Bab 1

Cempaka Akshita Atmaja namaku, usiaku baru sepuluh tahun saat mengenal dirinya. Aku tahu benar jarak usia kami jauh, saat itu saja usianya sudah delapan belas tahun.

Kata tante Bunga cinta tak memandang usia, ya mungkin memang begitu. Namun seiring berjalannya waktu ia mulai menjauh dariku. Menjaga jarak dan selalu ketus terhadapku. Nama pria pujaanku adalah Abimanyu Ernesto, Ernesto adalah nama tengahnya. Neneknya 'Mbah Sri' begitu aku memanggilnya, beliau mengatakan nama belakangnya pantang disebut karena hanya akan mengingatkan kesedihannya ditinggalkan oleh kedua orangtuanya yang pergi ke negeri lain dan meninggalkannya bersama sang nenek.

Seiring berjalannya waktu semakin banyak luka yang ia torehkan. Selama ini aku berusaha mentoleransi segala tingkah lakunya yang dingin dan menjadi seorang playboy.

Walaupun dia tidak banyak bicara terhadapku, dulunya kupikir dirinya memang pendiam tetapi ternyata berbeda jika berhadapan dengan wanita lain. Ia selalu ramah dan murah senyum.

Sampai pada akhirnya hatiku mulai meragu dan aku merasa kalah. Perjuanganku agar terlihat pantas di hadapannya selama ini tampak sia-sia saja.

Inilah kisah perjuangan cintaku. Seperti kata mami, "Hidup penuh perjuangan Nak."

Saat ini aku sudah menyelesaikan pendidikan strata dua di usia ke 24 tahun sekarang ini. Papi memintaku untuk kembali, hatiku meragu akankah aku sanggup kembali bertemu dengannya?

*****

"Mami, siapa jemput Cempaka?" tanya Jovan kepada istrinya.

Alma yang sedang menata makan siang suaminya di showroom mereka menghentikan kegiatannya dan menatap suaminya itu.

"Mau balik sendiri katanya dia nggak mau dijemput," jawab Alma.

Jovan mendengus kemudian berjalan ke arah wastafel dan mencuci tangannya.

"Tadi juga waktu dia telepon, Papi juga udah tawarkan mau jemput dia nggak mau," ujar Jovan lagi.

"Dia katanya mau singgah ke suatu tempat untuk mengurus sesuatu," ujar Alma.

"Aku khawatir dia nggak akan mau di Indonesia lagi lho, perasaanku begitu. Terlalu lama tinggal di luar negeri membuat anak itu keasYikan dan lupa tanah air," keluh Jovan seraya duduk di depan istrinya dengan cemberut.

"Iish Papi ih ... jangan bilang begitu, anak kita nggak mungkin begitu ah!"

Abimanyu yang sedari tadi ada di ruangan yang sama dengan mereka, dan sedang menyelesaikan laporan bulanan menyimak setiap perkataan pasangan paruh baya tersebut. Ia jelas tahu siapa yang mereka bicarakan. Gadis manja usil yang selalu merecoki dirinya dan tak tahu malu sering kali menyatakan suka padanya, akhirnya kembali lagi.

Abimanyu sebenarnya juga penasaran bagaimana penampakan Cempaka sekarang sudah lama sekali rasanya ia tak melihat gadis itu. Terakhir kali pertemuan mereka jelas sekali jika gadis itu selalu berusaha menghindarinya, tentu saja ia tahu sebabnya. Mungkin gadis itu, saat ini sudah sadar sekarang bahwa mereka tidak sederajat. Apalagi Cempaka sudah sukses, pastinya di negeri Paman Sam sehingga ia jarang sekali pulang jika tidak ibunya yang memaksa.

Ponsel Alma berdering wanita itu segera beranjak mengangkatnya.

"Halo Nak."

"Mami, Cempaka masih sibuk nanti malam saja ya ke rumah?" ujar Cempaka yang tampaknya sedang sibuk, di belakangnya tampak terdengar bising suara kendaraan sepertinya anak itu sedang berada di pinggir jalan.

"Kamu menginap di rumah kan?" tanya Alma.

Terasa ada jeda sebelum Cempaka menjawab, "Nggak Mami, Cempaka nanti di apartemen saja. Cempaka masih harus meeting dengan Om Marco Wijaya." Suara Cempaka dengan rasa bersalah, ia tahu orang tuanya pasti sudah rindu berat padanya. Namun ia memang harus bertemu dengan Marco sekarang sebelum pria itu ke Bandung.

Alma menghela napas, ia kecewa tetapi apa daya demi masa depan putrinya juga. Anak itu tidak mau membebani orang tuanya ia ingin mandiri tanpa memanfaatkan nama besar keluarganya.

"Harus ya ketemu Marco sekarang?" tanya Alma lagi.

"Iya Mami, maaf ya cantik. Emmuuach," rayu Cempaka.

"Ya sudah kalau begitu, tapi kamu tetap harus singgah di rumah ya Nak. Semalam apapun kamu datang kami akan tunggu," pinta Alma, kemudian menutup telepon setelah mendapatkan jawaban dari Cempaka.

Abimanyu mengerutkan dahinya penasaran saat mendengar nama Marco disebut. Pastinya tidak lain adalah Marco Wijaya.

'Ada hubungan apa antara Cempaka dengan Marco?'

Ώ

Setelah bertemu dengan Marco, Cempaka langsung ke showroom karena ternyata pertemuan dengan Marco tidak membutuhkan waktu yang lama. Ia melirik jam tangannya yang masih menunjukkan jam empat sore pastinya ia masih sempat untuk singgah. Akhirnya setelah dua tahun berlalu hari ini ia kembali bertemu dengan keluarga intinya.

Cempaka lalu turun dari taxi online dan dengan menyeret kopernya membawanya menuju kantor ayahnya. Sepanjang jalannya ia tak lupa untuk menyapa para pegawai ayahnya. Jantungnya berdetak kencang, ada satu orang yang sangat ia rindu sekaligus juga paling ia enggan temui. Namun apa daya saat ia menyandarkan kopernya di sebelah sofa dalam ruang tunggu dan membalikkan badan, ternyata orang tersebut telah berada di anak tangga paling bawah menatap ke arahnya dengan bersandar pada pegangan tangga seraya membawa cangkir kopi.

Cempaka terkejut kemudian memalingkan wajahnya menuju pantry karyawan. Ia tidak Sudi melewati orang tersebut, bertemu kembali membuat hatinya jengah bukan main. Cempaka mengacuhkan orang itu dan menyibukkan diri sesampainya di pantry. Cempaka melihat banyak makanan tersaji di sana dan memutuskan untuk membuat teh hangat untuk dirinya, seleranya bangkit melihat aneka jajanan khas nusantara. Ia mengalihkan perhatiannya dari suara langkah kaki di belakangnya yang kemudian disusul suara kaca beradu dengan wastafel. Rupanya pria itu kesal ia acuhkan, biar saja toh pertemuan terakhir mereka juga sungguh tidak enak diingat dan membuatnya memutuskan untuk kembali ke Amerika lagi dahulu, tetapi ingatannya akan saat itu tak jua menghilang.

Pikiran Cempaka melayang kembali mengingat kejadian pada saat hampir dua tahun yang lalu. Awal mula kejadian di mana ia segera membuat keputusan untuk kembali ke Amerika.

Ώ

Cempaka Akshita Atmaja tiba di bengkel besar Stromderdil milik ayahnya Jovan Adhi Atmaja. Tadi ayahnya menyuruhnya singgah ke bengkel guna mengambil vitamin ayahnya yang tertinggal di kantor, sedangkan bengkel yang sudah pasti tutup jam delapan seperti saat ini, karena bengkel sudah tutup sejak jam lima sore.

Cempaka memarkirkan mobilnya persis di sebelah mobil city car berwarna merah. Kemudian melangkah membuka pintu samping menggunakan kunci cadangan miliknya.

Baru beberapa langkah memasuki lantai dua, ia mendengar suara desahan dua anak manusia sedang memadu kasih. Suara sang pria ia tahu pasti siapa gerangan, suara itu sampai membuat bulu kuduknya meremang. Cempaka menggelengkan kepalanya yang tertutup oleh rambut berwarna coklat dan tergerai indah. Mencoba mengindahkan firasat buruk yang tiba-tiba bercokol di hatinya. Tidak mungkin pria itu berbuat seperti ini. Dengan langkah berat Cempaka memberanikan diri mendekati asal suara itu. Seketika matanya membelalak menatap adegan syur yang berada di depan matanya. Pria itu memeluk erat seorang wanita yang sudah telanjang bulat bersandar pada tepi meja dengan salah satu kakinya berada dalam rengkuhan tangan kiri sang pria, dan sedangkan sebelah tangannya yang lain memeluk erat pinggang sang wanita merapatkan tubuh telanjang mereka. Mulut mereka saling melumat, lalu milik sang pria memompa, menghujam dalam-dalam sang wanita hingga lenguh kenikmatan terlepas bebas dari mulut keduanya.

Cempaka terpaku tak dapat bergerak, airmatanya sudah jatuh bercucuran tak terbendung lagi sedangkan bahunya bersandar pada sudut tembok. Matanya tak bisa teralihkan dari pemandangan di depannya. Disaat yang bersamaan ulu hatinya terasa seperti tertekan oleh bongkahan batu dan pecah berkeping-keping. Cukup sudah!

Saat itu juga sang pria menyadari jika mereka berdua tidak sendirian. Ia melirik ke arah Cempaka dengan tatapan tajam mengejek. Ia bukannya menghentikan aktivitasnya, tetapi malah semakin gencar menghujamkan miliknya menusuk inti sang wanita sedangkan sang wanita hanya bisa menjerit dan mengalungkan kedua tangannya di leher sang pria.

Wajah Cempaka memucat dan rasa sesak di dadanya semakin menjadi. Cepat-cepat ia berbalik badan, dengan langkah kaki yang lemah dan terseok-seok segera mengambil vitamin sang ayah dan memaksakan dirinya untuk kembali ke arah mobilnya. Ia lupa jika tadi meninggalkan inhaler miliknya di dasbor mobil.

Sesampainya di mobilnya ia segera menunduk di atas kemudi. Kemudian merendahkan tempat duduknya setengah berbaring dan menghirup inhaler-nya beberapa kali. Ia tak menyangka penyakit sesak nafasnya kambuh di saat begini. Jika ia harus melihat kejadian seperti itu, sebaiknya mungkin ia takkan kembali saja dan menemani si kembar adik sepupunya di Utah Amerika saja.

Keputusannya kembali ke tanah air untuk menggapai cintanya sepertinya sia-sia saja.

Apa yang harus aku lakukan? Merelakan cinta yang selama ini ku jaga. Lalu aku pergi dan membuka hati untuk cinta yang baru? Ataukah berusaha lagi memperjuangkan cinta ini?

"Halo Tante Bunga."

"Iya Nak ?"

"Mbak jadi menerima pekerjaan di Dallas tante."

"Bagus kalau begitu segera kemari ya. Tetapi kamu harus pergi ke San Antonio terlebih dahulu."

"Siap Tante."

"Oh ya Nak, Tante tak ingin melihat wajah kesedihanmu di sini, ok? Tante rindu wajah ceria Cempakaku," ujar Bunga dikala waktu itu.

Ώ

Kembali ke masa kini. Cempaka mengerjakan matanya menghalau air mata yang siap meluncur membasahi pipinya. Saat itu ucapan telepon sang bibi sudah merupakan firasat baginya. Ia merasa keputusannya untuk kembali ke Amerika adalah pilihan yang sangat tepat.

Cempaka menghembuskan nafas mencoba menetralkan detak jantungnya yang tak berhenti berdetak keras karena keberadaan pria yang selalu saja bisa membuat hati ya berbunga-bunga dan juga sakit seperti diremas-remas hanya dengan bertatap muka saja. Dua tahun tak bertemu dan pria itu masih juga menimbulkan efek pada tubuhnya, membuat sarafnya menegang dikala ia merasakan hembusan hangat di tengkuk dan dua tangan kekar berbulu menghimpit dari belakang. Cempaka bisa merasakan keras dan bidangnya tubuh Abimanyu yang sekarang menempel pada tubuh bagian belakangnya, seperti ini.

"Jadi, sekarang kamu kembali dan memutuskan untuk mengacuhkanku begitu?" tanya Abimanyu dengan suara serak persis di sebelah telinga kanan Cempaka.

Bab 2

Cempaka memegangi cangkir teh hangatnya dan menepiskan tangan kiri Abimanyu seraya menggeser tubuhnya ke samping membebaskan dirinya dari kungkungan Abimanyu, sedangkan Abimanyu membiarkan gadis itu bergeser tetapi kemudian Abimanyu menuju pintu menutup dan menguncinya.

Cempaka duduk di kursi dan meraih lemper di meja seraya mengerutkan dahinya ia menatap pada handle pintu yang terkunci kemudian menatap ke wajah Abimanyu yang susah ditebak.

"Aku menuntut jawaban darimu," sergah Abimanyu begitu menggeser salah satu kursi dan mendudukinya sangat dekat, dengan Cempaka bahkan tangan kanan Abimanyu berada di punggung kursi Cempaka seolah mengurung gadis itu.

Cempaka melirik ke arah Abimanyu dan melanjutkan menyantap lemper yang ia pegang dan sesekali menyesap teh hangatnya. Abimanyu yang tidak mendapatkan jawaban dari Cempaka juga tidak bergeming, ia juga dengan santauli meraih satu lemper dan membuka daun pembungkusnya dan malah menyuapi Cempaka, Cempaka dengan patuh membuka mulutnya untuk menerima suapan Abimanyu. Abimanyu kemudian membawa sisa gigitan Cempaka dan memakannya.

"Apakah kamu tidak sibuk?" tanya Cempaka gugup.

"Tidak, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku hari ini dan aku menunggu kamu bicara," ujar Abimanyu lagi.

Cempaka mendengkus. "Aku tidak perlu menjawab apa pun karena tidak ada pertanyaan juga untukku," elak Cempaka.

"Lupa? Aku tadi bertanya sekarang kamu mengacuhkanku?" tanya Abimanyu ketus.

Cempaka memejamkan matanya sebentar kemudian menatap Abimanyu. "Itu 'kan hanya perasaanmu saja. Kita toh memang tidak pernah dekat bukan," ujar Cempaka. Saat ia mengatakan demikian hatinya terasa seperti di remas-remas sakit dan sesak rasanya. Persetubuhan Abimanyu dengan seorang wanita dulu kembali hadir dalam ingatannya.

Dada Abimanyu terasa seperti terhantam dengan keras. Benar juga apa yang dikatakan gadis ini. Toh selama ini Abimanyu berusaha menghindar lalu mengapa saat gadis ini benar-benar menghindar ia malah menjadi merasa tersinggung dan tidak terima.

"Lagi pula aku tidak akan lama di sini. Aku harus segera kembali ke Amerika pekerjaanku menumpuk," terang Cempaka.

Abimanyu menatap wajah Cempaka lekat-lekat, gadis ini semakin cantik dengan wajah sehalus porselin. Sungguh pintar ia merawat tubuh dan wajahnya, desir kerinduan meresap ke dalam aliran darah Abimanyu, tubuhnya bahkan bergairah mencium aroma greentea samar menguar dari tubuh ramping di depannya ini.

"Kamu tega meninggalkan orang tuamu lama-lama?" tanya Abimanyu yang sebenarnya hanya alasan saja, siapa tahu dengan demikian ia bisa sedikit menahan gadis ini lebih lama di sini.

Cempaka terkekeh dan berkata, "Mami sama Papi selama ini baik-baik saja nggak ada Cempaka, toh masih ada adik-adik di sini. Cempaka baru bekerja dua tahun di sana nggak bisa begitu saja pindah sesuka hati karena kontrak kerjanya masih lama lagi." Cempaka enggan menyebutkan berapa lama kontrak kerjanya berakhir, ia senang bekerja di perusahaan kilang minyak milik Kian Dario sekaligus menjadi pengajar di sebuah sekolah taman kanak-kanak di sana.

Cempaka merasa risih ditatap dengan intens oleh Abimanyu, akhirnya Cempaka bangkit dan berjalan ke arah pintu. Sebelum ia sempat memutar kunci, Abimanyu sudah terlebih dulu membalikkan tubuhnya dan mengurungnya sampai membuatnya bersandar di pintu.

"Kamu mau apa?" tanya Cempaka gugup. Benar-benar gugup dan waspada pastinya.

Mata Abimanyu menyusuri tubuh Cempaka dan berhenti pada dadanya yang tampak penuh, seingat Abimanyu dua tahun yang lalu dada ini belum sebesar sekarang. Tangan Abimanyu terulur dan menangkup kedua gundukan itu yang terasa pas di atas tangannya.

"Ah, sakit! Apa yang kamu lakukan. Jangan sembrono!" seru Cempaka. Ia kemudian mendorong tubuh Abimanyu dan bergegas keluar.

Dengan telapak tangannya yang menekan dadanya yang berdetak tak beraturan, Cempaka berlalu menuju ruang kerja ayahnya.

"Papi ...! Kangen Kakak nggak!?" seru Cempaka dengan wajah ceria.

Abimanyu tampak mengikutinya dari belakang. Jangan salah Abimanyu menangkap banyak perubahan pada fisik gadis itu.

Apakah hidupnya benar-benar bahagia tanpa ada aku. Sial! Kenapa jadi melow begini sih. Namun tubuhnya benar-benar terlihat seperti wanita sekarang, walaupun jelas masih lebih ramping mirip dengan Tante Bunga. Jelas mirip mereka bersaudara, bodoh!

Abimanyu mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, dengan sesekali ia melirik pada Cempaka, hal itu tidak luput dari perhatian Alma yang masih berada di sana.

"Mami karena Cempaka sudah di sini, Cempaka nggak usah ke rumah ya? Masih ada urusan yang belum selesai," ujar Cempaka.

Abimanyu semakin mengerutkan keningnya, tidak biasanya gadis itu seperti ini. Dulu ia senang sekali menghabiskan waktunya berkumpul bersama keluarganya, gadis periang itu tampak sangat berbeda sekarang.

Apakah dia memiliki kekasih di Amerika sehingga menghindariku?

Masih juga pemikiran itu yang mengendap dibenaknya membuat Abimanyu terbakar api cemburu. Ia tidak suka diabaikan, padahal selama ini ia sendiri yang sering mengabaikan keberadaan Cempaka. Ia masih ingat betul saat dahulu Cempaka memergokinya bercinta dengan wanita bayarannya dan kemudian ia menyusul gadis itu yang kembali ke apartemennya. Abimanyu jelas masih mengingat hari itu, hari di mana dirinya telah mengambil keperawanan Cempaka dengan paksaan.

Ώ

Cempaka baru saja tiba di depan apartemennya ia kemudian membuka pintu dan saat ia berbalik dan akan menutup pintu ada telapak tangan kekar menghalanginya. Telapak tangan milik Abimanyu mendorong daun pintu untuk terbuka dan pria itu menerobos masuk kemudian ia membanting pintu sampai tertutup.

Cempaka mengusap air matanya yang menggenang dan mengaburkan pandangannya. Dahinya mengkerut pandangan penuh tanda tanya dan kekagetan tampak jelas menghujam manik mata Abimanyu.

"Kamu ngapain ke sini, bukannya tadi masih sibuk?" ujar Cempaka gugup dan terbata-bata. Ia merasa terancam dan sesak nafas karena berada cukup dekat dengan Abimanyu yang tampak marah dan matanya yang sayu itu memandang menelusuri tubuhnya. Reflek Cempaka menyilangkan kedua lengannya memeluk dirinya sendiri.

"Ya, kesibukanku terganggu karena kedatanganmu," ujar Abimanyu dengan suara parau. Pria itu juga susah payah berusaha menelan salivanya. Bau green tea bercampur keringat yang menguar dari tubuh Cempaka membangkitkan sisi primitifnya lagi.

Cempaka melotot dengan mulut membentuk huruf 'O'. "Aku? Memang apa yang aku lakukan, aku bahkan tidak mengatakan apapun," kilah Cempaka.

"Justru karena kamu tidak mengatakan apa pun," jawab Abimanyu.

Cempaka mendengkus dengan memutar bola matanya. "Jawaban macam apa itu, mas. Ngaco!" ujar Cempaka seraya memberengut, alisnya bertautan menatap jengah ke arah Abimanyu.

Abimanyu geram dengan perkataan Cempaka ia merengsek maju dan merengkuh gadis yang wajahnya penuh dengan jejak air mata itu kemudian melumat bibirnya, memaksa bibir itu untuk membuka dan menyambut lidahnya yang sudah melesak masuk ke dalam mengabsen setiap gigi geligi dan langit mulut Cempaka.

Cempaka melotot menatap Abimanyu yang dengan beringas melumat bibirnya bahkan sudah menggigit bibirnya atas dan bawah secara bergantian. Ini sensasi baru untuknya, ia sama sekali belum pernah bermesraan dengan laki-laki karena teman-temannya tahu ia tergila-gila dengan Abimanyu.

"Emmph ...," protes Cempaka, ia berusaha menggerakkan kepalanya untuk melepaskan pagutan bibir Abimanyu.

Abimanyu melepaskan pagutannya saat ia dan Cempaka butuh asupan udara. Abimanyu menyentuhkan dahinya dengan dahi Cempaka dan menghimpit gadis itu di dinding. Sebelah tangan Abimanyu sudah masuk ke balik rok Cempaka dan melepas simpul samping celana dalam Cempaka.

Cempaka kaget dan tangannya menahan tangan Abimanyu untuk berbuat lebih, kepalanya menggeleng panik dan air matanya kembali berlinang.

"Jangan Mas," pinta Cempaka seraya tersedu.

Abimanyu semakin merapatkan dirinya saat mendapatkan penolakan dari Cempaka, murka. Ya, itu yang dirasakan oleh Abimanyu saat ini dan menangkup sisi wajah Cempaka dengan kedua tangannya.

"Percuma kamu menangis dan menolakku. Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau perbuat tadi," ujar Abimanyu dengan suara parau, pandangan matanya sayu dan ia pun kembali menundukkan kepalanya serta melumat bibir Cempaka.

Bab 3

"Jangan ngawur kamu!" bentak Cempaka begitu Abimanyu melepaskan pagutan bibirnya seraya menarik nafas, menghirup sebanyak mungkin udara untuk mengisi kekosongan paru-parunya.

Abimanyu menahan Cempaka, yang berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Abimanyu sudah terbakar amarah jelas ia tidak terima penolakan dari Cempaka, walaupun selama ini dirinyalah yang selalu mengabaikan keberadaan gadis itu. Dalam keadaan berdiri, Abimanyu dengan sebelah tangannya yang menahan satu kaki Cempaka yang sudah tersampir di lengannya dan mengunci pergerakan gadis itu. Ia yang sudah membuka celananya kemudian menembus pertahanan inti Cempaka.

"Mas Abi, berhenti. Ini sakit!" Cempaka meraung, kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan kedua tangannya meremas kain kemeja lengan atas Abimanyu.

Cempaka berusaha menghirup napas sebanyak mungkin dan menahan laju air matanya yang sudah berderai. Intinya terasa penuh sesak dan terbelah karena juga belum keluar cairan pelumas. Cempaka menyandarkan dahinya pada bahu Abimanyu, saat usahanya untuk melepaskan diri tampak sia-sia karena Abimanyu yang kembali melesakkan miliknya utuh, jauh menelusup ke dalam.

Abimanyu merasakan miliknya terasa ngilu, karena cengkeraman milik Cempaka yang terbukti masih perawan berapa saat yang lalu. Ternyata dugaan Abimanyu tentang kehidupan liar Cempaka di negeri Paman Sam tidak benar. Kaki Cempaka yang masih menumpu di lantai tampak bergetar itu pasti karena nyeri yang dirasakan oleh gadis itu. Namun jelas Abimanyu tidak mau berhenti. Miliknya terasa pas menyatu bersama dengan milik Cempaka. Abimanyu memilih untuk menjadi egois saat ini.

"Ahh ... nikmat sekali Sayang," erang Abimanyu.

Biadab memang apa yang ia perbuat, hal itu bisa dikategorikan sebagai pemerkosaan. Abimanyu melucuti gaun Cempaka melewati atas kepalanya. Gadis itu tidak bergeming karena tubuhnya terasa lemas. Abimanyu mengangkat Cempaka dengan masih menyatukan tubuh mereka. Kemudian Abimanyu membawa tubuh Cempaka dan menidurkan pada sofa, yang lumayan lebar bisa menampung tubuh mereka berdua. Abimanyu duduk di antara paha Cempaka dan melepaskan kemeja kerjanya, memperlihatkan tubuhnya yang terbentuk sempurna. Kemudian ia merunduk dan melumat puncak dada Cempaka dan mulai menggerakkan pinggulnya.

"Mas, berhenti Mas. Sakit," rintih Cempaka.

Kedua tangannya kembali mencoba mendorong tubuh Abimanyu, kedua pahanya juga bergerak untuk merapat yang kemudian ditahan oleh kedua paha kekar Abimanyu. Abimanyu dengan gemas juga menggigit puncak dada Cempaka. Cempaka memekik terkejut dengan napas yang tersengal.

Abimanyu kembali menegakkan kepalanya dan melumat bibir Cempaka kedua tangan Cempaka dicekal serta diikat menjadi satu di puncak kepalanya. Ditahan dengan satu tangan Abimanyu, sedang tangannya yang lain menangkup satu payudara Cempaka dan meremasnya gemas.

Gerakan Abimanyu semakin cepat dan itu membuat rasa sakit di inti Cempaka semakin menjadi.

'Hancur sudah hidupku! Kamu yang membenciku malah semakin menghancurkanku.'

Abimanyu membalikkan badan Cempaka menjadi tertelungkup. Ia memberikan banyak sekali tanda merah di punggung mulus Cempaka. Kembali Abimanyu menghujam ke dalam inti Cempaka yang sudah merintih dengan lirih Abimanyu seolah menulikan dirinya dan mengejar kenikmatannya sendiri, sampai tidak menyadari jika Cempaka sampai pingsan. Setelah pelepasannya usai, Abimanyu baru menyadari apa yang terjadi. Kepanikan mulai merasuki hatinya, dengan dahi yang mengkerut ia kemudian membalikkan tubuh Cempaka. Melepaskan ikatan tangan Cempaka yang tadi ia ikat dengan kemejanya.

"Adek, Cempaka bangun sayang. Maaf mas khilaf, Dek," ujar Abimanyu, seraya memeluk tubuh telanjang Cempaka yang saat ini dalam pangkuannya.

Cempaka merintih tetapi tidak membuka matanya. Hati Abimanyu seperti dihantam palu, sakit dan sesak ia rasa saat melihat gadis dalam pelukannya yang biasanya sangat energik saat ini terkulai tidak berdaya karena ulahnya.

Abimanyu menggendong Cempaka dan menidurkannya di ranjang. Ia juga segera memakai celananya dan masuk ke dalam kamar mandi mengambil air hangat dengan satu handuk kecil guna membasuh tubuh lemah Cempaka. Abimanyu juga sudah mengambilkan air putih dan ia taruh di atas nakas di samping ranjang.

Abimanyu duduk di tepi ranjang mendorong bahu Cempaka agar tidur terlentang, ia kemudian dengan hati-hati dan penuh kelembutan membasuh tubuh Cempaka dengan air hangat kemudian menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Bersama dengan ia yang ikut berbaring dan memeluk Cempaka.

Ώ

Abimanyu menghela napas berat mengingat perlakuan bejatnya tersebut. Abimanyu kemudian mengusap wajahnya kasar, seraya tidak melepaskan pandangannya dari Cempaka yang masih asik berbincang dengan kedua orangtuanya, tampak gadis itu tertawa menimpali candaan dari sang ayah.

Abimanyu mendengkus saat merasakan isi celananya menegang melihat senyuman dan tawa gadis itu, satu kata cantik. Ia mengernyit penasaran dengan sikap Cempaka yang tidak mengacuhkannya hari ini, lagi-lagi hal itu yang membebani dirinya. Sejak kejadian dua tahun yang lalu itu, tak bisa dipungkiri setiap malam Abimanyu selalu teringat kehalusan tubuh Cempaka. Rasa hangat yang ditimbulkan saat mereka menyatu, terasa seperti baru kemarin itu semua terjadi. Abimanyu patut bersyukur, bahwasanya Cempaka tidak mengadukannya kepada orangtuanya. Bisa dibayangkan jika itu terjadi, bisa saja ia sudah berada di dalam penjara saat ini.

Sejak Mbah Sri meninggal ia kemudian tinggal bersama dengan keluarga Jovan Atmaja walaupun ia tinggal di paviliun samping sampai saat ini dan Cempaka juga tidak pernah kembali ke rumah bahkan ke tanah air ini.

'Apakah karena ada aku di sana?'

Abimanyu bangkit berdiri bermaksud ke kamar mandi tetapi saat ia akan mencapai pintu suara Jovan menahannya.

"Abi, bisa antar Cempaka kembali ke apartemen?" tanya Jovan.

Abimanyu seketika tersenyum dan mengangguk antusias.

"Bisa Pi." Jawabnya.

"Eh, nggak usah deh repot amat sih. Biar Cempaka pulang sendiri aja," tolak Cempaka.

Raut wajah Abimanyu berubah kecewa, tetapi kemudian ia tutupi dengan raut datarnya. Walaupun satu telapak tangannya sudah mengepal di sisi tubuhnya.

"Lho kok gitu? Itu koperku juga gimana, repot lho Nak bawa koper ke apartemen," ujar Alma.

"Ck ... itu koper isi oleh-oleh buat kalian," jawab Cempaka.

Cempaka bangkit berdiri, ia harus segera pergi dari sini sebelum sang ayah mendesak ia harus menerima Abimanyu mengantarnya pulang.

"Udah ya Cempaka pergi sekarang dan sendiri," ujarnya, berpamitan sekaligus menegaskan kepada sang ayah seraya menatapnya lembut.

Sang ayah Jovan teringat dengan nasehat Bunga beberapa hari yang lalu.

Jangan paksa Cempaka, jika kamu nggak ingin kehilangan dia kembali. Begitulah kurang lebih pesan dari Bunga adik bungsunya.

"Iya deh. Tapi hati-hati ya Kak." Jovan mengalah untuk sekarang.

Pandangan Cempaka beralih pada Abimanyu seraya mengulum senyumnya.

"Oh ya Mas, di koper juga ada oleh-oleh untukmu. Semua sudah Cempaka kasih nama biar nggak tertukar," ujar Cempaka lagi. Ia segera meraih tasnya dan berlalu dari sana.

Aku mau kamu! jerit hati Abimanyu.

Abimanyu mengikutinya setelah berpamitan kepada Jovan dan Alma. Sesampainya di depan showroom, Abimanyu kembali mencekal siku tangan Cempaka yang sedang fokus pada ponselnya untuk memesan taksi online.

Cempaka mendongak dan menatap wajah Abimanyu yang tampak menegang. Kerutan di dahi Cempaka tampak lucu untuk Abimanyu, ia kemudian mengulurkan tangan dan mengusap dahi gadis itu, yang kemudian di tepis oleh Cempaka seraya memalingkan wajah. Bahkan Cempaka sudah mundur selangkah, menjauhi tubuh Abimanyu.

'Gadis ini tampak ketakutan padaku. Apakah karena perbuatanku dulu?'

"Kenapa kamu menghindari, Cempaka?" tanya Abimanyu dengan lirih agar pegawai yang lainnya tidak mendengar.

"Sudah Cempaka bilang 'kan? Semua hanya perasaan Mas saja," jawab Cempaka.

"Apakah sudah ada pria lain yang mengisi hatimu? Setahu Mas dulu kamu cinta banget sama Mas," tanya Abimanyu sengaja memancing Cempaka. Ia penasaran setengah mati dengan jawaban Cempaka, bahkan aliran darah dan jantungnya yang berdetak kencang hingga bisa ia dengar.

Cempaka mengulum senyum. "Tentu saja sudah ada yang mengisi hati Cempaka dan itu jelas bukan Mas," jawab Cempaka, seraya mengingat sosok yang sudah menanti dirinya di apartemen, sosok yang menjadi poros dan sumber semangat hidupnya.

Jawaban Cempaka membuat raut wajah Abimanyu menjadi pucat, walaupun tatapan tajamnya menghujam kepada gadis yang berada di depannya.

'Ternyata aku sudah tidak berarti lagi bagimu.'

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED