"BUNUH AKU!"
"Whattt?"
Manik hitam pekat milik seorang pria tampan menajam, lalu dengan alis berkerut sang miliarder itu menatap tajam wajah jelita yang kini mulai meneteskan air mata.
"Dia pasti mengirimmu untuk membawaku kembali, lebih baik kau bunuh saja aku, aku bersumpah dia tidak akan bisa menjamah tubuhku, kau maju satu langkah lagi aku akan menggigit lidahku," ujar wanita itu dengan bibir bergetar.
Di antara sorot ketakutan itu ada tekat dan keberanian yang membanggakan.
Sang miliarder, Bastian Navarell terdiam.
Dia berusaha mencerna semua kalimat yang wanita laksana bidadari itu katakan.
Kesimpulannya, sepertinya wanita ini melarikan diri karena akan diperkosa atau dipaksa melayani seseorang, dan mengira Bastian anak buah pria biadab itu.
Bastian Navarell terkejut bukan main, tadinya dia sedang dalam perjalanan mencari Ashera, kucing seharga satu miliar yang selalu menghilang sejak istri yang akan segera menjadi mantan, menitipkan kucing itu padanya.
Di dalam ruangan yang sempit itu yang dilihatnya bukan kucing Ashera yang dicarinya akan tetapi berdiri seorang wanita lembut berwajah jelita.
Wanita berwajah bidadari dengan pakaian yang... terkoyak!
Bastian bisa melihat dada ranum yang membayang dari antara kain yang tercabik-cabik.
Tubuh yang luar biasa indah!
"Aku bukan suruhan siapapun," gumam Bastian.
Wanita itu menatapnya tajam, ragu-ragu untuk percaya.
Saat itu Bastian mendengar percakapan dua pria agak jauh darinya.
"Kemana dia pergi? Cari sampai dapat dan bawa ke hadapanku secepatnya, aku akan membuatnya jadi milikku, peduli setan dia suka atau tidak suka!"
Mendengar penggalan kalimat itu yakinlah Bastian mereka sedang mencari wanita jelita yang sedang berdiri dengan gemetar dihadapannya.
Dengan ekor matanya Bastian melihat dua pria makin mendekati tempatnya berdiri.
Keputusan telah dibuat.
Segera Bastian maju dan memeluk wanita itu dengan tangan kiri sedang tangan kanan membungkam agar dia tidak berteriak.
"Diamlah, aku akan menolongmu."
Bastian menggeser posisi wanita laksana bidadari itu hingga orang luar hanya dapat melihat sekilas kaki femininnya karena tubuh besar Bastian mendominasi ruangan dan menutupi sebagian besar tubuh si wanita.
Suara para pria itu semakin dekat.
Bastian Navarell menunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir ranum yang bercampur dengan asinnya air matanya.
Awalnya Bastian hanya ingin menampilkan kesan kekasih yang sedang bermesraan akan tetapi Bastian tidak mengira akan menemukan bibir yang rasanya begitu memabukkan.
Tujuan awal hanya untuk mengalihkan perhatian para pengejar pun terlupakan.
Bastian melumat dengan rakus bibir wanita itu.
Bastian sadar gairahnya telah bangkit dengan luar biasa cepat.
Pangkal pahanya berdenyut kencang.
Belum pernah ada yang menarik perhatiannya hanya dengan ciuman.
Dorongan lembut di dadanya membuat Bastian mundur dengan perlahan.
Kini wanita itu sedang memandang dengan mata besar, wajah bekas air mata dan bibir bengkak yang seksi.
"Kau tidak akan menangkapku?"
Bastian menggeleng.
Nampaknya wanita itu mulai percaya.
"Thank you," ucapnya dengan bibir gemetar.
Naluri melindungi Bastian seketika bangkit.
Tiba-tiba kembali terdengar percakapan dan langkah kaki di belakang mereka.
Mendengar itu wajah jelita di hadapannya seketika kembali memucat, bibirnya bergetar ketika dia berbisik lirih.
"Sepertinya mereka kembali, apa yang harus kulakukan?"
"Ikuti saja perintahku."
Kembali Bastian merengkuh tubuh lembut itu dan melumat bibir ranum yang kini dia tahu menjanjikan kenikmatan.
Kembali hasratnya naik dengan kecepatan yang menakjubkan.
Kali ini Bastian mencium dengan segala keahlian yang dimilikinya hingga mereka berdua lupa daratan.
Bastian baru melepaskan pagutannya saat rintihan lirih terdengar samar di telinganya.
"Sorry," gumam Bastian.
Mereka berdua saling memandang lalu Bastian melihat wanita itu akan beranjak meninggalkannya, reflek Bastian menahan tubuhnya.
"Jangan terburu-buru, siapa tahu mereka masih di sekitar sini."
Wanita itu hanya mengangguk, lalu menundukkan kepalanya.
Bastian melihat wanita itu sama sekali tidak tertarik untuk berbicara dengannya.
AMAZING!!
Sepanjang umur dewasanya lawan jenis berlomba-lomba menarik perhatiannya.
Baru malam ini dia bertemu wanita yang ingin segera meninggalkannya.
Wanita berbibir ranum yang telah menyihirnya.
"Tunggu di sini aku akan memeriksa mereka."
Wanita itu kembali mengangguk.
Bastian meninggalkan wanita itu, dia sengaja sedikit menjauh untuk meredakan hasrat yang menggebu yang membuatnya takjub!
Bidadari PENYIHIR.
Baru kali ini Bastian ingin bercinta di lima menit pertemuan pertama, luar biasa!
Setelah merasa bisa mengendalikan dirinya, Bastian langsung kembali ke ruang perlengkapan.
"Ikuti aku sebelum mereka kembali ke sini."
"Kita akan ke mana?"
"Kita naik lift, ikuti saja aku."
"No! Mereka pasti mengirim anak buah untuk berjaga di setiap lantai."
"Kita naik private lift!"
Begitu sampai di Penthouse-nya Bastian langsung menuju meja bar dan mengambil minuman buat si wanita.
"Minumlah, itu bisa meredakan keteganganmu dan membuatmu lebih rileks."
"Aku tidak biasa minum, hasilnya akan lebih merepotkanmu."
Bastian mengangguk samar, lalu memberikan kemejanya.
"Ganti bajumu, minimal kemejaku akan seperti gaun di tubuhmu."
"A-aku akan ganti baju dulu," wanita itu gugup menjawab lalu pergi meninggalkan Bastian.
Bastian menandaskan minumannya dalam satu tegukan, ternyata bukan hanya wanita itu yang gugup, dia pun gugup.
Tak lama Bastian mendengar ada gerakan samar di belakangnya, jadi dia berbalik dan tarraaaa......
'shitttt, aku sedang berusaha meredakan gairahku akan tetapi aku malah menyuruhnya memakai kemejaku, dan lihatlah hasilnya! Efeknya melihat tubuh seksi yang dibalut kemejaku seakan kami baru saja bercinta habis-habisan, sepertinya masih lebih baik biarkan dia dalam pakaiannya yang terkoyak, tapi kilasan dada ranum itu pun tadi berhasil menaikkan tekanan darahku dengan cepat kan,' suara hatinya berdebat dengan sisi dirinya yang gelap.
Bastian berusaha melegakan tenggorokannya yang mendadak serak.
"Duduklah, aku akan membuat kopi untuk kita, btw kamu pasti belum makan?"
Wanita itu menggeleng.
"Oke aku akan memesan sesuatu_"
"Tidak usah, aku bisa memasak buat kita berdua, aku cek isi kulkasmu dulu."
Bastian melihat si wanita mengeluarkan berbagai bahan dari lemari es.
"Kalau begitu aku mandi sebentar."
Bastian pun pergi dari dapur.
Lima belas menit kemudian Bastian keluar dari kamar dengan rambut basah dan langsung disergap harum masakan lezat.
Melihat hidangan di meja makan sudah tersedia Bastian langsung mencicipi dan memang rasanya sangat nikmat sama seperti tampilannya.
"Lezat," gumam Bastian.
Wanita itu tersenyum, senyum pertamanya.
Bastian terpana....
Bastian merasa ada yang menohok perutnya dengan keras, tangannya yang masih memegang sendok terdiam di udara, seakan ada sihir yang menyelubungi dirinya.
Senyum itu begitu lembut memukau.
'ini pasti sihir! Tidak pernah ada wanita yang pesonanya sampai melumpuhkan otakku.'
Kembali Bastian menganalisa dalam hati.
"Thank you, aku masak sebisanya dengan apa yang ada," wanita itu berusaha merendah dengan tersipu.
Wanita yang tidak terlatih menerima pujian.
'Hmm...sangat menarik,' batin Bastian.
Mereka makan dengan lahap, Bastian menghabiskan semua makanan.
"Boleh aku meminjam teleponmu?"
"Pakailah, aku yang akan membersihkan semua."
"Tidak usah, kau sudah banyak menolongku, jadi biarkan aku yang membereskan semuanya."
"Jangan membantah, kau sudah memasak, duduklah, pakai telepon itu."
"Kau punya masker? Aku merasa akan flu."
Bastian mengambil masker dan memberikannya kepada wanita itu lalu ke dapur dengan suasana hati sungguh riang...
Tak berapa lama Wanita itu mengikuti Bastian ke dapur.
"Aku ingin minta tolong sekali lagi."
Bastian mengangguk dan berharap semoga apa yang wanita ini ucapkan tidak membuatnya jadi sama dengan wanita kebanyakan yang Bastian kenal, karena sampai sejauh ini dia berhasil memikat Bastian karena dia BEDA.
"Ponsel dan dompetku hilang, aku hanya bisa mengingat nomor sahabatku, dan ponselnya mati, jadi bolehkah aku tidur di sofa hingga besok pagi pagi sekali baru aku akan pergi?"
Mendengar permintaan yang dilontarkan dengan ragu-ragu itu seketika Bastian merasa ada yang menari-nari di perutnya.
Sebenarnya dia bisa menyuruh sopirnya mengantarkan si wanita kemanapun dia ingin pergi, tapi masalahnya Bastian tidak ingin wanita itu pergi.
"Tinggallah," Jawab Bastian sambil menjaga ekspresinya tetap datar walau sebenarnya dia ingin tersenyum lebar.
"Thank you."
Kembali Bastian ternganga melihat senyum lembut itu.
Sepeninggal wanita itu, Bastian segera membereskan piring-piring kotor sambil mengejek diri sendiri yang bereaksi seperti remaja belasan tahun yang baru terpikat pada lawan jenis.
Samar, Bastian mendengar percakapan...atau pertengkaran? Segera Bastian kembali ke ruang duduk dan Bastian terkejut mendapati Miranda, istri yang sebentar lagi akan menjadi mantan, sedang mendamprat si wanita yang berdiri kebingungan.
"Ternyata kamu penyebab dia berpaling dariku..JALANG!"
"Stop!" Teriak Bastian.
PLAKK!
Terlambat, teriakan Bastian tidak bisa menghentikan tamparan yang mendarat dengan keras di pipi si wanita.
"Kamu pakai masker biar aku tidak bisa mengenalimu? Hah?"
Miranda kembali akan menampar wajah si wanita ketika Bastian tiba dan berdiri di tengah mereka berdua.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Bastian yang khawatir melihat wajah si wanita sepucat kapas.
Miranda nampak makin murka mengetahui miliarder tampan yang masih berstatus suaminya itu malah perhatian dan membela wanita lain.
"Sudah berapa lama kalian berselingkuh di belakangku? Pantas kalian sudah tinggal bersama, wanita tak punya malu," teriak Miranda.
"Tutup mulutmu Miranda, kau dan belasan pria mudamu yang membuatku jijik, tidak usah cari kambing hitam!" Bentakan Bastian seketika membuat Miranda bungkam.
Bastian langsung menarik Miranda masuk ke ruang kerjanya.
Dalam hati Bastian mengutuk dirinya yang lupa mengganti kunci hingga Miranda bisa masuk seenaknya.
Bastian mencela Miranda yang langsung bermain drama, meminta maaf, menangis dan memohon Bastian agar membatalkan perceraian mereka.
"Aku akan memaafkan apa yang aku lihat malam ini," celetuknya di antara tangis pura-pura.
"Memangnya apa yang kau lihat?"
Makin muak Bastian melihat sikap Miranda.
Dia heran kenapa dia dulu sampai memutuskan memperistri Miranda, kenapa dia tidak bisa melihat semua kepalsuan Miranda.
"Dia tinggal bersamamu, dia memakai kemejamu, kau menyangkalnya?"
"No! Aku senang dia ada di sini, aku senang dia memasak di dapurku, aku senang dia memakai kemejaku, aku senang dia akan menginap bersamaku, aku MEMANG SENANG dan itu tidak ada hubungannya denganmu, hubungan kita sudah berakhir saat kamu tidak menghormati janji pernikahan kita, jadi jangan buat tuntutan yang tidak masuk akal agar perceraian kita segera beres, sekarang keluar dari rumahku!"
Bastian keluar dari ruang kerjanya lebih dahulu dari Miranda, dia akan melindungi wanita itu dari dampratan susulan yang mungkin akan Miranda lancarkan.
Sampai di ruang duduk Bastian terpaku.
Apa yang dilihatnya membuatnya gusar!
Kosong.....
Wanita bidadarinya telah lenyap!
Bastian melihat ke kanan dan ke kiri, tidak nampak bayangan si wanita.
Jika bukan karena ciuman membara yang dirasakannya dan berbagai jejak kehadirannya bisa-bisa Bastian mengira wanita itu tidak nyata.
Terdengar langkah kaki yang membuyarkan lamunan Bastian.
"Beb? Chico baik-baik saja kan?" Pertanyaan Miranda terlontar dengan takut-takut.
Bastian lupa tujuannya tadi ke ruang perlengkapan itu untuk mencari Chico, kucing jenis Ashera, yang dititipkan Miranda padanya.
"Chicomu paling suka menghilang, kemaren mereka menemukannya di ruang perlengkapan dua lantai di bawah Penthouse-ku."
"Kok bisa?"
"Tanya Chicomu!" jengkel, Bastian menjawab seenaknya, pikirannya sedang didominasi oleh wajah jelita seorang wanita.
Jadi, Bastian menelepon salah seorang pengawalnya dan menyuruh mereka mencari Chico.
"Bebbb....Chico itu keturunan jenis Ashera, harganya satu miliar, kalau dia beranak bisa jadi berapa coba?"
Miranda mulai merajuk, Bastian makin muak.
"Aydan sedang mencarinya, ini yang terakhir, jangan pernah lagi menitipkannya padaku, banyak pet shop yang menerima jasa penitipan!"
"Chico bener-bener kucing Ashera, kucing mahal bagaimana kalau mereka tidak menjaganya dengan benar, Beb."
"Kalau begitu jangan bepergian! Sekarang pulanglah!"
Bastian berdiri sambil memegang daun pintu, lalu menutupnya di belakang tubuh Miranda.
Dia tahu ini hanya akal-akalan Miranda untuk kembali dekat padanya.
Miranda menolak untuk bercerai!
Bastian kembali menelepon Aydan.
"Prioritas utama cari wanita yang memakai kemejaku, dia pergi tanpa uang sepeserpun, mungkin dia belum jauh, langsung kabari aku."
Bastian menunggu dengan tegang, dia tahu wanita itu tidak bawa dompet dan HP-nya mati, apalagi sudah malam, bagaimana dia bisa pulang??
Dia baru mengenal si wanita kurang dari 5 jam, akan tetapi wanita itu telah berhasil menarik perhatiannya lebih daripada wanita manapun yang pernah bersamanya, wanita itu mendominasi pikirannya.
Hanya dengan bibirnya saja dia bisa membawa gairah Bastian naik ke level paling top, bayangan mereka bercinta berhasil membuat 'tubuh'nya mengeras.
"Shittt."
Bastian mengumpat lirih lalu menelepon Sarah, manajer yang dia percayai mengelola kompleks apartemennya ini.
"Sarah, aku butuh rekaman cctv mulai dari pintu masuk hingga rekaman seluruh kejadian di lantai 28, suruh orangmu yang mahir bawa ke sini."
"Baik, Mr Navarell."
Tak lama berselang datanglah orang utusan Sarah, seorang pemuda culun berkacamata dengan dua laptop di tangannya.
"Masuk, kita ke ruang kerja."
Bastian menuju ruang kerja diikuti si culun.
"Kita mulai dengan ruang perlengkapan dua lantai dibawah penthouse."
Tanpa kata kata jadi si culun langsung bekerja.
Tampak ruang perlengkapan yang tertutup.
"Dalam ruang perlengkapan tidak ada kamera, ini kamera sorot terdekat di hall," jelas si culun dalam bahasa super singkat.
"Putar rekaman kejadian kira-kira 5 jam yang lalu."
Dalam sekejap di layar nampak dua orang pria yang berjalan sambil menoleh ke sana ke mari, lalu mereka melirik ke arah ruang perlengkapan dan salah seorang tertawa sambil menyodok perut temannya, sepertinya mereka membahas tentang kemesraan pasangan yang mereka lihat.
"Kau lihat mereka berdua ini, sekarang bergeraklah mundur dan cari info yang lengkap mulai dari awal, ingat yang lengkap!"
Selama si culun bekerja Bastian duduk di sofa tunggal yang ada di ruang kerjanya.
Bastian menutup matanya lalu muncullah bayangan wanita bidadarinya.
Tubuh lembut dalam pelukannya, dada penuh yang terhimpit diantara mereka, harum segar menguar dari tubuhnya, dan bibir ranum memabukkan itu..
Bastian langsung membuka matanya dan berdiri lalu berjalan mondar mandir di sekitarnya.
"Selesai, Mr Navarell."
Bastian berdiri di samping si culun.
"Ini sudah semua yang bisa kita dapatkan?"
Bastian tidak puas, tapi kalau mereka hanya undangan bukan penyewa ya memang tidak ada data.
"Tinggalkan disini, kau bisa kembali ke ruanganmu."
"Kalau tidak ada lagi yang dibutuhkan saya ijin pulang."
"Pulanglah."
Kembali Bastian memutar rekaman itu.
Dia melihat wanita itu yang berlari lalu masuk ke balik pintu perlengkapan.
Akan tetapi saat Bastian mundur pun tidak terlalu jelas terlihat dari arah mana si wanita itu muncul.
Bastian menyerah.
**
Tujuh hari telah berlalu, Bastian melakukan kegiatannya yang super padat seperti biasa hingga siang ini.
Dia harus menghadiri pelelangan terbatas, hanya yang terundang yang boleh hadir, dan bisa dipastikan itu hanya orang-orang kaya.
"Sam, pergilah wakili aku ke acara pelelangan ini, aku malas pergi."
Samuel, sahabat sekaligus wakilnya mengangkat sebelah keningnya.
"Sudah satu minggu ini kau berubah, aku bertahan untuk tidak bertanya, sebenarnya ada apa Bos? Apa yang terjadi?"
Bastian memandang Samuel lalu mengalihkan pandangannya ke cakrawala yang bersinar cerah, tidak seperti hatinya.
Tiap malam Bastian memutar ulang rekaman yang ditinggalkan si culun akan tetapi dia tetap tidak menemukan apa yang diinginkannya, tidak ada informasi yang dia dapat.
Dia memikirkan wanita itu lebih sering dari yang seharusnya, dia mulai merindu dan itu membuatnya gusar!
"Oke, aku tahu kapan harus diam. Aku akan pergi mewakili Mr Bastian Navarell, satu dari sepuluh Miliarder paling kaya di negri ini, aku akan menawar apa saja yang mereka lelang."
"Tugasmu hanya memastikan dunia tahu keuanganku baik baik saja, agar saham perusahaan tetap terjaga, pergilah!"
"Aku akan bersenang-senang."
Lalu Samuel pun lenyap.
Dua jam kemudian saat Bastian masih berkutat dengan dokumen, masuk pesan dari Samuel.
Bastian membaca caption di bawah foto :
Aku telah melaksanakan tugas!
Bastian tersenyum sambil memandang foto yang Samuel kirim dengan latar belakang keramaian acara pelelangan.
Seketika senyum Bastian lenyap!
Sambil berdiri dan keluar dari kantornya, Bastian membalas pesan Samuel.
"AKU KE SANA SEKARANG!"
Sampai di acara pelelangan yang sudah selesai, Bastian langsung berkeliling, banyak orang yang memberi salam dan ingin mengajak bicara tapi Bastian tolak dengan halus karena dia masih belum menemukan yang dia cari.
Akhirnya Bastian bertemu Samuel.
"Ok Bos, rasa penasaranku sampai di ubun-ubun, tadi kau menolak datang begitu aku kirim foto seketika kau terbang ke sini, ayo kita bahas di cafe seberang."
"Nanti," tolak Bastian.
Lalu Bastian mengeluarkan ponselnya, menghubungi panitia penyelenggara yang sudah dikenalnya.
"Aku minta daftar tamu, kirim ke emailku."
"..."
"Thank you."
Setelah menutup telepon barulah Bastian menatap sahabatnya.
"Kau tetap tinggal saja, aku lihat banyak wanita cantik, pikat mereka."
Terdengar tawa Samuel membahana.
"Aku takjub kau masih sadar ada banyak wanita cantik, Bos."
"Aku punya mata, Sam."
"Tapi pikiranmu berjuta-juta kilometer dari sini, Bast. Ragamu saja di sini."
"Analisa yang salah."
"Ok, buktikan aku salah. Berkenalanlah dengan salah seorang dari mereka."
Mendengar tantangan Samuel, Bastian melihat sekeliling, lalu menggeleng.
"Tidak tertarik."
"Bingo! Itu kata kuncinya, tidak ada pria yang tidak tertarik wanita cantik, jadi what happened, Bos?"
Bastian hanya menatap Samuel.
"Satu kata, Bast!"
"Bidadari penyihir."
Samuel langsung bersiul.
"Itu dua kata, tapi tidak apa-apa...aku jadi yakin Bosku masih pria tulen."
"Lanjutkan acaramu, bersenang-senanglah, aku pulang."
Segera Bastian pulang diiringi pandangan memuja para wanita cantik yang sengaja hadir di pelelangan terbatas, karena mereka tahu para pria berkantong tebal berkumpul, dan salah satu bujangan paling diincar baru saja melintas di depan mereka.
Bastian berjalan cepat tak menghiraukan sekeliling, Bastian masuk mobil dan menyuruh sopirnya berangkat.
Masih di area basemen mendadak sopirnya mengerem hingga terdengar suara benturan halus dari depan dan belakang mobil.
"Kenapa, Don?"
"Maaf Pak, ada anak kecil lari menyeberang, nyaris aja."
"Selesaikan dengan orang tuanya, aku akan suruh Samuel selesaikan dengan mobil belakang, tidak usah ribut-ribut karena tidak ada yang salah juga tidak ada yang benar!" Perintah Bastian sambil menelepon Samuel sambil memberitahukan posisinya.
"Baik, Pak."
Tak lama Donny, si sopir telah kembali dan melaporkan hasilnya.
Samuel pun menghampiri Bastian.
"Wanita itu memaksa untuk memberi ganti rugi, aku menolak sesuai instruksimu! Kan dia tidak salah, tapi alasan lainnya adalah karena... dia sangat jelita."
Bastian mengangguk sambil menggumam, "dasar playboy permanen!"
"Sumpah yang ini cantiknya beda, body yahud, wajah lembut dengan bibir paling seksi, mungkin turunan bidadari."
Seketika Bastian terhenyak, dadanya berdesir, dia teringat foto yang Samuel kirim, wanita itu juga ada di sini, itulah alasannya mengapa dia bergegas datang walau akhirnya tak menemukan wanita penyihirnya.
"Apa maksudmu?"
"Sumpah Bos! Wanita itu cuantikkk, kayak bidadari, attitude-nya juga top, paket lengkap."
Bastian langsung membuka pintu mobil dan keluar menuju mobil belakang.
Bastian melongok di pintu mobil, begitu melihat wanita di balik kemudi, Bastian menarik nafas panjang.
Finally....
Dia telah menemukan bidadari penyihirnya.
"Kau baik-baik saja?"
Wanita dibalik kemudi itu menatap Bastian dengan bola mata membesar...
Terkejut!
Lalu wanita itu mengangguk perlahan.
Terdengar klakson dari mobil lain yang terhalang.
Bastian memutar otak, dia tidak akan kehilangan jejak untuk yang kedua kalinya.
"Berikan ID Cardmu."
"Untuk?"
"Kau menabrak mobilku, datanglah ke kantor untuk mengambil ID Cardmu, kita bahas disana."
Bastian merasa menjadi orang brengsek akan tetapi hanya itu satu-satunya cara.
Bastian memberi kartu namanya dan mengambil ID Card wanita penyihirnya.
Bastian kembali ke mobil akan tetapi dia ragu-ragu untuk naik, dia merasa cemas jika wanita itu kembali menghilang, tapi tidak mungkin dia mengabaikan ID Cardnya bukan?
"Datanglah segera, aku tunggu!"
Akhirnya Bastian pun berlalu, kembali ke kantornya.
Di kantor Bastian menunggu tapi sampai sore tidak ada tanda-tanda wanita itu muncul.
Bastian memaki dirinya yang tidak bisa konsentrasi seharian hanya karena seorang wanita.
Lamunannya disela ketukan di pintu.
Siapa?