Jangan pernah membuat keputusan dalam kemarahan dan jangan pernah membuat janji dalam kebahagiaan.
**Ali bin Abi Talib**
3 tahun sudah lamanya Dzikra di merantau ke negri jiran ya Malaysia. Dzikra lillah itulah namanya, kulitnya kuning langsat karena di Malaysia, Dzikra hanya bekerja. Dibenaknya tidak terbesit sama sekali untuk jalan-jalan apalagi pacaran. Ia bertekad ingin melunasi hutang yang menggunung untuk pengobatan ayahnya sebelum tiada, apalagi ia masih memiliki adik yang bersekolah di SMK, Ratih namanya.
"Alhamdulillah sudah sampai Giwangan, tapi kok malam banget ya.." Batin Dzikra
Jam sudah menujukan pukul 1 dini hari. Terminal ini tak banyak perubahan, hanya catnya yang terlihat baru. Begitu turun angin semilir menyeruak ke rambut Dzikra yang tertutup kerudung. Begitu turun dari bis Dzikra sudah di sambut 2 orang tak di kenal.
"Sini mbak saya bantu! " Kata pak berkumis main rebut tas Dzikra.
"Ets jangan dong pak, biar saya saja" Tolak Dzikra
"Monggo mbak nithi taksi mawon? " Tanya pak sopir taksi yang lebih rapi dengan batiknya.
Perdebatan sengit mereka tak terelakkan, tanpa pikir panjang Dzikra memilih naik taksi karena sedikit takut sikap pak ojek.
"Mau buat surprise ah buat simbok dan Ratih" Batin Dzikra senang tak sabar lagi.
"Niki ajeng teng pundi mbak? (Ini mau kemana mbak?) " Tanya pak sopir sudah siap membukakan pintu taksi.
"Putren Sriharjo Bantul pak, deket SMK Akuntasi Yogyakarta" Jawab Dzikra
"Nggeh mbak, bismillah. " Katanya sambil menginjak gas mobil.
Radio pun diputar memecah dinginnya malam bertabur bintang.
"Saking pundi Niki mbak??(dari mana ini mbak?)" Tanya pak sopir menasaran
"Dari Surabaya pak" Jawab Dzikra singkat. Memang Dzikra naik pesawat turun di Surabaya, entah kenapa prosedur tidak bisa landing di Yogyakarta, mungkin karena status Merapi yang masih waspada.
"Niki pun SMK mbak, belok pundi nggeh?? (Ini sudah sampai SMK mbak, belok mana??) tanya pak sopir
" Haduh beda banget ya, pelan-pelan ya pak soalnya pangling ini. " Kata Dzikra sambil menajamkan bola matanya yang sudah mengantuk.
"Itu ada pom bensin belok kanan ya pak, terus ikuti jalan ini nanti. " Perintah Dzikra sambil menunjuk jalan di depan.
"Nah depan belok kiri terus ke kanan nah ada kuburan tuh pak ke kanan nanti 200meter berhenti. " Kata Dzikra penuh semangat
"Nggeh mbak. " Jawab pak sopir
"Stop pak sini saja, berapa ya? " Tanya Dzikra
"Lima puluh enam ribu mbak. " Jawab pak sopir
Dzikra pun menarik dompetnya dari tas jinjingnya, selembar uang merah ia serahkan ke pak sopir. "Ambil kembaliannya pak, Terima kasih ya. " Kata Dzikra sambil menundukkan badannya.
Jam menunjukan pukul 01. 40 Wib, suara jangkrik nyaring bernyanyi memecah sunyi.
Dzikra perlahan mengetuk pintu rumah yang tak usang terlihat warna hijau mulai mengelupas.
"Assalamu'alaikum.. " Masih tidak ada jawaban
"Assalamu'alaikum.. Mbok.. " Lirih Dzikra lebih lantang.
"Wa'alaikumussalam.. Siapa ya kok jam segini..?? " Tanya simbok penasaran.
Kreettt. Suara pintu tak bisa di sembunyikan.
"Dzikra.. Ya Allah anakku nduk.. Iki kowe??(ini kamu??) tanya simbok sambil memeluk Dzikra, air matanya tak bisa di bendung.
"Nggeh mbok, apa kabar mbok? Ratih dimana mbok kangen banget. " Kata Dzikra sambil mengusap mata simbok yang basah bercucuran dan mencium tangan simbok.
"Lagi tidur nduk, istirahat dulu pasti capek banget tho? " Tanya simbok
Simbok menuntut Dzikra ke kamar nya. Ya rumah kecil ini hanya memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur tak ada yang berbeda dari rumah ini bahkan boleh di kata tak terurus karena tidak ada laki-laki di rumah itu. Bulan tersenyum riang menyapa dari atap genting yang melorot, dipastikan jikalau hujan pasti menari masuk ke kamar tepat di bawahnya ember tergeletak. Simbok sudah meluncur ke dapur, terdengar gemericik sendok beradu gelas dari kamar. Penasaran Dzikra menengok kamar sebelahnya, ia singkap tirai tak berpintu itu dengan mudah. Betapa terkejutnya Dzikra melihat keadaan Ratih, rambutnya kusam panjang tak terurus, badannya kurus tapi perutnya buncit dan kakinya terikat rantai dengan ranjangnya. Dzikra menahan mulutny dengan kedua tangannya, ia berusaha tak mengeluarkan suara agar Ratih tak tebangun tidurnya. Dzikra menutup tirainya, ia tak berani mendekat tak terasa matanya sudah menganak gunung.
"Duduk sini nduk. "Ajak ibu Dzikra
" Mbok.. Apa yang terjadi sama Ratih mbok..?? " Kejut Dzikra
"Panjang nduk ceritanya, ini di minum dan dimakan dulu. " Rayu simbok
Dzikra tak bisa menahan tangisnya lagi. Betapa tidak, ia ingin memberikan kejutan untuk keluarga nya tapi justru Dzikra yang lebih terkejut. Singkat cerita, Ratih hamil di luar nikah dengan pacarnya sebelum ujian sekolah. Ratih pernah cerita ke simbok kalau orang tua pacarnya kurang suka dengan Ratih yang miskin. Tak di sangka mereka melakukan hubungan terlarang untuk mendapat restu. Bukan restu yang di dapat, pacarnya setelah lulus sekolah justru pindah ke luar kota.
Sedangkan Ratih harus menahan malu karena tidak bisa ikut ujian sekolah ketahuan hamil.
Agustus bulan kemerdekaan, tapi bagi Dzikra bulan ini awal kehidupan yang baru. Sebentar lagi Ratih melahirkan dalam kondisi hilang akalnya. Semenjak di tinggal pacarnya Ratih mulai murung pendiam, depresi hingga akhirnya terbesit bunuh diri. Lidah tak bertulang memang, tapi sakitnya tak kan hilang hingga ujung usia. Ya tetangga banyak mengunjing, Ratih semakin down dan berulang kali terbesit bunuh diri. Pernah tangannya bersimpah darah sambil menangis alhamdulillah simbok pulang dari sawah cepat tertolong. Semenjak itu simbok menyimpan gelas dan pisau. Ratih mulai mencari tali, ia pernah ketahuan sudah naik di kursi dan tertawa riang. Simbok membujuk Ratih turun dengan memanggil nama Adrian. Ratih mau turun tapi justru ia mogok makan hingga kurus seperti orang cacingan, badan kurus tapi perut besar. Semenjak itu Ratih harus di tali di ranjang kamarnya.
Pantas saja selama hampir setahun Dzikra hanya bisa menelepon simbok tanpa suara Ratih. Hanya Dzikra yang telepon karena simbok termasuk gaptek (gagap teknologi). Dzikra merenungi kata demi kata yang keluar dari simbok. Sungguh ironis kehidupan, ayah Dzikra tiada semenjak Dzikra kelas 6 SD dan Ratih masih 3 SD. Dzikra terbiasa sekolah sambil berdagang malamnya membantu simbok membuat besek buat hajatan. Setidaknya rumah Dzikra sekarang berlapiskan tembok hasil dari merantau.
"Aaaahhhh... Sakit.... " Teriak Ratih dari bilik kamarnya. Dengan sigap Dzikra berlari menyibak kain penutup. Dilihatnya darah mengalir segar dari selakangan Ratih.
Terima kasih sudah Subscribe dan mampir di cerita ku ini...
Ambil baiknya dan buang buruknya..
Ingat selalu taat perintah Allah dan jauhi laranganNya
Salam kenal..
Masa Lalu Simbok
"Aaaahhhh... Sakit.... " Teriak Ratih dari bilik kamarnya. Dengan sigap Dzikra berlari menyibak kain penutup. Dilihatnya air merembes dari selakangan Ratih. Biasanya itu Air ketuban memiliki warna bening atau kekuningan, sering meninggalkan bercak bintik-bintik putih di pakaian dalam, tetapi tidak berbau. Air ketuban yang merembes juga bisa disertai lendir atau sedikit darah berbeda dengan air urine.
"Astagfirullah.. Ya Allah.. " Simbok terus memanjatkan doa sambil memangku Ratih.
"Nduk kamu ke rumah paklekmu ya sekarang, minta tolong anterin ke puskesmas. Kayaknya Ratih mau lahiran.!! " Kata simbok
"Nggeh mbok, Dzikra pergi dulu. " Sambil mencium tangan simbok tergesa-gesa berlari keluar rumah.Jalan berbatu yang harus Dzikra lalui menuruni jalan setapak sambil berlari terenggah-enggah Dzikra mengetuk pintu paklek Giyono. Simbok lebih akrab dengan paklek karena teman sekolah dulu sedangkan bulek Giyanti saudara kandung bapak.
"Assalamu'alaikum paklek.. " Ketuk Dzikra perlahan
"Assalamu'alaikum paklek, ini Dzikra paklek... " Ulangi Dzikra lebih kencang
"Wa'alaikumussalam warohmatulohi wabarakatuh. " Jawab pakde sambil membuka pintu.
"Eh Dzikra kapan pulangnya? Kok gak ada kabar, ada apa nduk kok masih pagi buta dah ke sini?? " Tanya paklek beruntun.
"Ngapunten paklek menganggu, Dzikra boleh minta tolong paklek?? Ini.. Anu.. Gimana ya.. " Kata Dzikra sambil mengatur nafas.
"Ada apa to Dzikra?? Bilang saja mungkin paklek bisa bantu? " Tanya paklek penasaran.
"Tolong Ratih mau lahiran pakde. Ayo paklek merembes.!! " Ajak Dzikra tak sabar
Paklek Giyono pun masuk ke dalam meminta ijin istrinya. Dzikra menunggu di luar pintu, ia tahu betul kalau bulek Giyanti tidak suka dengan Dzikra dan ibunya.
"Siapa pak pagi buta begini bertamu? Tidak tahu waktu saja. " Seru bulek Giyanti sayup terdengar dari luar menahan amarahnya.
"Dzikra bu, ia minta tolong antar Ratih mau lahiran. " Jawab paklek Giyono
"Ya Allah, baru pulang sudah nyusahin aj to pak. Nanti keluarga kita kena azabnya lho pak dari anak haram itu. " Kata bulek Giyanti melengking
"Sssttt.. Jangan keras-keras to bu, Dzikra ada di luar to.. " Kata pakde sambil membekap mulut istrinya.
"Bapak ini gimana to, masku lho mati karena nikah sama ibunya Dzikra. Ingat lho pak Dzikra itu bukan keponakanku. " Kata bulek Giyanti mulai ngegas nadanya.
"Terserah ibu, tapi ingat hidup mati itu gusti Allah yang berkehendak. Ya dah bapak cuma mau bilang itu aj, ibu ngijinin atau enggak bapak tetap nganterin Ratih." Jawab paklek Giyono sambil menutup pintu kamar.
"Jangan deket-deket janda itu pak, awas ya..!! "Teriak bulek menahan cemburunya.
"Astaghfirullah bu.. Istigfar.. " Kata paklek Giyono lirih sambil mencari kunci becaknya.
Sementara paklek Giyono memanaskan becak motornya, Dzikra tenggelam dengan pikirannya sendiri. Ia baru tahu kenapa bulek sangat tidak suka padanya. Perasaannya kini bercampur baur, Dzikra terus berdoa dan menepis rasa penasaran. Sesampainya di rumah, simbok sudah siap dengan ransel kecil dan segelas teh yang sudah menjadi dingin.
"Minum dulu kang. " Ajak simbok menahan gemetar nya tangan.
"Gak usah, ayo bergegas kasihan Ratih. " Kata paklek sambil membopong tubuh Ratih tanpa kesusahan. Ratih sudah tidak sadarkan diri, -+ 30 menit becak paklek Giyono membelah dinginnya pagi dini hari, tepat di depan puskesmas hanya ada beberapa petugas jaga. Administrasi di puskesmas ternyata tak semudah slogannya, melayani sepenuh hati. Ratih terpaksa di lempar ke rumah sakit karena Ratih tidak pernah pernah kontrol di buku KIA di tambah kondisi Ratih yang tidak sadarkan diri membuat puskesmas tidak mau ambil resiko. Paklek mulai mengegas becaknya lebih laju lagi, simbok menyelimuti Dzikra dan memeluknya erat. Di mulutnya tak pernah berhenti berdoa, sedangkan kantuk tak tertahan dengan hawa dinginnya apalagi di bus Dzikra hanya tidur ayam.
"Bangun Dzikra ayo masuk. " Simbok membangunkan Dzikra yang terlelap, sedangkan pakleknya sudah membopong Ratih ke dalam UGD.
"Nggeh mbok, ngapunten nggeh. " Jawab Dzikra sambil menutup mulutnya karena menguap.
"Gak pa-pa nduk, simbok juga kasihan ke kamu, baru pulang belum istirahat pasti capek banget ya. " Kata simbok
Simbok menemani Ratih di UGD, Dzikra menyelesaikan administrasi di lobi. Alhamdulillah di RSUD pelayanan nya cepat meski administrasi belum selesai tapi Dzikra dapat melihat Ratih sudah di pasang infus. Simbok dengan telaten meladeni setiap pertanyaan suster, sementara paklek menepi dan mulai menghisap rokok.
Bugenfill 4, kamar Ratih dilantai 2 suster dengan cekatan mendorong ranjang Ratih dan memarkirkannya bersama 3 orang ibu yang telah selesai melahirkan. Kamar ekonomi 6 orang tersisa 2 ranjang kosong. Dzikra membujuk ibunya untuk istirahat di ranjang pasien.
Sebelum naik Dzikra berwudhu dan mengelar mukena berdoa di sela ranjang dan dinding tembok. Dzikra mencoba menjaga sholat malamnya jika tidak masuk malam saat di Malaysia. Adzan subuh pun memecah pagi, Dzikra menyambung sholat subuh dan berdzikir Allah Latif 121x itu sudah kebiasaan nya. Ia mulai menitikan air mata, simbok yang menyaksikan tak kuasa menahan tangis.
"Sabar ya Dzikra, Allah selalu menguji hamba-Nya sesuai kemampuan. " Kata simbok menenangkan sambil mengelus punggung Dzikra.
"Mbok tolong jawab jujur, apa Dzikra anak haram? " Tanya Dzikra tak sanggup menahan penasaran.
"Maaf nduk, itu semua salah simbok kamu gak berdosa" Jawab simbok lirih
"Kata bulek Giyanti Dzikra bukan anak bapak, terus siapa ayah Dzikra bu? " Tangis Dzikra pecah
"Simbok tidak bisa menjelaskan nduk, biarlah Allah yang menuntunmu, simbok pasrah. " Jawab simbok sambil mengulurkan kalung emas putih berliotin batu merah berbentuk hati bertuliskan inisial A. Ini rahasia yang simbok sembunyikan 22 tahun lamanya terbongkar.
Simbok dan Dzikra terkejut dengan datangnya dokter dan dua perawat di belakangnya menjelaskan kondisi Ratih. Dokter menyimpulkan kalau kondisi janin dan Ratih dalam bahaya jika tidak segera di operasi karena Ratih tak kunjung siuman juga sore nanti akan di lakukan operasi Caesar segera karena ketuban juga sudah pecah. Simbok pun menurut saja dengan pilihan yang dokter ajukan dan menandatangani nya.
"Nanti tolong ke lobi untuk menyelesaikan administrasi yang belum lengkap ya bu. " Pinta perawat sambil berlalu.
Setelah dokter dan perawat keluar, paklek Giyono masuk.
"Gimana Dzikra keadaan Ratih? " Tanya paklek Giyono sambil memberikan 2 bungkus makanan
"Kata dokter bayinya masih sehat tapi keadaan Ratih yang lemah, nanti Dzikra tolong antar pulang pakde. Maturnuwun lo, pakde tahu aj kalau laper. " Kata Dzikra tanpa segan membuka bungkusan nasi.
"Makannya pelan-pelan nduk, maturnuwun ya kang saya banyak banget utang budinya. "
"Kayak sama siapa aja." Kata paklek Giyono
FLASHBACK ON
Pak Giyono dan simbok memang berteman dari kecil karena tetangga. Bahkan Pak Giyono diam-diam suka pada simbok Atun, itulah nama asli simbok. Mereka berpisah karena tak memiliki uang untuk sekolah sehingga terpaksa menjadi ART di Bekasi. Apalagi Atun yatim piatu dan ikut neneknya. 5 tahun di Bekasi bukannya mudah, Atun tumbuh menjadi perempuan tangguh dan anggun. Atun sangat terampil di semua pekerjaannya baik masak, mencuci, dan membersihkan rumah. Di rumah yang megah itu ada 2 Art termasuk Atun karena sudah tua maka akan sangat repot jika seorang diri. Pak Aaron dan istrinya sudah menikah 7 tahun tapi belum juga tanda-tanda hamil. Pak Aaron seorang CEO muda ternama di perusahaan otomotif sedangkan istrinya seorang model. Kesibukan mereka berdua sehingga jarang di rumah. Kedua orang tuanya sudah menuntut cucu membuat gerah telinga yang mendengar. Singkat cerita pak Aaron pulang dalam keadaan mabok dan saat itu hanya Atun yang di rumah karena bibi ijah pulang kampung sedangkan istrinya ada acara keluar kota.
Tiiiiiitttttt terdengar klakson menyala dengan nyaring nya, jam menunjukkan pukul 11 malam. Atun segera berlari membuka gerbang pintu. Mobil menepi dengan aman padahal empunya mabok berat, ia keluar dengan gontai dan menyambar pintu.
"Biar saya bantu pak" Tawaran Atun kepada pak Aaron. Benar saja Atun yang berbadan kecil tak sepadan dengan Aaron 30 tahun yang kekar, dengan sepenuh tenaga sampai juga di bedcover kin size yang empuk. Atun melepas sepatu dan jas Aaron, ia menyalakan AC dan menyelimuti tuannya. Tiba-tiba tangan kekar itu menarik Atun terpental di kasur, tubuh Atun yang sudah kehabisan tenaga menopang pak Aaron tak kuasa dengan perlakuan tuannya. Terjadilah petaka itu, pak Aaron berjanji akan bertanggungjawab atas perbuatan nya. 2 bulan semenjak kejadian itu banyak pertengkaran antara pak Aaron dan istrinya karena pengakuan pak Aaron. Atun tak bisa menyembunyikan kehamilannya karena morning sickness nya sangat parah. Ia tak bisa makan apapun sehingga pekerjaan nya pun berantakan. Istrinya tahu itu dan mempunyai ide gila. Ia berniat hamil bohongan untuk memenuhi tuntutan keluarga nya dan mengadopsi anak Atun nantinya. Pak Aaron hanya mengiyakan saja karena ia sudah tertutupi cinta butanya, tapi masih malang Atun lagi-lagi. Niat bohongan justru menjadi benar adanya, istri pak Aaron hamil 2 minggu menurut dokter. Atun pun di usir diam-diam oleh istrinya, ia menutup segala akses tentang Atun bahkan di agennya agar tutup mulut. Istrinya takut jika pak Aaron berpaling inilah persaingan ibu hamil. Atun wong cilik bisa apa, ia kembali ke kampung dengan oleh-oleh rahasia yang besar. Neneknya tahu kehamilan Atun jatuh sakit dan meninggal.
Giyono sudah menikah dengan Giyanti karena perjodohan orang tuanya, ia mulai curiga dengan Atun yang sering termenung. Patah hati ya.. Ternyata Atun juga menyukai Giyono tapi nasi sudah menjadi bubur, Atun tahu diri apalagi sekarang ia hamil di luar nikah. Giyono tahu ada yang di sembunyikan Atun, ia mendesak Atun bercerita dan Atun meluapkan isi hatinya. Giyono iba tapi tak mungkin beristri dua, bisa habis sama Giyanti apalagi mereka pengantin baru 3 bulan, sementara kandungan Atun akan semakin membesar. Akhirnya Giyono menjodohkan Atun dengan Nandar kakak pertama Giyanti yang sudah berumur 45 tahun belum juga menikah. Nandar menerima Atun apa adanya, bahkan kehamilannya juga. Pernikahan cepat pun diadakan, jangan tanya tetangga pasti omongannya lebih pedas dari cabe di sawah. Pernikahan Nandar dan Atun banyak gunjingan, hamil di luar nikah lah, perempuan gak bener lah sampai di cap perempuan pembawa sial karena Nandar mulai sakit-sakitan.
Seorang ibu yang meninggal dunia karena melahirkan pun mendapatkan syahid. Ini dijelaskan dalam hadis ketika Rasulullah SAW menjelaskan ten tang makna kesyahidan. "…Nabi SAW bersabda, 'kesyahidan itu ada tujuh, selain gugur dalam perang, orang yang mati karena keracunan, tenggelam da lam air, terserang virus, terkena lepra, terbakar api, tertimbun bangunan dan perempuan yang meninggal karena melahirkan." (HR Abu Dawud, Nasa'i, Ibnu Hibban).
******************************************************
"Dzikra ijin pulang dulu sekalian ambil uang mbok. " Ucap Dzikra sambil mencium tangan simbok.
"Hati-hati ya nduk, gak usah buru-buru istirahat dulu di rumah. Titip Dzikra ya kang. " Pesan simbok pada Dzikra dan Paklek Giyono.
Dzikra dan Paklek Giyono menurunkan tangga lantai bawah sedangkan kamar Ratih di lantai 2.
Sampai di lobi Dzikra menanyakan pada perawat biaya administrasi kamar bungenfill kelas 3, untuk biaya Caesar dan rawat tertera nominal hampir 10jt. Di dalam rumah sakit sudah ada beberapa ATM bank berjajar rapi. Dzikra masuk ke dalam ATM beberapa menit dan menyelesaikan administrasi.
'Ya Allah ya latif mudahkan urusanku, uangku tinggal 5jt di ATM. Semoga Ratih cepat siuman. 'Batin Dzikra berdoa
Dzikra di hantar pulang Paklek Giyono jam 8 pagi. Ia menyerahkan beberapa lembar uang merah pada Paklek Giyono.
"Gak usah Dzikra, balas nya pakai doa saja, simpan uangmu buat yang lain ya. Cuma ini yah Paklek bisa bantu. " Tolak paklek Giyono
"Maturnuwun ya paklek, semoga Allah ganti berlipat. " Sambil mencium tangan paklek Giyono
"Nanti kalau ke Rumah sakit lagi biar paklek yang hantar ya!! " Kata paklek sambil menyalakan mesin becak nya.
"Siap paklek.. " Jawab Dzikra sambil memberikan hormat
Dzikra membuka kunci pintu rumah dan hawa kantuk pun meraja seperti tahu kalau empunya tubuh sudah sampai gubuk istananya. Dzikra tak mau kalah, ia ambil wudhu dan menunaikan sholat dhuha 8 rokaat. Dzikra ingat betul manfaat sholat Dhuha bagus untuk kesehatan dan“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Wahai Anak Adam, jangan sekali-kali kamu malas mengerjakan empat rakaat pada awal siang (sholat dhuha), nanti akan Aku cukupi kebutuhanmu pada akhirnya (sore hari).” (HR Daud, Ahmad, Tirmidz). Dzikra tak mampu menahan kantuknya hingga terlelap di sajadah sambil berdzikir dengan tasbih nya.
Tok tok tok.. Suara pintu memecah kesunyian. Dzikra terjaga dari tidurnya, jam menunjukkan 10 hanya satu jam Dzikra terlelap sudah membuat tubuhnya sehat kembali. Dzikra sudah biasa tidur kurang dari 8 jam. Segera ia melepas mukena dan membuka pintu depan.
"Eh Tito dan Tutik sini masuk, mbak Dzikra ada oleh-oleh lo. " Ajak Dzikra pada ponakanya, anak dari paklek Giyono. Anak paklek ada 3 Rudi sepantaran Ratih, Tito kelas 6 SD dan Tutik kelas 3 SD. Dzikra membuka kopernya, di dalamnya penuh makanan coklat, minuman dan baju. Dzikra mengisi penuh maksimal bagasi nya 10 kg. Tito dan Tutik dengan rriangnya menenteng sekresek oleh-oleh, tak lupa Dzikra memberikan lembaran merah untuk mereka.
"Buanyak banget mbak, terimakasih ya.. " Kata Tito dengan mulut penuh makanan
"Gak sopan sih kamu mas Tito, eh pamit dulu mbak Dzikra dan dapat oleh-oleh ini.. " Timpal Tutik
"Wush pada gak sopan, sudah dapat pulang. Tapi gak pa-pa mbak juga buru-buru soalnya mau masak terus ke rumah sakit. " Kata Dzikra merapikan koper yang di acak-acak krucil.
"Siapa yang sakit mbak.?? " Tanya Tutik penasaran
"Mbak Ratih mau lahiran dek. " Ucap Dzikra sambil berdiri
"Kalau gitu biar mas Rudi saja yang hantar kan baru libur kuliahnya. " Ajak Tito
"Gak usah nanti ngrepotin ah." Tolak Dzikra
"Pokoknya kudu mau ya mbak, nanti habis dhuhur mas Rudi kesini. " Paksa Tito gak mau kalah
"Kalau gitu pulang dulu mbak" Pamit Tutik sambi mencium pipi Dzikra
Dzikra mengegas memasak dengan bahan yang ada di dapur tempe bacem, nasi dan juga Oseng-oseng rebung di campur telur puyuh. Dzikra pun mengemas beberapa baju ganti simbok dan tikar untuk istirahat. Adzan dhuhur pun berkumandang, Dzikra mengambil wudhu dan menunaikan sholat dhuhur di rumah.
Tiiin.. Tiiin.. Tiinn suara klakson motor terdengar di luar, benar saja Rudi sudah bersedia dengan motor hitamnya.
"Ayo mb naik, gak usah pake lama" Perintah Rudi sambil menyisir rambutnya dengan tangan.
"Di bantu kenapa Rud, kamu bawa tas ransel ya.. Biar mb bawa karpetnya. " Sambil mengulurkan tas berukuran besar karena ada pakaian dan makanan.
"Ini mau pindahan apa, bawaannya kayak mau camping aja. " Keluh Rudi
"Wushh ngawur, kalau menolong itu harus ikhlas ya jangan ngeluh nanti pahalanya diskon juga. " Dzikra dah siap di atas motor
"Ikhlas kok mbak, tapi nanti dapat ringgit ya. Pengin lihat aja uang Malaysia kaya apa. Lagi pula mbak Dzikra makin cantik deh. " Rayu Rudi bak anak kecil
Dzikra membuka dompet dan mengeluarkan pecahan 100ringgit ke Rudi, bak kucing dapat ikan Rudi buru-buru menyambar dan menyembunyikan nya. Takut kalau bapaknya melihat pasti sangat dipotong uang saku Kuliahnya.
Motor Rudi melaju dengan ringannya, Dzikra terpaksa berpegangan tas yang di pakai Rudi. Darah muda memang selalu cepat mendidih. Tak sampai 30 menit sudah mendarat di lobi rumah sakit.
"Saya langsung pamit ya mbak ada janji soalnya" Kata Rudi sambil membetulkan rambutnya
"Iyalah tuh, pasti sama cewek? Tuh wanginya sampai kemana-mana. " Ledek Dzikra menginterogasi
"Tahu aja mbak" Rudi tersipu malu
"Ingat tugas utamanya belajar bukan pacaran ya, ya dah mbak masuk dulu. " Sambil meraih tas pinggangnya dan menjijing karpet.
Sampai di kamar bungenfill sudah ada tangisan bayi, hawa panas menyeruak karena kelas 3 sudah penuh dengan pasien. Dzikra melihat simbok terlelap di samping ranjang Ratih yang masih terlelap tak bergerak. Dengan Hati-hati Dzikra meraih tangan Ratih dan air mata pun menetes begitu saja. Dzikra mencium tangan Ratih berkali-kali, "Ratih ayo bangun dek, mbak kangen banget"
Simbok menggeliat, ia mulai merasakan kehadiran Dzikra di sampingnya.
"Kapan datang nduk? Kok gak dibangunkan.? " Tanya simbok
"Baru saja mbok, kata dokter bagaimana mbok? "
"Ratih akan dioperasi jam 3 nanti sore dokter tidak mau ambil resiko jika pecah ketuban terlalu lama. " Jawab simbok sambil mengelap penuh di keningnya.
"Ini tadi Dzikra masak lho mbok, pasti simbok lapar kan. " Ucap Dzikra sambil mengeluarkan makanan dari tas.
"Kamu gak tidur nduk kok sempet masak? Nanti sakit l
"Ini buktinya masih sehat, Rudi tadi yang hantar. "
Tiada percakapan saat simbok dan Dzikra saat makan karena memang kebiasaan Dzikra sedari kecil. Selesai makan Dzikra merapikan tempat makan, simbok pamit sholat di masjid karena kamar mandi sedari tadi terbuka dan lekas menutup lagi pertanda penuh.
Dzikra membuka mushaf nya, belum juga membaca satu lembar matanya sudah terkantuk. Dzikra menutupnya dan beralih pandangan ke Ratih. Ia terkejut melihat jemari Ratih bergerak. Sontak saja Dzikra menyambar tangan Ratih.
"Ratih mbak di sini dek, mbak kangen. "
Ratih mulai menerka sekitar, dilihatnya kakaknya dengan penuh tak percaya tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja.
"Maafkan Ratih mbak, Ratih cuma bisa jadi benalu, Ratih cuma bisa nyusahin mbak, Ratih bikin malu keluarga mbak. " Tangis Ratih tak terbendung.
"Gak dek semua ujian kita harus sabar dek mbak yakin pasti ada hikmah dari semua ini, Ratih harus kuat demi mbak, demi simbok dan demi anak ini. " Sambil mengelus perut Ratih
"Ratih gak berguna mbak, lebih baik Ratih mati mbak. Ratih menyesal.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. "
"Ingat dek semua takdir, Allah pasti mengampuni. Jangan bicara seperti itu dek.. " Bujuk Dzikra
Simbok masuk menyibak tirai, senyumnya tersungging mendengar suara Ratih.
"Alhamdulillah ya Allah, kamu sadar Ratih." Simbok mencium kening Ratih
"Apa Allah menerima taubatku Mbak? Aku kotor mbak. Aduh sakit... " Ratih mengelus perutnya
Ratih pecah ketuban sedari jam 3 pagi itupun pembukaan masih satu sampai siang ini.
"Pasti nduk, Allah Maha Pengampundek, mbak akan bimbing dan rawat anak ini. " Dzikra menenangkan Ratih
"Mbak ajarin aku sholat, sudah lama banget gak sholat" Pinta Ratih
Simbok heran baru kali ini Ratih bicara dengan benar biasanya ia hanya diam dan termenung jika di ajak bicara. Apa karena ada Dzikra atau mungkin ini permintaan terakhir Ratih. Simbok menepis firasat nya jauh-jauh.
Dzikra dan simbok menganti pakaian Ratih dan terus mengeluarkan air ketuban dan memakaikannya mukena. Ratih di ajarkan Dzikra cara ber tayamum karena tak sanggup berdiri dan sholat berbaring.
Air ketuban yang pecah memang bukan termasuk ke dalam nifas. Maka hukumnya tidak sama dengan hukum nifas, melainkan hukum yang lain, yaitu darah istihadhah.
Perlu diketahui bahwa hanya ada 3 jenis darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita, yaitu darah haidh, darah nifas dan darah istihadhah.
Darah nifas dan darah haidh mengharamkan shalat dan puasa. Sedangkan darah istihadhah tidak mengharamkan keduanya. Maka sebelum bayi dilahirkan, belum ada darah nifas. Kalau pun ada darah yang keluar lantaran air ketuban pecah duluan, maka hukumnya bukan darah nifas tapi darah istihadhah.
Dan darah istihadhah tidak mengharamkan shalat dan puasa. Maka masih ada kewajiban bagi ibu-ibu untuk melakukan shalat dan puasa, bila telah pecah air ketubannya, sementara proses persalinan belum terjadi.
Sedangkan alasan bahwa menjelang proses persalinan terlalu sulit untuk bisa melaksanakan shalat, memang hal itu bisa dipahami. Tapi kita tidak boleh menggeneralisir keadaan tiap orang. Ada wanita tertentu yang masih kuat dan tidak ada masalah bila shalat menjelang saat-saat persalinannya. Tetapi ada juga yang badannya terlalu lemah, seperti orang yang sakit.
Maka apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini?
Jawabnya adalah bahwa pada dasarnya shalat masih wajib dikerjakan, tapi kalau karena kondisi yang terlalu payah, maka pasti di dalam syariah ada keringanan. Sebagaimana shalatnya orang yang sedang sakit, maka begitulah cara shalat wanita yang sedang dalam proses persalinan.
Kalau tidak bisa berdiri, boleh duduk. Kalau tidak bisa duduk, boleh sambil berbaring. Kalau tidak bisa berbaring, boleh dengan isyarat saja. Pendek kata, selama kewajiban shalat masih ada, upayakanlah sebisa mungkin untuk shalat, walau bagaimana pun keadaannya.
Ratih mengucap salam dan menangis sejatinya. Simbok dan dzikra terkejut karena perawat masuk dan memeriksa kondisi Ratih. Ratih pun bersiap untuk operasi Caesar.
Mereka mendorong ranjang Ratih menuju ruangan operasi, simbok dan Dzikra mengekor di belakang.
"Tunggu di luar ya. " Begitulah pesan perawat.
Sudah 40 menit berlalu tapi belum juga ada tanda pintu terbuka, hingga terdengar tangisan bayi memecah untaian doa simbok. Air mata nya meleleh, ucapan syukur terus mengalun. Tiba-tiba dokter keluar dan meminta pendonor darah. Ya simbok telah mengajukan diri, Dzikra dan Ratih berbeda golongan darah. Simbok keluar dari dalam ruangan dengan tertatih-tatih. Dzikra menuntun simbok duduk dan memberikan air minum. Sementara bayi laki-laki mungil di dorong keluar, dokter pun keluar.
"Mohon maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkendala lain. Kondisi pasien drop dan pendarahan hebat. "
Simbok yang mendengar bagai kilatan petir jatuh pingsan.