Lily mulai membuka matanya saat sedikit sinar matahari yang lolos dari celah gorden yang tidak tertutup rapat menerpa wajahnya. Ia mengucek matanya agar bisa melihat sedikit lebih jelas. Karena kamar masih terlihat cukup gelap. Kepalanya sedikit pengar, mungkin akibat alkohol yang diminumnya semalam.
Perutnya terasa berat, saat terlihat sebuah tangan melingkar di perutnya, ia bisa merasakannya walau tidak dapat melihatnya dengan jelas.
Kini badannya benar-benar terasa sakit, bahkan bagian intinya sangat kebas dan perih. Entah berapa kali semalam ia melakukannya, bahkan ia tidak mampu menghitungnya.
Kini Ken--kekasihnya, tampak masih terlelap, terdengar suara napas yang teratur. Lily mengambil ponselnya di nakas sebelah tempat tidur, ia ingat semalam menaruhnya di situ.
Dengan susah payah ia menggapainya. Ternyata jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, masih ada sisa 2 jam lagi sebelum acara kantor dimulai.
Ia akan bergegas mandi. Namun ia akan membangunkan Ken terlebih dahulu. Lily akan mengajak Ken untuk sarapan bersama.
"Sayang, bangun," bisik Lily di telinga Ken.
"Hmm," gumam Ken dengan sedikit serak.
"Acaranya sejam lagi," ucap Lily.
Namun Ken malah menarik tubuh Lily ke atasnya . "Last time, giliran kau di atas," ucapnya. Tubuh Lily benar-benar membuat Ken ketagihan, padahal semalam ia sudah melakukan sebanyak 4 kali. Ia belum pernah merasakan sensasi seperti semalam.
"Tidak, rasanya masih sakit dan perih," dengus Lily kesal dan memukul dada Ken pelan. Bahkan sangat tidak terasa. Kini ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ken. 'Sejak kapan dada Ken memiliki otot seperti ini?' tanyanya dalam hati.
"Ck! Aku tidak akan memberikan bonus lebih dalam bayaranmu !" ucap Ken dengan nada kesal dan dingin.
"Bonus? Bayaran apa maksudmu?" Lily mendongakkan wajahnya pada Ken yang masih tidak terlihat dengan jelas, hanya samar.
"Ya, bayaranmu karena menemaniku tidur!" ucapnya.
"A-apa??!" Lily kaget tak percaya.
"Kau anggap aku wanita seperti itu?" Lily beringsut dari atas tubuhnya dan terduduk di atas kasur. Ia sedikit meringis, bagian bawah tubuhnya sedikit sakit.
"Kau memang dipanggil dan dibayar untuk datang ke kamar ini dan memuaskanku," jelasnya.
Kini mulut Lily menganga tak percaya dengan ucapan kekasihnya, hatinya sangat terpukul. Ia mulai terisak tertahan.
"Kenapa kau jahat padaku, Ken? Kenapa?" ucap Lily dengan isakannya. Ia tak menyangka sama sekali, jika kekasihnya akan mengatakan hal seperti ini, dan menganggapnya seperti wanita panggilan.
"Katakan Kendrick Edbert? Kenapa kau berbuat ini padaku??" Kini mulut Lily sudah bergetar ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Amarah di dadanya bergemuruh, Lily yang biasanya bersikap tenang, bahkan cenderung pendiam. Kini ia tak bisa menahan amarahnya pada kekasihnya itu.
"Apa salahku, Ken?" tanyanya lagi dengan lirih.
"Ken ... Ken siapa?" Terdengar nada bingung di sana.
"Sudah jelas itu kau, Ken. Kendrick Edbert, siapa lagi kalau bukan kau!!" pekik Lily.
"Tapi, aku bukan Kendrick Edbert !"
"Hah? Lalu, siapa kau?" tanya Lily penuh dengan rasa kaget. Kepalanya seakan tiba-tiba kosong begitu saja.
Laki-laki itu menyalakan lampu tidur di sebelah tempat tidurnya. Ia menatap wajah Lily dengan tajam.
"Pak Lazcano!" pekik Lily, matanya membelalak tak percaya. Gadis itu kemudian menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia hanya bisa terdiam dan mematung.
"M-maafkan saya, Pak!" ucap Lily penuh sesal dengan terbata. Ia begitu kaget, karena ternyata pria tersebut bukan Ken kekasihnya. Namun, bos besarnya di kantor. Pemilik dari tempatnya bekerja. Rasanya Lily ingin menenggelamkan dirinya di laut lepas saat ini.
Ia segera beringsut dari atas tempat tidurnya, mengambil apa yang bisa ia ambil untuk menutupi tubuh polosnya.
Saat akan berdiri tiba-tiba ia terjatuh dan terduduk di lantai. Kakinya begitu lemas hingga tidak dapat menopang berat tubuhnya.
"M-maaf! " ucapnya. Ia berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Badannya sangat sakit, terutama di bagian tubuh bawahnya.
Dengan susah payah ia berusaha untuk mengambil pakaiannya lagi yang sudah berserakan sembarangan di lantai.
Melihat itu Arsen sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Ia masih duduk terdiam di tempat tidurnya. Hanya menatapnya dengan tajam. Lily harus segera keluar dari tempat ini secepatnya.
Lily menuju kamar mandi sesaat setelah berhasil mengumpulkan semua pakaiannya. Setelah menutup pintu Lily tidak dapat menahan lagi air matanya, ia terisak. Apa yang baru saja terjadi sungguh membuatnya kaget dan sedih. Dan tentunya sangat membingungkan.
Lily sudah kehilangan sesuatu yang berharga yang dimilikinya, yang awalnya akan ia berikan pada Ken--kekasihnya. Namun entah mengapa, ia malah melakukan dengan bosnya. Lily sama sekali tak tahu, mengapa laki-laki yang bersamanya malah bos-nya.
Hingga akhirnya, ia sadar jika ia telah memasuki kamar yang salah.
Dan kenapa harus kamar atasannya?! Ini membuatnya tidak dapat berkata-kata lagi.
Apa yang akan terjadi dengan hubungannya dengan Ken? Dadanya begitu sesak memikirkan hal tersebut.
Dengan buru-buru ia segera berpakaian dan mencuci wajahnya. Ia akan kembali ke kamarnya, semoga Ken tidak marah padanya karena semalam tidak menepati janjinya.
"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam kamar ini?" tanya Arsen dengan tajam saat Lily melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Bahkan ia belum sempat menutup pintu kamar mandi dengan benar.
"M-maafkan saya, Pak. Saya salah masuk kamar, semalam saya kira ini kamar saya satu enam tujuh delapan," jelas Lily ketakutan. Ia menunduk sambil menahan rasa sakit dan kebas di bagian bawah tubuhnya.
"Ini satu sembilan tujuh delapan," ujar Arsen datar.
"Maaf, saya mabuk semalam. Maaf kan saya, Pak. Tolong, jangan pecat saya!" Lily membungkuk meminta maaf. Air mata sudah membasahi pipinya. Ia benar-benar takut jika bos-nya ini akan memecatnya.
Karena kebodohannya saat mabuk, ia tidak bisa membedakan angka enam dan Sembilan. Dan karena kebodohannya ini, membuatnya berada di posisi yang sulit seperti sekarang.
"Cepat kamu pergi dari sini!" usir Arsen, tanpa menjawab ucapan Lily yang memintanya untuk tidak di pecat. Lily tak bisa berbuat apa-apa, ia sudah cukup ketakutan hingga ia hanya bisa segera Lily pergi dari hadapan bos-nya, meninggalkan kamar tersebut dengan langkah yang sedikit tertatih.
Setelah wanita tersebut pergi meninggalkan kamarnya Arsen bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengenakan celana pendek setengah pahanya.
Ia merasa kesal, bagaimana tidak ia sudah meniduri karyawan wanita yang ia kira jalang bayaran yang telah dipesan untuknya.
Arsen mendengus kesal, ia takut wanita itu kotor. Walau ia suka memanggil jalang untuk menemani malamnya ia akan pastikan jalang tersebut bersih dan bebas dari penyakit.
Saat ia memandang tempat tidurnya, ternyata terdapat bercak darah di sana.
"Ternyata itu pertama kalinya untuk wanita itu! Pantas saja," gumamnya. Ada sedikit kelegaan dalam dirinya, jika itu pertama kalinya untuk gadis itu, maka Arsen tak perlu mengkhawatirkan akan penyakit dan yang lainnya.
Ya, Arsen dapat merasakan perbedaannya, rasa yang tidak pernah ia dapatkan pada saat bersama jalang sewaannya.
Tiba-tiba saja ia mendengar bunyi ponsel. Lelaki itu pun bergegas mencari ponsel miliknya. Tetapi, layar ponselnya gelap, menunjukan tidak ada aktivitas apapun. Namun, bunyi itu masih terdengar.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah ponsel berwarna putih, yang sudah pasti bukan miliknya. Ia mengambil ponsel tersebut.
Terdapat beberapa chat di sana. Dia menatap layar ponsel tersebut. Ponsel tersebut dalam keadaan tidak terkunci. Sehingga ia bisa membaca pesan yang masuk tersebut. Ia mulai mengerutkan keningnya saat membacanya.
"Ck!! Wanita itu!!" decaknya.
Arsen segera mengenakan pakaiannya, dan menyusul wanita tersebut untuk mengembalikan ponselnya yang tertinggal. Selagi suasana hotel masih pagi dan sepi.
-To Be Continue-
Lylia Kenward yang biasa dipanggil Lily adalah seorang gadis muda berumur 23 tahun, cantik, dan baik hati. Ia sudah tidak mempunyai orang tua. Dulu ia tinggal dengan ibu tirinya. Namun, sepeninggal sang ayah, ibu tirinya kerap menyiksanya. Saat ayahnya masih hidup pun ibunya sering menyiksanya tanpa sepengetahuan ayahnya.
Satu tahun yang lalu, Lily kabur dari rumah ibu tirinya dan merantau di kota ini. Bermodalkan ijazah sekolah yang sempat ia bawa kabur dari rumahnya, kemudian ia berhasil mendapatkan pekerjaan karena ketekunannya. Hingga ia bisa bekerja di perusahaan Lazcano Corps. Perusahaan besar dan bonafide, meski pun ia hanya menjadi karyawan biasa.
Alasan ia kabur dari ibu tirinya karena selain ibu tirinya tersebut sering menyiksanya, ibunya juga akan menjualnya kepada pria hidung belang. Margaret memang sosok ibu tiri yang jahat. Ia memang selalu semena-mena terhadap Lily. Apalagi setelah ayahnya meninggal.
Lily memang lugu dan polos. Namun di balik keluguan dan kepolosannya Lily seorang yang cukup pintar dan berani.
Ibu tirinya akan menjual keperawanannya kepada lelaki hidung belang tersebut. Lily bahkan belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Bahkan ia tidak tahu apa itu cinta, selain cinta dari kedua orang tuanya yang sudah tidak ada.
Miris? Ya memang begitulah takdir kadang tidak semua orang beruntung dengan kehidupannya, itulah yang terjadi dengan Lily.
Berada di kota asing, dengan orang yang tidak satu pun ia kenal, ia mencoba peruntungannya. Semoga semuanya bisa berjalan sesuai dengan apa yang diharapkannya. Dan saat ini ia telah berada di sebuah hotel bersama staff yang lain untuk mengikuti acara liburan kantor yang diadakan oleh perusahaan di mana ia bekerja. Acara ini di laksanakan setiap satu tahun sekali, dan ini pertama kalinya baginya ikut serta dalam acara ini.
Dan semalam seharusnya ia bermalam bersama dengan kekasihnya Ken. Tetapi, karena ia mabuk ia tidak menyadari jika sudah salah memasuki kamar. Dan gadis itu pun bergegas menuju ke kamarnya. Kamar yang seharusnya di mana Ken menunggu dirinya.
"Kenapa koper ku ada di luar?" Lily merasa heran saat ia berada di depan kamarnya.
Ia segera mengetuk pintu kamarnya.
TOK!TOK!
Cukup lama ia mengetuk pintu tersebut sampai akhirnya pintu pun terbuka. Betapa kagetnya ketika Lily melihat siapa yang membukakan pintu kamarnya. Yang membukankan pintu bukanlah Ken.
Seorang wanita yang ia ketahui bernama Cynthia dari divisi keuangan kantornya. Matanya membulat sempurna. Karena tubuh Cynthia hanya terbalut handuk saja.
"Siapa itu, Sayang?" tanya seseorang dari dalam tiba-tiba.
"Bukan siapa-siapa Sayang. Hanya jalangmu yang kembali!" seru Cynthia dengan senyum meremehkan memandang Lily.
"Usir dia, kopernya kan sudah di luar," ujar suara yang ternyata milik Ken.
"Heh, jalang! Kau sudah dengar, kan? Sekarang, cepat pergi sana!" usir Cynthia pada Lily. Lily sangat marah.
"Jalang? Kau yang jalang!" pekik Lily.
"Ck! Jika kau bukan jalang, tak akan ada tanda ini di lehermu!!" ucap Cynthia dengan senyum meremehkan dan menyentuh tanda merah di leher Lily.
Lily hanya diam mematung, saat Cynthia menutup pintu kamarnya dengan keras.
Ia ingin menangis dan berteriak lalu mendobrak pintu tersebut. Namun tubuh dan hatinya sangat sakit. Ia sudah terlalu lelah di hari yang masih terlalu pagi ini. Ia terduduk di lorong tersebut dan menangis dengan koper yang berada di sampingnya.
Dua kejadian pahit dalam hidupnya terjadi bersamaan pagi ini. Dan, Lily merasa tidak akan sanggup mengikuti kegiatan kantor ini Gadis itu pun memutuskan untuk pulang. Dengan langkah gontai ia menuju lift dengan menyeret kopernya.
Air mata masih terus mengalir di pipinya. Namun, langkahnya terhenti ketika tubuhnya menabrak sesuatu. Seseorang lebih tepatnya. Ia segera mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang ditabraknya.
"Maaf...." Namun alangkah terkejutnya Lily saat melihat siapa yang saat ini berdiri di hadapannya.
Arsen menatap Lily dengan datar tanpa ekspresi apapun. Kemudian ia menyerahkan ponsel milik Lily. Setelah menghapus air matanya Lily dengan tangan yang sedikit gemetar menerima ponsel tersebut.
"T-terima kasih, Pak."
Lily menghormat pada Arsen dan melangkah untuk meninggalkan bosnya tersebut. Namun, tubuhnya tersentak saat Arsen mencekal tangannya.
Arsen tanpa sengaja menyaksikan apa yang terjadi dengan wanita yang sudah ditidurinya tersebut.
"Kamu mau ke mana?!" tanya Arsen dingin.
"Maafkan saya, Pak. Sepertinya, saya akan pulang saja," ujar Lily sedikit terisak. Kini ia seakan tak peduli jika mungkin saja keputusannya ini akan membuatnya dipecat dari pekerjaannya. Ia sudah tidak bersemangat lagi dan enggan untuk mengikuti acara liburan ini yang seharusnya menyenangkan.
Bagaimanapun hatinya sangat sakit saat ini. Ia tak ingin melakukan apapun saat ini selain pulang.
"Tidak ada yang boleh pulang sebelum acara ini selesai! Apa kau begitu lemah? Dunia ini kejam. Hal yang terjadi denganmu itu belum ada apa-apanya. Lawanlah dunia dengan kekuatanmu. Tunjukan pada mereka bahwa kau tak lemah seperti yang mereka kira!" ucap Arsen dengan penuh penekanan.
Lily sedikit tersentak mendengar ucapan bosnya. Namun, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Arsen. Jika sekarang ia pergi, itu akan membuat Ken dan Cynthia merasa menang dan akan semakin menginjak-injak harga dirinya.
Tapi, ia bingung akan ke mana, kamarnya sudah ditempati oleh Ken dan Cynthia. Sebenarnya, bisa saja ia menumpang di kamar Ana sahabatnya yang juga bekerja di tempat yang sama dengannya. Tetapi, saat ini kekasih Ana pasti sedang berada di kamarnya.
Melihat Lily yang kebingungan, Arsen menarik tangan Lily agar ia mengikutinya.
"Ikut saya !" ucapnya tegas.
Lily tidak mampu mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, saat bos-nya itu menarik tangannya begitu saja. Tak ada tenaga untuk melawan.
Ternyata Arsen membawa Lily kembali ke kamarnya. Lily yang kebingungan hanya diam dan berdiri mematung. Ia menunggu perintah Arsen dengan hati yang berdebar-debar. Ia juga tak tahu apa yang akan dilakukan oleh bos-nya ini padanya. Kenapa membawanya kembali ke kamarnya lagi.
"Kau tinggal di sini, bersamaku, aku akan membuat kesepakatan denganmu!"
Sontak saja ucapan tersebut membuat Lily Kaget.
Seakan tak peduli dengan raut wajah Lily saat ini. Lelaki itu duduk di sofa sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Duduk!" titahnya pada Lily. Wajahnya masih terlihat tanpa ekspresi.
"T-tapi ... saya-"
"Saya tidak menerima bantahan atau apapun!"
Seketika Lily mengatupkan mulutnya. Seketika ia teringat pada sesuatu. Ia pernah mendengar desas-desus mengenai bosnya ini. Tidak ada yang berani membantahnya sama sekali. Pernah ada karyawan yang membantahnya, kini nasibnya tidak diketahui sama sekali.
Bahkan lawan bisnisnya ada yang bernasib sama, bahkan pihak kepolisian tidak dapat mengungkap kasusnya sampai saat ini.
Semua beranggapan bahwa bosnya berada dibalik semua ini. Tapi tak ada yang berani mengusiknya. Lily tak mau jika hidupnya terancam, apalagi setelah ia bisa bebas dari cengkraman ibu tirinya. Jadi, saat ini dirinya memang tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah Arsen.
Meski ia hanya seorang karyawan biasa, dan jarang melihat bosnya ini secara langsung, tapi kabar mengenai bosnya tersebut ia juga mendengarnya. Dan Ana-lah yang memberitahunya.
"Bersihkan dirimu, kau tampak sangat berantakan!" ucap Arsen.
"Sebentar lagi acara kantor dimulai, nanti Ivanov akan membuatkan surat perjanjian. Oh ya satu lagi, jangan ada yang tahu tentang ini ... atau nyawamu sebagai taruhannya!" ucap Arsen dengan tenang.
Lily hanya bisa mengangguk. Ia kemudian pergi menuju kamar mandi.
-To Be Continue-
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Di mana acara kantor akan dimulai. Semua karyawan perusahaan Lazcano's Corps sudah berkumpul di ballroom hotel.
Acara ini hanya pembukaan saja, setelah itu para karyawan bisa menghabiskan waktu dengan acara masing-masing. Menjelajah dan bermain di resort milik perusahaan sesuka hati.
Lily kini menduduki sebuah kursi yang terletak di deretan belakang. Ia sedari tadi berusaha untuk mencari temannya, namun sama sekali ia tidak menemukan sosok Anna.
Bahkan laki-laki brengsek itu. Ah, sudahlah! Ia tidak akan ambil pusing lagi urusan itu. Ia akan berusaha melupakannya dan semua kejadian tadi pagi yang menimpanya.
Namun, kini ia bingung dengan nasibnya. Apa yang akan terjadi dengan hidupnya saat Arsen menawarkan sebuah perjanjian?
Dan, Lily juga tidak bisa menebak sama sekali isi perjanjian yang ditawarkan oleh bosnya tersebut.
Di tengah lamunannya, ia menangkap sosok yang dikenalnya. Matanya kini terpaku ke arah depan ballroom, di sana Arsen sedang memberikan sambutannya.
Lily masih tak bisa membayangkan. Ternyata laki-laki yang bersamanya semalam adalah orang yang berdiri di depannya. Sungguh ia sangat bodoh.
Ia berharap semua ini hanya mimpi. Tetapi, sisa rasa sakit di tubuhnya mengatakan jika ini bukanlah mimpi. Ia hanya melamun selama acara itu berlangsung. Hingga semua orang meninggalkan ballroom tersebut. Ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan sambil mencari Ana, sahabatnya.
Di sudut lain, Arsen tampak mengamati setiap gerak-gerik dari gadis tersebut.
Sementara itu, saat ini Lily tampak fokus memandang lautan yang terhampar di hadapannya. Sungguh luas, biru dan begitu indah, sedikit menghibur hatinya.
"Mom, Dad ... aku lelah," gumamnya lirih.
Mengingat perlakuan ibu tirinya, ditambah kejadian yang menimpanya sungguh membuat dirinya hancur. Ia ingin menangis. Namun air matanya sudah habis.
Ia masih tidak menyangka jika Ken akan berbuat sekejam itu padanya. Bahkan ia berencana akan memberikan sesuatu yang berharga untuknya. Dan bodohnya ia menyerahkan itu kepada bosnya.
Lily kembali menarik nafas dalam, entah hal buruk apa lagi yang akan menantinya. Lamunan Lily terhenti ketika ia mendengar beberapa pria sedang berdebat.
"Ok! Deal aku akui aku kalah! Brengsek, dasar wanita tak berguna!"
Terdengar pekikan kesal seorang pria tidak jauh dari tempat Lily berada.
'Tunggu ini seperti suara..." Lily membatin.
Lily bisa mendengarnya, tetapi tidak dapat memastikan dengan jelas, karena pandangan mereka terhalang oleh beberapa pohon.
"Sudah kukatakan kau akan kalah, haha!" Terdengar sebuah suara pria diiringi dengan tawanya.
Lily kini berhati-hati untuk menguping, ia tak ingin ketahuan. Gadis itu segera beringsut sedikit menjauh dari tempatnya tetapi, ia masih bisa mendengar semua dengan jelas.
"Sial! Jalang pembawa sial, si brengsek Lily!"
Mendengar namanya disebut, ia membulatkan matanya. Astaga, apa maksudnya?
"Cepat bayar! Kau sudah kalah, kau tidak bisa menidurinya, waktu sudah habis!" Tawa pria itu makin kencang, ia mendapat kemenangan.
Aku? Meniduri? Kalah? Bayar?
Astaga! Ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Hatinya semakin sakit saat ia mengetahui fakta jika selama ini Ken dan teman-temannya menjadikan dirinya sebagai bahan taruhan.
Emosi Lily meledak, ia tak bisa menahannya lagi. Ia segera menghampiri mereka, dan menampar Ken dengan kasar.
Seketika mereka kaget dengan serangan Lily yang tiba-tiba. Membuat Ken tak dapat menghindar.
"Sialan kau jalang sialan!" umpat Ken. Ia berdiri dan mendorong tubuh Lily hingga Lily tersungkur di pasir.
"Kau brengsek, Ken! " pekik Lily.
"Sialan! Gara-gara kau aku kalah taruhan, sial!" ucap Ken dengan emosi.
Dengan susah payah Lily berdiri dan berhadapan dengan Ken. Ia akan kembali menampar Ken, namun tangannya ditahan oleh laki-laki yang bersama Ken sejak tadi dengan tawa yang menyeringai.
"Bagus, tahan jalang ini!" ujar Ken tersenyum puas. Ken mendorong tubuh Lily. Tubuh Lily menghentak dengan kasar di sebuah pohon, membuatnya meringis kesakitan.
Sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun Ken mencekik leher Lily dan menempelkan kepalanya di pohon. Membuat napas Lily tersengal-sengal.
Ketiga pria itu hanya tertawa, seakan itu kejadian lucu.
"Kita apakan dia, heh? Lumayan mainan baru," ucap Ken. Seketika mata Lily membelalak, air mata lolos dari sudut matanya.
Apakah hidupnya akan berakhir sekarang?
Lily berusaha memberontak, namun sia-sia. Cengkraman kedua laki-laki di tangannya sangat kuat. Ditambah Ken masih mencengkram lehernya dengan kuat.
Ken melepaskan cengkramannya. Kemudian menampar pipi kiri Lily dengan kuat hingga pipi yang tadinya putih itu kini memerah.
"Kau akan kami siksa!" Ken tersenyum jahat, diikuti tawa teman-temannya.
Kini Lily hanya bisa menangis, ia pasrah. Apalah daya, dirinya tak berdaya melawan Ken dan teman-temannya.
Namun, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan . Membuat semua menoleh ke arah orang yang datang tersebut.
"Hebat! Tiga pria lawan satu wanita! Sungguh sangat gantle sekali!" ucap pria itu dengan wajah dingin.
Ia datang bersama dengan beberapa anak buah di belakangnya.
Seketika ketiga pria itu melepaskan cekalan tangannya di tubuh Lily. Seketika tubuh Lily melorot dan jatuh terduduk di tanah. Bahkan ia terbatuk dan menyentuh lehernya yang sakit, serta pipinya akibat perbuatan Ken.
"Pak, maaf kami hanya sedang bercanda," jelas Ken sedikit salah tingkah.
"Oh, ya?" Arsen mengangkat alis matanya dengan tatapan tajam.
Mereka bertiga mengangguk. "Iya kan, Ly? kita sedang main-main?"
Ken berusaha menarik tangan Lily dan membantunya berdiri. Ia berusaha untuk tampak manis terhadap Lily.
Namun, Arsen menatap tajam tangan Ken yang berusaha menyentuh Lily.
"Jangan sentuh dia!" teriak Arsen.
Teriakan Arsen membuat Ken menghentikan gerakannya seketika. Arsen melangkah semakin mendekati mereka diikuti oleh para pengawalnya. Membuat Ken dan teman-temannya ketakutan.
"Ayo Lily, kamu berdiri, cepat!" perintah Arsen pada Lily sambil mengulurkan tangan dan menatap gadis itu dengan tajam.
"B-baik." Lily mengangguk kemudian meraih uluran tangan Arsen.
"Jika kalian ingin bermain dan bercanda, lakukan dengan pengawalku!!" Arsen menyuruh pengawalnya untuk maju dan menghadang ketiga pria tersebut, dan mengajak mereka bermain.
Langkah Arsen sama sekali tidak terganggu saat suara teriakan ketiga laki-laki itu terdengar. Lily sempat menoleh ke arah mereka yang sedang diajak bermain oleh pengawal Arsen.
Pengawal Arsen dengan semangat memukuli bahkan menendang ketiga pria tersebut.
Lily tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat Arsen menarik tangannya untuk menjauh dari sana. Ia mengikuti langkah Arsen ke mana ia membawa dirinya.
Sedangkan Ivanov dengan setia mengikuti mereka dari belakang. Wajah lelaki itu pun sama dingin dan datarnya dengan Arsen.
Jujur, Lily merasa takut dengan aura dingin yang dikeluarkan oleh kedua pria tersebut. Entahlah, hal itu berhasil membuat bulu kuduk Lily meremang.
-TO BE CONTINUE-