Bab 1

Ep 1. Jiwa Yang Menangis

Pemberitahuan:

(Novel ini dibuat bertujuan untuk menghibur pembaca dan membagikan beberapa pengalaman pahit dimasa lampau, dan tidak bertujuan untuk menyinggung pihak manapun. Kalau ada kesamaan nama tokoh, tempat, peristiwa mohon dimaklumi, novel dibuat hasil imajinasi sendiri tanpa meniru pihak manapun) ( Novel ini bukan untuk usia -18 tahun/ atau yang masih polos )

(Novel Type : Sad, Struggle, Life Journey, Action-packed, Ancient, Epic, Random Flow, Etc).

***********

Sebelum memulai cerita penulis akan menjelaskan tingkat kekuatan di dalam cerita ini.

Tingkat Kekuatan:

Physical Body

Fighter Body

King's Body

Soul Body

Burning Soul Body

Immortal Soul Body

Immortal Golden Body

Semua orang bisa memiliki dengan cara tertentu.

—----------

The Body of the Four Elements Emperor:

(Fire Immortal Body)

(Wind Immortal Body)

(Earth Immortal Body)

(Water Immortal Body)

Setelah mendapatkan tubuh empat element mereka akan mendapatkan salah satu tubuh dari element spesial.

—-------

Golden God Body

Goddess Body

Yang tertera disini adalah jenis tingkat khusus yang dimiliki beberapa orang, salah satu nya Hua Hua.

---------

Immortal God Emperor Body

Heaven Soldier

Heaven Fighter

Emperor of Heaven

King of Heaven

King of Fighters

Setelah melewati beberapa tahap siksaan hidup, orang yang berhasil menembus alam surgawi maka akan bisa menembus kekuatan selanjutnya.

—--------

Angel Soldier

Angelic General

Angel Fighter

King of Angels

Perfect God Power

Itulah penjelasan tentang tingkatan kekuatan.

**********

Di gerbang kota merah terlihat banyak orang sedang mengantri untuk memasuki ibukota, suara teriakan dan tangisan terdengar di depan gerbang tersebut, mereka adalah manusia yang dijadikan budak oleh keluarga teratas. Kebayang diri mereka adalah perempuan yang akan dijual kepada salah satu untuk pemuas nafsu, sedangkan laki-laki budak tidak terlalu banyak.

Di tengah keramaian terlihat bocah kecil bersama ibunya, sosok tersebut tidak lain adalah Hua Hua bersama ibunya bernama Sulin. Sulin adalah seorang budak cantik yang memiliki satu anak, ia akan dijual oleh orang yang bernama Toran kepada keluarga bangsawan. Karena tidak bisa melawan Sulin hanya diam tanpa mengatakan apapun.

Toran mengayunkan cambuk ke arah Sulin "Cepat jalan?"

Sulin berusaha tidak berteriak di hadapan anaknya Hua Hua, ia berjalan mengikuti Toran dari belakang. Hidup sebagai budak yang selalu menerima siksaan adalah makanan banyak orang yang bukan dari kalangan atas, sedangkan suaminya dibunuh oleh perampok ketika hendak pulang ke rumah.

Langkah Hua Hua dan ibunya berhenti didepan beberapa orang yang akan menikmati seluruh tubuh Sulin, tentunya mereka harus membayar uang kepada Toran yang menjual mereka.

"Cantik sekali!"

"Tentu saja, semua gadis-gadis yang aku miliki cantik semua…. Kalau yang ini 200 koin emas!"

"Oke, ini 200 koin emas!"

"Ikuti dia!" teriak Toran.

Beberapa orang menarik rantai yang terikat di tangan Sulin, Hua Hua berusaha menahan ibunya yang ingin dibawa pergi.

"Ibu… jangan bawa ibuku!" teriak Hua Hua yang terseret sambil memegang gaun ibunya.

"Anak silakan!" teriak satu orang lalu menendang Hua Hua.

"Aduhh..!"

"Ibuuuu….!"

Sulin menggelengkan kepalanya agar Hua Hua tidak melawan, itu ia lakukan agar anaknya tidak dibunuh oleh mereka. Hua Hua berdiri mematung melihat ibunya yang terikat rantai dalam keadaan diseret beberapa orang.

—--------

Di tengah keramaian orang yang sedang melakukan penjualan budak dan organ tubuh, Hua Hua mengikuti beberapa orang yang membawa ibunya ke suatu tempat, langkah Hua berhenti disalah satu rumah tua. Lima orang melepaskan rantai yang terikat di kaki dan tangan Sulin lalu membawanya masuk kedalam rumah tersebut, Hua Hua berjalan dengan hati-hati untuk melihat apa akan dilakukan mereka di rumah tua.

Hua Hua yang masih polos tidak tau apa yang dilakukan semua orang di rumah tersebut, ia terus mengintip banyak wanita diperkosa selain ibunya.

"Ahhhhh… !" teriak salah satu wanita di tempat itu.

Hua Hua mengalihkan pandangan ke arah ibunya, ia melihat lima pria melepaskan semua pakaian Sulin, lima orang melihat tubuh Sulin yang masih terlihat mulus mereka langsung menciumi tubuhnya. setelah itu mereka menikmati seluruh tubuh Sulin secara bergantian.

"Lepaskan aku!"

"Aaaahhhh…!"

"Ahhh….. lepaskan!"

Hua Hua ingin berlari menyelamatkan ibunya, langkahnya terhenti ketika melihat salah satu wanita yang baru saja dibunuh. Tubuh Hua Hua bergetar hebat saat mengetahui setelah ini ibunya akan dibunuh, ia tidak berani bergerak dan hanya mematung melihat semua wanita yang di perkosa dengan darah berceceran di lantai.

Hua Hua melihat kemaluan Sulin dan semua wanita yang sudah berdarah dan banyak orang yang masih terus memaksa untuk terus melakukan meski korban sudah lemah tidak berdaya, Sulin berteriak histeris kesakitan yang memperlihatkan urat wajah ingin terputus. Jiwa Hua Hua terasa disambar petir berkali-kali.

"Ahhhh…!" suara desahan Sulin yang diiringi air mata.

Sulin hanya bisa menangis menahan rasa sakit, ia sudah tidak kuat untuk berteriak atau bersuara lagi. Kematian cepat adalah hal terindah bagi semua budak yang disiksa, berbeda dengan Sulin yang berusaha hidup dari kejamnya kehidupan.

Tidak lama kemudian beberapa pria saling bunuh satu sama lain karena memperebutkan salah satu tubuh wanita cantik, dentingan senjata menghiasi rumah tua, suara teriakan kesakitan menggema di pikiran Hua Hua yang masih polos.

Hua Hua melihat banyak kepala pria yang terpenggal, ia melihat ke arah pria yang hanya tersisa sendiri sedang mengambil organ tubuh untuk dijual. Hua Hua mengambil senjata pria yang sudah tewas lalu memasukkan di bagian kepala pria yang mengambil organ tubuh.

"Aaaaaaaaaaaaaa?" pria tewas.

Semua wanita yang terbaring lemas mengalihkan pandangan ke arah Hua Hua yang bermandikan darah segar, mereka ketakutan histeris seperti melihat iblis kecil yang haus darah. Sulin melihat anaknya yang baru saja membunuh satu orang, di negeri tempat tinggal Hua Hua tidak banyak perempuan yang berani membunuh, kalau itu ada dia ditakdirkan sebagai penyelamat para budak.

"Ibuuuu!" teriak Hua dengan tangisan.

"Terimakasih!"

"Ibu ayo pergi dari sini!"

Sulin berusaha berdiri, setelah itu mereka pergi meninggalkan rumah tua. Tidak butuh waktu lama mereka sudah berada di jalan utama kota, mata mereka disambut keramaian orang yang masing-masing membawa budak.

Hua Hua berhenti melangkah, ia melihat seorang pria berjalan dalam keadaan leher terikat Rantai, tubuh pria juga memperlihatkan banyak cambukan beserta luka bakar. Pria tersebut mengeluarkan gulungan dari dalam celana lalu melemparkan ke arah Hua Hua, ia tersenyum hangat kepada anak kecil yang mengambil gulungan.

Hua Hua mengambil gulungan lalu mengalihkan pandangan ke arah ibunya.

"Sayang, apa itu?"

"Tidak tahu ibu, ayo kita cari tempat istirahat."

"Ayo."

Hua Hua berjalan melewati keramaian orang yang membawa budak pria dan wanita, pria budak akan digunakan sebagai bahan siksaan untuk membuang rasa marah setiap majikan, hal ini banyak membuat pria budak tewas terbunuh, sedangkan wanita untuk dinikmati lalu dibunuh. Tradisi mereka tidak membunuh anak kecil karena mereka akan digunakan sebagai budak di masa depan.

Tidak hanya disitu Hua Hua juga melihat seorang wanita yang membawa budak laki-laki untuk dipekerjakan atau pemuas nafsu, kebanyakan dari mereka berusia muda agar tidak melawan.

Wanita yang membawa budak laki-laki menyewa beberapa pengawal pria yang sudah dilengkapi dengan senjata, kalau budaknya tidak sanggup memberikan kepuasan maka kemaluannya akan dipotong atau dibunuh, selain itu mereka akan dipekerjakan hingga mati tanpa diberi makan.

—--------

Sulin dan Hua Hua sudah berada di tempat sepi, mereka duduk bersandar di batu sambil mengatur nafas lelah. Sulin melihat anaknya dengan perasaan bersalah, ia menyesali karena tidak mampu memberikan Hua Hua masa depan yang lebih baik.

"Ibu, kenapa kita tidak keluar langsung dari kota ini?"

"Kita tidak memiliki lencana kebebasan, kita akan keluar diam-diam pada malam hari!"

"Iya ibu!"

Hua Hua membuka gulungan kertas yang diberikan pria misterius, matanya melihat simbol aneh yang belum pernah ia lihat, ia mengalihkan pandangan ke arah ibunya untuk bertanya.

"Ibu, apakah kamu tahu ini apa?"

Sulin mengambil gulungan yang ada di tangan anaknya, setelah itu ia melihat simbol Formasi. Sulin meminta anaknya berbalik badan lalu membuka pakaian Hua Hua yang memperlihatkan tanda lahir sama bentuk dengan simbol yang berada di gulungan. Sulin mencocokkan dua gambar yang berada di gulungan dan tanda lahir di belakang Hua Hua.

"Ibu, kamu sedang apa?"

"Tidak ada, ibu hanya kecocokan tanda lahirmu!"

"Apakah ada sesuatu?"

"Ibu tidak mengetahuinya nak."

Mereka duduk diam Hua Hua tertidur dipangkuan ibunya, sedangkan Sulin memikirkan tanda lahir yang hampir sama dalam lukisan gulungan. Sebelum kecelakaan dalam perjalanan Dewi Kematian memiliki seorang kekasih yang bernama Pangeran malam, setelah Dewi Kematian mengalami musibah yang membuatnya kehilangan kekuatan dan lahir menjadi seorang anak perempuan bernama Hua Hua.

Selama ini Hua Hua tidak mengetahui identitas aslinya kalau dia adalah Dewi Kematian yang ditugaskan para dewa.

Bersambung…

Bab 2

Ep 2. Kekacauan Kota merah

Matahari mulai tenggelam membuat dunia menjadi gelap, semua orang berbalik ke kediaman masing-masing untuk beristirahat tapi tidak untuk para budak yang terus di pekerjaan dan di siksa. Suara tangisan dan teriakan kesakitan sudah menjadi nyanyian sehari-hari di kota merah, kepala dan mayat budak dibiarkan begitu saja tanpa ada yang peduli.

Semua kejahatan sudah menjadi tradisi bagi mereka semua, itu dikarenakan tidak ada ketegasan sama sekali. Dunia menjadi jahat atau manusia yang terlalu lemah untuk hidup di benua neraka. Hua Hua dan Sulin duduk di kegelapan malam menatap rembulan yang kesepian, sekarang mereka berada di tempat sepi.

Disisi lain pangeran malam atau kekasih tercinta Dewi Kematian rela terjun kebumi untuk membantu kekasihnya menjalankan misi, ia menyamar sebagai seorang budak agar tidak menimbulkan kekacauan. Pangeran malam memang memiliki kekuatan tapi semua kalangan keluarga atas juga tidak kalah kuat, itu mengharuskan pangeran bergerak secara diam-diam.

Malam semakin larut Sulin berjalan mengintip penjaga gerbang, ia memegang erat tangan Hua Hua. Penjaga gerbang sudah mulai mengantuk dan sebagian lainnya masih ada yang mengobrol, tidak lama setelah itu beberapa budak menghampiri mereka. Sulin mengalihkan pandangan ke arah semua budak yang pernah berada di rumah tua satu hari lalu.

Semau budak berlutut tanpa mengatakan apapun, mereka memohon tanpa berkata agar bisa ikut melarikan diri dari kota. Sulin yang begitu banyak melihat budak takut kalau mereka akan ketahuan, ia menggelengkan kepala.

Salah satu budak berjalan lalu memegang kaki Sulin, ia memohon sekali lagi. Melihat itu semua budak mendekati Sulin dan berlutut, Sulin mengalihkan pandangannya ke arah Hua Hua. Hua Hua menganggukan kepala, setelah itu semua budak berdiri dengan perasaan terima kasih, mereka mengalihkan pandangan ke arah penjaga yang juga tidak tidur.

Beberapa menit kemudian suara keributan terdengar yang memperlihatkan banyak orang sedang mengejar satu pria yang hanya menggunakan celana dalam dengan kaki terikat Rantai yang sudah putus, sosok tersebut tidak lain adalah Pangeran malam.

Hua Hua dan Sulin melihat ke arah pria yang pernah memberinya gulungan. Pangeran malam berlari dengan cepat, sambil berlari pangeran malam masuk ke penginapan, setelah itu ia melompat dari jendela.

"Sial, mereka terus mengejar!" ucap pangeran malam lalu mengambil batu dan melemparkan kepada orang yang mengejar.

"Kejar dia!"

"Itu gerbang!" ucap pangeran malam.

Sulin meminta semua budak untuk berlari menabrak dua penjaga yang menghadang "ayo, mereka tidak akan bisa kalau menahan kita sebanyak ini!" ucap Sulin.

Mendengar itu semua budak berlari ke arah dua penjaga, Pangeran malam mengerutkan keningnya ketika melihat banyak budak yang akan ikut melarikan diri, ia juga melihat Hua Hua dan ibunya. Disisi lain semua budak yang terikat melihat ke arah rombongan Hua Hua yang menunju gerbang, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus dan langsung memberontak kepada majikan.

Kota menjadi kacau balau, lima orang penjaga gerbang yang melihat banyak budak ke arah mereka, langsung melarikan diri. Pangeran malam yang dikejar berbelok arah, ia ingin membakar bangunan-bangunan. Pemimpin kota mendengar ada pemberontakan para budak, ia memerintah semua pasukan pemanah dan pasukan garis depan untuk membunuh semua budak.

Beberapa menit kemudian semua para budak yang melarikan diri dikejar oleh pasukan berkuda, wajah mereka menjadi panik saat itu juga. Satu persatu budak dibunuh tanpa ampun, di tengah kepanikan Sulin yang menggendong Hua Hua kakinya terkilir membuat mereka berdua terjatuh.

"Cepat lari nak!" teriak Sulin.

"Tapi, ibu bagaimana?"

"Cepat, tinggalkan tempat ini… kamu akan dibunuh oleh mereka… jangan menoleh kebelakang dan terus berlari sejauh mungkin!" ucap Sulin berteriak lalu memberikan selendang kecil.

Hua Hua berbalik pergi meninggalkan ibunya dengan air mata mengalir, ia sangat sedih ketika mengetahui ibunya akan mati. Setelah beberapa saat Hua Hua dan beberapa budak berhasil keluar dari gebang kota, Hua Hua terus berlari menuju hutan tanpa menoleh kebelakang.

Disisi lain pangeran malam yang masih dikota sedang membakar bangunan, ia melihat Sulin tidak bisa berdiri. Pangeran malam melihat ke arah salah satu prajurit berkuda, ia melompat dari atas atap dan langsung menendang Prajurit hingga terjatuh.

"Yeah!" ucap Pangeran malam yang menunggangi kuda ke arah Sulin.

"Tangkap tanganku!" teriak Pangeran malam.

Sulin mengangkat tangan kanannya "Terimakasih!"

"Dimana Dewi? ah bukan maksudku anakmu!" teriak Pangeran malam yang berusaha menarik tubuh Sulin.

"Dia sudah pergi lebih dulu!"

Pangeran malam menarik tangan Sulin ke pinggang "Berpegangan padaku… kita akan pergi dari sini!"

Sulin memeluk erat tubuh pangeran malam, ia mengalihkan pandangan ke arah belakang, matanya melihat banyak budak yang tewas di depan gerbang kota dan sebagian lainnya berhasil melarikan diri. Sulin memejamkan mata dengan rasa sedih, perlahan kota menghilang dari kejauhan. Pangeran malam berhasil menyelamatkan Sulin meninggalkan kota, sekarang mereka berada sudah di tengah hutan.

—---------

Matahari mulai terlihat menyinari kota merah, saat itu juga pemandangan mengerikan terlihat dimata semua orang. Mayat-mayat para budak bergelimpangan di depan gerbang kota, dengan tubuh berantakan. Semua orang mengambil beberapa organ tubuh penting diambil lalu di jual, harga tergantung kualitas.

—----------

Di tengah hutan seorang anak perempuan berusia delapan tahun jatuh pingsan, sosok tersebut tidak lain adalah Hua Hua yang sudah berlari cukup lama, ia kelelahan dalam perjalanan. Tidak berapa lama seekor Beruang berukuran besar menghampiri Hua Hua yang tidak sadarkan diri.

"Au-au!" ucap Beruang lalu menggendong Hua Hua.

Beruang membawa Hua Hua kesalah satu tempat, beruang besar dikenal banyak orang karena keganasannya. Orang-orang menyebut mereka adalah monster hutan yang memiliki penglihatan spiritual, tidak berapa lama Beruang sudua berada di semak-semak.

Semua beruang menatap ke arah anak yang jatuh pingsan, saat itu juga mereka melihat sosok Dewi Kematian berada tubuh Hua Hua. Dewi Kematian yang berada di dalam tubuh Hua Hua membuka mata, saat itu juga langit menjadi gelap, semua Beruang gemetar ketakutan, mereka mundur beberapa langkah.

Tidak alam setelah itu Dewi Kematian menutup matanya kembali, perlahan keadaan kembali normal. Beruang meminta anaknya mencari buah-buahan.

"Au-au!" ucap monyet jantan memerintahkan anaknya yang lain untuk mencari buah-buahan.

Bersambung…

Bab 3

Ep 3. Menyelamatkan Para Budak

Di tengah hutan seorang anak kecil bersama beruang, mereka sedang duduk dibawah pohon. Hua Hua mengambil satu buah yang sudah disediakan, anak beruang menatap Hua Hua dengan penuh pertanyaan.

"Siapa namamu?" tanya Hua Hua.

"Au-au!"

Hua Hua berusaha untuk mengerti kata "A-u!"

Setelah selesai menikmati buah-buahan, Hua Hua terdiam tanpa bisa memikirkan harus kemana setelah ini, ia mengingat ibunya yang sudah tiada dengan rasa sedih.

"Au-au!" ucap Induk beruang yang melihat Hua Hua bersedih.

"Terimakasih… aku akan pergi!"

Beruang menangkap tangan Hua Hua, ia memohon agar Hua Hua membawanya..

"Kalau kamu ikut, maka manusia akan memburumu!"

Beruang tetap memohon dan tidak melepaskan tangan Hua Hua, Hua Hua menghela nafas panjang lalu mengalihkan pandangannya.

"Baiklah, aku akan membawa kalian!"

Beruang dan satu anaknya mengikuti Hua Hua dari belakang, mereka berjalan sambil bercanda satu sama lain. Anak beruang seukuran tubuh Hua Hua, sedangkan Induknya hampir sama dengan pohon. Sambil berjalan Hua Hua merasakan bumi bergetar setiap langkah induk beruang.

Setelah beberapa saat langkah mereka terhenti saat melihat ibu dan anak laki-laki seumuran Hua Hua, mereka ketakutan melihat dua beruang besar. Hua Hua berjalan untuk menenangkan mereka berdua.

"A-ampuni aku!"

"Tidak perlu takut, dia adalah teman ku!"

"Namaku Helen dan anakku bernama Wehen, kami berasal dari Clan Bunga Dosa… kami mendapatkan serangan besar, Clan bunga dosa berusaha untuk menciptakan kedamaian dan menghentikan semua ini… tapi kami telah hancur!"

"Clan Bunga Dosa, aku tidak tahu?"

"Kami hanya memiliki satu misi yaitu menghentikan kekejaman ini!"

"Dimana?"

"Kota Emas!"

Helen yang melihat beruang memiliki kekuatan ia memohon untuk bisa menyelamatkan suaminya, Hua Hua mengalihkan pandangan ke arah dua beruangnya. Mereka mengangguk yang berarti setuju, Helen memberikan sebuah pedang pendek kepada Hua Hua.

"Indah sekali!"

"Aku berikan itu untukmu, itu adalah pusaka langit yang kami miliki!"

"Terimakasih!"

Helen mengarahkan jalan menuju kota emas, Hua Hua dan yang lainnya mengikuti dari belakang. Setelah beberapa saat kemudian mereka melihat gerbang emas yang dipenuhi darah segar, kota emas baru saja meruntuhkan bunga dosa yang menentang sistem berlaku.

Helen mengalihkan pandangan ke arah Hua Hua "Mereka mungkin ditahan di penjara bawah tanah!"

"Baiklah!"

Hua Hua terdiam sesaat ia memikirkan cara untuk bisa masuk bersama beruangnya yang begitu besar, tidak berapa lama ia mendapatkan ide.

"Tolong jaga dia dan tunggu disini…. Kami akan masuk malam hari!" ucap Hua Hua.

Helen mengalihkan pandangan ke arah anak beruang "Baiklah!"

Sambil menunggu malam tiba, Helen menceritakan perjuangan Clan bunga dosa selama 20 tahun melawan banyak orang, pada akhirnya runtuh juga, ia memberitahu ciri-ciri suaminya kepada Hua Hua. Suami Helen adalah seorang pertarungan yang memiliki tujuan tertentu, Hua Hua diam mendengarkan cerita Helen.

—---------

Lima jam kemudian.

—---------

Langit menjadi gelap tanpa sinar rembulan, semua orang berhenti melakukan aktivitas. Hua Hua mengalihkan pandangan ke arah Helen dan Wehen anaknya, setelah itu dia duduk di bahu kanan beruang.

"Kami akan pergi!"

"Hati-hati!"

Mereka berlari ke arah gerbang yang membuat bumi bergetar hebat, penjaga gerbang merasakan bumi bergetar berkeringat dingin dan langsung berbalik meninggalkan tempat tersebut.

"Bunuh!" teriak Hua Hua.

Beruang mengayunkan tinjunya "DUARRRRRRRRRRRR!"

Tiga penjaga tewas tertimpa tinju, setelah itu Hua Hua meminta beruang untuk terus berlari menuju salah satu tempat yang diberi tahu Helen. Semua orang tersentak kaget dengan kehadiran Monster Hutan, di sisi lain pemimpin kota langsung memberikan perintah semua pasukan untuk menghentikan beruang dan Hua hai.

Sambil berjalan beruang terus mengamuk semua orang yang mencoba mendekat, satu per satu Prajurit tewas dalam keadaan mengenaskan.

"Ambil tiang itu!" ucap Hua Hua menunjuk ke arah tiang besar.

Beruang berlari ke arah tiang lalu melepaskannya "Aaaaaaaaaaaaaa!" teriak beruang sambil memutar tiang ke arah semua Prajurit.

"Aaaaaaaaaaaaaa!" prajurit tewas.

"Lanjutkan perjalanan!"

Beruang berlari menuju markas prajurit karena disana adalah tempat penjara bawah tanah, tidak butuh waktu lama mereka sudah berada di tempat tujuan. Hua Hua melihat pintu ruang bawah tanah lalu mengalihkan pandangannya ke arah beruang yang terlalu besar.

"Kamu tunggu disini, aku akan masuk!"

"Aaauuuuu!" teriak beruang memberikan jawaban.

Beruang menurunkan anaknya kecil, Hua Hua berlari menuju pintu ruang bawah tanah, sedangkan beruang menjaga di depan pintu. Tidak butuh waktu lama Hua Hua sudah berlari di lorong bawah tanah, langkahnya terhenti ketika melihat satu penjaga sedang tidur. Tanpa pikir panjang Hua Hua menusukan pedang di kepala penjaga hingga tewas.

Hua Hua melihat ke arah tubuhnya yang berlumuran darah, ia mengambil sebuah obor untuk menerangi jalan. Hua Hua mengabaikan tahanan yang dikurung, ia terus mencari sosok yang dimaksud Helen.

Hua Hua melihat pria duduk dengan mata buta "Itu…!"

"Apakah anda istri Helen?" tanya Hua.

"Benar aku Lusun, siapa kamu?"

"Aku Hua Hua, Helen memintaku untuk menyelamatkan Anda!"

"Sepertinya kamu masih berumur dibawah 10 tahun?"

"Iya!" ucap Hua Hua lalu memotong tali yang mengikuti tangan Lusun.

"Bagaimana cara memotong rantai ini?"

"Berikan senjata itu!"

Hua Hua memberikan pedang pendek, Lusun langsung memotong rantai yang mengikat kakinya. Lusun dan Hua Hua keluar dari kurungan, mereka melihat banyak budak sedang dikurung.

"Aku akan menyelamatkan kalian, asal kalian mau mengikuti kata-kataku!" ucap Hua Hua.

"Baik aku akan mengikuti kata-katamu, tolong lepaskan kami!"

"Aku juga!"

"Aku!"

Lusun melesat cepat menggunakan pedang pendek, satu persatu budak keluar dari sel tahanan. Tidak butuh waktu lama semua orang sudah bebas, Hua Hua meminta semua orang untuk mengikuti dari belakang. Sebelum keluar Lusun meminta semua tahanan untuk mengambil senjata yang disimpan di ruang bawah tanah.

Hua Hua menunjuk "Itu pintu keluar!"

Semua orang mengikuti Hua Hua berlari menuju pintu, tidak butuh waktu lama mereka sudah berhasil melewati pintu ruang bawah tanah. Hua Hua mematung melihat beruang yang dipenuhi luka, ia langsung berlari ke arah beruang.

"Maafkan aku, ayo kita tinggalkan tempat ini!" Hua Hua menaiki bahu beruang.

Lusun dan semua tahanan mengikuti beruang dari belakang, mereka berlari ke arah gerbang untuk meninggalkan kota. Setelah beberapa saat langkah semua budak terhenti ketika melihat banyak penjaga dan ketapel batu ukuran besar di gerbang.

Pandangan mereka menjadi gelap saat itu juga, rasa putus asa terlihat jelas di wajah semua tahanan yang ingin melarikan diri.

"Tembakan ketapel!" tidak pemimpin pasukan.

"Cepat menghindar!" ucap Hua Hua.

Beruang berlari ke arah kanan yang di ikuti Lusun dan para budak yang ditahan, Ledakan keras terdengar yang membuat bangun hancur tertimpa batu besar. Selain menembakan batu besar, pemimpin kota juga memerintahkan pasukan untuk mengejarnya.

"Paman, apakah kamu ada cara?" tanya Hua Hua kepada Lusun

"Tidak ada!"

"Tangkap mereka!" tidak salah satu prajurit.

Keringat dingin dan rasa lelah sudah dirasakan semua orang yang ingin pergi meninggalkan kota, Hua Hua terlihat panik ketika banyak prajurit mengejar, disisi lain batu besar terus melesat ke arah mereka. Beberapa menit kemudian suara terdengar membuat semua pasukan berhenti bergerak.

"Hentikan…!" ucap pemimpin kota yang disandera oleh pangeran malam.

Pangeran malam mengalihkan pandangannya ke semua budak "Cepat tinggalkan tempat ini!"

"Turunkan semua senjata pasukan!" bentak Pangeran malam dengan pisau berada di leher pemimpin kota.

"Turunkan senjata kalian!"

Semua pasukan menurunkan senjata mereka, saat itu juga Hua Hua dan semua budak berlari menuju gerbang kota. Tidak butuh waktu lama semua tahanan berhasil meninggalkan kota, Pengeran malam menatap Roh Dewi Kematian yang berada di tubuh Hua Hua.

"Pergilah lebih dulu!"

"Terimakasih!"

Perlahan semua budak sudah tidak terlihat, pengaran malam juga mundur beberapa langkah untuk melarikan diri.

"Mereka sudah pergi, cepat lepaskan aku!"

"Suruh semua pasukanmu untuk mundur!"

"Mundur….!"

Pasukan mundur, di sisi lain satu orang menarik busur panah untuk membunuh pangeran malam. Pangeran malam melihat anak panah melesat ke arahnya, ia langsung bergerak ke samping.

"Aaahh!" ucap Pangeran malam yang terkena anak panah di bagian bahu.

Pangeran malam yang memotong leher pemimpin kota "mati saja!"

Pangeran malam berbalik meninggalkan pemimpin kota yang sudah matu, saat itu juga semua pasukan mengejar Pangeran malam dengan senjata masing-masing. Pangeran malam berlari ke arah kuda dan sosok cantik Sulin, tidak berapa lama ia sudah berada didepan Sulin dan kudanya.

"Ayo!"

"Terimakasih!" jawab Pangeran malam.

"Jangan biarkan dia lolos!"

Sulin berpegang erat agar tidak terjatuh, setelah itu mereka melesat cepat menggunakan kuda menuju ke salah satu tempat. Pasukan yang mengejar menghentikan langkahnya, mereka sudah melihat pangeran malam pergi begitu jauh menggunakan kuda.

Bersambung…

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED