Bab 1

Malam ini aku sedang melakukan ibadah yang paling disukai oleh semua pasangan suami istri, Apa lagi kalau bukan hubungan suami istri. Di usia pernikahan yang terbilang lumayan lama, Aku menikah dengan mas Adam lima tahun yang lalu. Namun kami masih belum di karuniai seorang anak. Entah apa yang salah. Padahal kegiatan seks kami tergolong rutin hanya saja Setiap kami berhubungan, aku seperti tak pernah merasakan apa yang selalu aku ingin rasakan.

Seperti malam ini, Mas Adam melakukan aksinya yang paling menggairahkan menurutnya. Tapi tidak menurutku.

"Ah, sayang. Terus, aku hampir sampai." MAs Adam terus meracau sembari ia terus memompa pinggulnya. Sedangkan aku yang berada di bawah hanya diam. Aku merasakan kehampaan dalam hubungan bercinta ini.

Tak berapa lama Mas adam pun terkulai lemas. Ini yang membuat aku tak pernah bersemangat melakukan hubungan suami istri dengan mas Adam. Karena aku tak pernah merasakan kepuasan itu.

Mas adam langsung menganggkat pingglnya dan ia berbaring di sampingku. Sedangkan aku langsung ke kamar mandi membersihkan sisa-sisa cairan yang tertinggal. Di dalam hati aku selalu mengerutu. Saat aku kembali ke kamar, aku melihat mas Adam sudah terlelap.

Aku pun duduk di sofa sembari mengambil sebatang rokok kemudian aku memantikkan api di ujungnya. Aku menyandarkan kepala sembari menikmati sebatang rokok. Entah setan apa yang merasuki otakku.

Aku seketika teringat dengan mantan sekasihku sebelum mas Adam. Dan aku teringat bagaimana permainan ranjangnya. Saat aku menutup mata pun, Aku merasakan detak jantungku sangat cepat dan ada sesuatu yang berkedut di bawah sana.

"Hany, apa kabar kamu sekarang?" Gumamku tanpa sadar memanggil namanya.

Aku masih menutup mata, namun kini tanganku seperti memiliki reflek tersendiri. Tanganku menyusuri tubuhku sampai ke bawah. Sedangkan tangan satunya masih memegang rokok dan aku terus menghisapnya.

Ingatan itu kembali, dan seketika tubuhku merasa sangat panas.

Flashback

Aku dan Hany beciuman di ruang tamu, ciuman yang selalu membuatku ingin merasakan lebih.Kini tangannya semakin trun ke bawah dan menggeser tapi dres yang aku kenakan. Kecapan demi kecapan masih terdengar sangat nyaring memekakkan telinga.

"Ahh, Hany," kataku ketika Hany tengah mencium leherku dengan lembut. Ia pun tersenyum dan memandang wajahku.

"Apa sayang?" tanya Hany.

Aku hanya terdiam. Namun dalam hati menginginkan yang lebih. Hany selalu bisa memanjaakanku dengan caranya sendiri. Kini aku pun di baringkan di sofa, Hany perlahan melepas Dres yang aku kenakan.

"Kamu masih sama. Selalu menggairahkan di mataku." Puji Hany sembari memainkan kedua gundukan kenyal ku. Aku hanya bisa mendesah keenakan dengan apa yang Hany lakukan.

" Teruslah mendesah, Sayang. Itu membuatku bahagia." Kata Hany sembari terus memijit, namun matanya tetap memandang ke arahku.

"Jangan begitu sayang. Aku malu," ucapku sembari memalingkan wajah.

"Kenapa malu, Aku suka kok." Hany pun berbisik sembari ia menempelkan mulutnya ke telingaku.

"Asssh," Aku kembali mengeluarkan desahan dengan apa yang HAny lakukan. Kini aku meremas rambut dan pundaknya.

"Terus sayang, jangan di tahan. Aku suka." Pinta Hany.

Dan tak membutuhkan waktu lama kami sudah telanjang di ruang tamu. Hany memandangku dengan penuh damba, sedangkan aku hanya tersenyum malu.

"Sekarang ya sayang?" Tanya Hany sembari ia memainkan jemarinya di intiku. Aku sudah tak bisa berkata apapun sekarang. Hanya ingin segera menyelesaikan apa yang serasa ingin meledak di bawah sana.

