Bab 1

"Ih, kamu nakal banget sih!"

"Habis kamu ngegemesin sih, Sayang. Uuh!" Pria itu mencubit pipi sang wanita sangat genit, dan tertawa gembira bersama memasuki pintu sebuah kamar hotel.

Semua seakan terjadi begitu cepat, wanita cantik bernama Rea memergoki seorang wanita yang ia kenal tengah check in bersama seorang pria. Dia mengenalnya sebagai kekasih pria yang sangat ia cintai sejak lama, tapi jika dia melaporkan hal ini padanya langsung apakah pria itu akan percaya?

Wanita itu memutuskan keluar dari hotel tempat ia baru saja menghadiri pesta bisnis keluarganya. Rea masuk mobil dan mengendarainya untuk kembali ke rumah, tapi di tengah perjalanan dia mendapati pemandangan yang mengejutkan. Jeno Bramantio dan mobilnya berada di tepi jalan, pria itu seperti sangat panik.

Rea menepi untuk menanyakan apa yang terjadi, meski ia yakin kalau Jeno tidak lagi mengenalinya. "Maaf, kenapa dengan mobilnya?" tanya Rea, pria itu mengangkat wajah dan menatap Rea.

"Ban mobilku kempis, dan aku sedang terburu-buru menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan ibuku," jawab Pria itu seraya menatapi ban mobilnya.

Wajah pria itu terlihat lelah dan cemas, terlihat dari penampilannya yang terkesan berantakan, tapi tidak mengurangi ketampanannya sama sekali.

"Jika kamu mau mari aku antar," tawar Rea.

Jeno tertegun menatap wanita itu, tidak ada pilihan lain sudah tidak ada waktu mengganti ban, atau memanggil sopir. "Terima kasih, jika boleh biar aku yang bawa mobilmu."

Rea tersenyum dan memberikan kunci mobil pada Jeno. Mereka lantas segera masuk mobil dan wanita itu terkesiap saat Jeno langsung tancap gas tanpa aba-aba lebih dulu.

***

Rea menoleh pada pria tampan yang duduk sedikit jauh dari sisinya, dia tidak berubah masih tampan dan dingin, tapi berhati lembut. Itu kenapa ia sangat menyukainya dan bermimpi ingin menikah dengannya. Namun, sayangnya setelah Jeno kembali dari luar negeri dan berpacaran dengan Aruna.

"Miris sekali, kamu di sini mencemaskan ibumu, sementara kekasihmu bersama pria lain, Jeno," batin Rea.

Dokter keluar dari ruang ICU dengan wajah cemas, secepatnya Jeno berdiri dan memburu pria berjas putih itu. "Bagaimana dengan keadaan ibuku, Dok?"

Dokter menghela napas, menatap Jeno dengan rasa menyesal. "Ginjal ibu Anda sudah tidak bisa berfungsi lagi. Cuci darah pun sudah tidak banyak mempengaruhi, Anda harus segera mencarikan donor ginjal untuk ibu Anda."

"Kalau begitu, ambillah ginjalku, Dok. Aku anaknya, pasti akan cocok," sahut Jeno dengan cepat, seperti tidak berpikir panjang lagi.

"Belum tentu juga, Tuan. Namun, mari kita cek dulu." Dokter mengajak Jeno pergi untuk ke ruang pemeriksaan, dua perawat juga ikut untuk membantu, sementara Rea ditinggal sendiri di depan ruang ICU.

Wanita itu melangkah mendekati pintu ruangan yang terdapat kaca, terlihat seorang wanita paruh baya tampak tertidur tak berdaya di atas brankar rumah sakit. Hati Rea tersentuh, sebagai anak yang telah ditinggalkan ibu sejak kecil tentu Rea sangat mendambakan sosok seorang ibu untuk memberikannya kasih sayang.

Di tengah lamunannya ia terkejut akan teriakan Jeno, pria itu memukul dinding dengan marah membuat Rea khawatir, apalagi melihat luka memar di tangan Jeno. "Apa yang kamu lakukan? Lihat tanganmu luka begini." Tanpa ia sadari meraih tangan pria itu untuk melihat lukanya.

Namun, Jeno menariknya kasar membuat Rea merasa tidak enak. "Ma-maaf," lirihnya seraya mengangguk.

Jeno tidak menggubrisnya, pria itu malah merogoh kantung celana dan mengambil ponsel dari dalamnya untuk menghubungi seseorang. "Hallo, Bibi. Maukah Bibi datang ke rumah sakit untuk donor ginjal buat ibuku?"

"...."

"Aku mo--"

Panggilan diputus secara sepihak, bahkan adik ibunya sendiri tidak peduli. Keluarganya sangat besar, tapi tidak ada yang peduli pada ibunya satu pun. Dia satu-satunya harapan malah tidak bisa membantu.

"Apakah ginjalmu tidak cocok?" tanya Rea hati-hati.

Jeno terdiam, menatap Rea dengan tatapan waspada, tapi pada akhirnya dia mengangguk juga. "Kondisiku tidak memungkinkan untuk jadi pendonor, aku ada darah rendah," jawab Jeno, lantas Rea mengangguk paham. "Pulanglah, kukira kamu sudah pulang tadi, tapi ternyata masih di sini juga," lanjutnya mengusir Rea.

"Itu karena aku ...."

"Pergilah, terima kasih sudah membantuku. Besok, aku akan membayarmu sepuluh kali lipat." Tanpa menoleh lagi, Jeno melangkah masuk ruangan meninggalkan Rea sendirian, dan hanya menatap pintu yang tertutup.

Rea menghela napas pelan, berbalik badan dan pergi.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 11:15 menit malam. Tim dokter masuk ruang ICU membuat Jeno yang memang belum tidur pun merasa terkejut. "Dokter ada apa?" tanyanya lantas berdiri dari duduk.

"Ibu Anda akan segera menjalani operasi transplantasi ginjal, jadi kami harus segera membawanya ke ruang operasi."

Jeno tertegun sejenak mendengar jawaban dokter, tapi siapa yang rela membantu dan ginjalnya cocok dengan ibunya? Jeno tersenyum, mengira jika salah satu keluarganya yang telah datang membantu.

"Apakah keluarga ibuku yang bersedia, Dok?" tanya Jeno tak sabaran, pria itu terlampau bahagia sekali.

"Dia mengatakan begitu. Ya sudah kami harus segera membawa ibumu pergi, lebih cepat lebih baik," sahut Dokter itu.

Jeno mengangguk para perawat segera mendorong brankar keluar ruangan diikuti Jeno. Ibunya masuk ruang operasi, dan pintu ditutup. Jeno tidak tahu keluarganya yang mana yang pada akhirnya bersedia memberikan kepedulian pada sang Ibu, intinya Jeno berjanji akan memberikan seperempat saham perusahaan milik keluarga besar Bramantio padanya.

Jeno merasa resah dan gelisah, kadang dia duduk dan berdiri lantas menatap lampu di atas pintu yang menyala merah. "Tuhan, aku mohon buat operasi ibu lancar dan ibu bisa kembali sehat," gumamnya.

Pria itu terus berjalan mondar-mandir, sungguh Jeno tak bisa tenang menunggu proses operasi ibunya selesai. Bagi dia Maryam adalah segalanya, kepergian sang Ayah sejak ia masih kanak-kanak membuatnya jadi kekurangan kasih sayang seorang Ayah.

Kadang dia selalu merasa iri pada teman-teman sekolahnya yang selalu diantar jemput Ayah mereka, tapi dirinya tak pernah sekali pun, itu yang membuat Jeno tumbuh jadi orang yang dingin dan pemarah.

Sepeninggal ayahnya, katanya Maryam tak ingin menikah lagi. Wanita itu yang berusaha keras tetap berjuang demi membesarkan Jeno buah hatinya.

Pintu ruang operasi dibuka. Brankar ditarik dan didorong, wajah ibunya tampak pucat, tapi sepertinya lebih baik dari sebelumnya. "Syukur, operasinya berhasil," kata Dokter membuat Jeno tersenyum senang. "Nyonya Maryam akan dibawa ke ruang rawat inap lebih dulu, kamu bisa menungguinya."

Tanpa pikir panjang, Jeno mengangguk lalu melangkah mengikuti para perawat membawa brankar sang Ibu. Dia sampai lupa menanyakan siapa nama orang yang telah menolong ibunya.

Setelah kepergian Jeno, kali ini brankar kedua didorong keluar dan ternyata Rea yang berbaring di atasnya.

***

Esok hari yang cerah, Jeno begitu bahagia melihat ibunya kini sudah siuman. Dia akan menemui orang yang telah mendonorkan ginjalnya untuk sang Ibu. Saat ini juga ada Aruna yang datang menjenguk dengan membawa buket bunga lili putih kesukaan calon ibu mertua.

Namun, sayangnya Maryam tidak pernah menganggap Aruna sebagai calon istri putranya, tak lebih hanya seorang sekretaris saja.

"Bu, aku akan segera kembali," pamit Jeno, Maryam pun mengangguk dengan senyumnya yang masih lemah.

"Aku juga pamit, Nyonya," kata Aruna juga dengan sedikit membungkukkan punggung, dan Maryam hanya menjawab dengan anggukan lagi.

Keduanya keluar ruangan rawat Maryam, dan menuju ruangan lain. Menurut info orang yang telah mendonorkan ginjal untuk ibunya dirawat tak jauh dari ruangan ibunya.

Mereka sampai di sebuah pintu kamar yang diduga kamar milik Rea, pria itu menekan handle dan membukanya. Jeno terkejut saat yang ia lihat wanita yang semalam ia suruh pulang dengan sedikit judes, tapi mengapa sekarang dia terbaring di sini?

"Kamu?" Jeno masuk ruangan dan melangkah mendekat ke ujung ranjang Rea yang berbaring dengan sedikit duduk menyandar. "Ada apa denganmu? Semalam kamu baik-baik saja pada saat aku suruh kamu pulang?" cecar Jeno.

Rea tersenyum, dia menatap Jeno dan wanita di sampingnya. Kasihan Jeno, mungkin dia tidak tahu apa-apa tentang skandal Aruna, Rea tidak pernah rela jika Jeno jatuh ke tangan wanita yang salah dan sekotor Aruna. "Apa dokter ibumu tidak mengatakan sesuatu?"

Jeno terdiam sejenak sebelum ia bereaksi. "Jadi kamu yang telah ...." Rea mengangguk. "Karena kamu sudah mendonorkan ginjalmu untuk ibuku, aku akan memberikan seperempat saham perusahaanku padamu," kata Jeno dengan gampangnya.

Rea terdiam, wanita itu menatap Jeno dengan seksama. "Aku tidak butuh uang, keluargaku memiliki harta tak kalah banyaknya denganmu."

Jeno merasa bingung. "Lalu apa yang harus aku berikan sebagai gantinya?"

"Aku butuh kamu, menikahlah denganku."

Mendengar hal itu membuat Jeno merasa direndahkan harga dirinya sebagai pria. Bisa-bisanya wanita ini meminta dirinya menikahi dia untuk alat tukar-menukar.

"Baik," jawab pria itu dengan rahang yang mengeras, Jeno tiba-tiba saja merasa jijik melihat Rea, baginya wanita itu sangat tidak layak untuk dia hormati, apalagi dijadikan seorang istri.

Meski Aruna berteriak tidak terima, Jeno tetap berdiri kaku menatap Rea yang terlihat tersenyum puas. Hati Jeno terluka karena Aruna menangis tak terima, tapi lihatlah wanita itu. Rea begitu sangat menikmatinya, Jeno mengepalkan kedua telapak tangan dan berjanji akan membuat wanita itu menyesal telah memberi keputusan untuk menikah dengannya!

Bab 2

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam, seorang wanita dengan setia menunggu suaminya yang tak kunjung pulang. Berdiri sendiri di depan rumah, memeluk tubuhnya sendiri yang dingin karena malam ini hujan begitu deras.

"Apakah Jeno tidak pulang lagi? Padahal aku sudah mengirim pesan padanya sore tadi kalau hari ini jangan pulang terlambat," ucapnya sendiri, karena hujan begitu deras mengguyur bumi membuat suaranya yang lembut tengelam.

Rea menatap ke depan, tidak ada tanda-tanda suaminya akan pulang. Wanita itu menarik napas lemah dengan kecewa, lantas ia memutuskan untuk kembali ke dalam. Pintu ia tutup dan berjalan ke arah ruang makan, kue ulang tahun bentuk hati tersedia di atas meja dan tulisan Happy Anniversary yang ke dua. Terlihat jelas dari lilin yang berbentuk angka dua itu.

Rea duduk di kursi, kedua bola matanya sedih menatap kue ulang tahun yang sudah ia siapkan dari sore tadi. Dia adalah wanita dari keluarga Andara, cantik, manis dan manja. Namun, sejak ia menikah dengan Jeno hidupnya berubah. Rea bertekad akan menjadi wanita yang tidak manja juga serba bisa.

Rea belajar memasak, menjahit dan membersihkan rumah sendiri. Karena sejak ia diboyong ke keluarga Bramantio, rumah ini tidak ada pembantu rumah tangga satu pun, sehingga Rea harus mengerjakannya sendiri.

Meski begitu Rea selama ini mengerjakannya dengan senang hati, dia mencintai Jeno maka apa pun yang pria itu inginkan dia akan berusaha melakukannya meski di luar batas kemampuannya.

"Aku tidak mempekerjakan satu orang pembantu pun untuk mengurus rumah ini, aku harap kamu mau mengerjakannya sendiri."

Itulah kalimat yang Jeno katakan saat pertama kali Rea datang ke rumah ini, Rea tanpa berpikir ragu langsung mengangguk dengan senyum manis di wajahnya seperti biasa.

Rea kemudian menoleh pada ponselnya yang tergeletak di dekat loyang kue, meraihnya dan melihat pesan atau panggilan telefon dari suaminya, tapi ternyata tidak ada satu pun pesan atau panggilan untuknya. Wanita itu lantas meletakan ponselnya kembali dan menatap kue ulang tahun pernikahannya.

Dia sudah belajar membuat kue sejak satu setengah tahun yang lalu, dia ingin bisa merayakan setiap hari istimewa dengan kue buatannya sendiri, berharap orang yang memakannya akan merasakan cinta Rea di setiap gigitannya.

Namun, dengan keadaan saat ini, sepertinya Rea akan merayakan hari ulang tahun pernikahannya sendiri dan memakan kuenya juga sendiri.

Rea menarik napas, suara Isak terdengar, mengambil korek api dan menyalakan lilin, kedua telapak tangannya menyatu di depan dada dan dengan suara serak ia mengucapkan kalimat. "Selamat ulang tahun pernikahan yang kedua tahun, Sayang. Semoga kita selalu diberi panjang umur, panjang rezeki dan panjang jodoh." Rea meniup lilin ulang tahun dan setetes air mata jatuh membuat jejak lurus di pipi dan melewati sisi bibirnya yang tipis.

Meski begitu bibir itu terus mengulas senyum yang mampu menggerakkan hati pria mana pun untuk jatuh cinta padanya, tapi mengapa hanya Jeno saja yang tidak merasakan jatuh cinta untuknya? Apakah seburuk itu dirinya di mata Jeno?

Setiap tahun, di hari pernikahannya ini, Rea akan selalu mengenang peristiwa di mana ia dan Jeno pertama kalinya bertemu.

Seorang gadis kecil yang cantik dan anggun berjalan santai dengan tas warna pink di punggungnya. Dia gadis yang manis dan imut, wajahnya putih, halus dan lembut seperti salju. Rambutnya diikat satu di belakang kepala, dan jepit warna-warni menghiasinya.

Senyumnya semringah, dan mata jernih bulatnya selalu memperhatikan tulisan setiap kali ia melewati pintu ruang-ruang kelas. "Kelas enam," gumamnya dengan senyum lega.

Dia lalu mendekat pada ambang pintu dan mengetuk pintu. "Permisi, Mrs," ucapnya dengan senyum manis.

Seorang guru menoleh diikuti juga para murid yang berada di dalam. "Hallo, ayo silakan masuk!" titah Guru pada gadis manis itu.

Gadis itu mengangguk dan berjalan masuk lantas berdiri di dekat guru, dia tersenyum pada teman-teman di kelas itu, dan pandangannya berhenti pada anak laki-laki yang menarik perhatiannya.

"Hallo, Rea. Rea ini murid baru pindahan dari kota B. Ayo, Rea perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu di sini," pinta Guru.

Rea dengan patuh mengangguk, dia menatap seluruh anak di kelas itu dengan senyum manis, saat melihat anak laki-laki yang begitu cuek membuat hati Rea tergelitik ingin menganggunya, karena anak laki-laki itu begitu acuh tak acuh, anak itu begitu fokus pada bukunya seakan kehadirannya di kelas tidak mengganggu konsentrasinya.

"Hallo, semua. Perkenalkan aku Rea Revalina Andara, senang berkenalan dengan kalian."

"Hallo juga, Rea. Senang berkenalan denganmu!" sahut mereka semua, kecuali dia, si anak laki-laki yang tampan itu. Wajahnya oriental, putih, tampan, sungguh sangat menarik perhatian Rea.

"Terima kasih," ucapnya manis.

"Oke, Rea. Sekarang kamu bisa memilih duduk di mana saja yang kamu mau," kata Guru mempersilakan.

Rea mengangguk dan tersenyum, gadis manis itu menatap dia si anak laki-laki yang cuek itu, dan menghampiri mejanya. "Hay, apakah kamu bisa pindah ke belakang? Aku mau duduk di sini," katanya dengan berani menyuruh teman sebangku anak itu untuk pindah tempat duduk.

Anak berkacamata itu mengangkat wajahnya menatap Rea yang tersenyum manis padanya, dia lalu mengangguk. "Baiklah, silakan," katanya seraya berdiri.

"Terima kasiiiihh," sahutnya manja dan imut dengan sedikit berjingkrak senang.

Mendengar hal itu membuat anak laki-laki di sebelahnya menatap Rea yang kini sudah duduk di sampingnya, Rea tersenyum manis padanya. "Hay, salam kenal, aku Rea." Gadis itu mengulurkan tangan menunggu disambut.

Anak laki-laki itu mengerutkan kening, menatap tangan Rea dan memalingkan wajahnya tak acuh. "Jeno," katanya datar.

Mendapati sikap dingin anak laki-laki yang ternyata bernama Jeno itu membuat bibir Rea mengerucut, tapi tak lama ia tersenyum lagi dan menarik tangan. "Senang berkenalan denganmu Jeno."

Tidak dijawab, Jeno memilih mengabaikan Rea yang duduk di sampingnya dan melanjutkan membaca buku, saat itu juga Guru meminta semua anak memperhatikan ke depan dan menyiapkan buku untuk mencatat.

Hari-hari terus bergulir, sejak adanya Rea di kelas Jeno keadaan ruangan pun tak pernah sepi. Rea anak yang mudah bergaul, dan sangat ceria. Sikap manjanya saja yang membuat orang lain sedikit kesal. Apalagi ketika berada di dekat Jeno.

Jeno adalah murid yang cerdas di kelas, itu sasaran empuk bagi Rea untuk mencontek jawaban. Jeno sampai merasa risi, tapi tak tega melaporkan gadis manis itu pada guru. Secara terpaksa ia pun hanya bisa pasrah hasil kerja kerasnya dicontek setiap hari oleh Rea, hingga dirinya merasa terbiasa.

Hari kelulusan pun tiba, Rea sangat sedih saat harus berpisah dengan Jeno. Anak laki-laki itu mengatakan, bahwa dia tidak akan cepat kembali ke Indonesia.

Meski begitu, Rea sudah berkata pada dirinya sendiri kalau dia sudah jatuh cinta dan bercita-cita ingin menikah dengan Jeno di suatu saat nanti.

Jeno memang tidak pernah mencintainya, tapi ia tidak menyangka kalau pria itu sungguh sangat batu. 2 Tahun lalu Rea masih berpikir kalau dalam waktu 1 Tahun ia akan bisa membuat pria itu jatuh cinta padanya, tapi sampai saat ini, usia pernikahannya sudah sampai tahun kedua, sikap Jeno tidak juga berubah.

Ternyata terlalu percaya diri itu menyakitkan!

Rea mengigit sedikit dari satu potong kue ke mulutnya sendiri, sama seperti setahun yang lalu, persis seperti ini. Hatinya miris, harapannya yang terus pupus membuatnya hampir menyerah untuk mencintai Jeno.

Namun, waktu 13 Tahun mencintai, tidak akan mudah untuk menghapusnya begitu saja, bukan?

Bab 3

Setelah membereskan meja makan, Rea memutuskan naik ke lantai dua untuk tidur. Sungguh tubuhnya sangat lelah, terlebih hati dan pikirannya. Hal apa lagi yang membuat lelah dan membosankan selain menunggu ketidak pastian seseorang?

Setelah berganti piyama berbahan sutra yang halus Rea naik ke tempat tidurnya yang luas. Tidak ada yang kurang dari apa yang Rea miliki di sini kecuali cinta suaminya sendiri. Rea duduk di atas kasur, merengkuh kedua lututnya dan menatap kosong ke depan.

Mau sampai kapan dia begini? Hanya bisa mencintai tanpa dicintai, mengharapkan balasan cinta dari suami sendiri begitu sangat sulit melebihi dari apa pun. Hati Jeno apakah benar-benar sudah tertutup untuknya karena satu kesalahannya dua tahun lalu?

Dia hanya mencintai Jeno, dan ingin menikah dengannya lalu hidup bahagia, itu saja!

"Jeno mungkin tidak akan pulang malam ini," gumamnya setelah melirik jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat 15 menit. Hari istimewa mereka sudah terlewat, dan apakah Rea masih sanggup menjalani rumah tangga seperti ini hingga hari ulang tahun pernikahannya tahun depan? Masih bisakah ia bertahan?

Hujan di luar sudah mulai reda, terdengar suara deru mesin mobil mengurungkan niat Rea untuk tidur. Wanita itu tersenyum dan segera turun dari tempat tidur. Rea berlari kecil keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan kaki telanjang.

Hatinya terlampau bahagia, dia akan memaafkan Jeno jika pria itu minta maaf padanya karena pulang terlambat. "Ya, sebentar!" sahutnya saat suara ketukan pintu terus terdengar.

Rea membuka pintu dengan napas terengah, setiap kali Jeno pulang ia memang harus segera membukakan pintu dengan cepat, karena kalau terlalu lama Jeno bisa marah. "Kenapa lama sekali?" Suara dingin Jeno masuk ke telinga Rea, membuat wanita itu hanya bisa tertegun menatap suaminya.

Bayangannya tadi, pada saat ia membuka pintu berharap Jeno akan meminta maaf, dan memberi hadiah selamat ulang tahun pernikahan. Namun, sepertinya bayangan itu terlalu berlebihan!

"Oh, ma-maafkan aku, aku kira kamu tidak akan pulang, jadi aku memutuskan naik untuk tidur," jawabnya gugup.

Jeno menatap dingin Rea, pria itu lantas menerobos masuk tanpa mempedulikan Rea. Rea segera menutup pintu kembali dan menguncinya, mengejar langkah Jeno menuju kamar tidur mereka.

"Kenapa kamu pulang terlambat, apa kamu lupa lagi hari ini hari apa?" cecar Rea saat mereka sudah berada di dalam kamar.

Jeno tak acuh mengabaikan pertanyaan Rea di belakangnya, pria itu membuka jas dan melonggarkan dasi dengan dibantu Rea. "Iya, aku lupa. Aku memang tidak biasa mengingat hal-hal yang tidak penting."

Rea membeku di tempatnya, menatap punggung lebar suaminya yang begitu kejam mengucapkan kalimat menyakitkan tadi, jemari lentiknya mencengkram jas milik Jeno dengan mata berkabut.

Hari pernikahan mereka tidak penting bagi Jeno? Sungguh menyakitkan!

Jeno tanpa menoleh pada Rea, pria itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rea masih berdiri tertegun menatap pintu kamar mandi yang tertutup, kala mendengar gemericik air yang jatuh ke lantai, ia pun tersadar layaknya air itu menciprati wajahnya.

Rea segera membawa jas Jeno dan menaruhnya di keranjang cucian untuk ia cuci besok, lalu dia sekarang mengambil pakaian bersih dari lemari dan menaruhnya di atas kasur, Rea duduk di tepi dan menunggu suaminya selesai mandi.

Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pintu kamar mandi terbuka, Jeno keluar dengan hanya handuk putih yang melilit pinggangnya. Rea selalu jatuh cinta pada pria itu, Jeno adalah pria tampan dan sempurna, hanya ada satu kekurangannya, pria itu tak punya hati. Atau mungkin bukan Rea yang memiliki hati Jeno, tapi wanita lain.

Rea segera berdiri saat Jeno berjalan mendekat ke arah ranjang, pria itu mengambil piyama yang Rea siapkan untuknya, dengan kedua telapak tangan yang saling meremas di depan tubuh, Rea bertanya dengan nada rendah. "Apakah kamu mau makan? Aku akan siapkan makanan untukmu."

"Tidak perlu, aku sudah makan malam dengan Aruna.

Mendengar nama perempuan lain disebut, seketika membuat tubuh Rea merasa dingin, hatinya sakit seolah ditusuk oleh ribuan duri tajam, sakit yang tak berdarah, dan tidak tertahankan.

Rea mengangguk kaku, sungguh ia ingin menangis sekarang juga, tapi ia tidak mau menunjukkannya pada Jeno.

Wanita itu lalu berjalan pelan ke sisi tempat tidur, duduk dan berbaring miring memunggungi Jeno, menutup tubuhnya dengan selimut sebatas leher. Jeno tak peduli, setelah memakai pakaiannya ia pun ikut berbaring juga di samping Rea dan memejamkan matanya yang sudah mengantuk parah.

Di saat itulah Rea terisak tertahan, meski begitu tetap saja bahunya terlihat terguncang halus, tapi sama sekali tidak mengganggu tidur Jeno.

***

Pagi yang cerah setelah malam badai, Rea seperti biasa membuat sarapan untuk dirinya dan Jeno. Namun, selama dua tahun ini, apa pun yang Rea buat tidak pernah Jeno sentuh, meski begitu Rea tidak pernah lelah melayani suaminya dengan baik, di luar suaminya itu mau makan atau tidak.

Suara langkah kaki menuruni anak tangga, Rea segera berlari kecil dari ruang meja makan menuju ruang depan. Dia takut Jeno akan pergi sebelum sarapan, dan hari ini rasanya ia ingin sekali bisa makan bersama.

Jeno baru saja sampai di lantai dasar, pria itu akan melangkah menuju pintu keluar, Rea segera mengejarnya. "Sarapanlah dulu, aku sudah memasak untuk kita," katanya dengan tatapan memohon pada pria itu agar mau melunakkan hatinya untuk mau makan bersamanya kali ini.

Jeno mengerutkan kening menatap penampilan Rea di hadapannya, wajahnya sedikit pucat dan mata sembab seperti habis menangis semalaman. "Satu kali ... saja, kamu mau makan bersamaku, Jeno. Selama dua tahun kita menikah kamu tak pernah mau makan bersama denganku, kamu tidak pernah mau menyentuh apa pun yang aku buatkan."

Rea sudah sangat terluka, air matanya sudah hampir tidak bisa ia bendung lagi sekarang. Mengapa mencintai Jeno begitu sangat menyakitkan? Mengapa Tuhan memberinya cinta hanya untuk terus terluka seperti ini?

Jeno menatap dingin istrinya, suara datarnya kembali terdengar dan itu cukup membuat hati Rea benar-benar berdarah. "Aruna selalu membawa sarapan untukku ke kantor, jadi kamu tidak perlu repot-repot." Jeno lantas melangkah kembali melewati Rea.

Seluruh tubuh Rea menegang, hatinya seolah kesemutan. Wanita itu berbalik badan dan berteriak pilu. "Tapi, aku istrimu! Aku juga ingin memperhatikan dan diperhatikan olehmu, kenapa kamu begitu dingin padaku?"

Langkah Jeno berhenti, dan berkata dengan dingin. "Ini keputusanmu, harusnya kamu sudah tahu apa yang akan terjadi saat meminta aku menikahimu. Kenapa sekarang kamu begitu berlebihan? Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, kamu ingin menikah denganku, kan? Lalu apa lagi?"

Rea benar-benar beku, menikah dengan Jeno memang impiannya, tapi tidak pernah menyangka jika pernikahan ini seperti mimpi buruk!

"Jeno, bisakah kamu memecat Aruna dari kantor? Atau pindahkan dia ke kantor cab--"

Sebelum Rea menyelesaikan kalimatnya, Jeno berbalik badan dan mencengkram leher wanita itu dengan kejam, wajah tampannya tampak dingin dan mengerikan dan berteriak dengan penuh tekanan. "Jangan ikut campur urusanku! Aku sudah memberikan pernikahan yang kamu mau, dan kamu tidak berhak meminta yang lain, apalagi mengaturku!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED