Bab 1

"Yahh kasian! Kamu enggak punya orang tua kan? Makanya ngambil raport sendiri," ujar salah seorang anak sambil menatap remeh gadis kecil yang menunduk di hadapannya.

"Dia itu punya mama-papa tapi, mama-papanya sibuk sama adik-adiknya," sahut teman di sampingnya. Sedangkan, 'dia' yang disebut tetap diam menunduk.

"Iya, makanya kamu jangan nakal. Jadinya mama kamu lebih sayang sama adik kamu."

"Mama kamu enggak sayang kamu, ya? Kasian!"

"Ayo, jangan main sama anak nakal."

Mendengar kata 'nakal' gadis kecil ini itu tak terima dan mulai menangis. "Hiks, mama aku sayang aku! Aku enggak nakal hiks," balasnya dengan sesenggukan. Dia benci dihina, dia sangat benci dicaci tapi, dia nggak tahu harus apa. Bahkan mamanya saja lebih sayang adiknya dari pada dia.

"Mama bohong hiks, mama bilang mama bakal datang hari ini tapi, mama malah nggak dateng. Aku benci dibohongi! Aku benci!" lirihnya dengan emosi.

Akhirnya, gadis kecil itu pulang ke rumahnya.  Ia membawa rapotnya dan sertifikatnya yang tertera tulisan 'peringkat dua' di sana. Harusnya, dia senang karna bisa membuat mama-papanya bangga. Namun kini, dia sedih karena mamanya tidak datang mengambil rapotnya.

"Assalamualaikum, Lai pulang!" teriak gadis itu. Biasanya mamanya akan menghampirinya, tapi ini tidak ada tanda-tanda mamanya ada di rumah.

"Mama!" teriaknya lagi.

"Sini dek di dapur ada kakak, kakak lagi masak," ucap seseorang dari arah dapur kala mendengar Lai berteriak.

Lai celingak-celinguk, ia datang menghampiri kakaknya dan bertanya, "Mama mana, Kak?"

Sang kakak menghampiri Lai, melihat mata sembab Adiknya. "Kamu nangis? Kenapa?" Ia mengusap rambut adiknya dengan lembut. Lai yang ditanya malah semakin menangis.

"Mama mana?!"sentaknya.

"Astaghfirullah! Kamu kenapa? Mama sama papa pergi ke rumah Tante Dina, Tante Dina lahiran dek."

"Mama tadi bohong dan sekarang mama ninggali Lai. Mama jahat! Mama lebih sayang adek, mama lebih sayang tante. Mama jahat kak, mama jahat!" Lai menghentakkan kakinya, lalu meninggalkannya kakaknya menuju kamarnya.

"Mama bohong! Mama nggak ambil rapot Lai. Papa juga bohong, pergi nggak ajak Lai. Tante juga, katanya mau ajak Lai kalo lahiran, tapi mana? Semua bohong! Lai benci bohong! Lai benci semuanya! Lai benci!"

Gadis itu menangis, tak mengeluarkan suara lagi. Mungkin sudah lelah, karena dari tadi dia sudah menangis lama, dia beranjak ke kasur motif angsanya dan mulai tertidur. Gadis itu meringkuk di bawah selimutnya. Perlahan kelopak matanya mulai terpejam.

"Kamu enggak boleh dihina, kamu anak pintar. Kamu harus kuat, kamu enggak akan bisa lagi dibohongi. Kamu pasti bisa semangat." Suara itu, suara bisikan yang  terdengar asing di telinga Lai. Lai tidak tau itu bisikan dari siapa. Yang pasti, bisikan itu membangkitkan sesuatu di dalam diri Lai.

***

Dua anak kecil sekitar umur sembilan tahun sedang  mengobrol di taman main.

"Aku kemarin dengerin mama baca koran, katanya ada psikopat," ucap salah satu anak berambut panjang digerai, dengan bando sebagai aksesorisnya.

"Hush, kamu diam!" sarkas kasar salah satu anak lain yang berambut pendek. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga anak berambut panjang tadi. "Kamu tau nggak kenapa aku selalu ikut Eja ke mana-mana? Eja nyuru apa pun aku turutin?"

"Enggak tau, emang kenapa?" tanya anak itu penasaran, sambil memperbaiki bandonya yang miring karna ulah temannya.

"Dia itu psikopat. Jadi kalo kamu mau selamat, kamu harus nurutin semua kemauan dia, kalo engga dia bakal bunuh kamu!"

"Aku nggak mau dibunuh," gumam anak itu.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki datang dengan kacamata hitam melekat di matanya. "Heh kalian! Lagi ngapain aku mau jajan kalian ikut nggak?"

"Ayo kita ikut! takut dia marah," ucap anak berambut pendek.

"Iya ayo." Mereka berlari menuju laki-laki berkacamata itu. "Kamu kalo butuh aku bilang aku nggak akan nolak."

Anak laki laki itu merasa heran, lalu mendapat bisikan dari si rambut pendek dan akhirnya paham. Setelah kejadian itu, anak berambut panjang sering disuru-suru oleh kedua anak tadi. Sampai tiga hari kemudian, anak perempuan berambut panjang di suru membeli jajanan di warung, dan anak laki-laki ditinggal sendirian di taman. Setelah anak perempuan kembali, dia melihat ada orang dewasa yang menarik narik anak laki-laki terlihat seperti akan terjadi penculikan.

Perempuan berambut panjang bersembunyi di semak semak. Setelah berancang-ancang ia berteriak, "Eh, om polisi di sini aja mainnya di taman!"

Penculik tadi panik dan mengurungkan niatnya untuk menculik. Anak perempuan itu pun menghampiri anak yang hampir diculik tadi. "Kamu nggak papa?"

"Aku gak papa makasih," ujar anak laki laki dengan tatapan bersalah.

"Sama-sama, nih jajan kamu." Perempuan itu menyodorkan keresek hitam yang sedari tadi ia pegang.

Laki-laki itu menggeleng. "Buat kamu aja, aku minta maaf karna udah bohongin kamu. Sebenarnya, aku bukan psikopat. Aku bohong sama kamu, biar kamu nurut sama aku. Aku minta maaf," ucapnya sambil menunduk.

Anak perempuan syok mendengarnya dia merasa ditipu, dibohongi, dipermainkan, "Kamu jahat!"

Anak itu pergi meninggalkan anak laki-laki yang menangis. Dia berlari tak tau arah sambil meneteskan air mata. Gadis kecil yang benci kebohongan, benci dikhianati dan diperlakukan semena-mena. Larian kecil berubah menjadi langkah, karna kecapean. Ia terus menangis, sampai tak sadar jika dia tersesat. Gadis kecil itu melihat sekitar mengusap air matanya menahan diri untuk tak mengeluarkan suara. Namun sia-sia, air matanya terus menetes karna ketakutan.

Dia menyadari jika dia berada di tempat sepi sendirian. Ada rumah yang tak jauh dari pandangannya. Namun, rumah itu nampak tak berisi, terkesan horor. Rumah yang penuh dengan sarang laba-laba, berdebu dan sangat kumuh. Tangisannya mulai bersuara dan kakinya tak tau harus berjalan ke arah mana, melihat sekitar tak ada orang di sana.

"Lai hiks kuat, Lai kuat hiks," lirihnya meyakinkan dirinya sendiri.

"Woy, berisik!"

Teriakan itu membuat tubuh Lai bergetar, tangisnya semakin kencang. Seorang remaja datang dengan wajah kesalnya. Namun, Setelah remaja itu melihat ke arah Lai, mimik wajahnya berubah. Dia tersenyum tulus dan segera menghampiri Lai.

"Hei, kamu kenapa? Jangan takut ayo ikut kakak, nanti kakak anterin kamu pulang!" Hibur remaja itu sambil mengusap bahu sang anak.

Gadis itu meredakan tangisannya. "Lai takut ... Lai hiks ... tidak tahu jalan hiks untuk pulang."

Sang remaja itu paham dengan apa yang dikatakan Lai. "Gak papa, kamu tinggal di mana? Nanti kakak anterin."

"Aku tinggal di komplek xxx."

"Ya udah sekarang ikut kakak jalan-jalan dulu, mau enggak? Biar kamu nggak sedih lagi. "

Lai mengangguk antusias. "Mau, Kak."

***

Lai menangis kencang, setelah mendapat kabar bahwa sang kakak pergi ke Jakarta tanpa pamit padanya. Dia marah, tentu saja. Kecewa, apalagi. Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi dia telah dibohongi oleh orang terdekatnya.

Mamanya mendekat ke arah gadis itu mengusap-usap punggungnya lembut, "Udah sayang kakak kamu ke Jakarta buat kerja, biar bisa dapat uang buat kamu sama adek kamu sekolah."

Bukannya mereda tangisan gadis itu malah mengencang. "Kakak bohong, Mah! Kakak bohong, kakak bilang dia bakal temenin aku tidur. Dan Kakak malah ninggalin aku, padahal kakak udah janji nggak bakal ninggalin aku."

"Enggak sayang kakak kamu enggak bohong, kakak kamu engga ninggalin kamu, dia masih ada di sini di hati kamu." Mamanya menunjuk ke arah dada Lai. "Kita masih bisa video call atau  telponan. Kakak kamu juga bakal pulang sebulan sekali. Jadi kamu jangan merasa kalo kakak kamu ninggalin kamu ya."

Tangisannya mulai mereda, Lai juga mulai menghapus air matanya kemudian menganggukkan kepalanya. "Aku boleh main nggak, Mah? Aku mau jalan-jalan liat pemandangan di luar."

"Emang kamu enggak capek, tadi kan habis nangis?" tanya sang Mama.

Lai menggelengkan kepalanya. "Enggak mah, aku cuma mau main sama kakak ganteng biar aku seneng boleh ya?"

"Boleh, tapi mandi dulu sana!"

"Yeay! Main sama kakak ganteng."

Lai nampak sangat bersemangat, seolah melupakan kakaknya dan  tangisan bawang bombai yang tadi. Dengan alasan, karna dia bisa ketemu dengan kakak gantengnya, orang yang pernah mengantarkan dirinya pulang dengan ketika dia tersesat.

Bab 2

"... Maka dari itu, sekali lagi saya ingatkan supaya berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu. Sekian dari saya. Billahi fi sabililhaq, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap seorang gadis mengakhiri ceramahnya di depan para murid MA Adiwijaya. Semua serempak menjawab salam dan bertepuk tangan untuk gadis itu.

"Bisa-bisanya lo ceramah lancar tanpa gugup sedikitpun, Sil, " celetuk salah satu teman dari gadis yang ceramah tadi.

"Nggak gugup apanya, tadi gue cakar tuh bangku depan. Lo liat aja parah tuh gue rusak Lui," balas Sila dengan memutar mata malas nya karena Luisa benar-benar berlebihan.

"Sini mana? Liat kukunya, sakit gak?" tanya Luisa.

"Tuh merah sakit tau."

"Udah nggak usah lebay lo, dengerin tuh Pak Anta," lerai Desti, dia tak mau jika nanti harus terbawa masuk BK karena tak mendengarkan guru BK sedang ceramah ngisi acara rutin Jum'at.

Sila, Desti dan Luisa memang dekat semenjak kelas sebelas. Mereka ke mana-mana selalu bertiga jika di sekolah. Dan jika setelah pulang sekolah, mereka jarang sekali bertemu, karena masing-masing rumah mereka terbilang jauh. Mereka juga saling tertutup tapi tetap saling perhatian.

Siti Laila As Sila, di sekolah dikenal sebagai queen of mathematics karena memang pintar di bidang ini. Sila juga dikenal sebagai seorang anak ustadz. Maka, dia di-cap baik di sekolah. Namun, banyak juga orang yang tak suka, mungkin karena iri atau faktor lainnya. Luisa Putri Andini, nggak terlalu pintar di bidang akademik. Namun,  kecantikannya sangat disegani, ia juga baik,ceria, dan paling bawel lagi cerewet di kelasnya.

Destia Riani, dikenal sebagai anak ambis , pintar, tidak banyak bicara. Dia tidak suka dengan anak OSIS. Karena menurutnya, OSIS nggak lebih dari sekedar babu yang menjelma menjadi putri di sekolah. OSIS selalu merasa berkuasa di sekolah. Namun, meskipun tak suka dengan OSIS dia tak pernah membuat masalah dengan anak OSIS.

***

"Akhirnya kelar juga sekolah," gumam Desti terdengar remang oleh kedua teman di sampingnya. Mereka sedang berjalan keluar aula setelah rutin Jum'at.

"Hah,ngomong apa lo?" tanya Luisa penasaran.

"Akhirnya kelar juga sekolah!" teriak Sila di telinga Luisa, menjawab pertanyaan Luisa.

"Lo denger? Padahal lebih deket gue lho jaraknya, emang bener Des lo ngomong gitu?" elak Luisa.

Desti mengangguk mengiyakan, "Iya, kenapa? Nggak boleh?"

Sila terkekeh mendengar elakan Luisa. "Emang dasarnya aja lo itu budeg haha cantik cantik budeg."

Luisa melotot tak terima. "Eh, lalalala gue nggak budeg ya. Lagi pun kalo gue budeg gue ralat ucapan lo, budeg-budeg pun gue paling cantik huh," sombongnya sambil mengibaskan kerudungnya.

Sila ingin melawan ucapan Luisa. Sangat menyenangkan jika mereka berdebat dan akan banyak waktu dibutuhkan untuk perdebatan sekecil apapun. "Lo ngg—"

"Gue pulang," ucap Desti tiba-tiba sembari mengangkat tangan sambil menjauh dari keduanya.

Sila merasakan ada yang bergetar di saku rok nya, dia melihat handphone dan ternyata ada notif WhatsApp.

[Malam ini jam setengah sembilan Kafe Intan.] Pesan itu dikirim oleh Reno.

[Oke, lo yang bayar kan? Thanks.]

[Sans.]

Tanpa Sila sadari Luisa mengintip HP Sila. "Cowok lo?"

Sila kaget langsung memasukan HP-nya. "Bukan, dia temen gue, ngajak study date," jawab Sila asal

Luisa mengambil cermin mini di sakunya dan bercermin, membenarkan kerudungnya yang sudah tak rapi. "Kirain. Jemputan gue bentar lagi datang."

Sila mengambil cermin Luisa dan memasukkannya kembali ke saku seragam. " Ngaca mulu perasaan."

Luisa mencebik, ia masih ingin berdebat dengan Sila. Namun, jemputannya sudah sampai. " Gue duluan, babai Sila kuchel!" pamit Luisa dengan cengiran khasnya.

Sila tersenyum menanggapi Luisa, entah lah dia tidak pernah menyangka akan berteman dengan Luisa dan Desti yang beda kepribadian dengan Sila. Satu motor sport hitam berhenti tepat di depan Sila. Orang yang mengendarai motor itu membuka helm dan tersenyum menyapa Sila.

"Harus gue lagi sekarang?" tanya orang itu.

Sila tersenyum menanggapinya, "Iya, lo kan tau papa gue sibuk."

"Lo itu punya paman nih ya, yang umurnya hampir sama kek gue. Kenapa nggak lo suru aja tu orang? Malah ngerepotin tetangga."

Sila terkekeh sambil naik motor itu, " Udah, ke supermarket  cepetan, gue beliin seblak deh, kita nyeblak bareng nanti."

"Wihh oke!" teriaknya sambil menancap gas Sila hampir jatuh saat itu.

***

Di sisi lain ada dua orang berbaju hitam memantau Sila dari kejauhan. Orang itu merasa usahanya dua hari ini sia-sia karena tidak mendapatkan  keanehan pada diri Sila. Mereka pun memutuskan untuk menelepon orang yang menyuruhnya.

"Halo bos, kami tidak menemukan keanehan apapun selama tiga hari ini," ucap salah seorang.

"Baiklah, kalian harus segera pulang sebelum dia menyadari keberadaan kalian! Ingat dia itu manipulatif, cerdik jangan sampai kalian terkecoh."

"Baik bos, kami akan segeralah pulang."

***

Di balik telepon tadi, orang itu menggeram tidak mungkin anak buahnya tidak menemukan  apapun. Padahal, dirinya sangat yakin jika Sila adalah sosok yang licik dan akan menghancurkan WASP. WASP adalah sebuah perkumpulan anak SMA, Mahasiswa dan ada juga yang sudah lulus SMA, tapi tidak kuliah. WASP hanya memiliki 40 anggota. Namun, jarang kalah jika ada pertempuran dengan komunitas lain yang jumlah anggotanya lebih banyak dari mereka.

Sila merupakan salah satu anggota inti WASP, karena kecerdikan dan kepintarannya dia dijadikan sebagai pengatur strategi, Sila pandai memanipulasi orang bahkan teman temannya sendiri. Hidup Sila penuh dengan misteri.

Anggota inti WASP terdiri dari Alfian Riko Saputra sebagai ketua, Vandra Raditya sebagai wakilnya, Dika Gemilang sebagai panglima tempur, Devi Andini-sang bendahara, Raditia Gumilar-sang penasehat, Merry Adriani-hacker dan yang terakhir ada Siti Laila sebagai pengatur setrategi.

"Sial , kayaknya bukan gue aja yang curiga sama tu orang, gue yakin—" Seseorang mendobrak pintu ruangan itu, sehingga menimbulkan bunyi yang keras. Dia Riko, ketua geng WASP.

"Maksud lo apa, nyuru orang buat ngawasin Sisil ha?!" teriak Riko

Orang yang ditanya malah memiringkan senyumannya, "Kenapa emang nya? Lo suka sama Sisil? Udah lupa sama Lena?"

Riko menonjok rahangnya, sampai dia tersungkur ke lantai. "Jangan sembarangan ngomong lo!"

"Emang kenyataannya kan, lo lebih peduli sama Sisil dibanding Lena. Sekarang lo liat Lena yang lagi marah, lo udah bujuk dia? Gue rasa belum kayaknya, dan sekarang lo malah mentingin Sisil. Haha lucu ya, pacar sendiri dibiarin sedangkan Sisil lo terus perhatiin." Riko marah dan memukulnya membabi-buta.

"Anjing lo Dika! Jadi itu tujuan lo, dengerin gue dan camkan baik baik! Gue suka sama Lena, gue cinta sama Lena, gue bakal lindungin Lena, jaga Lena dan perhatiin Lena! Dan  Sisil, dia gue anggap sebagai adek gue! Gue punya hutang nyawa sama dia!" teriak Riko menggelegar.

Dika yang masih kesakitan akibat pukulan Riko, hanya menyeringai menganggap remeh Riko. "Tanpa lo tau seluruhnya? seluk beluk anak itu?" Sebenarnya itu bukan pertanyaan, tapi kalimat sindiran untuk Riko.

Riko terdiam memang benar dia hanya tau keluarga kecil Sila, rumah Sila, sekolah Sila, itu saja dan tidak mencari tau lebih dalam lagi. Karena Riko mempercayai Sila. Namun, omongan Dika kali ini seperti sebuah tanda bahwa ada sesuatu penting tentang Sila.

"Gue cuma curiga sama Sisil, Rik," ucap Dika datar.

"Kenapa?" Amarah Riko terganti dengan rasa penasaran.

"Sisil akhir-akhir ini sering nggak ikut ngumpul, baik online ataupun offline. Gue juga pernah liat Sisil dikasih senjata api sama orang misterius berbaju hitam dan orang itu bukan anggota WASP, gue curiga karena ini. Senjata api itu bukan senjata biasa."

Riko menatap Dika dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue balik!" Riko melenggang pergi ke luar.

Riko menatap bangunan dua tingkat bercat hitam abu di hadapannya. Dia takut bangunan ini akan roboh. Ralat bukan bangunannya yang roboh, tapi orang yang mengisi bangunan itu. Terdengar deringan ponsel dari sakunya Riko segera menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelepon.

"Halo?" tanya Riko datar.

"Jemput aku Rik aku sakit, di rumah nggak ada siapa-siapa, perut aku sakit banget tolong!" Mendengar suara itu, Riko langsung melihat nama penelpon.

Bab 3

"Thanks, Bang Ren," ucap Sila setelah turun dari motor di depan rumahnya.

"Nyusahin lo," sarkas Reno.

"Udah ditraktir seblak juga."

"Cuma dua porsi juga," elak Reno mengikuti nada lebay Sila.

"Serah lo deh , gue besok mau ada acara ultah temen nih lo ikut nggak? Biar gue nggak dikatain jomblo gitu."

Reno memutar bola matanya. "Bilang aja mau ojeg gratis, huh."

Belum sempat Sila membalas ucapan Reno, Reno terlebih dulu bicara, "Tapi oke lah, makan gratis! Jadwalnya kirim ke gue," ucap Reno sebelum melajukan motornya.

Sila pun segera masuk ke rumahnya tapi, dia merasa ada yang aneh. Kok rumahnya sepi tidak seperti biasanya? Ke mana mama dan adik-adiknya? Jika papanya pasti sedang ada acara di luar.

"Pada ke mana sih? Assalamualaikum! Ada orang nggak?!" teriak Sila

"Di taman Kak Lai!" Terdengar teriakan adiknya dari taman belakang rumahnya. Sila pun segera pergi untuk melihat ke taman.

"Astaghfirullah, itu kenapa ada darah?!" tanya Sila kaget melihat ada darah dan bangkai.

"Ini toh mama dapet harta karun," kata sang adik, Fajar.

Mamanya Sila, Nadine menatap tajam Fajar. "Sembarangan kamu, ini Lai mama kan tadi mau menanam bunga. Pas gali tanah ehh, ada mayat kayak gini. Terus mama teriak, datang deh semua ke sini." Nadine menunjuk ke arah bangkai kucing. "Tuh liat mayat kucingnya! Kasian mana tubuhnya pisah-pisah lagi, matanya tuh menggelinding, kenapa ya? Kok bisa ada di sini? Jijik mama."

"Mungkin kucingnya udah mati, terus dipotong-potong dan dikubur di sini sama psikopat biar nggak ninggalin jejak," celetuk Nazriel adik pertama Sila.

"Kebanyakan nonton drakor kamu, Jil." Sila refleks mendorong Nazriel. "Udahlah, nggak usah dipikirin Ma! Suru Ajil aja buat kubur lagi, mama masuk ke rumah, itu Lai tadi udah belanja sama Bang Reno." Nadine pun mengangguk dan masuk ke rumahnya.

Nazriel menatap Sila tak terima. "Kakk!" rengek Nazriel.

Sila tersenyum mengejek pada Nazriel. "Jar sini duduk! nonton kesengsaraan Bang Ajil." Ajak Sila, duduk di bangku dekat taman itu, disusul Fajar yang terus tertawa melihat penderitaan kakaknya.

Nazriel makin menggerutu menatap Sila dengan tatapan tak sukanya. "Baru pulang rumah, bukannya dimanjain malah dijajah," gerutunya sambil mengambil alat untuk mengubur kucing itu.

***

Jalanan Bandung memang sangat ramai, buktinya sekarang jam enam pagi saja sudah ada yang namanya kemacetan. Namun, seseorang yang tengah mengendarai motor tidak mempedulikan kemacetan. Dia terus menyerempet kendaraan lain di depannya. Karena memang tidak ada polisi yang berjaga. Dia melamun mengingat, kejadian di mana ia di telepon oleh kekasihnya. Mendengar suara yang sangat dikenalinya, Riko langsung melihat nama penelpon 'Nyonya Saputra '

"Na, kamu di rumah kan? Aku lima menit lagi bakal nyampe. Kamu tahan jangan pingsan ok?"

Riko segera mematikan telpon dan menuju ke rumah pacarnya dengan khawatir. Setelah sampai di rumah pacarnya, Riko melihat Alena yang sudah jatuh pingsan, dengan panik Riko membawa Alena ke rumah sakit.

"Nona Alena bukan hanya memiliki penyakit lambung, tapi juga Anemia atau kangker darah."

Mendengar kata itu, Riko semakin merasa kasihan pada Alena, apalagi dengan keluarga Alena yang masih di luar negri. Riko tidak tahu harus bagaimana, biaya pengobatan mungkin bisa di pinjam dari orangtuanya. Namun, keluarga Alena harus tahu itu semua.

Riko yang asik melamun, tak melihat orang yang menyebrang hampir saja mencelakai orang itu, dia membelokkan motornya dan menabrakkannya ke trotoar, "SHIT!"

Orang di sekitar langsung mendekat ke arah tepat kecelakaan,Termasuk ada Sila yang sedang berjalan, dan merasa kepo.

"Itu kasian, cepet panggil ambulans!"

"Untungnya pake helm ya!"

"Buka dulu helm-nya pengap itu!"

"Hati-hati pak kasian kakinya."

"Untung jalannya gak kenapa-napa ya pak. "

"Kok mentingin jalan sih bu?"

"Udah dipanggil ambulansnya kan?"

Sila melihat korban itu langsung mendekat, dan berusaha membangunkannya. "Bang bangun, Bang!"

"Kamu kenal, Nak?" tanya salah seseorang. Terdengar suara sirine ambulan yang mengalihkan atensi semua orang.

"Saya kenal pak, saya ikut."

***

Di sebuah gedung berdesain black-gray, di sisi jalan sepi yang jarang dilalui orang, terdapat anak-anak remaja dan dewasa sedang berkumpul. Mereka sedang melakukan berbagai aktivitas ada yang bercanda gurau, mengobrol, bernyanyi-nyanyi, dan ada juga yang sibuk dengan handphone masing-masing.

Tiba-tiba terdengar sebuah keras dari arah pintu. Semua orang menoleh ke arah pintu yang dibuka paksa. Menampilkan cewek berbaju hitam dengan rambut diikat rapi dan mengenakan jaket kebesaran WASP, Devi Andini sang Bendahara di WASP. Dia datang dengan napas tak beraturan, sambil menekan knop pintu beberapa kali mengatur napas, membuat orang-orang di sana makin penasaran.

"Kenapa sih, Yang? Sini duduk dulu!" celetuk Rio, salah satu anggota WASP yang lumayan playboy.

Devi menghela napas ulang, menghampiri teman-temannya. "Si bos di rumah sakit, tadi Sisil nelpon gue," ucapnya.

"Please, jangan ada yang komen dulu!" teriak Devi sebelum para anggota WASP menyampaikan opini mereka. Devi merogoh sakunya, mendapati benda pipih yang harganya jutaan dan menelepon orang yang di namai 'Adit cengeng' dia menyambungkannya dengan  spiker box  agar semua orang bisa mendengar.

"Halo Dev? Gue udah di rumah sakit bilangin sama anggota, malem ini nggak jadi rapat kalian pesen makanan aja, dibayar sama lo Dev, dari duit itu. Kalo yang mau pulang, pulang aja," ucap seseorang di sebrang sana.

"Iya Dit, terus kita harus ngapain? Apa perlu kita ke sana?" tanya Devi.

"Ya mungkin nanti kalo mau ke sini aja dua atau tiga orang biar si bos ada yang jagain. Alena juga lagi sakit di kamar sebelah, dia juga tadi pingsan."

"Lo bisa ceritain dulu kejadiannya nggak?"

"Gue nggak tau, mungkin Sisil nanti, kalau keadaan sekarang sih si bos masih ditangani. Kecelakaannya nggak terlalu parah kayak dulu, kalo darah mungkin bakal butuh yang punya darah B+ kasih donor si Bos dong jangan dari Sisil mulu kasian!"

"Oke makasih Dit, kalo gitu kita diskusikan tentang ini dulu sama Bang Vandra."

"Iya bye."

Devi mematikan handphone-nya. "Gimana, Bang?" tanya Devi pada seseorang yang sedang menghisap rokok di pojok belakang ruangan.

Vandra mengendikkan bahunya. "Yaudah, anggota inti masuk ke ruang rapat, Dev lo pesenin makanan buat mereka nanti gue yang bayar aja, yang punya darah B+ dan mau ngedonorin ikut ke ruang rapat!"

***

Di ruangan rawat Riko, dua orang duduk di kursi yang disediakan, dan dua orang menunggu di luar ruangan sambil bermain game. Sila melihat jari Riko gerak dan mata Riko yang hampir terbuka menyipitkan matanya. Dia menghela napas, ternyata Riko memang sudah sadar.

"Udah bangun lo, kirain mau mati lagi?" ujar Sila

"Kamu udah sadar, kamu inget aku siapa nggak? Kamu ada yang sakit atau pusing? Kamu mau aku panggilin dokter atau kamu—" Ucapan itu terhenti ketika jari Riko menempel di bibir perempuan cantik bawel itu. Dia Alena, pacar Riko.

Sila memutar bola mata malas. "Gue balik, di luar ada Dika sama Adit."

Riko mengangguk. "Harus hati-hati jangan ngebut!" pesan Riko pada Sila.

Alena tersenyum mendengar perhatian pacarnya kepada orang lain. Dia harus positif thinking pada Sila, karena Sila sudah menolong pacarnya. "Makasih Sil udah nolongin pacar gue."

Sila tersenyum ramah. "Sama-sama, inget lo juga jaga kesehatan."

"Iya."

Sila keluar dari ruangan mendapati Dika dan Radit sedang bermain game online. Mereka memberhentikan aktivitasnya ketika melihat Sila keluar. Radit tersenyum, dan Dika menatap Sila datar.

"Gue balik, bentar lagi Vandra ke sini sama Devi."

"Oke, lo hati-hati!" balas Radit, sedangkan Dika masih menatap Sila dengan tatapan tak suka.

Sila melenggang pergi dari sana, dia sudah memesan taksi online dan taksi itu sudah berada di depan rumah sakit, dia pun memasuki taksi itu. Di dalam taksi, Sila terus memainkan handphone-nya. Tiba-tiba suara deringan terdengar, menandakan ada panggilan masuk, bukan telpon biasa melainkan video call terpapar jelas nama kontak 'mine' di panggilan itu.

"Halo Sweety!" Sapa seseorang dengan suara serak khasnya.

"Hay, kamu udah nyampe ya?"

"Belum."

"Kalo belum kok udah bisa vc jangan-jangan ka—."

"Jangan ngada-ngada kamu! Aku udah vc berarti aku udah nyampe, Sayang."

"Maaf kamu nunggu aku ya?"

"Iya lama banget tau."

"Maaf, bentar aku nyuru sopir dulu.”

Gadis itu beralih kepada sang supir taksi. “Mas boleh cepetan nggak nyetirnya, saya lagi buru-buru banget." Sopir segera mengebut, menuruti kemauan Sila.

"Eh-eh, enggak sayang. Aku becanda, aku baru nyampe langsung vc kamu, belum nunggu kok."

"Pokoknya aku nggak bakal biarin kamu nunggu lama."

"Hati-hati sayang jangan sampai kamu kenapa-napa."

"Iya-iya."

Mereka melanjutkan vc tersebut dengan membahas berbagai macam hal random, sampai sopir memberitahu Sila bahwa mereka sudah sampai di Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO). Sila segera masuk ke Bandara menemui seseorang di sana.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED