Bab 1

“Happy birthday Andre!”

Andre, tersenyum hangat, melipat kedua tangannya di depan dada untuk make a wish, mulutnya berkomat-kamit membuat gadis di depannya mencondongkan tubuh untuk mendengar jenis permohonan apa yang dikatakan pria itu. Detik berikutnya Andre membuka matanya dengan cepat lalu menatap gadis itu dengan tajam sehingga gadis itu merona dan mendudukan pantatnya sambil menekukan wajahnya tanpa menatap pria itu lagi. Dia sangat malu.

Meniup lilin, Andre berdecak “Kenapa lilinnya sangat banyak? Bantu aku meniupnya Ly.” Andre menggelengkan kepala, dia sudah melarang gadis itu untuk tidak merayakan ulang tahunnya dengan kue berbentuk hati serta taburan cokelat batangan yang menyerupai daun di atasnya. Oh, dan jangan lupa, ditengahnya ada angka dua puluh delapan dan tidak ada bagian atas dari kue itu tempat kosong tanpa lilin.

“Pelankan suaramu Andre Pranata. Aku Santa. Jangan memanggilku seolah aku berasal dari negara asalmu,” protesnya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya berubah menjadi masam, tidak bisakah pria di depannya ini mengucapkan kata-kata romantis yang membuat dia bangga telah melukai ketiga jari di tangan kirinya hanya untuk memecahkan telur ke dalam adonan kue itu?

Andre tersenyum hangat, mengangkat kepalanya setelah usahnya untuk meniup lilin yang super banyak itu. “Baiklah. Sekarang mana hadiahku?” Tangannya terulur ke depan wajah gadis itu, membuat gadis yang dipanggil Santa menggeleng pelan lalu menunduk.

“Aku cuma punya uang tabungan untuk membeli bahan kue” gumamnya dengan pelan tapi bisa di dengar oleh Andre. Menarik ujung jasnya, Andre berdiri dan duduk di kursi kosong di sebelah wanita itu.

“It doesn’t matter Ly. Maybe you my everything I need..” bisiknya sambil menarik gadis itu dalam pelukannya. “Ah, jangan berbohong pada dirimu sendiri. Santa Lyona! . Sekalipun kau mengganti kewarganegaraanmu, kau tetap berasal dari sana.”

Santa menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu, air matanya menetes pelan. Kenyataan yang berusaha dia hapus dari pikirannya. Kenyataan yang membuat dia tidak bisa memejamkan matanya saat malam atau menarik nafas lega saat fajar. Kenyataan yang membuat dia harus lari ke New York, meninggalkan semuanya di belakang tanpa berniat memandang itu lagi.

Bahwa pria yang dia peluk ini. Kekasih hatinya selama lima tahun, telah menikah.

Memejamkan matanya, Santa melepaskan pelukan mereka, menyeka air mata dengan punggung tangannya lalu mendesis “Kita akhiri saja semua ini” ucapnya dengan suara yang bergetar. Kedua matanya tertutup rapat beserta bahunya yang bergetar hebat. Dia terisak. Untung saja mereka berada di sudut cafe yang membuat mereka sedikit jauh dari jangkauan orang-orang yang akan membuat mereka menjadi pusat perhatian.

“Kau tahu itu tidak akan terjadi Ly. Kau sudah mengucapkan itu beratusan kali, dan aku akan tetap seperti semula.. tidak akan melepaskanmu.” Andre menegaskan kata-katanya yang dia sendiri tidak yakin kalau mereka akan bertahan berapa lama lagi, tapi dia sudah mencoba, mereka telah melakukan hal yang dikatakan Santa sejak satu tahun yang lalu, sejak dia dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis Ayahnya.

Santa menggeleng pelan, sedikit tidak setuju. “Kau sudah memiliki seseorang yang akan menunggu kau pulang di rumah. Dan..” menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan dengan keras “kau memiliki seorang putri yang menunggumu untuk membacakan dongeng sebelum tidur.” Suaranya tercekat, bahkan dia hampir gila saat lima tahun lalu mengasingkan diri ke sini, saat berita di televisi itu mengatakan pertunangan kekasihnya. Pria yang baru saja menyatakan perasaan padanya lalu beberapa bulan kemudian dia bertunangan dengan wanita lain?

“Ly?”

“Tunggulah sampai akhir tahun ini heum? Aku akan segera menceraikannya, perusahanku sudah bisa berdiri sendiri tanpa sokongan dana dari Ayahnya.”

Santa menggeleng tegas. “Kau gila Andre. Kau memiliki anak dengannya, kau mau apakan anakmu itu kalau kalian bercerai?”

“Aku tidak peduli.”

Mendesah, Santa berdiri, memundurkan kursi dan berjalan dengan langkah besar-besar untuk keluar dari sana. Mereka selalu seperti ini, terkadang keduanya berusaha melupakan fakta mengerikan itu, terkadang malah membuat mereka berakhir dengan pertengkaran seperti ini.

Andre mematung di tempatnya. Dia bukannya tidak mau menyusul gadis itu, hanya.. menurutnya gadis itu butuh waktu untuk sendiri. Lagipula gadis itu merupakan gadis yang tegar. Ya, Santa adalah sosok seperti itu dimatanya, dewasa dan tidak berpikir dangkal untuk mengakhiri hidupnya. Bahkan Andre yang senewen, saat malam pertamanya dia malah berangkat pada penerbangan pertama ke New York untuk memastikan bahwa gadis-nya baik-baik saja. Dan seperti dugaannya, gadis itu hanya tidak bisa tertidur, berpenampilan acak-acakan dengan mata yang sembab.

Hanya satu yang sangat disesalkan Andre. Ayahnya, menggunakan dirinya sebagai tameng untuk kejatuhan perusahan mereka. Sebenarnya Ayahnya tidak memaksa. Hanya Andre yang dilahirkan sebagai yang sulung harus merasakan beban itu harus dia pikul. Resikonya adalah dia kehilangan gadis yang amat dia cintai. Dering ponselnya membuat Andre tersentak, keningnya bertaut saat membaca nama penelepon.

“Hallo”

“Daddy!” Andre mengulum senyum mendengar suara anak perempuannya di seberang.

“Dad, malam ini cepat pulang. Lea dan Mommy sudah menyiapkan kejutan untuk~”

“~sudah Mommy katakan ini rahasia Lea, kenapa kau mengatakannya?” potong isterinya terdengar oleh Andre. “Andre, emm.. kau tidak lembur lagi `kan? Cepat pulang, kami menunggumu, bye.”

Andre tersenyum hambar. Dia merasa menjadi pria paling brengsek sekarang ini. Bagaimana mungkin dia dapat melakukan ini pada dua wanita yang baik itu? Dia tidak bisa berbohong kalau dia sudah jatuh cinta pada isterinya, dengan buah hati mereka sebagai pelengkap. Tapi dia juga sudah berkomitmen kepada kekasihnya, dia tidak bisa meninggalkan gadis itu saat banyak yang telah Santa korbankan untuknya. Waktu. Selama lima tahun tetap menerima Andre dengan status itu, Santa tidak pernah melakukan protes apapun.

Tapi jika dia bersama Santa, rasanya dia bisa melakukan apa saja. Menceraikan isterinya dan tidak mempedulikan Catalea, anak mereka. Andrew melipat kedua tangannya, menyanggah sikunya di atas meja, menundukan kepala dan dia berdoa.

***

Dia mendudukan tubuhnya di atas papan kayu mahoni, lantai kamarnya yang dingin. Air matanya seakan tidak pernah habis sejak lima tahun yang lalu. Dia selalu seperti ini, hubungan mereka tidak bisa berakhir dengan mudah. Rasanya dia seperti wanita penganggu rumah tangga orang jika anak kecil dalam keluarga Andre harus merasakan apa yang dia rasakan dari orang tuanya dulu. Tapi hati kecilnya selalu membela. Dia memiliki hak atas itu. Sejak awal, wanita itulah yang merusak hubungan mereka. Sejak awal, dialah pemilik hati Andre, akan begitu sampai mereka mengikat janji suci di altar nantinya. Andre sudah menjanjikan itu, kalau akhir tahun ini akan menceraikan isterinya.

“Tapi aku tidak bisa” erangnya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bagaimana mungkin dia bisa bahagia sedangkan anak lima tahun itu masih terlalu kecil untuk menghadapi kenyataan yang mungkin akan merusaknya nanti. Santa masih memiliki hati nurani, tapi semakin dia mencoba untuk melepaskan Andre, semakin dalam perasaan yang ia miliki. Dan disaat seperti ini, hanya satu yang dia bisa lakukan, selain mengeluh..

Santa menekukan kedua lutut di lantai kayu itu, melipat kedua tangannya di atas kasur dan kepalanya menunduk dalam. “Tuhan yang Maha kasih.. mungkin Kau telah bosan mendengar keluh kesahku. Tapi terima kasih karena sejauh ini masih menjadi pendengar setiaku, saat aku tidak bisa membagi ini dengan siapapun. Kau paling tahu isi hatiku, tunjukan jalanMu untuk kami. Aku yang selalu berlutut dan menangis untuk berdoa, ku mohon, berikan aku kebahagiaan. Aku ingin merasakan itu. Amin.”

Bab 2

“~dan mereka hidup bahagia selamanya.” Andre mengangkat kepalanya, memastikan kalau Lea sudah benar-benar tertidur. Anak itu tertidur dengan manis, meskipun dia baru berusia empat tahun, tapi sejak Andre pindah ke New York untuk mengurus salah satu cabang perusahannya di sini, anak kecil itulah yang membuat dia mengurungkan niat untuk segera bercerai.

“Apa dia telah tertidur?” Sapaan halus milik isterinya dari pintu kamar membuat Andre menarik tangannya dari bawah kepala putrinya itu dengan hati-hati kemudian menurunkan kakinya ke lantai marmer yang dingin. “Ada yang ingin ku bicarakan denganmu” kata isterinya itu membuat Andre mengerutkan dahi “tunggulah di kamar, aku ingin memastikan suhu pemanas ruangan Lea untuk lebih hangat.”

Andre mengangguk singkat sambil berjalan keluar kamar anaknya.

Beberapa menit kemudian, isterinya masuk ke dalam kamar, mendudukan tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang, seperti yang dilakukan Andre. Kepala Andre memiring, menunggu kalimat yang akan diutarakan isterinya itu.

“Aku tahu kau bersama dia tadi” ujarnya dengan getir. Andre menatap isterinya dengan datar. Wanita itu tahu kalau Andre memang menjalin hubungan dengan Santa sebelum mereka menikah, tapi tetap saja memaksakan kehendaknya.

“Sesuai rencana, kita akan bercerai saat Lea berusia lima tahun.”

Andre hanya menguncikan bahu pelan, lalu melanjutkan untuk menonton.

“Bolehkah aku bertanya, Andre?” Tanya isterinya itu sambil menarik remote di tangannya dan mematikan televisi. Andre mengangkat sebelah alisnya, menatap penuh selidik. Sebenarnya wanita ini sangat cantik, dia juga baik, jangan ditanyakan kalau soal gaya berbicara serta berpakaian, banyak teman-teman pengusahanya yang iri karena Andre memiliki isteri seperti seorang super model. Tapi bukan itu yang Andrew inginkan, hanya satu, Santa Lyona, dari dulu tetap seperti itu.

“Pernahkah kau mencintaiku? Dalam hitungan detik saja dalam dirimu selama kita bersama lima tahun ini?”

“Kau mulai aneh, Ara.”

“Jawab saja pertanyaanku.”

Andre menatap Ara, isterinya sangat lama. Mencoba kalau jantungnya berdetak khas orang jatuh cinta, seperti yang dia rasakan saat bersama Santa. Ada sedikit. Bagian dalam jantungan sedikit berkhianat saat menatap wanita itu. Secepatnya dia memalingkan wajah, menidurkan tubuhnya untuk membelakangi Ara sambil memejamkan mata.

“Terima kasih. Aku tahu jawabannya. Selamat malam Andre” ujar Ara dengan enggan, menidurkan tubuhnya juga untuk saling membelakangi. “Happy birthday to you” sambungnya dengan tersenyum miring. Sekeras apapun dia mencoba, dia tidak pernah mendapatkan hati suaminya. Dulu, Ara berpikir, jika dengan kehadiran anak, mungkin itu dapat merubah sedikit saja hati Andre, tapi ternyata tidak.

Andre memejamkan matanya sambil mengucapkan kata maaf dalam hatinya untuk Ara. Dia tidak bisa. Dia sudah memiliki komitmen yang dia buat bersama kekasihnya. Gadis sederhana yang menunggunya, gadis yang membuat mereka harus menetap di New York. Karena Andre tidak bisa jika satu hari saja tidak mengkhawatirkan gadisnya itu. Syukurlah cabang baru S&C Group yang cukup besar di sini membuat Andre memiliki alasan yang masuk akal untuk kepindahan mereka.

S&C Garment, Manhattan – New York

“Bagaimana dengan investor baru kita?” Tanya Andre sambil tetap memperhatikan berkas-berkas, membacanya dengan teliti sebelum dia membubuhkan tanda tangannya.

“Sedang dalam perjalanan ke sini, tuan.” Jawab sekertaris Andre sambil meletakan satu map biru di meja kerjanya. “Itu data dirinya. Hanya beberapa karena dia menyembunyikan itu dengan sangat baik” tambah pria di depannya denga sedikit takut. Andre adalah pria yang hangat dan baik hati jika bersama dengan Santa atau Lea, anaknya. Tapi dia sangat teliti dan pemarah jika di kantor, makanya semua pegawai selalu menghormatinya. Jika ingin mereka bertahan di sana, mereka harus menyelesaikan setiap tugas bagian mereka dengan cermat, apik dan tidak boleh ada celah sama sekali.

Mengerutkan kening, Andre meletakan ballpoint-nya karena tertarik dengan investor mereka yang terkesan misterius itu. Matanya membaca tiap kata dengan tajam, seolah dapat melubangi kertas itu. Sekertarisnya mengigit bibir, takut kalau Andre akan marah padanya karena tidak mendapat informasi lebih rinci.

Andre membalikan berkas itu bersamaan dengan bunyi ketukan di pintu kerjanya. Karena sekertarisnya yang memiliki meja di depan sana berada dengannya, pasti tamu mereka terpaksa harus mengetuk pintu. Kalau biasanya, Andre tinggal menerima pemberitahuan dari telepon kantor.

Sekertarisnya segera berjalan ke arah pintu, meraih handle dan membukanya. Detik berikutnya, seorang pria dengan setelan kerja berwarna abu-abu yang sangat pas dibadannya seolah itu dirancang kusus untuk dirinya, masuk ke dalam dengan angkuh.

“Selamat datang, tuan Marcel” sapa sekertarisnya itu sambil membungkuk memberi hormat.

Mendengar nama Marcel, Andre berdiri untuk memastikan pria misterius, investor yang baru saja dia baca data pribadinya kini telah berdiri, menatapnya dengan dingin. Andre mengulas senyum, berjalan memutari meja. “Silahkan duduk” ucapnya sambil menampilkan cekungan pada bagian pipinya. Menggiring tamu-nya untuk duduk di sudut ruang kerja, dimana satu set sofa diletakan di sana – khusus untuk klien bisnisnya.

Marcel adalah pribadi yang dingin, tidak suka berbasa basi, dan sama seperti Andre, dia juga termasuk orang yang teliti, tapi sangat arogan. “Kita langsung saja untuk maksud tujuanku mengucurkan dana besar pada proyekmu” ujar Marcel sambil menatap Andre penuh intimidasi.

***

Pria itu mengambil tempat duduk di salah satu sudut cafe bagian kanan. Dia sangat tidak suka keramaian, dan untungnya saja ini bukan jam makan siang, sehingga pengunjung di sini rata-rata anak remaja yang datang untuk berdiskusi tugas, itu yang dia tangkap pada indera pendengarannya saat melewati beberapa meja untuk ke sudut cafe – tempat favoritnya.

Marcel, duduk sambil melipat kaki kananya untuk diletakan di atas pangkuan kaki kirinya. Seperti biasa, dia datang ke sana bukan untuk memesan. Semua pelayan di sana tahu akan hal itu. Karena pria itu merupakan pemilik cafe ini, dan Marcel tidak akan segan-segan untuk memecat pelayan yang akan menawarkan dia minuman.

“Kau terlambat lagi?” Suara tanya gadis yang duduk di sudut kiri cafe membuat Marcel terusik. “Oh, bukan masalah. Aku masih di depan rumah, tenang saja. Aku membutuhkan waktu satu jam untuk tiba di cafe. Kau ada rapat penting? Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu” kata gadis itu sambil menaruh ponselnya dengan tidak bersemangat di atas meja.

Marcel mencibir. “Di depan rumah? Satu jam untuk tiba di cafe?” Ulangnya dengan nada mengejek membuat gadis itu terhenyak kaget dan menatap Marcel dengan tajam. Marcel mengangkat kedua bahunya dengan acuh, lalu menatap dua gelas plastik bekas vanilla latte di depan gadis itu yang sudah kosong. Marcel menebak kalau gadis itu telah menunggu kekasihnya dari satu jam yang lalu.

“Apa yang kau lihat?” Tanya gadis itu dengan nada tidak bersahabat serta mata membesar. Sungguh suasana hatinya sedang tidak bagus. Ini pertama kali kekasihnya itu terlambat. Dan pria di depannya malah tersenyum lebar untuk mengejeknya, ya ampun.. bahkan Santa sudah lupa kalau selama ini dia adalah gadis yang hangat dan penuh pengertian, saat pria di depannya menyunggingkan senyum miring ke arahnya.

Sepertinya Marcel tidak terpancing sama sekali oleh gadis itu. Dan, kemana sikap dinginnya? Astaga, Marcel tersentak kaget saat gadis itu sudah duduk di depannya, menatapnya dengan tatapan selidik. “Kau mengikutiku ya? Kau siapa? Stalker? Kau menyukaiku?”

Mata Marcel seakan mau lompat dari tempatnya saat mendapat pertanyaan tidak terduga oleh gadis yang tidak dia kenal sama sekali. Dan harga dirinya seperti jatuh tidak berharga saat gadis itu mengatakan dia penguntit. Apa dia tidak punya kerjaan lain saja, sedangkan dia sangat sakit kepala dengan uangnya yang tetap bertambah angkanya meskipun satu hari dia tidak kerja, dan gadis ini menuduhnya tanpa ampun?

“Kenapa kau tidak bisa menjawab? Ah.. kau mungkin sudah tahu kalau aku memiliki pacar?” Pandangan gadis itu seperti menelanjangi pria di depannya, bahkan Santa memiringkan kepalanya untuk menatap tubuh itu dari kaki hingga kepala – untuk menilai. “Ya, seharusnya kau sadar kalau tubuhmu tidak akan sebanding dengan pacarku” lanjut Santa membuat dia tersentak kaget karena pria itu membalasnya dengan teriakan yang histeris.

“APA? KAU BILANG APA?”

Demi apapun, Marcel sudah kehilangan wajah di depan pelayannya sekarang setelah pertanyaan yang membabi-buta dari gadis yang tidak ia kenal sama sekali. Tapi kesadaran kembali memenuhinya, menatap gadis itu sambil mencemooh “Dengar ya nona. Kau itu bukan tipe-ku sama sekali. Astaga, dalam mimpi burukku pun tidak pernah ada gadis yang..” Marcel berdiri, menggeser sedikit meja untuk memperhatikan keseluruhan tubuh gadis di depannya lalu mencibir “tidak seksi sama sekali. Berdada rata, pinggang yang tidak ramping, nyaris seperti papan penggilas yang di pakai nenek-ku di rumahnya. Jadi berhentilah mengatakan yang tidak-tidak, sebelum aku menuntutmu atas pencemaran nama baikku.”

Santa membulatkan matanya dan menghembuskan nafas setelah dia menahan itu selama pria tadi mengatakan kata-kata menyakitkan. Belum pernah ada satu orang pun yang mengatakan tubuhnya seperti itu. Memperhatikan sambil menilai sama seperti pria yang dia kira penguntit itu. Wajahnya berubah sendu. Mungkinkah itu alasan Andre selama ini untuk menunda perceraian dengan isterinya? Karena tubuhnya yang seperti papan penggilas? Memang harus dia akui kalau gaya berpacaran mereka tidak lebih dari pegang tangan dan ciuman di kening, dan fakta kalau Andre telah memiliki anak, fakta yang dia pandang dengan sebelah mata, kini sangat mengusiknya.

Dengan malu, Santa berdiri, menundukan kepala sambil bergumam “Maafkan aku” katanya sambil berjalan lesuh keluar dari cafe. Sepertinya dia akan membatalkan janji mereka saja, bagaimana mungkin dia bisa kembali ke cafe tadi dan berhadapan dengan pria itu lagi. Santa menilai kalau pria itu adalah pria paling jujur yang ia kenal. Hanya pria itu satu-satunya yang mengatakan kebenaran tanpa menambahkan sesuatu untuk membuat hatinya senang, seperti yang dilakukan Andre selama ini.

Marcel mendudukan tubuhnya sambil mendecakan lidah karena emosinya terpancing. Gadis itu menuduhnya dengan sembarangan, itu sama saja menjatuhkan martabatnya di depan pelayan yang Marcel tebak sementara berbisik di dapur atas penghinaan yang dia dapatkan.

Bab 3

“Ly. Buka pintunya, aku sudah minta maaf karena terlambat.”

Santa menggelengkan kepalanya, padahal dia sudah menutup kepalanya dengan bantal, kenapa suara Andre masih bisa ia dengar juga?

“Buka, atau aku akan merusak ini” ancam Andre dengan tegas. Dia juga tidak tahu apa yang membuat Santa aneh seperti ini, meskipun harus dia akui kalau ini kali pertama dia terlambat dalam janji mereka, tapi bukankah Santa yang mengatakan sendiri kalau itu bukan masalah?

“LYONA! BUKA ATAU~”

Perkataan Andre terhenti saat pintu rumah itu terbuka, dia tidak peduli kalau tetangga di samping rumah gadis itu terganggu saat dia harus berteriak malam-malam supaya gadis-nya ini membuka pintu.

“Kau kenapa?” Tanya Andre dengan bingung, Santa tidak mau menatapnya, malah berjalan menuju kamar. “Kau lelah menungguku? Maaf kalau begitu..” ujar Andre memelan, dia berusaha agar kakinya tidak memasuki tempat terlarang yang ia buat demi gadis-nya itu.

“Aku hanya ingin istirahat. Aku lelah tapi bukan karena menunggumu. Lupakan saja. Kau mengganggu tidurku Andre” ucap Santa dengan ketus membuat Andre yakin kalau gadis itu dalam keadaan marah di dalam sana.

Langkah kaki Andre terdengar di lantai kayu, pintu kamar gadis itu tidak tertutup, sehingga Andre menyandarkan tubuhnya di kusen pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Maafkan aku” ulangnya lagi.

“Aku sudah memaafkanmu Andre. Berhentilah meminta maaf.” Seandainya Andre tahu akar kekesalannya saat ini, itu lebih mudah baginya. Santa sangat sakit kepala memikirkan perkataan pria tidak dikenalnya itu sejak beberapa jam yang lalu.

“Aku belum makan” kata Andre sedikit keras, mencoba menarik perhatian gadis-nya, seperti tebakannya, Santa sedang marah sekarang, karena biasanya gadis itu akan menceramahi dia karena terlambat makan malam. Seperti tidak kehabisan ide, Andre mendesah frustasi “Ly, aku demam. Kau membiarkan aku di depan rumah selama satu jam.”

Santa berdecak “Ini bukan musim dingin Andre, berhentilah mencari topik pembicaraan. Aku benar-benar butuh istirahat.”

“Tapi di luar sangat dingin kau tahu” protes Andre lagi.

Andre tersenyum, dia memiliki satu kalimat lagi untuk membuat gadis itu berbalik menatapnya. “Aku akan tidur di sini malam ini. Terima saja tanpa bantahan.” Benar juga, setelah mengatakan itu, Santa keluar dari dalam selimut berjalan sambil berkacak pinggang ke arahnya. Gadisnya ini memiliki prinsip yang teguh, tidak ada acara menginap sampai mereka terikat janji suci, Andre juga tidak bersungguh-sungguh, dia hanya ingin Santa melakukan percakapan dengannya, karena jujur dia sangat merindukan gadisnya ini.

“Apa kau lupa dengan peraturannya?”

Andre menggeleng, menarik salah satu tangan gadis itu, menuntun untuk duduk di sofa yang berjarak beberapa meter dari mereka. “Jangan mengabaikan ku lagi Ly. Aku tidak suka diabaikan olehmu” bisiknya sebelum menjatuhkan tubuhnya di samping gadis itu untuk menyandarkan kepala di bagian atas sofa dan memejamkan mata.

Santa tersenyum, lalu dia memilih untuk mengabaikan perkataan pria yang tidak ia kenal itu. “Aku minta maaf” desisnya dengan halus sambil menyandarkan kepalanya di lengan Andre untuk ikut memejamkan mata.

“Sudahlah.”

****

Meregangkan tangannya, Santa kemudian memberikan senyum sambil mengisi novel dan beberapa buku ensiklopedia yang di beli gadis di depannya ke dalam paper bag berlabel toko buku tempat kerjanya.

“Bukunya?” Tangannya terjulur kepada pelanggan selanjutnya. Karena dia sibuk dengan keyboard komputer di depannya seperti kebanyakan kasir lainnya, sehingga dia tidak memperdulikan orang yang menatapnya. Karena terasa sudah sangat lama, orang di depannya berdehem keras agar kasir itu segera menatapnya.

“Apa kabar Nona,” kata pria itu membuat Santa tersentak kaget, memundurkan dua langkah dan menyuruh temannya yang lain untuk menggantinya. “Nona jangan pergi. Tuan menunggu anda untuk kembali. Nona!” Teriak pria itu sambil menyusul Santa yang sudah berlari ke luar toko.

“S and C Garment, now!” Teriak Santa dengan panik pada supir taksi dengan rambut yang sedikit memutih. Ini bahaya, Ayahnya sudah mengetahui tempat kerjanya, itu berarti tinggal menunggu hitungan jam, mereka akan mengetahui rumahnya. Rumah? Benar, flat kecil tempat tinggalnya. “Putar arah. 5 East 68th street” katanya lagi sambil memijat kepalanya yang sakit mendadak akibat memikirkan pelarian dirinya.

****

“Ada undangan untuk anda, tuan” lapor sekertaris Andre sambil meletakan gulungan putih dengan gliter berwarna emas beserta pita senada di meja kerjanya.“Pranata?” Tanya Andre sedikit tidak suka dengan pengirim undangan itu – yang menaruh nama Belakang-nya ketika dengan jelas dia ada di Amerika.

“Undangan apa ini?” Sejurus kemudian matanya membelalak saat membaca nama pengirimnya, “Kelvin?” Andre bergumam pelan sambil menerawang. Itu nama adik Ara. Lalu, Kelvin ada di Amerika juga?

“Tuan?”

“Orang kita yang menyamar, mengatakan kalau Mr. David dalam penerbangan siang ini kembali ke New York. Mungkin satu jam lagi tiba di flat nona..” pria itu sedikit mendongak untuk melihat jam dinding di dekat lemari buku, “mungkin satu jam lagi.”

“Sial.” Andre melepas ballpoint hitamnya hingga membuat bunyi kecil di kaca meja dan memberikan kode melalui jari tangan hingga sekertarisnya itu mengangguk lalu keluar dalam diam. Memang dia menaruh salah satu orang bayarannya untuk bekerja dengan Ayah kekasihnya. Ini adalah kabar buruk, dengan cepat dia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, menekan speed deal nomor satu.

Perasaannya semakin tidak tenang saat kekasih tercinta nya tidak menjawab panggilan pertama. “Ini tidak pernah terjadi sebelumnya..” Andre bergumam pelan sambil meletakan ponselnya di atas meja. David bukanlah orang yang peduli pada anak perempuannya, apalagi bersusah payah ke sini untuk menemui Santa. Lalu? Pasti ada sesuau di balik ini, Andre yakin itu. Tapi apa?

Getaran di ponselnya menarik perhatian, hingga dia segera mengangkat panggilan itu, tapi detik berikutnya dia mendesah kecil.

“Ada apa?”

“Lea ingin berbicara denganmu” jawab penelepon di seberang sana, istrinya, Ara.

“Daddy!” Lea berseru memanggil ayahnya, hingga hal itu membuat Andre tersenyum kecut, “Ya, sayang..” sahutnya pelan.

“Tadi uncle menelepon, Daddy sudah mendapat undangan pesta? Aku ingin meminta baju spesial darimu. Bisakah?” Tanya Lea hati-hati sambil menunggu persetujuan Ayahnya.

Andre tersenyum lebar, sejenak dia melupakan apa yang mengusiknya tadi. Berdiri, dia segera keluar dari ruang kerjanya dengan ponsel menempel di telinga “Daddy akan tiba satu jam lagi, dengan gaun princess-mu. Tunggu Daddy!”

“Jadwalku siang sampai sore pindahkan ke lain hari” pesan Andre di meja sekertaris, dan segera berlalu menuju lift ke tempat parkir mobilnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED