Kaki jenjang beralas heels hitam itu melangkah teratur. Rambut terurainya tertata rapi dan bahkan tak tergoyahkan oleh tiupan angin. Saat hidung mancung yang terpatri indah itu menghirup asap pekat nikotin, tangan lentiknya terangkat guna mengkibas udara.
"Tamara!" panggil sebuah suara.
Perempuan bertubuh semampai itu, Tamara, mengangkat alis singkat, menatap temannya yang sudah kehilangan kesadaran. Dia membawa langkahnya mendekat ke meja bar sambil berusaha menghindar dari tubuh para pria yang berusaha mendekat. Jaket yang hanya tersampir di kedua bahu dia naikkan, menutupi kulit bahu dan leher yang terekspos.
"Baby! Sini-sini, ada racikan baru hahaha," tawa perempuan berambut pirang itu menguar, membuat Tamara menutup hidungnya yang tak sengaja menghirup bau menyengat alkohol.
"Kacau," komentar Tamara.
"Ra! Shakira!" Tamara berteriak di depan wajah Shakira, tapi perempuan itu malah memicingkan mata sambil menggerak-gerakkan kepala.
"Hehehe Mar. Ada Justin Bieber, tuh," ucap Shakira.
Walau yakin ucapan Shakira tak mungkin benar, Tamara tetap menoleh ke mana telunjuk temannya itu mengarah. Saat yang tertangkap matanya adalah seorang pria botak dengan kumis sekering sapu lantai, Tamara langsung berdecak keras.
"Ben, habis berapa nih anak?" tanya Tamara pada bartender pria muda dengan tato memenuhi lengan kiri.
Ben, bartender tampan itu melirik pada tiga botol kaca yang telah tandas isinya. Tamara meringis melihatnya. Dia kembali menatap Shakira yang kini menjatuhkan kepala ke atas meja bar. Kelopak berhias eyeshadow biru itu tertutup rapat, mulutnya yang terbuka mengeluarkan suara dengkur.
"Gila nih anak. Heh babon, gimana gue bisa ngangkat loh?" seru Tamara kesal.
Karena riuhnya suasana dalam club malam itu membuat teriakan Tamara tenggelem begitu saja. Tak ada yang menyadari raut kesal perempuan itu, kecuali sepasang mata yang mengawasi sejak kedatangannya. Pria dengan topi yang menutupi separuh wajahnya itu mengangkat gelas kristal, menegak isinya dalam sekali tegukan.
"Tamara," bisiknya, menatap lurus perempuan berparas cantik itu.
…
Tamara bergumam panjang menyauti ucapan pria yang sedang berbicara dalam ponsel. Sebuah earphone menempel di telinga kirinya, membuatnya bisa menangkap dengan jelas tawa renyah Roger, tunangannya. Walau asik menelpon, mata Tamara tak beralih sedikitpun dari jalan raya di hadapannya.
"Emang sialan Shakira," ucap Tamara, mengundang tawa Roger lagi. Dia melirik temannya yang sudah terlelap di kursi samping pengemudi.
"Kamu nggak minum kan, by?" tanya Roger dari sebrang sana.
"Enggaklah. Kalau aku minum, bisa-bisa mobil kita melayang nyium sopir truk di depan," gurau Tamara.
"Jangan ngomong gitu, by. Kenapa tadi nggak telpon aku aja? Biar aku jemput."
Tamara melirik spion, saat dirasa tak ada kendaraan dalam jarak dekat di belakangnya, dia segera memutar setir membuat mobil berisi dua kursi itu berubah arah. Jalanan yang dia ambil kini jauh lebih sepi dari sebelumnya, membuatnya bisa leluasa menginjak gas dalam.
"Kamu emangnya udah pulang dari London?"
Dapat Tamara dengar embusan napas berat Roger. "Belum."
Mendengar itu sontak Tamara tertawa. "Kamu mau teleportasi dari London ke sini gitu, kalau aku minta jemput? Ada-ada aja."
"Apa yang nggak buat kamu, sayang?" Di akhir kata Roger sengaja berbisik lambat, menggoda Tamara.
"Halah bullshit! Udah, lanjut kerja sana."
"I swear, by. Semua aku lakuin buat kamu."
Tamara hanya bergumam untuk menanggapi. Namun tak urung bibirnya tertarik tinggi, membentuk segaris senyum indah. Rasanya seperti ada kunang-kunang yang berterbangan di dalam perutnya, mengantarkan perasaan geli juga hangat karena cahaya yang mereka uarkan.
"Gombal mulu bisanya. Mentang-mentang enam bulan nggak ketemu."
"Loh!"
Tamara berdecak, menunggu apalagi ucapan manis yang akan Roger katakan.
"Kok enam bulan? Bukannya kita udah nggak ketemu selama tiga tahun?"
"Nggak sekalian tiga abad?"
Kini giliran Roger yang tertawa. Pria itu bergumam-gumam tak jelas. Tamara juga bisa mendengar suara ketukan meja, kebiasaan Roger saat memikirkan sesuatu.
"Kenapa?" Tamara tak sabar menunggu tunangannya yang sepertinya malah melamun. Dia yakin, pasti ada yang ingin Roger katakan.
"Enggak—"
"Kenapa!" tanya Tamara lagi, lebih tegas. "Jangan kayak cewek, ih."
Roger tergelak, membuat Tamara mengerucutkan bibir. Untung tak ada Roger di sana, atau dia akan diberi 'hadiah' karena dianggap sengaja bertingkah imut. Sebuah kecupan lembut, atau bahkan hadiah yang lebih besar dari itu.
"By, kayaknya aku masih belum bisa pulang bulan ini. Sorry—"
Dengan mata memicing Tamara menginjak rem mendadak. Shakira di sampingnya hingga terdorong ke depan, beruntung Tamara sudah memasangkan sabuk pengaman.
"Maksud kamu?"
Roger menghela napas berat. "Ada problem di perusahaan, lebih besar dari yang kemarin. Mungkin aku baru bisa balik dua bulan lagi."
"Roger, kamu jangan bercanda. Nggak lucu tau nggak?" Tak tagi ada panggilan sayang, Tamara sengaja menekankan nama sang tunangan.
"Mar, sorry. Ini diluar kendali—"
"No! Nggak ada alasan apapun!" Tamara mematikan mesin mobil, tak ingin ada suara lain yang mengganggu keduanya.
"Tamara, serangan ke perusahaan kali ini lebih besar. Pihak dalam pun kayaknya ada yang terlibat. Kebocoran data, pembatalan projek—"
"Aku nggak tanya keadaan perusahaan kamu, Roger. Aku ngga peduli! Yang aku mau cuma kamu pulang tepat waktu!"
Perempuan cantik itu menatap tajam jalanan gelap di depannya, seakan-akan sosok laki-laki berwajah blasteran itu ada di sana.
"Tamara, aku nggak sedang minta izin dari kamu. Aku cuma ngasih tahu kalau aku nggak bisa pulang dan—"
"Pertunangan kita batal?" potong Tamara sekali lagi.
Saat Roger tak menyahut, perempuan itu tertawa sarkas.
"Shit! Terserah kamu!"
Earphone di telinganya Tamara lepas. Dia melemparnya ke depan keras sebagai pelampiasan. Shakira yang terlelap di sampingnya membuat Tamara tak bisa berteriak dengan leluasa. Perempuan itu hanya bisa berdecak, memejamkan mata erat.
Di tengah jalanan gelap itu, mobil Tamara berhenti asal di tengah jalan. Saat ada sebuah mobil hitam dengan kecepatan rendah berhenti di belakang mobilnya, Tamara sama sekali tak menyadari. Pria di balik kemudi tak menekan klakson dan langsung keluar dari mobil.
Dengan satu tangan berada di dalam kantung hoodie, pria bertopi hitam itu mendekati mobil Tamara. Dia mengetuk kaca mobil Tamara, membuat perempuan yang sedang memejam itu membuka mata kaget.
Alis Tamara menyatu menatap wajah yang setengahnya tersembunyi di balik topi. Dia melirik dari kaca spion, mendapati sebuah mobil dengan mesin menyala berada beberapa senti di belakang mobilnya.
"Buka," ucap suara serak pria itu.
Tamara meringis. Dia menarik napas panjang untuk menenangkan emosi dalam dirinya sebelum membuka pintu di sampingnya. Setelah melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya, Tamara melangkah turun dari mobil.
"Maaf, Pak. Say—"
Tamara tak bisa menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba, pria itu menghantam tengkuknya keras, membuat Tamara terhuyung dan jatuh ke aspal basah bekas hujan. Kerutan muncul di kening saat pandangannya mulai berbayang.
Pria bertopi itu berjongkok di depan Tamara. Hal terakhir yang bisa Tamara lihat adalah senyum miring di bibir yang ujungnya terluka, sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.
Sinar matahari menelisik dari celah jeruji jendela, menyorot mata yang mengerjap. Perlahan, kelopak yang terpejam itu terbuka memperlihatkan lensa bulat kecoklatan di dalamnya. Suara eluhan menyusul setelah mata indah itu terbuka sepenuhnya.
Tamara, yang tengah terbaring di atas ranjang bertabur kelopak mawar putih itu berusaha bangkit duduk. Dia memutar kepala, mencoba mengenali ruangan yang ia tempati. Asing. Ini bukan kamarnya atau kamar seseorang yang ia kenal.
"Gue di mana?" tanyanya, yang dijawab gemerisik daun di luar jendela.
Tamara beringsut ke tepi ranjang, menurunkannya kakinya yang tak beralas ke lantai dingin. Dengan bertumpu pada tiang-tiang ranjang, Tamara berdiri dan melangkah menuju jendela. Terdapat gorden putih di masing-masing ujung jendela berjeruji besi.
Saat silau matahari mengenai matanya, Tamara reflek memgangkat tangan. Dia menyipit, tak bisa melihat dengan jelas pemandangan di luar sana. Yang pasti Tamara bisa menangkap beberapa pohon yang bergoyang seiring dengan tiupan angin. Pemandangan yang indah, tempat yang tepat untuk beristirahat dari hiruk pikuk dunia.
Namun, bagaimana bisa dia sampai ke sini. Tatapan Tamara beralih pada tubuhnya. Gaun putih bermotif bunga-bunga kecil hingga bawah lutut terpasang rapi, memiliki lengan panjang dengan karet di bagian pergelangan.
"Gimana gue bisa ada di sini?"
Tamara meringis menyentuh kepala. "Tadi malem gue nganter Shakira pulang, terus gue telpon sama—"
Mulut Tamara membulat, dia kembali ke ranjang yang memiliki empat buah tiang dan selambu putih, persis ranjang putri dalam film.
"Hp gue, hp gue."
Laci berwarna krem di sisi ranjang Tamara buka kasar. Buku-buku dan benda lain di dalam sana tak begitu Tamara pedulikan. Matanya hanya awas mencari benda pipih yang dia beli tiga bulan lalu. Tetapi, hingga semua isi dalam laci berserakan di lantai, dia belum juga menemukan ponselnya.
"Sial!"
Tamara berdiri gelisah. Matanya terjatuh pada pintu dengan warna senada, krem. Kakinya yang tak beralas melangkah cepat. Ternyata pintu itu tak terkunci, membuat Tamara bisa keluar dari kamar itu dengan mudah.
Tak jauh berebeda, interior di luar ruangan juga layaknya dalam film kerajaan. Tangga panjang dengan model melingkar menghubungkan lantai dua—tempat Tamara berada—dan lantai satu. Bangunan itu begitu besar, tapi tak ada satupun orang yang tertangkap mata Tamara.
"Apa gue cuma mimpi?" ragu Tamara.
Kakinya melangkah hati-hati di atas marmer putih tulang dengan motif indah berwana emas. Merasakan hawa dingin yang menembus kulitnya, Tamara menggosok-gosok lengan berlapis kain tipis agar lebih hangat. Rasa dingin ini, entah berasal dari pendingin ruangan, atau berasal dari dalam dirinya.
Tamara menatap railing tangga yang sepertinya terbuat dari besi. Kepalanya memutar waspada, mencari keberadaan sosok lain di sana. Saat lagi-lagi hanya kekosongan yang Tamara temukan, dia bergegas menuruni tangga. Kaki jenjangnya melangkah cepat di atas anak tangga yang beralas karpet merah.
"Pagi."
Langkah Tamara membeku. Dia mengangkat kepala yang sebelumnya terlalu fokus pada anak tangga. Tepat di depan anak terakhir tangga, seorang pria tengah berdiri dengan tangan menggenggam secangkir kopi.
"Kamu ingin sarapan?" tanyanya.
Bibir Tamara terkatup rapat, tangannya yang bertengger di atas railing mengerat.
"S-siapa?" tanyanya.
"Jeff," jawab pria itu singkat.
"Saya nggak kenal kamu. Ini di mana?" Tamara menelan ludah, berusaha keras agar tak terlihat takut.
Netra hitam pria itu, Jeff, mengarah lurus pada Tamara. Bukannya menjawab, dia malah berbalik santai. "Turun, kita sarapan," ucapnya.
"Hei! Anda siapa?"
Teriakan Tamara sama sekali tak dia pedulikan. Sontak model cantik itu menggeram kesal, tangannya yang berkeringat dingin menjambak rambut kuat. Namun, dia tetap mengikuti langkah Jeff. Dia bahkan melompati dua anak tangga agar cepat sampai ke belakang punggung pria itu.
Tangan Tamara mengepal di udara, matanya menatap tengkuk Jeff. Dia menghitung dalam hati. Setelah hitungan ke tiga, kepalan tangannya terayun sekuat tenaga menghantam tengkuk Jeff.
"Ah!" adu Jeff, memegangi tengkuknya. Dia berbalik, menatap Tamara dengan alis bertaut.
"K-kok nggak pingsan?" Tamara melangkah mundur. Karena tak memperhatikan langkah, kaki kiri perempuan itu tersandung kaki kanannya sendiri, membuatnya jatuh terduduk.
Bahkan setelah mendapat pukulan dari Tamara, Jeff masih berdiri tegak. Dia menatap Tamara datar. Saat Tamara beringsut mundur, Jeff melangkah maju.
"Sudah?" tanyanya. "Ayo sarapan."
Mata Tamara melotot mendengarnya. Apalagi setelah mengatakan hal itu, Jeff berbalik dan melangkah santai meninggalkan Tamara. Perempuan berparas cantik itu menyentuh dada yang berdegup kencang. Tentu saja bukan karena cinta.
"Gua kira, gue bakal dibunuh," lirihnya.
"Ayo!"
Seruan itu membuat Tamara terlonjak. Ternyata Jeff masih di sana, berjarak sekitar lima meter darinya. Melihat mata tajam yang menatap tanpa emosi itu membuat Tamara segera bangkit. Dia berlari kecil menghampiri Jeff, yang langsung melanjutkan langkah.
"J-Jeff!"
"Hm?"
Saat jarak mereka mulai dekat, Tamara menghentikan langkah. Setidaknya, harus ada jarak sekitar dua meter di antara mereka. Kalau-kalau Jeff terlihat hendak menyerangnya, Tamara bisa melarikan diri.
"G-gue di mana? Maksud gue, i-ini di mana?"
Jeff berhenti sejenak, hanya untuk menggedikkan bahu. Sontak saja Tamara kembali mengepalkan tangan di udara. Namun, demi keamanan nyawanya, tangannya kembali dia turunkan ke samping tubuh.
"L-lo, yang bawa gue ke-ke sini?"
"Hm."
Kepalan tangan Tamara mengerat. Dengan mulut terkulum rapat Tamara mendorong tubuh Jeff, membuat pria itu terhuyung ke depan.
Kesempatan bagi Tamara, perempuan itu berlari secepat tenaga. Ternyata rumah itu jauh lebih luas dari dugaannya. Entah sudah berapa kali Tamara masuk keluar ke berbagai ruangan, hingga akhirnya bisa melihat sepasang pintu berukir naga.
Tamara tertawa. Pria tadi, Jeff, sepertinya
terlalu terobsesi dengan hal-hal berbau kerajaan. Rumah yang sudah seperti istana, bahkan dia mendandani Tamara dengan pakaian layaknya seorang putri.
"Orang gila," celanya.
Sekali lagi Tamara melihat ke belakang. Beruntung dia tidak melihat keberadaan Jeff. Tidak ada suara langkah yang mendekat juga. Tamara bergegas meraih pintu besar itu. Sekuat tenaga dia mencoba menarik pintu itu hingga terbuka.
"Nggak dikunci?" bingungnya.
Walaupun merasa curiga, Tamara tetap melangkah keluar. Dia berlari tanpa alas di atas pasir lembut. Telinganya dapat menangkap deburan ombak yang menabrak karang. Buih putih di ujung pantai seakan berteriak mengejak Tamara.
"I-ini di mana?" Langkah perempuan itu memelan.
Tubuh semampai itu berputar. Netra kecoklatan itu bergetar. Kanan, kiri, depan, belakamg, hanya ada lautan yang tertangkap matanya. Rumah mega layaknya istana tempat Jeff berada itu dikelilingi oleh lautan.
"P-pulau?"
"Tidak jadi sarapan?"
Alunan suara tenang itu membuat Tamara terlonjak. Perempuan itu jatuh terduduk, menatap Jeff yang berjalan tenang ke arahnya dengan kedua tangan di dalam saku.
"Hm?" Jeff berhenti di depan Tamara. Dia mengeluarkan tangan kanan dari dalam saku, mengulurkannya ke depan wajah Tawaran.
"Ayo.
Tamara menjatuhkan bokongnya di atas kursi yang lagi-lagi memiliki model seperti dalam film kerajaan. Berwarna emas dengan bentuk sandaran berukir, spons di bagian dudukan dan punggung memiliki warna krem dengan corak abstrak.
Perempuan cantik itu menghela napas. Jeff, pria itu semakin dipikir semakin aneh, mencurigakan, menakutkan. Tamara tak mengenal Jeff, dia yakin itu. Sedangkan pria itu terlihat begitu santai memperlakukan Tamara, korban culikannya.
"Kenapa?" tanya Jeff. Tangan kekarnya masing-masing memegang pisau dan garpu. Tamara tahu fungsi kedua benda itu adalah untuk sandwich di hadapan Jeff, tapi tetap saja dia merasa ngeri.
"Enggak!" Tamara menggeleng cepat. Dia mengambil pisau dan garpu. Namun, di detik selanjutnya dia kembali meletakkan kedua benda tersebut. Makanan yang terhidang di depannya adalah sandwich, bukan steik. Dia mendongak untuk menatap Jeff yang mulai mengunyah.
"Aneh," ucap Tamara pelan. Baru kali ini dia melihat orang menikmati sandwich dengan pisau dan garpu. Memang tidak salah, tapi itu bukanlah hal yang normal. Lagipula bukannya lebih enak dan nyaman menggunakan tangan kosong.
"Nggak suka?" Setelah menelan makanan dalam mulutnya Jeff menatap Tamara. Paras tampan dengan garis rahang tegas itu berpadu sempurna dengan rumah bak istana ini.
"G-gue kenyang." Tamara mengulum bibir.
Sedari pertama kali dia menatap wajah Jeff, sedikitpun dia tak merasakan kebencian di sana. Hanya raut datar yang tak tertebak. Setiap kata yang pria itu ucapkan pun seperti tak memiliki emosi, hanya mengalun tanpa nada. Tamara dibuat semakin kebingungan memikirkan alasan pria itu membawanya, atau lebih tepatnya menculiknya ke pulau ini.
"Jeff, orang berhoodie malam itu … lo?"
Gerakan pisau yang hampir berhasil memotong bagian tepi sandwich itu terhenti. Tamara menelan ludah, tangannya bergerak pelan meraih pisau di atas meja. Saat Jeff perlahan mendongak, menatap matanya, tengkuk Tamara tiba-tiba merinding. Netra tajam pria itu menatap datar, tapi seakan mampu melubangi keningnya.
"Iya," jawab Jeff singkat. "Kenapa?"
Selama dua detik Tamara hanya mengerjap linglung. Pisau di tangannya dia lepas begitu saja hingga jatuh ke lantai. Kedua tangannya kini mengepal di atas meja, gigi Tamara bergemeretak, menatap Jeff tajam. Bisa-bisanya pria itu berkata begitu santainya mengenai penculikan yang dia lakukan.
"Gila!"
Mendengar hinaan Tamara, ujung bibir Jeff malah terangkat samar. Hal itu membakar amarah Tamara, membuat perempuan cantik itu bangkit berdiri. Menggebrak meja keras, Tamara mencondongkan tubuhnya ke depan. Netra kecoklatan itu menyorot tajam.
"Kenapa lo culik gue? Brengsek! Lo nggak tau
gue siapa? Lepasin gue sakarang juga, atau tunangan gue bakal dateng ke sini, dan nggak akan ada lagi kesempatan buat lo kabur!"
Luapan emosi Tamara Jeff balas dengan raut lugu. Pria itu sengaja membuat Tamara kesal. Jeff mengangkat kedua tangannya ke depan, menunjukkan telapak tangan kosong pada Tamara.
"Lepasin gimana? Aku nggak sekap kamu," katanya berlagak polos.
"Sialan!" Dengan gerakan cepat Tamara meraih piringnya, melempar benda itu sekuat tenaga.
Namun, Jeff dengan sigap mengangkat lengan untuk melindungi wajahnya. Piring itu menghantam lengannya dan pecah, menyisakan luka dengan darah mengucur. Tamara tak menunjukkan raut menyesal sedikitpun.
"Pecah," ucap Jeff, menatap mata Tamara.
Pria itu menghela napas, dia bangkit berdiri dan mengambil langkah menjauh. Ditatapnya pecahan piring di lantai yang dihiasi darah dari lengannya. Dia kembali menatap Tamara, lalu menepuk kedua tangannya di udara.
Dalam hitungan detik, belasan orang berseragam putih dan hitam muncul dari berbagai arah. Tamara membuka mulut syok. Saat seorang perempuan berdiri di dekatnya dan menunduk hormat, Tamara segera menghindar menjauh. Belasan orang itu bekerja sama membersihkan kekacauan kecil yang Tamara buat. Kurang dari lima, meja juga lantai sudah bersih kembali, dan orang-orang itu menunduk hormat sebelum melangkah pergi beriringan.
Kejadian tersebut terlalu tiba-tiba. Tamara berdiri diam dengan mulut terbuka, mencoba mencerna apa yang terjadi. Dia pikir di rumah sebesar ini hanya ada dia dan Jeff. Tapi nyatanya, ada begitu banyak manusia yang entah bersembunyi di mana.
"Sudah." Jeff melangkah mendekati Tamara. "Sekarang, mau melihat laut?" tawarnya seakan tadi tak terjadi apa-apa.
Tamara menatap uluran tangan Jeff. Namun, luka goresan panjang di lengan kanan pria itu menarik perhatiannya. Darah masih merembes keluar, menetes ke lantai mengotori keramik bermotif cantik itu. Tamara meringis membayangakn perih dari luka tersebut, sedangkan Jeff terlihat begitu tenang.
"Ayo," ajak Jeff.
Alih-alih membalas uluran tangan Jeff, Tamara malah memutar kecil tangan pria itu untuk melihat luka goresan tepat di bawah siku. Tamara menggunakan pakaian bagian lengannya untuk membersihkan darah di samping luka. Dia mengusap lembut, takut akan menyenggol luka yang terlihat begitu menyakitkan. Sesekali perempuan itu juga meniup-niup kecil untuk mengurangi rasa perih.
Diperlakukan seperti itu tubuh Jeff menegang. Matanya terpaku pada perempuan yang tak jauh lebih pendek darinya. Tamara yang menunduk untuk meniup luka di tangannya terlihat begitu cantik. Tangan kiri Jeff tanpa sadar terangkat, menyelipkan anak rambut Tamara ke telinga.
"Eh?" Tamara mendongak terkejut. Tapi, tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu. Mata gelap Jeff seakan mengunci Tamara, membuat perempuan itu tak bisa membuang muka. Genggaman Tamara pada lengan Jeff mengendur ketika perasaan aneh menelisip di hatinya.
"Tamara …."
Mendengar namanya disebut Jeff untuk pertama kalinya, Tamara merasakan denyut tak nyaman di dada. Seakan ada pisau yang menggores hatinya, mengukir sebuah nama yang tak bisa ia kira. Mencoba menyelam lwybih dalam pada mata kelam itu, Tamara malah terjebak membeku. Tanpa dia tahu alasannya, cairan bening menetes dari ujung matanya.
Entah kenapa, Tamara merasakan perasaan menyakitkan yang menjerat hatinya.