Bab 2

"Kau yakin, Angel?"

Angel tampak berdiri di depan cermin besar sambil menenteng sebuah gaun hitam, terdengar helaan nafas berat dari bibirnya. "Entahlah, tapi aku sudah tidak bisa mundur lagi?"

"Kenapa tidak?" Bella terlihat berbaring santai di ranjang dengan sprei putih polos kesukaan Angel.

"Aku akan semakin terlihat seperti seorang pecundang kalau menolak ajakan pemuda aneh itu," jawab Angel sembari mendaratkan pantatnya kasar di tepi ranjang.

"Ah ya, tapi dia sangat tampan." Bella langsung bergerak duduk menghampiri Angel. "Kau mengenalnya di mana?"

"Aku hanya bertemu dengannya di halaman kampus saat dia bertanya kelas Sains."

"Angel Matthew...."

Angel menoleh dengan kening berkerut saat mendengar nada aneh dari sahabatnya itu. "Apa?"

"Kau yakin akan melepas keperawananmu pada pemuda aneh itu?" Tanya Bella sembari menjulurkan jari telunjuknya di lengan Angel yang terbuka. "Apa kau siap, Angel?"

"Hentikan omong kosongmu itu, Bell." Angel menepis tangan gadis itu kasar, lalu menghentakkan kaki sembari bangkit berdiri. "Aku akan tetap berangkat malam ini, dan akan aku tunjukkan pada si brengsek Calvin Klein kalau aku bisa menjadi gadis yang liar dan menggoda."

Angel segera melepaskan bajunya tanpa sungkan, hanya menyisakan kain segitiga yang menutupi inti perawannya. Dia mulai mengenakan gaun hitam panjang yang sejak tadi didekapnya, gaun simple itu memiliki model punggung terbuka dan hanya berhias tali-tali rapuh yang saling terkait satu sama lain.

"Wow... kau sudah tampak menggoda, Nona Matthew," puji Bella dengan mata melebar di balik kaca mata besar yang dikenakan.

"Terimakasih untuk pujiannya Bella, tapi sekarang lebih baik kau membantuku untuk menata rambut ini," balas Angel dengan tatapan tajam.

"Baiklah, Sayangku. Sekarang duduk lah di sini." Bella menepuk sisi ranjang di hadapannya.

Angel pun menurut, ia kembali mendaratkan pantat dengan mata menatap lurus pada cermin besar di depan.

"Menurutmu lebih menantang mana pemuda aneh itu atau Calvin Klein?" Tanya Bella dengan tangan bergerak cekatan untuk mengikat sebagian rambut Angel ke belakang.

Seketika otak Angel kembali memutar memori pertemuaannya dengan pemuda berkulit pucat itu. Tak bisa dipungkiri bahwa pemuda itu memiliki struktur wajah yang sempurna, tapi dia merasakan ada aura lain yang cukup menakutkan di balik ketampanan tersebut.

"Kau tidak mendengarku, Angel?"

"Dia sangat wangi," jawab Angel dengan tatapan menerawang, "dan sangat dingin."

"Apa maksudmu dengan sangat wangi dan sangat dingin?" Bella mengerutkan kening dalam.

Angel mengerjapkan mata cepat untuk mengembalikan fokusnya. "Entahlah, tapi aku bisa mencium aroma sangat wangi yang keluar dari tubuhnya, rasanya belum pernah aku mencium aroma parfum pria manapun yang seperti itu. Satu lagi, saat aku menyentuhnya… dia terasa begitu dingin."

"Apa mungkin dia seorang vampir?" Tanya Bella dengan tiba-tiba.

"What?!" pekik Angek dengan refleks menoleh cepat. "Kau gila?!"

Bella tertawa gila. "Aku hanya bercanda, Angel... kenapa kau menanggapinya dengan serius?"

Angel baru akan kembali membalas saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, menampilkan seorang wanita yang tak lain adalah ibunya.

"Angel, ada pemuda yang datang untuk menjemputmu."

Seketika tubuh Angel menegang, mendadak merasakan kegugupan tak masuk akal. Padahal sebelumnya dia seolah tak peduli dengan siapa akan bercinta malam ini, karena tujuannya hanya untuk pembuktian diri.

"Kenapa kau tidak pernah bilang pada mommy kalau memiliki teman dekat setampan itu, Angel?" cecar Ny. Matthew.

"Dia hanya teman biasa, Mom," jawab Angel acuh, lalu menyambar clutch dan mengecup pipi ibunya singkat. "Aku berangkat, dan jangan menungguku sampai pulang!"

Angel setengah berlari menuruni anak tangga rumahnya, terus melangkah hingga sampai di teras rumah. Dia terpaku sejenak, menatap pada pemuda berkulit pucat itu yang juga mengenakan setelan serba hitam seperti dirinya. "Sangat tampan," gumam Angel dalam hati.

"Siap berangkat?"

Pertanyaan itu membuat kepala Angel mengangguk tanpa sadar. Dia melangkah di belakang pemuda itu, kembali dapat mencium aroma yang begitu segar saat ada angin yang berhembus.

Namun, mendadak dia terdiam saat matanya melihat sebuah mobil mewah yang terparkir tepat di pelataran rumahnya. "Ini... mobilmu?"

"Masuk lah."

"Apa kau menyewanya?"

"Apa itu penting?"

Angel mendengus keras, mulai tak menyukai sikap arogan dari pemuda aneh itu. Dia mendaratkan pantatnya kasar pada kursi mobil, menunggu sampai pemuda itu duduk di sisinya.

"Erick Cullen."

"Hah? Apa?" Angel menoleh dengan kening berkerut.

"Erick Cullen adalah namaku. Aku pikir kau harus tahu, karena aku suka mendengar gadis-gadis menjeritkan namaku saat di atas ranjang, tak terkecuali dirimu nanti."

Seketika tubuh Angel membeku, refleks melipat bibirnya kuat saat merasakan gelenyar panas hanya karena kalimat tersebut. Dia memilih untuk memalingkan wajah keluar jendela mobil, tak mau kalau sampai Erick melihat wajahnya yang sudah pasti merona.

"Kenapa kau ingin melepas keperawananmu?"

Pertanyaan itu refleks kembali membuat Angel menoleh. "Karena status perawan di Amerika adalah aib."

"Bodoh."

"Apa?!" pekik Angel dengan mata memicing tajam, apalagi saat melihat senyum mengejek yang tersungging di bibir pemuda itu. "Kau menghinaku?!"

"Kita sudah sampai."

"Kau bercanda?" Angel tersenyum miring seolah tak percaya, tapi dia dibuat tercengang saat mendapati mobil yang mereka tumpangi memang sudah terparkir di depan tempat pesta.

"Astaga... bagaimana bisa?" Wajah Angel masih terlihat tak percaya, pasalnya dia merasa baru beberapa menit keluar dari rumahnya.

"Keluar lah."

Lagi-lagi Angel kembali dibuat bingung saat tiba-tiba Erick sudah membukakan pintu mobil hanya dalam satu kedipan mata.

"Apa kau akan terus melamun?"

Angel mengerjapkan mata dan menggeleng cepat, mencoba menghilangkan segala macam kecurigaan yang saat ini saling berteriak di dalam kepalanya. Dia segera keluar dari mobil, tampak pasrah ketika sebelah tangan Erick mulai memeluk pinggangnya posesif.

Mereka memasuki tempat pesta, langsung disambut dengan dentuman musik keras dan kerlap kerlip lampu menyilaukan. Angel yang memang tidak pernah menyambangi sebuah klub malam, langsung merasa tak nyaman dengan segala macam hal yang ada di sekitarnya saat ini.

"Kau tidak suka?"

"Hanya sedikit tidak nyaman," jawab Angel dengan wajah meringis.

"Kalau begitu kita akan pergi dari sini."

"Ke man-" Mendadak kalimat Angel terjeda saat tiba-tiba bibirnya terbungkam oleh bibir pemuda itu. Angel refleks memejamkan mata, menikmati bibir dingin Erick yang mulai melumat setiap inci bibirnya.

Semua terasa aneh, ada rasa manis yang seolah sangat disukainya dari bibir pria itu. Bahkan Angel merasa tak ingin melepasnya, dan malah ikut membalas ciuman Erick tak kalah menggebu. Namun, tiba-tiba pemuda itu menarik lepas bibirnya, membuat Angel seolah merasa kehilangan.

"Ready for tonight?"

Pertanyaan itu menggelitik telinga Angel, membuat matanya kembali terbuka. Dia ingin menjawab, tapi apa yang ada di sekitarnya saat ini membuatnya membeku, karena ternyata mereka sudah berada di sebuah kamar asing dengan atmosfer menyeramkan.

"Kita di mana? Bagaimana bisa?"

"It's my room."

Bab 3

"Kau-" Nafas Angel tercekat dengan mata membulat, bibirnya kelu saat mendadak merasakan ketakutan yang luar biasa. "Siapa sebenarnya dirimu?!"

"Erick Cullen, bukankah aku sudah mengatakannya tadi, Sayang?" Erick tersenyum miring, sebelah tangannya terulur untuk memainkan helaian rambut panjang gadis itu.

Mendadak otak Angel kembali memutar ucapan Megan tentang "vampir" dan dia mulai mempercayainya. "Kau- bukan manusia?"

Erick mengangkat sebelah alisnya."Lalu menurutmu aku apa?"

"Vampir."

"Vampir?" Bibir Erick kembali mengulas senyum miring, lalu perlahan menampilkan deretan giginya yang rapi. "Apa kau melihat sepasang taring di gigiku?"

Angel menggeleng cepat. "Tidak, tapi dalam semua film tentang vampir, tidak selalu ada taring apalagi saat mereka tidak sedang haus. Dan malam ini semuanya aneh."

Erick terdiam, memfokuskan matanya ke arah iris keabu-abuan di hadapannya. Dia tidak ingin Angel semakin takut padanya, hingga dia mencoba untuk mempengaruhi pikiran gadis itu. Namun, semua terasa sulit, dia benar-benar tidak bisa merubah sedikitpun apa yang ada di dalam otak Angel.

"Sial, dia sangat kuat," umpat Erick dalam hati.

"Aku... ingin pulang... aku mohon," pinta Angel dengan tubuh mulai gemetar, ketakutannya semakin memuncak. Dia bergerak mundur, memutar badan cepat saat tiba-tiba sudah mendapati Erick di hadapannya.

"Astaga!" jerit Angel dengan berjingkat kaget. Dia semakin yakin bahwa pemuda yang ada di hadapannya sekarang bukan lah manusia biasa, karena pergerakannya bagaikan kilat yang hanya berlangsung sepersekian detik.

"Kau... tidak akan bisa pergi dariku, Angel," gumam Erick sembari menyeringai. Sebelah tangannya terulur, menarik pinggang Angel hingga tubuh mereka lekat. "Karena kau adalah milikku."

Angel bungkam, tubuhnya membeku saat bibir Erick telah melingkupi bibirnya. Aneh saat semua ketakutannya hilang seketika, berganti dengan rasa nyaman luar biasa. Dia merasakan rasa manis yang tak biasa dari penyatuan bibir mereka, juga aroma wangi yang membuat tubuhnya seolah melayang.

"Aku suka ini... aku tidak ingin berhenti," jerit hati Angel. Dia membalas ciuman Erick tak kalah menggebu, saling membelitkan lidah dan mengecap setiap incinya.

Terdengar erangan pelan yang keluar dari bibir Angel, membuat Erick yakin bahwa gadis itu mulai menikmati ciumannya. Dia tersenyum di sela ciumannya, mulai mengerti titik lemah dari Angel yang ternyata hanya bisa dikendalikan melalui sebuah ciuman.

Erick masih terus mengulum bibir Angel atas bawah, dengan menjalankan tangannya untuk menarik kuat tali-tali gaun Angel hingga terlepas seluruhnya. Gadis itu bahkan tampak pasrah saat gaunnya meluncur ke bawah, berubah menjadi kain tak berharga.

Erick melepaskan bibirnya enggan, membawa kakinya untuk mundur satu langkah. Kini mata coklat terangnya berbinar cerah, mendapati tubuh indah Angel yang hanya berbalut kain segitiga tipis berwarna hitam. "Sangat cantik."

Kesadaran Angel masih sangat baik, dia pun masih bisa merasakan gelenyar hangat yang menjalari tubuhnya hanya karena tatapan intens dari pemuda itu. Saat ini, hanya rasa takutnya yang menghilang, seolah melupakan segala keanehan yang baru saja dirasakan.

Dengan gerakan secepat kilat, Erick sudah membaringkan tubuh Angel di atas ranjang berlapis kain sutra miliknya, juga membawa tubuhnya menindih tubuh Angel yang sudah polos sempurna. Wajah mereka sudah tak berjarak, dengan tatapan Erick yang seolah mengikat mata indah di bawahnya. "Malam ini kau benar-benar akan menjadi pasangan abadiku, Angel... dan aku sudah menunggunya selama ribuan tahun."

"Apa maksudmu?" Tanya Angel tak mengerti, tapi sekali lagi- dia tak merasakan kecurigaan atau ketakutan apa pun saat ini.

Erick tersenyum miring, membawa punggung tangannya untuk menikmati kelembutan wajah gadis itu. "Malam ini, kau akan menjadi milikku untuk selamanya."

Perlahan Erick menurunkan wajahnya, membawa hidungnya menjalari leher Angel yang terpampang untuknya. Dia menghirup kuat-kuat aroma gadis itu, aroma kenikmatan yang sekita membuatnya lapar.

"Kau sangat harum, Sayang...." bisik Angel sembari menjilat kulit leher Angel, membuat gigi taringnya seketika muncul. Dia bersiap menggigit leher Angel untuk memberikan tanda khusus sebagai pasangan abadinya. Tampak gigi taringnya yang sudah menempel erat, tapi tiba-tiba suara Angel menghentikannya.

"Erick...."

Suara lembut itu seketika menggetarkan hatinya, membuat sisi buasnya menghilang begitu saja, bahkan taringnya pun kembali memendek menjadi gigi normal.

"Aku menginginkanmu...."

Kalimat tersebut bagaikan sebuah mantra yang melembutkan hati Erick. Dia kehilangan sisi vampirnya, dan berganti selayaknya pemuda yang jatuh cinta.

"Erick...." Angel menarik sisi wajah Erick agar lebih mendekat padanya. Entah kenapa dia mulai merasakan ketertarikan luar biasa pada pemuda itu. Bahkan dengan berani, Angel mulai kembali melingkupi bibir Erick lebih dulu, memancing gairah pemuda itu tanpa malu-malu.

Erick menggeram rendah, menjalarkan tangannya untuk menikmati kelembutan kulit tubuh Angel di semua bagian. Dia menarik ciumannya hingga terlepas kasar, berganti menikmati dua bukit indah yang telah tegak menantang.

"Owh!" Angel membusungkan dada dengan mata terpejam erat, terhenyak oleh kenikmatan yang baru pertama kali dirasakan. Tubunya berdesir tak karuan, apalagi saat merasakan hisapan lembut dari bibir Erick pada puncaknya.

Logika Angel lumpuh, berganti dengan hasrat nafsu yang menggebu. Dia menyukai setiap sentuhan dari Erick, menikmati perjalanan lidah Erick yang kini telah menyentuh intinya.

"Aaahhh... Erick!"

Erick semakin bersemangat, memainkan inti Angel yang terasa begitu manis. Sesekali dia menghisap, menggigit lembut hingga membuat tubuh gadis itu mengejang hebat.

Angel telah mencapai pelepasan pertama dalam delapan belas tahun hidupnya.

"Kau suka?" Erick kembali mensejajarkan wajah mereka, menatap wajah Angel yang merona. "Kau akan lebih menyukainya setelah ini."

Erick kembali menyerang bibir Angel, kini lebih kasar dan menggebu. Sedangkan di bawah sana, miliknya mulai menguak bibir yang lain, mencoba menerobos masuk ke lembah hangat yang masih terkunci rapat.

"Sakit...." rintih Angel saat merasakan perih yang perlahan mendera, membuat kuku-kuku jarinya menancap kuat pada kulit punggung pemuda itu.

Erick menghentikan segala gerakannya, menatap iba pada wajah Angel yang meringis kesakitan. "Aneh, tidak biasanya aku seperti ini," gumam Erick dalam hati, karena biasanya dia sangat menyukai wanitanya yang kesakitan saat bercinta. Tapi tidak untuk Angel, dia tidak suka melihat gadis itu seperti ini.

"Aku... tidak bisa berhenti," desis Erick dengan rahangnya yang mengetat.

"Kalau begitu jangan berhenti," jawab Angel dengan tatapan lekat, dan entah mendapat keberanian dari mana sampai bisa berkata seperti itu.

Alhasil, Erick kembali melanjutkan aktivitasnya, melesakkan miliknya lebih dalam pada lembah sempit milik gadis itu. "Owh... kau sangat nikmat."

"Erick... ah...." Perlahan tapi pasti, rasa sakit yang dirasakan Angel berganti dengan rasa nikmat yang menyenangkan. Bahkan Angel mulai menggerakkan pinggangnya secara alami, mengimbangi hujaman kuat dari milik Erick yang memenuhi intinya.

Malam ini, kamar yang biasanya berselimut hawa dingin menyeramkan, berganti dengan kehangatan penuh gairah yang menyenangkan. Tubuh mereka terus melekat sepanjang malam, mereguk kenikmatan penuh gairah yang menjadi saksi penyatuan dua makhluk berbeda dunia.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED