Sebuah undangan berwarna silver membuat hati Kiren begitu sakit. Bulir-bulir air matanya terjatuh di pipinya meninggalkan rasa sesak di dalam hatinya. Matanya menatap nanar saat tertulis nama Tian dan Vina terukir indah di sana.
"Apa kamu mau datang, Ren?" tanya Aurel sambil memberikan tisu untuk Kiren.
Kiren menoleh ke arah Aurel. Ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Jangan memaksa untuk tersenyum kalau hatinya sedang tak baik-baik saja Ren," ucap Aurel yang mengerti perasaan Kiren yang sedang patah hati.
"Aku tersenyum agar kamu ga terlalu khawatir Rel. Aku baik-baik saja dan ga akan ada masalah apapun," ujar Kiren mencoba terlihat tegar di depan sahabat baiknya.
Aurel menatap Kiren. Mencari sebuah kejujuran di manik-manik yang memerah. Jika ada orang lain melihat wajah Kiren pasti mengetahui kalau gadis cantik tersebut baru saja menangis. Terlihat jelas dari wajahnya yang sembab.
"Sebaiknya kamu ga usah datang, Ren," ucap Rio yang masuk ke ruang kerja Kiren bersama dengan Fabian.
Kiren melihat Aurel, Rio, dan Fabian secara bergantian. Ia tak percaya teman sekaligus rekan kerjanya datang ke ruangannya.
"Kalian kenapa semua berkumpul di sini? Udah sana kembali ke ruangan kalian masing-masing." Kiren mengusir mereka.
"Kami khawatir keadaanmu, Ren. Apalagi datang undangan itu." Fabian melirik sampul berwarna silver yang dipegang Kiren.
Kiren menggigit bibirnya. Ia sudah tak dapat lagi menyembunyikan rasa sakit dan air matanya yang sebentar lagi akan keluar dari netranya. Tanpa sempat ia meluapkan rasa sakitnya, Aurel langsung memeluk Kiren dengan erat. Sangat erat sampai membuat tubuhnya tersentak ke belakang.
"Menangislah Ren. Jangan kamu tahan lagi," ucap Aurel sambil membelai punggung Kiren.
Akhirnya, Kiren tak lagi mampu membendung air matanya. Ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan sahabat baiknya. Fabian dan Rio hanya menatap mereka dengan raut wajah sedih. Mereka tahu rasa sakit yang dirasakan Kiren. Kehilangan pria yang begitu dicintainya membuat hati gadis yang putih pucat itu sangat menderita.
***
Langkah kaki Kiren terasa begitu rapuh. Ia seakan tak memiliki tenaga untuk menghadapi apa yang terjadi dalam hidupnya. Baru enam bulan yang lalu Tian mengakhiri pertunangan mereka dan sekarang ia dihadapi dengan surat undangan yang membuat hatinya porak poranda. Ia memilih untuk pulang ke apartemennya meninggal tatapan teman-temannya yang melihatnya iba.
Memang ia tak suka dengan tatapan mereka, tapi mau bagaimana lagi kisah asmaranya yang membuat mereka menatapnya iba. Seandainya dulu pertunangannya dengan Tian tak berakhir tentu namanya lah yang terukir di sana. Walau perih inilah kenyataan yang harus dihadapinya.
Begitu tiba di apartemennya, ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sudah tak terhitung berapa liter air matanya keluar dari indra penglihatannya. Tanpa terasa ia tertidur dalam kesedihan yang tak terkira. Saat ia tertidur sebuah lengan memeluknya dengan erat.
Kiren tersenyum. "Kapan kamu datang?" tanyanya dengan suara parau.
"Badanmu panas dan wajahmu merah," ucap Fabian.
"Ah, mungkin karena badanku yang agak demam jadinya wajahku merah."
"Jangan membuat alasan yang ga masuk akal Ren."
"Bi... hatiku sakit."
"Menangislah Ren. Menangislah... jangan kamu tahan semuanya. Aku akan selalu ada untukmu."
Fabian memeluk tubuh Kiren dengan erat di atas tempat tidur. Tak ada kata lagi yang terucap dari bibir Kiren hanya isak tangis dan Fabian memeluknya dengan penuh kasih sayang sambil terus membelainya. Sampai pria itu memegang wajahnya.
Mata mereka saling bertatapan. Jari jemari Fabian mengusap air mata yang terjatuh di pipi Kiren dengan lembut. Sangat perlahan sehingga mampu membuat Kiren merasakan betapa laki-laki yang ada di hadapannya begitu memujanya.
"Apa yang membuatmu masih mengingatnya?" Fabian membelai lembut wajah Kiren.
"Ga seperti itu Bi." Kiren menggeleng kepalanya perlahan.
"Lalu seperti apa?" Fabian menatap Kiren dengan intimidasi membasahi bibirnya sendiri.
Kiren tergoda saat Fabian membasahi bibirnya sendiri. Selalu ada keinginannya untuk mendapatkan kenikmatan yang pria tampan itu lakukan bersamanya. Kenikmatan yang mampu membuatnya selama 5 bulan ini melupakan Tian.
Tangan Fabian menyentuh buah dada Kiren membuat gadis itu menutup matanya untuk sejenak. Ada seperti sengatan listrik kecil yang mengalir di bagian-bagian syarafnya. Satu persatu kancing kemejanya dibuka perlahan oleh Fabian.
Sebuah lengkuhan kecil terdengar dari bibir pucatnya saat Fabian mengulum puting buah dadanya. Dalam hitungan detik laki-laki itu sudah berhasil membuka seluruh pakaiannya. Terlihat jelas bagian-bagian tubuhnya yang putih mulus tanpa sedikitpun noda di sana.
"Aku ingin kamu melupakannya, Ren. Aku ingin kamu hanya memikirkan aku," ucap Fabian menatapnya penuh kekaguman.
Perkataan dan tatapan Fabian padanya seperti laki-laki itu begitu mendambakannya. Secara perlahan ia menyatukan kening mereka, menghembuskan napas yang berubah menjadi satu untuk saling menyatukan bibir mereka. Saling berciuman penuh kehangatan.
Fabian melumat bibir Kiren memberikan sentuhan-sentuhan di lidahnya dalam rongga-rongga mulut wanita yang membutuhkan kenikmatan. Ia menjadikan Kiren, wanita berharga dan begitu didambakan. Dan ia juga tahu kalau tidak hanya ciuman yang dibutuhkan Kiren.
"Aku ingin memilikimu, Bi," ucap Kiren dengan tatapan sayu.
Tatapan Fabian juga sama seperti Kiren dan ia senyum menyeringai. "Hanya ini yang bisa membuatmu melupakan jejak-jejak yang pernah dilakukan laki-laki bangsat itu ke kamu 'kan?" tanyanya dengan nada cemburu.
"Iya. Dan hanya kamu yang mengerti hal ini Bi. Aku ingin kamu menghapus semuanya tanpa terkecuali." Kiren sudah tak tahan lagi ingin melakukan hal lebih pada kekasih sahabatnya.
"Aku akan membuatmu tak akan pernah menyebut namanya lagi dan hanya merintih menyebut namaku."
Kiren mengangguk lemah. Dengan kondisi badannya dan hatinya yang sudah hancur hanya ingin merasakan kehangatan yang akan diberikan oleh Fabian padanya. Ia menarik leher Fabian melumat lagi bibir yang hangat itu dan laki-laki membalas lumatannya penuh dengan kemesraan. Mereka saling berciuman tanpa memikirkan perasaan Aurel.
Yang paling disukainya saat Fabian mulai memasukan kejantannya ke intinya membuatnya merasakan nikmat yang tak terkira. Fabian menggerakan pinggulnya di area kewanitaannya. Ia merasakan percintaan yang berbeda dengan Tian. Laki-laki itu bisa memberikan sensasi bercinta yang membuatnya terlena.
Terlebih lagi semua cara yang Fabian lakukan saat mencumbunya, mencium bibirnya lalu perlahan berubah menjadi lumatan liar dan kasar, memainkan tangannya yang besar di buah dadanya, menggoyangkan pinggulnya yang mampu membuat erangan dan desahan terdengar berirama di dalam kamarnya.
Ada debaran yang memacu adrenalin saat bercinta dengan Fabian. Ada rasa penasaran, ada rasa ketakutan jika ketahuan Aurel, dan ada rasa bersalah telah bercinta dengan kekasih sahabatnya sendiri dan parahnya, ia malah menikmati semua sensasi-sensasi tersebut. Hanya demi keinginannya dapat melupakan Tian yang telah menoreh luka di dalam hatinya.
Entah mau dibawa ke mana hubungan terlarangnya dengan Fabian, tapi untuk saat ini ia hanya akan menikmati percintaan mereka yang dapat membangkitkan kembali gairah dan semangatnya.
Jam menunjukan pukul 04.00 pagi saat Fabian keluar dari apartemennya. Walau Kiren mengantuk, tapi indera pendengarannya masih bisa mendengar semuanya dengan jelas. Sudah menjadi kebiasaan laki-laki itu selalu pergi dari apartemennya menjelang subuh.
Kiren membuka matanya secara perlahan melihat telepon genggamnya di samping nakas. Ia menghela napasnya berat, banyak sekali telepon dan pesan khawatir dari Aurel yang terus menerus menanyakan keadaannya.
"Kenapa kamu begitu mengkhawatirkan aku, Rel. Ini membuatku semakin merasa bersalah," ucapnya perlahan.
Fajar sebentar lagi akan menyingsing. Ia sudah tak dapat lagi memejamkan matanya, sudah menjadi kebiasaan yang entah selalu terbangun di tengah malam. Tapi jika ada Fabian, ia dapat tertidur lelap di dalam dekapan pria tampan tersebut.
Netranya menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang-remang dari lampu tidurnya. Pencahayaan yang minim seakan mampu memberikan ketenangan untuknya, meskipun bayang-bayang Tian sering muncul di dalam mimpinya.
Masih terkejam dengan jelas saat kejadian 6 bulan yang lalu saat Tian menatapnya nanar.
"Aku mohon maaf Kiren," ucap Tian dengan suara serak.
"Untuk apa kamu meminta maaf, jika kamu sendiri ga pernah merasa bersalah," balas Kiren menatap Tian dengan mata berkaca-kaca.
"Kejadian itu terjadi begitu saja Ren. Aku ga pernah bermaksud untuk meninggalkanmu, aku mencintai Vina, tapi aku juga mencintaimu."
Kiren mendengus kasar. Ia menatap Tian dengan amarah yang terlihat jelas di raut wajahnya. Tanpa terasa air mata yang ditahannya menetes di pipinya.
"Kamu bilang mencintaiku! Bullshit! Fuck you, Tian," umpat Kiren.
"Ren, please... jangan ucapkan kata-kata yang tak pantas keluar dari bibirmu. Hubungan kita sudah terjalin 3 tahun dan kita sudah bertunangan."
"Lalu? Apa kamu pikir dengan kita bertunangan bisa membuatmu dengan bebas menyakiti perasaanku! Menghancurkan hatiku!"
"Aku sudah meminta maaf ke kamu, Ren. Aku ga bisa meninggalkan Vina. Dia begitu rapuh, aku ga sanggup membuatnya terluka lagi Ren."
"Kamu ga sanggup menyakiti Vina, tapi sanggup menyakiti aku? Di mana pikiranmu, Tian!"
Tian menghela napasnya. Percuma ia berbicara saat ini dengan Kiren yang sangat emosi saat mengetahui perselingkuhannya dengan Vina.
"Setelah kamu puas menikmati tubuhku, sekarang kamu juga menikmati tubuh wanita itu. Kamu gila Tian." Kiren berteriak histeris.
"Aku akan bertanggung jawab Ren. Aku akan menikahimu, tapi aku meminta satu hal ke kamu." Tian menatap mata Kiren. "Setelah kita menikah, ijin aku juga menikahi Vina. Aku harus bertanggung jawab juga padanya.
Dada Kiren bergetar. Rasa sesak dan sakit mendera hatinya. Betapa teganya Tian meminta ijin menikah lagi di saat pernikahan mereka belum juga terlaksana. Kaki-kakinya melemas, ia tak pernah menyangka kata-kata kejam itu terucap dari bibir pria yang telah ia berikan seluruh hatinya.
Tian melangkahkan kakinya meninggalkan Kiren. Ia mengerti betapa sakit dan hancurnya hati tunangannya, tapi ia sebenarnya juga tidak dapat meninggal Kiren. Ia memang mencintai Kiren, tapi tak bisa dipungkiri Vina juga perlahan masuk ke dalam hatinya.
Kiren, wanita yang selalu membantunya di saat masa-masa sulitnya. Ayah Kiren yang berprofesi sebagai pengacara yang melancarkan jalannya menjadi pengacara sukses seperti sekarang. Ada rasa hutang budi sekaligus rasa bersalah di dalam hatinya membuat wanita itu terpuruk.
Entah apa yang nanti akan dikatakannya kedua orang tua Kiren dan orang tuanya jika tahu semua kelakuannya. Sangat sulit mencintai 2 orang wanita secara bersamaan. Kiren begitu baik dan lemah lembut, tapi Vina juga sama baiknya. Vina bisa membuatnya tertawa lepas saat bersamanya, tapi saat bersama Kiren itu menjadi berbeda.
Kiren menatap punggung Tian yang secara perlahan pergi menjauh darinya. Atap gedung kantornya yang luas seakan menjadi sempit membuatnya merasakan begitu sesak. Napasnya tersengal-sengal membuatnya kesulitan untuk menghembuskan napas.
Fabian yang berada di atap gedung tak sengaja mendengar pembicaraan Kiren dan Tian. Ia sengaja ke sana untuk merokok dan mengetahui betapa kejamnya perkataan Tian pada Kiren. Memang ia baru mengenal saat berpacaran dengan Aurel setahun yang lalu.
Melihat Kiren yang begitu terguncang dengan ucapan Tian membuatnya tak tega. Fabian pun mendekatinya dan duduk di samping Kiren.
"Bian," ucap Kiren terkejut kehadiran laki-laki itu di sana.
Tanpa Kiren duga Fabian merengkuh tubuhnya membawa ke dalam dekapannya yang terasa begitu hangat.
"Menangislah Ren. Menangislah," bisik Fabian lembut sambil membelai punggung Kiren.
Bisikan lembut Fabian mampu membuat air mata Kiren mengalir dengan deras di pipinya. Kiren menangis entah berapa lama sampai membuat kemeja yang dikenakan laki-laki itu basah.
"Terima kasih, Bian," ucap Kiren yang mulai merasa lega saat ia menangis di dalam pelukan Fabian.
Jari jemari Fabian mengusap lembut air mata di pipi Kiren. Mereka saling menatap secara Fabian mendekati bibir merah Kiren dan menciumnya. Mata Kiren terbelalak, ada rasa keterkejutan di balik ciuman Fabian di bibirnya. Ciuman Fabian begitu lembut dan ia tanpa sadar membalasnya.
Setelah puas berciuman Kiren membuang wajahnya. "Kita ga boleh begini Bi," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
Fabian terdiam. Ia mendudukan kepalanya sama sekali tak menyangka mencium bibir Kiren. "Maaf aku. Aku terbawa suasana."
Senyum pahit terukir di wajah Kiren. Ia juga sama seperti Fabian terbawa suasana.
"Aku benar-benar minta maaf Ren. Aku..." Fabian tak mampu melanjutkan perkataannya.
Kiren menghembuskan napasnya perlahan. "Aku mengerti. Anggap saja kejadian ini ga pernah terjadi."
Fabian tidak menjawab perkataan Kiren. Ia hanya tersenyum masam menatap wanita yang sedang terluka itu.
"Apa kamu akan menikah sama Tian?" tanya Fabian.
"Entahlah..." Kiren sendiri tak tau harus menjawab apa.
"Kalau menurutku Tian egois. Jika ia mencintaimu tak akan pernah ada wanita lain."
"Iya. Aku tau itu, tapi aku mencintai Tian."
"Memang ini sulit Ren, tapi belum kalian resmi menikah saja laki-laki itu sudah meminta ijin menikah lagi. Apa kamu yakin bisa berbagi suami, perhatian, kasih sayang dengan wanita lain?"
Kiren tahu semua perkataan Fabian tak salah. Sanggupkah ia berbagai suami dengan wanita lain? Sekarang saja Tian sudah memperlakukannya seperti ini, bagaimana jika nanti mereka menikah?
"Pikirkan perkataanku, Ren. Kamu bukan wanita lemah yang hanya pasrah diperlakukan acara tidak adil sama pria yang tak menghargaimu," ucap Fabian bangkit dari samping Kiren.
Kiren hanya menundukan kepalanya. Ia membiarkan Fabian pergi dari atap gedung. Lebih baik ia memikirkan semuanya secara baik-baik daripada semakin menghancurkannya.
Semalaman Kiren memikirkan semuanya dan ia menghubungi Tian.
"Tian, jika kamu ingin meneruskan pernikahan kita dan mencintaiku tinggalkan Vina. Aku ga mau berbagi apapun dengan wanita lain," ucap Kiren tegas dibalik telepon.
"Maaf Kiren, kalau kamu tidak mau dengan persyaratanku untuk menikahi Vina juga lebih baik kita putuskan pertunangan ini dan pernikahan kita tidak akan pernah terlaksana," balas Tian.
Hati Kiren tercabik-cabik. Lelaki itu lebih memilih wanita lain dibandingkan dirinya yang selama 3 tahun menemaninya.
"Baiklah jika itu pilihamu. Lebih baik semuanya gagal dan hancur daripada aku harus bersama dengan laki-laki bajingan sepertimu dan kamu yang harus mengatakan ke orang tua kita dengan semua kelakuanmu." Kiren langsung memutuskan komunikasi dengan Tian.
Air mata Kiren kembali terjatuh di pipinya. Kenangan kejam 6 bulan yang lalu kembali terkenang dalam kepedihan hatinya. Bayangan masa lalu ternyata begitu membekas terlalu dalam di benaknya. Ia mengutuk takdirnya yang begitu kejam.
Tak peduli bagaimanapun cara Kiren ingin menghapus dan melawannya, kenangan pahit dan menyakiti itu selalu datang menghampirnya.
Kiren sedang sibuk di ruang kerjanya, ia sedang mengerjakan desain iklan untuk produk terbaru dari salah satu perusahaan makanan. Lebih baik ia fokus mengerjakan semua pekerjaannya hingga tak ada waktu lagi untuknya memikirkan pernikahan Tian.
"Ren, makan siang dulu yuk," ajak Aurel yang kepalanya muncul di depan ruangannya.
Kiren menengadahkan kepalanya dari layar komputer untuk sesaat lalu kembali fokus. "Nanti saja aku belum selesai."
Aurel mendengus melihat Kiren yang mulai gila bekerja lagi. Dulu selama 2 bulan sahabatnya itu melakukan hal yang sama saat pertunangan dengan Tian gagal dan berakhir masuk rumah sakit, tapi sekarang Kiren melakukan hal yang sama lagi. Tanpa memperdulikan Kiren yang sibuk dengan mouse komputer Aurel mendekati sahabatnya.
"Ayolah Ren, temani aku makan siang," ucap Aurel menarik lengan Kiren.
"Nanti saja Rel. Aku lagi nanggung," ujar Kiren berusaha melepaskan lengannya dari tarikan Aurel.
"Aku ga mau tau, kamu harus makan siang bareng aku." Aurel masih terus menarik-narik Kiren.
Tarik menarik terjadi di depan meja kerja Kiren sampai tanpa sengaja Aurel menyenggol segelas kopi yang ada di sana dan tumpah di atas tumpukan-tumpukan berkas-berkas penting.
"Aurel!" Kiren membentak Aurel dengan keras. "Sudah aku bilang jangan ganggu aku! Apa kamu ga bisa mendengar perkataanku!"
Aurel sangat terkejut. Matanya berkaca-kaca menatap tak percaya Kiren membentaknya. Baru kali ini Kiren memperlakukannya secara kasar. Suara Kiren yang keras terdengar sampai ke ruangan Fabian dan beberapa pekerja yang ada di sana.
"A-aku... ma-af Ren. Aku ga sengaja," ucap Aurel terbata-bata dan menundukan wajahnya.
Kiren menutup matanya sambil memegang keningnya yang mendadak pusing. Ia tak bermaksud untuk membentak Aurel, tapi ia merasa sangat terganggu dengan tindakan Aurel yang merusak moodnya. Fabian langsung masuk ke ruangan Kiren.
"Kamu baik-baik saja Sayang?" tanya Fabian melihat wajah Aurel yang tampak pucat.
Kiren melirik tajam ke arah Fabian. Terbesit rasa cemburu dalam hatinya saat laki-laki yang baru tadi malam berhubungan intim dengannya mengucapkan kata SAYANG ke Aurel. Fabian tidak memperdulikan tatapan Kiren, ia merangkul pundak Aurel dan membawanya keluar dari ruangan Kiren.
Tangan Kiren mengepal. "Dasar anak manja!" gumamnya pelan sambil menatap Aurel dan Fabian yang keluar dari ruangannya.
Ia memanggil office boy untuk membereskan semua kekacauan yang dibuat Aurel dan keluar dari ruangannya untuk menenangkan diri sejenak. Saat berjalan keluar dari kantor ia melirik Aurel yang menangis dan sedang ditenangkan oleh Fabian.
Selalu saja kamu memproritaskan Aurel, Bi. Hanya ada dia di matamu sedangkan aku hanya kamu butuhkan saat untuk menyalurkan napsu liarmu. Kiren berkata dalam hatinya.
Di atas atap gedung perusahaannya untuk menenangkan diri sejenak. Kiren mengambil vape dari jas kuning yang dikenakannya. Menghisap cairan nikotin mentol dengan rasa melon dan menghembuskan asapnya keluar dari bibirnya.
"Kamu kenapa melampiaskan kekesalanmu ke Aurel, Ren?" tanya Rio yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Kiren mendongakan kepalanya. "Kamu mau jadi pahlawan lagi untuk Aurel, Rio." Suaranya terdengar mengejek Rio.
Rio menghela napasnya. "Bukan begitu maksudku, Ren. Aku ga mau jadi pahlawan untuk Aurel sudah ada si Bian si pahlawan yang dibutuhkan Aurel."
"Lalu ngapain kamu ke sini. Ga ikut sekalian menghibur si anak manja tak berguna itu," ucap Kiren ketus.
"Ren, kita kan berteman bertiga dari dulu dan tau pasti sifat Aurel yang memang manja bukan seperti kamu yang selalu tegas dan periang."
"Lalu memangnya aku juga ga berhak untuk manja? Memangnya hanya dia saja yang selalu mendapatkan semua keuntungan dari hasil kerja keras. Ia cuman jadi adminitrasi mengurus hal-hal yang tak begitu penting dibandingkan aku harus mengurus desain klien yang ada masa tenggang waktunya."
"Aku tau kamu kesal, jengkel, marah, tapi apa bisa dibenarkan sikapmu yang membentaknya kasar seperti itu?"
"Lalu apa bisa dibenarkan dengan kekacauan yang dibuatnya? Berkas-bekas penting dia buat berantakan dalam sedetik sedangkan aku yang mengerjakan semuanya berjam-jam."
"Perbuatan Aurel juga ga bisa dibenarkan, tapi agensi yang kita dirikan ini milik bersama Ren."
"Milik bersama katamu? Hei Rio, agensi ini kita berdua yang dirikan dan dalam surat-surat PT hanya ada nama kita bukan nama Aurel. Kenapa kamu bisa bilang ini agensi milik bersama Aurel?"
"Ren bukan begitu maksudku. Kamu jangan salah paham dulu."
"Stop!" Kiren berdiri dari tempat duduknya. "Kamu ga usah mengaturku, apapun yang aku lakukan bukan tanpa alasan."
"Apa alasannya Ren?"
"Kamu ga perlu tau apa alasanku." Kiren beranjak pergi meninggalkan Rio.
Alasanku karena aku cemburu Fabian selalu mementingkan Aurel. Kiren berkata dalam hatinya sambil berjalan keluar dari gedung.
Kiren, Aurel, dan Rio bersahabat semenjak mereka kuliah. Tak ada rahasia diantara mereka bertiga sampai Aurel berpacaran dengan Fabian dan sibuk bersama kekasihnya. Setelah lulus kuliah Kiren dan Rio, akhirnya memutuskan untuk berkerjasama membuka agensi periklanan atau advertising, Next Digital Media.
Next Digital Media sendiri merupakan bisnis yang bergerak dalam menyediakan jasa periklanan bagi klien untuk membantu perusahaan-perusahaan baik dari mikro besar dan kecil untuk meningkatkan penjualan.
Rudi, ayah Kiren yang berprofesi sebagai pengacara banyak mengenal pimpinan dari beberapa perusahaan. Berkat Rudi, perusahaan yang didirikan Kiren dan Rio banyak mendapatkan klien yang membutukan tenaga agensi periklanan. Sehingga banyak klien-klien yang mereka tangani sehingga membuat agensi mereka dikenal banyak kalangan.
Aurel yang lulus setahun setelah Rio dan Kiren ikut bekerja bersama Kiren dan Rio dengan membawa Fabian. Fabian yang dulu bekerja di salah satu perusahaan televisi swasta ikut bergabung di Next Digital Media menjadikan agensi mereka merambah promosi lewat televisi, radio, internet atau media sosial lainnya.
Lama-lama Kiren mulai dekat dengan Fabian. Dulu dikiranya Fabian orang yang angkuh, tapi ternyata ia salah. Fabian begitu hangat dan terbuka walau tidak banyak bicara mirip seperti sifat Tian. Mereka berempat pun menjalan agensi periklanan dengan posisi di bidangnya masing-masing untuk membesarkan perusahaan.
Rio, sebagai direktur mengambil setiap keputusan untuk perusahaan dan terkadang juga datang untuk bertemu klien. Kiren, sebagai penata konsep dan desain promosi dan terkadang juga bertemu dengan klien. Fabian, sebagai pihak yang akan mempresentasikan cara-cara untuk membuat klien tertarik dengan ide-ide promosi peningkatan penjualan. Sedangkan Aurel, sebagai administrasi pengelolaan anggaran. Mereka semua berperan penting dalam jalannya perusahaan.
Setelah 3 tahun agensi berjalan semuanya berubah saat batalnya pertunangan Kiren dan Tian. Hidup Kiren semakin jadi berantakan dan semakin berubah saat ia menjalin hubungan terlarang dengan Fabian. Mungkin inilah cara Kiren menghancurkan dirinya sendiri seperti hatinya yang sudah hancur.