Di sebuah rumah tua yang berukuran kecil, wanita muda bernama Mauren tumbuh menjadi sosok yang memiliki kecantikan luar biasa, kulitnya yang putih mulus tanpa setitik pun noda, bibirnya yang sensual, kedua bola mata berwarna biru dan rambutnya yang panjang lurus berwarna pirang membuat kecantikan Mauren layaknya tokoh putri salju di cerita dongeng.
Apalagi di usianya yang baru sembilan belas tahun, Mauren sudah memiliki bentuk tubuh yang sangat seksi dan diidam-idambkan oleh setiap wanita yang melihatnya, tubuh yang diimpikan setiap wanita ada ditubuh Mauren, dimana Mauren memiliki kedua payudara yang berukuran sangat besar padat, kenyal dan masih sangat kencang! Begitu pun dengan bokong padat bulat yang dimiliki Mauren, tubuh seksi itu selalu berhasil membuat siapapun laki-laki yang melihatnya langsung mengalami ereksi.
Akan tetapi Mauren sama sekali tidak ingin menjadi wanita yang diincar oleh banyak lelaki, Mauren tidak pernah tertarik untuk berpacaran disaat semua laki-laki disekitarnya selalu menyatakan rasa suka dan cinta terhadap dirinya! Bagaimana mungkin Mauren memikirkan persoalan tentang laki-laki sedangkan fokus utama Mauren saat ini hanyalah bekerja sebagai pelayan di salah satu restoran, demi menyambung hidup keluarganya Mauren rela tidak meneruskan kuliah karena memang kedua orangtuanya tidak memiliki biaya apalagi Ayahnya merupakan penjudi parah.
Prang...
Terdengar suara piring menghantam lantai, membuat Mauren dan kakak perempuannya bernama Keila serempak keluar dari dalam kamarnya.
"Bukankah aku sudah katakan padamu untuk berhenti berjudi!" teriak Rose yang merupakan Ibu dari Mauren dan Keila.
"Sudah terlanjur, sekarang tidak ada waktu untuk berdebat! Daripada kita kehilangan rumah, lebih baik ikuti caraku!" ujar Milano ayah dari Mauren dan Keila.
"Terserah! Pokoknya aku tidak mau rumah kita disita," ujar Rose dengan raut wajah marah.
Pertengkaran itu disaksikan langsung oleh Mauren dan Keila, kemudian Milano pun menghampiri Mauren dan Keila! Tiba-tiba Milano menarik tangan Mauren.
"Ayah, ada apa ini?"
"Ikut ayah sekarang!"
"Ayah ada apa sebenarnya? Mau dibawa kemana Mauren?" tanya Keila yang cukup panik.
"Kau akan ayah nikahkan dengan seorang pria kaya agar kita sekeluarga keluar dari kemiskinan sialan ini!" ucap Milano.
"Tidak! Aku tidak mau menikah Ayah. Aku masih muda, dan aku akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita semua!" ujar Mauren.
"Kau mau bekerja seumur hidup pun tidak akan bisa menbuat kita jadi kaya Mauren,"
"Kalau begitu biar aku saja yang menikah dengan laki-laki kata itu! Aku sudah muak hidup miskin!" ujar Keila.
"Bagus, kalau begitu kalian berdua ikut ayah sekarang untuk diseleksi!"
Meskipun Mauren berusaha menolak keras keinginan ayahnya itu akan tapi Mauren tetap saja dibawa bersama dengan Keila kakaknya untuk diseleksi oleh pria yang akan menikahinya! Tibalah Milano bersama kedua putrinya itu di sebuah casino besar tempat dirinya bekerja sebagai cleaning service dan tempat dimana Milano belajar judi.
Dibawanya Mauren dan Keila kehadapan seorang pria bernama Aron, pria berusia 45 tahun yang ditinggal mati oleh isterinya beberapa bulan lalu, memang berniat untuk memiliki isteri baru namun ingin yang masih muda dan tentu saja harus cantik sempurna.
Mauren terus menangis sedangkan Keila justru ingin dinikahi oleh Aron karena meskipun usianya sudah tua namun wajah dan tubuh Aron masih luar biasa tampan dan kekar!
"Bos ini kedua putriku, silahkan dipilih siap tau anda mau menikahi salah satu putriku!"
Pandangan Aron sejak tadi sudah terpesona dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Mauren, Aron pun sudah tidak dapat menahan dirinya untuk segera memiliki Mauren.
"Tentu saja aku pilih yang ini!" ucap Aron sambil menunjuk kewajah Mauren.
"Tidak! Aku mohon Tuan aku belum siap!"
"Baik Tuan silahkan nikahi dia!" ucap Milano.
Sementara Keila langsung merasa kesal karena tidak pernah sekalipun Keila dilirik oleh laki-laki gara-gara memiliki adik secantik Mauren, keduanya memang tidak memiliki kemiripan yang banyak dimana wajah Keila biasa-biasa saja dan tubuhnya pun tidak sesintal Mauren sedangkan Mauren memiliki wajah yang sungguh sempurna dan tubuh yang sangat seksi.
Mauren pun sampai diikat disebuah kursi oleh Milano agar tidak bisa menolak apalagi kabur sampai hari pernikahannya dengan Aron terlaksana! Persiapan pernikahan antara Milano dengan Mauren pun dilaksanakan dengan sangat cepat a hanya beberapa hari saja.
Sampai tibalah hari pernikahan Mauren dengan Aron, Mauren yang hendak dipakaikan gaun serta dirias wajahnya harus dilepaskan terlebih dahulu dari tambang yang mengikatnya selama beberapa hari ini.
"Buka ikatannya!" perintah Aron pada salah satu anak buahnya.
"Baik bos!"
"Kau gila Tuan! Kau memperlakukan aku seperti seorang tahanan dan aku tidak sudi menikah denganmu!"
"Jaga bicaramu anak manis, hanya butuh waktu beberapa detik saja bagiku untuk menghabisi seluruh keluargamu jika aku mau!" ucap Aron.
"A-apa maksudmu Tuan?"
"Jadilah wanita penurut maka kau akan aku perlakukan sebagai isteri dan ratu di istanaku, tapi jika kau terus memberontak aku akan habisi semua keluargamu!" ujar Aron.
Tubuh Mauren pun gemetar mendengar ancaman Aron, dengan terpaksa Mauren pun tidak lagi memberontak dan menurut saja dipakaikan gaun pengantin dan dirias wajahnya.
Mauren didampingi oleh kedua orangtuanya untuk mengikat janji suci berdua bersama dengan Aron, hanya menangis dalam diam yang bisa Mauren lakukan seiring pendeta dengan penuh hikmat menikahkan keduanya di sebuah gereja besar.
"Lihatlah Liam, Daddymu benar-benar menikah lagi dengan wanita muda!" ucap Lenka isteri dari Liam yang merupakan putera satu-satunya Aron.
Liam hanya menatap serius kecantikan Ibu tirinya itu, Liam tidak menyangka jika ayahnya menikah lagi dengan wanita secantik dan seseksi itu.
"Aku dengar usia ibu tirimu itu baru sembilan belas tahun, bahkan usianya jauh dibawah kita dan kita harus memanggilnya mommy, lucu sekali!" ucap Lenka.
Liam pun tidak merespon apa yang diucapkan oleh isterinya, dan hanya diam menatap memperhatikan Mauren yang terlihat sangat sedih.
Begitu Mauren resmi menjadi isteri Aron, kedua orangtua Mauren segera melunasi hutang-hutang mereka, bahkan jumlah uang yang diberikan oleh Aron sangat banyak sampai-sampai kedua orangtua Mauren bisa membeli rumah baru yang berada di sebuah komplek perumahan elit, dan bukan hanya itu saja Keila sampai bisa dibelikan mobil oleh kedua orangtuanya.
"Ayah, kenapa tidak dari dulu saja kau nikahkan Mauren dengan pria kaya itu jadi kita bisa hidup kaya lebih cepat!"
"Iya, ayah pun menyesal baru melakukan itu sekarang sudah tau memiliki anak yang sangat cantik tapi tidak dimanfaatkan sejak dulu!"
"Apa Mauren akan diperlakukan baik oleh Aron?" tanya Keila.
"Hei Keila, jangan banyak bertanya dan fokuslah mengemudi agar kita bisa segera tiba untuk melihat rumah baru!" ucap Rose.
"Iya Bu, aku akan tambah kecepatannya!"
"Ayah, nanti jika uang kita sudah menipis kau harus minta uang lagi yang banyak pada Tuan Aron!" ucap Rose.
"Itu urusan mudah Bu, yang terpenting kita habiskan dulu uang yang masih sangat banyak ini!" ucap Milano sambil tertawa riang.
Berbeda dengan kedua orangtua dan kakak perempuannya yang sedang menikmati hasil dari pernikahan ini, Mauren justru belum bisa berhenti menitihkan air matanya! Saat ini Aron baru membawanya ke mansion mewah miliknya, dimana mansion mewah miliknya ini terdiri dari delapan lantai dan dilengkapi oleh fasilitas yang sangat lengkap.
"Kau akan tinggal di mansion mewah ini mulai sekarang Mauren," ucap Aron sambil membelai mesra wajah Mauren.
"Jangan sentuh aku!" ucap Mauren.
"Why? Aku sudah membayarmu sangat mahal dan kita sudah resmi menikah, kau dan tubuhmu ini adalah milikku mulai sekarang!" ucap Aron.
Perkataan Aron semakin membuat Mauren ketakutan.
"Takut? Aku bisa maklum karena ini pasti pertama kalinya untukmu, tapi setelah vaginamu itu aku tembus dengan penisku kau pasti akan ketagihan nantinya!" ucap Aron.
"Tuan tolong, jangan lakukan itu padaku!" rengek Mauren.
"Sutt, jangan panggil aku Tuan! Kau harus panggil aku Aron, mengerti?"
Kedua tangan Aron mulai meraih pinggul Mauren hingga Mauren merasakan merinding disekujur tubuhnya.
"Katakan iya Aron suamiku!" perintah Aron.
"I-iya," ucap Mauren.
"Iya apa?" tanya Aron sambil menghirup aroma tubuh Mauren.
"Iya Aron suamiku!" ucap Mauren.
"Good girl,"
Aron langsung mencium leher jenjang Mauren yang membuat Mauren langsung replex mendorong dada bidang Aron.
"Jangan! Aku mohon!" rengek Mauren.
"Jangan? Aku bahkan sudah tidak sanggup lagi menahan hasrat ku untuk segera menikmati tubuh seksimu itu, ngomong-ngomong payudaramu besar sekali Mauren," ucap Aron.
Perkataan demi perkataan Aron semakin membuat Mauren melangkah mundur dan rasanya ingin kabur dari mansion mewah ini! Akan tetapi Aron langsung menangkap tubuh Mauren dan menggendong tubuh Mauren untuk dibawa ke kamarnya yang berada di lantai tujuh mansion mewah tersebut.
"Tolong! Lepaskan aku Tuan Aron! Jangan lakukan ini!" teriak Mauren.
Akan tetapi percuma saja mau Mauren berteriak sekencang apapun di mansion mewah ini tidak akan ada yang bisa menolongnya, karena semua asisten rumah tangga yang ada di mansion ini tunduk pada Aron seorang.
Tubuh Mauren dengan entengnya digendong sampai tiba di kamar pribadi milik Aron, kamar yang begitu luas dan didominasi dengan warna putih dan abu-abu tua itu menjadi saksi bagaiman Aron dengan ganasnya melempar tubuh Mauren keatas ranjang empuk miliknya.
Tubuh Mauren pun terlentang pasrah diatas ranjang mewah tersebut.
"Ampun Tuan Aron jangan!" Mauren terus menangis dan memohon agar Aron tidak melakukan sex padanya.
"Aku tidak tahan lagi ingin menembus vaginamu sayang, ayo lepaskan pakaianmu!"
"Tidak! Tolong! Tolong!" teriak Mauren.
Namun Aron justru tertawa mendengar teriakan dan jeritan Mauren ketika kedua tangan besar Aron merobek pakaian Mauren, melepaskan semua pakaian yang dipakai oleh Mauren bahkan celana dalam dan bra yang dikenakan oleh Mauren sudah berhasil dilepaskan oleh Aron.
Tubuh seksi Mauren semakin membuat penis Aron mengeras dengan sempurna, ditariknya kedua kaki Mauren sehingga kedua kaki Mauren itu dibuka selebar-lebarnya oleh Aron.
Terlihat vagina Mauren yang berwarna merah jambu dan tidak terlalu banyak memiliki bulu!
"Jangan! Aku mohon, jangan!"
"Ini akan enak sayang, kau akan ketagihan percayalah padaku!" ucap Aron dengan tatapan seperti tidak sabar ingin segera menikmati Mauren.
Aron kemudian membentangkan kedua pangkal paha Mauren menggunakan kedua tangannya, lalu wajah Aron pun didekatkan pada vagina berwarna merah muda milik Mauren tersebut, diendusnya vagina indah itu oleh Aron dan tanpa bisa menahannya lagi Aron segera menjulurkan lidahnya untuk menjilati vagina Mauren.
"Tidak Tuan jangan, ahhh jangan!" teriak Mauren.
Meskipun kedua tangan Mauren berusaha untuk menahan kepala Aron agar tidak menjilati vaginanya, akan tetapi tetap saja Aron menikmati menjilati vagina Mauren yang rasanya sangat nikmat! Mauren pun baru merasakan sentuhan diarea vaginanya apalagi ini langsung dijilati dan diciumi oleh Aron, meskipun Mauren berusaha menolaknya akan tetapi dari dalam diri Mauren sendiri tidak dapat memungkiri ternyata dijilati dan dihisap vaginanya oleh Aron rasanya luar biasa nikmat, sampai-sampai Mauren merasakan seluruh tubuhnya semakin terangsang dan bergetar hebat.
"Vaginamu sudah mulai becek Mauren, sssthhh aku akan hisap vaginamu dengan kencang!l ucap Aron.
"Ahhhh Tuan! Eunghhtttt,"
Terasa sekali vaginanya dihisap begitu kencang oleh Aron sampai Mauren menjerit-jerit keenakan, setelah puas menjilati vagina Mauren! Aron kemudin langsung beralih pada kedua payudara Mauren yang berukuran super besar dan terlihat sangat sintal.
"Tuan ampun," dengan suara serak dan lemah Mauren masih berusaha menghentikan Aron.
"Aku mau menyusu padamu Mauren, susumu besar sekali ini pasti enak,"
"Ja-jangan Tuan!"
Aron langsung melahap satu persatu payudara besar Mauren sambil kedua tangannya meremas-remas kedua payudara Mauren, lagi dan lagi Mauren pun hanya bisa memohon agar Aron bisa menghentikan menghisap payudaranya karena rasanya cukup sakit bagi Mauren yang baru pertama kali merasakannya.
"Sakit Tuan! Ahhh tolong jangan dihisap lagi!" rengeknya.
Namun Aron yang sudah seperti kecanduan oleh susu milik Mauren, tidak mau berhenti menyusu dan terlihat seperti bayi yang sedang lapar sampai terus menyusu sesuk hatinya pada payudara kiri dan kanan Mauren.
Lama kelamaan tenaga Mauren untuk menolak dan melawan pun semakin melemah, Mauren kini hanya bisa parah melihat kedua payudaranya dihisap tanpa henti oleh Aron.
"Aku sudah puas menyusu padamu Mauren, payudaramu benar-benar menyegarkan!" ucap Aron.
Terlihat kedua puting Mauren yang masih basah bekas dihisap oleh Aron, Mauren pun merasakan kedua putingnya itu perih karena selain dihisap kencang putingnya itu pun digigit oleh Aron tanpa ampun.
"Sekarang puaskan aku dengan vaginamu yang masih sangat sempit itu Mauren!" ucap Aron.
"Tidak Tuan aku mohon jangan!"
Aron segera melepaskan seluruh pakaiannya, sedangkan Mauren berusaha untuk turun dari ranjang dan menuju pintu untuk kabur dari Aron! Akan tetapi begitu Aron selesai melepepaskan seluruh pakaiannya dan kini tubuh telanjang Aron yang terlihat sangat kekar itu pun langsung menghampiri Mauren yang sedang berusaha membuka pintu kamar yang sudah dikunci oleh Aron.
"Kemari sayang, layani aku sampai puas!" ujar Aron yang langsung menarik tangan Mauren.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau!" ucap Mauren yang semakin ketakutan.
Diseretnya Mauren oleh Aron hingga tubuh telanjang Mauren kembali harus dilempar keatas ranjang oleh Aron.
"Aku sungguh tidak tahan ingin segera berhubungan sex denganmu Mauren, kau sungguh membuatku menggila!" ujar Aron.
Kedua tangan Mauren memukul-mukul dada bidang Aron, sedangkan kedua tangan Aron sudah melebarkan kedua pangkal paha Mauren dan segera memperlihatkan penisnya yang berukuran cukup besar pada Mauren.
"Lihatlah dia sudah sangat menginginkan vagina sempit mu ini!"
"Tuan jangan, aku tidak mau!"
Aron yang sudah benar-benar horny langsung berusaha memasukkan penisnya pada vagina sempit milik Mauren, lubang itupun sangat sulit sekali ditembus oleh penis Aron sampai-sampai Aron harus bekerja keras menekan penisnya agar bisa segera masuk.
"Aw, sa-sakit Tuan ahhhh sakit!"
"Tenang sayang, ini hanya sakit diawal saja setelah ini kau akan keenakan dan merengek ingin terus aku masuki vaginamu!" ucap Aron.
Wajah Aron pun terlihat menengadah keatas sementara penisnya semakin menekan kuat lubang vagina Mauren hingga membuat Mauren sampai menangis meraung-raung akibat kesakitan, penis Aron perlahan-lahan akhirnya berhasil masuk kedalam vagina sempit Mauren membuat vagina Mauren mengeluarkan darah kesuciannya hingga menimbulkan noda pada sprei tersebut.
Kedua tangan Mauren pun mencengkram keras sprei dikanan dan kiriny, sementara jeritan Mauren terdengar sangat nyaring didalam kamar ini saking kesakitannya ketika penis Aron memaksa masuk kedalam vaginanya.
Mauren terus menjerit-jerit akibat vaginanya yang dimasuki penis Aron, sedangkan Aron bisa merasakan kenikmatan yang amat sangat luar biasa bisa berhasil merenggut kesucian Mauren, rasa vagina Mauren sungguh membuat Aron menggila.
"Oh Shit vaginamu enak sekali Mauren, sempit legit dan menjepit! Ouwww fuck enak sekali!"
Pinggul Aron mulai maju mundur seirama dengan gerakan penisnya yang keluar masuk pada vagina Mauren, saking enaknya Aron bahkan merasa jika penisnya ingin buru-buru mengeluarkan spermanya karena ini terlalu enak.
"Ahhhh, aku tidak tahan! Ahhh aku akan cum, ahhh aku keluar Mauren!"
Penis Aron baru saja mengeluarkan spermanya didalam vagina Mauren, sedangkan Mauren hanya bisa pasrah dan tergolek lemas menahan sakit diarea vaginanya saat ini! Terlihat Aron tersenyum puas lalu mengeluarkan batang penisnya keluar dari vagina Mauren, terlihat sperma Aron banyak juga yang keluar lagi dari vagina Mauren.
"Kau luar biasa Mauren, aku benar-benar puas olehmu!" ucap Aron.
Mauren pun langsung tidur menyamping sambil menahan perih divaginanya, karena boro-boro merasa enak, yang ada justru hanya sakit dan perih saja yang dirasakan oleh Mauren saat ini. Aron yang tidak bisa bermain tahan lama alias lemah dalam urusan ranjang, baru masuk beberapa detik saja spermanya langsung keluar, membuat Aron cepat puas dan langsung tertidur pulas sedangkan Mauren sama sekali tidak merasakan kepuasan dan kenikmatan sama sekali.
Keesokan harinya, tubuh Mauren terasa pegal-pegal dan sakit seperti habis terlindas ban mobil! Mauren membuka kedua matanya dan sudah ada dua pelayan yang sedang membersihkan kamarnya, sedangkan Aron baru saja keluar dari dalam kamar mandi karena baru saja selesai mandi.
Terlihat wajah Aron yang begitu segar pagi ini sedangkan Mauren boro-boro berwajah segar, yang ada sampai sudah pagi begini pun bagian vaginanya masih teras sakit dan itu membuat Mauren sama sekali tidak bisa tersenyum.
"Mauren, ini uang cash untukmu dan ini kartu kredit dan kartu atm untukmu! Dengan ini kau bisa membeli apapun yang kau mau, terimalah!" ucap Aron sambil menyodorkan semua itu pada Mauren.
Namun Mauren pun masih merasa benci karena perbuatan Aron semalam yang sudah merenggut kesuciannya, Mauren pun hanya dia sama dan memalingkan pandangannya kesembarang arah.
"Oke jika kau tidak mau menerimanya sekarang! Ini aku taruh dilaci, kau boleh mengambilnya kapan pun itu," ucap Aron yang langsung memasukkan semua itu kedalam laci kecil disamping ranjang.
Mauren segera turun dari ranjang karena ingin segera membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa keringatnya bersama dengan Aron semalam!
"Setelah selesai mandi, segera lah turun kebawah kita akan sarapan bersama dengan putraku dan menantuku!" ucap Aron.
Tanpa menjawab sama sekali perkataan Aron, Mauren pun melengos begitu saja masuk kedalam kamar mandi! Sementara itu Aron pun segera menuju kelantai bawah, disana terlihat Liam dan Lenka sudah menunggu Aron dimeja makan.
Lenka masih sibuk dengan handphonenya karena sedang melihat barang-barang mewah yang hendak ia beli setelah pulang dari sini! Sedangkan Liam hanya duduk sambil memandangi makanan dimeja makan.
Aron pun melihat kedua koper milik Liam dan juga Lenka disamping mereka. Terlihat Aron tersenyum sinis yang melihat kedua koper itu akhirnya kembali ke rumah ini.
"Menyerah juga kau Am," ucap Aron lalu duduk disamping Liam.
"Aku tidak menyerah Dad, aku hanya perlu waktu dan modal lagi!"
"Dengar anak bodoh! Kau dan isterimu yang matre itu hanya bisa menghabiskan uangku tanpa hasil sedikitpun!" ucap Aron.
"Oh My God Daddy, anak Daddy Liam yang gagal mengembangkan usahanya dibidang gamer kok malah aku yang ikut disalahkan?" tanya Lenka.
"Hei Lenka, jangan kau pikir aku bodoh! Aku tau semua uang yang aku berikan pada putraku kau juga yang habiskan debgan hobi belanja mu yang tidak masuk akal itu!"
"Dad, aku wanita wajar jika aku belanja dengan uang suamiku kan aku isterinya!" ucap Lenka.
"Berani-beraninya kau melakukan pembelaan diri didalam mansion milikku!" kata Aron dengan menatap tajam Lenka.
"Sudah cukup! Dad, izinkan aku tinggal disini bersama Lenka," ucap Liam.
"Lalu dua apartemen yang aku berikan untukmu itu kau kemanakan Liam?" tanya Aron.
"Maaf Dad, terpaksa aku jual untuk mengembangkan perusahaan game ku!"
"Kau gila Liam! Aku sudah pernah katakan padamu perusahaan gamemu itu tidak ada gunanya jadi sebaiknya kau berhenti dan mulai belajar bisnis-bisnisku!" ucap Aron.
"Maaf dad, aku tidak bisa! Aku ingin memiliki bisnis lain yang sesuai dengan keinginanku!" ucap Liam.
"Kepala batu!" ucap Aron.
Setelah banyak berbincang dan berdebat, akhirnya Aron pun mengizinkan Liam dan Lenka untuk tinggal di mansion mewahnya ini! Tidak lama berselang Mauren pun tiba dimeja makan dan sudah berpakaian rapih.
"Hai isteriku, duduklah!"
Aron segera membantu Mauren untuk duduk, terlihat Liam pun langsung terpesona dengan kecantikan ibu tirinya itu! Seperti dunia teralihkan oleh pancaran wajah Mauren, apalagi kedua payudaranya yang sungguh menonjol dan terlihat menyembul dari balik kaos tipisnya.
"Hai, aku Lenka isterinya Liam!" ucap Lenka sambil menyodorkan tangannya.
"Mauren," ucap Mauren yang menerima jabatan tangan Lenka.
Mauren pun melirik sekilas kearah Liam yang saat ini masih betah memandanginya, wajah Liam yang tampan membuat Mauren hampir terhipnotis olehnya, apalagi terlihat otot-otot kekar di lengan Liam yang membuat Mauren semakin melongo dibuatnya.
"Mauren, mulai hari ini putraku Liam dan isterinya Lenka akan tinggal disini! Kau tidak keberatan kan?"
"Tidak," ucap Mauren sambil menundukkan pandangannya.
Mereka pun sarapan bersama meskipun dengan kondisi yang sama-sama masing canggung karena Liam harus memiliki ibu tiri yang usianya masih sangat muda bahkan dibandingkan dengan dirinya, begitupun dengan Mauren yang merasa sangat gugup ketika melihat Liam.
Setelah selesai sarapan, Aron harus pergi mengurus bisnis-bisnis casino dan bar miliknya sedangkan Lenka langsung berpamitan pada Liam karena ingin pergi bersama teman-temannya!
Mauren yang masih belum terbiasa dengan kehidupan barunya yang berbanding terbalik seratus derajat dengan kehidupannya dimasa kemarin, kini hanya bisa melamun disamping kolam renang sambil memandangi birunya air.
Tiba-tiba Liam pun menghampiri Mauren, sambil memegang satu gelas berisi wine Liam berdiri disamping Mauren.
"Wanita muda yang tergila-gila pada harta hingga rela ditiduri oleh ayahku yang sudah tua!" ucap Liam.
Kata-kata Liam sangat menyinggung Mauren karena bukan seperti yang Liam ucapkan kejadian yang sesungguhnya!
"Aku tidak seperti itu, aku terpaksa!"
"Terpaksa? Aku tau wanita sepertimu itu mencari uang dengan cara jual diri bukan? Tapi beruntungnya kau dinikahi oleh ayahku," ucap Liam.
Pakkk....
Satu tamparan mendarat dipipi Liam karena Mauren baru saja menamparnya.
Liam yang tidak terima ditampar oleh Mauren kemudian langsung menarik paksa tubuh Mauren hingga tubuh Mauren pun berada didalam dekapan tubuh kekar Liam, keduanya pun saling menatap satu sama lain.
"Beraninya kau menamparku?"
"Karena bicaramu keterlaluan, aku sudah katakan aku terpaksa menjadi isteri ayahmu karena aku dijual oleh ayahku sendiri!"
"Kau dijual oleh ayahmu sendiri?"
"Ya, jadi jangan pernah mengatakan aku jual diri!" ucap Mauren.
"Itu artinya kau masih perawan saat dibeli oleh ayahku?"
"Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
"Jawab saja jika memang kau bukan wanita yang suka jual diri," ucap Liam sambil tersenyum.
"Ya, dan semalam ayahmu memaksaku melakukannya!" ucap Mauren dengan raut wajah tertekan.
"Itu pasti sangat menyakitkan bukan? Vaginamu pasti berdarah," ucap Liam.
Liam pun melepaskan tubuh Mauren sedangkan Mauren hanya bisa terdiam menatap Liam.
"Tenang saja itu akan terasa enak setelahnya, terkecuali jika penis ayahku sebesar penisku mungkin kau akan merasa kesakitan meskipun kita melakukannya berkali-kali!" ucap Liam.