Hany kini melumat bibirku penuh nafsu, dan aku semakin menggila karena permainannya. Hany langsung melepas ciumannya dan memandang wajahku. Dia pun langsung bergeser ke bawah. Kini wajah Hany sudah berada di depan inti tubuhku, bahkan hembusan nafasnya pun terasa sangat lembut menerpa kulit sensitifku.

"Ah, udah nggak kuat yank," racauku.

Namun Hany hanya tersenyum melihatku yang sudah horny berat.

"Bersiaplah sayang." Kata Hany.

Ia pun langsung menciumi intiku dengan lembut. Aku hanya bisa mencengkeram rambutnya dan menggigit bibir agar desahanku tak keluar. Namun itu membuat Hany menggila. Karena memang Hany leih suka mendengar lawan mainnya expresif. Tak hanya dengan mulut, ia pun terus memasukkan jari ke dalam intiku.

"Udah nggak kuat aku, Sayang," kataku.

"Katakan apa maumu?" Pinta Hany dengan memperlihatkan senyum menawannya.

" Please, Han. Lakukan sekarang." Pintaku.

" Lakukan apa?" Tanya Hany masih terus dengan memaju mundurkan tangannya di bagian inti tubuhku. Aku yang sudah tertutup kabut nafsu pun langsung duduk, dan otomatis tangan Hani terlepas dari inti tubuhku. Hany terkejut untuk sesaat namun ia pun langsujng tersenyum.

Aku pun langsung melahap pusakanya dengan sangat rakus. Hany pun tersenyum menikmati permainanku.

" Yeah, terus sayang." Katanya sembari memaju mundurkan pinggulnya.

Aku semakin tak tahan di buatnya. Kiniaku pun mendorong Hany ke sofa, dan aku langsung duduk di pangkuannya. dengan perlahan aku memasukkan pusakanya di dalam intiku. Hany tampak menikmati sembari menutup matanya.

"Yeah, terus sayang." Hany terus meracau Sembari mennggoyangkan pinggulnya.

" Aku hampir sampai." Kataku.

" Ganti yank." Perintah Hany.

Dengan cemberut Aku pun menuruti permintaan Hany. Kami berganti posisi. Kini Hany yang memegang kendali. Ia terus memompa pinggulnya sembari terus mengeluarkan kata-kata yang memkbangkitkan gairah.

" Sedikit lagi." Kini ia semakin cepat mengehentakkan pinggulnya. Dan tak berapa lama kami terkulai lemas, dengan Hany berada di pelukanku.

" Terima kasih, sayang." Kata Hany sembari mencium keningku. Aku hanya tersenyum dan tak berniat menjawap perkataannya.

Flashback off.

Tanpa sadar jemariku sudah menari di bagian intiku yang sudah basah. Hanya dengan mengingat setiap apa yang hany lakukan padaku suah membuatku sangat basah.

'Tuhan, kenapa aku sangat merindukannya sekarang?' gumamku dalam hati.

Aku memutuskan untuk menyudahi khayalan yang tengah menyiksaku. Aku pun ke kamar mandi, berniat untuk membersihakn sisa-sisa permainan solo ku.

Sesampainnya di kamar mandi, saat aku ingin membersihkan bagian dalamnya malah aku merasakan ada sensasi tersendiri dari sentuhanku. Aku hanya bisa membayangkan tentang Hany, Entah kenapa hanya dirinya yang saat ini tebayang di dalam ingatanku.

Lumayan lama aku melakukan solo, dan aku merasakan lebih baik di banding sebelumnya. Aku pun memutuskan untuk membesihkan diri. Saat aku keluar kamar mandi hanya menggunakan kimono di badan. Aku pun memutuskan untuk merebahkan tubuhku di sofa. Entah kenapa aku sudah tidak ada selera dengan mas Adam.

Paginya, aku terbangun dengan tubuh lebih fres. Saat aku membuka mata, Mas Adam sudah tak berada di atas ranjang. Aku pun berjalan keluar kamar mencari keberadaan mas Adam.

" Hay, sudah bangun sayang?" Sapa mas Adam.

" Iya mas, Mas kok sudah rapi?" Tanyaku.

" Iya. Mas ada rapat pagi ini mungkin sampai sore. Kamu bisa kan mewakili mas hadir di pernikahannya Rama?" Tanya Mas Adam.

" Oke lah. Nanti aku akan datang ke pernikahannya Rama." Jawabku.

" Oke. Mas sudah siapkan sarapan untukmu Dan mas berangkat dulu ya." Kata Mas Adam sembari mencium keningku.

Bab 2

Pagi itu, aku pun sarapan dengan menu yang sudah disiapkan oleh mas Adam. Setelah ini aku akan menghadiri resepsi pernikahan Rama dan Farin. Selesai sarapan, aku pun langsung bersiap untuk mandi. Sebelumnya aku sudah cek undangan resepsi pernikahan yang harus aku hadiri.

Setelah selesai, Aku pun memilih busana dengan nuansa putih. Aku memilih menggunakan dress dengan bahan renda di bagian dada dan lengan. Dress selutut yang pas di badan dengan belahan lima senti di bagian belakang. Aku pun memilih menggerai rambut panjangku. Ku sematkan anting kecil dan juga kalung dengan liontin jangkar di leher. Menambah kesan anggun yang aku miliki.

Aku memilih menggunakan sepatu dengan hak sedang, tidak terlalu tinggi karena aku akan menghadiri resepsi di sebuah rumah di pinggiran kota bukan di sebuah hotel mau pun gedung mewah, pikirku. Tak lupa aku memasukkan dompet serta gawai di dalam tas tanganku yang berwarna silver, dengan ornamen mutiara air tawar di bagian depannya.

Setelah selesai merias diri, aku pun langsung mengambil kontak mobil yang ada di atas nakas sembari aku berjalan keluar rumah. Aku pun melajukan mobil sesuai dengan arahan Google map. karena aku memang belum pernah mengunjungi lokasi itu.

Rama adalah salah satu teman kerja Mas Adam. Bahkan mereka sudah seperti saudara. Namun kini di hari pentingnya Rama, Mas Adam tak dapat menghadirinya. Sebenarnya aku pun malas untuk datang jauh-jauh. Namun kalau aku tak datang, tak enak juga dengan mas Adam mau pun dengan Rama.

Setelah menempuh jarak sekitar tiga puluh menit, sampailah aku di sebuah alamat yang di tunjukkan. Ternyata dugaanku salah, tempak ini bukanlah di pinggiran kota. Namun memang sedikit terpencil. Namun memiliki kesan yang estetik, Aku pun keluar dari mobil sembari memandang ke segala arah. Berharap aku menemukan orang yang bisa aku ajak ngobrol. Namun nihil, tak ada siapa pun yang aku kenal. Sembari aku melangkah memasuki gedung, aku pun kembali menggunakan masker.

Bukannya apa, sejak marak dengan kasus covid-19. Aku lebih memproteksi diri, aku lebih sering menggunakan masker saat keluar rumah. Aku pun memasuki gedung sembari mengedarkan pandang ke sekeliling gedung. Tampak perempuan penjaga tamu melemparkan senyum padaku.

Aku pun membalas senyumnya sembari mengisi buku tamu. Kemudian aku mengambil soufenir yang menurutku sangat unik. Soufenirnya adalah pohon kaktus kecil dengan bunga merak di atasnya. Aku pun kembali mengayunkan kaki menuju panggung pernikahan. Aku pun menyalami kedua mempelai sembari tersenyum.

" Rama, maaf ya Mas Adam nggak bisa datang. Katanya ada rapat pagi ini." terangku.

" Iya, terima kasih sudah hadir." jawab Rama.

Aku pun tersenyum dan kini aku beralih pada pengantin perempuan, bersalaman dan cipika cipiki.

" Selamat ya, semoga sakinah, mawadah, warohmah ya." Kataku.

" Terima kasih mbak." Kata Farin, sang pengantin perempuan.

Aku pun kini turun dari panggung, dan aku mencoba mengayunkan kaki ke arah hidangan. Aku pun mengambil piring dan mengisi dengan sedikit nasi di atasnya. Kemudian aku menambahkan acar serta bistik ayam. Dalam acara nikahan acar adalah makanan faforitku. Aku pun kini duduk di meja yang masih kosong di bagian belakang. Aku memang sedari dulu paling tak suka dengan sesuatu yang mencolok. Tak lupa aku pun mengambil es sirup khas pernikahan

Aku pun melepas masker yang masih menutupi hidung dan mulut, aku pun melipat masker. Dan kini aku mulai menikmati makanan di atas piring.

Tak berapa lama aku di kejutkan dengan datangnya seorang pria dan duduk di sampingku.

" Hay, sayang." Sapa pria itu.

Aku yang terkejut pun hampir tersedak di buatnya.

" Slow, minum dulu." Tawar pria itu sebari menyodorkan minum yang tadi aku ambil.

Aku masih belum menyadari siapa pria yang membuatku jantungan. Aku pun mengambil gelas dari tangan pria itu kemudian aku meneguk habis. Baru kemudian aku mengalihkan pandang ke arah pria yang membuatku tersedak. Aku hanya bisa melongo dan tak percaya dengan pengelihatan ku sendiri.

" Kenapa? terkejut ya? nggak percaya ya?" tanya pria di sampingku sembari ia menggerakkan alisnya naik turun. Sedangkan au masih terdiam seolah tak percaya.

" Hey, kenapa melamun?" tanyanya lagi.

" Sorry, aku nggak nyangka aja bisa ketemu kamu di sini." jawabku dengan gugup.

Bagaimana aku tak gugup. Pria yang semalam aku bayangkan saat aku bercinta dengan suamiku, kini berada di sampingku. Pria yang pernah hadir di dalam hidupku mengisi keseharian ku.

" Dunia memang sempit, aku nggak nyangka kalau kita akan bertemu di sini." kata Hany sembari ia tersenyum sembari menyangga dagunya menggunakan tangan kanannya.

" Kamu, kenal juga dengan pengantinnya?" tanyaku. Aku masih susah payah mengontrol degup jantungku.

" Iya. Rama adalah teman kerjaku sekarang. Sedangkan kamu?" tanya Hany.

" Rama dulunya adalah teman suamiku." kataku sembari tertunduk.

" Ah, rupanya kamu sudah menikah."

entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan kekecewaan dirinya.

" Iya. Aku sudah menikah tiga tahun." terangku.

"Sudah lama juga, ya. Aku pikir kamu tak akan bisa move one." katanya sembari tersenyum.

" Ah, begitu ya? Lalu dimana istri kamu? Katanya waktu itu kamu langsung menikah dengan seorang wanita?" Tanyaku.

" Iya, aku sudah menikah. Hanya saja, perempuan yang berstatus istriku itu, bukanlah istriku sesungguhnya," terangnya.

Aku pun terdiam masih melanjutkan hidangan yang masih tersisa di atas piring.

" Setelah ini mau kemana?" tanya Hany.

" Aku sih nggak ada acara hari ini. Kenapa memang?" tanyaku.

" Aku pengen ngajak kamu makan." katanya.

" Ah kau lupa? Ini aku sudah makan." kataku datar.

" Kalau begitu aku akan mengajakmu jalan-jalan." Katanya lagi.

" Baiklah. Apa kamu bawa mobil? Atau mau bagaimana?" tanyaku.

" Nanti mobilku biar di bawa sama temen, jadi aku nebeng kamu saja ya." terangnya.

" Oke lah kalau begitu." kataku.

Tak berapa lama setelah aku selesai dengan hidangan yang ada di atas piring, Hany beranjak dari duduknya. Dan ia berjalan ke salah satu meja dimana es cream cap berjejer. Tak berapa lama, ia pun kini kembali sembari menyodorkan cap es cream kepadaku.

" Buat mencuci mulut." katanya.

" Mencuci mulut itu dengan air. Bukan dengan Es." gerutuku sembari menyendokkan es ke dalam mulutku.

" Ya pokoknya gitulah." katanya.

Aku pun tak berniat menjawab ucapannya.

" kok kamu belum memiliki momongan? Apa kalian memang sengaja menundanya?" tanya Hany.

" Nggak juga. Kami nggak menundanya. Mungkin memang belum di kasih saja." kataku.

" Atau mungkin," katanya tertahan.

Aku pun reflek memandang manik matanya. Manik mata yang dulu bisa meneduhkan dan bisa mendamaikan hati Tampak ia tersenyum nakal. Aku tahu apa yang ia pikirkan. Namun aku berlagak tak tahu.

Bab 3

Ya sudah kalau begitu kamu pulang bareng aku saja." Kataku.

" Oke. Nggak masalah. Nanti mobilku biar di bawa temen dulu." Kata Hany.

Kami pun beranjak dari duduk, dan Hany tampak berjalan keluar gedung sembari mengandeng tanganku. Ia pun mendekati temannya.

"Wan, nitip mobil di rumah loe ya." Kata Hany.

"Oke deh." Jawab Iwan sembari mengambil alih kontak mobil yang Hany berikan.

"Ayo, kita jalan. Mau ke mana kita?" Tanya Hany.

Aku masih diam membisu, aku tak tahu harus bagaimana. Yang jelas, aku bahagia bertemu dengan Hany.

"Kita ke taman saja ya." Kata Hany.

"Jangan. Kalau bisa kita ke suatu tempat yang nggak banyak orang tahu." Pintaku.

"Apa kamu memberikan klu? Untuk sebuah hotel?" Goda hany.

Tanpa sadar, wajahku sudah sangat merona. Sungguh Hany sangat tahu isi otakku. Bahkan kini masa-masa aku bercinta dengannya sangatlah terlihat jelas di depan mata. "Bagaimana bisa?" Batinku.

Hany pun melajukan mobilku, sedangkan aku sudah gelisah sedari tadi. Tiba-tiba, Hany mengenggam tanganku. Aku reflek memandang manik matanya, dan ia tampak tersenyum.

"Kenapa kamu gelisah?" Tanya Hany dengan lembut.

Sedangkan aku hanya diam membisu. Menikmati setiap sentuhan yang Hany berikan. Dan kini aku hanya menutup mata, Saat di lampu merah, Hany langsung melumat bibirku. Awalnya aku benar-bener terkejut. Namun karena ia sangat pandai memainkan lidahnya pun membuatku seakan melayang dan menuntut lebih.

Aaaaah, desahanku lolos begitu saja. Namun seketika, ia melepas ciuman panas kami. Dan aku langsung membuka mata.

"Sabar sayang, lampunya sudah hijau." Kata Hany sembari ia mengusap sisa Saliva kami yang ada di pinggir mulut menggunakan ibu jarinya, kemudian menjilati jemarinya.

Aku masih terdiam. Melihat apa yang Hany lakukan.

"Kamu masih sama seperti dulu sayang. Selalu membuatku ketagihan." Pujinya.

Sedangkan aku masih terdiam dan tersipu malu.

"Apa kamu nggak mengingat masa-masa indah kita?" goda Hany sembari mengusap pipiku.

"Sudahlah Han. Jangan membuatku malu." Kataku.

"Kita ketempat biasa saja, oke." Kata Hany sembari ia menambah kecepatan mobilnya. Sedangkan aku hany diam membisu.

Walaupun aku tahu, kalau tujuannya adalah rumahnya yang ada di puncak. Hanya saja, aku tak percaya kalau Hany masih mengingat tempat itu. Karena tempat itu adalah tempat dimana kami akan menua nanti.

Matahari merangkak semakin naik. Namun suasana di puncak sangat sejuk dan berkabut. Sedangkan saat ini aku hanya mengenakan dress yang bisa di katakan terbuka. Aku pun mulai menggosokkan tangan di lenganku, karena hawa dingin di puncak sudah sangat menusuk tulang.

"Dingin ya sayang?" Tanya Hany sembari ia menepikan mobilnya.

Aku hanya diam membisu. Sedangkan Hany langsung melepas jasnya dan ia memakaikan di pundak ku.

"Tunggulah sebentar. Nanti aku akan membuatmu semakin panas." Goda Hany sembari meremas kedua daging kenyal yang sedikit terekspos.

Aku sangat terkejut, namun aku juga sangat menikmatinya. Sungguh, setiap sentuhan yang Hany lakukan selalu membuat candu bagiku.

"Sebentar, sayang. Sudah dekat kok." Katanya sembari tersenyum.

Kemudian ia pun melajukan kembali mobilnya. Kemudian, gawaiku berdering di dalam tas. Aku pun langsung membuka tas dan melihat nama yang terpampang di layar. Ternyata suamiku mas Adam.

"Bentar han, suamiku telpon." Kataku.

Hany hanya menganggukkan kepala.

"Iya mas, ada apa?" Tanyaku.

"Sayang, maaf mas mendadak ada acara survey lokasi ke Surabaya. Mas ini sudah di airport." Terangnya.

"Kok mendadak sekali?" Protesku.

"Iya sayang. Tadi, setelah rapat langsung dapat kabar ada masalah di sana. Dan mas harus langsung ke sana. Maaf ya sayang." Terangnya lagi.

"Berapa hari mas?" Tanyaku.

"Tiga hari sayang. Sudah ya sepertinya mas akan segera masuk." Katanya.

"Iya. Hati-hati." Kataku. Kemudian panggilan terputus.

Aku pun kembali memasukkan ponselku ke dalam tas.

"Suami kamu ke luar kota?" Tanya Hany dengan binar bahagia.

"Iya. Kenapa kamu keliatan bahagia?" Godaku.

"Berarti aku bisa puas bernostalgia dengan mantan pacarku." Kata Hany.

Aku hanya terdiam. Dan tak berniat menjawab ucapannya. Tak berapa lama, sampailah kami di kediamannya. Hany pun langsung turun dari mobil dan langsung membukakan pintu untukku.

"Silahkan sayang," katanya.

Aku pun tersenyum.

Kami berjalan memasuki rumah sembari mengandeng tangan ku.

"Silahkan duduk." Kata Hany.

"Han, apa aku bisa ke kamar mandi?" Tanyaku.

" Tentu, silahkan. Apa perlu aku antar?" Goda Hany.

"Sudahlah Han. Jangan terus menggodaku." Kataku sembari berjalan ke arah kamar mandi.

Aku pun langsung pipis. Sudah menjadi kebiasaan ku, kalau aku sedang di hawa dingin pasti aku lebih sering ke kamar mandi. Saat aku selesai, dan hendak keluar tiba-tiba Hany sudah berada di belakangku. Dia pun langsung memelukku.

"Han," panggilku.

"Biarkan seperti ini, RI. Aku sangat merindukanmu selama tiga tahun ini." Katanya.

Aku pun diam dan mendengarkan detak jantungnya yang sangat kencang. 'hany, taukah. Aku juga sangat merindukanmu' batinku. Aku pun mendongakkan kepala memandang wajah Hany dari bawah.

"Kau masih sama menggodanya bagiku." Kata Hany.

Kemudian ia pun langsung mencium ku. Dia semakin menghisap lidahku, dan lidahnya pun terus menari di dalam mulutku. Membuat aku semakin terhanyut. Kini kedua tanganku sudah aku kalungkan di lehernya, sedangkan tangan Hany serasa di pinggangku. Walaupun aku berjinjit, namun sungguh ini sangat nikmat.

Aku pun sudah terlalu capek ketika berjinjit. Hany pun memandangku dengan heran.

"Tengkukku sakit " terangku.

"Tunggu. Aku akan memasukkan mobilmu di garasi lebih dulu. Biar nggak ada yang tahu kalau kita di sini." Kata Hany sembari ia beranjak dari kamar mandi. ¹

Ia pun memasukkan mobil ke garasi. Sedangkan aku kini menyusuri ruangan. Dan aku berjalan ke lantai atas, dimana di sana terdapat kamar yang sering kami gunakan bercinta dulu. Aku pun melepaskan jas milik Hany, dan meletakkannya di atas ranjang. Aku pun berjalan ke arah jendela. Hany kini sudah berada di belakangku. Dia pun melingkarkan keduanya di dalam perut dan meletakkan dagunya di pundak ku.

"Aku sangat merindukanmu, sayang." Kata Hany.

"Kenapa? Apa karena istrimu nggak di sini jadi kamu merindukanku? Kemana saja selama ini? Kenapa dulu kamu memilih menikah dengannya?" Tanyaku.

"Semua itu karena terpaksa. Itu semua tak seperti yang kamu bayangkan, sayang." Terangnya.

"Kalau begitu. Katakan." Kataku.

"Saat itu, Amina sedang hamil tiga bulan. Dan papanya memintaku untuk menikahinya. Dan karena aku berhutang Budi dengannya. Maka aku menyetujuinya. Tapi selama kami menikah, aku tak pernah menyentuhnya. Karena dia Memang tak mencintaiku. Begitu sebaliknya," Terangnya.

"Kenapa dia menolakmu? Mungkin karena belum merasakan permainanmu saja." Kataku sembari tertawa.

"Apa kau merindukanku?" Tanya hany.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Affair

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED