“Kamu rencananya mau melanjutkan ke mana Aisyah?” Mbak Aira, istri dari Mas Juna bertanya.
Gadis kecil yang baru saja lulus dari bangku sekolah dasar itu bergeming. Ia sama sekali tidak tahu mau melanjutkan ke mana. Abah, bapaknya sama sekali belum membahas tentang hal itu. Jangankan memikirkan perihal kelanjutan pendidikan, semua hal tentang hidupnya, Mustofa, seolah tidak peduli.
Sebagai orang tua tunggal bagi Aisyah, seharusnya Mustofa lebih peka terhadap perkembangan putri sulungnya itu. Aneka pertanyaan pun hadir sebagai pembanding. Misal, “Dari mana Aisyah membayar biaya hidup dan sekolahnya? Bagaimana dengan sekolahnya? Aisyah lulus apa tidak?” Atau mungkin, tentang pertanyaan klise yang lain. “Apakah Aisyah sudah makan? Sehatkah Aisyah?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanya ada dalam angan sebab Mustofa sama sekali tidak pernah mengungkapkannya. Krisis kasih sayang serta krisis figur orang tua yang bisa dijadikan role model, itulah yang kini dirasakan Aisyah. Mustofa teramat sibuk dengan keluarga barunya. Jangankan berbicara perihal kelanjutan pendidikan, mungkin juga lelaki yang usianya sudah tiga puluh lima tahun itu juga tidak memikirkan jika Aisyah masih hidup atau sudah ....
“Kenapa diam Syah? Memangnya kamu tidak mau melanjutkan?” tanya Aira membuyarkan lamunan Aisyah.
Gadis berambut lurus itu menatap Aira dengan mata berembun. Angannya berlayar jauh memikirkan perihal mimpi dan cita-citanya. Banyak hal yang ia inginkan untuk meraih semua itu dan tentunya langkah yang harus ia tempuh pertama kali pasti dengan pendidikan.
Pendidikan merupakan tangga dasar untuk menuju kesuksesan. Aisyah sangat ingin membahagiakan Simbah dan Simbok. Wanita renta yang tak mengenal lelah merawatnya, serta pria tunanetra yang selalu berjuang untuk dirinya.
“Syah?” tanya Aira lagi.
Aisyah masih saja belum menjawab. Gadis bertubuh kurus itu hanya menunduk, memelintir ujung baju kumalnya dan di situlah air matanya menetes tapi buru-buru ia mengusapnya.
“Ada apa?” tanya Aira sembari menyentuh lembut pundak Aisyah.
Aisyah menggeleng.
“Kamu mau sekolah?”
Gadis kecil itu pun mengangguk. "Tapi-“
“Tapi apa?” desak Aira penasaran.
“Aisyah belum ada biaya, Mbak,” lirihnya pilu.
Aira begitu paham dengan kondisi itu. Ia sangat mengenali Aisyah sebab kesehariannya memang selalu bekerja dengannya. Membuat tahu isi, bakwan, tempe goreng, dan aneka gorengan lainnya yang selain dititipkan di warung kecil-kecilan milik Aira, Aisyah juga menjajakan dagangan itu demi bisa bertahan hidup dalam kondisi ekonomi yang cukup sulit.
Mengingat hal itu, Aira pun mencoba menghibur gadis yang baru menginjak usia remaja tersebut.
“Untuk uang pendaftaran, tenang saja, Syah! Mbak Aira tahu, kok, sekolah mana yang paling minim biayanya. Bebas uang bulanan, bahkan bagi siswa baru akan dibagikan seragam sekolah gratis!” seru Aira dengan semangat yang begitu luar biasa.
“Gratis?”
Aisyah mengangkat dagu, menatap Mbak Aira dengan mata berbinar, tapi sekaligus berkaca-kaca. Ada harapan dan ketakutan yang bersisian di beranda netra itu.
Aira mengangguk. “Kalau saran Mbak, gimana jika kamu sekolah di Nurul Iman saja?”
“Nurul Iman? Di mana itu, Mbak?” tanya Aisyah polos.
"Itu, di desa Gumuk Rejo,” papar Aira dengan senyum termanisnya. Aira pun menatap Aisyah dengan begitu serius. “Nurul iman itu merupakan sekolah yang bebas dari uang bulanan, Syah. Di sana berada di bawah naungan pesantren. Pendidikan agamanya, kan, lebih bagus kalau di pesantren daripada umum. Lingkungannya juga ramah dan menurut Mbak juga sangat cocok buat Aisyah.”
Hati Aisyah begitu berbunga mendengar semua itu. Pandangannya seakan terpatri ke arah yang jauh lebih baik lagi. Pikiran positif kini berpihak padanya. Semangatnya membara. Rasa inginnya untuk sekolah pun begitu besar. Membuncah.
“Di sana juga mendapatkan seragam gratis, lho! Siswanya tidak dibebankan dengan biaya bulanan. Mbak mengajar di sana juga, kok. Guru-gurunya baik-baik dan ramah. Pokoknya asyik, dah!” seru Aira menyemangati.
Aisyah pun kini membayangkan seperti apa indahnya sekolahan itu. Sekolah yang akan menjadi tangga untuknya meraih segala mimpi dan cita-cita. Ia inginkan kehidupan yang lebih baik. Ia ingin menjadi orang sukses.
‘Sudah gratis, dapat seragam pula! Wah! Ini keberuntungan yang memang sangat aku idam-idamkan,’ batin Aisyah terbuai dengan sugesti Aira.
“Bukan hanya itu. Rosi dan Jamal juga sekolah di sana, lho, Syah!"
“Benarkah?”
Aira mengangguk cepat.
Rosi dan Jamal merupakan saudara sepupu Aisyah dari keluarga abahnya. ke dua lelaki yang usianya terpaut tidak terlalu jauh dari Aisyah itu sama sekali tidak dekat dengan dirinya. Namun, mereka adalah anak-anak yang baik. Mereka sering membeli dagangan Aisyah.
Aisyah pun tahu jika Jamal sudah sekolah Mts dan Rosi sudah duduk di bangku madrasah aliyah sebab hampir setiap hari Aisyah melihat mereka mengendarai sepeda ontel dengan mengenakan seragam biru-putih dan abu-putih, khas anak sekolahan. Hanya saja, waktu berjumpa dengan mereka itu tidak menentu. Kadang pagi, kadang juga sore.
'Apa mungkin mereka sekolah pagi-sore?'
Aisyah membiarkan pertanyaan itu hanya tertahan di kepalanya.
“Kamu tidak sendiri, Syah! Kalau ada temannya dari sini, kan, bisa numpang bonceng? Lumayan, lah, buat hemat ongkos angkot. Gimana?” bujuk Aira lagi.
Ide dari Mbak Aira itu memang cukup masuk akal. Aisyah pun sudah sangat bahagia mendengarnya. Namun, setelah membahas tentang Rosi dan Jamal, pikiran Aisyah mendadak kembali teringat tentang abahnya yang sama sekali tidak bertanggung jawab. Ia takut jika pendidikannya akan terus menjadi beban bagi Mbah Kakung dan Simbok. Ia takut akan memiliki serentetan biaya tak terduka sebab menurut hemat Aisyah pendidikan itu pasti membutuhkan biaya dan bekal, sedangkan Simbah dan Simbok kini sudah sangat renta.
“Aisyah belum berdiskusi dengan Abah, Mbak,” sahutnya kemudian.
Wajahnya menunduk lesu, mencoba meraba seperti apa rupa orang tua yang amat sangat dirindukannya itu.
Mustofa Ahmad memang orang tua kandung Aisyah. Namun, Aisyah hanya menjadikan alasan itu agar Aira tidak bertanya kembali. Meski dalam lubuk hati Aisyah memang ingin berdiskusi dengan abahnya, tapi keinginan itu hanya ada dalam angan. Aisyah sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya sebab hubungan komunikasi ia dan abahnya sama sekali tidak pernah berjalan baik.
Sibuk! Selalu menjadi alasan klise yang kerap kali dilontarkan Mustofa ketika Aisyah meminta waktu untuk berbicara dengannya. Bagai anak ayam kehilangan induknya, Aisyah terdampar dalam belenggu rindu yang menyiksa. Rindu akan belaian cinta kasih orang tua, tapi sama sekali ia tak pernah mampu merasakannya.
Perlakuan itu bukan hanya dari Mustofa saja. Semua itu didukung penuh oleh Karmila, ummi tirinya yang memiliki perangai begitu temperamental. Ia sangat membenci Aisyah. Tak peduli Aisyah memiliki salah atau tidak, kebencian itu seakan tertanam begitu dalam. Membuat Aisyah takut untuk mendekat, meski hanya sekedar bertanya, “Apakah Abah ada? Bagaimana keadaannya? Sehatkah?”
Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang hanya mampu Aisyah catat dalam diari usang di sepanjang jalan kenangan. Mungkin ini yang sering orang bilang, "Mau sama bapaknya, tapi tidak mau sama anaknya. Miris sekali nasibmu, Syah!” Sambil menjajakan gorengan, pernyataan seperti itu sering kali Aisyah dengar.
“Mbak bantu berbicara dengan Abahmu, ya?" ucap Aira seolah mengerti apa isi kepala gadis kecil itu.
Mata Aisyah membulat, tidak langsung menyahut, masih berusaha mencerna apa yang Aira katakan barusan.
“Syah?”
Aira menyentuh pundak Aisyah kembali, membuat gadis kecil itu terkejut, mendongak dan menatap Aira serius.
“Tidak usah, Mbak.” Aisyah mencoba tersenyum, meski hatinya dilanda kepiluan. “Biar Aisyah sendiri yang akan bicara dengan Abah. Terima kasih atas segala bantuannya.”
“Yakin?”
Aisyah mengangguk pelan.
“Baiklah. Selamat berjuang, Aisyah. Apa pun keputusannya nanti, secepatnya kabari, Mbak, ya?”
Aisyah mengangguk. Aira menahan kaca-kaca di beranda netranya agar tidak tumpah. Melihat Aisyah, ia sekan melihat cerminan dirinya di masa lalu. Namun, nasibnya tidaklah seburuk Aisyah. Ia juga anak korban broken home, tapi sangat bersyukur memiliki ayah tiri yang begitu baik dan peduli padanya.
Aira pun sadar, tidak mudah memang berada di posisi Aisyah. Ia harus berjuang penuh untuk hidupnya. Kehilangan ibu kadang memang lebih menyakitkan daripada kehilangan ayah. Ibulah tempat kasih sayang bermuara. Jika ibu tidak ada dan seorang ayah tak lagi peduli, maka pincanglah hidup ini.
“Aisyah pamit dulu, ya, Mbak?” pinta Aisyah membuyarkan lamunan Aira.
Aira mengangguk. “Oh, ya. Tunggu dulu! Ini uangnya,” ucapnya seraya memberikan beberapa uang dari hasil Aisyah yang menitipkan dagangannya.
“Terima kasih, Mbak. Aisyah pamit dulu, ya?”
“Ya. Hati-hati di jalan, Syah. Mbak tunggu kabarnya.”
“Baik, Mbak.”
“Sukses!”
Aisyah mengaminkan doa tulus Aira dalam hati. Gadis kecil itu pun berlalu meninggalkan toko kelontong Aira, berjalan pelan menyusuri lorong kecil di desa Sumber Anom. Terik mentari yang menyengat membuat tubuhnya berkeringat. Tas kecil di tangan kirinya, sedangkan tangan kanan mengelap peluh yang bercucuran dengan jemari kecilnya.
Aisyah begitu terlihat sangat memprihatinkan. Namun, dialah Aisyah, Siti Aisyah, seorang gadis tak beribu yang begitu kuat dan tegar menghadapi kenyataan. Ditempa sedemikian rupa oleh alam menjadikannya tangguh untuk terus berjuang.
Jalan kecil ia susuri, tidak peduli pada sebagian mata yang memandangnya iba ataupun hina, itu sudah hal biasa. Setelah ini, Aisyah akan menjajakan tahu isi dan bakwan ke rumah-rumah. Dia akan punya kesempatan buat mampir ke rumahnya sang Abah.
Aisyah berjalan terseok. Sesampainya di halaman, betapa terkejutnya ia saat melihat Simbok terbatuk-batuk. Ada darah di tangannya.
“Mbok!” Aisyah berlari sekuat tenaga. Gadis itu begitu ketakutan melihat darah.
“Uhuk! Uhuk!”
Maimunah, sang Nenek, Ibu kandung dari almarhumah uminya Aisyah itu terus saja terbatuk.
“Kenapa, Mbok? Mok tidak apa-apa, ‘kan?”
Panik. Aisyah menaruh keranjang tempat tahu isi di sembarang tempat. Air matnya berderai. Aisyah begitu ketakutan.
Maimunah tidak mampu menyahut. Perempuan renta itu memegang dadanya yang terasa begitu sakit.
Aisyah kebingungan. Ia berlari kesana-kemari mencari bala bantuan. Keringatnya bercucuran. Air matanya semakin berderai.
Naas! Tidak ada orang sama sekali di sekitar rumahnya. Biasanya juga ada Mbak Sima dan Bude Marni. Ke mana mereka?
Tergopoh Aisyah berlari lagi. Ketakutan dan kekhawatiran tentang Simbok semakin menjadi. Mbah Kakung terlihat sedang meraba-raba gedek, mencari jalan untuk kembali ke rumahnya.
“Aisyah?” panggil Mbah Kakung.
Aisyah hanya bisa menoleh, namun tak mampu beranjak dari tempatnya berada sebab kondisi Simbok sedang genting dan wanita renta itu sangat membutuhkan dirinya.
“Syah?” panggil Mbah Kakung lagi. "Kaki Mbah terjepit!" teriaknya membuat Aisyah tak kuasa menahan diri untuk tidak menolongnya.
Akan tetapi, secara bersamaan Simbok terbatuk lagi.
“Uhuk! Uhuk!" Darah kembali keluar dari mulutnya.
"Mbok? Apa yang terjadi dengan Simbok?" raung Aisyah begitu ketakutan.
"Tidak apa-apa. Mbok tidak apa, Nduk. Mbahmu kakinya terjepit. Bantu dia."
"Tapi, Mbok-"
"Sudah. Kasihan dia. Dia pasti sangat menderita "
Meski tubuh Simbok juga menderita, ia masih lebih mendahulukan kepentingan suaminya. Karena sudah dipinta seperti itu, Aisyah pun mengangguk dan berlari secepat mungkin menuju tempat Mbah Kakung.
"Astagfirullah, Mbah!" pekik Aisyah terkejut.
Sesampainya di sana, kondisi pria tunanetra itu sudah sangat mengenaskan. Kakinya terperosok ke sela-sela kran air yang bersisian dengan gedek. Gedek lapuk yang menjadi dinding dari dapur rumah yang keluarga itu kini menjadi berlubang sebab entakan kaki Ridwan.
“Aisyah?"
Ridwan begitu peka akan kehadiran cucunya.
Segera Aisyah menyahut, “Aisyah di sini, Mbah.”
Gadis kecil itu pun lekas menggandeng pergelangan tangan Ridwan, menarik tubuhnya dan mencoba mengeluarkan pria tuna netra itu dari perangkap gedek tersebut.
Bobot Ridwan terasa begitu berat bagi Aisyah yang bertubuh kecil mungil. Namun, ia sama sekali tidak berputus asa. Terus berupaya hingga rintihan keluar dari mulut Ridwan.
"Sa-kit ...," erangnya memelas.
"Sabar, ya, Mbah. Sebentar lagi sudah bisa,” pinta Aisyah seraya terus mencoba menarik tubuh Simbah.
Selang beberapa detik, Mbah Kakung terjengkang bersamaan Aisyah yang turut terpental. Tubuh keduanya ambruk di tanah dengan posisi tubuh kecil Aisyah ditindih tubuh sang kakek.
“Argh!” Aisyah mendesis.
Ridwan panik. "Aisyah? Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan tangan meraba-raba, mencari keberadaan cucunya.
Aisyah hanya mengerutkan dahi dan mencoba menahan rintihannya agar tidak semakin membuat Simbah khawatir. Lengannya tergores beling dan ada sedikit luka di sana. Namun, ia berusaha untuk tetap baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, Mbah,” elaknya. “Tapi ... Aisyah sedikit kesulitan bernapas. Ditindih sama Mbah Kakung.”
“Oh, iya! Maaf. Mbah akan segera bangun.”
Ridwan pun mencoba menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar, begitu kesulitan untuk bangun. Aisyah tahu jika Simbah tidak memiliki cukup tenaga untuk bangkit. Ia pun terus berupaya untuk mencari jalan agar bisa cepat keluar dari perangkap ini. Pelan tapi pasti. Setelah bergelut dengan tanah, gadis itu pun akhirnya bisa dan segera membantu kakeknya.
Ridwan berdiri seraya mencari tongkat miliknya.
“Ini, Mbah.” Aisyah mengerti apa yang Ridwan cari. Ia pun lekas memberikannya.
Meski tak mampu melihat, Ridwan menatap lurus ke depan seolah mampu memandang cucu kecilnya yang kini sudah beranjak remaja itu.
"Aisyah?" panggil Ridwan dengan tangan yang meraba-raba, mencari keberadaan Aisyah.
Aisyah menyambut hangat tangan keriput tersebut.
"Aisyah sudah di sini, Mbah. Tidak usah takut lagi. Mbah mau ke mana? Biar Aisyah antar.”
Di Saat Aisyah bertanya seperti itu, Ridwan justru menunduk sedih.
“Maafkan Mbah yang hanya bisa merepotkanmu, ya, Nduk?” ucapnya lirih dengan air mata yang tak lagi bisa menetes.
Meski kesedihannya begitu dalam, mata rabunnya hanya mampu mengerjap, menunjukkan betapa rapuhnya pria renta itu. Wajahnya pun kini ditekuk, membuat Aisyah merasakan perih atas ucapan kakeknya.
“Tidak! Jangan berbicara seperti itu, Mbah,” tolak Aisyah. “Selama ini Mbah Kakung sudah merawat Aisyah dengan sangat baik. Aisyah tidak akan menjadi seperti ini tanpa Mbah dan Mbok. Kalian segalanya bagi Aisyah.”
Gadis kecil itu pun segera merangkul tubuh kakeknya dan di tempat yang berbeda Maimunah melihat semua kejadian mengharukan itu. Ia memegang dadanya, menahan batuknya agar tidak membuat Aisyah panik karenanya.
“Memangnya tadi Mbah kenapa? Kok bisa terjebak di sana?" tanya Aisyah sembari menuntun sang kakek. “Mbah salah arah lagi?” selidiknya.
Ridwan mengangguk.
“Mbah kencing, Syah. Mbah pergi ke kran itu untuk membersihkan diri. Tapi ternyata, Mbah terperosok.”
Aisyah mencoba melihat ke bawah. Benar saja, kondisi Simbah seperti yang belum selesai membersihkan diri. Kakinya pun masih dipenuhi lumpur. Secepat mungkin Aisyah menggandeng tangan Mbah Kakung menuju kran, mencuci bersih kakinya yang berlumur lumpur itu, kemudian membawa pria renta itu menuju rumah.
Suara batuk Simbok kembali terdengar. Hati Aisyah kembali risau.
"Aku mau di bawa ke mana, Syah?" tanya Mbah Kakung.
"Ke kamar, Mbah. Sebaiknya Mbah istirahat saja nanti, ya? Jangan kemana-mana dulu. Aisyah masih mau merawat Simbok."
"Lah, kenapa memangnya Mbokmu?"
"Batuk'an, Mbah."
"Kerokin, Syah. Mungkin dia masuk angin."
Aisyah mengangguk sembari membaringkan tubuh Mbah Kakung di ranjang. Ia merapikan posisi tidur sang kakek, kemudian segera menyelimutinya.
Setelah selesai mengurus Mbah Kakung, Aisyah berjalan cepat menemui simbok yang masih duduk di luar. Gadis itu datang membawa segelas air putih, meminta simbok meminumnya dan berharap semoga saja darah itu berhenti keluar dari mulutnya.
Maimunah menuruti kemauan Aisyah. Batuknya sedikit mereda.
Meskipun tidak tahu harus melakukan apa lagi, Aisyah mencoba memijit-mijit bahu simbok. Tidak jadi mengerokinya karena Maimunah bersikeras menolak. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Gadis itu teramat ketakutan saat melihat darah. Sambil berurai air mata, Aisyah terus memijit.
“Sudah, Nduk. Mbok tidak apa-apa, kok” Maimunah mencoba tegar, tapi jelas itu hanya mencoba untuk menghibur Aisyah agar tidak cemas.
Aisyah tahu itu. Ia pun menggeleng dan justru semakin banter menangis. Hidung Aisyah mulai tersumbat. Aisyah sesenggukan. Maimunah merasa tak kuasa menahan perihnya penyakit yang disertai beragam ketakutan.
Ia takut untuk mati sebelum Aisyah bahagia. Setidaknya, ia masih ingin melihat Aisyah tumbuh, sekolah, dan menikah. Jatuh ke tangan pria yang tepat yang bisa mengangkat semua luka yang masih membekas.
Maimunah tahu jika selama ini gadis kecil itu sudah berjuang begitu keras dalam hidupnya. Ia ingin Aisyah bahagia, hanya itu saja sebab penyakit paru-paru juga berhasil merenggut nyawa Ummi Aisyah dan Maimunah tidak ingin gadis itu menjadi kehilangan dirinya dengan cara yang sama.
Maimunah menoleh dan memperhatikan seraut wajah sedih Aisyah dengan hati teriris perih.
"Kamu kenapa menangis, Nduk?" tanyanya dengan suara lirih.
Aisyah menggeleng. Tak mampu menahan kecamuk rasa yang begitu perih, ia pun menekan sesak di dadanya. Menunduk, menahan isak yang amat sangat menyesakkan.
"Aisyah? Ada apa?" tanya Maimunah pura-pura tak mengerti. Ia mencoba mengulurkan tangannya, menyediakan ruang untuk mendekap cucu kesayangannya.
Aisyah semakin menjadi tangisnya. Ia memeluk Maimunah erat. Sangat erat.
“Mbok ...," lirih Aisyah dalam isak. Sesenggukan Aisyah berbicara. "Mbok jangan mati, ya? Aisyah sudah tidak punya Ummi. Kalau Mbok mati, Aisyah nanti meneng sama siapa?"
Maimunah menggeleng dengan kepala berat. Air matanya berlinang deras.
“Tidak akan, Nduk. Mbok akan tetap bersama Aisyah,” ucapnya lirih sembari menyembunyikan darah yang kini berada di genggamannya.
Aisyah membayangkan banyak hal. Sekolah, mimpi, cita-cita, Simbok yang sudah batuk darah, dan Simbah yang tuna netra. Andai dirinya tetap membebankan segalanya pada mereka? Mungkin mereka akan semakin tersiksa.
‘Tidak!’ jerit Aisyah dalam hati. ‘Aku anak Abah. Setidaknya Abah harus bertanggung jawab atas diriku yang sudah dilahirkan ke dunia ini.’
Aisyah mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya tajam menatap lurus ke depan. Penuh arti, penuh rencana. Bagaimana pun caranya ia akan berusaha agar sang Abah bisa membiayai hidupnya.
Lamunan itu pun buyar seiring Aisyah yang mendengar suara batuk Simbok.
“Uhuk, uhuk, uhuk!”
Maimunah sudah bersikeras menahannya. Namun, percuma! Batuk itu terus keluar dengan sendirinya.
“Mbok?” selidiknya resah melihat Simbok terus berupaya menyembunyikan darah di genggamannya.
“I-tu?” tanya Aisyah curiga.
Maimunah menggeleng. Lalu berupaya tersenyum. “Tidak apa, Nduk. Jangan khawatirkan Simbok. Sebentar lagi sudah sembuh.”
“Aisyah takut.”
Maimunah terus mencoba tegar.
“Apa mau Aisyah panggilkan Bu bidan?” tawar gadis kecil itu.
Maimunah menggeleng.
“Antar saja Mbok masuk, Nduk,” pintanya seraya mencoba bangkit dari tempat duduknya semula.
Meski berat, Aisyah mencoba menuruti kemauan Maimunah. Ketika perempuan renta itu berusaha mencari pegangan, tubuhnya seperti oleng dan hendak pingsan.
“Mbok!” jerit Aisyah histeris.
Dada Maimunah terasa nyeri dan semakin sakit di saat terbatuk. Ia menunduk dalam waktu yang cukup lama, membuat Aisyah semakin takut untuk kehilangan dirinya. Ia memperhatikan tubuh pucat Maimunah.
“A ... ir,” pintanya dengan suara serak tertahan.
Aisyah mengangguk dan berlari cepat, mengambil air di kendi kemudian gegas membawanya pada simbok.
Maimunah menenggaknya hingga tandas. Aisyah menaruh asal gelas tersebut kemudian menyebut nama Maimunah. “Mbok ...,” ucap Aisyah lirih.
Maimunah mencoba untuk tersenyum. Bibirnya pucat dan napasnya naik-turun tak beraturan.
“Pegang tangan Aisyah, ya, Mbok. Kita harus segera ke kamar,” ucap Aisyah yang diiringi anggukan oleh Maimunah.
Perempuan renta dan gadis yang baru menginjak usia remaja itu pun berjalan dengan begitu hati-hati. Aisyah terus menggandeng Maimunah. Tubuh kecilnya sigap menjadi penopang tatkala neneknya terhuyung. Mereka saling berpegangan tangan, tertatih, meraba gedek, berjalan perlahan naik ke undakan.
Mereka pun akhirnya sampai di dapur dan kehadiran mereka begitu terasa bagi Ridwan.
“Aisyah?” Panggil Ridwan, menilik keberadaan mereka.
“Mbah tidak tidur?”
“Tidak bisa. Mboknya di mana? Dari tadi aku ndak dengar suaranya.”
Meski usia Ridwan sudah hampir seabad dan usia Maimunah sudah berjalan di angka delapan puluh lima, ikatan batin antara keduanya masih begitu terasa. Cinta mereka tetap saling menguatkan sehingga ketika salah satu di antara mereka merasakan luka, maka yang lainnya pun seakan turut merasakan hal yang sama.
Itu yang membuat Aisyah begitu kagum pada Simbok dan Mbah Kakung. Perangai keduanya sangat lembut dan santun. Bahkan, dalam kondisi seperti ini pun tetap saling peduli antara satu sama lain.
“Apa? Aku di sini,” sahut Maimunah memenuhi panggilan suaminya.
“Apa kau baik-baik saja? Kata Aisyah kamu batuk’an?” tanya Ridwan cemas.
“Tidak apa. Aisyah akan membawaku ke kamar untuk beristirahat dan setelah itu aku pasti akan segera sembuh. Aisyah juga memijitku,” timpal Maimunah berpura-pura sehat.
“Kalau memang sakit, periksa saja ke bidan. Panggil Pak Ramli dan kita jual saja pohon kelapa yang di dekat bukit,” ucap Ridwan memberi saran.
“Tidak. Itu pohon kelapa sudah tinggal satu. Kita masih bisa memanen buahnya untuk kebutuhan Aisyah. Kalau itu dijual, apa yang mau kita andalkan ke depannya.”
Pilu Aisyah mendengar semua itu. Maimunah melihat wajah Aisyah yang kini menunduk dengan mata berembun.
“Syah?” panggil Maimunah.
“I-iya, Mbok?”
“Ayo lanjutkan perjalanan. Bawa Mbok ke kamar.”
Aisyah mengangguk dan kembali menuntun wanita yang sudah bertahun-tahun merawatnya itu. Hingga sampailah mereka di kamar berukuran tidak terlalu lebar. Hanya ada sebuah lincak dengan kasur lapuk dan seprei lusuh, serta satu lemari berukuran sedang yang dibuat khusus oleh Ridwan.
“Ambilkan Mbok jaket, Syah. Mbok kayak yang dingin,” pinta Maimunah.
Aisyah tidak langsung memenuhi permintaan neneknya. Ia terlebih dahulu naik ke atas lincak, kemudian berusaha membantu Simbok untuk duduk dengan baik. Takut masih pusing atau merasakan sakit, Aisyah meminta simbok untuk berpegangan pada beton lincak untuk sementara waktu dan segera ia menuju lemari mengambil jaket biru bunga-bunga.
Tidak terlalu hangat, jaket itu sudah tipis dan lusuh. Ada pula beberapa tambalan di setiap sisinya. Hanya saja, ketika Maimunah sudah memakainya, ia pun juga diselimuti dengan kain jarit dan diapit oleh dua bantal oleh Aisyah.
Maimunah berusaha memejamkan mata, sedangkan Aisyah memijit-mijit lembut kaki neneknya hingga wanita itu memejamkan mata. Tidak bisa tidur sebab batuk masih terus menyerang Maimunah dan Aisyah sangat prihatin dengan semua itu. Ia berhenti memijit dan memeluk Maimunah erat. Air matanya berurai deras.
“Tidak apa-apa, Syah. Tidak usah terlalu khawatir. Mbok mau tidur dulu. Setelah ini pasti sudah sembuh,” ucap Maimunah dengan mata yang terus dicoba terpejam.
Aisyah mengangguk dengan hati teriris perih.
‘Ya Allah. Apa pun penyakit Simbok, sembuhkanlah Ya Allah ....’
***
Waktu menunjukkan pukul satu siang. Batuk Maimunah sudah tidak lagi sesering sebelumnya. Matanya pun terpejam dengan Aisyah yang terus berjaga di sampingnya, khawatir kalau-kalau neneknya itu butuh sesuatu atau mungkin kambuh secara tiba-tiba.
“Nah?” panggil Ridwan.
Pria dengan rambut yang didominasi warna putih itu rupanya belum juga bisa terlelap. Meski mencoba memejamkan mata, sama sekali tidak bisa. Wajah sang istri tercinta dengan suara batuk yang didengarnya terus saja membuat pikirannya tak tenang.
“Syah?” panggilnya lagi terus berusaha mencari jawaban. Tak sabar, Ridwan pun akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan dengan meraba gedek.
Aisyah merasakan bunyi gedek itu. Ia memang sengaja tak menyahut sebab takut simboknya bangun. Terpaksa ia melepaskan pelukan dari simbok, merapikan kain jarit yang digunakan sebagai selimut itu, kemudian bergegas turun secara perlahan agar tidak menimbulkan bunyi dari lincak yang mulai reot.
“Kamu masak apa hari ini, Nah?” Ridwan masih tidak berputus asa untuk menarik perhatian. Ia yang tak bisa melihat itu merasakan kesunyian karena sang istri sudah tak lagi terbatuk.
“Mbah lapar?” tanya Aisyah seraya menuntun Ridwan.
Ridwan tidak menjawab. Ia justru menanyakan keberadaan istrinya. “Di mana Mbokmu? Apakah dia sudah bisa tidur.”
Aisyah mengangguk. “Ya, Mbah. Sebaiknya Mbah tidak usah ke kamar, biarkan simbok beristirahat. Apakah Mbah lapar? Biar Aisyah yang ambilkan, ya?” tawar Aisyah sembari menuntun Simbah menuju ke tempatnya semula.
Ridwan menunggu dengan tertib, layaknya bayi yang menunggu sang ibu untuk mengambilkan makanan untuknya.
Aisyah sama sekali tidak keberatan dengan semua itu. Manusia ketika usianya sudah tua, ia memang sering kembali ke masa kanak-kanak kembali. Ingatannya yang sering lupa, emosinya yang sering tidak stabil, bahkan kemauannya yang kadang aneh-aneh dengan tingkat kesensitifan perasaan yang mudah tersinggung.
Itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Aisyah. Namun, hidup dengan mereka membuat Aisyah merasakan kasih sayang yang selama ini tidak pernah diberikan oleh siapa pun, termasuk abahnya. Aisyah rindu Abah. Aisyah rindu Ummi. Aisyah ingin seperti anak lain, tapi ia sadar semua itu tak mungkin.
Ia mengambil piring di rak dengan perasaan yang bercampur aduk, sedih, ingin, penuh harap, bahkan merasa sangat kasihan pada Simbah dan Simbok dan terus berusaha menguatkan dirinya.
‘Aku harus bisa membahagiakan mereka!’ tekat Aisyah dalam hati.
Setelah selesai mengambil piring dan sendok di rak, ia berjalan menuju bhernyik, tempat penyimpanan nasi yang digantung di atas ettok.
Ettok merupakan tempat penyimpanan barang yang mirip dengan kotak persegi, tapi ada tutupnya. Dari luar terlihat seperti brangkas. Ukurannya cukup besar dan itu biasa digunakan untuk menyimpan lauk ataupun makanan lainnya.
Aroma tanah dari gubuk sederhana itu tercium. Rumah yang ditempati Aisyah dan Mbah Kakung serta Simboknya itu memang jauh dari kesan rumah modern. Peralatannya pun bahkan juga masih menggunakan peralatan jaman dulu.
Gilis, untuk menggiling padi. Jubheng untuk menyimpan beras. Ettok untuk menyimpan makanan. Kendi dari tanah untuk menyimpan air. Tungku untuk memasak dan Sobluk dari tanah liat sebagai ngeliwet nasinya, serta banyak lagi peralatan kuno lainnya.
Setelah nasi dengan lauk tahu isi berhasil Aisyah ambil, bergegas gadis itu mebuju ke rak yang di atasnya ditaruh kendi berukuran mini. Sayur labu siam yang tadi pagi Maimunah petik Aisyah petik di pekarangan rupanya sudah tersaji bersama daun kelor. Aromanya begitu sedap. Membuat Aisyah pun turut merasakan lapar tatkala menyendoknya.
“Syah?” panggil Ridwan. Menunggu ternyata membuatnya sedikit bosan. Ia pun penasaran dan tidak tahan untuk tidak memanggil cucunya.
“Iya, Mbah. Aisyah segera datang!”
Gadis itu pun segera berjalan menuju lincak tempat Mbah Kakung duduk menunggu.
“Sudah baca doa, Mbah?” tanya Aisyah lembut.
“Sudah dari tadi.”
Pria berwajah keriput itu tersenyum, kemudian menganga. Aisyah memperhatikan kerutan-kerutan di wajahnya dengan rasa penuh cinta. Ia julurkan tangannya, sendok berisi nasi dan lauk kini sudah sampai di mulut Ridwan. Ridwan mengunyahnya dengan begitu lahap.
“Enak, Syah,” pujinya dan Aisyah tersenyum sembari terus menyuapi sang kakek tercinta.
Saat acara makan sudah usai, Aisyah menyuguhkan minuman. Ketika itu pula, Ridwan merasakan sesuatu yang membuat dadanya sesak kembali.
“Andai Mbah masih bisa melihat, Mbah pasti tidak akan merepotkanmu, Nduk,” sesal Ridwan.
Entah sudah kali ke berapa hari ini Ridwan meratapi nasibnya. Yang jelas Aisyah sangat tidak ingin mendengar pernyataan miris itu.
“Mbah!” ia pun mencoba mengalihkan perhatiannya.
“Hm?” sahut Ridwan cepat.
“Aisyah ingin mendengar bagaimana ceritanya Mbah bertemu dengan Simbok dulu. Usia kalian, kan, sudah tidak lagi muda, tapi cinta kalian seperti tetap kuat dan begitu luar biasa.”
Mendengar pujian dari sang cucu, Ridwan menjadi tersenyum. Angannya terbang ke masa mudanya. Sesosok wanita cantik kini terbayang dalam angan.
“Kami dulu bertemu sewaktu Mbokmu membeli cobek. Kebetulan, Mbah memang sudah jadi pengrajin sejak muda.”
“Wah? Jadi Mbah memang ahli di bidang seni, ya? Kaligrafi Allah dan Muhammad itu, apa Mbah juga yang buat?”
Ridwan mengangguk penuh semangat. “Termasuk lemari, ettok, rak, dan semua perlatan di sini Mbah buat dengan tangan Mbah sendiri.”
“Terampil sekali. Bagus!” puji Aisyah tulus.
Mata Ridwan tampak berbinar, tapi hanya putihnya yang terlihat sebab hitamnya sudah terkikis karena katarak.
Aisyah menyentuh pelan punggung tangan sang kakek yang begitu kasar dan keriput itu.
“Apa ada yang ingin kau katakan?” tanya Ridwan seolah mengerti dengan sikap cucunya hanya dengan bahasa sentuhan.
Aisyah tak sanggup berbicara. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan saja. Ia menarik napas dalam, lalu membayangkan sesosok rupa ayahnya yang seakan lepas dari tanggung jawab.
Ingin sekali ia bertanya bagaimana kisah percintaan Abah dan Uminya dulu. Apakah mereka benar-benar saling mencintai? Apakah kehadiran dirinya memang diinginkan? Atau mungkin, apakah pria yang bernama Mustafa itu sudah hilang ingatan sehingga membiarkan dirinya hidup begitu saja tanpa nafkah?
Padahal, bukan keinginan dirinya untuk tidak memiliki ibu.
'Ummi ... Aisyah rindu ....'