Bocah laki-laki yang usianya sekitar 10 tahun itu sedang berdiri tertegun di depan pintu kamarnya, matanya tidak berkedip sama sekali, dia tidak sedang melihat hal yang menyenangkan di depannya, melainkan dia melihat sesuatu yang membuat kedua lututnya bergetar.
Pyar ...
Terdengar suara pecahan benda yang dilempar, dan bunyinya menggema di seluruh ruangan. Bocah itu masih tidak bergeming berdiri di tempatnya.
“Ayah, Mama, sudah! Jangan bertengkar sepertini, kenapa kalian membuat kita ketakutan?” suara seorang gadis dengan rambut yang di kepang duanya, dia berusaha berada di tengah-tengah pertengkaran kedua orang tuanya.
“Kamu diam saja, Nat!” bentak seorang wanita cantik dengan rambut sebahunya. “Kamu masih kecil dan tidak tau tentang apa yang terjadi di sini. Jadi diamlah!” sekali lagi dia membentak gadis yang usianya masih 18 tahun itu.
“Sandra! Jangan membentak putrimu seenaknya, dia sudah dewasa dan dia berhak tau semuanya,” bentakan seorang pria dengan rambut berwarna blondenya.
“Dia memang harus tau semuanya, semua tentang apa yang sudah kamu lakukan di luar sana, kamu benar-benar menjijikan, aku sudah tidak mau lagi bersama dengan kamu. Dan Noah akan ikut denganku nantinya. Dia tidak akan hidup dengan pria brengsek seperti kamu!” serunya dengan nada tinggi.
“Noah ... Noah, kamu di mana?” Wanita itu berjalan menuju ke dalam kamar putranya. Noah tertegun melihat wajah mamanya yang sudah berderai air mata, wanita itu duduk dengan dua lutut menyangga tubuhnya, kedua tangannya memegang erat kedua lengan tangan Noah. “Noah, kamu akan ikut mama, kamu tidak perlu tinggal di sini lagi.”
Tangan bocah kecil itu terangkat mengusap tetesan air mata yang ada di pipi mamanya. “Mama kenapa?”
“Mama tidak apa-apa, Sayang. Kamu sekarang ambil tas kamu dan kita pergi dari rumah ini.” Wanita itu berdiri dan menyambar tas ransel berwarna hitam yang ada di atas meja belajar, dia memasukkan beberapa baju Noah—putranya ke dalam tas itu dan menggandeng tangan Noah keluar dari kamar itu.
Pria dengan rambut blondenya itu hanya melihat diam ke arah istrinya dan putra kecilnya. “Ma, aku tidak mau mama dan ayah berpisah, aku dan Noah masih membutuhkan kalian. Aku mohon, Ma,” Gadis yang tak lain adalah kakak Noah bahkan sampai memegang erat tangan mamanya agar tidak pergi dari rumah itu.
“Lepaskan, Na!” Wanita itu menghentakkan tangannya dengan kasar. “Kamu sebaiknya ikut dengan ayah kamu, karena mama hanya akan mengajak Noah pergi.”
“Ma, aku tetap bersama Nathali,” ucap Noah lirih.
“Kamu akan pergi dengan mama, Noah. Kita tinggalkan mereka saja, nanti kalau kamu ingin bertemu dengan Nathali, mama bisa mengantarkan.”
Noah dan mamanya berjalan menuju pintu keluar. Saat mamanya akan membuka pintu, terdengar teriakan keras dari ayah Noah. Seketika Noah dan mamanya menoleh ke arah belakang. Di sana mereka tubuh Nathali yang sudah tergeletak di lantai dengan tangan yang bersimbah darah
“Nat!” teriak mama Noah. Noah pun sekali lagi hanya bisa terdiam di tempatnya, dia benar-benar shock melihat tubuh kakaknya yang tidak bergerak sama sekali saat kedua orang tuanya memanggil- panggil namanya.
Noah hanya bisa melihat ayahnya membawa tubuh kakaknya keluar dan masuk ke dalam mobil, sedang mamanya mencoba berbicara dengan Noah, tapi Noah seolah tidak mendengar jelas apa yang mamanya ucapkan.
“Noah bangun ... bangun Noah!” suara seseorang memanggil Noah, dan seketika Noah membuka kedua matanya dengan keringat bercucuran.
“Dan, ini--?” Noah langsung bangkit dari tidurnya, dia duduk bersebelahan dengan sahabatnya.
“Kamu mimpi buruk lagi? Apa tentang keluarga kamu?”
“Brengsek! Aku ingin sekali melupakan masa lalu itu.” Noah mengusap wajahnya kasar.
“Sudahlah! Kejadian itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu, kamu harus melupakan kejadian itu?” Tangan pria itu menepuk pundak Noah.
Memang kejadian itu sudah sangat lama, bahkan sekarang Noah sudah bukan bocah kecil lagi yang polos dan tampak culun, dia sudah berubah menjadi seorang pria dengan paras yang sangat tampan dan memiliki postur tubuh yang gagah, tapi kenangan masa lalunya benar-benar menjadi mimpi buruk di setiap tidurnya. Kenangan-kenangan itu yang membuat Noah menjadi pribadi yang berbeda.
Noah mengambil napas panjangnya. “Aku memang harus melupakan kejadian itu. Bahkan aku harus melupakan jika aku pernah memiliki keluarga seperti itu.” Noah beranjak dari tempatnya dia menuju lemari pendingin dan mencari minuman yang mengandung alkohol kesukaannya.
“Noah, pagi ini kamu punya rencana apa? Kita tidak punya uang sedikitpun. Apa kita akan pergi ke rumah ayah tiri kamu saja dan seperti biasa, kita akan meminta uang kepadanya?”
“Aku tidak mau, nanti malam saja kita pergi ke arena balap, di sana aku akan menantang Bruno dan Hugo untuk balapan, dan aku yakin, kita akan mendapatkan uang dari sana.”
Daniel sahabat Noah itu membanting tubuhnya di atas kasur. “Lalu pagi ini kita mau berbuat apa?” tanyanya malas.
“Aku mau pergi ke suatu tempat hari ini.”
“Apa? Pergi Ke suatu tempat? Kalau begitu aku ikut.” Dan langsung beranjak dari tempatnya.
“Maaf, Dan, aku tidak bisa mengajak kamu, aku ingin sendirian ke sana, kamu di sini saja.” Noah menyaut jaket hitam miliknya dan kunci motornya yang ada di atas nakas.
“Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku Noah?” tanya Dan curiga. “kita sudah lama menjadi sahabat, sejak kamu kabur dari rumah, kita sama-sama memutuskan untuk tinggal bersama seperti saudara, tanpa ada rahasia apapun.”
Noah hanya memberikan seringaiannya dan dia keluar dari kamar itu. Dan, kembali merebahkan tubuhnya, dia sudah tau bagaimana sifat sahabatnya itu.
Noah sudah sampai di tempat yang dia tuju. Noah memarkirkan motornya, dan berjalan perlahan masuk ke arah pemakaman, di sana suasananya sangat sepi, bahkan hanya Noah yang tampak sebagai manusia. Noah berdiri di salah satu pusaran yang tidak terlihat nama di batu nisan itu.
Noah duduk berjongkok di samping pusaran itu.
“Maaf, jika aku tidak pernah ke sini. Tapi aku akan tetap mengingatmu.” Noah terdiam sejenak, kenangan masa lalunya seolah kembali tergambar jelas di depannya.
“Kenapa mama selama ini membohongiku? Aku membencimu, bahkan aku ingin melupakan jika aku mempunyai keluarga, kalian benar-benar bukan orang tua yang aku harapkan!”
Tlit ... Tlit ...
Noah tersadar akan lamunannya. Saat ponsel di sakunya berdering, dia melihat nama yang tidak asing baginya pada layar ponselnya.
“Halo.”
“Noah, apa kamu nanti bisa datang ke sini?”
“Besok pagi aku bisa ke sana, saat ini aku belum bisa ke sana. Apa semua baik-baik saja?” tanya Noah dengan raut wajah cemasnya, dia berharap semua akan baik-baik saja.
Salam kenal ya kakak pembaca semua, semoga suka dengan cerita yang aku tulis, semoga kakak semua sehat selalu. Aamiin.
Pria yang di seberang telepon yang sedang menghubungi Noah itu tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Noah. Sepertinya dia masih memikirkan apa jawaban yang akan dia berikan pada Noah.
“Kenapa tidak menjawabku?” ulang Noah sekali lagi.
“Kondisinya kurang baik hari ini, tapi aku sudah bisa menanganginya. Datanglah ke sini, mungkin dia merindukan kamu, dan satu lagi ada hal penting yang aku ingin bicarakan sama kamu.”
“Iya, aku tau. Dan aku akan segera mendapatkannya.” Noah mengakhiri panggilannya. Dia beranjak dari tempatnya dan pergi dari sana, Noah memacuh motornya membela jalanan pagi itu yang masih sepi.
****
Brem ...
Brem ...
Brem ....
Suara mesin sepeda motor yang sedang di gas berkali-kali, terdemgar riuh, dan suasana di sana sangat ramai, banyak sekali orang berkumpul dan juya banyak pengendara kendaraan bermotor sedang berjejer yang siap mengaduk kecepatan mereka.
Ya! Mereka sedang ada di sebuah jalanan sepi, di sebuah kota dengan penduduk yang tidak terlalu padat, kota indah yang terletak di suatu sudut tempat di belahan bumi ini, sebut saja Kota Pure line.
Para pemuda itu sedang bersorak menunggu juara bertahan mereka yang bernama Hugo, sekali lagi memenangkan pertandingan balap motornya.
One ...
Two ...
Three ...
Ucap seorang gadis yang berdiri di tengah jalan, di antara dua sepeda motor yang siap balapan. Gadis itu melempar kain merah ke atas, dan tidak lama, dua sepeda motor melaju dengan kencangnya memecah kesunyian malam kala itu. Kedua motor itu saling memacu kecepatan yang sama. Jalanan yang tadinya sepi berubah menjadi bising karena suara teriakan para penikmat balapan lainnya.
"Noah ... kamu pasti jadi juara!" teriak suara seorang lelaki yang berdiri sambil berjingkrak-jingkrak memutar putar jaket merahnya meneriaki sahabat baiknya yang sedang beradu motor di jalanan.
"Lihat saja, Dan! Temanmu itu akan kalah dengan Hugo. Malam ini gelar juara Hugo akan tetap menjadi milik Hugo," ucap Bruno salah satu sahabat dari Hugo.
Kedua motor itu masih saling memacu di jalanan dengan kecepatan yang sangat cepat. Sesekali mata mereka saling melirik dan tersenyum devil.
"Sebentar lagi mereka akan sampai di sini, aku tidak sabar mengetahui siapa yang akan menjadi juaranya," ucap gadis cantik dengan potongan rambut pendeknya dan pakaian serba hitam yang tampak sexy.
"Memangnya kamu mau memberi hadiah apa pada Noah kalau dia memenangkan pertandingan ini, Cilla?" tanya Daniel atau yang biasa dipanggil Dan ini pada Cilla-- wanita yang sudah lama menaruh hati pada Noah.
"Yang jelas aku akan memberikan malam yang menyenangkan buat Noah malam ini." Cilla tersenyum menggoda .Sudah banyak diketahui hubungan Cilla dan Noah seperti apa. Hubungan seperti sepasang kekasih, tapi mereka tidak punya punya ikatan apa-apa. Status pacar pun bukan apalagi suami istri. Namun, mereka sering tidur bersama.
Kehidupan Noah benar-benar berjalan semaunya. Keluarga? jangan ditanya tentang keluarganya, Noah bahkan tidak merasa memilik keluarga.
Citt ...
Terdengar suara ban motor berdecit dan kemudian suara riuh mulai terdengar keras di sana.
"Yeah ...!" Daniel berlari menuju Noah yang sudah sampai di garis finish dengan seringai devilnya.
"Noah ... Kamu memang yang terbaik. Aku tau! Kamu akan dapat mengambil gelar juara Hugo dengan mudah, dan kita akan bersenang-senang malam ini dengan uang yang kita menangkan." Daniel memeluk sahabatnya itu.
"Tentu saja, Dan." Noah mengacak-acak rambut Daniel.
"Hai, Jagoan." Tiba-tiba Cilla datang dan langsung memeluk Noah dan mendaratkan bibirnya tepat pada bibir Noah dengan sedikit lama. Dan Noah, menikmati hal itu.
"Oh God! Jangan lakukan itu di sini, kalian membuatku muntah," ucap Dan kesal.
Cilla melepaskan kecupannya. "Memangnya kenapa, Dan? Apa kamu tidak normal karena melihat hal itu?" tanya Cilla dengan senyum menggoda.
"Bukan tidak normal! Aku justru malah iri karena hal itu. Lihat saja kalau aku sudah dapat kekasih aku bisa lebih hot dari kalian."
"Sudahlah! Sebaiknya kita menemui Hugo dan menerima uang kemenangan kita." Noah turun dari motornya dan memeluk Daniel mengajaknya berjalan menemui Hugo yang sedang kesal karena kalah dalam balapan motor dengan Noah.
keempat pemuda itu sedang berdiri saling berhadapan. Mata Noah memicing melihat ke arah Hugo dan Bruno yang tepat berdiri di depannya.
"Hem ...!" Noah berdehem pelan, tertarik senyum di sudut bibir Noah.
"Berengsek! Aku benar-benar tidak menyangka akan kalah dengan kamu!" umpatnya kesal sambil menatap tajam pada Noah yang malah tersenyum menghina.
"Jangan banyak bicara, mana uangku? Dan aku akan segera pergi dari sini. Kita akan bersenang senang, Daniel." Noah sekali lagi memeluk sahabatnya itu dan menguyel-uyel kepala sahabatnya itu.
Hugo mengeluarkan segepok uang dan memberikan secara kasar pada Noah. Noah tidak memperdulikan hal itu, dia mengambil uang itu, kemudian sekali lagi dia memberikan senyum menghinanya.
"Oh ya! Ini uang tips buat kalian." Noah melempar beberapa lembar ke arah Bruno dan Hugo. "Aku bukan orang yang tidak berperikemanusiaan jadi aku memberi uang tips buat kalian." Noah tertawa dengan kerasnya berjalan pergi sambil memeluk Daniel.
"Kamu memang sang jagoan terhebat temanku, Noah!" seru Dan.
"Berengsek! Lain kali akan aku beri pelajaran si brengsek itu." Hugo berkacak pinggang sambil mendengus marah.
Noah dan Daniel berlari sambil berkejar-kejaran persis seperti anak kecil sedang bermain kejar-kejaran.
"Noah, kamu mau lakukan apa dengan uang kemenangan kamu itu?" tanya Daniel yang duduk di tengah jalan yang agak sepi.
Noah berjalan menghampiri sahabatnya itu dan dia duduk di samping sahabatnya itu. "Aku mau bersenang-senang di club. Apa kamu mau ikut? Aku akan mentraktir kamu minum sepuasanya." Noah merangkul temannya itu. "Besoknya aku akan pergi ke suatu tempat," ucap Noah terdengar lirih dan melihat ke temannya dengan serius.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dan curiga.
"Kamu tidak perlu tau, karena bukan hal yang menyenangkan. Sudah! Ayo kita ke club, aku mau bersenang-senang." Noah menjitak kepala Daniel dan berlari dari sana.
"Auw ...!" Dan memegangi kepalanya yang terkena jitakan l, dan dia bangkit dari duduknya berlari mengejar Noah.
Dum ... dum ... dum
Terdengar suara musik yang sangat keras dan banyak sekali orang di sana, walaupun ini sudah tengah malam, tapi tempat itu tidak pernah sepi malah semakin malam semakin banyak orang berdatangan. Tubuh mereka saling bergerak mengikuti irama musik di sana.
"Seperti biasanya," ucap Noah kepada si pembuat minuman atau barista di sana.
"Noah!" Teriak Daniel karena suasana di sana sangat ramai jadi suara Daniel terdengar kecil.
"Ada apa?" jawab Noah dengan berteriak juga.
"Cilla tadi mencarimu dan katanya kalau kamu memengangkan balapan motor itu, dia akan menunggu kamu di tempat biasa," ucap Daniel sambil berteriak.
"Iya, aku tau. Nanti aku akan menemuinya." Noah meneguk minumannya, segelas vodka memasuki kerongkongan Noah dan dia meneguk lagi segelas.
"Kamu minumlah sepuasnya, aku akan menemui Cilla." Noah mematikan puntung rokoknya yang baru dia hisap beberapa kali dan berjalan pergi dari sana.
Daniel sudah biasa dengan sikap Noah seperti itu, dia memilih turun ke lantai dansa dan mencoba peruntungannya mendapatkan kenalan seorang gadis di sana.
Daniel melihat seorang gadis yang sedang menari dengan teman-temannya, dan entah kenapa dia tertarik melihat wajah gadis yang baginya menggemaskan itu. Daniel membawa dua gelas whiskey.
"Hai ... Apa aku boleh kenalan sama kamu?" tanya Daniel pada gadis berambut ikal berwarna coklat yang sedang menari bersama 2 orang teman wanitanya.
"Oh tentu saja boleh. Nama kamu siapa? Aku Tsamara." Gadis itu masih terus bergerak mengikuti irama musik dengan tangan menjulur pada Daniel.
Daniel sangat senang, dia menyambut tangan Tsamara dengan antusias. "Aku Daniel, Mara."
"Okay! Kamu boleh memanggilku Mara." Gadis itu tersenyum senang pada Daniel dan mereka pun menari bersama.
Di tempat lain. Di sebuah rumah yang lebih mirip flat sederhana. Noah berdiri di depan pintu setelah berpikir sejenak di sana.
Ceklek ...
Pintu dibuka oleh seseorang dari luar dan dia berjalan masuk ke dalam ruangan yang memiliki pencahayaan yang tidak terlalu terang. Di sudut bibir seorang gadis tersungging senyuman yang indah. Gadis itu sudah berbaring di atas ranjang yang tidak terlalu besar, dia hanya memakai celana dalam berwarna hitam dan kaos u can see yang berwarna senada.
Gadis dengan wajah cantik, dan menggoda itu sedang tiduran di atas ranjang yang ukurannya tidak terlalu besar. Dia memang sedang menunggu kedatangan sang pemenang yang tak lain adalah Noah.
"Aku yakin kamu akan datang ke sini."
Noah dengan senyum miringnya langsung melempar tubuhnya tepat di sebelah gadis itu berbaring. "Tentu saja, aku ke sini untuk menagih hadiahku yang kamu katakan pada Daniel." Noah dengan segera mengecupi bibir gadis itu dengan liar. Cilla membalas tak kalah liarnya. Dan pergulatan indah di atas ranjang itupun terjadi.
Malam itu pula. Di sebuah rumah yang tampak besar dan mewah, rumah dengan dekorasi ala Eropa klasik dan ada beberapa pillar menjulang tinggi. Sebuah keluarga berkumpul di ruang tengah. Mereka tampak membicarakan hal yang jika didengar oleh kedua anak mereka, bukan hal yang menyenangkan.
"Tenderku menang lagi. Dan kali ini aku benar-benar akan menguasai kerajaan bisnis di dunia."
"Selamat ya, Pa. Teman-temanku pasti akan sangat iri mendengar hal ini. Dan aku bisa membeli berlian mewah lagi sebagai koleksiku," ucap seorang wanita dengan rambut hitam keritingnya.
"Ma, apa kita bisa berlibur akhir pekan ini? Aku bosan dengan kegiatan sekolahku yang terjadi setiap hari. Aku ingin berkumpul dan berlibur ke pantai. Lana, kamu setuju, Kan?" tanya seorang bocah laki-laki yang memiliki manik mata coklat.
"Em ... iya. Aku setuju," jawab gadis dengan rambut gelombang sebahunya. Sebenarnya dalam hati gadis itu. Dia tidak yakin bahwa keinginannya dan adiknya akan di penuhi oleh kedua orang tua mereka. Mengingat dia sudah tau sifat dari kedua orang tuanya itu.
"Nanti saja berliburnya, Leon. Kamu tau kakak kamu Lana kan masih harus menyelesaikan ujiannya, dan mama tidak mau kalau sampai kakak kamu Lana mendapat nilai yang jelek nantinya di sekolah," terang wanita cantik itu.
"Huft! Iya, aku tau. Tapi Mama dan Papa janji, Ya? Setelah Lana menyelesaikan ujiannya kita akan pergi ke berlibur ke Pantai Sand Paradise?"
"Iya, kita lihat saja, papa juga masih harus menyelesaikan banyak pekerjaan setelah memenangkan tender itu."
Manik mata gadis yang bernama Lana itu hanya melihat sekilas adik dan kedua orang tuanya berbicara. Kemudian dia kembali fokus pada buku yang ada di tangannya, "Ma, Pa, Aku pergi ke kamar dulu. Aku sudah mengantuk." Gadis itu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kedua orang tuanya. Lana memberi kecupan selamat malam kepada papa dan mamanya.
"Lana, aku juga mau kembali ke kamarku." Pria kecil itu merangkul kakaknya. Mereka berdua naik ke atas kamarnya.
Lana dengan cepat merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya, dia terlentang dan menatap langit-langit kamar tidur yang dia tempeli dengan hiasan berbentuk bintang. Saat Lana mematikan lampu di kamarnya, hiasan berbentuk bintang itu menyala di dalam terang. Gadis itu tersenyum senang. "Aku ingin sekali bisa berlari dengan lepas di tempat yang sangat indah." Lana menutup kedua matanya dan membayangkan bisa berlarian bermain di pantai yang sepi dan hanya ada dia sendiri. Tidak sadar Lana pun terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya. Noah sudah terbangun dari tidurnya, dia segera memakai baju dan celana panjang jeansnya. Noah mengambil kunci motornya dan segera keluar dari tempat Cilla. Cilla yang masih tertidur pulas itu di tinggalkan begitu saja oleh Noah.
Noah mengendarai motornya dengan agak cepat. Entah dia mau ke mana? Namun, di tengah perjalanan, dia harus menghentikan motornya karena jalanan ternyata macet. Seperti biasa kota Pure Line itu setiap pagi akan selalu mengalami kemacetan di jam kerja. Dan orang-orang di sana sudah paham akan hal itu.
"Shit!" Noah hanya bisa mengumpat kesal. Dia berusahan mencari sela-sela agar motornya bisa berjalan di tengah kepadatan mobil yang juga menunggu agar bisa berjalan walaupun pelan-pelan.
Noah pun akhirnya bisa lolos di tengah kemacetan jalanan itu. Dia kembali memacu motornya. Namun, Noah kembali berhenti saat dia melihat agak jauh dari tempatnya berada. Noah seolah tertarik melihat seorang gadis yang berdiri di depan mobil mewahnya. Wajah gadis itu tampak gelisah, dia mengigiti kuku jarinya.
Noah tersenyum miring dan menghampiri gadis itu. "Apa kalian perlu bantuan?" tanya Noah.
Gadis yang ternyata Lana itu tidak menjawab, dia hanya melihati Noah dari atas ke bawah. "Maaf, Nona Lana. Mobilnya harus saya ganti bannya. Apa Nona mau menunggu sebentar?" tanya seorang pria yang sepertinya itu supir Lana.
"Menunggu? Tapi hari ini aku ada ujian! Aku bisa telat, Pak! Aku tidak bisa menunggu." Sekali lagi muka Lana tampak benar-benar cemas.
"Tapi bagaimana lagi, Nona? Mengganti ban ini memang membutuhkan waktu. Apa Nona Lana naik taxi saja?"
Lana bingung. "Di sini susah mendapatkan taxi," celetuk Noah. Lana langsung melihat ke arah Noah. "Maaf, aku tiba-tiba berada di sini. Kalau mau aku bisa mengantarkan kamu ke sekolah, kebetulan arah tujuanku dan sekolah kamu sama. Bagaimana?" Noah melihat nama sekolah dari seragam yang dipakai Lana, Noah tau di mana sekolah Lana, karena dulunya dia pernah menjadi murid di sana, walaupun bukan murid yang berprestasi, tapi setidaknya Noah pernah membuat heboh sekolah itu dengan tingkah bar-barnya. Noah berharap, jika gadis di depannya ini mau menerima tawarannya, entah kenapa Noah tertarik melihat gadis itu.
Lana masih terdiam, jujur saja dia belum pernah bertemu orang asing, jadi sedikit banyak dia harus berhati-hati.
"Jangan takut denganku, aku tidak akan menyakiti atau menculik kamu, aku hanya bermaksud menolong." Noah seolah tau apa yang dipikirkan oleh Lana.
Lana berpikir lagi, jika dia tidak segera berangkat, dia bisa terlambat, jika dia terlambat, Lana tidak akan boleh mengikuti ujian. Dan tentu saja nilainya akan jelek, lebih parahnya lagi, dia akan mendapat omelan bahkan kemarahan kedua orang tuanya.
"Sudahlah, ayo! Kalau kebanyakan berpikir, sekolah kamu bisa terlambat."