Sesampainya di sana, kondisi pria tunanetra itu sudah sangat mengenaskan. Kakinya terperosok ke sela-sela kran air yang bersisian dengan gedek. Gedek lapuk yang menjadi dinding dari dapur rumah yang keluarga itu kini menjadi berlubang sebab entakan kaki Ridwan.
“Aisyah?"
Ridwan begitu peka akan kehadiran cucunya.
Segera Aisyah menyahut, “Aisyah di sini, Mbah.”
Gadis kecil itu pun lekas menggandeng pergelangan tangan Ridwan, menarik tubuhnya dan mencoba mengeluarkan pria tuna netra itu dari perangkap gedek tersebut.
Bobot Ridwan terasa begitu berat bagi Aisyah yang bertubuh kecil mungil. Namun, ia sama sekali tidak berputus asa. Terus berupaya hingga rintihan keluar dari mulut Ridwan.
"Sa-kit ...," erangnya memelas.
"Sabar, ya, Mbah. Sebentar lagi sudah bisa,” pinta Aisyah seraya terus mencoba menarik tubuh Simbah.
Selang beberapa detik, Mbah Kakung terjengkang bersamaan Aisyah yang turut terpental. Tubuh keduanya ambruk di tanah dengan posisi tubuh kecil Aisyah ditindih tubuh sang kakek.
“Argh!” Aisyah mendesis.
Ridwan panik. "Aisyah? Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan tangan meraba-raba, mencari keberadaan cucunya.
Aisyah hanya mengerutkan dahi dan mencoba menahan rintihannya agar tidak semakin membuat Simbah khawatir. Lengannya tergores beling dan ada sedikit luka di sana. Namun, ia berusaha untuk tetap baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, Mbah,” elaknya. “Tapi ... Aisyah sedikit kesulitan bernapas. Ditindih sama Mbah Kakung.”
“Oh, iya! Maaf. Mbah akan segera bangun.”
Ridwan pun mencoba menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar, begitu kesulitan untuk bangun. Aisyah tahu jika Simbah tidak memiliki cukup tenaga untuk bangkit. Ia pun terus berupaya untuk mencari jalan agar bisa cepat keluar dari perangkap ini. Pelan tapi pasti. Setelah bergelut dengan tanah, gadis itu pun akhirnya bisa dan segera membantu kakeknya.
Ridwan berdiri seraya mencari tongkat miliknya.
“Ini, Mbah.” Aisyah mengerti apa yang Ridwan cari. Ia pun lekas memberikannya.
Meski tak mampu melihat, Ridwan menatap lurus ke depan seolah mampu memandang cucu kecilnya yang kini sudah beranjak remaja itu.
"Aisyah?" panggil Ridwan dengan tangan yang meraba-raba, mencari keberadaan Aisyah.
Aisyah menyambut hangat tangan keriput tersebut.
"Aisyah sudah di sini, Mbah. Tidak usah takut lagi. Mbah mau ke mana? Biar Aisyah antar.”
Di Saat Aisyah bertanya seperti itu, Ridwan justru menunduk sedih.
“Maafkan Mbah yang hanya bisa merepotkanmu, ya, Nduk?” ucapnya lirih dengan air mata yang tak lagi bisa menetes.
Meski kesedihannya begitu dalam, mata rabunnya hanya mampu mengerjap, menunjukkan betapa rapuhnya pria renta itu. Wajahnya pun kini ditekuk, membuat Aisyah merasakan perih atas ucapan kakeknya.
“Tidak! Jangan berbicara seperti itu, Mbah,” tolak Aisyah. “Selama ini Mbah Kakung sudah merawat Aisyah dengan sangat baik. Aisyah tidak akan menjadi seperti ini tanpa Mbah dan Mbok. Kalian segalanya bagi Aisyah.”
Gadis kecil itu pun segera merangkul tubuh kakeknya dan di tempat yang berbeda Maimunah melihat semua kejadian mengharukan itu. Ia memegang dadanya, menahan batuknya agar tidak membuat Aisyah panik karenanya.
“Memangnya tadi Mbah kenapa? Kok bisa terjebak di sana?" tanya Aisyah sembari menuntun sang kakek. “Mbah salah arah lagi?” selidiknya.
Ridwan mengangguk.
“Mbah kencing, Syah. Mbah pergi ke kran itu untuk membersihkan diri. Tapi ternyata, Mbah terperosok.”
Aisyah mencoba melihat ke bawah. Benar saja, kondisi Simbah seperti yang belum selesai membersihkan diri. Kakinya pun masih dipenuhi lumpur. Secepat mungkin Aisyah menggandeng tangan Mbah Kakung menuju kran, mencuci bersih kakinya yang berlumur lumpur itu, kemudian membawa pria renta itu menuju rumah.
Suara batuk Simbok kembali terdengar. Hati Aisyah kembali risau.
"Aku mau di bawa ke mana, Syah?" tanya Mbah Kakung.
"Ke kamar, Mbah. Sebaiknya Mbah istirahat saja nanti, ya? Jangan kemana-mana dulu. Aisyah masih mau merawat Simbok."
"Lah, kenapa memangnya Mbokmu?"
"Batuk'an, Mbah."
"Kerokin, Syah. Mungkin dia masuk angin."
Aisyah mengangguk sembari membaringkan tubuh Mbah Kakung di ranjang. Ia merapikan posisi tidur sang kakek, kemudian segera menyelimutinya.
Setelah selesai mengurus Mbah Kakung, Aisyah berjalan cepat menemui simbok yang masih duduk di luar. Gadis itu datang membawa segelas air putih, meminta simbok meminumnya dan berharap semoga saja darah itu berhenti keluar dari mulutnya.
Maimunah menuruti kemauan Aisyah. Batuknya sedikit mereda.
Meskipun tidak tahu harus melakukan apa lagi, Aisyah mencoba memijit-mijit bahu simbok. Tidak jadi mengerokinya karena Maimunah bersikeras menolak. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Gadis itu teramat ketakutan saat melihat darah. Sambil berurai air mata, Aisyah terus memijit.
“Sudah, Nduk. Mbok tidak apa-apa, kok” Maimunah mencoba tegar, tapi jelas itu hanya mencoba untuk menghibur Aisyah agar tidak cemas.
Aisyah tahu itu. Ia pun menggeleng dan justru semakin banter menangis. Hidung Aisyah mulai tersumbat. Aisyah sesenggukan. Maimunah merasa tak kuasa menahan perihnya penyakit yang disertai beragam ketakutan.
Ia takut untuk mati sebelum Aisyah bahagia. Setidaknya, ia masih ingin melihat Aisyah tumbuh, sekolah, dan menikah. Jatuh ke tangan pria yang tepat yang bisa mengangkat semua luka yang masih membekas.
Maimunah tahu jika selama ini gadis kecil itu sudah berjuang begitu keras dalam hidupnya. Ia ingin Aisyah bahagia, hanya itu saja sebab penyakit paru-paru juga berhasil merenggut nyawa Ummi Aisyah dan Maimunah tidak ingin gadis itu menjadi kehilangan dirinya dengan cara yang sama.
Maimunah menoleh dan memperhatikan seraut wajah sedih Aisyah dengan hati teriris perih.
"Kamu kenapa menangis, Nduk?" tanyanya dengan suara lirih.
Aisyah menggeleng. Tak mampu menahan kecamuk rasa yang begitu perih, ia pun menekan sesak di dadanya. Menunduk, menahan isak yang amat sangat menyesakkan.
"Aisyah? Ada apa?" tanya Maimunah pura-pura tak mengerti. Ia mencoba mengulurkan tangannya, menyediakan ruang untuk mendekap cucu kesayangannya.
Aisyah semakin menjadi tangisnya. Ia memeluk Maimunah erat. Sangat erat.
“Mbok ...," lirih Aisyah dalam isak. Sesenggukan Aisyah berbicara. "Mbok jangan mati, ya? Aisyah sudah tidak punya Ummi. Kalau Mbok mati, Aisyah nanti meneng sama siapa?"
Maimunah menggeleng dengan kepala berat. Air matanya berlinang deras.
“Tidak akan, Nduk. Mbok akan tetap bersama Aisyah,” ucapnya lirih sembari menyembunyikan darah yang kini berada di genggamannya.
Aisyah membayangkan banyak hal. Sekolah, mimpi, cita-cita, Simbok yang sudah batuk darah, dan Simbah yang tuna netra. Andai dirinya tetap membebankan segalanya pada mereka? Mungkin mereka akan semakin tersiksa.
‘Tidak!’ jerit Aisyah dalam hati. ‘Aku anak Abah. Setidaknya Abah harus bertanggung jawab atas diriku yang sudah dilahirkan ke dunia ini.’
Aisyah mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya tajam menatap lurus ke depan. Penuh arti, penuh rencana. Bagaimana pun caranya ia akan berusaha agar sang Abah bisa membiayai hidupnya.
Lamunan itu pun buyar seiring Aisyah yang mendengar suara batuk Simbok.
“Uhuk, uhuk, uhuk!”
Maimunah sudah bersikeras menahannya. Namun, percuma! Batuk itu terus keluar dengan sendirinya.
“Mbok?” selidiknya resah melihat Simbok terus berupaya menyembunyikan darah di genggamannya.
“I-tu?” tanya Aisyah curiga.
Maimunah menggeleng. Lalu berupaya tersenyum. “Tidak apa, Nduk. Jangan khawatirkan Simbok. Sebentar lagi sudah sembuh.”
“Aisyah takut.”
Maimunah terus mencoba tegar.
“Apa mau Aisyah panggilkan Bu bidan?” tawar gadis kecil itu.
Maimunah menggeleng.
“Antar saja Mbok masuk, Nduk,” pintanya seraya mencoba bangkit dari tempat duduknya semula.
Meski berat, Aisyah mencoba menuruti kemauan Maimunah. Ketika perempuan renta itu berusaha mencari pegangan, tubuhnya seperti oleng dan hendak pingsan.
“Mbok!” jerit Aisyah histeris.
Dada Maimunah terasa nyeri dan semakin sakit di saat terbatuk. Ia menunduk dalam waktu yang cukup lama, membuat Aisyah semakin takut untuk kehilangan dirinya. Ia memperhatikan tubuh pucat Maimunah.
“A ... ir,” pintanya dengan suara serak tertahan.
Aisyah mengangguk dan berlari cepat, mengambil air di kendi kemudian gegas membawanya pada simbok.
Maimunah menenggaknya hingga tandas. Aisyah menaruh asal gelas tersebut kemudian menyebut nama Maimunah. “Mbok ...,” ucap Aisyah lirih.
Maimunah mencoba untuk tersenyum. Bibirnya pucat dan napasnya naik-turun tak beraturan.
“Pegang tangan Aisyah, ya, Mbok. Kita harus segera ke kamar,” ucap Aisyah yang diiringi anggukan oleh Maimunah.
Perempuan renta dan gadis yang baru menginjak usia remaja itu pun berjalan dengan begitu hati-hati. Aisyah terus menggandeng Maimunah. Tubuh kecilnya sigap menjadi penopang tatkala neneknya terhuyung. Mereka saling berpegangan tangan, tertatih, meraba gedek, berjalan perlahan naik ke undakan.
Mereka pun akhirnya sampai di dapur dan kehadiran mereka begitu terasa bagi Ridwan.
“Aisyah?” Panggil Ridwan, menilik keberadaan mereka.
“Mbah tidak tidur?”
“Tidak bisa. Mboknya di mana? Dari tadi aku ndak dengar suaranya.”
Meski usia Ridwan sudah hampir seabad dan usia Maimunah sudah berjalan di angka delapan puluh lima, ikatan batin antara keduanya masih begitu terasa. Cinta mereka tetap saling menguatkan sehingga ketika salah satu di antara mereka merasakan luka, maka yang lainnya pun seakan turut merasakan hal yang sama.
Itu yang membuat Aisyah begitu kagum pada Simbok dan Mbah Kakung. Perangai keduanya sangat lembut dan santun. Bahkan, dalam kondisi seperti ini pun tetap saling peduli antara satu sama lain.
“Apa? Aku di sini,” sahut Maimunah memenuhi panggilan suaminya.
“Apa kau baik-baik saja? Kata Aisyah kamu batuk’an?” tanya Ridwan cemas.
“Tidak apa. Aisyah akan membawaku ke kamar untuk beristirahat dan setelah itu aku pasti akan segera sembuh. Aisyah juga memijitku,” timpal Maimunah berpura-pura sehat.
“Kalau memang sakit, periksa saja ke bidan. Panggil Pak Ramli dan kita jual saja pohon kelapa yang di dekat bukit,” ucap Ridwan memberi saran.
“Tidak. Itu pohon kelapa sudah tinggal satu. Kita masih bisa memanen buahnya untuk kebutuhan Aisyah. Kalau itu dijual, apa yang mau kita andalkan ke depannya.”
Pilu Aisyah mendengar semua itu. Maimunah melihat wajah Aisyah yang kini menunduk dengan mata berembun.
“Syah?” panggil Maimunah.
“I-iya, Mbok?”
“Ayo lanjutkan perjalanan. Bawa Mbok ke kamar.”
Aisyah mengangguk dan kembali menuntun wanita yang sudah bertahun-tahun merawatnya itu. Hingga sampailah mereka di kamar berukuran tidak terlalu lebar. Hanya ada sebuah lincak dengan kasur lapuk dan seprei lusuh, serta satu lemari berukuran sedang yang dibuat khusus oleh Ridwan.
“Ambilkan Mbok jaket, Syah. Mbok kayak yang dingin,” pinta Maimunah.
Aisyah tidak langsung memenuhi permintaan neneknya. Ia terlebih dahulu naik ke atas lincak, kemudian berusaha membantu Simbok untuk duduk dengan baik. Takut masih pusing atau merasakan sakit, Aisyah meminta simbok untuk berpegangan pada beton lincak untuk sementara waktu dan segera ia menuju lemari mengambil jaket biru bunga-bunga.
Tidak terlalu hangat, jaket itu sudah tipis dan lusuh. Ada pula beberapa tambalan di setiap sisinya. Hanya saja, ketika Maimunah sudah memakainya, ia pun juga diselimuti dengan kain jarit dan diapit oleh dua bantal oleh Aisyah.
Maimunah berusaha memejamkan mata, sedangkan Aisyah memijit-mijit lembut kaki neneknya hingga wanita itu memejamkan mata. Tidak bisa tidur sebab batuk masih terus menyerang Maimunah dan Aisyah sangat prihatin dengan semua itu. Ia berhenti memijit dan memeluk Maimunah erat. Air matanya berurai deras.
“Tidak apa-apa, Syah. Tidak usah terlalu khawatir. Mbok mau tidur dulu. Setelah ini pasti sudah sembuh,” ucap Maimunah dengan mata yang terus dicoba terpejam.
Aisyah mengangguk dengan hati teriris perih.
‘Ya Allah. Apa pun penyakit Simbok, sembuhkanlah Ya Allah ....’
***
Waktu menunjukkan pukul satu siang. Batuk Maimunah sudah tidak lagi sesering sebelumnya. Matanya pun terpejam dengan Aisyah yang terus berjaga di sampingnya, khawatir kalau-kalau neneknya itu butuh sesuatu atau mungkin kambuh secara tiba-tiba.
“Nah?” panggil Ridwan.
Pria dengan rambut yang didominasi warna putih itu rupanya belum juga bisa terlelap. Meski mencoba memejamkan mata, sama sekali tidak bisa. Wajah sang istri tercinta dengan suara batuk yang didengarnya terus saja membuat pikirannya tak tenang.
“Syah?” panggilnya lagi terus berusaha mencari jawaban. Tak sabar, Ridwan pun akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan dengan meraba gedek.
Aisyah merasakan bunyi gedek itu. Ia memang sengaja tak menyahut sebab takut simboknya bangun. Terpaksa ia melepaskan pelukan dari simbok, merapikan kain jarit yang digunakan sebagai selimut itu, kemudian bergegas turun secara perlahan agar tidak menimbulkan bunyi dari lincak yang mulai reot.
“Kamu masak apa hari ini, Nah?” Ridwan masih tidak berputus asa untuk menarik perhatian. Ia yang tak bisa melihat itu merasakan kesunyian karena sang istri sudah tak lagi terbatuk.
“Mbah lapar?” tanya Aisyah seraya menuntun Ridwan.
Ridwan tidak menjawab. Ia justru menanyakan keberadaan istrinya. “Di mana Mbokmu? Apakah dia sudah bisa tidur.”
Aisyah mengangguk. “Ya, Mbah. Sebaiknya Mbah tidak usah ke kamar, biarkan simbok beristirahat. Apakah Mbah lapar? Biar Aisyah yang ambilkan, ya?” tawar Aisyah sembari menuntun Simbah menuju ke tempatnya semula.
Ridwan menunggu dengan tertib, layaknya bayi yang menunggu sang ibu untuk mengambilkan makanan untuknya.
Aisyah sama sekali tidak keberatan dengan semua itu. Manusia ketika usianya sudah tua, ia memang sering kembali ke masa kanak-kanak kembali. Ingatannya yang sering lupa, emosinya yang sering tidak stabil, bahkan kemauannya yang kadang aneh-aneh dengan tingkat kesensitifan perasaan yang mudah tersinggung.
Itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Aisyah. Namun, hidup dengan mereka membuat Aisyah merasakan kasih sayang yang selama ini tidak pernah diberikan oleh siapa pun, termasuk abahnya. Aisyah rindu Abah. Aisyah rindu Ummi. Aisyah ingin seperti anak lain, tapi ia sadar semua itu tak mungkin.
Ia mengambil piring di rak dengan perasaan yang bercampur aduk, sedih, ingin, penuh harap, bahkan merasa sangat kasihan pada Simbah dan Simbok dan terus berusaha menguatkan dirinya.
‘Aku harus bisa membahagiakan mereka!’ tekat Aisyah dalam hati.
Setelah selesai mengambil piring dan sendok di rak, ia berjalan menuju bhernyik, tempat penyimpanan nasi yang digantung di atas ettok.
Ettok merupakan tempat penyimpanan barang yang mirip dengan kotak persegi, tapi ada tutupnya. Dari luar terlihat seperti brangkas. Ukurannya cukup besar dan itu biasa digunakan untuk menyimpan lauk ataupun makanan lainnya.
Aroma tanah dari gubuk sederhana itu tercium. Rumah yang ditempati Aisyah dan Mbah Kakung serta Simboknya itu memang jauh dari kesan rumah modern. Peralatannya pun bahkan juga masih menggunakan peralatan jaman dulu.
Gilis, untuk menggiling padi. Jubheng untuk menyimpan beras. Ettok untuk menyimpan makanan. Kendi dari tanah untuk menyimpan air. Tungku untuk memasak dan Sobluk dari tanah liat sebagai ngeliwet nasinya, serta banyak lagi peralatan kuno lainnya.
Setelah nasi dengan lauk tahu isi berhasil Aisyah ambil, bergegas gadis itu mebuju ke rak yang di atasnya ditaruh kendi berukuran mini. Sayur labu siam yang tadi pagi Maimunah petik Aisyah petik di pekarangan rupanya sudah tersaji bersama daun kelor. Aromanya begitu sedap. Membuat Aisyah pun turut merasakan lapar tatkala menyendoknya.
“Syah?” panggil Ridwan. Menunggu ternyata membuatnya sedikit bosan. Ia pun penasaran dan tidak tahan untuk tidak memanggil cucunya.
“Iya, Mbah. Aisyah segera datang!”
Gadis itu pun segera berjalan menuju lincak tempat Mbah Kakung duduk menunggu.
“Sudah baca doa, Mbah?” tanya Aisyah lembut.
“Sudah dari tadi.”
Pria berwajah keriput itu tersenyum, kemudian menganga. Aisyah memperhatikan kerutan-kerutan di wajahnya dengan rasa penuh cinta. Ia julurkan tangannya, sendok berisi nasi dan lauk kini sudah sampai di mulut Ridwan. Ridwan mengunyahnya dengan begitu lahap.
“Enak, Syah,” pujinya dan Aisyah tersenyum sembari terus menyuapi sang kakek tercinta.
Saat acara makan sudah usai, Aisyah menyuguhkan minuman. Ketika itu pula, Ridwan merasakan sesuatu yang membuat dadanya sesak kembali.
“Andai Mbah masih bisa melihat, Mbah pasti tidak akan merepotkanmu, Nduk,” sesal Ridwan.
Entah sudah kali ke berapa hari ini Ridwan meratapi nasibnya. Yang jelas Aisyah sangat tidak ingin mendengar pernyataan miris itu.
“Mbah!” ia pun mencoba mengalihkan perhatiannya.
“Hm?” sahut Ridwan cepat.
“Aisyah ingin mendengar bagaimana ceritanya Mbah bertemu dengan Simbok dulu. Usia kalian, kan, sudah tidak lagi muda, tapi cinta kalian seperti tetap kuat dan begitu luar biasa.”
Mendengar pujian dari sang cucu, Ridwan menjadi tersenyum. Angannya terbang ke masa mudanya. Sesosok wanita cantik kini terbayang dalam angan.
“Kami dulu bertemu sewaktu Mbokmu membeli cobek. Kebetulan, Mbah memang sudah jadi pengrajin sejak muda.”
“Wah? Jadi Mbah memang ahli di bidang seni, ya? Kaligrafi Allah dan Muhammad itu, apa Mbah juga yang buat?”
Ridwan mengangguk penuh semangat. “Termasuk lemari, ettok, rak, dan semua perlatan di sini Mbah buat dengan tangan Mbah sendiri.”
“Terampil sekali. Bagus!” puji Aisyah tulus.
Mata Ridwan tampak berbinar, tapi hanya putihnya yang terlihat sebab hitamnya sudah terkikis karena katarak.
Aisyah menyentuh pelan punggung tangan sang kakek yang begitu kasar dan keriput itu.
“Apa ada yang ingin kau katakan?” tanya Ridwan seolah mengerti dengan sikap cucunya hanya dengan bahasa sentuhan.
Aisyah tak sanggup berbicara. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan saja. Ia menarik napas dalam, lalu membayangkan sesosok rupa ayahnya yang seakan lepas dari tanggung jawab.
Ingin sekali ia bertanya bagaimana kisah percintaan Abah dan Uminya dulu. Apakah mereka benar-benar saling mencintai? Apakah kehadiran dirinya memang diinginkan? Atau mungkin, apakah pria yang bernama Mustafa itu sudah hilang ingatan sehingga membiarkan dirinya hidup begitu saja tanpa nafkah?
Padahal, bukan keinginan dirinya untuk tidak memiliki ibu.
'Ummi ... Aisyah rindu ....'