"Sya la la. " seorang gadis berjalan santai sambil menyanyi, tiba tiba dia berhenti melihat beberapa gerombolan pemuda menganggu seorang nenek di jalan.
"Dasar pemuda sialan. " makinya berlari kearah nenek tersebut.
"Hei berhenti kalian, cupu memang beraninya sama nenek nenek. " ejek Dilara. Para pemuda itu merasa tidak terima, berniat mengeroyok Dilara.
bug
Bug
Para pemuda itu langsung kabur, Dilara menghela nafas lega sambil mengumpat. Tak lama menghampiri nenek yang dia tolong. "Apa ada yang sakit nek? " tanya Dilara dengan raut cemasnya.
"Terimakasih nak, telah menolong nenek. Nenek pergi dulu ya. " Dilara mengangguk, menatap kepergian nenek itu dengan hati yang lega.
"Kasihan nenek itu, harusnya anak anaknya menemani si nenek supaya tidak di ganggu pemuda pemuda tengil tadi. " gumam Dilara lirih. Gadis itu melangkah pergi dari sana,dengan langkah cepat menuju ke pusat perbelanjaan terdekat.
Bug
"Aduh. " tanpa sengaja dia menabrak seseorang, Dilara menoleh dan melongo melihat pahatan sempurna yang di miliki pria tampan di depannya saat ini.
"Apa kau tidak bisa melihat jalan, hingga menabrak saya nona. " suara ketus nan dingin membuyarkan lamunan Dilara.
"Eh maafkan aku, melihat ketampanan Anda membuat saya silau Tuan. " ceplosnya. Pria itu mengerutkan kening, melihat tingkah Dilara yang aneh menurutnya, setelah itu pergi begitu saja.
"Tuan tunggu. " pekik Dilara tersadar namun teriakannya di abaikan pria itu. Gadis bermata sipit itu hanya bisa merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia lupa menanyakan nama pria itu. Dilara segera membeli bahan bahan makanan sesuai perintah ibunya.
Dilara Aysilla Smith, puteri bungsu dari keluarga Smith. Dia memiliki seorang kakak laki laki bernama, Ethan Anggara Smith. Keluarganya begitu memanjakan Dilara membuat gadis itu terkadang manja sekaligus mandiri jika dia tengah dalam keadaan waras. Kehidupan keluarganya memang cukup hangat dan ramai, mengingat kakak beradik itu selalu berdebat kapanpun dan di manapun. Selesai belanja, Dilara segera pulang mengingat ibu ratunya telah menghubungi dirinya sejak tadi.
"Mommy yuhu, anak gadis mommy pulang. " teriaknya keras, suaranya yang menggelegar membuat semua orang langsung datang.
"Hei kurcil, suaramu itu cempreng. Berhenti berteriak bodoh, ini bukan hutan. " geram Ethan pada adiknya yang dibalas cengiran oleh Dilara. Gadis itu segera membawa belanjaannya ke dapur, lalu kembali ke depan bergabung bersama sang kakak.
"Kau sudah gila, senyum senyum sendiri
Cil? " tanya Ethan merasa heran.
"Apaan sih Bang Set, kau tahu tadi di jalan aku ketemu pangeran. " gumam Dilara dengan senyuman manis di bibir.
"Dih halu. " cibir Ethan yang merasa adiknya mengada ada.
Dilara tak mempedulikan cibiran kakaknya, Mommy dan Daddy saling melempar pandangan sudah terbiasa melihat kedua anaknya berdebat.
"Dila sayang, panggil kakak kamu dengan benar! Dilara berdecak pelan, sudah kesekian kalinya ibu permaisurinya itu terus menasehati hal yang sama. Gadis itu mengira kakaknya pasti akan besar kepala nantinya pikir Dilara.
"Gak ah mom, enakan panggil bang Set soalnya sering muncul tiba tiba tanpa di undang kayak setan. " elak Dilara dengan senyum polosnya. Lagi lagi terdengar suara helaan nafas berat, Ethan melempar bantal pada wajah sang adik. Dilara tertawa puas melihat raut kesal di wajah kakaknya.
"Adik laknat kau. "
"Ngomong ngomong bang, si nenek lampir itu udah gak merengek lagi ke sini? " tanya Dilara dengan wajah tanpa dosanya. Ethan melirik adiknya malas, mengerti siapa yang di sebut nenek lampir oleh adiknya. Mommy hanya bisa mengelus dada, mendengar ucapan frontal putrinya.
"Kami sudah putus. " jawabnya pendek.
"Baguslah, padahal abang ganteng lho masa iya pacaran sama si nenek lampir yang super matre itu. " dumel Dilara meledek kakaknya. Ethan yang tak tahan dengan ocehan adiknya langsung menjitak kepala Dilara.
"Dia mundur karena jangan jangan? "
"Jangan jangan? Dilara menahan tawanya, melihat keluarganya yang begitu penasaran dengan ucapannya.
"Takut wajahnya kalah saing sama wajahku yang imut, babyface dan cantik ini. " kekehnya percaya diri. Tawa Daddy meledak mendengar pernyataan putrinya, Ethan hanya mencibir kelakuan adiknya. Mommy Diana hanya bisa menepuk dahinya, sikap Dilara memang sangat mirip dirinya di masa muda dulu.
"Dila sayang, mommy ingin bicara serius kali ini? " ujar Mommy Diana.
"Bicara saja mom!
"Mommy dan Daddy sudah memutuskan akan menjodohkan kamu. "
"Apa, no mom. Ini bukan jamannya Siti Nurbaya mommy, lagipula Dila bisa kok cari pasangan Dila sendiri. Asal mommy tahu ya, Dila sudah punya pangeran Dila sendiri. " serunya percaya diri. Mommy dan Daddy saling melirik satu sama lain, begitu penasaran siapa pria yang di maksud oleh Dilara.
"Tapi sayang Dila gak ninggalin dompet Dila, biar pangerannya Dila nyariin Dila. Ya kayak Cinderella yang ninggalin sepatu kacanya di pesta. " cerocosnya. Daddy tertawa keras melihat ucapan absurd putrinya, Ethan hanya mencibirnya pelan dan fokus pada gamenya.
"Ya sudah Dila ke kamar ya mom, dad. " Dilara bangkit, sebelum pergi sempat menyenggol lengan kakaknya. Ethan mengumpat pelan, mengambil ponselnya yang terjatuh, kesalnya lagi dirinya di omeli mommy habis habisan.
"Ah capeknya. " Dilara merebahkan tubuhnya di atas ranjang, gadis itu menyukai warna biru hingga kamarnya di dominasi warna biru. bibirnya melengkung teringat kejadian tadi, terbayang wajah pria yang menjadi calon suaminya di masa depan. Selama ini Dilara hanya memiliki sedikit teman, gadis itu mencari teman yang tulus tanpa melihat status sosialnya. Bersyukurnya dia bertemu dengan Marinka Olivia, gadis manis berkulit sawo matang itu mau berteman dengannya.
"Jadi kangen sama Rinka, lagi apa ya dia. Aku harap dia tak lagi di siksa ibu tirinya. " gumam Dilara lirih. Dilara begitu khawatir pada sahabatnya tersebut.
"Besok aku datangi deh. "
Dilara bangun, segera membersihkan tubuhnya yang lengket. Selesai dengan aktivitas sorenya, gadis itu kembali berbaring di ranjangnya bermain ponsel. Diapun melotot membaca pesan dari Marinka sahabatnya. Dilara bangkit, mengambil tasnya lalu bergegas ke luar.
"Abang Set eh kak Ethan antar aku yok. " ucapnya dengan nada manis di depan kakaknya. Ethan meliriknya sekilas dan kembali bermain game, Dilara mendengus jengkel.
"Abang Setan. " teriaknya kencang. Ethan berjengit kaget, hampir saja melempar ponselnya. Dilara benar benar kesal di cuekin oleh kakaknya di saat penting seperti ini.
"Apa? "
"Antar aku ke rumah Marinka, Rinka perlu bantuanku bang! geramnya sebal. Ethan menyambar kunci mobilnya, bangkit dan mengikuti dari belakang sang adik. Selama perjalanan Ethan hanya diam mendengar ocehan adiknya. Meski terkadang menyebalkan dan jahil, menurutnya Dilara gadis yang cukup peduli dengan orang lain, orang orang yang dekat dengannya.
Setelah tiga puluh menit, Dengan tergesa gesa Dilara turun dari mobil tanpa mendengar teguran kakaknya.
Tok
tok
"Rinka, ini aku Dilara. " panggil Dilara dengan cemas. Merasa tak ada jawaban setelah beberapa kali di ketuk, Ethan memilih mendobraknya. Keduanya terkejut melihat keadaan rumah Marinka yang kacau balau, keduanya bergegas menghampiri Marinka yang meringkuk di lantai.
"Hei Rin. " Marinka mengangkat dahinya, langsung menerjang tubuh sahabatnya. Dilara mengusap punggungnya yang bergetar hebat. Meskipun bingung Dilara tetap berusaha menghiburnya. Dia membantu Rinka bangun, mengajaknya duduk di sofa.
"Katakan ada apa Rin, kenapa kamu begini? " tanya Dilara dengan hati hati.
"Ayah tak lagi sayang sama aku Dila, ayah lbih sayang pada Mikha daripada aku. " Rinka mengatakan semuanya pada Dilara, membuat gadis itu tercengang. Ethan hanya diam, membiarkan kedua gadis itu saling menguatkan dan bicara dari hati ke hati.
Dan malam ini Dilara terpaksa menuruti keinginan mommy tercintanya, berdandan cantik demi menyambut tamu kedua orang tuanya. "Sebenarnya siapa sih yang datang, mommy ribet banget nyuruh aku pakai gaun segala. " dumel Dila.
"Dila ayo sayang, cepatlah sedikit tamu mommy sebentar lagi datang!
Dilara menghela nafas kasar, bangkit lalu ke luar dari kamarnya. Mommy menuntunnya ke bawah, Dilapun hanya pasrah. Gadis itu melihat dua paruh baya dan seorang laki laki yang berada di ruang tamu.
"Maaf kami terlambat. " ucap mommy dengan sopan lalu berbisik pada putrinya.
"Perkenalkan ini putri saya, Dilara Aysila Smith. " Dilara memperkenalkan dirinya, pada lelaki yang ada di hadapannya. Si gadis tengil itu memasang wajah juteknya, merasa jengah mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.
"Kenapa melihatku seperti itu Tuan Abimanyu, apa kau terpesona melihat kecantikanku. " sindir Dilara sebal. Pria yang di panggil hanya memasang wajah masa bodohnya. Abimanyu Ardiantara, pria yang akan di jodohkan dengan Dilara.
"Sebentar nyonya, om dari Abimanyu sepertinya terlambat untuk datang ke sini. " Mendengar kata om membuat Dilara sepertinya tertarik, dia begitu penasaran dengan paman dari Abimanyu.
"Maaf saya terlambat. " suara bariton seseorang menyela pembicaraan mereka, kedua mata Dilara melotot melihat sosok pria yang dia kagumi berada di depannya.
"Om Tampan. " pekiknya keras tanpa sadar. Mommy menatap tajam putrinya, Dilara tersadar dan meminta maaf pada semuanya. Radhika Adnan Sailendra, terkejut melihat sosok gadis aneh yang menabraknya tadi sore. Wajahnya kembali datar, pria itu duduk di sebelah Abimanyu.
"Nak Dila mengenal Radhika? " tanya Nyonya Amber dengan lembut.
"Kenal nyonya, tadi sore saya tanpa sengaja menabrak om tampan eh om Radhika. " ucapnya sambil tersenyum manis kearah Radhika. Radhika membuang nafas, jengah dengan gadis di depannya yang begitu genit padanya.
"Aku Dilara Aysila Smith om, sepertinya kita jodoh lho om. " kekehnya sambil tersenyum. Abimanyu berdecak pelan, tak suka dengan sikap Dilara yang terang terangan menyukai kehadiran Radhika. Mommy hanya bisa memijit pelipisnya, benar benar tak habis fikir dengan sikap anaknya yang absurd ini.
"Dila sayang, calon tunangan kamu itu Abimanyu nak bukan Radhika. " jelas Mommy.
"Tapi aku inginnya om Dhika mom. " sahut Dilara tak mau kalah. Nyonya Amberpun menjelaskan status dari Radhika, membuat semua orang terkejut. Dilara menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, terlihat santai menanggapi ucapan nyonya Amber.
"Lha memangnya kenapa tante, bagus dong kalau duda. lagian saya sukanya pria duda yang dewasa dan hot. " celetuknya asal sambil mengerlingkan mata pada Radhika.
"Dengar ya tante, pria duda lebih terhormat daripada pria single yang katanya belum punya pengalaman, tapi sudah main celap celup sana sini. " Abimanyu merasa tertohok akan pernyataan telak Dilara. Nyonya Amber mengatupkan bibirnya, kesal dengan tingkah gadis di depannya ini.
"Kau memang tak punya sopan santun. Abi, Papi ayo pulang." sinis Nyonya Amber menatap tajam Dilara. Ketiganya pergi begitu saja, Dilara melambaikan tangan menatap kepergian mereka. Mommy Diana mengusap kasar wajahnya, kembali memberikan tatapan tajamnya pada putri bungsunya.
"Mommy pusing melihat tingkah kamu nak, kalau kamu kayak gini terus, jodohmu semakin menjauh. " omel Mommy Diana. Dilara menghela nafas panjang, memeluk lengan ibunya erat.
"Please mom, jangan lagi menjodohkan aku dengan anak teman mommy. Lihat ibunya saja galak, kalau jadi mertuaku bisa bisa aku terkena darah tinggi. " ceplosnya. Daddy tertawa kecil mendengar ucapan anaknya, Radhika hanya diam memperhatikan keluarga itu.
"Mom, aku antar om Dhika sampai luar ya mom, " Dilara bangkit mengantar Radhika hingga ke depan. Gadis itu menyentuh tangan Radhika, membuat si duda itu menoleh padanya.
"Kenapa om Dhika diam saja, tante Amber begitu meremehkan om lho. " decak Dilara sebal. Radhika menepis tangan Dilara dengan kasar, kedua manik kelamnya menatap tajam Dilara.
"Ini bukan urusanmu, kita hanya orang asing dan jaga sikapmu yang kecentilan itu. " Radhika melenggang pergi, Dilara melongo menatap kepergiannya.
"Kayaknya mulutnya baru aja di cabein deh, pedes banget pantes jadi duda. " gerutu Dilara sebal. Dilara menutup pintu, bergegas ke kamarnya dan beristirahat. Gadis itu tak sakit hati akan ucapan pedas Radhika padanya.
"Semangat Dila, yuk kejar si duda sampai dapat. " gumamnya menyemangati dirinya sendiri. Dia tak akan menyerah begitu saja, menaklukkan duda menurutnya sebuah tantangan besar baginya. Dila segera mengganti pakaiannya, mencari informasi mengenai Radhika. Setelah cukup puas mengetahui identitas Radhika, Dilara memilih memejamkan kedua matanya.
##
Pagi ini Dilara telah tampil cantik dengan dressnya berwarna biru, rambutnya dia kuncir belah tengah. Gadis itu tampak begitu manis dengan penampilannya demi mendatangi sang pujaan hati. "Tapi aku belum tahu kantor om Dhika di mana!
"Apa aku samperin aja ke rumahnya ya. " gumam Dilara lirih. Dengan semangat menggebu, gadis itu turun ke bawah, bergabung bersama keluarganya di meja makan.
"Semalam pasti kamu berbuat ulah 'kan Cil. " cecar Ethan dengan tatapan curiganya pada sang adik.
"Apa sih bang Set, bikin mood aku memburuk aja. " ketus Dilara kesal. Kakaknya ini benar benar suka mencari masalah dengannya, apalagi ini masih pagi buta. Orang tua mereka hanya diam, makan dengan tenang tak terganggu dengan keributan yang tercipta karena kedua anak mereka. Ethan tak lagi menganggu adiknya, Dilara buru buru menyelesaikan sarapannya.
"Mom, Dad aku pergi dulu. " pamitnya pada kedua orang tuanya.
"Mau ke mana sayang? "
"Mengejar om duda. " Dilara langsung pergi setelah menjawab pertanyaan ibunya. Mommy tersenyum geli mendengar jawaban putrinya barusan. Ethan hanya menggeleng, tak habis fikir dengan pemikiran konyol adiknya itu. Dengan menggunakan motor maticnya, Dilara terus bersenandung menuju ke alamat pria pujaannya.
"Tunggu aku om, aku akan datang melamarmu eh berkunjung ke rumahmu. " Dilara terkikik geli, konyol dengan ucapannya sendiri. Gadis itu memarkirkan motornya, segera mengetuk pintu rumah yang cukup mewah di kawasan elit tersebut.
"Maaf nona anda cari siapa ya? "
"Permisi mbak, apa benar ini rumah Tuan Radhika Adnan Sailendra? "
"Benar nona. " jawab maid tersebut. Dilara berjingkrak kegirangan, dia ingin bertemu Radhika dan di perbolehkan masuk. Maid itu segera memanggil sang majikan, Radhika datang dengan tampilan kerjanya. Raut wajahnya nampak dingin dan datar, Dilara merasa membeku melihat sorot matanya.
"Kau benar benar tak punya malu ya, datang ke rumah laki laki sepagi ini. " ketus Radhika. Dilara justru memasang wajah polosnya sambil tersenyum manis.
"Udah om jangan marah marah nanti gantengnya hilang lho. " goda Dilara sambil tersenyum. Radhika kehilangan kata kata, menghadapi gadis bara bar seperti Dilara. Melihat dasi Radhika yang berantakan membuat gadis itu bangkit dari duduknya.
"Mau apa kamu? " Radhika merasa was was dengan sikap Dilara, Dilara hanya mendengus jengkel.
"Ini dasi om berantakan, aku benerin ya. " Dengan serius Dilara memasang dasi ke leher Radhika dengan cekatan.
"Ternyata kamu bisa pasang dasi? "
"Ya Daddy yang mengajariku om, aku selalu membantu Daddy memasang dasi kalau mommy sibuk. " Dilara menepuk dada Radhika, tugasnya telah selesai. Radhika berdehem, tanpa bicara pria itu langsung sarapan. Dilara hanya diam, mengamati pria itu dengan lekat.
"Lebih baik kamu pulang sebelum saya memanggil sekuriti untuk mengusir kamu. " ujar Radhika sinis.
"Om tampan galak banget, awas lho jodoh om semakin gak kelihatan kalau om jahat sama aku. " oceh Dilara. Radhika benar benar tak habis fikir dengan gadis aneh di depannya saat ini, selain bar bar juga tidak punya malu sama sekali.
"Terserah kamu, awas saya mau kerja. " Radhika mendorongnya pelan, masuk ke dalam mobil. Dilara benar benar tak menyangka, menaklukan si duda memang cukup sulit menurutnya. Baru kali ini pesonanya tak mampu membuat seorang duda tunduk dan luluh padanya.
"Awas saja om, aku akan membuat kamu bucin sama aku. " teriaknya menatap kepergian Radhika. Radhika masih bisa mendengarnya, pria itu hanya mengumpat kelakuan gila Dilara. Tiba di perusahaan, seperti biasa kedatangannya selalu menjadi pusat perhatian para karyawannya. Banyak wanita yang ingin menjadi istri dari seorang Radhika Syailendra.
Bruk Radhika melonggarkan dasi yang mencekik lehernya, moodnya kembali buruk setelah bertemu gadis aneh itu. Seorang pria masuk ke dalam, menatap heran kelakuan bossnya itu.
"Kenapa Tuan, sepertinya Tuan sedang stress? " tanya sang asisten bernama Ferdinand.
"Moodku buruk bertemu si gadis aneh. " Radhika mengatakan tentang Dilara pada Ferdinand, Ferdinand hampir saja menyemburkan tawa namun masih sayang dengan gajinya. Dia tak mau gajinya di potong, menertawakan bossnya. Ferdinand menghela nafas kasar, menarik kursi kemudian duduk.
"Jangan terlalu membencinya Tuan, bisa jadi nanti Anda akan jatuh pada pesonanya. " tegur Ferdinand sekuat tenaga berusaha menahan tawanya. Radhika melemparinya dengan tatapan tajamnya, membuat nyali Ferdinan menciut. Setelah perceraiannya lima tahun lalu, dia belum ingin menjalin hubungan dengan seorang wanita lagi. Ya dulu dia begitu mencintai Laura namun karena pengkhianatan yang di lakukan wanita itu, terjadi perceraian dan Radhika menutup hatinya rapat.
Ferdinand yang selama ini menemani bossnya, sangat tahu bagaimana perjalanan hidup Radhika hingga perceraian itu terjadi. Sangat di sayangkan, pria sempurna seperti Radhika yang memiliki uang, tampan dan sukses di khianati begitu saja.
"Malang nasibmu bos bos, untungnya aku jomblo." batin Ferdinan miris. Radhika kembali bekerja, berusaha melupakan kejadian tadi di rumahnya.
Tepat pukul 09.00 pagi Radhika dan Ferdinand pergi ke ruangan meeting, Radhika tengah meeting bersama kliennya membahas kerjasama. Salah satu koleganya berniat menjodohkannya dengan putri pria itu namun di tolak Radhika. Dalam hati pria itu mengumpat kesal, bagaimana bisa kliennya mencampur adukkan bisnis dengan urusan pribadinya. Ferdinand meringis, menelan salivanya melihat bossnya mengamuk di ruangan meeting.
Brak pria itu ke luar dari ruangan, Ferdinan segera menyusul bosnya. Pria itu gagal menyusul Radhika yang melajukan mobilnya seperti orang kesetanan. "Sepertinya boss lagi pms deh, sensitif banget. " gerutunya sebal.
Radhika memukul stirnya, emosinya benar benar tak terkendali. Ckiit pria itu menghentikan tiba tiba mobilnya, mengumpat pelan lalu ke luar. Seorang gadis terjatuh dari motor maticnya, gadis itu terus mendumel.
"Maafkan saya nona. "
Gadis itu menoleh, terkejut dan tak jadi mengumpat. Wajah Radhika kembali datar setelah siapa gadis yang hampir dia tabrak. "Apa kamu tidak punya mata, kamu kira ini jalanan milik nenek kamu. " sembur Radhika kesal.
"Astaga om, kenapa sih marah marah mulu. Cepat tua lho nanti, lagian om 'kan belum nikah lagi ups. " protesnya tak terima. Radhika mengusap wajahnya kasar, ingin sekali memberi lem mulut gadis bawel di depannya ini. Dilara menghela nafas kasar, segera mengangkat motornya di bantu Radhika lalu menaruhnya di tepi. Gadis itu sangat kesal karena motor kesayangannya rusak total.
"Sekarang aku gak bisa pulang, ini semua karena om Radhika. " rengek Dilara sebal.
"Naik ke mobil. " Radhika masuk ke mobil, Dilara jingkrak kesenangan dan bergegas masuk. Pria itu melajukan roda empatnya dengan kencang, seperti biasa si gadis aneh bin ajaib itu begitu heboh.
Radhika membawa Dilara pulang, pria iru menunjukkan kamar gadis aneh itu. Dilara begitu terkejut, merasa heran melihat sikap si duda yang tak biasanya. "Mungkin dia lagi sariawan, makanya berhenti marah marah nya. " pikirnya konyol.
"Ini kamarmu, semua kebutuhanmu ada di ruangan sebelahnya. " ujar Radhika yang bergegas ke luar, tak menunggu Dilara berbicara. Dilara buru buru mandi dan bersih bersih, setelah itu menemui Radhika.
Dilara turun ke bawah, membuatkan secangkir kopi lalu membawanya ke kamar Radhika. "Nih om, minum dulu kopinya, sebagai penghilang stress. " Radhika bangun, meraih minumannya, menyesapnya pelan.
"Masih pahit ya om hehe, soalnya manisnya sudah ada di aku. " celotehnya membuat Radhika hampir saja menyemburkan kopinya. Pria itu menggeleng, menyerah akan sikap absurd Dilara. Dilara mengambil alih cangkir di tangan Radhika, di taruhnya di atas meja.
"Er om, menurut om. Abimanyu itu orangnya gimana sih? " tanya Dilara setelah menempatkan diri di samping Radhika. Radhika masih mengatupkan bibirnya, menghela nafas berat dan melirik kearah Dilara.
"Harusnya kau cari tahu bagaimana perilaku calon suami kamu itu. " dengus Radhika. Dilara mengerucutkan bibirnya, sebal dengan Radhika yang menjawabnya dengan pertanyaan. Pria itu memberitahu sosok Abimanyu yang sebenarnya pada Dilara. Dilara mengangguk mengerti, gadis itu terus mengumpat Abimanyu di depan Radhika. Dia tak peduli sama sekali!
"Om juga harus jaga kesehatan, lagian om Dhika sudah kaya tujuh turunan. Mending nikmatin hidup dengan santai om jangan terlalu serius, aku siap kok jadi istri om
Dhika. Ku jamin deh hidup om jadi berwarna kayak pelangi. " rayu Dilara dengan senyum menggodanya. Radhika tertawa pelan mendengar ucapan absurd Dilara.
"Woah, om Dhika tertawa. Cie si kutub utara mulai mencair nih uhuk. " goda Dilara sambil mencoel pipi Radhika. Radhika menahan tangan Dilara, melotot kearahnya namun diabaikan gadis itu. Pria itu kembali dengan wajah datarnya, Dikara menepuk pelan dahinya.
"Senyum om kayaknya mahal banget ya. " cibirnya jengkel.
"Pindah ke ruang tamu aja sih om, enak nanti kalau ketahuan. Kita di suruh nikah lagi padahal gak ngapa ngapain. " cerocosnya sambil tertawa. Radhika menjitak kepalanya, menuruti ucapan si gadis aneh.
Dilara memindah chanel dengan cepat, mencari acara tv yang seru. Gadis itu begitu serius melihat tayangan televisi, Radhika menoleh kearahnya. Tiba tiba si duda itu menyentuh pipinya, Dilara menoleh dan terkejut.
"Kenapa lihatin Dila kayak gitu om, 'kan jedag jedug hati aku om. Kalau mau cium, langsung aja sih om, lama amat. Tinggal pilih aja. " ceplosnya sambil menyentuh pipi dan bibir secara bergantian. Radhika langsung mencubit pipi Dilara, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Dasar otak mesvm kamu gadis aneh, mama kamu dulu ngidam apa sih, kok punya anak aneh kayak kamu. "
"Cie kepo ya sama masa kecil calon istri kamu bang duda eh mas duda atau om
duda. " ledeknya. Radhika kembali tersenyum tipis, dia mulai terbiasa dengan suara cempreng Dilara. Si gadis aneh itu menggaruk tengkuknya tak gatal, merasa salah tingkah dengan tatapan intens duda tampan di sampingnya.
"Pinter banget sih om, bikin anak orang salting. Jantung aku berdebar kencang lho, om gak mau nikahin aku gitu. Biar om bisa meluk aku sepuasnya gitu, kalau aku pengen pegang roti sobek om. " rengeknya. Radhika kembali terperangah, benar benar terkejut dengan sikap bar bar Dilara.
"Capek gak ngomongnya!
"Ish nyebelin tahu gak. " ketusnya sebal.
"Memang!