"Kalau gitu gampang, kamu bisa menikah dengan Vincent," ujar Nyonya Oliver saat gue mengutarakan keinginan untuk membawa Pak Vincent pergi liburan ke London.
Dia butuh liburan agar otaknya bisa beristirahat. Nyonya Oliver nggak keberatan putra satu-satunya itu dibawa ke London untuk berlibur selama seminggu. Tapi dengan satu syarat, Pak Vincent harus dalam pengawasan selama 24 jam full. Dia harus berada di sisi gue seharian. Artinya gue disuruh nginap di kamar yang sama dengannya.
Gue keberatan dong. Sebagai seorang gadis yang masih suci dan memegang adat ketimuran, nggak mungkin satu kamar dengan pria yang bukan mahram. Dosa! Selain itu Papa bisa gorok leher ini hidup-hidup.
Kalimat yang diucapkan oleh Nyonya Oliver bagai godam yang menghantam kepala gue. Nggak! Lebih tepatnya seluruh tubuh ini.
"Maksud Ibu? Saya hanya ingin membawa Pak Vincent liburan ke London aja, Bu."
"Tetap kamu harus mengawasinya selama 24 jam, Dokter Stela. Bagaimana jika dia bangun keesokan pagi, panik tidak tahu ada di mana?" Nyonya Oliver melihat gue dengan saksama. "Kamu kan tidak mau tidur satu kamar dengan yang bukan mahram. Jadi solusi satu-satunya kalian menikah saja."
Gila! Gue nikah sama pasien sendiri? What? Are you kidding at me?
Satu tahun sudah gue beralih profesi menjadi psikiater pribadi Pak Vincent, seorang penderita Anterograde Amnesia. Kalian tahu apa itu Anterograde Amnesia? Ringkasnya, Anterograde Amnesia tidak bisa mengingat kejadian yang baru terjadi, karena nggak bisa ditransfer ke ingatan jangka panjang. Penderita akan lupa dengan kejadian yang baru saja terjadi beberapa saat kemudian.
Itulah yang terjadi kepada Pak Vincent. Dia akan melupakan kejadian yang terjadi hari ini setelah bangun dari tidur keesokan hari.
Yang benar saja! Gue harus nikah sama pria yang nggak akan inget lagi sama diri ini setelah bangun tidur. Memang harus diakui, Pak Vincent orang yang baik, ganteng, mapan dan pengusaha andal pula. Siapa sih yang nggak pengin punya suami kayak dia? Banyak cewek-cewek bakalan ngantri buat jadi istrinya. Tapi nggak dengan gue! Karena gue tahu kekurangannya.
"Tapi Bu. Saya ..."
"Yes or no. Pilih salah satu di antara dua itu. Di kontrak yang telah kamu tanda tangani tertera jelas, akan melakukan permintaan keluarga Oliver. Saya minta kamu menikah dengan Vincent."
Seperti biasa Nyonya Oliver berbicara dengan lugas. Ini yang paling gue kagumi darinya. Sejak awal bekerja, beliau bukan orang yang suka berbelit-belit. Kalau ngomong selalu kepada intinya.
"Pernikahan bukan untuk main-main, Bu. Bagi saya menikah sekali seumur hidup. Saya juga nggak ingin menikah kontrak. Agama melarang nikah kontrak, Bu."
Terdengar helaan napas singkat dari Nyonya Oliver. Dia melihat gue dengan tatapan lebih lunak dari tadi.
"Saya meminta kamu menikah dengan Vincent juga bukan untuk main-main, Dokter Stela. Hanya kamu yang bisa saya percayakan untuk menjaga Vincent. Selama satu tahun ini, kamu telah melakukan hal yang luar biasa." Nyonya Oliver masih melihat ke arah gue. Kali ini rasanya seakan Mama yang sedang duduk di depan.
"Saya beri kamu waktu tiga hari. Pikirkan ini baik-baik," pungkas Nyonya Oliver menepuk pelan bahu ini, sebelum pergi dari ruang kerjanya.
Gue hanya bisa memejamkan mata, agar cairannya nggak keluar. Kelemahan gue Cuma satu, saat amarah tertahan, air mata pasti keluar.
Kontrak bernilai milyaran rupiah itu, telah mengubah hidup gue. Nggak hanya beralih profesi dari psikiater menjadi sekretaris gadungan, tapi juga harus menikah dengan seorang penderita Anterograde Amnesia.
Bersambung....
Hai, perkenalkan aku Leenagie. Selamat datang di novel pertamaku di Ceriaca alias Bakisah. Enjoy. ^^
Seorang psikiater muda sedang duduk di sebuah ruangan konsultasi rumah sakit Pondok Mekar Jakarta. Dia sedang melayani pemeriksaan pasien yang membutuhkan penanganan masalah kejiwaan.
“Ini resep yang harus Anda minum untuk mengurangi halusinasi yang dialami, Bu.” Psikiater itu menyerahkan satu lembar resep untuk mengobati Skizofrenia yang diderita oleh pasien tersebut.
“Terima kasih, Dokter,” ucap pasien itu sebelum meninggalkan ruangan.
“Sama-sama, Bu.” Dia berdiri sambil tersenyum singkat.
Setelah pasien meninggalkan ruangan, dia mengembuskan napas lega. Psikiater berambut pendek itu menghempaskan tubuh di kursi kerja, lalu menyandarkan punggung.
“Pasien terakhir, ‘kan?” tanya Psikiater itu kepada perawat yang membantunya.
Perawat menganggukkan kepala dan menaikkan alisnya. “Anda benar Dokter Auristela Indira.”
Auristela menyipitkan mata, mengambil tissue dan meremasnya lalu dilemparkan ke arah perawat itu. “Sok-sok formal, gue getok kepala lo.”
“Ih, Dokter serem amat.” Perawat bernama Santi pura-pura bergidik.
“Emang udah serem dari dulu, ‘kan? Baru nyadar?” balas Stela mendelik dengan mata cokelat terangnya.
Stela berdiri sambil membentangkan tangan, lalu menggerakkan tubuh ke kiri dan kanan.
“Pegel?” tebak Santi.
“Ho-oh. Gimana nggak pegel? Pasien banyak banget dari tadi.” Stela memutar bola mata.
Di zaman sekarang ini, semakin banyak orang-orang yang memerlukan ‘sentuhan tangan’ dari psikiater. Entah hanya sekedar ingin ‘curhat’ berbayar atau memang mengalami masalah dengan kejiwaan mereka.
“Duitnya juga kenceng, ‘kan?” cibir Santi.
Stela tersenyum lebar, sehingga bibir tipisnya semakin menipis.
Kriing!
Telepon di ruangannya berdering.
“Halo, Auristela di sini,” sapa Stela setelah mengangkat telepon.
“Bisa ke ruangan saya sebentar?” balas suara serak dan berat di ujung telepon.
“Sekarang, Dok?” ujar Stela sambil menggulung tali telepon dengan jari telunjuk.
“Tahun depan, Dokter Stela. Ya sekarang dong!”
Stela nyengir kuda memperlihatkan gigi kecil yang tersusun rapi, membuat pipi chubby-nya semakin melebar.
“Segera ke sana, Dok.” Dia meletakkan gagang telepon, lalu bersiap menemui kepala psikiatri.
“Gue tinggal bentar ya? Mau ketemu Dokter Adam dulu.”
“Ngapain?” Santi tampak penasaran. Tidak biasanya kepala psikiatri itu meminta Stela datang keruangan, kecuali untuk hal-hal yang urgent.
Stela mengangkat bahu dan melengkungkan bibir ke bawah. “Nggak tahu.”
Gadis itu melambaikan tangan sebelum meninggalkan ruangan. Dia bergegas ke ruangan kepala psikiatri yang terletak di ujung koridor lantai yang sama.
Tap-tap
Langkah kakinya terus bergerak ke ujung koridor, kemudian berhenti tepat di depan pintu berwarna hitam. Stela mengatur napas yang menjadi sedikit sesak setelah berjalan cepat barusan.
Tok-tok
Dia mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan tersebut.
“Masuk.” Terdengar suara yang sama dengan di telepon tadi, serak dan berat.
Ceklek!
“Siang menjelang sore, Dok,” sapanya setelah membuka pintu.
Gadis itu kemudian melangkah pelan dengan menyimpan pertanyaan di pikiran. Lebih tepatnya penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Dokter Adam. Kedua tangannya menyatu saling bergenggaman di depan tubuh saat berdiri di depan kepala psikiatri.
Dokter Adam menoleh ke arah Stela, lalu mengulurkan tangan mempersilakan gadis itu duduk di kursi yang ada di depan. Pria berkepala plontos itu memandanginya dengan saksama. Mata hitam pekat milik Dokter Adam mematut lama dirinya, melihat dari atas ke bawah hingga kembali lagi ke atas.
Stela duduk dengan pelan di kursi yang terasa empuk dan nyaman. Dia menatap bingung dengan kening berkerut. Gadis itu menyipitkan mata, lalu memajukan sedikit wajah ke depan dengan kedua alis terangkat ke atas.
“Ada yang aneh dengan saya, Dok?” cicit Stela sambil menyatukan kedua ujung jari telunjuk di depan wajahnya.
Dokter Adam menggelengkan kepala, lantas melepaskan kacamata yang bertengger di hidung. “Kamu sudah berapa lama kerja di sini?”
“Satu tahun, Dok. Masih baru.” Stela menyengir aneh, lagi-lagi memperlihatkan gigi kecil yang tersusun rapi. Tampak sebuah lubang kecil memanjang di pipinya.
Dokter mengambil sebuah berkas dari dalam laci. Dalam hitungan detik, berkas tersebut sudah berada di atas meja. Dia menggesernya tepat ke depan Stela.
“Minggu depan kamu tidak perlu lagi datang ke rumah sakit!” seru Dokter Adam setelah menyerahkan berkas tersebut.
Deg!
Mata bulat Stela membesar seketika. Lubang hidungnya terlihat kembang kempis merespon rasa terkejut. Kedua tangan meremas ujung jas putih yang dikenakannya.
“Sa-saya dipecat, Dok?” gagap Stela dengan pandangan tidak tenang, napas keluar tak beraturan dari hidung dan mulut secara bersamaan.
“Baca dulu, baru komentar,” ucap Dokter Adam menaikkan sedikit kepala ke atas dengan pandangan ke arah berkas tersebut.
Tangan Stela gemetar ketika meraih berkas yang diletakkan oleh Dokter Adam di atas meja. Dia membuka berkas itu dengan cepat. Terlihat data pasien di dalamnya. Matanya bergerak membaca data itu secara urut dari atas ke bawah.
Pandangannya kembali naik melihat ke arah Dokter Adam, setelah membaca data yang diberikan. Stela kembali menunjukkan tatapan bingung. Keningnya berkerut dengan kedua alis nyaris beradu.
“Sumpah, Dokter. Saya nggak ngerti.” Stela menggeleng lesu sambil melengkungkan bibir ke bawah.
Dokter Adam mengembuskan napas keras, bibirnya mengerucut dengan tangan mengusap keras dagu. Dia tak habis pikir ada psikiater seperti Stela yang tidak bisa menganalisa maksud perkataannya. Pria paruh baya itu menumpukan kedua tangan di atas meja, kembali melihat lekat psikiater muda yang duduk di depannya.
“Kamu akan dibebastugaskan dari rumah sakit.”
“Tuh ‘kan bener, saya dipecat,” ujar Stela lesu dengan tatapan sendu. Bibirnya memberikan gerakan kecil. Dagunya mulai bergetar seakan ingin menangis.
“Dokter Stela. Dengarkan dulu perkataan saya. Ini belum selesai bicara loh!” tegas Dokter Adam dengan memberikan tekanan di ujung kalimat.
Stela mengusap wajah, menyelipkan rambut di belakang telinga, lalu memfokuskan pikiran dan mendengarkan apa yang akan dikatakan kepala psikiatri itu.
“Saya akan mendengarkannya, Dok.”
“Kamu dibebastugaskan dari pekerjaan di rumah sakit dan diberikan tugas baru.”
Stela membuka sedikit mulutnya. Embusan napas lega meluncur begitu saja setelah mendengarkan kalimat terakhir Dokter Adam.
“Tugas baru kamu sekarang adalah menjadi psikiater pribadi pasien itu.” Dokter Adam mengarahkan telunjuk ke berkas yang ada di tangan Stela.
Perlahan mata bulat Stela kembali melebar, dagunya seakan jatuh ke bawah sehingga bibirnya membulat.
“Jadi psikiater pribadi penderita Anterograde Amnesia, Dok?” Stela memastikan setelah menelan saliva.
“Pintar. Akhirnya kamu ngerti juga maksud saya. Tidak hanya menderita Anterograde Amnesia, dia juga mengalami trauma karena sebuah kejadian tragis.”
“Why me?” keluh Stela dengan kepala miring lesu ke kanan.
“Tidak suka?”
Stela kembali menegakkan kepala dan menggeleng dengan cepat. “Maksud saya. Kenapa bukan yang sudah berpengalaman aja, Dokter? Menangani pasien Anterograde Amnesia butuh keterampilan psikiater senior.”
“Kamu ingin saya menugaskan Dokter Herman atau Dokter Ridwan? Energi mereka tidak cukup menangani pasien yang menderita Anterograde Amnesia, Stela. Di rumah sakit ini hanya ada tiga psikiater, kamu yang paling muda.” Dokter Adam mengarahkan telunjuk ke wajah Stela.
Dokter Adam kembali memasang kacamata, kemudian membaca daftar riwayat hidup Stela.
“Selain itu kamu juga memiliki kemampuan analisa saraf otak yang sangat baik. Kamu juga bisa berkonsultasi dengan spesialis saraf yang menanganinya. Dan … keluarga Oliver meminta seorang psikiater yang memiliki kemampuan bela diri. Taekwondo sabuk hitam. Kamu memenuhi semua persyaratannya,” papar Dokter Adam dengan menaikkan sebelah alis.
“Tapi Dokter ....” Stela memberikan tatapan memelas, berharap Dokter Adam berubah pikiran.
Dokter Adam menurunkan kacamata ke ujung hidung. “Kamu mau benar-benar dipecat? Ini bukan hanya keputusan saya, Stela. Tapi pihak manajemen. Pasien itu bukan orang sembarangan. Beliau seorang pengusaha di bidang pertelevisian. Kamu ingin rumah sakit kita diberitakan karena menolak pasien VIP?”
Stela menggelengkan kepala dengan cepat. “Harus banget ya, Dok?”
“Ya Allah, Stela!” Dokter Adam terlihat geram. Giginya beradu dengan rahang mengeras. Mata hitam itu membesar.
Stela menunduk lesu dengan kepala sedikit miring ke kanan. Sudah tidak ada lagi pilihan selain menerima tawaran tersebut. Tidak! Lebih tepatnya ini bukanlah tawaran, tapi perintah. Jika berani melawan atau menentang, bersiaplah untuk ditendang dari rumah sakit.
Stela tidak boleh kehilangan pekerjaan, jika tidak Ayahnya akan menyuruh gadis itu pulang ke kampung halaman di Bukittinggi. Bukan hanya itu, dia juga harus membantu sang Ayah melunasi pinjaman untuk biaya kuliah spesialisnya.
“Nggak dikasih waktu buat berpikir dulu, Dok?” Stela menatap penuh harap dengan kedua tangan menyatu di depan dada.
“Ini bukan tawaran, Stela, tapi perintah! Kamu harus melakukannya, jika tidak ....” Dokter Adam menaikkan sebelah alis ke atas, lalu mengarahkan jari telunjuk bawah dagu seakan menggorok leher sendiri.
Stela menundukkan kepala lemas. Ujung dagu nyaris beradu dengan dada bagian atas, membuat leher yang tidak terlalu tinggi itu semakin menghilang. Rambut pendek sebahu turun menutupi wajahnya.
“Besok kamu harus pergi ke rumah keluarga Oliver. Alamatnya ada di sana. Akan ada surat perjanjian yang harus ditandatangani sebelum mulai bekerja.” Dokter Adam menambahkan, setelah tidak melihat tanda penolakan lagi di wajah Stela.
“Siapa yang akan gantikan Saya nanti, Dok? ‘Kan tinggal dua tuh dokter spesialis jiwa.” Stela mengangkat kepalanya pelan, masih berusaha mencari celah agar bisa memberikan alasan untuk menolak tawaran tersebut.
Dokter Adam memundurkan tubuh bersandar di kursi, lalu memangku tangan.
“Sudah ada dokter tambahan dari Puri Mekar. Kamu tidak perlu khawatir.” Dokter Adam tersenyum tipis, karena bisa mementahkan alasan Stela.
“Jangan lupa datang pukul 08.00 WIB ke rumah keluarga Oliver. Selamat bekerja, Dokter Stela,” pungkas Dokter Adam menahan senyuman.
Stela mengambil berkas dari atas meja, kemudian berdiri. Dia membungkukkan sedikit tubuh dengan tangan kanan memegang data pasien bernama Vincent Oliver. Gadis itu meninggalkan ruangan Kepala Psikiatri dengan langkah gontai.
Auristela terlihat memejamkan mata dengan wajah mengerucut sambil merengek ketika berada di luar ruangan. Dia menempelkan kening dengan pelan ke dinding, memundurkan lalu menempelkannya lagi berkali-kali. Tak hanya itu, ia menggerutu tidak jelas.
Puas melepaskan rasa kesal, Stela segera merapikan rambut, mengangkat dagu dan menegapkan tubuh. Dia kembali berjalan ke ruangan praktik seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah berada di ruangan, wajahnya kembali mengerucut. Stela merengek pelan sambil menghentakkan kaki. Napasnya terdengar tidak beraturan.
“Itu wajah kenapa, Stela?” tanya Santi bingung melihat perubahan wajah Stela, setelah kembali dari ruangan Dokter Adam.
Stela melempar berkas yang diberikan Dokter Adam ke atas meja.
Kening Santi berkerut tak paham. Dia mengambil berkas itu dan membacanya. Mata bulatnya melebar saat melihat foto Vincent.
“Ya ampun Tuhan. Ganteng banget!” serunya dengan wajah berbinar.
Stela mendengkus kesal. “Baca riwayat penyakitnya, Santi! Bukan fotonya.”
Netra Santi sekarang menyipit ketika membaca daftar riwayat kesehatan Vincent Oliver.
“Anterograde Amnesia?” Santi mengedipkan mata berkali-kali dengan bibir membulat.
“Bingo! Dan gue dibebastugaskan dari rumah sakit, beralih menjadi psikiater pribadinya.” Stela merengek lagi setelah menyelesaikan kalimatnya.
“Coba lo bayangin gimana susahnya menangani pasien yang ingatannya hanya bertahan satu hari. Gue bakal jadi diari buat dia, San.” Stela menghentakkan kaki ke lantai yang tertutup karpet tebal.
“Hancur karir gue. Hancur hidup gue. Huuaa-aa ....” Dia merengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh Mamanya.
“Ya paling nggak hidup lo lebih berwarna, bisa lihatin cowok ganteng tiap hari, Stel.”
“Trus?”
“Kali aja dia jodoh lo, ‘kan? Kalian nikah dan punya anak cakep-cakep. Yah, sekalian perbaiki keturunan gitu. Blasteran loh, Stela!”
“Gila lo! Iya kali nikah sama orang yang akan ngelupain gue lagi besoknya?” Bola mata Stela berputar.
Santi tertawa cekikikan melihat ekspresi wajah sahabat dan juga rekan kerjanya itu. Sementara Stela merebahkan kepala di atas meja dengan lesu sambil sesekali meniup rambut. Bagaimana hari-hari yang akan dijalankan setelah beralih profesi menjadi psikiater seorang pria campuran Jawa-Perancis tersebut? Ganteng sih, tapi menderita Anterograde Amnesia.
Bersambung....
Pagi hari pukul 07.30 WIB, Stela telah berdiri di depan pagar rumah keluarga Oliver. Sebuah kediaman mewah berukuran besar. Mata atraktif berwarna cokelat itu tampak melebar saat melihat bangunan berwarna perpaduan peach dan putih tersebut.
“Waah, rumahnya gede banget,” cetus Stela takjub saat berdiri di luar pagar.
Dia memperhatikan pagar batu yang cukup tinggi. Di bagian atasnya terdapat teralis berbentuk runcing. Berbagai jenis tanaman seperti Kadaka, Pohon Palem hias dan Pucuk Merah tumbuh dengan terawat di luar pagar berwarna senada dengan rumah.
Setelah menghela napas panjang, ia memencet bel yang berada di samping pagar berwarna hitam. Tak lama, seorang penjaga membuka pintu kecil di pagar tinggi itu.
“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya pria mengenakan pakaian berwarna hitam.
“Saya Auristela Indira, psikiater dari rumah sakit Pondok Mekar.” Stela memperlihatkan kartu tanda pengenal dari rumah sakit. “Saya sudah membuat janji temu dengan Bu Widya.”
“Oh ya. Monggo masuk, Mbak Auristela. Ibu Widya sudah menunggu,” sambut penjaga pria dengan logat Jawa yang kental.
Penjaga itu bergeser ke kiri, memberikan akses untuk Stela masuk.
“Terima kasih, Pak,” ucap Stela kepada penjaga tersebut.
Penjaga mengantarkan Stela hingga pintu rumah, lalu meninggalkannya setelah seorang pelayan wanita datang.
Orang kaya. Ini rumah udah kayak istana! seru Stela membatin setelah melangkah ke dalam rumah.
Bagian dalam didesain seperti gaya rumah Eropa, kosong di bagian tengah hanya beberapa guci dan lemari kecil yang berjejer merapat ke dinding. Di sisi kiri rumah terdapat tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua. Kiri dan kanan tampak ruangan dengan dua pintu yang tertutup rapat. Di tengah ruangan menggantung sebuah lampu hias kristal berbentuk panjang ke bawah.
“Silakan masuk, Mbak,” anjur pelayan setelah membukakan sebelah pintu ruangan kedua sebelah kiri rumah.
Stela mengedarkan pandangan ke ruang tamu. Terlihat satu set sofa berwarna krem, serasi dengan dinding yang didominasi oleh warna krem dan cokelat tua.
“Mbak bisa menunggu di sini dulu. Saya akan memberitahukan Ibu.”
Gadis itu menganggukkan kepala. Dia berjalan menuju sofa dan duduk di sofa yang berukuran lebih kecil.
Beberapa saat kemudian terdengar suara kaki melangkah dengan cepat ke arah ruang tamu. Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di dekat pintu. Dalam hitungan detik seorang wanita paruh baya terlihat memasuki ruangan. Penampilannya sangat elegan, rambut pendek dihiasi uban, ditata tinggi di bagian depan. Wanita itu mengenakan gaun lengan panjang, menutupi hingga mata kaki.
Meski telah berusia enam puluh tahun, wanita itu masih terlihat cantik. Mata cokelat gelap yang atraktif, menandakan Bu Widya bukan wanita sembarangan. Dia terlihat berpendidikan, namun terkesan rendah hati.
Stela segera berdiri, lalu mengulas senyum sebelum menyapa wanita itu. “Selamat pagi, Bu Widya.”
“Selamat pagi, Dokter Auristela Indira,” sahut Widya.
“Saya Widya Resmana Oliver,” sambung Widya mengulurkan tangan.
Gadis itu menyambut uluran tangan Widya.
“Silakan duduk.” Widya mengulurkan tangan, kemudian duduk di sofa yang berukuran panjang. Sedangkan pria muda yang datang bersama dengannya tadi, berdiri di samping tuan rumah.
Bu Widya menyandarkan punggung di sofa dan menyilangkan kaki. Dia menadahkan tangan ke samping. Pria muda itu menyerahkan kertas yang dijepit di atas papan tipis.
“Ini surat kontrak yang harus ditandatangani sebelum kamu mulai bekerja di sini, Dokter Auristela.” Widya menyerahkan kontrak kerja kepada Stela.
“Kita harus mencapai beberapa kesepakatan terlebih dahulu, sebelum memulai hubungan kerja,” ujar Bu Widya lugas.
Stela menerima surat kontrak yang terdiri dari tiga lembar tersebut. Matanya menelusuri setiap kalimat yang tertera di dalamnya dengan cermat. Seketika netra cokelat itu melebar saat membaca isi kontrak yang mengharuskannya tinggal di rumah ini.
“Sa-Saya harus tinggal di sini, Bu?” tanya Stela kaget dengan mata tidak berkedip.
Widya menganggukkan kepala pelan satu kali.
“Rumah ini banyak pelayan dan selalu ramai. Kamu tidak perlu khawatir.” Ibu Widya menegakkan punggung. “Vincent membutuhkan psikiater yang bisa menemaninya 7x24 jam.”
Bu Widya menggelengkan kepala sambil memejamkan mata. “Kamu akan diberikan waktu libur, satu hari. Saya akan memberikan insentif tambahan untukmu, juga bonus. Nominalnya ada di lembar terakhir.”
Stela melihat lembaran terakhir dari kontrak. Di sana tertulis nominal yang akan diterimanya per bulan adalah Rp50.000.000,-. Bibir gadis itu membulat dengan mata menatap tidak berkedip setelah tahu nominal yang akan diterimanya perbulan.
Mendadak dia menjadi bersemangat. Tidak dipungkiri, Stela memang sedang butuh uang saat ini. Apalagi sang Ayah sudah tua untuk bekerja. Dengan menerima uang sebesar itu di luar gaji, Stela bisa meminta Ayahnya untuk berhenti bekerja dan melunasi hutang biaya kuliahnya selama ini.
Gadis itu kembali membaca lembar sebelumnya. Di sana tertulis Stela tidak boleh mengatakan apapun kepada media jika diwawancara, terutama tentang penyakit Vincent. Selain itu dia juga harus melakukan apapun yang diminta oleh keluarga Oliver. Ada beberapa point lain yang harus disepakatinya.
Pria yang berdiri di samping Widya memberikan sebuah pulpen kepada Stela.
Stela menaikkan pandangan setelah membaca dengan teliti kontrak kerja itu.
Wanita paruh baya itu menaikkan sebelah alis dan mengarahkan telunjuk ke pulpen, mengisyaratkan Stela bisa menandatangani kontrak sekarang.
Tanpa pikir panjang, Stela meneken kontrak kerja yang akan mengikatnya selama tiga tahun. Nominal uang yang akan diterima, telah menghilangkan rasa ragu dan khawatir di hatinya. Dia menyerahkan dua rangkap kontrak kerja kepada Bu Widya.
Wanita paruh baya itu membubuhkan tanda tangan pada kedua rangkap kontrak kerja. Setelah itu dia mengulurkan tangan sambil menarik kedua ujung bibir.
“Terima kasih telah bersedia menjadi psikiater pribadi putra saya, Dokter Stela. Selamat bergabung di keluarga Oliver.” Bu Widya tersenyum memandangi Stela dari atas hingga bawah. “Kapan bisa pindah ke sini?”
“Eh?”
“Kamu harus melakukan penyesuaian dulu dengan Vincent sebelum bekerja, Dokter Stela.”
Stela tampak bingung.
“Candra, bisa antarkan Dokter Stela pulang ke kosannya? Setelah itu bawa dia ke sini lagi.” Widya memerintahkan pria bertubuh tinggi yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.
“Baik, Bu.” Pria bernama Candra membungkukkan tubuh.
“Sampai bertemu tiga jam lagi, Dokter Stela,” pungkas Bu Widya sebelum meninggalkan ruang tamu.
Mata cokelat terang Stela tampak membulat. Dia harus pindah hari ini juga?
Huuh! Dokter Adam awas kalau ketemu nanti, gerutu Stela dalam hati.
“Kita pergi sekarang, Dokter?” Candra membuyarkan lamunan Stela.
“Eh? Ya,” sahut Stela masih dengan raut bingung.
Bersambung....