Zeana bersiap-siap untuk melajukan kendaraannya, hingga gerakan tangannya terhenti ketika ia menyadari sesuatu. Pemuda yang belum ia ketahui siapa namanya itu tiba-tiba saja didekati oleh seorang wanita dewasa yang mungkin usianya jauh di atas Zeana. Penampilannya begitu sangat seksi dan menggoda, dengan belahan dada yang memantul-mantul ke berbagai arah. Wanita itu pun tak segan-segan meraba-raba tubuh pemuda itu tanpa adanya perlawanan sedikitpun.
Sial! Tidak bisakah dia menepisnya sedikit saja? umpat Zeana di dalam hati.
Ingin sekali Zeana mengabaikan pemandangan yang merusak mata itu dan terus fokus pada tujuannya untuk pulang, namun perkataan pemuda itu kembali terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
'Aku masih perjaka dan belum terjamah, Tante. Tidak perlu memberi uang asal bisa mendapatkan tempat tinggal dan juga makanan.'
Deg! Wajah Zeana perlahan memucat. Jika memang tujuan pemuda itu adalah untuk bisa bertahan hidup, kehadiran wanita dewasa itu secara tiba-tiba sudah pasti sangat dibutuhkannya.
***
"Wah! Kau sungguh sangat tampan! Berapa usiamu?" goda wanita itu sambil terus menelusuri dada pemuda itu yang begitu rata dan juga tegap. Ketampanan yang dimiliki, sudah mampu menarik banyak perhatian darinya sejak tadi.
"Aku masih berusia 22 tahun, Tante." Pemuda itu menjawab dengan polosnya. Tidak merasa risih ataupun terganggu dengan tangan si wanita yang terus bergerak dengan berani.
"22 tahun?" pekiknya tak percaya. "Tidak mungkin! Perawakan tinggi dan tubuh tegapmu jauh di atas rata-rata. Apa mungkin kau memiliki seorang papa yang memiliki bentuk tubuh seperti ini?"
Pemuda itu mengangguk dengan ramah sambil tersenyum. "Papaku bukan berasal dari negara ini. Banyak yang mengatakan, jika perawakanku yang besar begitu sama dengannya."
"Wah! Pantas saja!" puji tante-tante itu dengan senang. "Kenapa kau bisa berada di tempat ini, Sayang? Apa kau mau ikut bersama denganku? Aku tak sengaja mendengar percakapan kalian dari kejauhan. Mendengar wanita itu sama sekali tidak menginginkanmu, tentu aku merasa sangat kasihan. Aku bisa memberikan apapun yang kau mau."
Pemuda itu pura-pura terpana. "Benarkah?"
"Tentu saja!" Wanita itu segera menggenggam tangan sang pemuda dengan reaksi tidak sabar. "Sebagai gantinya, kau harus menjadi milikku dan mengikuti apapun yang kuperintahkan. Tenang saja, aku pasti akan mengajarimu secara perlahan, dan memberikanmu segalanya. Bukankah itu yang kau inginkan?"
"Lepaskan tanganmu dari pemuda itu, Wanita berbaju kurang bahan!" Zeana menepis tangan nakal itu, dan menarik si pemuda untuk menjauh dan menempatkannya tepat di belakang tubuhnya.
"Tante ... ?" Pemuda itu pura-pura takjub dengan kedatangan Zeana, meskipun sebenarnya diam-diam ia sudah mengetahui jika Zeana tidak jadi pergi dan lebih memilih menghampiri dirinya kembali.
"Hei! Bukankah tadi kau tidak ingin menerima pemuda ini untuk ikut bersamamu?" Protes wanita itu dengan marah.
"Itukan tadi, bukan sekarang," dalih Zeana tanpa rasa takut.
"Tapi tetap saja pemuda itu kini sudah menjadi milikku! Dia sudah setuju untuk ikut denganku!"
"Oia?" Zeana bersedekap dada dengan penuh ketenangan. "Siapa namamu?" tanya Zeana pada si pemuda tanpa mengalihkan perhatiannya pada wanita itu.
Sungguh menjijikkan. Bisa-bisanya wanita ini meraba-raba pemuda polos ini dan akan menjadikannya sebagai alat pemuas nafsu secara terang-terangan.
"Namaku adalah Revan, Tante."
Zeana mendelik. "Jangan memanggilku Tante, aku masih muda tahu!"
Wanita itu pun tertawa. "Lihat! Mungkin wajahmu sudah terlihat sangat tua sehingga dia bisa memanggilmu dengan sebutan itu."
"Kau pikir Revan memanggilmu dengan sebutan apa, hah?"
"Aku akui memang sudah menjadi tante-tante di usia 38 tahun ini. Jadi, bukanlah sebuah masalah bagiku jika menginginkan Revan. Sedangkan kau ... Apa tujuanmu yang sebenarnya dengan tiba-tiba sekali ingin mendapatkan pria muda itu, hah? Padahal sesaat sebelumnya kau sudah menolak dan sempat melukai hatinya."
"Setidaknya pikiranku sama sekali tidak kotor dan berniat untuk menyelamatkannya. Tidak seperti kau!"
Revan menatap kedua wanita itu secara bergantian, lalu tersenyum. "Jadi, siapa sebenarnya yang akan membawaku pulang?"
"Tentu saja aku!"
"Tidak! Aku yang akan membawanya pulang!" Zeana tak mau kalah.
"Oke, begini saja. Biarkan dia yang memilih, dengan siapa dia akan ikut pulang." Wanita berpakaian seksi itu tiba-tiba saja mengusulkan sehingga Zeana mulai dihinggapi rasa khawatir. "Revan, sebenarnya kau ingin sekali ikut dengan siapa?"
"Dengan siapapun. Asalkan mau menampungku dan juga membiayai seluruh hidupku," ungkap Revan terus terang.
Zeana menganga. Kenapa membiayai tidak ada dalam ucapan pemuda itu ketika di awal mereka bertemu?
"Kau dengar itu? Apakah kau tidak merasa keberatan untuk membiayai segala hidupnya, hah?" tantang wanita itu lagi.
"Tidak! Siapa yang keberatan?" Zeana mulai terpancing dengan permainan ini. "Jika dia memilihku, maka aku akan bersedia untuk menanggung segala hidupnya. Jadi Revan, cepat kau pilih sebenarnya ingin hidup bersama dengan siapa?"
Revan mengamati keduanya secara bergantian. Wanita itu dengan tatapan matanya yang menggoda, sedangkan Zeana dengan segala keresahannya.
Bagaimana mungkin Zeana tidak merasa resah. Jika Revan ikut dengan wanita itu, Zeana hanya takut jika hidup Revan akan hancur. Meskipun Zeana sendiri tidak tahu akan seperti apa kehidupannya nanti jika Revan tiba-tiba saja ingin ikut bersamanya.
Revan tiba-tiba mendekat, memeluk pinggang Zeana dari arah samping selayaknya anak kecil yang meminta perlindungan kepada ibunya. "Aku lebih memilih pulang bersama dengan Tante."
Zeana nyengir, meski bertolak belakang dengan jantungnya yang berdebar hebat karena mendadak dipeluk seperti ini. Sungguh! Pelukan ini sangat jauh di luar prediksi.
"Kau dengar itu?" Zeana mulai menyombongkan diri sambil bersedekap dada. "Sejak awal Revan sudah memilihku. Dan meskipun kutinggalkan, dia tetap berharap jika aku akan kembali untuknya."
Wanita itu menggeram, merasa tidak terima. Namun ia tidak mungkin memaksakan kehendak yang hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. "Baiklah, aku kalah hari ini. Dan untukmu, Revan. Jika wanita ini tidak menginginkanmu lagi, jangan lupa segera hubungi aku." Sambil menyodorkan sebuah kartu nama yang berisikan alamat rumah beserta nomor teleponnya.
"Baik, Tante. Aku pasti akan segera menghubungimu jika sudah tidak dibutuhkan lagi." Revan menerima kartu itu dengan senang hati, membuat Zeana jengkel.
Kenapa sikap pria muda ini begitu polos dan tak ada takut-takutnya?
Dan wanita itu pun akhirnya pergi, setelah melempar senyuman penuh makna ke arah Revan yang terasa sangat menjengkelkan hati.
"Cepat lepaskan pelukanmu dariku!" perintah Zeana dengan galak.
Revan menurut, ia segera melepas pelukan itu. "Apa aku sungguh boleh ikut denganmu, Tante?"
"Lalu aku harus bagaimana? Setidaknya sampai aku tahu siapa kau sebenarnya dan apa yang sebenarnya kau inginkan dariku."
Revan tersenyum. "Aku hanya menginginkan Tante."
Ya Tuhan! "Jangan panggil aku Tante lagi!" jerit Zeana dengan frustasi. Rasanya ia ingin sekali berkaca. Apakah setua itu wajahnya hingga Revan tak bisa berhenti untuk memanggilnya dengan sebutan Tante? "Mulai sekarang, panggil aku Zeana saja."
"Baiklah." Revan tersenyum. "Aku akan memanggilmu dengan sebutan Zee agar kita terlihat semakin akrab. Bagaimana?"
Zeana mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Apa-apaan itu, hah? Memotong namanya dengan seenaknya jidat.
Zeana mengemudikan kendaraannya dalam diam, sibuk dengan pikirannya yang terus berputar tanpa henti. Sedangkan Revan sedang ada di sampingnya, ikut diam dan mengikuti apa yang sedang Zeana lakukan.
"Di mana rumahmu?" tanya Zeana tiba-tiba, memecah keheningan yang melingkupi keduanya sejak tadi.
"Tidak ada." Revan menjawab singkat.
"Tidak mungkin! Minimal sebelum terlunta-lunta di jalanan, kau tinggal di sebuah tempat."
"Aku tinggal bersama dengan nenek. Kebetulan nenek menempati sebuah rumah yang bukan milik kami, alias menumpang. Dan karena nenek baru saja tiada, maka tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal di sana karena pemilik aslinya ingin segera menempatinya lagi."
"Lalu, bagaimana dengan kedua orangtuamu?" Zeana bertanya lagi karena penasaran.
"Entahlah. Aku tidak tahu mereka ada di mana."
Zeana terdiam. Apakah itu alasan Revan harus tinggal bersama dengan neneknya selama ini? Hati Zeana tersentuh, mulai merasa kasihan. "Lalu, apa kegiatanmu sekarang, hm? Kau masih sangat muda dan memiliki paras yang sangat tampan, tidak mungkin jika tidak memiliki aktivitas sama sekali. Sungguh memalukan."
"Aku masih kuliah, Tante. Dan karena kau begitu sangat menginginkanku, bukankah seharusnya kau juga harus bertanggung jawab untuk membayar kuliahku?"
"Kenapa harus aku?" protes Zeana sebal.
"Karena aku adalah simpanan Tante mulai dari sekarang." Revan menjawab polos.
"Simpanan apanya?" Ya Tuhan! Zeana sampai menyentuh kening. Tapi mau bagaimana lagi. Inilah resikonya ketika Zeana ingin berbuat baik dan tidak mau mengalah dari wanita itu.
Kebetulan dirinya sudah bekerja dan memiliki penghasilan tetap di setiap bulannya. Semoga saja itu cukup untuk menghidupi mereka berdua.
"Baiklah. Aku akan membiayai kuliahmu mulai dari sekarang, namun tidak untuk selamanya. Kau harus mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai dirimu sendiri. Dan lebih bagus lagi jika selama tinggal denganku, kaulah yang bisa menghasilkan uang dan akulah yang akan menikmati semuanya."
Dalam hati Zeana merutuk. Kenapa tiba-tiba dirinya ingin sekali menjadikan Revan sebagai mesin pencetak uang? Mungkinkah paras dan perawakan Revan yang sangat sempurna mampu mempengaruhi kehidupannya yang dipenuhi oleh kesialan?
"Siap, Tante!" Zeana menoleh dan melotot, sehingga Revan harus segera meluruskan. "Maksudku ... Siap, Zee!"
Beberapa saat kemudian setelah sampai di rumah.
Zeana terduduk lemas, dengan mulut yang menganga ketika melihat universitas seperti apa yang pemuda itu sedang jalani dalam selembar kertas. Sebuah Universitas ternama, dengan biaya yang tak main-main besarnya. Bahkan, gaji selama 1 tahunnya hanya cukup untuk membayar satu semester saja.
Gawat!
***
"Apakah ini sungguh rumah milikmu?"
Berbeda dengan Zeana yang masih tercengang di kursinya karena fakta yang sangat mengejutkan ini, Revan justru malah sibuk mengamati keadaan rumah Zeana dan melihat-lihat.
Rumah sederhana, tidak bertingkah dan memiliki sebuah halaman yang baginya tidak terlalu luas. Jika dibandingkan dengan kediamannya, luas rumah ini hanya setara dengan setengah garasi mobilnya saja.
"Menurutmu ... ?" Zeana menjatuhkan wajahnya di atas meja, tampak menyesali sendiri akan keputusannya untuk menampung pria muda ini.
"Menurutku lumayan."
"Lumayan?" Zeana mendelik. Pria macam apa yang terlihat tidak memiliki apa-apa namun bisa merendahkan? Atau jangan-jangan ... Pria muda ini terbiasa berlagak hidup mewah bersama sang nenek seperti apa yang sering ia lakukan? "Apa kau sedang ingin mengkritik ataupun menyindir gaya hidupku yang terlihat mewah dan sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan? Aku akui, kau adalah orang asing pertama yang bisa memasuki rumah ini dan mengetahui kondisiku yang sebenarnya."
Revan tersenyum. "Bagiku tidak masalah. Sesekali aku pun melakukan hal yang demikian agar orang-orang tidak terus merendahkanku."
Zeana terpana. Sudah ia duga sebelumnya jika pemuda ini memiliki kebiasaan yang sama dengannya. "Coba aku lihat isi tasmu. Jangan-jangan kau membawa uang ataupun emas curian di dalamnya," tuduh Zeana sambil menengadahkan tangan.
"Tasku?" Revan duduk di sebuah kursi dekat Zeana, dan menyodorkan tasnya. "Tidak ada apapun, Tante. Aku sungguh tidak memiliki apapun selain beberapa berkas, buku, dan juga ponsel."
Tidak memiliki apapun katanya?!! Zeana terus menggeledah, dan terbelalak ketika melihat merk ponsel yang Revan miliki. Dan harganya sangat ia yakini bisa mencapai kisaran puluhan juta!
Astaga! Zeana bahkan tidak berani memperlihatkan ponselnya sendiri yang harganya sejuta lima ratusan, dan sering sekali mengajak berkelahi hanya karena masalah RAM.
"Aku tidak percaya jika kau tidak memiliki apapun!" Sambil menggebrak meja Zeana memberi tatapan tajam. "Bagaimana mungkin kau bisa berkuliah di universitas ternama dan memiliki ponsel yang tak main-main mahalnya, hah?"
"Mmm ... Bagaimana ya?" Revan menyentuh dagu dengan tenang. Wajahnya yang begitu serius ketika berpikir, membuat Zeana merasa semakin gemas karena ketampanan pemuda itu ... menjadi naik berkali-kali lipat. "Nenek diam-diam sering menabung, hanya untuk membelikanku sebuah ponsel dan juga memasukkanku pada sebuah universitas yang sangat ia sukai. Katanya, tidak masalah jika dirinya tidak bisa masuk ke dalam sana untuk mengejar pendidikan impiannya, asalkan aku bisa."
"Kalau begitu, seharusnya nenekmu memiliki tabungan lain dan memikirkan biaya sampai kau lulus nanti, bukan?"
Revan tersenyum. "Sayangnya tidak sampai sejauh itu. Itulah sebabnya aku begitu sangat membutuhkanmu, Tante."
Tubuh Zeana mendadak lemas. Sial! Seharusnya ia membiarkan pemuda ini diambil saja oleh wanita tadi.
Revan tiba-tiba membuka pakaiannya, membuat Zeana panik. "Apa yang ingin kau lakukan sekarang?!"
"Tentu saja belajar melayanimu, Tante. Aku tidak mungkin tinggal di sini secara cuma-cuma, bukan?" ungkapnya penuh polosan.
Ya ampun! Rasanya Zeana ingin sekali pingsan melihat leher dan dada Revan yang sudah terbuka dan sangat menggoda.
"Cepat pakai bajumu! Atau aku akan segera berteriak." Zeana sengaja memalingkan wajahnya yang sudah memerah untuk menjaga kesadaran.
Revan menurut, ia menutup pakaiannya kembali dengan heran.
Ya ampun! Baru beberapa jam saja rasanya Zeana hampir dibuat gila dengan segala tingkah polos pemuda ini. Andai saja Revan mengikuti tante-tante tadi, Zeana tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
"Kalau begitu, di mana kita akan tidur, Tante? Aku sudah sangat mengantuk."
"Kita?" Zeana berdecak. "Kau tidur di kamar sebelah, sementara aku tidur di dalam kamarku. Tapi ingat! Aku hanya akan menampungmu untuk sementara waktu setidaknya sampai kau memiliki pekerjaan dan bisa mendapatkan tempat tinggal yang lain, meskipun itu hanyalah sebuah kontrakan kecil."
"Apakah Tante sungguh tidak ingin ditemani tidur?"
Zeana memutar bola matanya jengah. "Kau ini bicara apa? Aku menampungmu dengan hati, bukan dengan nafsu. Aku akan pergi ke kamarku, awas saja jika kau berani masuk. Maka aku tak akan segan-segan untuk mengusirmu!"
Zeana memasuki kamarnya sambil tak henti-hentinya menggerutu. Di usia 27 tahun saja ia sudah disebut tante-tante, bagaimana nanti ketika ia menginjak usia 30 tahunan, mungkin lebih layak disebut nenek-nenek.
Revan menatap kepergian itu, dan juga pintu kamar yang sudah tertutup itu. Menyadari jika Zeana sudah tidak lagi terlihat, ekspresi wajahnya pun berubah cepat menjadi kaku dan dingin. Terpancar aura yang cukup misterius di sepasang matanya yang menajam, sedangkan bibirnya menipis dan mengetat dengan sangat tegas.
Sungguh! Seluruh senyuman dan keramahan yang sejak tadi terpasang di sana, seakan terhempas jauh tanpa meninggalkan bekas.
“Jadi ini adalah rumahmu?” gumamnya setengah mendesis. Matanya menjelajah secara rinci, lalu berdecih. “Bagaimana bisa wanita miskin sepertimu mampu mengambil banyak perhatian papa?"
Rahang Revan mengetat, begitu pun dengan setiap tangannya yang mengepal di sisi tubuh.
Wanita itu telah menjadikan wajah cantik dan juga tubuhnya yang indah untuk memikat banyak pria. Penampilannya yang selalu menarik, akan membuat siapapun bisa saja tercengang jika mengetahui keadaan Zeana yang sesungguhnya. Hanya memiliki rumah yang kecil, dan menurutnya sangat tidak layak untuk ditempati. Sungguh menyebalkan.