“Violet, awas …,” teriak seseorang sembari menarik tangan wanita yang hendak tertabrak sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Semua orang melihat ke arah mereka berdua dan juga sudah banyak para awak media yang mulai menyorotinya. Dengan cepat mereka semua mengelilingi wanita yang hampir saja kehilangan nyawanya.
Begitu banyak pertanyaan yang dilayangkan oleh mereka dan kilatan cahaya kamera yang menghujani Violet. Wanita yang bertubuh sintal itu hanya terpaku dan tidak menanggapi apa yang ditanyakan oleh awak media dan juga tidak peduli dengan kilatan cahaya kamera yang menghujaninya serta menyilaukan.
“Wanita bodoh … apakah kau ingin mati?” tanya wanita yang tadi sudah menyelamatkan Violet sembari menarik tangannya untuk menghindari semua awak media yang sudah mengelilingi.
Wanita itu terus memarahi Violet yang masih saja diam, dia tidak lain adalah Anya yang merupakan sahabatnya. Dia sangat kesal dengan sikap sang sahabat yang mendadak menjadi sebodoh ini.
Sebuah mobil berhenti dan mereka pun langsung masuk ke dalam mobil itu dan mobil pun berjalan dengan kecepatan tinggi meninggalkan sebuah gedung pertelevisian terkenal. Awak media yang melihat kepergian Violet langsung mengejarnya dan mereka harus mendapatkan berita besar.
“Mengapa semua ini terjadi padaku? Apa salahku sehingga mereka melakukan semuanya padaku?” Violeta bergumam.
“Tidak ada yang salah denganmu karena yang salah adalah mereka,” timpal Anya yang tidak terima jika sahabatnya itu menyalahkan dirinya sendiri.
Anya melihat ke samping dan dia melihat ada dua buah motor yang penumpangnya memegang sebuah kamera perekam. Dia semakin kesal dengan tingkah para awak media yang lebih suka melihat orang menderita demi sebuah berita yang bisa menggemparkan seluruh negeri.
“Bisa tidak kita menghindar dari awak media?” tanya Anya pada sopir yang sedang menyetir.
“Baik, Non saya akan mempercepatnya,” jawab sang sopir lalu dia menabah kecepatan laju mobilnya untuk menghindari awak media yang tidak menyerah untuk mendapatkan berita hangat.
Violet hanya diam dan masih tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dia sudah percaya dengan sepenuh hati dan juga tidak memedulikan apa yang dilakukan oleh orang itu padanya.
“Awas …,” teriak Anya yang melihat seorang pengendara motor yang menyalip.
Sopir pun membanting setir ke kanan dan ada mobil yang dari belakang melaju sangat cepat juga sehingga menabrak mobil yang ditumpangi oleh Violet. Mobil itu menghantam cukup keras sehingga mobil yang ditumpangi oleh Violet berguling sepanjang beberapa meter.
Semua yang melihat kecelakaan itu berteriak histeris dan langsung berlari menuju mobil yang sudah berhenti berguling. Mereka melihat keadaan korban yang ada di dalam mobil setelah itu salah satu dari mereka berusaha untuk membuka pintu mobil.
“Cepat hubungi ambulans dan polisi,” suara seseorang yang meminta siapa saja yang mendengarnya dengan nada yang tinggi dan penuh rasa khawatir juga.
Tidak begitu lama terdengar sirene ambulans dan juga polisi yang langsung mengamankan lokasi kejadian. Violet, Anya dan juga sang sopir sudah bisa di keluarkan dari dalam mobil dan tidak begitu lama mobil itu meledak. Sehingga membuat semua orang terkejut lalu mereka berlari secepat mungkin.
Violet dan korban lainnya langsung di larikan ke rumah sakit terdekat, mereka langsung mendapatkan penanganan dari dokter di rumah sakit itu. Beberapa saat kemudian datang seorang wanita paruh baya yang bertanya di mana putrinya berada.
“Suster, katakan di mana putriku?” tanya wanita paruh baya itu.
Suster itu bertanya apakah yang dimaksud adalah korban kecelakaan yang baru saja terjadi. Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya dan dia mengatakan jika putrinya ada di dalam mobil yang sudah terbakar.
Seorang wanita muda yang merupakan seorang perawat di rumah sakit itu langsung mengajak wanita paruh baya itu menuju tempat dokter yang sedang menangani korban kecelakaan. Setelah mengantarkan wanita paruh baya itu sang perawat pun pergi.
“Nyonya, sebaiknya Anda menunggu di sini hingga dokter ada yang ke luar dari ruang penanganan,” ucap perawat tadi sebelum dia pergi meninggalkan wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu duduk di sebuah kursi tetapi padangan kedua matanya masih melihat ke arah ruangan itu. Dia berharap jika sang putri tidak mengalami hal yang buruk, di dalam hatinya dia berdoa untuk keselamatan sang putri.
“Tuhan, jangan kau ambil Violetku hanya dia yang aku miliki,” ucap wanita paruh baya itu dengan nada lirih dan air matanya pun menetes membasahi kedua pipinya.
Sudah dua jam berlalu tetapi belum ada satu orang pun yang ke luar dari ruangan itu, wanita paruh baya itu semakin khawatir dengan keadaan sang putri. Dia beranjak dan berjalan mondar-mandir sebab dia merasa tidak tenang sebelum mendengar kabar Violet.
Kecemasannya semakin meningkat tatkala ada dua orang perawat yang sedang mendorong ranjang dari dalam ruangan itu. Wanita paruh baya itu menghentikan langkah perawat itu dan tangannya berusaha untuk menyentuh kain yang menutupi seluruh tubuh orang yang terbaring di atas ranjang dorong itu dan tangannya pun mulai gemetar.
Wanita paruh baya itu pun akhirnya membuka kain putih penutup itu dan dia merasa lega karena yang terbaring itu bukan sang putri tetapi sang sopir. Setelah melihat semua itu dia pun langsung menutupnya kembali dan kedua perawat itu kembali berjalan menuju ruang jenazah.
Dia kembali melihat ke arah ruangan itu lalu dia berkata, “Mengapa begitu lama?”
Ponselnya berdering dan dia melihat nomor yang tertera di layar ponselnya, dia langsung mengangkat teleponnya. Wanita paruh baya itu mengatakan tentang apa yang sudah terjadi pada orang yang ada di seberang telepon.
“Kau cepatlah datang aku sangat cemas,” ucap wanita paruh baya itu pada orang yang ada di seberang telepon lalu dia memutuskan sambungan teleponnya.
Dia masih berusaha untuk bersikap tenang dan terus berdoa atas keselamatan Violet, kedua kakinya terasa lemas dan dia pun akhirnya memutuskan untuk duduk sejenak. Beberapa saat kemudian dari kejauhan seorang pria berlari mendekat padanya.
“Bagaimana keadaannya?” tanya pria paruh baya itu pada sang istri yang tengah duduk di atas kursi dengan raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
“Belum ada kabar,” jawabnya singkat sembari melihat kembali ke ruang penanganan.
Mereka berdua pun menunggu hingga ada seseorang yang ke luar dari ruangan itu dengan perasaan cemas. Dalam benak mereka masing-masing hanya bisa berdoa dan berharap semua yang terbaik bagi putri tunggal mereka.
Seorang perawat ke luar dari ruangan itu dan mereka langsung beranjak lalu berjalan mendekat pada perawat itu lalu pria paruh baya itu bertanya, “Bagaimana keadaan putriku?”
“Apakah Anda keluarga dari, Violet?” Perawat itu bertanya pada kedua orang tua yang bertanya akan keadaan sang putri.
Perawat itu menunggu jawaban dari kedua orang paruh baya yang ada di depannya itu, dia sudah tidak bisa menunggu lama lai lalu dia kembali bertanya, "Apakah kalian berdua kerabat, Violet? Karena pasien saat ini memerlukan transfusi darah secepatnya."
“Ambil saja darahku,” ucap wanita paruh baya itu yang merupakan ibu dari Violet.
Dia rela jika harus memberikan seluruh darahnya demi keselamatan sang putri, dia tidak ingin kehilangan putri tunggalnya itu yang selalu menemaninya. Seorang putri yang selalu memberikannya kekuatan dan juga kebahagiaan di saat dia sedang merasa lelah dan bersedih.
“Baiklah kalau begitu Ibu bisa ikut dengan saya,” Perawat wanita itu berkata pada sang ibu sembari menunjukkan jalan yang harus dilewati hingga menuju sebuah ruangan untuk mengambil darahnya.
Sedangkan pria paruh baya yang tadi baru saja tiba merupakan ayah dari Violet dan dia memutuskan untuk menunggu di luar. Dia sama sekali tidak sanggup jika harus melihat sang istri harus mengeluarkan darah demi Violet.
Tidak berapa lama sang ibu pun ke luar dari sebuah ruangan setelah perawat itu mengambil beberapa kantung plastik darah. Perawat itu bergegas menuju ruang operasi untuk memberikan darah untuk pasien. Sebelum dia pergi perawat itu pun mengatakan pada sang ibu untuk berdoa dan untuk keberhasilan operasi yang dilakukan oleh dokter pada Violet.
Setelah mendengarkan apa yang diucapkan perawat itu sang ibu pun berjalan menuju sang suami yang masih menunggu di dekat ruang operasi.
“Duduklah kau terlihat pucat,” ucap ayah pada sang istri sembari memapahnya lalu membantunya untuk duduk di atas kursi.
“Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Violet? Aku tidak bisa kehilangannya. Mengapa semua harus terjadi padanya? Apa kau tahu mengapa hingga terjadi kecelakaan ini?” tanya sang ibu pada suaminya yang duduk di sampingnya.
“Aku belum tahu dengan pasti apa yang terjadi tetapi aku akan mencari tahu dan memberitahukannya padamu. Aku harap kau bisa kuat serta yakin jika putri kita akan baik-baik saja,” sambung sang suami pada istrinya guna untuk menenangkannya.
Tiga puluh menit beralu setelah perawat itu mengambil darah dari sang ibu tetapi terasa sangat begitu lama sekali. Sang ibu pun berdiri saat melihat seorang dokter ke luar dari ruangan itu, dia pun langsung berjalan mendekat pada sang dokter begitu juga dengan sang suami.
“Bagaimana keadaan putri kami?” tanya sang ayah pada dokter yang baru saja ke luar dari ruang penanganan.
“Operasinya sudah berhasil dan sekarang kita hanya menunggu hingga putri Anda sadarkan diri,” jawab sang dokter dengan wajah yang terlihat lelah.
Dokter pun mengatakan jika malam ini Violet tidak tersadar maka ada kemungkinan akan mengalami koma. Dia pun menjelaskan semuanya sejelas mungkin pada kedua orang tua Violet dan tidak sedikit pun sang dokter menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.
***
Satu minggu berlalu setelah kecelakaan itu terjadi dan berita tentang kecelakaan itu pun sudah tersebar luas di seluruh kota bahkan negeri. Pemberitaan awak media yang membuat semuanya menjadi lebih kacau lagi membuat semua orang merasa geram dengan apa yang dilakukan oleh Violet padahal mereka semua tidak tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi.
“Sayang, apa yang mereka katakan itu semuanya benar?” tanya sang ibu pada Violet yang tengah duduk di ranjang rumah sakit.
“Apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak ingat dengan semuanya. Bu, aku ingin berhenti,” jawab Violet dengan nada datar.
Sang ibu merasa sedih dengan apa yang sedang terjadi dengan putrinya itu, dia juga tidak tahu apakah berita yang beredar di media sosial benar atau tidak kebenarannya. Namun, sang ibu percaya penuh dengan putrinya sendiri karena Violet bukan wanita seperti itu.
“Bu, bagaimana keadaan, Anya?” tanya Violet yang masih belum bertemu dengan sahabatnya itu semenjak kecelakaan itu terjadi.
Ibu mengatakan jika saat ini Anya sudah mulai membaik dan dokter juga mengatakan tidak ada hal yang serius dengannya. Sang ibu pun mengatakan Anya sudah ke luar dari rumah sakit dan mungkin sebentar lagi akan tiba untuk mengunjungi Violet.
Setelah sang ibu mengatakan itu tidak begitu lama Anya masuk ke dalam ruang perawatan Violet. Dia terlihat sudah sangat baik dari hari-hari sebelumnya, Anya berjalan mendekat ke arah sang sahabat sembari tersenyum.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Anya pada Violet sembari dudu di sampingnya.
“Aku sudah membaik syukurlah tidak terjadi hal buruk padamu,” jawab Violet.
Anya tersenyum lalu dia memegang tangan sang sahabat dan mengatakan jika lukanya tidak terlalu parah. Sehingga dia bisa sembuh lebih cepat dibandingkan dengan Violet tetapi dia juga bersyukur dengan apa yang dilihatnya saat ini yaitu sang sahabat sudah pulih.
“Ibu, akan keluar dulu dan kalian bicaralah,” ucap sang ibu pada mereka berdua lalu berjalan ke luar dari ruang rawat inap.
Violet terdiam dan dia hanya melihat ke arah televisi yang baru dia nyalakan, dia melihat ada berita yang menyatakan tentang keburukannya. Dia merasa tidak pernah melakukan hal itu dan mengapa semua media mengatakan semua itu sehingga dirinya terlihat sangat buruk.
“Untuk apa kau melihat semua itu,” Anya berkata pada Violet sembari mematikan televisinya.
“Apakah yang mereka katakan itu benar? Apakah aku sudah melakukan hal sehina itu?” tanya Violet pada Anya yang merupakan sahabatnya yang sudah bertahun-tahun ada di dekatnya.
“Apa kau masih belum mengingat apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu?” Anya balik bertanya pada Violet sebab dia juga tidak tahu sepenuhnya dengan apa yang sudah terjadi kala itu.
Anya hanya tahu sebagian saja masalah itu dan memang semuanya terlihat memojokkan Violet tetapi dia sama sekali tidak percaya akan hal yang diberitakan di media itu. Dia pun berusaha untuk membuat Violet ingat semuanya agar bisa mengklarifikasi semua masalah yang sedang memanas di media sosial.
Violet berkata jika dia sama sekali tidak bisa mengingat semuanya dengan jelas dan entah mengapa dia tidak ingin mengingat semua itu. Dia merasa jika mengingat semua itu maka hatinya akan semakin sakit dan memilih untuk mengakhiri hidupnya.
“Pergilah selama beberapa tahun dari Jakarta dan kau bisa kembali saat semuanya sudah tidak memanas lagi bahkan mereka semua melupakanmu,” usul Anya pada Violet karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh Violet saat ini untuk menghindari caci-maki dari orang-orang dan juga kejaran dari awak media.
Violet memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh sang sahabat, dia masih belum bisa pergi dari Jakarta hanya satu hal yaitu sang ibu. Dia tidak ingin sang ibu merasa sedih dan kehilangan atas kepergiannya itu karena dia tahu dengan pasti sang ibu akan bersedih karena kepergiannya dari rumah untuk beberapa tahun.
“Apa aku sanggup meninggalkan ibuku?” jawab Violet.
“Pergilah. Ibu, akan selalu mendoakanmu dan jalani hidupmu dengan bahagia,” ucap sang ibu yang sudah mendengar apa yang diusulkan oleh Anya pada sang putri.
Lima tahun berlalu dan saat ini Violet tinggal di Paris, dia kembali melanjutkan pendidikannya di bidang desain pakaian. Violet pun sama sekali tidak melakukan kontak dengan keluarganya sebab masih ada saja yang melacak keberadaannya.
Kariernya di dunia mode pun sudah mulai meningkat sehingga dia sudah menikmati hidupnya di Paris. Dia sedang duduk di depannya suda ada meja dan kertas putih beberapa lembar dan di tangan kanannya ada sebuah pensil. Violet menggerakkan tangannya sehingga guratan lembut pensil itu membentuk menjadi sebuah gaun yang indah.
Terdengar suara dering ponsel, dia mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang menghubunginya. Dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya ada nama seseorang yang dia kenal sebagai penjaga sang ibu yang ada di Jakarta.
“Halo,” ucapnya pada seseorang yang ada di seberang telepon.
Violet mendengar suara seorang wanita yang terdengar khawatir dan dia juga mendengar tangis kecil dari orang yang ada di seberang telepon. Dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang itu dan tidak menyelanya.
Ada apa dengan ibuku?” tanya Violet pada orang yang ada di seberang telepon.
Orang itu pun langsung mengatakan apa yang sedang terjadi pada ibunya, dia juga mengatakan pada Violet untuk kembali ke Jakarta sebab dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Sebelum menutup sambungan teleponnya orang itu mengatakan jika ada seseorang yang selalu bertanya tentang keberadaan Violet dan selalu mengancam sang ibu untuk mengatakannya.
“Kau jaga ibuku hingga aku kembali ke Jakarta,” ucap Violet lalu dia memutuskan sambungan teleponnya.
Violet terdiam sejenak dan menyandarkan kepalanya ke belakang kursi, dia tidak mengira jika keadaan sang ibu sedang dalam keadaan yang buruk. Dia berpikir apakah dirinya harus kembali ke Jakarta sedangkan dia masih belum bisa kejadian lima tahun yang lalu tentang kecelakaan dan penghinaan semua orang-orang di media sosial.
“Ada apa? Kenapa kau terlihat gelisah?” tanya seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Violet.
Wanita itu adalah sahabat Violet yang memberikan usulan untuknya pergi dari Jakarta untuk beberapa tahun agar semua pemberitaan buruk tentangnya berhenti. Dia tidak lain adalah Anya yang sampai saat ini selalu ada di sisi Violet sebab dia sudah menganggap Violet sebagai saudarinya sendiri dan dia pun sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.
“Ibu sedang sakit dan aku harus kembali ke Jakarta,” jawab Violet atas pertanyaan yang dilayangkan oleh Anya.
“Aku akan siapkan semuanya dan kita kembali ke Jakarta secepatnya,” sambung Anya dan dia pun langsung berjalan pergi meninggalkan ruang kerja Violet.
Anya pun sudah menganggap ibunya Violet seperti ibu kandungnya sendiri sehingga dia merasa ikut khawatir juga jika sang ibu dalam kesulitan bahkan kesehatannya terganggu. Dia dengan cepat menghubungi seseorang untuk mengurus semua hal tentang kepulangannya ke Jakarta.
Di dalam ruangan kerja Violeta pun mulai bergerak cepat untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Sehingga di saat dia pergi semua pekerjaannya sudah terselesaikan tetapi dia masih tidak bisa mengerjakan semuanya dengan baik sebab pikirannya masih tertuju pada sang ibu.
“Aku tidak bisa berpikir lebih baik aku langsung merapikan apa yang harus aku bawa,” Violet bergumam dan dia pun langsung merapikan mejanya dan membawa beberapa berkas yang penting untuknya. Dia mengambil tasnya lalu berjalan ke luar dari ruang kerjanya.
Violet berjalan dan dia berhenti di depan sebuah ruangan dan dia melihat Anya yang sedang merapikan mejanya. Dia membukan pintu yang terbuat dari kaca itu lalu dia bertanya pada Anya, “Apa kau sudah siap?”
Anya menganggukkan kepalanya dan dia mengatakan jika dia sudah siap untuk kembali ke apartemen untuk merapikan barang yang akan dibawa ke Jakarta. Setelah mengatakan semua itu mereka pun berjalan menuju area parkir dan memasuki mobil.
Dia menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya ke luar dari area parkir dan langsung menuju apartemen. Dalam perjalanan menuju apartemen mereka sama sekali tidak bicara karena mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Tidak begitu lama mereka sudah tiba di apartemen dan mereka pun bergegas merapikan semua barang yang akan mereka bawa untuk kembali ke Jakarta. Violet sudah selesai dengan semua barang yang akan dia bawa. Begitu pula dengan Anya yang sudah selesai dengan apa yang akan dia bawa juga.
“Apa semuanya sudah siap dan bagaimana dengan tiket pesawatnya?” tanya Violet pada Anya.
“Sudah aku siapkan semuanya dan kita hanya menunggu di bandara,” jawab Anya pada Violet.
Anya juga mengatakan jika orang yang mengurusi semuanya adalah orang yang sudah terbiasa dengan hal yang mereka perlukan dengan cepat. Violet percaya dengan apa yang diaktakan oleh Anya dan dia pun mengajak sahabatnya itu untuk pergi ke bandara.
Mereka berdua pun berjalan ke luar dari apartemennya dan Anya sudah memesan sebuah taksi untuk mengantar mereka ke bandara. Sebuah taksi sudah menunggu mereka berdua di depan pintu masuk gedung apartemen dan mereka pun langsung masuk ke dalam taksi.
***
Setelah menempuh penerbangan yang melelahkan Violet pun tiba di bandara Jakarta, dia menghirup udara negara kelahirannya dan dia mengingat semua hal yang sudah terjadi. Dia langsung mengenakan kaca matanya agar tidak ada yang mengenalinya.
“Apa kau masih takut ada yang mengenalimu?” tanya Anya pada sang sahabat yang terlihat tidak nyaman.
“Aku tidak tahu apakah ini adalah rasa takut atau …,” jawab Violet tetapi dia menghentikan kalimatnya.
Violet kembali berkata pada Anya untuk langsung pergi ke rumah sakit sebab dia sudah ingin bertemu dengan sang ibu. Anya pun menganggukkan kepalanya dan mereka pun berjalan ke luar dari bandara untuk naik taksi menuju salah satu rumah sakit ternama di Jakarta.
Mereka berdua pun masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti di depan mereka, tanpa banyak berkata lagi Violet langsung mengatakan pada sang sopir taksi untuk membawanya ke rumah sakit yang dia inginkan. Sang sopir pun langsung tancap gas menuju rumah sakit yang dikatakan oleh penumpangnya.
Perjalanan menuju rumah sakit sangat lama karena jalanan ibu kota saat ini sedang padat dan membuat Violet merasa kesal. Sudah lima tahun dia tidak pernah merasakan hal seperti ini, begitu juga dengan Anya yang sudah mulai menggerutu karena keadaan jalanan yang padat.
“Kalau begini kapan kita bisa tiba di rumah sakit?” ucapnya dengan nada kesal.
Violet hanya diam meski dirinya juga kesal dengan jalanan yang super padat. Namun, semua gerutu dan kesal tidak dapat mengubah semuanya dan dia hanya berharap agar bisa tiba di rumah sakit secepatnya.
Satu jam berlalu sangat cepat dan akhirnya Violet tiba di rumah sakit, saat dia ke luar dari dalam taksi dan hendak mengambil tasnya ada seseorang yang menariknya masuk ke dalam sebuah mobil yang baru saja terhenti di depan Violet.
“Violet …,” teriak Anya yang melihat sahabatnya dibawa dengan paksa oleh orang yang tidak dikenal.