Bab 1

"Apa arti pernikahan menurutmu?"

Audrey mengangkat wajahnya. Hari masih pagi, jam kantor baru akan dimulai sepuluh menit lagi, tapi pria dengan rambut bergelombang di hadapannya sukses membuat mulutnya ternganga.

"Apa cuti terlalu lama membuat otakmu lamban?"

Perempuan itu mengerjap-ngerjapkan mata sementara hatinya menggeram kesal. Seandainya pria yang masih melayangkan tatapan tajam bukan bosnya, sudah ia pelototi balik agar tahu rasa.

"Audrey!" sentak Marshall kesal lantaran sekretarisnya belum juga memberikan respons.

"Eee … itu. Tadi Bos tanya apa? Maaf saya kurang jelas mendengarnya." Audrey menundukkan kepala seraya menggigit bibir bawahnya.

Decak kesal disusul kedua tangan berkacak pinggang menjadikan Marshall terlihat sangat arogan saat ini. "Saya tanya, apa arti pernikahan menurutmu?" ulang pria itu dengan sedikit penekanan pada setiap katanya.

"Mencari keuntungan?" jawab Audrey. Ia sendiri tak yakin mengingat setiap hari waktunya habis untuk bekerja dan memikirkan cara melunasi hutang ibunya. Di sisi lain, menikah juga tidak ada dalam kamus hidupnya, jadi untuk apa dia repot-repot memikirkan masalah itu.

Sebelah alis Marshall terangkat. Mata coklatnya makin mengintimidasi perempuan yang setahun terakhir bekerja padanya, sedangkan posisi tangannya sudah berganti menjadi bersedekap. "Maksudnya?"

Mulut Audrey sudah terbuka, siap meluncurkan kalimat untuk menjelaskan perkataannya tadi. Namun, sebelum itu terlaksana, Marshall lebih dulu menempelkan telunjuknya di bibir.

"Sst! Sebelum berbicara panjang lebar, lebih baik kamu buatkan kopi untuk saya terlebih dahulu. Tidak sopan sekali membiarkan bos berdiri, tapi sendirinya tetap duduk," kata Marshall, kemudian berlalu.

Begitu pintu ruangan atasannya tertutup rapat, Audrey menutup mulut agar tawanya tidak terdengar sampai ke dalam. Perempuan itu lantas bergegas menuju pantry untuk membuatkan kopi hitam dengan sedikit gula seperti biasanya.

Siap dengan minuman berwarna hitam pekat itu, Audrey yang kini sudah berdiri di depan ruangan bertuliskan "Chief Operating Officer" pun mengetuk pintu berwarna coklat di hadapannya. Ketika perintah untuk masuk terdengar, ia pun mengayunkan pintu tersebut. Dengan penuh hati-hati Audrey membawa dan menaruh minuman di nampan ke hadapan pria yang sedang duduk di sofa dengan salah satu kaki ditumpangkan ke paha satunya. Jika sudah begini, tandanya bosnya sedang ada masalah yang cukup berat.

Diiringi embusan napas kasar Marshall menurunkan kaki dan menegakkan tubuhnya. Diraihnya cangkir keramik yang ia beli langsung sewaktu liburan ke China tahun lalu, kemudian disesapnya minuman pahit itu.

Marshall berdeham rendah, lalu bertanya, "Apa maksudmu mencari keuntungan?"

"Banyak orang menikah karena mereka saling mencintai, tapi dibandingkan itu, menurut saya jauh lebih banyak orang yang menggunakan pernikahan sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan lebih, tanpa harus mengorbankan banyak hal," jawab Audrey. Sorot matanya menajam, seperti ada maksud lain yang ingin disampaikan perempuan itu.

Marshall tertegun memandang sekretarisnya. Belum pernah ia melihat Audrey menampilkan ekspresi semacam itu mau sekesal apapun perempuan itu padanya. "Drey?" panggilnya melihat Audrey melamun.

"Audrey! Apa kamu perlu ke dokter THT sekarang juga?" tanya Marshall lagi. Nada bicaranya naik setengah oktaf dan cukup berhasil membuat kesadaran Audrey kembali.

"Y-ya, Bos?" Audrey menelan ludah menyadari kesalahannya. Kepalanya tertunduk, pegangannya pada nampan dalam pelukannya makin erat. "Maaf, saya—"

"Kurang jelas mendengarnya?" potong Marshall sinis. Pria itu beranjak dari duduknya. Raut masam menghiasi wajah pria berdarah Amerika yang kini berdiri di depan jendela menatap jalanan yang tak pernah sepi di bawah sana. "Saya disuruh menikah," katanya.

Ingatan Marshall kembali pada momen sarapan bersama orang tuanya satu jam yang lalu.

"Kau tahu kondisi saat ini sedang memanas, 'kan?" tanya Anthony memastikan.

Marshall mengangguk. Tidak salah lagi, ayahnya pasti sedang membicarakan dewan direksi yang saling menusuk dari belakang untuk memperkuat posisi masing-masing.

"Untuk mempertahankan posisi kita, sebagai penerus kau harus menikah."

"Apa?" Marshall mengurungkan tangannya yang hendak meraih secangkir kopi.

Suasana ruang makan bergaya skandinavian itu mendadak tegang. Melihat Anthony sudah menyingkirkan sarapannya dan menyilangkan kedua tangan di dada, dapat dipastikan kalau pembicaraan ini akan berbuntut panjang.

"Menikah dan melakukan kerjasama antar dua perusahaan adalah cara paling mudah untuk mendapatkan power lebih."

"Jangan bercanda, Dad. Di antara yang lain, posisi kita yang paling kuat. Jadi, pernikahan bukanlah hal yang harus kulakukan. Pernikahan bisnis lebih tepatnya." Marshall tersenyum menyeringai. Sebab, selain menjabat sebagai CEO, ayahnya adalah salah satu komisaris perusahaan. "Kecuali, Daddy memiliki maksud lain," lanjutnya menyelidik.

Pandangan Anthony sontak tertuju kepada istrinya. Kening Ivanka sedikit berkerut. Raut wajahnya menunjukkan kekesalan lantaran putranya dengan sangat mudah membaca ke mana obrolan ini akan bermuara.

Tak mau membuang-buang waktu, Ivanka pun langsung berbicara ke intinya. "Kami ingin kamu menikah. Tidak! Kamu harus menikah!"

Marshall menghela napas panjang. Entah gerangan apa yang membuat ibunya akhir-akhir ini hobi membahas pernikahan. Apapun itu, dia sungguh tidak menyukainya. "Tanpa disuruh aku juga akan menikah kalau sudah menemukan wanita yang dirasa tepat."

"Jika tidak?" tanya sang ayah tak puas dengan jawaban putranya.

"Ya, tidak menikah." Marshall mengedikkan bahu acuh tak acuh. "Sesuatu yang dipaksakan akan berakhir buruk. Lagi pula, untuk apa menikah kalau ujung-ujungnya bercerai. Aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan orang yang salah. Mommy dan Daddy tidak usah khawatir, selama ini aku juga berusaha mencari pendampingku," imbuhnya tak lagi berselera menyantap sarapannya.

Marshall bangkit dari duduknya. Dipakainya jas warna hitam yang tadi disampirkan pada sandaran kursi setelah meneguk segelas air putih.

"Kamu terlalu sibuk mencari sampai tidak sadar jika di dekatmu juga ada perempuan yang menarik," ucap Anthony menggagalkan Marshall yang hendak melangkah.

Pria bertubuh jangkung itu memutar tubuhnya, kembali menghadap sang ayah. "Siapa perempuan yang Daddy maksud?"

"Davina," sahut sang ibu.

Tawa renyah Marshall pecah seketika. Apakah orang tuanya mantan pelawak sehingga pagi-pagi begini sudah membuat lelucon. Bagaimana bisa perempuan yang selama ini dianggapnya adik, tiba-tiba ia dekati untuk dijadikan calon istri.

"Davina itu sama seperti Moselle. Mereka adikku," ucap Marshall dengan sisa tawa di wajahnya.

"Kau tidak ada hubungan darah dengannya. Tidak masalah jika kalian menikah."

Marshall mengusap wajahnya, lalu terkekeh-kekeh hingga paras rupawannya memerah. "Apa Daddy sudah lupa kalau Davina anaknya Jose, orang yang Daddy benci?" tanyanya tak habis pikir.

Setelah memutuskan untuk menetap di Indonesia lima tahun yang lalu, Marshall sadar betul kalau hubungan keluarganya sangatlah rumit. Ayahnya yang memiliki anak dari mantan pacarnya, Emily, yang mana anak itu adalah Moselle, sedangkan dirinya adalah anak dari ibunya dengan mantan kekasihnya yang bernama Peter. Sementara Davina sendiri, dia adalah anak Emily dengan mantan suaminya, Jose.

"Itu dulu. Keadaan sekarang sudah berbeda," jawab Anthony tak suka masa lalunya diungkit-ungkit. Dia yang hampir menghabisi nyawa putrinya adalah hal yang paling ia sesali seumur hidupnya. Tak peduli Moselle sudah memaafkan dan hubungan mereka berubah layaknya ayah dan anak pada umumnya, hingga detik ini Anthony tidak bisa memaafkan dirinya setiap mengingat kejadian itu.

"Ya, ya." Marshall mengangguk-angguk.

"Jadi, kamu setuju, Son?" tanya Ivanka penuh harap.

"Tidak!" jawab Marshall sontak meredupkan binar di wajah ibunya.

"Kenapa? Davina gadis yang baik. Dia manis, lembut, dan menggemaskan."

"Justru karena hal yang Mommy sebutkan itu yang membuatku tidak mungkin dengannya. Pria sepertiku butuh seorang wanita yang tegas dan punya prinsip kuat, bukan perempuan manja dan labil seperti Davina," aku Marshall terang-terangan.

Ivanka memijit pelipisnya yang mendadak pening. Menyerah! Dari dulu dia memang tidak bisa memaksa Marshall untuk melakukan seperti apa yang diinginkannya. Putranya itu selalu mempunyai pilihan sendiri. Namun, Ivanka bangga sebab selalu ada alasan kuat dibalik setiap keputusan yang Marshall ambil.

"Seandainya benar menikah, setidaknya aku ingin memiliki istri seperti Moselle." Marshall menyunggingkan segaris senyum. Berbanding terbalik dengan ayahnya yang kontan melayangkan tatapan curiga.

"Apa maksudmu? Kau tidak menyukai Moselle, 'kan?"

"Tentu saja tidak!" sanggah Marshall cepat. "Aku bilang seperti, bukan berarti perempuan itu Moselle. Aku juga masih waras untuk tidak menginginkan istri sahabatku." Pria itu bersungut-sungut.

Anthony dan Ivanka pun bernapas lega. "Kalau begitu segeralah cari wanita yang menurutmu tepat atau setengah dari apa yang menjadi hakmu akan Daddy berikan kepada Miguel."

"APA?" Marshall tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Giliran Anthony yang terkekeh. "Kamu tidak terima? Daddy pikir pria yang melajang seumur hidupnya tidak membutuhkan biaya banyak. Kau juga masih bisa bekerja untuk menghidupi dirimu sendiri. Melihatmu masih suka mabuk-mabukan, Daddy tak yakin kau akan berumur panjang. Jadi, tidak masalah 'kan kalau kamu berbagi dengan keponakan kesayanganmu itu?" Pria yang rambutnya sudah banyak ditumbuhi uban itu tersenyum mengejek melihat urat-urat di leher putranya seketika menonjol.

Kedua tangan Marshall sudah mengepal. Dia tahu ayahnya sedang bermain-main, tapi sampai membawa-bawa harta? Ini benar-benar tidak lucu. Camkan itu!

"Aku berangkat," kata Marshall tak ingin bertambah pusing. Ia mengeluarkan kunci mobil dari saku celana, dan melangkahkan kakinya keluar rumah.

Bab 2

Usai menyimak cerita atasannya, Audrey jadi ikut termenung memikirkan perihal pernikahan. Bagi orang yang sudah menemukan seseorang yang dianggap tepat, menikah tentu saja tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang masih melajang di tengah usia yang telah matang, perbincangan seputar pernikahan adalah momok yang sebaiknya dihindari.

"Menurutmu, saya harus bagaimana? Kenapa dari tadi kau malah diam saja?" Marshall yang sudah duduk di kursi kebesarannya menatap kesal Audrey.

Wanita dalam balutan blus biru itu menarik napas panjang, berharap dengan ini kesabarannya bertambah dalam menghadapi bosnya yang hobi marah-marah. "Menurut saya, apa yang dikatakan Mr. Anthony ada benarnya."

"Kau membela ayahku?" Pria itu memalingkan wajahnya yang ditekuk.

Dari tempatnya berdiri, Audrey bisa mendengar deru napas Marshall. Kalau di dalam film kartun, pastilah sudah ada asap yang keluar dari hidung pria itu. Sayang sekali, Audrey tidak mungkin tertawa saat ini. Karena kalau nekat, bisa-bisa ia disuruh angkat kaki dari Hahn Corp. sekarang juga.

"Saya bukan membela, tapi seandainya Bos tidak menikah, maka satu-satunya orang yang tepat untuk menjadi penerus adalah keponakan Anda. Tentu saja setelah Anda—"

"Meninggal?" potong Marshall disusul senyuman sinis.

"Setelah Anda mundur dari jabatan yang diemban." Audrey menunduk dan memejamkan matanya sejenak. Sepertinya berduaan dengan komputer jauh lebih baik, daripada berlama-lama di ruangan ini. Ya, ia berharap Marshall mengusirnya dari ruangan pria itu.

"Jika memang tidak menikah, sudah pasti segala apa yang saya miliki akan jatuh ke tangan Miguel. Tetapi, dengan catatan harus saya yang memberikannya, bukan Daddy."

Kening Audrey berkerut samar. "Bukankah pada akhirnya sama saja? Kenapa Bos terlihat tidak suka jika harus berbagi harta dengan keponakan sendiri? Bos juga 'kan jadi tidak perlu pusing-pusing memikirkan masalah menikah."

"Simpel. Saya ingin Miguel mengingat saya sebagai uncle-nya yang paling baik hati." Kedua sudut bibir Marshall terangkat.

"Pamrih," lirih Audrey menatap nampan yang masih setia menemaninya.

Dia tidak percaya jika balasannya hanya agar seseorang mengingat kebaikan orang lain. Wanita berambut sebahu itu jauh lebih percaya kalau suatu hari, ketika bosnya sudah tua dan tidak memiliki uang, tidak ada seorangpun yang mau dekat-dekat dengannya karena sifatnya yang menyebalkan. Jadilah, pria itu harus melakukan tindakan yang membuat seseorang merasa punya hutang budi kepadanya.

"Kau bilang apa barusan?"

Tatapan setajam belati itu entah sejak kapan mengarah kepadanya. Audrey mengangkat wajahnya dan langsung menggelengkan kepala. "Saya tidak mengatakan apapun."

Marshall memutar kursinya sembilan puluh derajat. Detik berikutnya, embusan napas panjang pun terdengar. Marshall menundukkan kepala dan memijat dahinya pelan.

Audrey menatap atasannya dengan perasaan sedikit iba. Ingat, hanya sedikit! Lagi pula, untuk apa kasihan terhadap orang kaya. Hidupnya saja jauh lebih mengenaskan dari pria itu.

Marshall bosan bekerja bisa langsung terbang ke Lombok untuk sekadar cari angin segar. Sementara dirinya, mau bosan, kesal, atau suasana hatinya sedang buruk, tetap saja ia harus bekerja dan tersenyum di depan semua orang. Huh! Audrey terkadang iri dengan orang-orang seperti itu.

"Apa jadwal saya hari ini?" Marshall menengok ke arah Audrey. Pikirannya sudah lebih tenang dibandingkan tadi.

"Rapat dengan para direktur. Selain itu, hanya mengecek beberapa laporan terkait perkembangan produk yang nantinya akan diluncurkan."

Marshall mengangguk kecil. "Baguslah. Kebetulan saya juga sedang tidak ingin ke mana-mana. Jadi, kau bisa langsung pulang setelah jam kantor selesai."

Sesudah membungkukkan badan, Audrey berjalan keluar ruangan dengan bongkahan kelegaan yang memenuhi dada. Namun, sebelum tangannya berhasil meraih gagang pintu, sebuah seruan kembali terdengar.

"Jangan lupa untuk mampir ke dokter THT supaya saya tidak perlu mengatakan hal yang sama berulang kali."

Rona bahagia di wajah Audrey seketika lenyap. Dengan senyum yang dipaksakan, ia menoleh ke arah atasannya. "Siap, Bos."

Kepatuhan yang sekadar di mulut sebab begitu jam dinding menunjuk pukul empat, Audrey langsung bergegas ke halte terdekat. "Dikiranya uangku tumpah-ruah sampai harus mengantre di rumah sakit cuma gara-gara kurang jelas mendengar!" batin Audrey menggerutu. Perempuan itu kemudian mengambil earbuds dan memakainya sembari menunggu bus tiba.

Belum selesai satu lagu diputar, transportasi yang ditunggu-tunggu akhirnya sampai. Bersama beberapa orang yang berpakaian tidak jauh berbeda darinya, Audrey menaiki kendaraan itu selama kurang lebih lima belas menit. Sebuah warung pinggir jalan dengan banner bertuliskan Warung Makan Pak Kumis yang menjadi langganannya sejak SMA menjadi tujuan wanita itu sebelum kaki jenjangnya menelusuri gang menuju rumahnya.

Lupakan tentang pelukan hangat dan senyum menenangkan yang diberikan seorang ibu begitu anaknya pulang sebab Audrey tak pernah mendapatkannya. Kepulan asap rokok yang mengudara dan aroma alkohol yang menguar ke seluruh penjuru ruangan terasa lebih familiar dibandingkan segala-galanya.

Audrey menarik napas panjang sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur. Ditaruhnya kantong plastik berisi dua potong ayam bakar yang tadi ia beli.

Sukma berjalan mendekati anaknya dengan wajah sumringah. "Kamu beli lauk apa, Drey? Kebetulan banget beras yang Mama masak udah berubah jadi nasi."

"Lihat aja sendiri." Tatapan kesal Audrey layangkan kepada ibunya. Sukma yang tak peka membuatnya harus menutup hidung dan barulah wanita itu mengerti.

"Maaf," ucap sang ibu seraya menjauhkan tangannya yang mengapit sebatang rokok.

Audrey tak lagi menanggapi. Badannya sudah terlampau lelah untuk mengingatkan sang ibu agar tidak merokok di sekitarnya. Dia berjalan memasuki kamar, melempar tasnya ke ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya di sana. Pikiran wanita itu berkelana tatkala matanya menatap kosong langit-langit kamar yang beberapa titiknya terdapat sawang.

Orang bilang rumah adalah tempat ternyaman untuk melepas penat, tapi Audrey justru merasa sebaliknya. Rumah adalah tempat di mana ia merasa bebannya makin bertambah berat. Kepingan-kepingan memori yang tak ingin diingat berputar-putar seiring dengan mata sipitnya yang perlahan terpejam.

"Audrey, kata bokap gue, nyokap lo enak."

Sebuah kalimat mencengangkan terdengar lirih di telinga gadis yang baru tiga bulan menjejakkan kakinya di sebuah sekolah menengah atas. Siapa sangka pada saat jam istirahat pertama, berita itu sudah menyebar ke seantero sekolah.

Sejak saat itu senyuman sinis, tatapan jijik, hingga pelecehan fisik maupun verbal Audrey dapatkan seolah-olah dia memang pantas menerimanya. Angan-angan gadis itu untuk memiliki kenangan indah pada masa sekolah seketika sirna. Audrey kembali menjadi seseorang yang menghabiskan waktunya di sudut perpustakaan untuk melahap bermacam-macam buku yang ada. Karena itu, dia yang tak memiliki teman dan selalu dipandang sebelah mata konsisten menduduki urutan pertama di setiap ujian akhir semester. Ya, Audrey mendistraksi segala rasa sakitnya dengan belajar dan belajar sebab mencari pembelaan pun tak ada gunanya.

"Jangan banyak menuntut kalau 50% SPP-mu masih dibiayai sekolah," ucap seorang guru yang katanya ditugaskan untuk membantu murid yang memiliki masalah.

Dulu mungkin Audrey murung, tapi kini ia justru tertawa acap kali mengingatnya. Tak berselang lama, pintu kamar gadis itu tiba-tiba diketuk. Mau tak mau Audrey membuka mata lantaran suara ibunya sangatlah mengganggu.

"Drey, makanannya udah Mama siapin. Ayo, kita makan," ajak Sukma dari luar pintu kamar. Dia memang tidak pernah masuk jika anaknya tidak menyuruhnya. Setakut itu ia pada putrinya.

Audrey mendesah pelan, lalu berkata, "Mama makan aja dulu. Aku mau mandi."

Tidak ada sahutan, itu artinya ibunya sudah berlalu. Audrey lantas turun dari ranjang dan meraih handuknya. Tanpa disengaja, tatapannya jatuh pada sebuah benda tajam yang tergeletak di meja. Audrey mengambilnya dan membawa serta ke kamar mandi. "Udah lama enggak, kan?" gumamnya tersenyum.

Bab 3

Audrey segera menengokkan kepala begitu mendengar derap langkah kaki. Benar saja, dari arah lift dapat ia lihat bosnya berjalan dengan raut wajah kesal. Mungkin efek masalah kemarin yang belum juga kelar. Audrey bangkit berdiri dan menundukkan kepala ketika atasannya melintas, kemudian menuju pantry untuk membuatkan minum.

"Teh hijau!"

Seruan itu datang dari arah belakang. Audrey berbalik badan, lalu berkata, "Baik, Bos."

Tak butuh lama, secangkir teh hijau kini telah tersaji di meja. Namun, pria yang memintanya, belum juga menyentuh untuk sekadar mencicipi.

"Audrey, saya bingung," kata Marshall muram.

Audrey menarik napas panjang. Hatinya berdoa penuh harap agar bosnya tidak lagi menghabiskan awal hari ini untuk melakukan sesi curhat seperti kemarin. Terlebih topiknya seputar pernikahan. Sungguh Audrey tidak tahu bagaimana menanggapinya sebab bukankah akan lebih baik jika Marshall curhat kepada seseorang yang telah menikah. Agaknya pria itu salah memilih orang.

"Apa saya memang harus menikah?" tanya pria itu lagi.

Nah, benar 'kan dugaan Audrey. "Menurut saya, menikah bukan suatu keharusan. Tetapi, jika Anda memiliki keinginan untuk ke sana, Anda bisa mencoba mendekati wanita. Siapa tahu ada yang cocok."

"Wanita siapa?" Marshall mengembuskan napas kasar. "Kau tahu dengan siapa saya berteman selama ini."

Hansen, Theo, dan Evan. Ketiga pria itu adalah teman bosnya. Audrey hafal karena sering diminta ikut dalam berbagai acara yang digelar oleh keluarga konglomerat itu. Lebih dari atas nama teman, Hansen adalah adik ipar Marshall.

Dengar-dengar dari karyawan yang lebih senior, dulu keluarga Hahn berseberangan dengan keluarga Wilkinson, keluarganya Hansen. Baru setelah insiden besar terjadi, kedua keluarga itu bisa berdamai dan kini menjalin kerja sama. Mulanya Audrey juga bingung, tapi seiring berjalannya waktu ia mulai memahami hubungan keluarga yang rumit itu.

"Mungkin Bos hanya berteman dengan Tuan Hansen, Theo, dan Evan, tapi jangan lupakan para wanita yang setiap hari mengirim pesan kepada Anda." Audrey mengingatkan. Lagi pula, kesal juga setiap habis makan siang diminta membalas pesan dari wanita-wanita itu. Siapa tahu dengan cara ini bosnya mau turun tangan sendiri.

Terkadang Audrey juga dibuat bertanya-tanya, apakah anak-anak sultan itu tidak memiliki kesibukan atau setidaknya urat malu lantaran tak henti-hentinya mengejar seorang pria. Entah apa jadinya jika mereka tahu kalau selama ini sekretaris dari Marshall yang membalas pesan-pesan itu. Mungkin Audrey akan dijambak. Ah, tidak! Sepertinya para wanita itu bisa lebih kejam dari sekadar menarik rambut. Uang 'kan bisa melakukan segala-galanya.

"Apa mereka cukup menarik?" Lagi dan lagi Marshall bertanya.

"Menarik atau tidak semua tergantung Anda, tapi sepanjang saya berbalas pesan, mereka cukup menyenangkan." Audrey berbohong. Mereka adalah orang-orang paling membosankan yang pernah Audrey temui.

Bayangkan saja, setiap hari hanya mengirim foto entah baju, tas, atau sepatu, kemudian bertanya mana yang paling cocok dengan gaya mereka. Mentok-mentok pamer kalau sedang berada di negara tempat Marshall dibesarkan berujung meminta rekomendasi tempat yang jarang diketahui orang asing.

"Kau yang memilih," perintah Marshall.

Mata Audrey sontak membulat. "Ma-maksudnya?"

"Kau yang menentukan siapa dari wanita itu untuk diajak makan malam denganku."

Bibir Audrey berkedut menahan umpatan. Mengapa perkara seperti ini saja dia mesti ikut terlibat? Padahal, tinggal tunjuk saja wanita mana yang Marshall inginkan. "Tapi, Bos …."

"Kau yang tahu mereka. Jadi, kau pasti bisa menerka mana yang kira-kira cocok. Dan ingat, jangan sengaja memilih wanita yang membuatku kesal."

Senyuman tertahan terlukis di bibir tipis Audrey. Sial, belum juga menjahili, tetapi atasannya sudah bisa membaca pikirannya. Mungkinkah Marshall memiliki bakat cenayang? Entahlah, itu tidak penting sekarang. "Di ponsel Anda ada banyak foto mereka. Mungkin Bos mau melihatnya lebih dulu?"

"Boleh."

Kaki kiri Audrey sudah maju dan siap melangkah. Namun, sebelum itu berlanjut, Marshall menjentikkan jari dan mengarahkan telunjuknya kepadanya sebagai tanda supaya berhenti. "Lakukan itu nanti. Sekarang kita ke ruangan Daddy membahas hasil rapat kemarin."

Sorot mata penuh kekesalan dapat Audrey tangkap dari mata coklat atasannya. Rapat kemarin memang berjalan cukup alot gara-gara voting masalah perangkat lunak versi baru dan lama yang berakhir seri.

"Baik, Bos." Audrey keluar dari ruangan dan mengambil berkas hasil rapat. Ia mengekori langkah panjang Marshall menuju ruangan yang letaknya dua lantai lebih atas dari tempatnya berada.

***

"Aku sudah sangat percaya diri kemarin. Tapi, setelah mendapat beberapa kritikan, aku berusaha mengubahnya. Dan, itu desain akhirnya. Aku ingin menunjukkan pada Daddy, sebelum nanti presentasi di depan wakil dari kedua perusahaan," ucap Hansen panjang lebar. Ya, alih-alih berdiskusi dengan ayah kandungnya, ia justru meminta pendapat ayah mertuanya.

"Sudah bagus, Hansen. Semoga saja mereka setuju." Terselip senyum penuh kebanggaan dari bibir Anthony. Ia lantas mengalihkan pandangan dari layar monitor ke arah menantunya. "Oh, ya, bagaimana keadaan papamu?" tanyanya mengalihkan topik saat dirasa tak ada lagi masalah pekerjaan yang ingin dibahas.

"Papa sudah membaik. Pagi ini dia sudah dibolehkan pulang oleh dokter." Walaupun sudah mengenal cukup lama ayah kandung dari istrinya, Hansen masih saja canggung jika hanya berdua di ruangan yang sama dengan Anthony. Dan agaknya, pria tua itu pun demikian.

"Daddy akan mengunjungi papamu sore ini," kata Anthony tak membiarkan hening menguasai.

"Nanti aku beritahu Ibu," jawab Hansen. Ekor matanya lantas melirik ke kanan dan ke kiri. Sial! Seharusnya dia tidak menurut begitu saja pada Moselle untuk menemui Anthony seorang diri mengingat ada tujuan lain ia datang ke tempat ini.

Anthony yang menangkap keresahan di wajah oriental Hansen jadi bertanya, "Apa ada hal lain yang ingin disampaikan, Han?"

Pria itu terkekeh. "Apa wajahku sangat kelihatan kalau sedang ada maunya?" tanyanya berusaha sesantai mungkin.

"Orang yang bisa melihat sisi lain darimu akan sangat mudah memahamimu. Katakan saja. Daddy pasti akan membantumu."

Hansen menarik napas panjang, sebelum kemudian berkata, "Akhir pekan nanti aku dan Moselle akan pergi ke Swiss. Kami sudah menyiapkan semuanya, tapi Papa tiba-tiba sakit. Kalau dititipkan di rumah mereka, aku tidak enak apalagi di sana ada istrinya Evan yang sedang hamil besar. Mereka pasti sangat repot. Jadi, kami berencana menitipkan Miguel pada Daddy. Apa Daddy mau?"

Ya, sejak enam bulan yang lalu, Hansen memutuskan pindah ke rumah yang ia beli sebagai hadiah ulang tahun untuk Moselle beberapa tahun silam. Walaupun di awal Frederick, ayahnya, sempat keberatan, tetapi akhirnya papanya itu mengizinkan dengan catatan harus sering-sering main ke rumah.

Bukan tanpa alasan Frederick menahan agar anak-anaknya yang sudah berkeluarga tinggal bersamanya, dia hanya ingin keluarganya berkumpul setelah berbagai masalah yang menimpa. Terlebih anak bungsunya, Dante, kini sedang menyelesaikan pendidikan di negeri Paman Sam.

Alih-alih menjawab pertanyaan Hansen, Anthony justru balas bertanya dengan nada menggoda, "Kau mau bulan madu lagi?"

Sontak saja Hansen menutupi wajahnya yang memerah dengan tawa renyah yang pecah seketika. Sungguh sikap malu-malu kucing begini bukan Hansen sekali. Moselle pasti akan tertawa jika mengetahuinya. Namun anehnya, Hansen seperti ini hanya jika bersama Anthony.

"Begini, Han—"

Ucapan Anthony terpaksa terhenti lantaran pintu ruangannya diketuk. Begitu menyuarakan perintah masuk, dua orang yang tidak lain adalah Marshall dan Audrey pun muncul.

"Kebetulan sekali," ucap Anthony mendapat tanggapan tak mengerti dari kedua putranya. Pria itu lantas beranjak dari kursi kebesarannya yang langsung diikuti oleh Hansen.

Mereka, tentu saja kecuali Audrey, kini duduk di sofa berwarna krem yang biasa dijadikan tempat untuk menerima tamu.

"Aku tidak tahu kau akan datang, Han," ucap Marshall cukup kaget dengan keberadaan Hansen.

"Tentu saja. Kau 'kan bukan istriku. Jadi, untuk apa aku harus laporan kepadamu." Hansen menjawab dengan nada menyebalkan.

"Lihat, Dad. Betapa ribetnya seorang pria beristri karena mesti laporan kalau ingin pergi ke mana-mana." Marshall mencela. Hitung-hitung sebagai upaya untuk meruntuhkan keinginan orang tuanya yang berharap dirinya menikah.

"Hei, pria tidak berpengalaman!" sanggah Hansen tak terima. "Memberitahu pasangan ke mana dan dengan siapa kita pergi adalah salah satu kunci keharmonisan keluarga."

"Tidak berpengalaman katamu? Walaupun kau sudah menikah, tapi aku bisa menjamin kalau aku jauh lebih berpengalaman darimu." Marshall tersenyum penuh kemenangan.

Hansen menyengih, lalu dengan senyum sinisnya ia membalas, "Apa yang kau maksud pengalaman adalah 'berhubungan' dengan siapa saja dan kapan saja?" Jari telunjuk dan jari tengah pria itu membentuk tanda kutip.

"Sudah-sudah. Bicara apa kalian ini." Anthony menengahi. "Kalian lupa ada Audrey di sini?"

Marshall mengembuskan napas panjang, begitu pula Hansen. Sementara Audrey yang masih setia berdiri di sebelah kanan tempat Marshall duduk memasang wajah lempeng seolah tidak mendengar apapun.

Begitu suasana sudah lebih tenang, Anthony menjelaskan kepada Marshall tentang Hansen yang akan menitipkan Miguel. "Daddy sama sekali tak keberatan. Justru senang kalau ada anak kecil yang menjadikan rumah ramai. Hanya saja hari Minggu nanti, Daddy harus ke Singapura untuk menemani Mommy."

Kening Hansen seketika berkerut. Pusing memikirkan cara lain setelah plan B juga tampaknya gagal, atau memang seharusnya dia tidak pergi bulan madu bersama istrinya?

"Kau tidak usah khawatir, Han. Daddy dan Mommy mungkin tidak bisa, tapi sepertinya Marshall bisa. Hari Minggu saja, Marshall. Kau mau, 'kan?"

"Aku?" Marshall menunjuk dirinya sendiri.

"Akan ada nanny yang mengurusi makan, mandi, dan segala macamnya. Kau hanya mengawasi dan sesekali bermain bersama jika Miguel meminta." Hansen menerangkan.

Marshall mengangguk-angguk. "Oke, aku tidak masalah absen berkuda minggu ini. Tetapi, kalau hanya berdua dengan seorang nanny …." Marshall melirik Audrey, lalu berkata, "Audrey, hari Minggu kau datang ke rumah. Temani saya menjaga Miguel."

Hampir saja Audrey tersedak ludah sendiri kala mendengarnya. "Apa dia bilang? Menemaninya menjaga keponakannya?" batin wanita itu mengerang.

"Ini di luar jam kerja. Jadi, nanti ada bayarannya sendiri," ucap Marshall disusul seringai menyebalkan.

"Baik, Bos," jawab Audrey terpaksa. Memang betul dia butuh uang, tapi tidak dengan cara hari Minggu tetap bekerja. Dasar tirani!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED