"Aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini, Liana," ucapku dengan nada setenang mungkin. Meski begitu jantungku berdebar kencang. Tak pernah mudah bagiku untuk mengakhiri suatu hubungan, sesingkat apapun itu.
Liana menatapku dengan mata membelalak. Garpunya yang sudah setengah terangkat ke mulut perlahan turun lagi. "Apa maksudmu, Rayhan? Kamu mau kita putus? Sekarang?" Suaranya meninggi di akhir kalimat, hingga beberapa pengunjung restoran menoleh ke arah meja kami.
Aku menghela napas panjang. Kuraih jemari Liana di atas meja, tapi dia menepisnya kasar. "Dengar, aku sudah menjelaskan dari awal kalau aku tidak bisa menjalin hubungan lebih dari 30 hari. Dan hari ini, adalah hari ke-30 hubungan kita," jelasku sabar.
"Persetan dengan aturan bodohmu itu! Aku pikir kamu sudah berubah, Rayhan. Aku pikir kamu tulus saat mengatakan sayang padaku!" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Liana. Ia menatapku dengan sorot terluka.
Aku menggeleng pelan. "Aku tidak pernah bermaksud memberimu harapan palsu, Liana. Aku juga tidak ingin menyakitimu. Tapi aku juga tidak bisa membohongi hatiku sendiri."
"Omong kosong!" Liana menggebrak meja dengan keras, membuat piring dan gelas bergetar. "Kau pikir aku ini apa? Mainan yang bisa kau buang setelah bosan?"
"Bukan begitu, Liana. Tolong mengertilah..." Aku berusaha menenangkannya, tapi Liana keburu kalap.
Plakk! Tangannya melayang cepat menampar pipiku, keras hingga terasa panas. Aku terperangah, tak menyangka akan ditampar di depan umum begini.
Belum habis rasa terkejutku, Liana menyambar gelas anggur dan menyiramkan isinya ke wajah dan kemejaku. Cairan merah pekat itu membasahi kemeja putih yang kukenakan. Aku hanya bisa ternganga saking syoknya.
"Dasar brengsek! Aku benci padamu! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" Liana berteriak histeris. Ia membanting gelas hingga pecah berhamburan di lantai, sebelum beranjak pergi meninggalkanku yang masih membeku.
Kejadiannya begitu cepat hingga aku tak sempat bereaksi. Aku hanya termangu menatap kepergian Liana dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalah, malu, dan jengkel bercampur jadi satu. Bisik-bisik di sekelilingku terdengar bagai dengungan lebah yang mengganggu.
Aku menghela napas berat. Tak pernah mudah mengakhiri hubungan, tapi ini juga bukan pertama kalinya bagiku. Sudah puluhan wanita kucampakkan dengan cara yang sama. Biasanya aku bisa langsung menepis rasa bersalahku, tapi entah kenapa kali ini berbeda. Mungkin karena ekspresi terluka di wajah Liana, atau sorot kecewa di matanya yang tak bisa kulupakan.
Dengan langkah gontai aku beranjak dari kursiku menuju toilet. Kuabaikan pandangan menghakimi dari para pengunjung lain, juga bisik-bisik yang menyuarakan simpati pada Liana dan memakiku. Masa bodoh dengan mereka semua.
Di toilet, aku menatap bayanganku sendiri di cermin. Wajahku terlihat kacau dengan noda anggur di mana-mana. Kemeja putihku juga kini ternoda kemerahan. Sambil membasuh muka, kuhela nafas panjang dan berusaha menjernihkan pikiranku.
Benarkah yang kulakukan selama ini? Apakah aturan 30 hariku ini memang jalan hidup yang kupilih? Akankah aku selalu seperti ini, melompat dari satu hubungan ke hubungan lain tanpa pernah serius pada seorang wanita?
Bayangan wajah Mama berkelebat di benakku. Raut kecewanya saat mengetahui aku kembali memutuskan pacar. Nasihatnya yang tak pernah bosan kudengar, agar aku berhenti bermain-main dan mulai serius mencari pendamping hidup.
Tapi aku menggelengkan kepala kuat-kuat, mengusir keraguan itu. Tidak, aku sudah memilih jalanku dan akan ku jalani sebaik mungkin. Hubungan asmara hanya membawa luka, aku tak mau tersakiti lagi. Aku tak mau mengulang kesalahan Papa dan Mama.
Kuhapus sisa-sisa noda anggur sekenanya, lalu melangkah keluar toilet dengan dagu terangkat. Masa bodoh dengan mereka yang menghakimiku. Ini hidupku, aku yang berhak mengaturnya sesukaku.
Saat aku kembali ke meja, Liana sudah tidak ada. Hanya tersisa taplak meja yang basah oleh anggur, juga serpihan gelas yang berserakan. Aku mendengus kesal, terpaksa harus membereskan kekacauan yang ditinggalkannya.
Usai membayar di kasir, termasuk biaya ganti rugi gelas yang dipecahkan Liana, aku bergegas menuju pintu keluar. Aku sudah muak dengan suasana restoran ini dan ingin segera pergi.
Langkahku terhenti saat tanpa sengaja menabrak seorang wanita yang baru masuk. Aku terhuyung sedikit, tapi refleks menangkap pinggangnya agar dia tidak jatuh.
"M-maaf, aku tidak sengaja!" ucapku terbata saat menyadari posisi kami yang cukup intim. Wajahku spontan memerah dan aku bergegas melepaskan peganganku.
Tapi kemudian mataku terpaku pada sosok di hadapanku ini. Dia... wanita tercantik yang pernah kutemui! Rambut hitam panjangnya tergerai indah bak sutra, dengan wajah bak bidadari yang dihiasi sepasang mata coklat bening, hidung mancung, dan bibir mungil kemerahan. Kulitnya putih mulus bagai pualam, membuat gaun merah yang dikenakannya tampak semakin menawan.
Untuk beberapa detik aku hanya bisa terpana menatapnya, terpesona pada kecantikan dan auranya yang memukau. Sampai kemudian dia bersuara, "Tidak apa-apa, saya juga minta maaf karena jalan sambil melamun."
Astaga, bahkan suaranya pun begitu merdu! Aku jadi kehabisan kata-kata. "Eh, oh, i-iya. Mmm, kalau begitu saya permisi dulu," ucapku kikuk akhirnya, setelah berhasil menguasai diri.
Aku baru akan melangkah pergi saat si wanita cantik itu menahanku. "Tunggu! Kemejamu... terkena noda anggur?" Ia menunjuk pakaianku yang masih merah di bagian dada.
Mau tak mau aku tersenyum kecut. "Ya, tadi ada sedikit... kecelakaan," jawabku diplomatis, tak mau menjelaskan insiden memalukan dengan Liana barusan.
"Wah, pasti rasanya tidak nyaman sekali. Mungkin sebaiknya kau segera menggantinya sebelum nodanya meresap dan susah dihilangkan," sarannya prihatin.
"Ah, benar juga. Terima kasih atas sarannya, mmm..." Aku menggantung kalimatku, bingung harus memanggilnya apa.
Seolah bisa membaca pikiranku, wanita itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. "Alda. Namaku Alda."
"Rayhan. Rayhan Mahendra," balasku cepat sambil menyambut uluran tangannya. Sentuhan kulitnya yang lembut bagai sengatan listrik kecil di sekujur tubuhku. "Senang berkenalan denganmu, Alda."
Alda tertawa kecil, memamerkan sepasang lesung pipi yang membuatnya terlihat semakin manis. "Senang juga berkenalan denganmu, Rayhan. Sayang sekali pertemuan kita harus diawali dengan tabrakan seperti ini."
"Ah, tidak apa-apa. Justru aku yang minta maaf." Aku terkekeh, entah kenapa merasa kikuk sekaligus bahagia bisa mengobrol dengannya. "Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa lagi, Alda."
"Ya, sampai jumpa lagi." Alda mengangguk dan melambaikan tangan. "Semoga harimu menyenangkan, Rayhan!"
Senyumku melebar dan aku balas melambai padanya. Dengan langkah ringan kulanjutkan perjalanan menuju tempat parkir, di mana mobilku berada. Rasa kesal dan kacau setelah putus dengan Liana mendadak hilang tak berbekas, digantikan oleh euforia yang meluap-luap.
Batinku tak henti mengulang nama Alda, juga gambaran jelita parasnya. Astaga, apa yang terjadi denganku? Aku merasa seperti remaja tanggung yang sedang kasmaran! Padahal aku baru saja bertemu Alda, bahkan belum mengenalnya sama sekali.
Getaran ponsel di saku celana mengejutkanku. Ternyata dari Liana. Aku mengerutkan kening saat membaca pesan singkatnya yang penuh umpatan kasar dan makian. Tapi anehnya, aku tak merasa kesal atau bersalah seperti tadi. Pikiranku masih dipenuhi sosok Alda.
Suara derap kakiku menggema di ruang gym yang lengang. Hanya ada beberapa orang yang tampak, mungkin karena ini masih pagi buta. Aku mempercepat langkahku di atas treadmill, merasakan peluh mengalir deras di pelipis dan punggungku. Napasku tersengal, tapi aku menikmati sensasi terbakar di paru-paruku, juga pegal di kedua kakiku. Ini adalah caraku melepas penat.
Getaran ponsel yang kutaruh di bangku dekat treadmill menarik perhatianku. Aku melirik sekilas, dan mendengus saat melihat nama yang tertera di layar. Liana. Mau apalagi dia? Semalam dia sudah mengirimiku seabrek pesan penuh umpatan dan makian, yang langsung kuhapus tanpa kubaca. Sekarang dia masih belum menyerah juga?
Aku menggelengkan kepala, berusaha tak mengacuhkannya. Aku sedang tak ingin diganggu. Kulanjutkan lariku selama 15 menit ke depan, sampai kakiku terasa kebas dan napasku nyaris habis. Dengan tertatih aku turun dari treadmill, menyambar handuk dan ponsel, lalu melangkah ke ruang ganti.
Baru saja aku mendudukkan diri di bangku panjang, ponselku kembali bergetar. Kali ini telepon masuk. Aku menatap layar dengan jengah. Lagi-lagi Liana. Apa maunya sih? Tak bisakah dia membiarkanku tenang barang sejenak? Haruskah aku memblokir nomornya agar dia berhenti mengusikku?
Pikiranku kembali melayang ke kejadian semalam. Wajah Liana yang merah padam saat kutinggalkan, tatapan menghakimi para pengunjung restoran lain, noda anggur di kemeja putihku... Lalu tiba-tiba muncul bayangan wajah jelita itu. Alda. Senyumnya yang memesona, suaranya yang merdu, lesung pipinya yang menawan...
Astaga, kenapa aku malah memikirkan Alda? Aku bahkan baru bertemu dengannya sekali, secara tak sengaja pula. Kami hanya berbasa-basi sejenak, tanpa obrolan berarti. Tapi entah bagaimana dia berhasil meninggalkan kesan yang begitu mendalam, sampai-sampai semua kejengkelanku terhadap Liana menguap begitu saja semalam.
Kemudian ucapan Rico, sahabat baikku, terngiang di benakku. Aku pernah bercerita padanya tentang aturan 30 hariku, dan dia hanya menggeleng tak habis pikir. "Sampai kapan kau mau lari dari komitmen, Ray?" tegurnya saat itu. "Suatu saat nanti kau harus berhenti main-main dan mulai serius. Atau kau akan kehilangan kesempatan menemukan cinta sejatimu, seperti yang kutemukan dalam diri Merry." Dia tersenyum penuh arti saat menyebut nama istrinya.
Cih, jangan samakan aku denganmu, batinku saat itu. Kaulah yang beruntung, Rico, bukan aku. Kau tidak pernah mengalami sakit hati seperti yang kualami. Tidak pernah kecewa dan terluka karena ditinggalkan. Kau tak 'kan mengerti perasaanku.
Sambil menghela napas, aku bangkit dan beranjak ke lokerku. Kusambar pakaian ganti dari dalam tas, kemudian melangkah ke bilik shower. Guyuran air dingin sedikit menyegarkan pikiranku yang kalut. Kucoba fokus pada sensasi segar di kulitku, alih-alih memikirkan Liana, Alda, atau ocehan Rico.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Dengan rambut setengah basah, aku melangkah ke luar gym menuju parkiran. Mobil sedanku sudah menunggu di sana. Sambil bersiul pelan, aku masuk dan menyalakan mesin. Logam dan plastik berderik lembut, lalu deru halus mengudara saat aku menginjak pedal gas.
Lagu dari radio mengalun memenuhi kabin, tapi pikiranku tak di sana. Aku masih sibuk memikirkan kata-kata Rico. Apakah aku memang harus mengubah caraku selama ini? Apakah aku harus berhenti membatasi semua hubunganku? Tapi... aku takut. Aku belum siap membuka hatiku lagi, mempercayai seseorang lagi. Bagaimana jika aku kembali terluka?
Tanpa sadar, tanganku meraih ponsel yang kuletakkan di dashboard. Satu tanganku masih memegang kemudi, sementara jariku yang lain menari lincah di atas layar, membuka kontak dan mencari nama Liana. Harus kuakhiri semua ini. Jika dia memang tak bisa menghargai keputusanku, lebih baik kuhilangkan saja jejaknya dari hidupku. Tekadku sudah bulat.
Nomor Liana sudah kutemukan. Tanpa ragu, kutekan opsi 'Blokir'. Seketika semua pesannya lenyap. Semua panggilannya tersumbat. Semua aksesnya padaku tertutup. Aku menghembuskan napas panjang. Cara yang pengecut, mungkin. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk melindungi diriku.
Beberapa menit kemudian, aku sudah sampai di tempat janjianku dengan Rico. Sudah lama kami tidak bertemu, jadi aku mengajaknya makan siang bersama hari ini. Mungkin dengan begini, aku bisa sedikit melupakan masalahku.
Begitu aku melangkah memasuki restoran, mataku langsung menangkap sosok Rico yang melambai ke arahku. Dia duduk di meja dekat jendela, dengan kemeja biru muda dan celana kain hitam. Wajahnya yang tak banyak berubah sejak terakhir kali kami bersua menyunggingkan cengiran khas saat aku mendekat.
"Akhirnya kau datang juga!" sambutnya riang seraya menepuk pundakku. "Aku sampai lumutan menunggumu dari tadi. Aku nggak bisa lama-lama soalnya, sejam lagi aku ada meeting di sini."
Aku terkekeh dan menarik kursi di seberangnya. "Sori, tadi macet di jalan," dalihku sambil meraih buku menu. "Omong-omong, kau sudah pesan duluan?"
"Belum, aku kan setia menanti kedatangan Yang Mulia Rayhan." Rico menyeringai, yang hanya kubalas dengan putaran bola mata.
Seorang pramusaji datang menghampiri, siap mencatat pesanan kami. Aku memesan pasta seafood kesukaanku, sementara Rico memilih steak tenderloin dengan kentang goreng. Si pramusaji membungkuk sopan dan berlalu setelah kami sebutkan pesanan minuman.
"Jadi," Rico membuka percakapan begitu kami tinggal berdua, "aku dengar semalam kau berulah lagi."
Dahiku mengernyit tak suka. "Berulah apanya? Aku cuma menerapkan aturan 30 hariku seperti biasa. Liana saja yang terlalu emosional dan tak bisa menerimanya," tandasku membela diri.
Rico menggelengkan kepala. "Kau ini benar-benar, ya. Sudah berapa banyak korbanmu selama ini? Apa kau tidak kasihan pada mereka?" cetusnya, nadanya seperti seorang ayah yang lelah menasihati anaknya yang bandel.
"Aku bukan pembunuh atau apa, Rico. Mereka bukan korbanku. Lagi pula, bukankah sejak awal aku sudah jujur pada mereka? Aku tak pernah berjanji apa-apa. Mereka sendiri yang memutuskan untuk menjalin hubungan denganku," kilahku keras kepala.
Rico mendesah putus asa. "Ray, kau tak bisa menghindari komitmen seumur hidup. Suatu saat nanti kau pasti membutuhkan pendamping. Seseorang yang berjalan di sisimu kala suka dan duka. Seperti aku dan Merry."
Rahangku mengeras. Lagi-lagi Rico mengungkit tentang Merry. "Tolong jangan samakan aku denganmu atau orang lain. Kau beruntung menemukan cintamu, aku tidak. Kita berbeda. Takdir kita berbeda."
Selama beberapa saat, Rico hanya terdiam. Mata dan mulutnya membuka seolah ingin membantah, tapi tak ada suara yang keluar. Aku memalingkan muka, menatap ke luar jendela. Suasana di antara kami mendadak canggung dan tak nyaman.
Untungnya saat itu makanan pesanan kami datang, sedikit mencairkan ketegangan. Dengan lahap kusuap nasi pastaku. Samar-samar tercium pula aroma seafood - udang, cumi, kepiting - yang berpadu dengan creamy pasta. Perpaduannya sungguh menggugah selera.
Selama beberapa saat kami makan dalam diam. Hanya denting pelan alat makan yang sesekali terdengar. Rico tampaknya tak ingin mendesakku lagi, dan aku sangat menghargai itu. Kurasa dia paham bahwa aku sedang tak ingin membahas kehidupan asmaraku.
Saat piring kami sudah tandas dan pramusaji datang mengambilnya, barulah Rico kembali angkat bicara. "Well, aku tak bermaksud mencampuri urusanmu atau menggurui. Kau sudah dewasa, kau tentu tahu apa yang terbaik untuk dirimu. Aku hanya ingin kau bahagia, Ray."
Suaranya begitu bersungguh-sungguh, hingga rasa kesalku menguap begitu saja. Aku tahu niat Rico baik. Dia sahabatku, tentu saja dia ingin melihatku bahagia. Tapi dia mungkin tak paham, bahwa kebahagiaanku bukan pada komitmen atau hubungan jangka panjang. Setidaknya untuk saat ini.
"Aku tahu, Rico. Tapi saat ini aku bahagia dengan caraku sendiri. Tolong hargai itu," tuturku akhirnya. Kuharap Rico menangkap nada final dalam suaraku.
Dia mengangguk, menyerah. "Baiklah, aku takkan memaksamu lagi. Tapi berjanjilah padaku, Ray. Jika suatu saat nanti kau menemukan seseorang yang membuatmu ingin berubah, genggamlah dia erat-erat. Jangan sampai kau kehilangan cinta sejatimu hanya karena rasa takut."
Aku tertegun. Nasihat Rico kali ini memang tak menyinggung soal aturanku secara spesifik, tapi entah kenapa terdengar lebih bermakna. Lebih menyentuh hati. Seolah dia tahu bahwa cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan orang yang tepat. Yang membuatku rela melepaskan prinsipku.
"Oke," aku menyanggupi, meski agak berat hati. "Akan kuingat itu."
Percakapan kami ganti topik setelahnya. Membahas soal pekerjaan, keluarga, juga rencana Rico untuk berlibur ke Eropa akhir tahun ini. Kami larut dalam obrolan ringan yang menyenangkan, seolah persahabatan kami tak pernah terusik. Inilah yang kusuka dari Rico: meski kami sering tak sependapat, kami bisa dengan cepat melupakan perselisihan dan kembali akrab seperti sedia kala.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang saat perhatian Rico teralih ke arah pintu masuk. "Oh, itu dia datang!" serunya.
Aku menoleh mengikuti arah pandangnya, dan terkesiap kaget. Alda! Ya Tuhan, itu benar-benar Alda! Apa yang dilakukannya di sini?
Aku terpana melihatnya berjalan menghampiri meja kami. Gaun merah marun selututnya tampak anggun membalut tubuh rampingnya. Rambutnya yang coklat berkilau tertimpa cahaya matahari yang menerobos masuk jendela. Dan senyumnya, astaga... Hatiku seolah meleleh dibuatnya.
"Hai, Rico! Maaf aku agak terlambat," sapanya ceria, sama sekali tak menyadari keberadaanku.
Rico bangkit dan menjabat tangannya. "Santai saja, aku juga baru selesai makan," balasnya. Lalu dia menoleh padaku. "Ah, kenalkan! Ini Rayhan, teman SMA-ku yang pernah kuceritakan."
Alda berpaling ke arahku. Matanya yang bulat dan coklat sedikit melebar, kentara terkejut. "Lho, kamu... Rayhan yang semalam itu?"
Aku berdeham, salah tingkah. "Eh, iya... Halo lagi, Alda." Susah payah kucoba memasang senyum. Dunia ini ternyata sempit sekali! Bagaimana bisa aku bertemu lagi dengannya secepat ini, bahkan dalam lingkaran pertemananku sendiri?
"Wah, jadi kalian sudah saling kenal?" Rico memandang kami bergantian, wajahnya diliputi keterkejutan sekaligus penasaran.
"Kami tak sengaja bertemu di restoran semalam," jelas Alda. "Atau lebih tepatnya, tak sengaja bertabrakan." Ia tertawa kecil, mengirim getaran aneh ke dasar perutku.
Rico terbahak. "Astaga, Ray! Jangan bilang kau sedang kabur dari 'korban'-mu yang lain saat itu?" godanya, membuatku melotot galak.
Alda mengernyit tak paham, tapi buru-buru tersenyum. "Omong-omong Rico, bukankah kau mau memperkenalkanku pada rekan bisnismu?"
"Oh iya, hampir lupa!" Rico menepuk dahinya. "Ayo, ikut aku. Sebentar lagi mereka akan datang, kita tunggu saja di ruang VIP." Ia mengerling jahil padaku. "Maaf Ray, sepertinya aku harus mengakhiri pertemuan kita hari ini.”
Aku hanya bisa tersenyum kecut menatap kepergian Rico dan Alda. Hatiku mencelos, diliputi perasaan hampa yang tak bisa kumengerti. Kenapa aku merasa begitu... kehilangan? Padahal aku baru dua kali bertemu Alda, nyaris tak mengenalnya. Tapi kehadirannya seolah membawa secercah cahaya yang menerangi kelamnya hatiku.
Logikaku berteriak ini semua tak masuk akal. Aku tak seharusnya merasakan perasaan sekuat ini pada orang asing. Aku tak bisa membiarkan diriku hanyut dalam angan semu yang mungkin hanya berujung luka. Bukankah selama ini aku sudah kebal dengan segala omong kosong tentang cinta? Bukankah aku telah bersumpah takkan pernah jatuh cinta lagi?
Tapi sisi hatiku yang lain, yang selama ini kukubur dalam-dalam, perlahan bangkit dan berbisik lembut. Mungkin ini kesempatanmu, Rayhan.
Aku menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pikiran itu. Tidak, aku tidak bisa gegabah. Aku harus memikirkan ini baik-baik. Tak boleh ada keputusan yang diambil berdasarkan emosi sesaat.
Tapi... haruskah aku menyerah begitu saja? Membiarkan Alda pergi tanpa berusaha mengenalnya lebih jauh? Tanpa mencoba membuka sedikit hatiku yang telah sekian lama membeku?
Kurogoh ponselku dari saku celana, dengan tangan gemetar mengetik pesan singkat untuk Rico.
"Bro, boleh minta tolong? Kirimi aku nomor Alda dong. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. Please, penting banget nih."
Kutekan tombol "kirim" sebelum sempat berubah pikiran. Jantungku berdebar tak karuan menanti balasan Rico. Semoga... semoga dia mau membantuku...
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Dua puluh menit.
Aku mulai putus asa. Mungkin Rico takkan mau memberikan nomor Alda padaku. Mungkin dia menganggapku kurang ajar, berani mendekati teman wanitanya. Mungkin... ah, entahlah. Mungkin ini pertanda aku harus menyerah saja.
Tepat ketika aku hendak beranjak meninggalkan kafe dengan perasaan kecewa, ponselku bergetar.
Secepat kilat kuraih dan membuka pesan masuk. Mataku membelalak tak percaya saat melihat nama pengirimnya.
Alda.
Aku memandang sekeliling ruang rapat dengan tatapan tajam. Lima belas pasang mata balas menatapku, ada yang penuh rasa ingin tahu, ada pula yang diliputi kegugupan. Tentu saja, tak setiap hari sang pemimpin perusahaan memanggil rapat dadakan seperti ini.
"Oke, kita mulai saja," ujarku tegas, membuka diskusi. "Progres proyek Senopati Suites sudah sampai mana?"
Arya, kepala tim desain, buru-buru menyahut. "Sejauh ini masih lancar, Pak. Gambar dan maket sudah 90% jadi. Minggu depan siap diserahkan ke klien," lapornya.
Aku mengangguk puas. "Bagus. Pastikan tidak ada keterlambatan. Klien kita yang satu ini cukup cerewet."
"Siap, Pak!" Arya memberi hormat, setengah bercanda.
Aku mendengus geli, tapi tak urung merasa bangga juga. Timku memang bisa diandalkan. Merekalah yang membuat Mahendra Associates menjadi salah satu firma arsitektur ternama saat ini.
"Lalu, bagaimana perkembangan proyek di Menteng?" tanyaku lagi.
Kali ini giliran Vero, si jenius perhitungan, yang menjawab. "Semua berjalan sesuai rencana, Pak. RAB dan RKS sudah final. Minggu depan kita bisa mulai pekerjaan fondasi," urainya.
"Oke. Tolong diawasi ketat ya. Jangan sampai ada masalah di lapangan," pesanku.
"Tentu, Pak. Saya sendiri yang akan turun tangan," Vero meyakinkan.
Aku tersenyum. Ada alasan kenapa aku mempercayakan aspek krusial macam anggaran dan penjadwalan pada Vero. Meski masih muda, dia punya kemampuan analisis yang mumpuni.
Rapat berlanjut nyaris satu jam penuh. Kami membahas proyek-proyek lain yang sedang berjalan, juga rencana ekspansi untuk tahun depan. Sejauh ini, semuanya terkendali. Tidak ada masalah berarti yang tak bisa kami atasi.
Pukul sebelas siang, aku membubarkan rapat. Semua peserta mulai beranjak meninggalkan ruangan, kecuali Mila, sekretaris sekaligus asisten pribadiku. Dia menghampiriku dengan senyum sumringah, sebelah tangan memegang map biru.
"Pak, ini data-data yang Bapak minta tadi pagi," ujarnya seraya menyodorkan map itu padaku. "Sudah lengkap, tinggal ditandatangani saja."
Dahiku berkerut. "Data apa ya? Saya kok lupa," tanyaku bingung.
Mila terkikik. "Aduh Pak, masa lupa? Data tender proyek gedung Damar Holdings, kan? Yang kemarin Bapak minta saya kumpulkan company profile dan portfolio-nya?"
Ah ya, tender itu! Aku menepuk dahi, merasa tolol karena bisa-bisanya melupakan proyek sebesar itu. Tender ini akan menjadi peluang besar bagi Mahendra Associates untuk menancapkan kukunya di kancah properti tingkat atas.
"Kalau begitu, saya baca dulu ya. Nanti siang saya tanda tangan," ujarku pada Mila.
"Oke, Pak. Saya tunggu di ruangan saya saja ya." Mila membungkuk sopan sebelum undur diri.
Aku menghempaskan diri di kursi, menghela napas panjang. Kurenggangkan dasi yang terasa mencekik leher, lalu menyandarkan kepala ke sandaran empuk. Perlahan, kuraih ponsel dari saku jas.
Jemariku otomatis membuka aplikasi pesan. Lagi-lagi pandanganku tertuju pada sederet kalimat yang sejak semalam tak henti mengusik pikiranku.
"Halo, Rayhan. Aku Alda. Rico bilang kamu minta nomorku. Silahkan di simpan. Senang berkenalan denganmu.”
Sejak balasan singkatku semalam - yang hanya berisi "Sama-sama, Alda. Aku juga senang bertemu denganmu." - aku belum mengirimkan pesan lagi. Bukannya tak ingin, tapi aku takut. Takut perasaan aneh yang kurasakan saat melihat Alda semalam akan semakin menguat jika aku semakin sering berinteraksi dengannya.
Aku tak seharusnya merasa seperti ini. Tidak pada wanita yang baru kutemui dua kali. Wanita yang bahkan nyaris tak kukenal. Bukankah selama ini aku selalu bisa mengendalikan hatiku? Tak pernah membiarkannya terlibat terlalu jauh?
Kugelengkan kepala kuat-kuat. Tidak, Rayhan. Kau tak boleh goyah hanya karena senyuman manis seorang wanita. Bukankah kau sudah berjanji pada dirimu sendiri?
Dengan satu gerakan mantap, kumasukkan kembali ponsel ke saku jas. Kusambar map biru pemberian Mila, lalu melangkah keluar ruangan. Lebih baik aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Aku tak boleh membiarkan pikiranku berkelana ke mana-mana.
***
Restoran ini tampak lengang saat aku tiba. Wajar saja, ini kan masih terlalu awal untuk makan siang. Biasanya aku juga baru makan siang pukul dua, setelah selesai mengecek semua pekerjaan di kantor. Tapi entah mengapa hari ini aku ingin sedikit bersantai. Mungkin karena rapat tadi pagi yang cukup melelahkan.
Aku memilih meja di dekat jendela kaca, dengan pemandangan taman yang hijau dan asri. Seorang pramusaji datang menghampiri, memberikan menu dan siap mencatat pesanan.
Tanpa pikir panjang, kupesan spaghetti bolognese dan es lemon tea. Menu andalanku setiap kali mampir ke restoran ini.
Si pramusaji mencatat dengan cekatan, lalu membungkuk sopan sebelum undur diri. Aku bersandar di kursiku, sambil memandang ke luar jendela. Cuaca di luar cukup terik, tapi syukurlah ruangan ini dilengkapi penyejuk udara yang membuatku nyaman.
Samar-samar, sayup-sayup suara obrolan tertangkap telingaku. Aku menoleh ke meja di sebelah kiriku. Tampak satu keluarga kecil - pasangan suami istri dan anak perempuan mereka, mungkin usianya sekitar 3 tahun - tengah menikmati santap siang mereka. Si anak duduk di kursi untuk balita di sebelah sang ibu, sementara ayahnya duduk di seberang meja.
"Kamu tuh nggak pernah peduli sama aku! Bisanya cuma kerja, kerja, dan kerja terus!" Suara si istri terdengar meninggi, membuat beberapa pengunjung restoran menoleh.
"Tapi aku kan kerja juga buat kamu dan Acha, Liv. Buat siapa lagi memangnya?" sahut si suami tak mau kalah.
"Halah, alesan! Bilang aja kamu emang lebih sayang sama kerjaan kamu daripada aku dan anak kita!" hardik si istri.
Si suami berdecak kesal. "Jangan ngelantur deh. Aku nggak suka di rumah nggak ngapa-ngapain, makanya aku sibuk kerja. Daripada bengong nggak jelas."
"Oh, jadi maksud kamu aku ini pengangguran nggak jelas, begitu?" Si istri tersenyum sinis.
"Aku nggak bilang gitu ya! Kamu tuh yang suka baper sendiri!"
Aku mengernyit mendengar pertengkaran mereka yang semakin sengit. Ya ampun, kok bisa-bisanya mereka adu mulut di tempat umum begini, sih? Bikin malu saja!
Isakan lirih dari si anak kecil membuatku menoleh. Rupanya ocehan keras orangtuanya membuat gadis mungil itu ketakutan. Air mata mengalir di pipi tembamnya.
Sang ibu sepertinya tak menyadari kondisi putrinya yang mulai terisak. Dia masih asyik berdebat kusir dengan suaminya. Kini bahkan tangannya mulai menuding-nuding, sementara suaranya naik satu oktaf.
Aku meringis. Pemandangan di hadapanku ini sungguh mengingatkanku pada masa lalu yang sudah susah payah kukubur dalam-dalam...
Masa di mana aku sering melihat Mama dan Papa saling memaki, bahkan di depanku yang masih bocah ingusan. Masa di mana rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman berubah bagai neraka. Masa di mana aku selalu merasa menjadi anak paling tidak berguna, sampai-sampai orang tuaku tak pernah akur.
Tanpa sadar, tanganku terkepal erat di atas meja. Amarah mulai menggelegak di dadaku. Kenangan akan perceraian Mama dan Papa yang pilu menyeruak dari sudut memoriku yang paling kelam.
Raungan tangis si anak kecil menyadarkanku. Dia kini terlihat histeris, membuat beberapa tamu lain menatap ngeri. Tapi anehnya, orangtuanya masih bergeming dalam perdebatan mereka yang mulai memanas. Bahkan sepertinya mereka sudah lupa sedang ada di mana.
Aku tak tahan lagi melihat ini semua. Aku tak tega melihat si kecil itu menangis ketakutan gara-gara ulah egois orangtuanya. Aku tak mau dia merasakan apa yang pernah kurasakan dulu...
Cepat-cepat aku memanggil pramusaji, memintanya mengambilkan bill untuk membayar semuanya, meskipun makanan yang aku pesan belum aku sentuh sama sekali. Tanganku gemetar saat menyerahkan uang tip, tapi pramusaji itu hanya melempar senyum penuh pengertian padaku.
Tanpa menoleh lagi, aku melesat pergi dari restoran itu. Suara tangis si anak dan obrolan makin lama makin sayup, teredam deru mobil yang lalu-lalang di jalan raya.
Kuhempaskan diriku di kursi pengemudi, pikiranku kalut. Denyut menyakitkan mulai berdentum-dentum di pelipisku. Nafasku terasa sesak, seolah ada ular yang melilit paru-paruku.
Kudesahkan nafas panjang, mencoba menguasai diriku kembali. Ayolah, Rayhan. Kau sudah bukan anak kecil lagi. Berhentilah membayangkan yang tidak-tidak. Berhentilah menyamakan dirimu dengan bocah ingusan tadi. Kau sudah jauh lebih beruntung daripada dia. Kau sudah lepas dari masa lalu yang menyesakkan itu.
Tapi mengapa dadaku masih terasa nyeri? Mengapa bayangan wajah ketakutan anak itu tak mau enyah dari benakku? Mengapa aku begitu ingin berlari ke dalam dan menyelamatkannya dari keegoisan orangtuanya?
Aku menggeleng kuat-kuat. Tidak. Itu bukan urusanku. Aku tak punya hak untuk ikut campur masalah orang lain. Aku hanyalah orang asing bagi mereka. Lalu untuk apa aku pusing? Segera kunyalakan mesin mobil. Lebih baik aku segera kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.
***
"Itu dia, Pak Rayhan sudah datang." Suara Mila yang ceria menyambutku begitu aku tiba di kantor.
"Meeting-nya masih lama kan, Mil?" tanyaku sambil melangkah masuk ruangan, berusaha mengenyahkan kejadian di restoran tadi dari pikiranku.
"Iya Pak, masih sekitar satu jam lagi. Tapi Bapak... tidak apa-apa? Wajah Bapak kok pucat begitu?" tanya Mila cemas.
Aku tersenyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit pusing. Kamu tolong buatkan aku kopi ya," pintaku.
Mila mengangguk, masih dengan raut waswas. "Baik Pak, akan segera saya buatkan."
Aku menghempaskan diri di kursi kerja, memejamkan mata sejenak. Aroma kayu manis dari pengharum ruangan sedikit menenangkanku. Sejenak aku hanya duduk bersandar, berusaha mengosongkan pikiran.
Kemudian kudengar pintu diketuk, disusul langkah kaki dan bunyi cangkir diletakkan di meja. Aku membuka mata. Mila meletakkan secangkir kopi hitam di hadapanku, lengkap dengan sepiring camilan manis, semacam kue kering.
"Kopi dan kudapan untuk meredakan pusing, Pak. Masih ada waktu untuk beristirahat sebentar sebelum meeting," ujarnya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Mila. Tolong panggilkan Dani ke ruanganku sekarang," kataku.
Dani adalah kepala tim procurement, bagian logistik. Aku ingin meminta laporannya tentang kemajuan pengadaan untuk proyek Senopati Suites.
Tak berapa lama, Dani muncul di ruanganku. Pria bertubuh subur itu tersenyum lebar, tapi aku langsung menginterupsi sebelum dia sempat mengucap salam.
"Bagaimana progres pengadaannya, Dan? Lancar?" tanyaku tanpa basa-basi.
Dani berdeham. "Sejauh ini masih aman, Pak. Saya sudah koordinasi dengan Pak Arya. Material utama seperti semen, pasir, dan besi beton sudah didatangkan ke site. Tinggal menunggu yang lain-lain," lapornya.
"Hmmm, oke. Tapi jangan kendor. Pantau terus, jangan sampai ada yang terlambat. Klien kita sangat strict soal waktu," aku memperingatkan.
"Siap, Pak! Saya akan memastikan semuanya berjalan sesuai jadwal," Dani mengiyakan mantap.
Aku mengangguk. "Ya sudah, kamu boleh kembali. Terima kasih laporannya," ujarku mengakhiri diskusi.
Dani memberi hormat sebelum undur diri. Aku menghela napas, lalu menyesap kopiku perlahan. Pahitnya cairan pekat itu sedikit mengusir penat di kepalaku. Rasa hangat yang familiar membasuh tenggorokanku, membuatku sedikit lebih rileks.
***
"Oke, kita mulai saja. Seperti yang kalian tahu, perusahaan kita akan mengikuti tender untuk proyek gedung pusat Damar Holdings. Ini kesempatan besar bagi kita untuk melebarkan sayap ke ranah properti kelas atas. Kalau kita berhasil memenangkan tender ini, nama Mahendra Associates akan semakin bersinar," aku membuka rapat dengan nada optimis.
Semua peserta rapat mengangguk antusias, jelas sama bersemangatnya denganku untuk memenangkan tender ini.
"Jadi, apa langkah pertama kita, Pak?" tanya Arya.
Aku tersenyum. "Tentu saja membuat proposal yang luar biasa menarik, yang membuat Damar Holdings tak bisa menolak tawaran kita. Kita harus menunjukkan visi dan inovasi kita dalam desain, sesuatu yang membuat gedung ini nanti menjadi landmark yang ikonik," jelasku.
"Apa kita sudah tahu tim dari perusahaan konstruksi yang akan menjadi mitra kita nanti, Pak?" Vero menyeletuk.
Oh. Aku tertegun. Benar juga. Untuk proyek sebesar ini, Mahendra Associates tak mungkin bekerja sendirian. Kami butuh perusahaan konstruksi yang kompeten dan berpengalaman sebagai mitra. Biasanya untuk hal-hal begini, Mila yang mencari tahu dan menyiapkan informasinya.
"Mila, tolong cari tahu soal itu ya. Kita perlu tahu rekam jejak dan portofolio mereka, supaya bisa menyesuaikan isi proposal nanti," pintaku pada Mila yang duduk di sebelahku.
"Baik, Pak. Nanti saya carikan datanya," Mila menyanggupi.
Rapat berlanjut dengan diskusi tentang konsep desain yang akan kami tawarkan pada Damar Holdings. Berbagai ide kreatif dilontarkan, dari penggunaan green architecture, pemanfaatan energi terbarukan, sampai desain atap yang unik. Aku mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali menimpali atau memberi arahan.
Di tengah-tengah rapat, pintu ruangan diketuk. Mila beranjak untuk membukanya. Tak lama kemudian, dia kembali dengan secarik kertas di tangannya.
"Maaf mengganggu, Pak. Ini data perusahaan konstruksi yang akan menjadi mitra kita untuk proyek Damar Holdings," bisiknya di telingaku sambil menyodorkan kertas itu.
Aku mengernyit heran. Cepat sekali. Aku baru minta tolong Mila untuk mencari tahu sekitar setengah jam yang lalu. Tapi toh kuterima juga kertas itu, membaca deretan tulisan yang tertera di sana.
Jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat sederet nama di baris paling bawah. Sebuah nama yang membuat pikiranku langsung kalut, sekaligus hatiku berdebar tak karuan.
Alda Meriska - Ketua Tim Proyek Konstruksi PT Agrapana
Napasku tercekat.
Apa ini sungguhan? Apa aku tak salah baca? Jadi... aku akan bertemu lagi dengan Alda dalam tender ini? Bahkan kami akan menjadi mitra kerja?
Seketika memoriku melayang pada pertemuan singkat kami di restoran malam itu. Senyumnya yang menawan, tawanya yang renyah, caranya menatapku dengan sorot penasaran... Semua itu kembali membanjiri ruang ingatanku, memenuhi setiap rongga dalam diriku dengan rasa hangat yang asing sekaligus menyenangkan.
Apakah ini takdir?
Ataukah ini hanya permainan semesta yang ingin menguji keteguhan hatiku sekali lagi?
Aku tak tahu harus senang atau gusar. Tak tahu harus antusias atau gentar. Yang kutahu hanya satu - aku, Rayhan Mahendra, tak bisa lari lagi. Aku harus menghadapi perasaanku sendiri. Aku harus menghadapi... Alda.
Kutatap sekali lagi sederet nama di kertas dalam genggamanku. Bibirku melekuk perlahan, membentuk senyum samar.
Kita berjumpa lagi, Alda Meriska.