"Kok, tidak ada darahnya, ya?" gumamku
Kecuali dua hari pertama pasca melahirkan, enam hari berturut-turut, aku tidak lagi mendapatkan bercak nifas di kain sarung atau baju yang dipakai oleh Rania, istriku.
Ini sedikit aneh. Rania tidak seperti wanita pada umumnya, yang mana ada yang hingga empat puluh hari pasca melahirkan, kurun itu adalah masa nifas bagi mereka.
Selain itu, jika pada umumnya wanita pasca melahirkan akan terlihat lesu dikarenakan banyaknya sel-sel syaraf yang rusak atau putus pada saat melahirkan, Rania tidak seperti itu. Rania tampak biasa-biasa saja.
Bahkan, kemarin pagi aku melihatnya memanjat pohon kates. Dia tidak khawatir sama sekali akan mengalami pendarahan, padahal kemarin baru genap satu minggu dia melahirkan bayi pertama kami. Tidakkah itu aneh?
Bersamaan dengan itu, jarum jam terus berputar. Aku yang sejak tadi hanya duduk diam menjiwai pakaian-pakaian kotor Rania, tanpa sadar telah kehilangan banyak waktu. Hari sebentar lagi gelap, aku belum mencuci satu potong pakaian pun.
Sadar tengah berpacu dengan waktu, gegas pulalah aku memulai rutinitas yang sudah menjadi tanggung jawabku pada sepekan terakhir, pasca Rania melahirkan.
Tidak berapa lama kemudian, aku sudah sempat mengucek beberapa potong pakaian, saat Rania tiba-tiba datang menyentakku.
"Astaga! Bara? Simpan, simpan! Kau mau bunuh kami, ya, nyuci malam-malam begini?"
Dikejutkan Rania, gegas aku bangkit dari dudukku. Lalu, meskipun harus berseteru dengan diri sendiri, pada akhirnya aku beredar, meninggalkan Rania, juga baskom berisi rendaman cucian.
Beberapa langkah beringsut membelakangi kamar mandi, tiba-tiba saja pula bayi kami, bayi yang belum sempat kami beri nama, memperdengarkan suara tangisnya.
"Sudah, Rania," ucapku. "Tolong lihat anak kita itu!" seruku kemudian.
Tanpa kata, Rania beredar dengan tergesa-gesa menuju ke kamar tidur, tempat di mana bayi kami berada.
Rania sudah berada di kamar sejak lima menitan yang lalu, tetapi tangis bayi kami belum juga kunjung reda. Risau, aku pun beringsut menghampiri mereka.
"Kenapa, dia?" tanyaku.
"Ah, biasalah," jawab Rania. "Namanya juga bayi, kalau tidak tidur, ya, nangis kayak gini." Rania menjawab dengan nada acuh tak acuh, seolah-olah ini adalah hal biasa dan tidak perlu dirisaukan.
"Tapi, suaranya itu ...."
"Tidak, ah! Tidak apa-apa!" potong Rania.
Mendapati ucapan Rania yang seperti itu, aku mundur, meninggalkan Rania dan bayinya di ruangan remang-remang, ruang yang hanya menggunakan lampu minyak sebagai alat penerangnya.
Aku beredar menuju ruang belakang, menyeduh segelas kopi, sebelum akhirnya menuju beranda depan.
Di beranda, ditemani segelas kopi hitam dan linting-linting tembakau bambu, di sini aku coba menenangkan diri, merenungkan banyak hal.
Selinting tembakau baru saja usai aku sulut. Ini adalah linting yang kesekian. Kuisap dalam-dalam, sambil sesekali menyelinginya dengan tegukan kopi. Ada rasa yang entah terselip di setiap tegukannya.
Keheningan, isapan rokok, dan cekatnya kopi adalah perpaduan kegamangan pikir. Semua ini seolah hendak mengokohkan kebenaran sugesti yang telah kami yakini semenjak turun-temurun.
Sugesti leluhur mengatakan, pamali besar jika mencuci pakaian bayi, dan bercak nifas di malam hari. Tangis bayi kami yang belum juga ada tanda-tanda jika akan reda, mungkin itu adalah sedikit pembenaran, jika sugesti itu memang benar adanya.
Namun, di sisi lain, jika hanya membiarkan semua pakaian kotor tersebut tanpa membereskannya, itu sama dengan secara tidak langsung sengaja mengundang para penganut ilmu hitam, untuk datang melakukan ritual pesta pora di rumah ini.
Apa yang harus dilakukan? Aku benar-benar kebingungan. Sudahlah begitu, Rania seolah tidak mengijinkan aku ikut andil dalam meredakan tangis bayi kami.
Lalu, malam terus beringsut.
Di tengah upayaku menjinakkan resah, tiba-tiba pula aku dikejutkan dengan melintasnya seekor Kucing.
Kucing.
Di mana pun di muka bumi ini, Kucing pasti memiliki ukuran kaki yang semuanya sama panjang. Namun, tidak dengan kucing yang terlihat olehku di ketika ini.
Sangat jelas sepasang kaki bagian belakang, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan dua kaki di bagian depan. Sehingga caranya berjalan, kucing ini lebih menyerupai cara manusia berjalan, merangkak dengan menggunakan kedua kaki dan kedua tangan secara bersamaan. Cara berjalan kucing yang satu ini, sungguh jauh dari kelaziman.
"Dia sudah!" gumamku setelah barusan hanya diam hingga beberapa saat lamanya. Kucing ini sudah membuatku terkesima.
Seembusan napas kemudian, serta-merta kuraih keris seukuran golok kecil yang terselip di pinggangku. Keris berkelok yang tajam di kedua sisinya ini, memang sengaja senantiasa aku siagakan pada sepekanan terakhir. Usai yang demikian, sigap aku melompat ke arah Kucing tersebut.
Mungkin menyadari gelagatku, kucing ini menoleh, menatapku.
Oh, dia menantangku?
Sempat sejenak saling tatap, pada akhirnya ia memalingkan wajah, melanjutkan langkah, menjauh dariku.
Tidak ingin kehilangannya, aku pun mengayun langkah. Namun, sayang! Baru beberapa langkah, kedua kakiku tiba-tiba saja terasa kaku laksana terpasung bumi.
Sadar ada yang tidak beres, segera pula aku berkomat-kamit, melafazkan mantra-mantra.
Beberapa saat kemudian, berhasil, aku pulih semula.
Aku baru saja melanjutkan langkah, sedangkan kucing hitam barusan sudah lebih dulu menjauh, menghilang ke dalam kegelapan malam sana. Masih berharap dapat menyelesaikan urusan dengannya, coba pulalah aku mengikuti jejaknya hingga ke mana ia menghilang.
Yakin belum terlalu jauh, aku pun menerobos ke kegelapan searah dengan perginya makhluk tersebut.
Hutan kecil di ujung desa.
Suasananya cukup membuat jantung berdetak cepat. Selain suara jangkrik dan desir angin yang berembus di celah-celah pepohonan, tidak apa pun lagi yang terdengar di dalam hutan yang ada di salah satu sudut kampung ini. Bersamaan dengan itu, perlahan bulu kudukku berdiri satu-satu.
Jujur, aku sedikit gentar dengan aura mistis yang tiba-tiba muncul ini. Akan tetapi, disamping sudah terlanjur berada di area hutan kecil, tempat yang aku yakini sebagai tempat terakhir menghilangnya kucing barusan, aku juga terdorong oleh rasa penasaran, serta hasrat untuk mendapatkan buruan.
Karenanya, semua itu membuatku nekat untuk melawan rasa gentar dalam diri sendiri.
"Jangan takut, Bara, jangan takut!"
bisikku coba untuk menyakinkan diri sambil terus merangsek ke dalam kegelapan.
Tidak berapa lama kemudian.
Samar-samar aku lihat seperti adanya bayangan yang bergerak-gerak dari balik sebatang pohon, tidak seberapa jauh di sana.
Siapa orang yang berani datang di hutan malam hari seperti ini? Aku mulai siaga penuh.
Keris kugenggam dengan erat. Sangat erat. Lalu, hati-hati aku beringsut maju, berjalan setengah membungkuk, menghampiri muasal bayangan tersebut.
Selang kemudian ....
"Jangan Bara! Ini saya!"
Suara seorang wanita pemilik bayangan menggema, membelah kesunyian malam, mengadang ayunan keris yang hendak aku hunjamkan ke tubuhnya.
Nyaris! Nyaris saja.
Andai saja aku tidak mengenali dengan jelas pemilik suara ini, maka niscaya malam ini akan ada mayat yang jatuh menggelepar di hadapanku.
"Kamu? Kamu bikin apa di sini?"
"Saya ... cari Mangga," jawabnya.
Cari Mangga? Sejak kapan ada pohon mangga di sekitar sini? Meskipun aku bukan penduduk asli di desa ini, tetapi aku tahu persis kondisi hutan kecil ini. Saban waktu aku ke sini, bagaimana mungkin aku bisa percaya ucapan wanita ini?
Namun demikian, aku tidak tahu bagaimana cara untuk mendebatnya.
"Jangan-jangan ini .... O, tidak!" Tiba-tiba saja pula aku teringat pada bayi kami di rumah sana. Ini mungkin jebakan. Resah, seketika itu juga aku berlari menuju pulang.
Sesampainya di rumah, gegas aku menuju kamar tempat di mana bayi kami berada.
"Oh, syukurlah!" gumamku lega.
Walaupun dalam kondisi remang-remang, aku masih bisa melihat bayi kami dalam keadaan baik-baik saja.
Akan tetapi, tunggu dulu. Kenapa bayi kami terdiam seperti boneka tak bernyawa?
Sesaat kemudian, aku beringsut meraih lampu minyak yang ada di ruangan ini, lalu mendekatkannya pada bayi kami.
Satu tanganku memegang lampu minyak, sedang tanganku yang lainnya aku gunakan untuk menyentuh tubuhnya.
Saat menyentuh seputaran wajah, aku mulai merasa ada yang aneh dengan bayi ini. Tubuhnya tak lagi merespon sebagaimana biasanya. Penasaran, aku menyatukan jari telunjuk dan jari tengah, kemudian mendekatkannya ke hidungnya.
O, Tuhan, aku tidak lagi merasakan adanya pernapasan di sana. Sedetik kemudian, merasa kurang yakin, juga ingin memastikan, aku membuka kain sarung yang membalut tubuh mungilnya.
"Ya, Tuhan ... bayiku?"
"Maafkan saya, Bara," bisik Rania.
Rania, yang entah dari mana datangnya, tetapi tiba-tiba pula ia sudah berada di belakangku.
Aku sedikit terkejut. Akan tetapi, pikiran kosong lebih dominan dalam diriku. Aku tak menghiraukan Rania, padahal aku tahu ia terus saja memelaskan kata maaf yang ia sertakan dengan elusan di punggungku.
Pada suatu kesempatan, ia memintaku untuk berlapang dada. Mungkinkah?
Tanpa menghiraukan Rania, aku kembali pada jasad bayi kami. Kusentuh ubun-ubunnya, lalu berpindah ke bagian yang lain, ke seputaran dada.
"Ya, Tuhan! Ini?" gumamku dalam hati.
Saat menyentuh bagian dada, jariku terperosok, sekonyong-konyong tidak ada lagi isi di balik dada bayi ini. Demi lebih meyakinkan, kembali kuraih lampu minyak, lalu mendekatkannya ke jasadnya.
"Tidak salah lagi, ini pasti ulahnya. Tunggu kau!?" batinku penuh amarah.
Berpenerangkan cahaya lampu minyak, di dada bayi kami, tampak beberapa jejak lebam berwarna kemerahan seukuran uang logam.
Sudah menjadi rahasia umum jika yang mampu melakukan hal seperti ini dalam waktu singkat hanyalah makhluk jadi-jadian, yang di tanah ini kami menamainya Wurake.
"Tidurlah dengan tenang, Nak. Maafkan kelalaian bapakmu yang tidak berguna ini," sesalku dalam hati.
Puas menerawangi sembari menyesali ketidakbecusan diri dalam menjaga putra sendiri, aku bangkit dari dudukku, berancang-ancang untuk beranjak menuju beranda belakang.
Sebelum berlalu, aku sempat beradu pandang dengan Rania yang duduk meringkuk di pojokan kamar.
Ada apa dengan Rania?
Sekilas pandang, seperti ada pendar cahaya api di dalam bola mata perempuan yang aku ninikahi satu setengah tahunan silam ini.
Merinding! Bulu kudukku sampai berdiri saat coba menantang tatapannya.
Sejenak, sempat terlintas pikiran aneh di dalam diriku. Akan tetapi, buru-buru pula aku menepis.
"Tidak! Tidak mungkin. Ini pasti hanya pikiranku saja," batinku sembari buru-buru beredar.
Nyaris semalam suntuk aku berpekur di beranda belakang. Bermacam prasangka berkecamuk dalam pikiranku. Bayang-bayang kematian putra kami yang pagi ini seharusnya genap berusia sembilan hari, telah meraja di minda ini. Karenanya, aku tidak dapat memejamkan mata walau barang sekejap pun juga. Itu berlangsung hingga fajar menyingsing.
Hingga, malam telah berganti siang.
Dari mulut ke mulut, berita kematian bayi kami tampaknya telah beredar dengan sebegitu cepatnya. Ini bisa terlihat bagaimana hanya dalam hitungan jam, kabarnya sudah menyebar hingga ke desa tetangga. Entahlah jika desa tempat tinggal kami ini hanyalah sebuah desa kecil dengan penghuni kurang dari tiga ratusan Kepala Keluarga.
Entahlah pula jika ini adalah hal yang wajar bila ada berita apa pun, terlebih itu sesuatu yang dianggap tidak wajar, akan sesegera itu juga diketahui oleh penduduk setempat.
Akan tetapi, yang jelas, yang datang melayat di pagi ini, sebagiannya berasal dari desa sebelah.
Sekira pukul delapan pagi, para pelayat mulai berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa. Semakin ke sini, semakin ramai.
Berhubung ada satu kebiasaan yang mungkin tidak lazim di daerah lain, tetapi menjadi seakan-akan wajib di kampung ini, yaitu tidak ada proses pemakaman jenazah di siang hari, dan hanya boleh dimakamkan di malam hari jika tidak ingin mendapatkan sesuatu yang sial, kononnya begitu, maka kami pun punya cukup banyak waktu untuk bertutur sapa.
Para pelayat, usai menyampaikan ucapan belasungkawa, ada beberapa di antara mereka yang bertanya tentang bagaimana proses kematian bayi kami. Selain itu, ada juga yang menyinggung tentang kondisi Rania.
Kenapa Rania tidak keliatan? Di mana dia?
Usai mendapatkan pertanyaan yang berulang-ulang itu, barulah aku tersadar, jika Rania memang tidak terlihat sejak awal pagi tadi. Rania tidak keluar walau hanya sekadar untuk menemui para pelayat. Cemas, aku pun coba menemui Rania.
"Maaf, Bara! Tolong jangan ganggu saya!"
Kembali aku terpana dengan perubahan sikap dan keadaan Rania. Ucapannya, bisa kumaklumi. Siapapun pasti akan butuh ketenangan pasca kondisi seperti yang dialami oleh Rania. Seharusnya, aku pun demikian.
Akan tetapi, sorot mata yang tersembul di antara helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Rania kala ia menatap, pagi ini, benar-benar membuat bulu romaku berdiri hebat. Bola mata itu seperti mengeluarkan nyala api membara.
Ya, Tuhan, ada apa denganmu, Rania?
Gentar! Aku kian gentar bersitatap dengan Rania. Karenanya, kembali pikiran yang tidak-tidak merasuki otakku.
Seharian penuh Rania tidak beranjak dari kamar walau barang sedetik pun juga. Bahkan, ia tidak ikut pada prosesi pemandian jenazah. Rania juga tidak turut serta ke pemakaman.
Karenanya, sepanjang hari pula aku terpaksa mengarang jawaban sekenanya jika ada pelayat yang bertanya perihal dia.
: Rania lagi tidak enak badan. Maklum orang yang belum lama habis melahirkan. Demikian sedikit jawaban yang aku karang sendiri demi menjaga kehormatan Rania.
Tiga hari berselang setelah kematian putra kami, bertepatan dengan hari Kamis, siang hari sepulang sekolah.
Seorang anak lelaki, siswa Sekolah Lanjutan Pertama, dikabarkan, pagi saat berangkat ke sekolah, anak tersebut berangkat dalam keadaan segar-bugar tanpa ada keluhan sedikitpun. Namun, ketika pulang dari sekolah, setiba di rumah, anak tersebut langsung jatuh sakit.
Di rumah, hanya berselang sekira satu jam, usai mulut anak tersebut mengeluarkan busa, lendir, hingga yang tidak masuk akal, pada busa tersebut terdapat belatung dalam jumlah yang cukup banyak, pada akhirnya anak tersebut mengembuskan napas terakhirnya.
Sebelum ajalnya, nenek dari anak yatim-piatu yang malang itu, sempat bertanya perihal apa yang dilakukan cucunya dari pergi hingga pulang sekolah, termasuk dalam perjalanan sebelum mencapai rumah.
Si cucu menjawab, ia tidak melakukan apa-apa. Katanya, ia hanya melakukan aktivitas sebagaimana biasa di setiap harinya. Masih kata si cucu, ada satu hal yang ia lakukan, tetapi apakah mungkin itu penyebab ia muntah-muntah?
"Saya hanya makan satu biji Jambu Air yang dikasi Mama Yohana."
Demikian pengakuan si nenek yang konon menirukan ucapan cucunya.
Spontan kejadian ini membuat kegemparan. Apalagi, telah sekian lama warga menaruh curiga kepada Mama Yohana, seseorang yang berprofesi sebagai Dukun Beranak di kampung ini.
Sore itu juga pihak keluarga korban menyiapkan segala keperluan untuk proses pemakaman jenazah. Tidak lagi menunggu usai waktu isya seperti biasanya. Usai waktu salat magrib, jenazah langsung dikebumikan.
Aku yang ikut hadir sejak proses pemandian hingga pemakaman jenazah, tanpa sengaja mendengar kasak-kusuk yang mengatakan, bahwa akan diadakan perburuan.
Ritual yang penuh resiko ini, konon akan dipimpin oleh seorang sepuh yang paling dituakan di kampung ini.
Tetua yang dimaksud adalah seorang Modin. Ia terkenal sakti mandraguna di kampung yang masih kental dengan laku perpaduan antara pagan dan agama.
Usai proses pemakaman, aku tidak langsung pulang ke rumah, tetapi lebih dulu mampir di rumah duka. Di sini, aku mendapati para Tetua tengah duduk berbincang dengan wajah tegang. Bapak Modin yang dimaksud tadi juga tampak ada di antara orang-orang yang berbincang.
Demi menyimak jalannya pembicaraan, aku pun berbaur dengan para laki-laki yang ada di rumah duka.
Sekira satu jam kemudian, pada akhirnya, aku pun tahu jika pukul 12 malam, malam ini juga perburuan dimaksud akan dilakukan. Oleh Bapak Modin, makhluk yang diduga adalah makhluk jadi-jadian tersebut, akan dipancing keluar dari sarangnya.
Informasi lainnya yang aku dapatkan, dikarenakan sudah berusia lanjut, Bapak Modin hanya akan memimpin mantra-mantra. Sedang untuk eksekusi, akan dilakukan oleh laki-laki dewasa. Demikian kesimpulan serta keputusan yang tercapai.
"Ini pasti seru," batinku. "Saya tidak boleh melewatkan ini. Siapa tau ini adalah kesempatan saya untuk balas dendam."
Sepulang dari melayat, agar arwah tidak ikut masuk ke dalam rumah, usai memberi salam, kami tidak akan langsung menjejakkan kaki ke dalam rumah sebelum di seputaran belakang lebih dulu dilemparkan abu dapur. Atau, boleh juga menggunakan percikan air sebagai pengganti abu dapur. Usai yang demikian, barulah kami akan masuk ke dalam rumah.
Entah ini hanya mitos atau apa, tetapi hingga saat ini, kami masih melanggengkan keyakinan yang sudah melekat semenjak turun-temurun tersebut.
***
"Tidak apa-apa, asal hati-hati saja. Sebab, kalau tidak salah, yang kalian bicarakan ini, dia adalah orang yang sangat sakti di kampung ini."
Diam-diam aku mengernyit. Dari mana Rania tahu semua ini? Padahal, barusan aku hanya minta izin untuk ikut perburuan sebentar nanti.
Aneh!
Belum sempat menimpali, Rania kembali mengucap. Kali ini, semakin Rania berkata-kata, maka semakin tercengang-bengang pulalah aku dibuatnya.
Rania tahu banyak seluk-beluk ilmu hitam yang menjadi momok oleh banyak orang di tanah ini.
Menurut pengakuan Rania, laku ilmu hitam jenis ini, ada sebagian orang yang mendapatkannya bukan berdasarkan keinginan mereka sendiri, tetapi lebih kepada serupa ilmu telur, yang mana ilmu hitam tersebut telah bersemayam dalam diri seseorang sejak ia masih berupa janin di dalam rahim ibunya.
Kononnya, setiap generasi akan selalu ada, paling tidak satu orang yang akan menjadi inang secara paksa untuk mewarisi ilmu tersebut.
Entah betul atau tidak, tetapi konon ilmu tersebut hanya akan bisa hilang jika trah dari keluarga tersebut, telah habis atau punah dari muka bumi ini.
Dengan kata lain, hanya terputusnya keturunan keluarga tersebutlah yang bisa mengakhiri perpindahannya.
Sedangkan sebagiannya pula, diyakini telah dengan sengaja mempelajarinya. Konon, rata-rata yang menjadi motivasinya adalah agar mereka tetap awet muda.
Biasanya, keinginan untuk tetap terlihat awet muda, ini adalah alasan dari kaum perempuan yang nekat bersekutu dengan Setan dalam mendapatkan ilmu ini.
Selainnya adalah untuk misi balas dendam. Kasus terakhir inilah yang paling banyak mendatangkan korban.
Mendengarkan penuturan Rania yang demikian, aku tidak tahu, apakah harus takjub, khawatir, atau justru curiga?
"Kamu banyak tau seperti ini, bagaimana ceritanya?" Aku coba berselidik.
"Sejak kecil, saya sudah sering dengar ini. Almarhumah mama yang sering cerita bagaimana hebatnya ilmu seperti ini."
Rania menambahkan, laku terakhir murid yang mempelajari ilmu ini, ia tidak akan dinyatakan lulus jika ia masih memiliki sedikit saja rasa jijik.
Sang murid tidak akan pernah bisa menerbangkan kepala, atau berubah wujud, jika dia belum memakan secara langsung kotoran gurunya sendiri.
"Apakah karena itu orang yang punya ilmu hitam seperti ini, rumahnya rata-rata rumah panggung?"
"Mungkin, iya, mungkin juga tidak," sahut Rania. "Tapi yang jelas, saat-saat terakhir sebelum mereka dinyatakan lulus, mereka akan turun di bawah kolong, baru mereka liat ke atas. Dia angkat kepalanya begitu, dan."
"Terus?" Aku semakin penasaran.
"Ya, itu, mereka buka mulutnya lebar-lebar. Selanjutnya, gurunya, 'kan ada di atas rumah, tuh! A ... mulailah gurunya BAB di sela-sela lantai. Di situ, 'kan sudah ada mulut muridnya yang menganga lebar."
"Ih, terus?"
"Pokoknya, gurunya itu BAB di mulut muridnya."
"Hi ... jorok betul, ya?" gumamku. "Terus, kotoran gurunya itu diapain. Dimakan gitu, atau ... ?"
"Mama bilang, iya, kotorannya itu langsung ditelan muridnya."
"Hoek!"
Aku tidak tahan lagi. Sambil menutup mulut menahan muntah, bergegas aku keluar rumah. Di luar, barulah aku mengeluarkan semua apa yang aku tahan-tahan karena rasa jijik barusan. Setelah itu, aku bergegas menuju kamar mandi.
Sementara berkumur-kumur, Rania datang menghampiriku. Aku meliriknya sekilas. Tidak seperti aku yang termuntah-muntah, Rania tampak baik-baik saja. Tidak ada mimik geli sedikitpun di wajahnya.
Terang saja aku merasa heran. Akan tetapi, mungkin ini dikarenakan Rania yang telah terbiasa mendengar, atau membicarakan hal tersebut. Jadi, mungkin adalah hal yang wajar jika dia memiliki semacam antibodi untuk kalimat yang menjinakkan tersebut.
Bahkan, alih-alih merasa jijik, Rania justru bertanya, apakah aku mau, atau punya niat untuk mempelajari ilmu hitam tersebut.
Tegas aku menjawab : "Saya malah punya niat untuk membunuh para Wurake ini jika punya kesempatan bertemu langsung dengan mereka."
Rania terdiam. Setelahnya, tanpa kata, Rania beredar. Tidak berapa lama kemudian, aku pun menyusul.
Malam terus beringsut.
Di ruang dapur, lama saling diam, usai menghidangkan makan malam, Rania memberitahuku satu hal lainnya lagi. Di sini, Rania seolah tahu apa yang tengah berkecamuk dalam pikiranku.
"Makan saja dulu. Tidak perlu buru-buru. Tidak terlalu sulit cara mengatasi Wurake. Rahasianya, yang penting kamu jangan sampai kaget kalau ketemu mereka."
"Maksudnya?" Aku menatap lekat wajah Rania.
Rania yang misterius ini, ia hanya tersenyum kecil seraya mengucap, "Makan saja dulu."
Aku tidak memaksa. Pun, usai menyantap beberapa potong singkong rebus, aku pun mohon pamit.
"Tunggulah sebentar! Merokok-rokok dulu, atau apa gitu. Tunggu sebentar, ya! Tunggu sebentar. Jangan pergi dulu," ucap Rania lalu buru-buru keluar rumah. Aku mendiamkannya.
Tidak berapa lama kemudian, Rania kembali sambil menenteng sepotong batang kelor seukuran pergelangan tangan.
"Untuk apa itu?" Aku menyambutnya dengan kening mengerut.
"Bawa ini. Ini senjata paling ampuh untuk penganut ilmu hitam apa pun," sahut Rania dengan penuh penegasan.
Keningku kian meninggi kala Rania menambahkan bahwa, para penganut Wurake itu semuanya sakti-sakti.
Konon, para Wurake bukan hanya bisa menerbangkan kepala tanpa badan yang hanya membawa usus menggantung saja. Bukan juga hanya bisa menjelma dalam banyak rupa, tetapi mereka rata-rata kebal senjata.
Akan tetapi, meskipun demikian, bukan berarti mereka tidak bisa terkalahkan. Mereka juga punya kelemahan.
"Apa kelemahan mereka?" Aku semakin tidak sabar ingin mengetahui kelanjutan ucapan Rania.
"Selain batang kelor ini, satu rahasia kelemahannya. Pukul dengan hitungan tunggal. Tidak penting kuat atau lemahnya pukulan.
Yang pasti, cukup satu kali pukul saja.
Seumpama mereka yang duluan nyentuh atau mukul kamu, balas sesuai jumlah sentuhan atau pukulannya.
Kalau dia mukul kamu satu kali, balas satu kali juga. Kalau dua kali, balas juga dua kali. Begitu seterusnya."
"Misal, tanpa sengaja saya pukul dia dua kali, gimana?"
"Tidak ada istilah tanpa sengaja. Kalau kamu ceroboh, apalagi nekat mukul dua kali, padahal dia mukul kamu cuma satu kali, maka berdoalah! Semoga besok kamu masih bisa lihat matahari pagi."
Cukup, aku tidak lagi bertanya.
Pun, tepat tengah malam, sekali lagi aku pamit usai meminta doa restu dari Rania. Di depan pintu sebelum menjejakkan kaki ke tanah, Rania berucap lagi. Kali ini, sebelum melangkah, Rania memintaku untuk mengetes napas dengan cara memencet salah satu lubang hidung.
"Bagian mana nafasnya yang paling lancar, maka mulailah melangkah pakai kaki yang itu."
Meskipun tidak berminat, tetapi aku turuti saja keinginan Rania.
Astaga! Ternyata benar.
Lengangnya pernapasan, sangat jelas berbeda antara satu lubang hidung dengan lubang hidung lainnya. Aku bahkan sempat mengulangnya hingga tiga kali di masing-masing lubang hidung.
"Rania? Jangan-jangan Rania ini memang Wurake juga? Astaghfirullah azim, mudah-mudahan bukan, kasian."