Bab 1

Kring ... kring ... kring.

Alarm dari sebuah ponsel terus berbunyi sebelum sang empunya bergerak untuk menghentikannya.

Pagi itu, sekitar pukul 06.00, Sherly, pemilik ponsel menggeliat di atas ranjang deluxe room di sebuah hotel berbintang. Dia sudah terbiasa dengan bunyi alarm tersebut. Walaupun kepala masih berdenyut, kedua bola matanya yang indah perlahan mengerjap.

Sherly belum menyadari kondisinya saat ini. Dia pun hendak memutar tubuhnya untuk meraih ponsel di atas nakas, namun sebuah tangan besar yang melingkar di tubuhnya membuat gadis itu kesulitan untuk bergerak.

Di saat yang bersamaan, sebuah suara bariton mengagetkan Sherly.

"Berisik ... cepat matikan alarmnya!" perintah pria di sebelah Sherly.

Sontak Sherly menoleh ke samping kirinya dan menemukan seorang pria tampan nan gagah sedang mengoceh dengan mata yang masih terpejam.

"Dia ... pria ini." Sherly terkesiap, jantungnya serasa mau lompat dari tempatnya. Belum lagi ketika menyadari tubuh polosnya yang hanya tertutup selembar selimut coklat muda. Dunia serasa mau kiamat detik itu juga.

"Bagaimana bisa ini terjadi?" Dengan tangan gemetar, Sherly lantas menurunkan tangan pria itu dari tubuhnya.

Selain kesadaran yang belum terkumpul seratus persen, pria itu juga dalam keadaan telanjang, sama seperti Sherly. Mereka berdua hanya dilindungi selembar selimut berbahan sutra.

Setelah mengenakan pakaiannya, Sherly duduk di tepi ranjang sembari menatap pria yang masih tertidur lelap itu.

"Apa yang terjadi denganku?"

Sherly mencoba mengingat kejadian tadi malam. Diakui, Sherly memang ikut minum minuman beralkohol yang disuguhkan oleh salah satu temannya, dan ini adalah pengalaman pertamanya mengkonsumsi minuman haram tersebut. Jelas, jika Sherly tidak memiliki toleransi tinggi pada minuman beralkohol, hingga dia langsung mabuk berat pada malam itu.

Sherly hanya ingin menghargai perpisahan yang telah dipersiapkan oleh teman-temannya, namun dengan polosnya, dia tidak memiliki pikiran akan berakhir seperti ini. Mabuk dan seterusnya berakhir di ranjang dengan seorang pria.

Lagi pula, mereka beramai-ramai di tempat tersebut, kenapa bisa Sherly sendiri yang terasing dan berakhir dengan seorang pria yang tidak dikenal?

"Siapa yang membawaku ke sini?" Sherly masih berpikir keras. "Apa aku datang sendiri untuk menawarkan diri pada pria ini? Ah ... Sangat memalukan."

Malam itu adalah malam pertama Sherly masuk ke dalam klub malam. Atas nama pertemanan, dia mengikuti teman-temannya yang sedang merayakan hari kelulusan. Karena mereka akan segera masuk ke universitas yang berbeda-beda, Sherly manut saja dan beranggapan jika pesta ini hanya untuk bersenang-senang dan akan berakhir dengan sekejap mata.

Di saat sedang memandangi pria di atas ranjang, Sherly teringat dengan sikap centil yang ditunjukkan bersama dengan teman-temannya.

Tidak bisa dipungkiri, Sherly and the gang yang masih dalam tahap pubertas sempat menggoda beberapa pria di dalam klub malam, termasuk pria yang sudah menjadi teman ranjangnya malam ini.

Untuk menguji kemahiran dalam merayu, mereka bahkan menunjukkan sikap liar di depan para pria. Tapi semua itu hanya akting semata dan hanya dilakukan malam itu saja untuk menuntaskan masa remaja yang akan berakhir.

"Aku harus tahu identitas pria ini."

Karena masih terlalu pagi, Sherly tidak berniat untuk membangunkan pria itu. Dengan mata awas, dia segera berjalan mengelilingi ranjang. Di atas lantai, Sherly menemukan celana panjang, lalu merogoh dompet di dalamnya.

Yang pertama Sherly lakukan adalah mengeluarkan sebuah kartu identitas. Tertulis nama Hansel Rosell. Dari tahun kelahiran, Sherly menyimpulkan usia pria itu 12 tahun lebih tua darinya.

Hansel telah berusia 30 tahun, sedangkan Sherly baru berusia 18 tahun.

Sherly telah tidur dengan pria yang lebih cocok menjadi omnya.

Namun dari sekian data-data yang tertera dalam kartu identitas tersebut, yang paling mencengangkan bagi Sherly adalah status dari Hansel. Pria yang sudah tidur dengannya ternyata adalah pria dengan status menikah.

"Dia sudah punya istri." Dengan satu tangan, Sherly yang terisak menutup mulutnya. Dia khawatir suaranya terdengar oleh Hansel.

"Aku sudah merusak rumah tangga orang." Sherly berpikir sejenak. Dia wanita, dan akan ada wanita yang tersakiti dengan kejadian ini.

Tanpa pikir panjang, Sherly meraih tas ranselnya dan bergegas meninggalkan ruangan mewah itu. Sebisa mungkin, dia akan menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi.

Pada saat keluar dari gedung hotel, Sherly tidak sengaja menabrak seorang pria.

Reynand nama pria itu. Dia adalah teman Hansel dan berniat mengecek kondisi sang sahabat setelah mendapat kabar dari salah satu rekan mereka.

"Ah ... ma ... maaf, saya tidak sengaja," ucap Sherly sambil membungkuk. Dia sengaja menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya agar tidak ada yang mengenali.

Apa yang dipikirkan orang luar saat melihat gadis berusia 18 tahun keluar dari sebuah hotel di pagi hari? Ah ... harusnya dia juga sadar, tidak pantas memasuki klub malam di usia yang masih sangat muda. Kini, hanya penyesalan yang tersisa. Sherly merasa hidupnya sangat buruk.

"Kamu tidak apa-apa?" Reynand justru mengkhawatirkan Sherly yang mungkin saja terluka.

"Tidak apa-apa, aku harus pergi." Sherly setengah berlari meninggalkan hotel.

Reynand tersenyum kecil dan tidak ambil pusing dengan tingkah laku Sherly yang berjalan terburu-buru.

"Gadis jaman sekarang." Reynand geleng-geleng kepala memandangi kepergian Sherly. "Entah apa yang dia lakukan di dalam hotel ini?"

Untuk mengurus proyek di kota itu, Hansel telah menginap beberapa hari di hotel tersebut. Jadi, Reynand tidak perlu lagi bertanya pada resepsionis. Langkahnya yang panjang langsung menuju sebuah kamar VVIP.

"Bangun woiii ...!" Reynand berteriak kencang sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuh Hansel.

Seketika Reynand tercengang menyaksikan tubuh bugil sahabatnya. Dia tidak menyangka jika Hansel mungkin baru saja bercinta dengan seorang wanita. Ditambah lagi ada noda merah di atas ranjang, apakah sahabatnya yang terkenal dingin dengan wanita itu baru saja berkencan dengan seorang perawan?

Hansel lebih panik. Beruntung dia tengah tengkurap saat itu. Tangan panjangnya segera meraih selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.

"Sialan kamu, sembarangan masuk kamar orang!" maki Hansel dengan kesadaran yang belum penuh.

Masih syok dengan kejadian tersebut, Reynand mematung di depan Hansel. Hanya kedua bola matanya yang bergerak tajam. Pandangannya jelas menyapu setiap sisi ruangan.

"Mau ngapain kamu ke sini?" Hansel bertanya kesal. "Kenapa tidak menelpon dulu?"

"Di mana gadis itu?" Bukannya menjawab pertanyaan Hansel, Reynand justru melempar pertanyaan baru. "Apa kamu ingin menyembunyikannya dariku?"

Hansel memijit pelipisnya. Dia juga baru menyadari keberadaan gadis yang sudah menghabiskan malam dengannya.

'Di mana dia? Apa dia sudah pergi?' Hansel berpikir sendiri. Dia masih mengingat rasa yang diberikan oleh gadis muda itu. Tidak mungkin dia melepaskannya begitu saja.

Di kamar lainnya.

Plak ... plak.

Dua orang pria muda mendapatkan tamparan keras dari seorang pria dewasa.

"Dasar goblok, sia-sia aku membayar mahal seluruh pengeluaran kalian tadi malam. Aku kembali gagal untuk mendapatkan Sherly," marah Ronald dengan wajah berapi-api.

Kedua pemuda itu adalah Johan dan Soni, teman mabuk Sherly malam itu. Mereka berdua adalah orang suruhan yang sengaja menjebak Sherly agar bermalam dengan seorang pria kaya raya. Namun naas, malam itu keduanya telah memasukkan mangsa ke dalam kamar yang salah.

Setengah jam kemudian, Hansel ditemani Reynand meminta staf hotel untuk memeriksa ruangan cctv.

"Aku ingin tahu siapa gadis yang masuk ke dalam kamarku tadi malam," Hansel berkata dengan tegas.

Bab 2

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Hansel tak kunjung menemukan titik terang. Beberapa bulan yang lalu, dia telah kembali ke kota asalnya, namun pencarian pada gadis misterius itu belum juga dihentikan.

Hansel menutup panggilan teleponnya setelah mendapat kabar yang sama dari seseorang yang diutus untuk mencari Sherly. Kini, wajah pria blasteran itu terlukis jelas kekecewaan setelah gagal menemukan gadis yang telah menghabiskan malam dengannya.

Baik Sherly dan dua pria yang menggotongnya ke dalam kamar malam itu hilang bak ditelan bumi. Tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka. Bahkan Hansel sudah meminta pihak kepolisian untuk menemukan salah satu di antara ketiganya, namun hasilnya nihil.

"Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi, mungkin gadis itu hanya ingin bersenang-senang denganmu malam itu. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, dia langsung pergi dan meninggalkanmu. Sekarang lebih baik fokus pada pekerjaan dan juga istrimu!" Reynand memberi nasihat pada Hansel yang sedang merengut.

Hansel melirik Reynand sekilas. Pikirannya masih tertuju pada gadis misterius itu. "Aku ingat dengan jelas saat dia mengatakan jika namanya adalah Vira, apa dia berbohong padaku? Makanya pihak kepolisian kesulitan mencari gadis dengan nama itu."

"Ya ampun, tak ada habis-habisnya membahas wanita itu. Kalian sama-sama mabuk malam itu, jadi tidak ada yang salah di antara kalian berdua.." Reynand berdecak, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah apa lagi yang harus dibahas untuk mengalihkan pikiran sahabatnya itu.

Satu hal yang paling dikhawatirkan oleh Hansel adalah keluarga besarnya. Jika gadis itu muncul dan membuka skandal yang terjadi malam itu, bisa hancur reputasi keluarganya.

Selama ini, Hansel selalu berhati-hati dengan kehidupan pribadinya. Tidak pernah dalam sejarah hidupnya melakukan kecerobohan. Semua dilakukan untuk menjaga nama baik keluarga yang sangat dihormati di kalangan atas.

"Bagaimana kalau dia memiliki niat buruk padaku?" Hansel bertanya lagi.

"Tapi buktinya sampai sekarang tidak ada kan," Reynand menjawab dengan tenang. "Ini sudah berbulan-bulan sejak kejadian itu, tidak ada yang mencurigakan."

"Siapa tahu dia sedang merencanakan sesuatu."

"Itu hanya pikiran burukmu saja, lupakan tentang malam itu!" Untuk membuat Hansel kembali rileks, Reynand pun mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, aku dengar kamu dan Lolita sedang menjalankan proses bayi tabung lagi? Bagaimana hasilnya?"

Hansel tidak terlalu peduli dengan pertanyaan itu, namun dia harus menjawabnya juga. "Selalu gagal, dan aku sangat berharap dia segera menghentikan usaha konyolnya itu," dengusnya.

"Aku turut berduka untuk itu," balas Reynand sendu. "Padahal Lolita adalah wanita yang baik, kenapa dia susah sekali untuk mendapatkan keturunan?"

"Kamu tahu sendiri gaya hidupnya sebelum menikah denganku. Aku juga tidak peduli dengan hasilnya, karena aku tidak begitu berharap memiliki anak dengannya," Hansel menjelaskan perasaannya yang hingga detik ini tidak memiliki rasa apa pun terhadap sang istri.

Pernikahan Hansel dan Lolita hanya sebuah simbiosis mutualisme, menguntungkan bagi kedua belah pihak. Mereka berdua menikah hanya untuk memuaskan keluarga yang selalu menuntut pernikahan pada anak-anaknya.

Di lain tempat.

Sherly tengah meringkuk di atas tempat tidur sembari memeluk perut buncitnya. Kehamilannya kini sudah memasuki trimester kedua. Meski berat untuk menjalani hidup ke depannya, dia mengambil keputusan untuk mempertahankan bayi yang tak berdosa itu.

Anggap saja ini adalah pelajaran hidup berharga agar tidak salah melangkah lagi di masa depan. Begitu pikiran Sherly saat menentang keluarga yang sempat memintanya untuk menggugurkan kandungan.

Sherly telah tidur dalam waktu yang lama. Dia bangkit dari pembaringan dan mulai membuka laptop di atas meja belajarnya. Walau pun sedang mengandung, Sherly yang tidak ingin mengabaikan pendidikan tetap melanjutkan kuliah yang sudah sempat didaftarkan. Dia memilih belajar online setelah memberikan beberapa alasan pada pihak universitas.

Di saat sedang fokus pada pelajaran di depannya, samar-samar Sherly mendengar suara berisik dari ruang tamu. Dia yakin kakaknya sedang datang bertamu dan membahas sesuatu hal yang penting dengan kedua orang tuanya.

Tak berselang lama, pintu kamar Sherly dibuka dari luar. Ibu, ayah, dan kakak Sherly menerobos masuk tanpa permisi.

"Sesuai perjanjian di awal, anak yang kamu kandung itu harus diberikan pada orang yang mau mengadopsinya," kata-kata Morgu terdengar tegas dan tanpa ampun. "Kamu tidak lupa dengan janjimu itu kan?" dia mengingatkan pada putri bungsunya.

Sherly hanya bisa menunduk dan memeluk perutnya. Meski anak dalam kandungannya hadir karena ketidaksengajaan, dia tetap menyayanginya dan ingin mencurahkan kasih sayang pada darah dagingnya itu.

Akan tetapi, janji yang sudah terucap harus ditepati. Sang ayah menuntut agar anak yang akan dilahirkan Sherly disingkirkan dari kehidupan mereka.

"Kakakmu sudah menemukan orang tua yang tepat, mereka akan menjaga anakmu dengan baik. Jadi kamu tidak usah khawatir dan memikirkan anak itu lagi!" Dibanding dengan Morgu, Rosali, sang ibunda lebih lembut saat menjelaskan pada putrinya yang malang.

Beberapa bulan kemudian.

Setelah melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki, Sherly tidak diijinkan untuk melihat putranya. Walau hanya sekali, sang ayah menolak keras dan segera menyuruh pihak tenaga medis untuk segera membawa bayi malang itu.

"Kamu jangan sedih gitu dong, kakak melakukan semua ini untuk kebaikanmu dan juga kebaikan kita semua," Selvi menghibur sang adik yang masih meratapi kesedihannya. "Sita itu teman baik kakak, jadi dia tidak akan mengecewakan kita. Kelak kalau kamu merindukan anakmu, kamu bisa menemuinya melalui Sita."

Sherly yang tadinya membuang muka langsung menatap kakaknya dengan perasaan haru. "Benarkah? Kakak tidak bohong kan?"

Sembari menggenggam kedua tangan Sherly, Selvi mengangguk dan tersenyum hangat pada adiknya. "Kakak pasti akan membantu sebisa mungkin."

Di sebuah villa mewah.

"Ini dia bayinya, Nyonya," Sita menyerahkan bayi mungil itu pada Lolita. "Dia sangat tampan dan baru berumur satu hari, sesuai dengan keinginan Nyonya," jelas Sita pada atasannya.

Lolita menerima bayi kecil itu dengan hati-hati dan penuh sukacita. Dia memandanginya dengan haru. "Akhirnya aku bisa memiliki anak yang bisa kuasuh dari lahir. Aku akan memberimu nama, Aarav Axelio Rosell."

Bab 3

"Kebohonganmu sukses kali ini, Loli," Hansel memuji istrinya dan menatap kagum pada wanita yang sedang duduk di sofa dan tengah memberikan susu pada bayi Aarav. "Kamu memang sudah sangat cocok menjadi seorang ibu, apa kamu yakin tidak akan ada yang curiga dengan kepergianmu selama ini?"

Selama berbulan-bulan lamanya, Lolita sengaja mengasingkan diri untuk mengelabui keluarga besarnya. Begitu mendapatkan kabar dari salah satu bawahannya, Lolita segera mengabarkan pada keluarga bahwa dia sedang hamil dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.

Biar bagaimanapun, keluarga besarnya selalu menuntut untuk memiliki anak kandung keturunan Rosell, bukan anak angkat atau adopsi.

Kehabisan akal, Lolita yang sudah pasrah dengan kesuburannya menerima penawaran dari Sita. Bahkan tanpa harus bertemu lebih dulu dengan wanita yang ingin menyerahkan bayinya, Lolita dengan mudahnya menyanggupi semua kesepakatan yang diajukan Sita.

"Tidak apa-apa berbohong, ini semua kan untuk kebaikan kita. Aku melakukan ini karena desakan mereka juga. Aku sadar diri bahwa aku bukan wanita yang subur seperti yang mereka harapkan, itu sebabnya aku mengadopsi bayi ini," Lolita menjelaskan tanpa ada rasa bersalah. "Dengan semua usaha yang sudah aku lakukan saat ini, siapa tahu setelah ini aku bisa hamil."

"Bagaimana bisa kamu hamil? Kita saja jarang bertemu. Bahkan melakukan hubungan suami istri pun masih bisa dihitung dengan jari," ledek Hansel dan tak sekali pun berniat untuk melihat bayi dalam pelukan Lolita. Tak ada rasa bersalah dan penyesalan juga saat mengatakan semua itu.

Lolita membeku dalam diam. Dia paham jika Hansel belum bisa mencintai dan menerima pernikahan dengan lapang dada, hingga enggan untuk menyentuhnya padahal usia pernikahan mereka telah menginjak tahun ke lima.

Pergaulan bebas yang dijalani Lolita sebelum menikah tidak bisa ditolerir oleh Hansel. Lolita pun tidak menuntut untuk dicintai selama Hansel tidak menceraikannya. Namun, dari semua sikap dingin Hansel, Lolita masih berterima kasih karena suaminya itu masih mau menyumbangkan sperma untuk memuluskan proses bayi tabung yang sedang mereka jalankan.

"Jangan membuang-buang waktu dan uang lagi!" Hansel mendesah pelan. "Ini untuk yang terakhir kalinya kamu memintaku melakukan proses bayi tabung. Jika gagal, berhenti dan terima nasibmu. Anggap saja bayi ini sebagai pelengkap hidupmu, yang akan mendampingimu seumur hidup," tekannya.

"Oke, aku paham." Walau terasa sangat menyakitkan, Lolita mengangguk berat. Dengan penuh kehati-hatian, dia mengangkat bayi Aarav dan menyodorkannya pada Hansel. "Apa kamu tidak ingin menggendongnya? Mulai sekarang, kamu juga harus menganggapnya sebagai anak sendiri."

Hansel berpikir sejenak saat matanya tertuju bayi yang masih merah itu, lantas tanpa ragu menolak. "Tidak, aku ingin mandi dulu. Minggu depan kita harus kembali ke kota, dan dikarenakan kita membawa bayi ini, kita harus mempersiapkan diri dengan hal-hal yang baru."

Lolita menarik diri dan mengabaikan penolakan Hansel. Apalagi yang bisa dilakukan selain kembali memberikan pelukan hangat pada bayi Aarav. Dalam hati, dia juga berjanji akan memberikan kasih sayang penuh pada bayi itu dan memperlakukannya dengan baik seperti anaknya sendiri.

Sebelum memasuki kamar mandi, Hansel kembali menatap Lolita yang begitu bahagia dengan kehadiran bayi itu.

"Aku lupa menanyakan sesuatu, Loli," ucap Hansel di depan pintu kamar mandi. "Di mana orang tuanya? Apa kalian sudah membuat sebuah perjanjian sebelumnya?"

Hansel tidak ingin terjadi keributan di kemudian hari.

Loli tidak ingin berbohong pada Hansel tentang asal usul bayinya, maka dia menjawab dengan jujur. "Bayi ini lahir tanpa pernikahan. Orang tua gadis itu sendiri yang ingin menyingkirkan bayi ini dari keluarga mereka. Itu sebabnya, aku tertarik untuk mengadopsi anak ini. Aku ingin membesarkannya sejak dia dilahirkan ke dunia ini."

Lima tahun kemudian.

Di bawah pengasuhan langsung dari Lolita, Aarav telah tumbuh menjadi anak yang ceria. Selain tampan dan cerdas, dia juga mudah bergaul dengan keluarga, teman sepermainan, dan juga saudara sepupunya.

Pada awalnya, hampir seluruh anggota keluarga mencurigai kehadiran bayi yang dibawa oleh Lolita dan Hansel. Kejanggalan dari proses kehamilan dan kelahiran Aarav membuat seluruh anggota keluarga curiga dan bertanya-tanya. Apa benar Aarav adalah anak kandung Lolita dan Hansel?

Namun, seiring berjalannya waktu, kecurigaan itu perlahan pudar dan memutuskan untuk menerima begitu saja. Alasan utama adalah wajah Aarav yang seperti copian Hansel, membuat keluarga besar Rosell urung untuk membahas identitas Aarav yang sempat dicurigai.

Ayah dan anak itu bak pinang dibelah dua. Keduanya memiliki banyak kesamaan dalam segi fisik. Lolita yang selalu bersama dengan Aarav sempat berpikir keras, mungkinkah Hansel ada hubungannya dengan sang anak adopsi?

Akan tetapi, Lolita tidak akan memiliki nyali yang kuat untuk menanyakan hal itu. Saat ini, yang terpenting bagi Lolita adalah Aarav selalu berada di sisinya dan menganggapnya sebagai ibu kandung. Itu sudah membuatnya cukup sempurna menjadi seorang wanita sekaligus ibu.

Siang itu, di rumah utama sedang diadakan pertemuan penting. Kegiatan tersebut lebih mengutamakan pembahasan tentang bisnis keluarga, yang mana Hansel saat ini masih mempertahankan jabatannya sebagai CEO di dalam perusahaan besar yang didirikan keluarga Rosell.

Alexander Rosell, ayah kandung Hansel, memiliki dua orang istri.

Hannah, istri pertama Alexander merupakan ibu kandung Hansel. Meski sudah berpisah rumah dengan Alexander, namun dia tetap mendorong putranya untuk mewarisi harta keluarga yang memiliki pendapatan fantastis pertahunnya. Dalam setiap pertemuan keluarga, dia tak sekali pun absen untuk menyaksikan perubahan peraturan internal perusahaan secara langsung.

Sedangkan Joanna, istri kedua Alexander memiliki dua orang anak, Jonny dan Tiffany. Ibu dan kedua anak itu sama-sama berambisi untuk menjatuhkan Hansel dari jabatannya.

Pada siang ini, mereka juga sudah memegang rahasia Hansel. Ketiganya yakin seratus persen jika Hansel kali ini akan lengser dari jabatannya.

"Sesuai kesepakatan di awal, aku ingin Papa menepati janji. Hansel harus turun dari jabatannya. Dia tidak pantas menjadi CEO di perusahaan, karena selama ini telah membohongi kita semua. Anak yang mereka bawa lima tahun lalu bukan keturunan Rosell, anak itu hasil adopsi, karena Lolita sendiri tidak bisa mengandung," Jonny menyeringai licik setelah mengungkapkan pernyataannya.

"Apa-apaan ini, Jonny?" sang kakek, Hilman Rosell lebih dulu bertanya. Hansel adalah cucu kesayangannya, jadi dia tidak terima jika ada yang berani menjatuhkan marwah cucunya. "Jika yang kamu maksud adalah tentang anak Hansel, maka lupakanlah! Percuma kamu bicara panjang lebar, tidak akan mengubah apapun."

"Benar yang dikatakan kakekmu, Jonny," Alexander ikut menimpali. "Percuma kamu mencurigai Hansel, dilihat dari segi manapun, Aarav itu sudah pasti anak kandung Hansel, bukan anak adopsi seperti yang kamu tuduhkan."

Hansel terlihat datar menunggu penjelasan saudaranya itu. 'Apalagi yang ingin dibuktikan cecunguk sialan ini?' dengusnya dalam hati.

Di sebelah Hansel ada Lolita yang langsung menutup telinga Aarav. Dia tidak ingin putranya itu mendengar tuduhan yang kerap keluar dari mulut tajam Jonny.

"Kali ini aku membawa bukti yang kuat, Kakek," Jonny terlihat bersemangat. Di depan semua orang, dia akan membeberkan kebohongan Hansel dan Lolita. Dengan tenang, dia memberi kode pada Tiffany untuk membawakan beberapa orang saksi yang telah dikumpulkan beberapa bulan terakhir.

Selang beberapa menit kemudian, dua orang wanita yang merupakan mantan pekerja di rumah lama Lolita muncul di depan semua orang.

Tanpa ada keraguan, kedua wanita jtu menceritakan jika Lolita tidak pernah hamil, dan anak yang sedang bersama di tengah-tengah mereka saat ini adalah anak yang diadopsi dari kota lain.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED