Ep 2. Kekacauan Kota merah
Matahari mulai tenggelam membuat dunia menjadi gelap, semua orang berbalik ke kediaman masing-masing untuk beristirahat tapi tidak untuk para budak yang terus di pekerjaan dan di siksa. Suara tangisan dan teriakan kesakitan sudah menjadi nyanyian sehari-hari di kota merah, kepala dan mayat budak dibiarkan begitu saja tanpa ada yang peduli.
Semua kejahatan sudah menjadi tradisi bagi mereka semua, itu dikarenakan tidak ada ketegasan sama sekali. Dunia menjadi jahat atau manusia yang terlalu lemah untuk hidup di benua neraka. Hua Hua dan Sulin duduk di kegelapan malam menatap rembulan yang kesepian, sekarang mereka berada di tempat sepi.
Disisi lain pangeran malam atau kekasih tercinta Dewi Kematian rela terjun kebumi untuk membantu kekasihnya menjalankan misi, ia menyamar sebagai seorang budak agar tidak menimbulkan kekacauan. Pangeran malam memang memiliki kekuatan tapi semua kalangan keluarga atas juga tidak kalah kuat, itu mengharuskan pangeran bergerak secara diam-diam.
Malam semakin larut Sulin berjalan mengintip penjaga gerbang, ia memegang erat tangan Hua Hua. Penjaga gerbang sudah mulai mengantuk dan sebagian lainnya masih ada yang mengobrol, tidak lama setelah itu beberapa budak menghampiri mereka. Sulin mengalihkan pandangan ke arah semua budak yang pernah berada di rumah tua satu hari lalu.
Semau budak berlutut tanpa mengatakan apapun, mereka memohon tanpa berkata agar bisa ikut melarikan diri dari kota. Sulin yang begitu banyak melihat budak takut kalau mereka akan ketahuan, ia menggelengkan kepala.
Salah satu budak berjalan lalu memegang kaki Sulin, ia memohon sekali lagi. Melihat itu semua budak mendekati Sulin dan berlutut, Sulin mengalihkan pandangannya ke arah Hua Hua. Hua Hua menganggukan kepala, setelah itu semua budak berdiri dengan perasaan terima kasih, mereka mengalihkan pandangan ke arah penjaga yang juga tidak tidur.
Beberapa menit kemudian suara keributan terdengar yang memperlihatkan banyak orang sedang mengejar satu pria yang hanya menggunakan celana dalam dengan kaki terikat Rantai yang sudah putus, sosok tersebut tidak lain adalah Pangeran malam.
Hua Hua dan Sulin melihat ke arah pria yang pernah memberinya gulungan. Pangeran malam berlari dengan cepat, sambil berlari pangeran malam masuk ke penginapan, setelah itu ia melompat dari jendela.
"Sial, mereka terus mengejar!" ucap pangeran malam lalu mengambil batu dan melemparkan kepada orang yang mengejar.
"Kejar dia!"
"Itu gerbang!" ucap pangeran malam.
Sulin meminta semua budak untuk berlari menabrak dua penjaga yang menghadang "ayo, mereka tidak akan bisa kalau menahan kita sebanyak ini!" ucap Sulin.
Mendengar itu semua budak berlari ke arah dua penjaga, Pangeran malam mengerutkan keningnya ketika melihat banyak budak yang akan ikut melarikan diri, ia juga melihat Hua Hua dan ibunya. Disisi lain semua budak yang terikat melihat ke arah rombongan Hua Hua yang menunju gerbang, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus dan langsung memberontak kepada majikan.
Kota menjadi kacau balau, lima orang penjaga gerbang yang melihat banyak budak ke arah mereka, langsung melarikan diri. Pangeran malam yang dikejar berbelok arah, ia ingin membakar bangunan-bangunan. Pemimpin kota mendengar ada pemberontakan para budak, ia memerintah semua pasukan pemanah dan pasukan garis depan untuk membunuh semua budak.
Beberapa menit kemudian semua para budak yang melarikan diri dikejar oleh pasukan berkuda, wajah mereka menjadi panik saat itu juga. Satu persatu budak dibunuh tanpa ampun, di tengah kepanikan Sulin yang menggendong Hua Hua kakinya terkilir membuat mereka berdua terjatuh.
"Cepat lari nak!" teriak Sulin.
"Tapi, ibu bagaimana?"
"Cepat, tinggalkan tempat ini… kamu akan dibunuh oleh mereka… jangan menoleh kebelakang dan terus berlari sejauh mungkin!" ucap Sulin berteriak lalu memberikan selendang kecil.
Hua Hua berbalik pergi meninggalkan ibunya dengan air mata mengalir, ia sangat sedih ketika mengetahui ibunya akan mati. Setelah beberapa saat Hua Hua dan beberapa budak berhasil keluar dari gebang kota, Hua Hua terus berlari menuju hutan tanpa menoleh kebelakang.
Disisi lain pangeran malam yang masih dikota sedang membakar bangunan, ia melihat Sulin tidak bisa berdiri. Pangeran malam melihat ke arah salah satu prajurit berkuda, ia melompat dari atas atap dan langsung menendang Prajurit hingga terjatuh.
"Yeah!" ucap Pangeran malam yang menunggangi kuda ke arah Sulin.
"Tangkap tanganku!" teriak Pangeran malam.
Sulin mengangkat tangan kanannya "Terimakasih!"
"Dimana Dewi? ah bukan maksudku anakmu!" teriak Pangeran malam yang berusaha menarik tubuh Sulin.
"Dia sudah pergi lebih dulu!"
Pangeran malam menarik tangan Sulin ke pinggang "Berpegangan padaku… kita akan pergi dari sini!"
Sulin memeluk erat tubuh pangeran malam, ia mengalihkan pandangan ke arah belakang, matanya melihat banyak budak yang tewas di depan gerbang kota dan sebagian lainnya berhasil melarikan diri. Sulin memejamkan mata dengan rasa sedih, perlahan kota menghilang dari kejauhan. Pangeran malam berhasil menyelamatkan Sulin meninggalkan kota, sekarang mereka berada sudah di tengah hutan.
—---------
Matahari mulai terlihat menyinari kota merah, saat itu juga pemandangan mengerikan terlihat dimata semua orang. Mayat-mayat para budak bergelimpangan di depan gerbang kota, dengan tubuh berantakan. Semua orang mengambil beberapa organ tubuh penting diambil lalu di jual, harga tergantung kualitas.
—----------
Di tengah hutan seorang anak perempuan berusia delapan tahun jatuh pingsan, sosok tersebut tidak lain adalah Hua Hua yang sudah berlari cukup lama, ia kelelahan dalam perjalanan. Tidak berapa lama seekor Beruang berukuran besar menghampiri Hua Hua yang tidak sadarkan diri.
"Au-au!" ucap Beruang lalu menggendong Hua Hua.
Beruang membawa Hua Hua kesalah satu tempat, beruang besar dikenal banyak orang karena keganasannya. Orang-orang menyebut mereka adalah monster hutan yang memiliki penglihatan spiritual, tidak berapa lama Beruang sudua berada di semak-semak.
Semua beruang menatap ke arah anak yang jatuh pingsan, saat itu juga mereka melihat sosok Dewi Kematian berada tubuh Hua Hua. Dewi Kematian yang berada di dalam tubuh Hua Hua membuka mata, saat itu juga langit menjadi gelap, semua Beruang gemetar ketakutan, mereka mundur beberapa langkah.
Tidak alam setelah itu Dewi Kematian menutup matanya kembali, perlahan keadaan kembali normal. Beruang meminta anaknya mencari buah-buahan.
"Au-au!" ucap monyet jantan memerintahkan anaknya yang lain untuk mencari buah-buahan.
Bersambung…
Ep 3. Menyelamatkan Para Budak
Di tengah hutan seorang anak kecil bersama beruang, mereka sedang duduk dibawah pohon. Hua Hua mengambil satu buah yang sudah disediakan, anak beruang menatap Hua Hua dengan penuh pertanyaan.
"Siapa namamu?" tanya Hua Hua.
"Au-au!"
Hua Hua berusaha untuk mengerti kata "A-u!"
Setelah selesai menikmati buah-buahan, Hua Hua terdiam tanpa bisa memikirkan harus kemana setelah ini, ia mengingat ibunya yang sudah tiada dengan rasa sedih.
"Au-au!" ucap Induk beruang yang melihat Hua Hua bersedih.
"Terimakasih… aku akan pergi!"
Beruang menangkap tangan Hua Hua, ia memohon agar Hua Hua membawanya..
"Kalau kamu ikut, maka manusia akan memburumu!"
Beruang tetap memohon dan tidak melepaskan tangan Hua Hua, Hua Hua menghela nafas panjang lalu mengalihkan pandangannya.
"Baiklah, aku akan membawa kalian!"
Beruang dan satu anaknya mengikuti Hua Hua dari belakang, mereka berjalan sambil bercanda satu sama lain. Anak beruang seukuran tubuh Hua Hua, sedangkan Induknya hampir sama dengan pohon. Sambil berjalan Hua Hua merasakan bumi bergetar setiap langkah induk beruang.
Setelah beberapa saat langkah mereka terhenti saat melihat ibu dan anak laki-laki seumuran Hua Hua, mereka ketakutan melihat dua beruang besar. Hua Hua berjalan untuk menenangkan mereka berdua.
"A-ampuni aku!"
"Tidak perlu takut, dia adalah teman ku!"
"Namaku Helen dan anakku bernama Wehen, kami berasal dari Clan Bunga Dosa… kami mendapatkan serangan besar, Clan bunga dosa berusaha untuk menciptakan kedamaian dan menghentikan semua ini… tapi kami telah hancur!"
"Clan Bunga Dosa, aku tidak tahu?"
"Kami hanya memiliki satu misi yaitu menghentikan kekejaman ini!"
"Dimana?"
"Kota Emas!"
Helen yang melihat beruang memiliki kekuatan ia memohon untuk bisa menyelamatkan suaminya, Hua Hua mengalihkan pandangan ke arah dua beruangnya. Mereka mengangguk yang berarti setuju, Helen memberikan sebuah pedang pendek kepada Hua Hua.
"Indah sekali!"
"Aku berikan itu untukmu, itu adalah pusaka langit yang kami miliki!"
"Terimakasih!"
Helen mengarahkan jalan menuju kota emas, Hua Hua dan yang lainnya mengikuti dari belakang. Setelah beberapa saat kemudian mereka melihat gerbang emas yang dipenuhi darah segar, kota emas baru saja meruntuhkan bunga dosa yang menentang sistem berlaku.
Helen mengalihkan pandangan ke arah Hua Hua "Mereka mungkin ditahan di penjara bawah tanah!"
"Baiklah!"
Hua Hua terdiam sesaat ia memikirkan cara untuk bisa masuk bersama beruangnya yang begitu besar, tidak berapa lama ia mendapatkan ide.
"Tolong jaga dia dan tunggu disini…. Kami akan masuk malam hari!" ucap Hua Hua.
Helen mengalihkan pandangan ke arah anak beruang "Baiklah!"
Sambil menunggu malam tiba, Helen menceritakan perjuangan Clan bunga dosa selama 20 tahun melawan banyak orang, pada akhirnya runtuh juga, ia memberitahu ciri-ciri suaminya kepada Hua Hua. Suami Helen adalah seorang pertarungan yang memiliki tujuan tertentu, Hua Hua diam mendengarkan cerita Helen.
—---------
Lima jam kemudian.
—---------
Langit menjadi gelap tanpa sinar rembulan, semua orang berhenti melakukan aktivitas. Hua Hua mengalihkan pandangan ke arah Helen dan Wehen anaknya, setelah itu dia duduk di bahu kanan beruang.
"Kami akan pergi!"
"Hati-hati!"
Mereka berlari ke arah gerbang yang membuat bumi bergetar hebat, penjaga gerbang merasakan bumi bergetar berkeringat dingin dan langsung berbalik meninggalkan tempat tersebut.
"Bunuh!" teriak Hua Hua.
Beruang mengayunkan tinjunya "DUARRRRRRRRRRRR!"
Tiga penjaga tewas tertimpa tinju, setelah itu Hua Hua meminta beruang untuk terus berlari menuju salah satu tempat yang diberi tahu Helen. Semua orang tersentak kaget dengan kehadiran Monster Hutan, di sisi lain pemimpin kota langsung memberikan perintah semua pasukan untuk menghentikan beruang dan Hua hai.
Sambil berjalan beruang terus mengamuk semua orang yang mencoba mendekat, satu per satu Prajurit tewas dalam keadaan mengenaskan.
"Ambil tiang itu!" ucap Hua Hua menunjuk ke arah tiang besar.
Beruang berlari ke arah tiang lalu melepaskannya "Aaaaaaaaaaaaaa!" teriak beruang sambil memutar tiang ke arah semua Prajurit.
"Aaaaaaaaaaaaaa!" prajurit tewas.
"Lanjutkan perjalanan!"
Beruang berlari menuju markas prajurit karena disana adalah tempat penjara bawah tanah, tidak butuh waktu lama mereka sudah berada di tempat tujuan. Hua Hua melihat pintu ruang bawah tanah lalu mengalihkan pandangannya ke arah beruang yang terlalu besar.
"Kamu tunggu disini, aku akan masuk!"
"Aaauuuuu!" teriak beruang memberikan jawaban.
Beruang menurunkan anaknya kecil, Hua Hua berlari menuju pintu ruang bawah tanah, sedangkan beruang menjaga di depan pintu. Tidak butuh waktu lama Hua Hua sudah berlari di lorong bawah tanah, langkahnya terhenti ketika melihat satu penjaga sedang tidur. Tanpa pikir panjang Hua Hua menusukan pedang di kepala penjaga hingga tewas.
Hua Hua melihat ke arah tubuhnya yang berlumuran darah, ia mengambil sebuah obor untuk menerangi jalan. Hua Hua mengabaikan tahanan yang dikurung, ia terus mencari sosok yang dimaksud Helen.
Hua Hua melihat pria duduk dengan mata buta "Itu…!"
"Apakah anda istri Helen?" tanya Hua.
"Benar aku Lusun, siapa kamu?"
"Aku Hua Hua, Helen memintaku untuk menyelamatkan Anda!"
"Sepertinya kamu masih berumur dibawah 10 tahun?"
"Iya!" ucap Hua Hua lalu memotong tali yang mengikuti tangan Lusun.
"Bagaimana cara memotong rantai ini?"
"Berikan senjata itu!"
Hua Hua memberikan pedang pendek, Lusun langsung memotong rantai yang mengikat kakinya. Lusun dan Hua Hua keluar dari kurungan, mereka melihat banyak budak sedang dikurung.
"Aku akan menyelamatkan kalian, asal kalian mau mengikuti kata-kataku!" ucap Hua Hua.
"Baik aku akan mengikuti kata-katamu, tolong lepaskan kami!"
"Aku juga!"
"Aku!"
Lusun melesat cepat menggunakan pedang pendek, satu persatu budak keluar dari sel tahanan. Tidak butuh waktu lama semua orang sudah bebas, Hua Hua meminta semua orang untuk mengikuti dari belakang. Sebelum keluar Lusun meminta semua tahanan untuk mengambil senjata yang disimpan di ruang bawah tanah.
Hua Hua menunjuk "Itu pintu keluar!"
Semua orang mengikuti Hua Hua berlari menuju pintu, tidak butuh waktu lama mereka sudah berhasil melewati pintu ruang bawah tanah. Hua Hua mematung melihat beruang yang dipenuhi luka, ia langsung berlari ke arah beruang.
"Maafkan aku, ayo kita tinggalkan tempat ini!" Hua Hua menaiki bahu beruang.
Lusun dan semua tahanan mengikuti beruang dari belakang, mereka berlari ke arah gerbang untuk meninggalkan kota. Setelah beberapa saat langkah semua budak terhenti ketika melihat banyak penjaga dan ketapel batu ukuran besar di gerbang.
Pandangan mereka menjadi gelap saat itu juga, rasa putus asa terlihat jelas di wajah semua tahanan yang ingin melarikan diri.
"Tembakan ketapel!" tidak pemimpin pasukan.
"Cepat menghindar!" ucap Hua Hua.
Beruang berlari ke arah kanan yang di ikuti Lusun dan para budak yang ditahan, Ledakan keras terdengar yang membuat bangun hancur tertimpa batu besar. Selain menembakan batu besar, pemimpin kota juga memerintahkan pasukan untuk mengejarnya.
"Paman, apakah kamu ada cara?" tanya Hua Hua kepada Lusun
"Tidak ada!"
"Tangkap mereka!" tidak salah satu prajurit.
Keringat dingin dan rasa lelah sudah dirasakan semua orang yang ingin pergi meninggalkan kota, Hua Hua terlihat panik ketika banyak prajurit mengejar, disisi lain batu besar terus melesat ke arah mereka. Beberapa menit kemudian suara terdengar membuat semua pasukan berhenti bergerak.
"Hentikan…!" ucap pemimpin kota yang disandera oleh pangeran malam.
Pangeran malam mengalihkan pandangannya ke semua budak "Cepat tinggalkan tempat ini!"
"Turunkan semua senjata pasukan!" bentak Pangeran malam dengan pisau berada di leher pemimpin kota.
"Turunkan senjata kalian!"
Semua pasukan menurunkan senjata mereka, saat itu juga Hua Hua dan semua budak berlari menuju gerbang kota. Tidak butuh waktu lama semua tahanan berhasil meninggalkan kota, Pengeran malam menatap Roh Dewi Kematian yang berada di tubuh Hua Hua.
"Pergilah lebih dulu!"
"Terimakasih!"
Perlahan semua budak sudah tidak terlihat, pengaran malam juga mundur beberapa langkah untuk melarikan diri.
"Mereka sudah pergi, cepat lepaskan aku!"
"Suruh semua pasukanmu untuk mundur!"
"Mundur….!"
Pasukan mundur, di sisi lain satu orang menarik busur panah untuk membunuh pangeran malam. Pangeran malam melihat anak panah melesat ke arahnya, ia langsung bergerak ke samping.
"Aaahh!" ucap Pangeran malam yang terkena anak panah di bagian bahu.
Pangeran malam yang memotong leher pemimpin kota "mati saja!"
Pangeran malam berbalik meninggalkan pemimpin kota yang sudah matu, saat itu juga semua pasukan mengejar Pangeran malam dengan senjata masing-masing. Pangeran malam berlari ke arah kuda dan sosok cantik Sulin, tidak berapa lama ia sudah berada didepan Sulin dan kudanya.
"Ayo!"
"Terimakasih!" jawab Pangeran malam.
"Jangan biarkan dia lolos!"
Sulin berpegang erat agar tidak terjatuh, setelah itu mereka melesat cepat menggunakan kuda menuju ke salah satu tempat. Pasukan yang mengejar menghentikan langkahnya, mereka sudah melihat pangeran malam pergi begitu jauh menggunakan kuda.
Bersambung…