Bab 2

"Maafkan saya, Bara," bisik Rania.

Rania, yang entah dari mana datangnya, tetapi tiba-tiba pula ia sudah berada di belakangku.

Aku sedikit terkejut. Akan tetapi, pikiran kosong lebih dominan dalam diriku. Aku tak menghiraukan Rania, padahal aku tahu ia terus saja memelaskan kata maaf yang ia sertakan dengan elusan di punggungku.

Pada suatu kesempatan, ia memintaku untuk berlapang dada. Mungkinkah?

Tanpa menghiraukan Rania, aku kembali pada jasad bayi kami. Kusentuh ubun-ubunnya, lalu berpindah ke bagian yang lain, ke seputaran dada.

"Ya, Tuhan! Ini?" gumamku dalam hati.

Saat menyentuh bagian dada, jariku terperosok, sekonyong-konyong tidak ada lagi isi di balik dada bayi ini. Demi lebih meyakinkan, kembali kuraih lampu minyak, lalu mendekatkannya ke jasadnya.

"Tidak salah lagi, ini pasti ulahnya. Tunggu kau!?" batinku penuh amarah.

Berpenerangkan cahaya lampu minyak, di dada bayi kami, tampak beberapa jejak lebam berwarna kemerahan seukuran uang logam.

Sudah menjadi rahasia umum jika yang mampu melakukan hal seperti ini dalam waktu singkat hanyalah makhluk jadi-jadian, yang di tanah ini kami menamainya Wurake.

"Tidurlah dengan tenang, Nak. Maafkan kelalaian bapakmu yang tidak berguna ini," sesalku dalam hati.

Puas menerawangi sembari menyesali ketidakbecusan diri dalam menjaga putra sendiri, aku bangkit dari dudukku, berancang-ancang untuk beranjak menuju beranda belakang.

Sebelum berlalu, aku sempat beradu pandang dengan Rania yang duduk meringkuk di pojokan kamar.

Ada apa dengan Rania?

Sekilas pandang, seperti ada pendar cahaya api di dalam bola mata perempuan yang aku ninikahi satu setengah tahunan silam ini.

Merinding! Bulu kudukku sampai berdiri saat coba menantang tatapannya.

Sejenak, sempat terlintas pikiran aneh di dalam diriku. Akan tetapi, buru-buru pula aku menepis.

"Tidak! Tidak mungkin. Ini pasti hanya pikiranku saja," batinku sembari buru-buru beredar.

Nyaris semalam suntuk aku berpekur di beranda belakang. Bermacam prasangka berkecamuk dalam pikiranku. Bayang-bayang kematian putra kami yang pagi ini seharusnya genap berusia sembilan hari, telah meraja di minda ini. Karenanya, aku tidak dapat memejamkan mata walau barang sekejap pun juga. Itu berlangsung hingga fajar menyingsing.

Hingga, malam telah berganti siang.

Dari mulut ke mulut, berita kematian bayi kami tampaknya telah beredar dengan sebegitu cepatnya. Ini bisa terlihat bagaimana hanya dalam hitungan jam, kabarnya sudah menyebar hingga ke desa tetangga. Entahlah jika desa tempat tinggal kami ini hanyalah sebuah desa kecil dengan penghuni kurang dari tiga ratusan Kepala Keluarga.

Entahlah pula jika ini adalah hal yang wajar bila ada berita apa pun, terlebih itu sesuatu yang dianggap tidak wajar, akan sesegera itu juga diketahui oleh penduduk setempat.

Akan tetapi, yang jelas, yang datang melayat di pagi ini, sebagiannya berasal dari desa sebelah.

Sekira pukul delapan pagi, para pelayat mulai berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa. Semakin ke sini, semakin ramai.

Berhubung ada satu kebiasaan yang mungkin tidak lazim di daerah lain, tetapi menjadi seakan-akan wajib di kampung ini, yaitu tidak ada proses pemakaman jenazah di siang hari, dan hanya boleh dimakamkan di malam hari jika tidak ingin mendapatkan sesuatu yang sial, kononnya begitu, maka kami pun punya cukup banyak waktu untuk bertutur sapa.

Para pelayat, usai menyampaikan ucapan belasungkawa, ada beberapa di antara mereka yang bertanya tentang bagaimana proses kematian bayi kami. Selain itu, ada juga yang menyinggung tentang kondisi Rania.

Kenapa Rania tidak keliatan? Di mana dia?

Usai mendapatkan pertanyaan yang berulang-ulang itu, barulah aku tersadar, jika Rania memang tidak terlihat sejak awal pagi tadi. Rania tidak keluar walau hanya sekadar untuk menemui para pelayat. Cemas, aku pun coba menemui Rania.

"Maaf, Bara! Tolong jangan ganggu saya!"

Kembali aku terpana dengan perubahan sikap dan keadaan Rania. Ucapannya, bisa kumaklumi. Siapapun pasti akan butuh ketenangan pasca kondisi seperti yang dialami oleh Rania. Seharusnya, aku pun demikian.

Akan tetapi, sorot mata yang tersembul di antara helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Rania kala ia menatap, pagi ini, benar-benar membuat bulu romaku berdiri hebat. Bola mata itu seperti mengeluarkan nyala api membara.

Ya, Tuhan, ada apa denganmu, Rania?

Gentar! Aku kian gentar bersitatap dengan Rania. Karenanya, kembali pikiran yang tidak-tidak merasuki otakku.

Seharian penuh Rania tidak beranjak dari kamar walau barang sedetik pun juga. Bahkan, ia tidak ikut pada prosesi pemandian jenazah. Rania juga tidak turut serta ke pemakaman.

Karenanya, sepanjang hari pula aku terpaksa mengarang jawaban sekenanya jika ada pelayat yang bertanya perihal dia.

: Rania lagi tidak enak badan. Maklum orang yang belum lama habis melahirkan. Demikian sedikit jawaban yang aku karang sendiri demi menjaga kehormatan Rania.

Tiga hari berselang setelah kematian putra kami, bertepatan dengan hari Kamis, siang hari sepulang sekolah.

Seorang anak lelaki, siswa Sekolah Lanjutan Pertama, dikabarkan, pagi saat berangkat ke sekolah, anak tersebut berangkat dalam keadaan segar-bugar tanpa ada keluhan sedikitpun. Namun, ketika pulang dari sekolah, setiba di rumah, anak tersebut langsung jatuh sakit.

Di rumah, hanya berselang sekira satu jam, usai mulut anak tersebut mengeluarkan busa, lendir, hingga yang tidak masuk akal, pada busa tersebut terdapat belatung dalam jumlah yang cukup banyak, pada akhirnya anak tersebut mengembuskan napas terakhirnya.

Sebelum ajalnya, nenek dari anak yatim-piatu yang malang itu, sempat bertanya perihal apa yang dilakukan cucunya dari pergi hingga pulang sekolah, termasuk dalam perjalanan sebelum mencapai rumah.

Si cucu menjawab, ia tidak melakukan apa-apa. Katanya, ia hanya melakukan aktivitas sebagaimana biasa di setiap harinya. Masih kata si cucu, ada satu hal yang ia lakukan, tetapi apakah mungkin itu penyebab ia muntah-muntah?

"Saya hanya makan satu biji Jambu Air yang dikasi Mama Yohana."

Demikian pengakuan si nenek yang konon menirukan ucapan cucunya.

Spontan kejadian ini membuat kegemparan. Apalagi, telah sekian lama warga menaruh curiga kepada Mama Yohana, seseorang yang berprofesi sebagai Dukun Beranak di kampung ini.

Sore itu juga pihak keluarga korban menyiapkan segala keperluan untuk proses pemakaman jenazah. Tidak lagi menunggu usai waktu isya seperti biasanya. Usai waktu salat magrib, jenazah langsung dikebumikan.

Aku yang ikut hadir sejak proses pemandian hingga pemakaman jenazah, tanpa sengaja mendengar kasak-kusuk yang mengatakan, bahwa akan diadakan perburuan.

Ritual yang penuh resiko ini, konon akan dipimpin oleh seorang sepuh yang paling dituakan di kampung ini.

Tetua yang dimaksud adalah seorang Modin. Ia terkenal sakti mandraguna di kampung yang masih kental dengan laku perpaduan antara pagan dan agama.

Usai proses pemakaman, aku tidak langsung pulang ke rumah, tetapi lebih dulu mampir di rumah duka. Di sini, aku mendapati para Tetua tengah duduk berbincang dengan wajah tegang. Bapak Modin yang dimaksud tadi juga tampak ada di antara orang-orang yang berbincang.

Demi menyimak jalannya pembicaraan, aku pun berbaur dengan para laki-laki yang ada di rumah duka.

Sekira satu jam kemudian, pada akhirnya, aku pun tahu jika pukul 12 malam, malam ini juga perburuan dimaksud akan dilakukan. Oleh Bapak Modin, makhluk yang diduga adalah makhluk jadi-jadian tersebut, akan dipancing keluar dari sarangnya.

Informasi lainnya yang aku dapatkan, dikarenakan sudah berusia lanjut, Bapak Modin hanya akan memimpin mantra-mantra. Sedang untuk eksekusi, akan dilakukan oleh laki-laki dewasa. Demikian kesimpulan serta keputusan yang tercapai.

"Ini pasti seru," batinku. "Saya tidak boleh melewatkan ini. Siapa tau ini adalah kesempatan saya untuk balas dendam."

Bab 3

Sepulang dari melayat, agar arwah tidak ikut masuk ke dalam rumah, usai memberi salam, kami tidak akan langsung menjejakkan kaki ke dalam rumah sebelum di seputaran belakang lebih dulu dilemparkan abu dapur. Atau, boleh juga menggunakan percikan air sebagai pengganti abu dapur. Usai yang demikian, barulah kami akan masuk ke dalam rumah.

Entah ini hanya mitos atau apa, tetapi hingga saat ini, kami masih melanggengkan keyakinan yang sudah melekat semenjak turun-temurun tersebut. 

***

"Tidak apa-apa, asal hati-hati saja. Sebab, kalau tidak salah, yang kalian bicarakan ini, dia adalah orang yang sangat sakti di kampung ini."

Diam-diam aku mengernyit. Dari mana Rania tahu semua ini? Padahal, barusan aku hanya minta izin untuk ikut perburuan sebentar nanti. 

Aneh!

Belum sempat menimpali, Rania kembali mengucap. Kali ini, semakin Rania berkata-kata, maka semakin tercengang-bengang pulalah aku dibuatnya.

Rania tahu banyak seluk-beluk ilmu hitam yang menjadi momok oleh banyak orang di tanah ini.

Menurut pengakuan Rania, laku ilmu hitam jenis ini, ada sebagian orang yang mendapatkannya bukan berdasarkan keinginan mereka sendiri, tetapi lebih kepada serupa ilmu telur, yang mana ilmu hitam tersebut telah bersemayam dalam diri seseorang sejak ia masih berupa janin di dalam rahim ibunya. 

Kononnya, setiap generasi akan selalu ada, paling tidak satu orang yang akan menjadi inang secara paksa untuk mewarisi ilmu tersebut.

Entah betul atau tidak, tetapi konon ilmu tersebut hanya akan bisa hilang jika trah dari keluarga tersebut, telah habis atau punah dari muka bumi ini. 

Dengan kata lain, hanya terputusnya keturunan keluarga tersebutlah yang bisa mengakhiri perpindahannya.

Sedangkan sebagiannya pula, diyakini telah dengan sengaja mempelajarinya. Konon, rata-rata yang menjadi motivasinya adalah agar mereka tetap awet muda. 

Biasanya, keinginan untuk tetap terlihat awet muda, ini adalah alasan dari kaum perempuan yang nekat bersekutu dengan Setan dalam mendapatkan ilmu ini.

Selainnya adalah untuk misi balas dendam. Kasus terakhir inilah yang paling banyak mendatangkan korban.

Mendengarkan penuturan Rania yang demikian, aku tidak tahu, apakah harus takjub, khawatir, atau justru curiga?

"Kamu banyak tau seperti ini, bagaimana ceritanya?" Aku coba berselidik.

"Sejak kecil, saya sudah sering dengar ini. Almarhumah mama yang sering cerita bagaimana hebatnya ilmu seperti ini."

Rania menambahkan, laku terakhir murid yang mempelajari ilmu ini, ia tidak akan dinyatakan lulus jika ia masih memiliki sedikit saja rasa jijik. 

Sang murid tidak akan pernah bisa menerbangkan kepala, atau berubah wujud, jika dia belum memakan secara langsung kotoran gurunya sendiri.

"Apakah karena itu orang yang punya ilmu hitam seperti ini, rumahnya rata-rata rumah panggung?" 

"Mungkin, iya, mungkin juga tidak," sahut Rania. "Tapi yang jelas, saat-saat terakhir sebelum mereka dinyatakan lulus, mereka akan turun di bawah kolong, baru mereka liat ke atas. Dia angkat kepalanya begitu, dan."

"Terus?" Aku semakin penasaran.

"Ya, itu, mereka buka mulutnya lebar-lebar. Selanjutnya, gurunya, 'kan ada di atas rumah, tuh! A ... mulailah gurunya BAB di sela-sela lantai. Di situ, 'kan sudah ada mulut muridnya yang menganga lebar."

"Ih, terus?"

"Pokoknya, gurunya itu BAB di mulut muridnya."

"Hi ... jorok betul, ya?" gumamku. "Terus, kotoran gurunya itu diapain. Dimakan gitu, atau ... ?"

"Mama bilang, iya, kotorannya itu langsung ditelan muridnya."

"Hoek!" 

Aku tidak tahan lagi. Sambil menutup mulut menahan muntah, bergegas aku keluar rumah. Di luar, barulah aku mengeluarkan semua apa yang aku tahan-tahan karena rasa jijik barusan. Setelah itu, aku bergegas menuju kamar mandi. 

Sementara berkumur-kumur, Rania datang menghampiriku. Aku meliriknya sekilas. Tidak seperti aku yang termuntah-muntah, Rania tampak baik-baik saja. Tidak ada mimik geli sedikitpun di wajahnya. 

Terang saja aku merasa heran. Akan tetapi, mungkin ini dikarenakan Rania yang telah terbiasa mendengar, atau membicarakan hal tersebut. Jadi, mungkin adalah hal yang wajar jika dia memiliki semacam antibodi untuk kalimat yang menjinakkan tersebut.

Bahkan, alih-alih merasa jijik, Rania justru bertanya, apakah aku mau, atau punya niat untuk mempelajari ilmu hitam tersebut. 

Tegas aku menjawab : "Saya malah punya niat untuk membunuh para Wurake ini jika punya kesempatan bertemu langsung dengan mereka."

Rania terdiam. Setelahnya, tanpa kata, Rania beredar. Tidak berapa lama kemudian, aku pun menyusul.

Malam terus beringsut. 

Di ruang dapur, lama saling diam, usai menghidangkan makan malam, Rania memberitahuku satu hal lainnya lagi. Di sini, Rania seolah tahu apa yang tengah berkecamuk dalam pikiranku.

"Makan saja dulu. Tidak perlu buru-buru. Tidak terlalu sulit cara mengatasi Wurake. Rahasianya, yang penting kamu jangan sampai kaget kalau ketemu mereka."

"Maksudnya?" Aku menatap lekat wajah Rania. 

Rania yang misterius ini, ia hanya tersenyum kecil seraya mengucap, "Makan saja dulu."

Aku tidak memaksa. Pun, usai menyantap beberapa potong singkong rebus, aku pun mohon pamit.

"Tunggulah sebentar! Merokok-rokok dulu, atau apa gitu. Tunggu sebentar, ya! Tunggu sebentar. Jangan pergi dulu," ucap Rania lalu buru-buru keluar rumah. Aku mendiamkannya. 

Tidak berapa lama kemudian, Rania kembali sambil menenteng sepotong batang kelor seukuran pergelangan tangan.

"Untuk apa itu?" Aku menyambutnya dengan kening mengerut.

"Bawa ini. Ini senjata paling ampuh untuk penganut ilmu hitam apa pun," sahut Rania dengan penuh penegasan.

Keningku kian meninggi kala Rania menambahkan bahwa, para penganut Wurake itu semuanya sakti-sakti. 

Konon, para Wurake bukan hanya bisa menerbangkan kepala tanpa badan yang hanya membawa usus menggantung saja. Bukan juga hanya bisa menjelma dalam banyak rupa, tetapi mereka rata-rata kebal senjata. 

Akan tetapi, meskipun demikian, bukan berarti mereka tidak bisa terkalahkan. Mereka juga punya kelemahan.

"Apa kelemahan mereka?" Aku semakin tidak sabar ingin mengetahui kelanjutan ucapan Rania.

"Selain batang kelor ini, satu rahasia kelemahannya. Pukul dengan hitungan tunggal. Tidak penting kuat atau lemahnya pukulan. 

Yang pasti, cukup satu kali pukul saja. 

Seumpama mereka yang duluan nyentuh atau mukul kamu, balas sesuai jumlah sentuhan atau pukulannya. 

Kalau dia mukul kamu satu kali, balas satu kali juga. Kalau dua kali, balas juga dua kali. Begitu seterusnya."

"Misal, tanpa sengaja saya pukul dia dua kali, gimana?"

"Tidak ada istilah tanpa sengaja. Kalau kamu ceroboh, apalagi nekat mukul dua kali, padahal dia mukul kamu cuma satu kali, maka berdoalah! Semoga besok kamu masih bisa lihat matahari pagi."

Cukup, aku tidak lagi bertanya.

Pun, tepat tengah malam, sekali lagi aku pamit usai meminta doa restu dari Rania. Di depan pintu sebelum menjejakkan kaki ke tanah, Rania berucap lagi. Kali ini, sebelum melangkah, Rania memintaku untuk mengetes napas dengan cara memencet salah satu lubang hidung.

"Bagian mana nafasnya yang paling lancar, maka mulailah melangkah pakai kaki yang itu."

Meskipun tidak berminat, tetapi aku turuti saja keinginan Rania.

Astaga! Ternyata benar.

Lengangnya pernapasan, sangat jelas berbeda antara satu lubang hidung dengan lubang hidung lainnya. Aku bahkan sempat mengulangnya hingga tiga kali di masing-masing lubang hidung. 

"Rania? Jangan-jangan Rania ini memang Wurake juga? Astaghfirullah azim, mudah-mudahan bukan, kasian."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

WURAKE

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED