Kebun Binatang Kota itu banyak dikunjungi orang-orang terutama anak di bawah umur yang masih duduk di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Baik dari dalam dan luar daerah semua datang untuk melihat binatang yang jarang mereka temui.
Di dalam keramaian itu, ada satu orang, lebih tepatnya seorang anak kecil berumur kurang lebih lima tahun sedang berjongkok di bawah papan ensiklopedia raksasa sambil menangis terisak-isak.
Beberapa orang mulai mendatangi anak kecil tersebut, niatnya untuk menenangkan. Mereka pikir, anak kecil tersebut takut dengan kandang hewan yang berada di belakangnya, yakni kandang koala. Tetapi, ketika mereka mencoba menenangkan, anak kecil itu malah menangis histeris dan bersembunyi di balik tiang papan. Mereka pun bingung harus berbuat seperti apa karena anak kecil tersebut sulit untuk didekati. Dengan hati tak tega, mereka dengan terpaksa meninggalkan anak kecil tersebut sendirian.
Anak kecil itu mendongak. Ia menatap lurus ke arah seorang perempuan yang memakai pakaian olahraga dan tengah memegang dua bungkus permen kapas berukuran cukup besar.
"Mama!!!" Anak kecil itu berlari ke arah perempuan itu. Ia langsung memeluk kakinya dan mulai menangis kencang, bahkan seperti menjerit.
"Eh?!!" Jelas saja perempuan itu kaget bukan main ketika ada anak kecil yang tidak dikenal menangis kepadanya.
"Kamu kenapa?" Perempuan itu berjongkok dan menatap wajah anak itu.
Bukannya tenang, anak itu tangisannya malah makin menjadi.
"Jadi anak ini anak Mbak, ya? Aduh, Mbak, kalau punya anak tuh diurus, dong. Dijaga baik-baik, kalau ilang baru tahu rasa. Syukur-syukur anaknya nggak diculik." Seorang ibu-ibu yang tadi menenangkan anak itu malah mencibir si perempuan asing yang tidak tahu apa-apa.
Salah anak kecil itu juga malah memanggil perempuan itu dengan sebutan mama.
"Dasar anak muda jaman sekarang, akibat nikah muda anak malah ditelantarkan gara-gara ngerasa gak bebas. Kalau gak mau punya anak duluan mending pakai program keluarga berencana aja, biar punya persiapan buat jadi orang tua. Atau jangan-jangan Mbak korban hamil di luar nikah, ya? Sekiranya gak mau ngurus anak jangan bikin dulu. Heran. Untung anak-anak saya nggak kayak Mbak."
Aduh, itu mulut si ibu mesinnya belum diservis, makanya filter rem gak berfungsi, jadi blong deh.
Perempuan muda itu meringis. Siapa pun yang mendengar perkataan tajam ibu-ibu itu pasti akan kegerahan seketika. Daripada menyiram api dengan bensin, lebih baik menyiram api dengan air meskipun ibu-ibu menganggap perempuan itu mengaku kalah.
"Jangan nangis, ya? Sini Ibu bawa kamu ke tempat kelinci yang lucu." Perempuan itu menggendong anak kecil tersebut sambil meninggalkan ibu-ibu yang masih belum berhenti mengomel.
"Mbak, omongan ibu-ibu itu jangan didengerin, maklum lah orang tua yang pikirannya kolot emang suka gitu. Ibu-ibu itu tipe mertua jahat yang sering ada di sinetron-sinetron tivi. Kalau ditawarin main sinetron kayaknya ibu itu gak perlu di-casting dulu. Begitu lihat wajahnya sutradara langsung rekrut." Seorang perempuan yang umurnya tidak jauh beda dari perempuan yang tadi dimarahi oleh ibu-ibu itu mengeluarkan unek-uneknya. Tadi ia sempat melihat perempuan tersebut bersama rombongan anak-anak TK, jadi ia tahu kalau anak kecil tersebut bukanlah anak perempuan itu.
"Iya, ya. Dari wajahnya aja keliatan judes," timpal perempuan itu. "Saya permisi dulu, Mbak. Mau cari orang tua anak ini."
Perempuan itu mendudukkan anak kecil itu di kursi panjang dekat dengan kandang kelinci. "Adek yang ganteng, siapa namanya?"
"Pengen itu." Bukannya menjawab, anak kecil itu malah menunjuk permen kapas yang berada di tangan si perempuan.
"Ibu mau ngasih kamu permen kapas ini kalau kamu jawab dulu pertanyaan ibu."
"A...bi...bi...man...yu."
"Hah? Apa? Nggak kedengaran."
Anak kecil itu mengembuskan napas. "Nama aku Abimanyu Nandana. Tapi orang-orang sering panggil aku Nanda."
"Oh... Nanda." Perempuan itu memberikan satu bungkus permen kapasnya. "Kalau nama ibu Nismara Prisa."
"Ibu? Emang Kakak guru, ya?"
Nismara diam sejenak. "Emmm... bisa dibilang begitu. Kamu juga boleh kok panggil kakak dengan sebutan ibu."
"Iya, Bu Nis."
Nismara tersenyum ketika Nanda menyebut nama dengan nama kecilnya.
"Tadi kamu kenapa nangis, Sayang?"
"Aku kabur dari Papa yang nggak mau beliin es krim. Pas aku lari kirain Papa ngejar, tahunya nggak dan aku tersesat. Aku takut sama jerapah yang mau makan rambut aku. Aku lari terus deh sampai di sini. Aku makin takut karena Papa nggak ada dan nggak ada orang yang aku kenal."
"Sekarang Nanda nggak perlu takut. Ada Ibu di sini. Kalau Nanda mau, Nanda boleh, kok, gabung sama anak-anak ibu yang lain. Jadi Nanda ada temennya."
"Gendooong!" Nanda berucap dengan manja sambil merentangkan tangannya.
Saat Nismara akan menggendong Nanda, tiba-tiba ada seorang pria yang menarik Nanda ke dalam gendongannya.
"Kamu mau apa? Mau culik anak saya, ya?"
Nismara bingung. Tetapi kemudian ia tersadar. "Oh... jadi Bapak ini ayahnya Nanda?"
"Abimanyu! Kan udah Papa bilang kamu jangan makan yang manis-manis, nanti gigi kamu sakit lagi. Bandel banget jadi anak!"
Mata Nanda berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan suara tangisan yang hendak meledak.
"Lho, Pak, kalau negur anak jangan dimarahi seperti itu. Kasihan, nanti psikis dia bisa keganggu."
"Kamu penculik tahu apa, hah?! Jangan sok menggurui saya. Dan apa lagi, kamu malah ngasih tahu nama kamu sama orang asing! Dia itu penculik, tahu! Kamu jangan sembarangan makan pemberian dari orang lain." Ayahnya Nanda membuang sembarangan permen kapas yang mulai menciut karena terkena angin.
"Pak, jangan buang sampah sembarang, dong. Lagipula saya bukan penculik."
"Mana ada penculik ngaku! Kamu mau culik anak saya karena butuh uang? Emang kamu butuh uang berapa? Sini, saya kasih."
Nismara mengerutkan kening ketika melihat ayahnya Nanda menyodorkan uang sebesar lima puluh ribu rupiah.
"Saya nggak butuh uang Anda, karena saja juga bekerja tetapi bukan berprofesi sebagai penculik. Dasar otak dengkul! Kalau lihat orang itu jangan pake uang, pake mata biar kelihatan. Kalau kurang jelas pake tetes mata biar nggak rabun." Nismara memungut bungkus permen kapas. Ia berlalu pergi meninggalkan ayah dan anak itu.
Nanda berteriak memanggil Nismara sambil menangis membuat orang-orang yang ada di sana menatap mereka seperti yang sedang bermain sinetron.
"Papa jahat! Papa jahat!" Nanda memukul-mukul bahu ayahnya supaya ia bisa terlepas dan mengejar Nismara.
"Diam! Jangan cengeng! Anak cowok kok nangis. Kamu nggak malu apa diliatin sama orang-orang?"
"Papa jahat!!!"
