Bab 1

At Shanghai, China.

_____

Sebuah pagi yang begitu cerah di kota Shanghai, China. Selamat datang di kota metropolitan terbesar masyarakat Tiongkok.

Di sinilah surganya segala kemewahan dunia berada. Katakan saja apapun yang kalian inginkan!

Tempat hiburan malam? Tempat berbelanja barang-barang mewah? Atau perusahaan besar dengan gaji fantastis? Jangan khawatir, kalian akan menemukan segalanya di sini.

Tepat pukul 9 waktu setempat, seorang pria tampan berjuta pesona turun dari mobilnya. Dia berjalan memasuki sebuah gedung besar yang di ketahui adalah milik keluarga Ling.

Dia Ling Yue, anak laki-laki satu-satunya keluarga Ling. Hari ini adalah hari pertama Ling Yue menjabat sebagai seorang Presdir di perusahaan milik keluarganya.

Ling Yue genap berusia 28 tahun ini. Dia lebih cepat 2 tahun menerima pengalihan jabatan Presdir dari yang seharusnya. Itu semua karena kemampuan Ling Yue yang begitu hebat dalam berbisnis, hingga sang daddy percaya kalau anaknya itu pasti bisa mengelola perusahaan dengan baik untuk kedepannya.

Selama perjalanan menuju ruang rapat pagi ini, semua mata tertuju padanya. Ya bagaimana tidak, Ling Yue benar-benar sangat tampan dan penuh pesona. Hidung mancung, mata indah, dan rahangnya yang tegas dan tajam menambah kesan maskulin pada dirinya.

"Benarkah dia Presdir kita yang baru?" ucap salah seorang karyawan wanita yang tengah ternganga melihat kedatangan Ling Yue pagi itu.

"Dia bahkan lebih tampan dari aktor Lee Min Ho!" puji karyawan wanita yang lain.

Begitu banyak kalimat pujaan yang terlontar untuk Presdir baru mereka itu. Bahkan, biji mata mereka hampir saja keluar karena melototi Ling Yue yang tampan.

Melihat kedatangan Ling Yue, para petinggi perusahaan langsung berdiri untuk menyambut dan memberikan salam hormat kepada Presdir baru mereka.

"Selamat datang Tuan Ling!" sapa mereka sambil membungkuk hormat.

"Hmm, terimakasih atas sambutannya. silahkan duduk kembali!" balas Ling Yue sambil berlalu menuju tempat duduknya.

"Bagaimana situasi perusahaan saat ini? Apa ada masalah?" tanya Ling Yue tanpa berbasa-basi.

Salah seorang di antara mereka pun menjawab, "Secara keseluruhan, perusahaan saat ini berada dalam keadaan yang stabil seperti biasanya. Namun, ada penurunan kinerja dari industri penghasil obat-obatan medis setahun belakangan."

"Kenapa bisa begitu?" Ling Yue mulai tertarik dengan pembicaraan mereka.

"Seperti yang kita ketahui, industri penghasil obat-obatan medis butuh seorang ahli Botani untuk membantu penelitian bahan racikannya. Tanpa bantuan mereka, industri kita hanya akan bisa memproduksi jenis obat-obatan yang sudah ada sebelumnya. kita akan kesulitan meracik jenis obat-obatan baru yang sesuai dengan perubahan penyakit yang terus berkembang dari masa ke masa," jelasnya.

"Lalu masalahnya ada di mana?" Ling Yue menaikkan sebelah alisnya.

"Masalahnya, ahli Botani yang sebelumnya telah mengundurkan diri dari perusahaan. Beliau sudah sangat tua dan tidak mampu lagi untuk melakukan penelitian."

"Kenapa kalian tidak mencari ahli Botani yang baru saja? Hanya tinggal mencari orang baru, kenapa malah jadi masalah sebesar itu?” Ling Yue mengernyit heran.

"Kami sudah mencari dan menyeleksi semua ahli Botani yang bisa kami dapatkan. Namun, tak satu pun yang sanggup menanggung tanggung jawab sebesar itu. Rata-rata dari mereka juga belum cukup pengalaman dan tidak sebanding dengan ahli Botani sebelumnya, karena beliau adalah ahli Botani terbaik di Negri ini." raut wajahnya nampak khawatir.

"Hmm begitu rupanya. Baiklah, masalah ini biar aku yang tangani. Kalian fokus saja pada pekerjaan masing-masing!" Ling Yue tau, ahli Botani sebelumnya memang sudah puluhan tahun bekerja di perusahaan keluarganya. Dia adalah lulusan terbaik dari University of Oxford. Tidak hanya itu, dia juga mendapatkan banyak penghargaan baik dari dalam Negri maupun luar Negri. Dia adalah ahli Botani legendaris. Tentu saja mereka kesusahan mencari pengganti yang sepadan.

"Rapat kita tutup sampai di sini! terimakasih atas kehadiran kalian semua. silahkan kembali bekerja!" Ling Yue menutup rapat pagi itu.

"Baik Tuan Ling!" Mereka pun keluar satu persatu dari ruang rapat. Kini, hanya tinggal Ling Yue dan sekretaris pribadinya yang tersisa dalam ruangan itu.

"Chen Li, sekarang juga kau cari tau alamat dan informasi tentang ahli Botani tua itu! Aku harus menemuinya secepat mungkin," perintah Ling Yue pada Chen Li yang merupakan sekretaris pribadinya.

"Baik Tuan!" balas Chen Li patuh.

Disisi lain..

_____

Seorang gadis cantik tengah sibuk mengurusi tanaman-tanaman kesayangan-nya. Ia merawat mereka semua seperti anak-anaknya sendiri.

"Kalian semua harus tumbuh dengan baik! Aku yakin, kalian akan sangat berguna." Dia menaburkan pupuk dan menyirami semua tanaman yang ada di sana.

"Cia Li, ayo sarapan dulu!" teriak mama Cia Li memanggil anak gadisnya itu.

"Sebentar lagi Mama. Pekerjaan ku masih belum selesai!" balas Cia Li setengah berteriak.

Mendengar hal itu, Mama Cia Li hanya bisa geleng-geleng kepala. Anak gadisnya itu benar-benar hanya mementingkan tanaman setiap hari. Dia bahkan tidak pernah punya pacar selama ini, padahal usianya sudah hampir menginjak 26 tahun.

15 menit berlalu.

"Akhirnya selesai juga!" Cia Li memandangi semua tanaman-tanaman kesayangan-nya dengan wajah sumringah.

Setelah puas melihat hasil kerjanya, Cia Li pun segera beranjak menuju meja makan. Dia benar-benar sudah sangat lapar. Dia butuh banyak asupan energi, karena setelah ini dia harus segera pergi ke labolatorium untuk melanjutkan pekerjaannya.

Tak butuh waktu lama, Cia Li akhirnya selesai dan kemudian segara berangkat menuju labolatorium dengan menggunakan sepeda kesayangan-nya.

Selama perjalanan, Cia Li begitu menikmati indahnya pemandangan desa di pegunungan itu. Ya, Cia Li memang tinggal di sebuah desa pegunungan yang indah. Bukan hanya indah, kekayaan alam di sana juga sangat melimpah ruah. Termasuk diantaranya kelimpahan berbagai macam Flora yang langkah.

“Hai Cia Li. Kau mau ke labolatorium yah? Aku kebetulan habis memanen Apel dari kebun. Ini, ambil lah!” seorang wanita setengah baya secara tidak sengaja berpas-pasan dengan nya di tengah perjalanan.

“Wah Bibi, Apelnya kelihatan sangat segar sekali. Terimakasih yah.” Cia Li menerima Apel tersebut dengan senang hati.

“Ya, tidak masalah.” dia tersenyum hangat pada Cia Li.

“Kalau begitu aku pergi dulu yah Bibi. Sampai jumpa lagi!” pamitnya, lalu kemudian mengayuh kembali sepedanya.

“Mmm, hati-hati di jalan.”

Cukup lama Cia Li mengayuh sepedanya. Kini, dia pun sampai di labolatorium tersebut. Cia Li bergegas masuk dan menemukan sang guru ternyata sudah lebih dulu tiba di sana.

"Selamat pagi Tuan Sheng Li. Maaf aku baru datang," sapa Cia Li sambil cengengesan.

"Pagi Cia Li. Apa kau sudah sarapan?" balas tuan Sheng Li dengan hangat. Dia bahkan sudah menganggap Cia Li seperti cucunya sendiri.

"Aah, tentu saja sudah Guru. Kalau aku tidak sarapan sebelum kemari, mamaku bisa mengomeliku tanpa henti selama 7 hari 7 malam!” Cia Li bercerita dengan ekspresinya yang lucu.

"Hahaha, baiklah kalau begitu. Kakek tua ini ingin sarapan dulu. Tolong kau lanjutkan bagian daun yang itu yah!" perintah tuan Sheng Li.

"Baik Guru, akan segera ku kerjakan!" balas Cia Li dengan semangat. Ya, dia memang selalu antusias mengerjakan tugas-tugas dari gurunya. Mimpinya adalah menjadi seorang ahli Botani hebat seperti sang guru. Dia ingin membantu banyak orang di kemudian hari.

Bab 2

Hari ini Ling Yue dan Chen Li sekretarisnya akan pergi mengunjungi ahli Botani tua itu. Dari informasi yang didapatkan, ahli Botani tua itu ternyata bernama Sheng Li. Dia sudah berusia sekitar 65 tahun. Benar-benar sudah tua.

"Chen Li, apa makanan dan hadiahnya sudah kau siapkan?" tanya Ling Yue memastikan. Dia tidak ingin ada yang terlewatkan dalam misinya kali ini. Semuanya harus berjalan sesuai dengan apa yang dia rencanakan sebelumnya. Ling Yue benar-benar selalu totalitas dalam bekerja.

"Sudah Presdir. Semuanya sudah saya siapkan." Chen Li menunjukkan semua barang bawaannya itu kepada Ling Yue.

"Bagus, kita berangkat sekarang!" perintah Ling Yue kemudian.

"Baik Presdir!" Chen Li mengangguk patuh, lalu kemudian segera mengikuti Ling Yue dari belakang. Sesampainya di mobil, Chen Li langsung menaruh barang-barang itu di bagasi mobil dan secepat kemudian dia bergegas membukakan pintu belakang mobil untuk Ling Yue.

Setelah semuanya beres, Chen Li mulai melajukan mobil itu menuju kediaman Sheng Li. Mumpung hari ini akhir pekan, jadi dia dan Ling Yue bisa melakukan kunjungan ke sana. Ini semua adalah idenya Ling Yue. Dia ingin berbicara secara pribadi dengan tuan Sheng Li, mengenai masalah yang sedang di hadapi oleh perusahaan keluarga Ling saat ini.

3 jam kemudian.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, kini sampailah mereka di depan sebuah rumah yang begitu luas dan sederhana. Rumah seperti itu tampak nyaman sekali untuk ditinggali oleh orang-orang tua seperti Sheng Li.

"Kau yakin ini rumahnya?" tanya Ling Yue sedikit ragu.

"Menurut informasi yang saya dapatkan, benar Tuan Ling. Beliau menetap di sini setelah pensiun beberapa waktu yang lalu." Chen Li sangat yakin dengan informasi yang dia dapatkan. Selama ini dia memang tidak pernah salah dalam melakukan tugasnya.

"Baiklah, ayo kita turun!" Chen Li bergegas membukakan pintu belakang untuk Presdirnya itu.

Ling Yue segera turun dan berjalan bersama Chen Li yang berada 1 langkah dibelakangnya. Sesampainya di depan gerbang rumah itu, Chen Li langsung memencet bell rumah yang ada di sana. Cukup lama mereka menunggu, hingga akhirnya keluarlah seorang pelayan wanita untuk membukakan pintu gerbang rumah tersebut.

"Selamat datang Tuan. Maaf sebelumnya, ada perlu apa anda datang kemari?" tanya pelayan itu dengan sopan.

"Kami datang untuk bertemu dengan tuan Sheng Li. Apakah benar ini rumahnya tuan Sheng Li?" Ling Yue ingin memastikan, apakah benar rumah itu milik si ahli Botani tua.

"Benar Tuan! Tapi tuan Sheng Li sedang tidak ada di rumah saat ini."

"Dia pergi kemana memangnya?" tanya Ling Yue sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Tuan Sheng Li sedang berada di sebuah desa pegunungan. Dia biasanya akan menetap di sana selama kurang lebih 4 hari dalam sepekan," jelasnya kemudian.

"4 hari? Lalu kapan ia akan pulang?" Ling Yue mulai gusar. Itu artinya, kedatangan dia hari ini sudah dipastikan akan sia-sia. Padahal Ling Yue telah menghabiskan banyak waktu untuk bertemu dengan Sheng Li.

"Saya tidak bisa memastikannya Tuan. Terkadang beliau bisa pulang lebih cepat atau bahkan lebih lambat dari yang biasanya. Semuanya tergantung dengan tuan Sheng Li sendiri."

Ling Yue menghela nafas panjang setelah mendengar jawaban dari pelayan itu. Tampaknya akan sulit untuk bertemu dengan Sheng Li.

"Baiklah, kalau begitu saya titipkan kartu nama ini untuk tuan Sheng Li. Tolong berikan kartu nama ini padanya ketika dia pulang nanti!" Ling Yue memberikan sebuah kartu nama pada pelayan tersebut.

"Baik Tuan, akan saya sampaikan nanti." pelayan itu menerima kartu nama yang diberikan Ling Yue.

"Bilang padanya untuk segera menghubungi ku ketika menerima kartu nama ini." bagaimana pun caranya, dia harus segera menemui Sheng Li.

"Baik Tuan."

"Kalau begitu, kami akan pergi sekarang," pamitnya, kemudian Ling Yue dan Chen Li berjalan kembali ke mobil mereka.

Mereka memutuskan untuk kembali ke Shanghai.

Sementara itu, Cia Li hari ini disuruh oleh gurunya untuk pergi ke rumahnya yang berada di kota. Dia ditugaskan untuk mengambil beberapa alat dan sampel tanaman yang akan mereka butuhkan nanti. Cia Li dengan senang hati pergi seorang diri untuk melakukan tugas yang diberikan oleh gurunya tersebut.

"Mama, Cia Li berangkat dulu yah. Sepertinya Cia Li akan pulang besok pagi saja. Cia Li akan menginap dulu malam ini di Apartement Jiao Ling." pamitnya pada mama Li.

"Hmm, jaga dirimu baik-baik." mama Li tersenyum hangat melihat semangat anaknya yang begitu besar untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang ahli Botani yang hebat.

"Tentu saja, aku akan menjaga diriku dengan baik." Dia kemudian beralih meraih sebuah koper yang akan dia bawa.

Ketika Cia Li hendak melangkah pergi, langkah kakinya dicegat oleh adik laki-lakinya yang bernama Fang Li, "Kakak jangan lupakan roti kukusnya! Mama sudah bersusah payah membuatkan ini semalaman." Fang Li menyodorkan bungkusan makanan itu pada sang kakak.

"Astaga! Aku hampir saja lupa!" pekik Cia Li kemudian mengambil bungkusan makanan tersebut. Untung saja Fang Li mengingatkannya tepat waktu. Jiao Ling pasti akan marah jika ia lupa membawakan pesanan makanan kesukaannya itu.

Cia Li berangkat seorang diri dengan mengendarai mobil pribadinya. Dia memang terbilang cukup berani sebagai seorang wanita. Jarak tempuh dari desanya ke kota itu bisa memakan waktu sekitar beberapa jam.

Sesampainya di kota, dia langsung pergi menuju rumah gurunya untuk mengambil beberapa alat dan sampel tanaman sesuai perintah sang guru. Setelah tugasnya selesai, barulah dia melanjutkan perjalanan menuju kediaman Jiao Ling, sahabatnya. Namun, sebelumnya Cia Li sempat mampir sebentar untuk membeli beberapa makanan kesukaan dia dan Jiao Ling di sebuah restaurant yang berada tak jauh dari rumah gurunya.

Dalam perjalanan, tiba-tiba saja mobil Cia Li hilang kendali.

“Astaga! Bagaimana ini?” dia berusaha mengerem, tapi remnya tidak berfungsi sama sekali.

Sebuah mobil datang dari arah yang berlawanan.

“Ciittt!” mobil depan itu berusaha mengerem, tapi sepertinya sudah terlambat. Jarak mobil mereka sudah begitu dekat dan tidak sempat lagi untuk menghindar.

“Aakhh!” pekik Cia Li.

“Braak!” bunyi suara tabrakan kedua mobil itu.

Orang-orang yang berlalu lalang di sekitar sana datang untuk membantu. Mereka segera menghubungi Ambulance dari rumah sakit terdekat.

Kondisi Cia Li terlihat cukup parah. Kepalanya terbentur dan mengeluarkan banyak darah. Dia dalam kondisi tidak sadarkan diri. Sementara itu, 2 orang pemuda dari mobil yang satunya juga lumayan parah, namun masih sadarkan diri.

Tak lama kemudian, mobil Ambulance datang ke lokasi kejadian. Para korban kecelakaan dibawa ke salah satu rumah sakit di daerah itu.

Di tempat lain, Jiao Ling tengah merasa jenuh menunggu kedatangan sahabatnya, Cia Li. Padahal katanya dia sudah sampai di kota dan sebentar lagi akan tiba di Apartementnya. Cukup lama dia menunggu, namun sahabatnya itu tak kunjung datang.

“Sebaiknya aku telfon saja dia.” putusnya kemudian menekan tombol panggil di layar handphonenya.

“Ya hallo,” sapa suara dari seberang sana.

“Hallo, ini dengan siapa? Kenapa yang mengangkat telponnya bukan Cia Li? Pemilik ponsel ini kemana?” Jiao Ling mengernyit heran karena yang mengangkat telponnya orang lain.

“Kau siapanya nona Cia Li?” orang itu malah balik bertanya.

“Aku sahabat dekatnya. Tolong berikan ponselnya pada dia, aku ingin berbicara dengan nya.”

“Kebetulan sekali kau menelfon nona Cia Li. Dia mengalami kecelakaan, sekarang dia sedang di tangani di UGD rumah sakit Guma. Apa kau bisa datang ke sini?”

Deg..

“Apa? Dia kecelakaan?”

Bab 3

Jiao Ling langsung berangkat setelah mendengar kabar dari pihak rumah sakit. Selama perjalanan, dia tak henti-hentinya berdoa. Dia berharap, sahabatnya itu baik-baik saja.

Tak butuh waktu lama, Jiao Ling pun sampai di sana. Dia berlarian menuju ruangan UGD. Wajahnya tampak panik sekali.

“Nona, pasien yang bernama Cia Li ada di sebelah mana?” dia bertanya kepada perawat wanita yang sedang berjaga di sana.

“Maksud mu, nona Cia Li korban kecelakaan mobil sekitar 1 jam yang lalu?”

“Iya benar, aku mencarinya.”

“Nona Cia Li berada di ruang UGD. Dia baru saja ditangani oleh Dokter, dan sedang beristirahat di salah satu bed pasien paling ujung.”

“Baik, terimakasih atas informasinya. Aku akan ke sana sekarang!” Jiao Ling melangkah dengan terburu-buru.

“Sreek!” dia membuka gorden penutup.

“Cia Li? Kau tidak apa-apa kan? Mana yang sakit?” Jiao Ling berhamburan memeluk sahabatnya tersebut.

“Kau tenang saja, aku tidak apa-apa. Hanya kepala ku saja yang sedikit robek dan mengeluarkan banyak darah. Selebihnya aman.” Cia Li mengulum senyum untuk menenangkan Jiao Ling. Wajah sahabatnya itu kelihatan pucat sekali saking khawatirnya.

“Syukurlah, jantung ku hampir copot mendengar kabar mu.” Dia mengelus dadanya lega.

“Ohiya, apa kau sudah beritahukan hal ini pada paman dan bibi Li?” tanya Jiao Ling kemudian.

“Tidak. Aku tidak mau membuat mereka khawatir. Lagi pula, aku kan tidak kenapa-kenapa.” dia sebenarnya merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.

“Kalau begitu, aku akan merawat mu. Kau harus tinggal beberapa hari ke depan di tempat ku. Jangan menolak dan jangan membantah! Kalau tidak, aku akan memberitahukan soal ini pada paman dan bibi Li!” dia terpaksa mengancam sahabatnya itu. Namun di balik itu semua, dia benar-benar sosok yang peduli dan menyayangi Cia Li. Mereka sudah seperti saudara sungguhan.

“Tentu saja kau harus merawat ku! Memangnya siapa lagi yang bisa ku repotkan selain diri mu.” Cia Li menggodanya.

“Huu!” Jiao Ling bersidekap dan mengerucutkan bibirnya lucu.

“Hei jangan begitu! Lebih baik, sekarang kau tolong aku untuk mengambilkan handphone ku pada perawat panjaga. Aku ingin menghubungi guru Sheng Li. Aku harus bekerja sama dengan guru untuk merahasiakan hal ini dari orang tua ku. Aku harus membuat alasan yang realistis pada mereka.” Cia Li bertingkah imut agar sahabatnya itu mau membantunya.

“Hah, baiklah. Kau tunggulah di sini!” Jiao Ling melangkah pergi menuju meja penjaga. Kalau di pikir-pikir, sahabatnya itu memang harus membuat alasan yang tepat untuk bisa tetap tinggal beberapa hari ke depan di tempatnya. Dan pekerjaan adalah alasan yang paling tepat.

Tap, tap, tap..

Dia berjalan pelan agar tidak mengganggu pasien yang lain.

‘Tunggu dulu! Sepertinya aku mengenal pria itu?’ Jiao Ling tiba-tiba berhenti karena melihat seorang pasien yang sedang di pindahkan ke ruang perawatan.

‘Aah, mungkin aku hanya salah lihat. Mana mungkin dia sakit dan di rawat di rumah sakit sekecil ini. Jika benar dia kenapa-kenapa, seluruh daratan China pasti akan dibuat gempar. Buktinya, tidak ada berita apa-apa kan.’ dia kembali melanjutkan perjalanan-nya.

Sementara itu, di tempat yang sama.

“Presdir, aku minta maaf karena sudah membuat mu celaka.” Chen Li merasa bersalah dan tertunduk lemas.

Chen Li beruntung karena dia tidak kenapa-kenapa, sedangkan Ling Yue terlempar ke depan dan membentur kursi. Kepalanya terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Lengan kanannya juga terkilir, tapi sepertinya tidak terlalu parah.

“Ini bukan salah mu Chen Li, kau tidak perlu merasa bersalah.”

“Ngomong-ngomong, apa kau sudah melihat kondisi korban yang menabrak kita?” Ling Yue tiba-tiba kepikiran dengan orang itu.

“Belum Presdir. Tapi aku sudah berbicara dengan polisi yang menangani kasus kecelakaan. Katanya rem mobil orang itu tidak berfungsi dengan baik. Tidak ada unsur kesengajaan dalam kasus ini.”

“Mmm, baguslah.”

_____

Setelah mendapatkan handphone-nya kembali, Cia Li pun langsung menghubungi gurunya.

“Apa? Kau kecelakaan? Lalu, bagaimana kondisi mu?” Sheng Li sangat terkejut hingga menjatuhkan sampel daun yang ia pegang.

“Guru tenang saja, aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil di kepala dan dokter sudah menanganinya dengan baik. Guru jangan bilang soal ini pada orang tua ku yah. Aku akan tinggal beberapa hari di tempat Jiao Ling selama penyembuhan. Bilang saja ke mereka, kalau aku sedang ada pekerjaan yang diselesaikan di sini.” Cia Li berusaha menenangkan sang guru dan mengajaknya berkompromi.

“Hah, sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Tapi, aku akan pergi ke kota sekarang juga untuk memastikan kondisi mu.” walaupun katanya dia tidak kenapa-kenapa, Sheng Li tetap harus memastikan kondisinya langsung.

“Ya, jika itu bisa membuat Guru tenang tidak apa-apa. Aku berada di rumah sakit Guma.”

“Mmm, kau tunggulah. Aku akan berangkat sekarang!”

Bip.

Sambungan panggilan tersebut dimatikan secara sepihak.

Sheng Li segera mengemasi barangnya. Kebetulan, dia tinggal di sebuah rumah kecil yang berada persis di samping labolatorium tersebut.

Alasan Sheng Li membangun labolatorium di desa itu adalah karena Cia Li. Semangatnya untuk menjadi seorang ahli Botani hebat membuat Sheng Li tersentuh.

Awalnya, mereka kenal saat Sheng Li melakukan kunjungan penelitian ke desa tempat Cia Li tinggal. Dia mencari dan mencoba membudidayakan sebuah tanaman langkah yang hanya tumbuh di wilayah itu. Dia menghabiskan waktu yang cukup lama di sana. Projek yang sedang dia kerjakan itu adalah projek yang sangat besar, bahkan tuan Ling Hao sempat datang ke tempat tersebut beberapa kali. Waktu itu Cia Li masih kecil, dia berusia sekitar 10 tahun.

“Kakek Sheng Li mau ke sini yah?” tanya Jiao Ling.

“Iya, guru mau ke sini katanya. Dia mau memastikan keadaan ku.”

“Kakek Sheng Li sungguh sangat menyayangi mu.” Jiao Ling tersenyum senang.

“Ya, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan seorang legenda sepertinya.” Cia Li mengangguk setuju.

“Astaga! Aku baru ingat! Ada korban lain yang harusnya aku temui.” Cia Li terlonjak kaget.

Jiao Ling yang mendengar teriakan Cia Li ikut terkejut mendengarnya.

“Ma-maksud mu, pas kejadian kecelakaan, kau menabrak seseorang? Ya ampun!” Jiao Ling malah berpikiran lain.

“Bukan begitu. Aku tidak menabrak orang secara langsung. Lebih tepatnya, mobil ku bertabrakan dengan mobil orang lain. Itu semua terjadi karena rem mobil ku yang tidak berfungsi dengan baik.” Cia Li mendengus khawatir mengingat kejadian beberapa jam yang lalu itu.

“Oo, seperti itu ternyata. Kau membuat ku kaget saja!” Jiao Ling menghembuskan nafas lega.

Tiba-tiba saja, seorang dokter datang menghampiri mereka.

“Selamat siang Nona Cia Li. Saya datang untuk memberitahukan hasil pemeriksaan anda.” Dokter itu tersenyum ramah padanya.

“Selamat siang Dokter. Mmm, semoga hasilnya baik-baik saja.” Cia Li sedikit khawatir dengan hasil pemeriksaannya.

“Hahaha, tenang saja Nona Cia Li. Menurut hasil pemeriksaan, semuanya baik-baik saja. Anda hanya perlu istirahat dan merawat luka di kepala anda selama beberapa hari ke depan.” Dokter tersebut mangguk-mangguk sambil melihat kertas hasil pemeriksaan yang ada di tangannya.

“Hah, syukurlah.” Cia Li merasa lega sekali.

“Kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga luka anda cepat pulih dan bisa beraktivitas normal kembali.” pamitnya, kemudian segera berlalu dari sana.

Lama Cia Li menunggu, akhirnya Sheng Li pun sampai di rumah sakit itu. Dia datang bersama dengan supir pribadinya.

“Bagaimana kondisi mu? Apa hasil pemeriksaannya sudah keluar?” Sheng Li nampak khawatir sekali dengan kondisi muridnya itu.

Cia Li yang mendengar suara sang guru, langsung bangkit dari tidurnya. Untung saja dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kalau tidak, Sheng Li pasti sudah di tegur oleh perawat penjaga karena suaranya akan mengganggu pasien lain.

“Haiya, Guru tenang saja. Kondisi ku baik-baik saja.” senyuman Cia Li mengembang melihat tingkah panik sang guru.

Tanpa di duga..

“Selamat siang Nona Cia Li!” seorang polisi datang ke ruangan tempat ia dirawat.

Deg!

‘Mungkinkah polisi itu datang untuk menangkap ku?’ batin Cia Li mulai ketakutan.

Tapi tunggu dulu, ada orang lain yang ikut di belakang polisi tersebut. Sepertinya orang itu di dorong dengan menggunakan kursi roda.

Tap, tap, tap.

Sosok itu nampak semakin jelas.

Hingga..

‘Kak Ling Yue?’ mata Cia Li membulat sempurna melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED