk di sini. Kita mulai saja merias wajahnya," ucap lembut Sang Perias kepada Kinan.
"Ibu tahu kan, nanti malam ada acara apa? Tolong beri tahu Kinan," ucap Kinan lembut dan sopan.
Kinan berjalan menuju kursi meja rias dan duduk dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya.
"Tugas saya hanya merias Mbak Kinan, hanya itu," ucap Sang Perias singkat dan mulai merias wajah cantik Kinan.
Keluarga Pak Surya dan Bu Anita sudah berada di perjalanan menuju kediaman rumah Bapak Sugondo. Acara malam ini memang sangat mendadak sekali, dan ada hubungannya dengan urusan bisnis antara Pak Surya dan Pak Sugondo, di Surya Go Group Coorporation.
"Masih jauh rumahnya Mas?" tanya Anita, sang istri kepada Surya, suaminya.
"Tidak jauh, sebentar lagi," ucap Surya pelan sambil melihat ke arah depan jalan raya.
Sore ini, sesampai di Bandara, Keluarga Pak Surya langsung di jemput oleh supir keluarga yang berada di rumah pribadinya di daerah Yogyakarta. Perjalanan langsung di lanjutkan ke rumah Sugondo, sahabat karibnya sejak kecil.
"Bagas sudah berangkat belum Pah?" tanya Anita lirih. Takut acara malam ini gagal karena kesibukan Bagas di kantor sejak dua hari ini.
Surya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu melihat ke arah depan kembali seperti sedang mengingat jam keberangkatan pesawat Bagas.
"Ini pukul lima sore, pesawat Bagas sepertinya berangkat pukul pukul enam lewat lima belas," ucap Surya pelan lalu mengutak-atik ponselnya berusaha menghubungi Bagas.
"Gimana Pah? Bagas bisa di hubungi?" tanya Anita pelan. Tiba-tiba saja perasaan wanita paruh baya itu menjadi tidak enak. Pikirannya melayang kepada anak semata wayangnya yang baru saja kembali ke tanah air satu minggu yang lalu.
Surya menggeleng pelan dan raut wajahnya mulai berubah memerah. Surya bingung dan cemas. Sekali lagi Surya berusaha menghubungi ponsel Bagas dan nomor telepon kantornya untuk mengetahui kondisi dan keadaan Bagas saat ini. Sudah dua hari ini, Bagas memang mulai sibuk menggantikan posisi Pak Surya sebagai Direktur Utama.
"Tidak ada jawaban, Mah. Pak Badrun, setelah ini kembali ke bandara dan tunggu Bagas. Mungkin saja dia sudah di Bandara menunggu keberangkatanya," titah Pak Surya kepada pak Badrun.
Bagas baru saja menyelesaikan urusan kantor dan duduk bersandar di kursi terhormatnya. Kursi yang baru dipakainya selama dua hari ini. Satu tangannya memandangi foto lama yang masih berwarna hitam putih. Fotonya bersama Ajeng, anak dari sahabat Papanya.
Senyum Bagas terbit bahagia, sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Ajeng. Entah masih mengenalnya atau tidak, yang jelas kini perempuan itu akan menjadi tunangannya.
TOK!!
TOK!!
TOK!!
Suara pintu terbuka, Festi, karyawan kepercayaan Papa Surya sudah melangkah masuk ke dalam ruangan Bagas.
"Permisi Pak Bagas, malam ini ada klien yang mengajukan pertemuannya malam ini, karena beliau besok siang harus terbang ke luar negeri? Bagaimana Pak?" tanya Festi pelan dengan sopan
Bagas yang terkejut langsung menegakkan duduknya dengan benar.
"Siapa Fes? Klien yang mana?" tanya Bagas pelan.
"Klien dari Perusahaan Matahari, ini penanam modal yang besar Pak Bagas. Kita akan bertemu langsung dengan pemilik perusahaan yaitu Bapak Hari," ucap Festi dengan pelan menjelaskan.
"Tapi, dua jam lagi, Saya harus berangkat ke Yogyakarta untuk acara penting juga," ucap Bagas pelan sambil memijit keningnya yang tidak sama sekali pusing.
Dilema antara pekerjaan dengan acara yang sudah jauh-jauh di buat oleh kedua orang tuanya.
"Ya, Sekarang tergantung Pak Bagas. Kalau mau malam ini, akan saya jadwalkan sekalian makan malam agar lebih santai. Atau bisa konsultasi dahulu dengan Pak Surya?" ucap Festi menyarankan.
Ponsel Bagas baru saja di aktifkan, setelah tadi dimatikan karena sedang rapat dengan beberapa orang penting. Banyak notifikasi yang masuk termasuk notifikasi panggilan dan pesan singkat dari Papa Surya dan Mama Anita.
Bagas segera menelepon Papa Surya, namun tidak diangkat. Sudah beberapa kali Bagas mengulang sambungan telepon itu, tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda sambungan telepon itu tersambung.
"Argh ... Kenapa tidak diangkat," ucap Bagas sedikit mengumpat dengan kesal. Tubuhnya lelah, tapi ini semua demi kelangsungan majunya perusahaan yang sedang di kelolanya.
"Gimana Pak Bagas? Jangan sampai klien kita kecewa. Kalau Pak Bagas tidak bisa, mungkin ada orang lain yang bisa menggantikan Pak Bagas," ucap Festi pelan.
Bagas menyimak ucapan Festi lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak diangkat oleh Papa. Tidak ada orang yang bisa menggantikan posisi ini. kebetulan Papa sudah memberikan pesan kemarin untuk Saya handle sendiri," ucap Bagas pelan.
"Jadi, Bagaimana Pak?" tanya Festi pelan yang masih menunggu keputusan Bagas sambil berdiri di depan meja kerja Bagas.
"Baiklah. Kita terima tawarannya setelah maghrib kita rapat di tempat biasa. Siapkan makan malam. Tolong belikan tiket ke Yogyakarta nanti malam. Setelah rapat Saya harus kesna. Saya mau bicara dengan Papa," titah Bagas dengan tegs.
Berulang kali Bagas mencoba menelepon Sang Papa, hingga waktu berjalan dan tiba saatnya rapat bersama penanam modal.
Tiga jam berlalu, hasil rapat yang memuaskan. Pak Hari ingin menambah kembali modal untuk Surya Go Corporation dengan kontrak kerja yang baru yang leih menguntungkan bagi Surya Go Corportion.
"Festi, Tiket perjalanan? Sudah di pesan?" tanya Bagas pelan.
Festi mengangguk pelan saat Bagas tengah bersiap untuk pergi ke Bandara.
"Sudah Pak. Sudah di atur semua, keberangkatan pukul sebelas malam," ucap Festi pelan sambil melihat jadwal keberangkatan pesawat yang di pesannya melalui ponselnya.
"Baiklah, terima kasih. Saya langsung ke Bandara. Besok Saya kembali, mungkin agak siang," ucap Bagas pelan.
Bagas berjalan menuju mobilnya dan melajukan mobil itu dengan pelan menuju Bandara. Ponselnya kembali diaktifkan.
Sudah pukul delapan malam. Ponsel Bagas kembali tidak aktif. Pak Surya dan Mama Anita beberapa kali mencoba menghubungi Bagas namun tetap saja tidak tersambung.
"Bagaimana ini? Papa tidak enak dengan Pak Sugondo. Seharusnya tadi kita berangkat bersama, tidak seperti ini. Apa mungkin, Bagas menolak pertunangan ini?" tanya Pak Surya kepada Anita, istrinya.
Pak Surya tahu, bahwa Bagas itu sangat dekat dengan Anita, Ibu Bagas. Jadi, semua rahasia tentu Anita akan lebih dulu tahu dbandingkan Surya, papanya.
"Bagas menerimanya, bahkan Bagas senang bisa dipertemukan kembali dengan Ajeng," ucap Anita pelan sambil mengingat kembali pembicaraannya dengan Bagas dua malam sebelum acara ini dilaksanakan.
"Tadi Bagas sempat menghubungi Papa, tapi tidak ke angkat. Sepertinya Papa sedang berbincang dengan Sugondo," ucap Papa Surya dengan lirih menyesali.
"Ada apa ya Pa? Mama kok jadi cemas begini," ucap Anita pelan sambil mencoba menghubungi Bagas untuk kesekian kalinya.
"Surya ... Ayo kita makan malam dulu, sambil menunggu kedatangan Bagas. Sudah sampai dimana calon menantuku itu?" tanya Sugondo dari ambang pintu teras menuju joglo, tempat dimana Surya dan istrinya sedang menikmati malam di Kota Gudeg itu.
Mendengar panggilan Sugondo, jantung Surya pun sedikit mencelos panik. Kedua matanya melirik ke arah Anita, istrinya.
"Iya ... Sugondo. Maaf, Bagas tidak bisa di hubungi sejak sore. Saya khawatir sekali,' ucap Surya pelan.
"Lho, Coba hubungi lagi, takut ada apa-apa," ucap Sugondo pelan terlihat ikut mencemaskan keadaan Bagas.