Karena Nanda makin berontak, pada akhirnya ayahnya membawa Nanda pulang dari kebun binatang itu. Untung saja ayahnya Nanda mengunakan masker, jadi ia tidak terlalu malu orang-orang melihat wajahnya, dan orang-orang tidak akan mengenalinya.
Ayahnya Nanda berjanji tidak akan datang ke tempat kebun binatang itu lagi dan akan mencari kebun binatang yang lain yang lebih aman dari para penculik yang berpura-pura sebagai pengunjung. Selain itu, karena sebenarnya ia malu pada para petugas kebun binatang. Kalau mereka berdua pergi mengunjungi ke sana lagi, para petugas kebun binatang pasti diam-diam akan membicarakan mereka berdua. Image ayahnya Nanda sudah jelek duluan gara-gara ulah dirinya sendiri yang emosian.
Dua hari setelah kejadian 'penculikan' di kebun binatang, Nanda masih saja ngambek pada Arjuna. Ini semua karena Nanda masih ingin bermain di kebun bersama Nismara, apalagi sambil makan permen kapas yang manis dan lembut.
"Kamu jangan ngambek terus dong, Nanda. Papa jadi pusing, nih." Arjuna menghela napas. Ia masih belum bisa menghadapi anaknya yang sedang dalam mode merajuk. Akan percuma diiming-imingi apa pun karena Nanda orangnya sangat keras kepala.
"Aku pengen ke kebun binatang lagi, Pa!"
"Jangan. Kemarin kan udah. Ke tempat yang lain aja, ya?"
"Nggak mau! Aku pengennya ke kebun binatang terus ketemu sama Bu Nismara sama anak-anaknya. Papa juga harus minta maaf ke Bu Nismara karena udah marahin Bu Nismara. Untung aja Bu Nismara nggak nangis sambil marah. Papa jahat marahin orang!"
"Dia itu penculik, Nanda! Ingat itu!"
"Bukan! Bu Nismara bukan penculik! Papanya aja yang orang jahat!"
"Abimanyu!" Arjuna kalau sedang marah selalu memanggil anaknya dengan nama depan. Walaupun Nanda masih kecil tapi Nanda tahu kalau ayahnya tengah marah.
"Ya udah kalau aku nggak dibolehin pergi ke kebun binatang. Aku minta yang lain, boleh?"
"Boleh."
"Tapi Papa janji buat ngabulin permintaanku ini." Nanda mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji. Apa pun yang kamu mau, Papa oabulin semua." Arjuna mengaitkan jari kelingkingnya.
"Kalau gitu Papa harus kasih aku mama. Aku pengen punya kayak orang lain. Semua teman-temanku punya mama, aku nggak. Mereka juga sering diantar-jemput sama mamanya, aku nggak. Kalau lagi hari ibu teman-teman aku selalu ngasih kado ke mamanya, aku nggak. Aku sedih, Pa."
Arjuna mengembuskan napas. Ia mengusap kepala Nanda dengan penuh kasih sayang. "Papa janji deh bakal ngasih kamu mama. Tapi nggak sekarang."
"Dari dulu Papa selalu gitu."
"Soalnya nyari mama itu susah, Sayang."
"Terus kapan, Pa?"
"Kalau Nanda masuk SD. Gimana?"
"Masih lamaaa!"
"Kalau gitu Nanda mau apa lagi? Yang cepet dikabulin sama Papa?"
Nanda berpikir keras. "Permen kapas?"
"No!" Arjuna langsung menolak.
"Cokelat?"
"No!"
"Es cendol!"
"No!"
"Ih, Papa!!!" Nanda kembali merajuk.
"Jangan kebanyakan makan yang manis-manis, entar gigi kamu makin ompong, lho, kayak kakek-kakek. Mau?"
Nanda langsung menutup mulut lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak!"
"Ya udah, kamu mau apa? Mainan baru?"
"Nggak mau." Nanda menggeleng. "Aku mau masuk sekolah lagi, Pa. Udah lama, kan, aku nggak sekolah."
"Hari Senin depan kamu mulai sekolah, ya. Papa udah dapat sekolah baru buat kamu."
"Asyiiik!!!" Nanda kembali ceria. Ia melupakan keinginan terbesarnya setelah keinginan yang sekian akan dikabulkan oleh ayahnya.
Nanda jadi tidak sabar mengenakan seragam baru dan bertemu teman-teman baru. Selama beberapa bulan ini Nanda benar-benar kesepian karena tidak ada teman yang menemaninya.
***
Hari Sabtu, Arjuna dan Nanda pergi ke acara pernikahan anggota staf kantor di perusahaannya. Semua tamu undangan terpesona melihat ketampanan Arjuna yang bagaikan seorang dewa di dalam cerita-cerita legenda. Sesuai namanya, Arjuna adalah sosok laki-laki yang begitu tampan dan gagah, mungkin ini adalah perwujudan asli dari tokoh Arjuna dalam cerita perwayangan.
Para perempuan yang masih single mulai mencari perhatian, dan ibu-ibu yang memiliki anak gadis berharap Arjuna akan meminang anaknya. Tetapi harapan mereka pupus ketika melihat dan mendengar Abimanyu Nandana memanggil Arjuna 'papa' dengan suara yang cukup keras karena suara musik dari sound sistem begitu menggelegar.
Ketika sesi perasmanan, Arjuna sengaja mengambil dua piring, yang satu untuk dirinya dan yang satu lagi untuk Nanda.
Arjuna duduk berkumpul bersama rekan-rekannya di kantor, mereka makan sambil membicarakan banyak hal, tapi topik utamanya adalah membicarakan harga pasar saham.
"Pa!" Nanda menarik lengan jas hitam milik Arjuna.
"Ada apa, Sayang?"
Jari Nanda menunjuk ke arah Yesi, istri dari direktur keuangan di kantornya.
"Tante Yesi punya bayi, bayinya perempuan, Pa."
"Iya, terus?"
"Tapi Aryo katanya nggak mau adik perempuan."
"Kok gitu?"
"Katanya kalau punya adik perempuan itu nggak asyik, lebih asyik punya adik laki-laki. Soalnya adik perempuan nggak bisa diajak main mobil-mobilan, robot-robotan, perang-perangan. Adik perempuan mainnya boneka barbie terus. Emang iya, Pa?"
"Kata siapa? Nggak juga, kok."
Nanda berdecak pelan. "Berarti Aryo bohong dong, Pa?"
Arjuna tidak menjawabnya karena Yesi dan Sigit keburu datang menghampiri dan ikut duduk di kumpulan mereka.
Nanda dan Aryo kembali bermain, sesekali mereka berdua meminta kue-kue atau buah-buahan pada petugas catering.
Nanda mengambil satu potong kue brownies kukus lalu memberikannya pada Yesi. Nanda bilang itu untuk bayinya yang bernama Amanda. Yesi menerimanya dengan senang hati, tetapi ia kemudian memberitahu kalau Amanda masih belum bisa memakan kue.
"Paaa...!" Nanda memanggil Arjuna dengan suara pelan dan sedikit manja.
"Ada apa?"
"Aku pengen punya adik."
Meskipun suara Nanda pelan, tetapi orang-orang di sekitarnya dapat mendengar apa yang bocah itu ucapkan.
Semuanya menahan tawa, kalau kelepasan, bisa-bisa mereka dipecat karena Arjuna adalah pemimpinnya, direktur utama di kantornya. Di antara mereka, hanya satu orang yang bisa mentertawakan, bahkan sampai memukul bahu Arjuna, siapa lagi kalau bukan direktur personalia, Radit namanya.
"Yang sabar ya, Pak, ya! Hahaha..."
Arjuna berdecak kesal. Radit ini memang teman seperjuangan dari jaman SMP, jadi maklum saja kalau Radit berani meledek bahkan bersikap sangat akrab pada atasannya itu.
"Jadi gimana, nih, Pak? Pak Arjuna mau ngasih dulu mama buat Abimanyu atau mau ngasih adik dulu? Ya mending kasih Abimanyu mama dulu ya, kan, Pak? Soalnya kalau langsung ngasih adik mau buatnya gimana kalau nggak ada mamanya?" tanya Radit masih dengan tawanya yang belum hilang.
"Matamu!"
Pada akhirnya semuanya menahan tawa.
"Aduh... ampun, Pak, jangan pecat saya," ucap sekretaris Radit karena ia juga ikut tertawa.
"Apalagi jangan pecat saya, Pak. Istri saya baru lahiran tiga bulan yang lalu, bayi saya masih kecil, saya harus beli popok, susu dan perlengkapan bayi yang lainnya, apalagi untuk masalah dapur harus tetap ngebul." Aryo merapatkan kedua tangannya, memohon supaya ia juga tidak dipecat.
"Saya nggak akan pecat kalian, tapi saya akan potong gaji kalian jadi tiga puluh persen. Puas?"
"Aduh, Pak, potong gajinya jangan kebanyakan. Cicilan mobil saya belum lunas, ini." Kini giliran Radit yang mengeluh. Bisa gawat juga kalau Arjuna benar-benar memotong gaji karyawan.
"Gini aja, deh, Pak, sebagai gantinya, saya akan cari calon mama buat Abimanyu. Gimana? Setuju gak, Pak?"
"Om Radit beneran mau nyari mama buat aku? Serius, nih, Om? Asyiiik!!!" Nanda kegirangan, tentu saja. Di mana coba ada anak yang tidak senang ketika dirinya diiming-imingi oleh orang lain yang pastinya akan cepat terealisasikan.
"Bener, dong. Masa Om bohong."
"Terus kapan Om mau nyari aku mama?"
"Emmm... Abimanyu maunya kapan?"
"Besok! Biar Papa cepet ngasih aku adik."
Arjuna tersedak. Semua orang kembali menahan tawa. Anak kecil berumur lima tahun pikirannya memang benar-benar masih polos. Nanda pikir membuat adik itu langsung jadi seperti membuat kue.
"Abimanyu mau mama yang kayak gimana?"
"Aku mau mama yang kayak Bu Nismara, Om."
Radit mengerutkan kening. "Bu Nismara itu siapa, ya?"
"Penculik," jawab Arjuna dengan nada dingin.
"Oh... penculik yang waktu itu Pak Arjuna ceritain, ya?" tanya Aryo.
Arjuna mengangguk.
"Kalau sama tante yang itu gimana?" Radit menunjuk seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka sambil tersenyum.
Gaya glamor dan nyetrik membuat dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang.
Nanda menggeleng lalu memeluk ayahnya erat-erat. "Nggak mau. Tante itu kayak nenek sihir di film-film."
Tawa mereka kembali pecah. Nanda bisa berbicara seperti itu karena diajarkan oleh Arjuna yang selalu menghindar ketika akan didekati oleh 'tante' yang Radit maksud.
Hari Minggu pagi Arjuna dan Nanda pergi berolahraga menuju tempat Car Free Day setelah itu berjalan santai menuju Stadion Gelora Bung Karno. Rutinitas setiap hari libur yang tidak pernah terlewatkan oleh Arjuna selain berolahraga di tempat gym.
Karena lelah terus berjalan kadang berlari, Nanda memilih untuk membeli cilok di pedagang yang biasa mangkal di dekat stadion. Arjuna membiarkannya saja karena Nanda sudah sering duduk menunggu di sana, sama Abang penjual ciloknya aja mereka berteman, kadang Nanda sering curhat, terutama curhat tentang masalah mamanya yang masih belum kelihatan hilalnya.
Pukul sembilan pagi, Arjuna dan Nanda pulang. Sambil menunggu Arjuna mengambil sepeda yang disimpan di tempat parkir, Nanda membeli bubur kacang hijau sebanyak dua bungkus. Meskipun Nanda lahir dari keluarga konglomerat dan seorang anak dari direktur utama, Nanda lebih suka jajan makan makanan orang dari kalangan biasa, untuk menu makan siang pun, Nanda dan Arjuna sering makan pecel ayam atau pecel bebek yang mangkal tak jauh dari kantornya.
Arjuna sengaja membiasakan Nanda hidup sederhana supaya jika besar nanti Nanda tidak manja dan mengerti akan kehidupan susahnya mencari uang.
Selain sering membeli makanan umum, Nanda juga sering diajak ke acara-acara bakti sosial.
Empat puluh menit perjalanan pulang, Nanda langsung berlari ke rumah untuk segera ke kamar mandi. Ternyata sedari tadi Nanda menahan buang air kecil.
Membersihkan keringat dengan handuk kecil, Arjuna duduk di dapur meja makan. Ia meminum air lemon yang masih tersisa.
Nanda sudah keluar dari kamar mandi. Ia mengambil dua mangkuk dan sendok lalu meletakkannya di atas meja makan.
"Pa, kapan mau ngasih aku adik?"
Arjuna mengernyit, pertanyaan itu lagi?
"Kalau udah ada mama."
"Emang Papa gak bisa ngasih adik kalau nggak ada mama, ya?"
Kepala Arjuna mengangguk.
"Yaaah...!" Nanda mendesah kecewa.
"Jangan minta dua hal itu lagi, Nanda. Minta yang lain aja yang bisa Papa kabulkan secepatnya."
Mumpung sekarang hari Minggu dan Nanda belum puas, bocah kecil itu kemudian meminta..., "Kalau gitu kita pergi jalan-jalan ke kebun binatang pagi, Pa. Katanya hari ini ada panda datang dari Cina."
"Nggak. Jangan. Jangan ke kebun binatang."
"Iiihhh... Papa!"
"Nanti kalau kamu diculik lagi gimana?"
Nanda mencebikkan bibirnya. "Tapi aku pengen ke kebun binatang, pengen lihat panda."
"Lihat di televisi kan bisa."
"Aku nggak mau lihat di televisi, aku maunya lihat di kebun binatang langsung. Aku mau bandingin sama beruang, besar yang mana."
"Keduanya sama besar, sama-sama serem, sama-sama tinggi, sama-sama lucu dan sama-sama suka makan anak kecil yang nakal!"
Nanda hampir menjatuhkan sendoknya ketika Arjuna menatapnya dengan wajah yang serius.
"Papa nggak bohong, kan?"
Arjuna menggeleng. "Nggak. Papa nggak bohong. Papa serius, lho. Kamu mau lihat anak yang dimakan sama panda dan beruang?"
Nanda menelan bubur kacang hijaunya dengan susah payah. Tenggorokannya serasa ada yang menyumbat. "Ng-ng-nggaaak...."
Arjuna tersenyum kecil.
"Kalau beruang sama panda makan anak kecil yang nakal, berarti mereka berdua nggak akan makan aku karena aku anak yang baik. Iya, kan, Pa?"
Skak!
Arjuna kalah.
"Jadi kita bisa, dong, lihat panda sama beruang? Ayo, Pa, ayo!"
Arjuna menghela napas. "Papa lagi capek, Sayang. Besok kamu, kan, sekolah, harus bangun pagi-pagi biar nggak datang kesiangan."
Nanda cemberut.
Bel rumah mereka berbunyi. Arjuna beranjak untuk membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Bude Marni. Ia datang untuk memasak makan siang.
"Padahal Bude nggak usah repot-repot datang, aku sama Nanda rencananya mau makan di luar."
"Nggak apa-apa, toh, Jun. Tadi sekalian Bude abis pergi dari arisan di rumah Bu Sari, karena rumahnya dekat sama rumah kamu, Bude ke sini aja. Selain itu ada yang mau Bude omongin." Bude Marni memasukkan sayuran yang tadi sudah dibelinya dari pasar ke dalam kulkas.
Bisa ditebak kalau isi kulkas milik Pak Direktur Utama itu kosong, hanya ada air putih, susu, yogurt, yakult, cokelat, dan buah-buahan.
"Oma mau?" Nanda menyodorkan sendok berisi bubur kacang hijau.
"Aaaa...." Bude Marni membuka mulutnya, tetapi Nanda malah menyuapkan bubur kacang hijau itu ke dalam mulutnya sendiri. Karena gemas, Bude Marni mencubit pipi Nanda sampai memerah.
"Apa yang mau Bude omongin?" tanya Arjuna.
"Nanti aja kita ngobrolnya kalau udah makan siang. Kalian berdua pergi mandi dulu, gih. Oh ya, kalian mau makan apa?"
"Aku mau makan rendang, Oma."
"Ayam goreng aja, ya? Oma lupa nggak beli daging sapi."
"Ya udah, deh."
***
Makanan telah terhidang di atas meja makan. Mereka bertiga lalu menyantapnya karena waktu sudah pas untuk makan siang. Selesai makan, Bude Marni dan Arjuna mulai membuka pembicaraan yang akan disampaikan oleh Bude Marni.
"Gini lho, Jun, kamu masih ingat sama anaknya Bu Eros, Una? Nah, Bu Eros-nya nanyain kamu lagi, kapan katanya kamu mau ke rumah dia?"
"Kan aku udah bilang kalau jangan terlalu berharap sama aku. Aku mau fokus sama kerjaan dan Nanda."
"Kamu coba kenalan dulu dong, Jun. Siapa tahu cocok. Una orangnya pendiam, lho, baik pula. Pinter masak sama penyayang anak kecil."
Arjuna membuang napas. "Yang dulu juga, kan, orangnya baik, Bude. Tapi kenyataannya malah berkata lain."
"Iya, Bude tahu." Bude Marni memakan buah salak yang dibagi dua dengan Nanda. "Kamu nyari yang kayak gimana? Menurut Bude, Una itu cocok sama kamu, lho."
"Aku nyari yang bener-bener sayang sama Nanda, Bude, bukan cuma sayang sama aku aja. Bukan karena melihat rupa dan harta aku."
"Terus Si Tattiana itu maksudnya kriteria kamu? Iya? Dih!"
"Bude yang nyinggung tapi Bude juga yang kesel. Heran, aku."
"Oh... jadi kamu belain perempuan itu daripada Bude, iya?"
"Bukan gitu juga maksudku, Bude."
Bude Marni menghela napas. "Pokoknya Bude nggak setuju kamu sama dia. Dilihat dari mana pun, perempuan itu cuma suka sama wajah dan harta kamu doang. Kamu harus hati-hati dan harus pinter-pinter pilih perempuan, apalagi buat Nanda."
"Nanda juga nggak suka sama Tante Tattiana. Kata Oma, Tante Tattiana itu wajahnya kayak patung manekin."
Arjuna menatap budenya dengan malas. "Bude kalau ngomong lihat tempat dulu, dong, apalagi kalau lagi kumpul sama ibu-ibu yang lain, seenggaknya kalau lagi bareng sama Nanda omongannya di-rem dulu. Pantes aja Nanda suka ngomong yang aneh-aneh, ternyata semua berawal dari Bude sendiri, ya?"
Bude Marni berdeham pelan. "Ya tolong dimaklumi aja, ya, soalnya Bude, kan, udah tua, ibu-ibu, kalau sesama perempuan pasti banyak yang diomongin dan nggak dipikir-pikir dulu saking asyiknya ngobrol."
"Bukan ngobrol, tapi bergosip." Arjuna meralat ucapan budenya itu.
"Untung aja Nanda nggak pernah ngomong gitu pas di depan Tattiana. Nggak kebayang murka dia kayak gimana entar."
"Perempuan itu gak mungkin murka, paling marah-marah dalam hati aja. Dia nggak mungkin berani, lah."
"Oma, Oma! Kita ke kebun binatang, yuk! Ada panda lho di sana. Aku pengen lihat secara langsung." Nanda memegang tangan Bude Marni supaya Bude Marni mengikutinya.
"Kamu pengen lihat secara langsung?"
Nanda mengangguk.
Bude Marni bangkit dari duduknya lalu mengambil remote televisi. Ia memindahkan channel yang menyiarkan berita tentang tayangan panda yang baru saja didatangkan dari China.
"Tuh, udah lihat secara langsung, kan?" Jari telunjuk Bude Marni menunjuk tulisan 'live' di pojok kanan bawah logo channel televisi tersebut.
Nanda yang belum mengerti apa-apa hanya bisa mengerutkan kening. "Oma... aku pengen lihatnya di kebun binatang langsung, bukan kebun binatang di televisi."
"Sama aja," ucap Arjuna dan Bude Marni bersamaan.