Di kediaman keluarga Jecolyn terlihat Mirza Jecolyn, sang istri Clarissa Jecolyn dan kelima putra dan putrinya beserta satu putri angkat saat ini berada di ruang tengah. Mereka tengah bersedih atas apa yang menimpa dua anggota keluarga mereka.
Andry Jecolyn selaku putra sulung meninggal dunia akibat pengeroyokan beberapa preman dan Ghina Jecolyn koma di rumah sakit.
Saat mereka tengah dilanda kesedihan, tiba-tiba mereka dikejutkan kedatangan seseorang. Orang itu adalah sibungsu Jecolyn.
"Aku pulang." Elena sedikit berteriak saat memasuki rumahnya.
Mereka semua yang berada di ruang tengah menatap tajam kearahnya. Elena yang melihat anggota keluarganya yang menatap tajam padanya menjadi heran dan juga bingung.
"Ternyata masih punya nyali untuk pulang, hah!" teriak Rafka.
"Kemana saja kau selama 1 minggu ini?" Afnan menatap penuh amarah kearah Elena.
"Apa kau sedang merencanakan sesuatu untuk membunuh Kami semua, hah?!" bentak Farraz.
"Dasar pembunuh!" bentak Farah dan Naura.
Elena yang mendengar penuturan dari para kakak-kakaknya terkejut. Hatinya benar-benar sakit saat dirinya dikatakan pembunuh. Dirinya baru pulang ke rumahnya setelah satu minggu dirawat dirumah sakit. Bahkan dirinya tidak sadarkan diri selama 3 hari. Tapi saat sampai di rumah, anggota keluarganya berteriak dan menuduhnya sebagai pembunuh.
"Apa maksud kalian? Kenapa kalian bicara seperti itu padaku?" tanya Elena bingung sembari menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya.
Rafka, Afnan, Farraz, Farah dan Naura menghampiri Elena.
PLAK!
Rafka menampar keras wajah Elena sehingga membuat sudut bibirnya terluka dan berdarah.
"Kau benar-benar menjijikkan, Elena! Kau tega mencelakai kakak Andry dan Ghina!" bentak Rafka.
Elena menggelengkan kepalanya sembari air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya saat mendengar penuturan dari Rafka, kakak keduanya itu.
"Gara-gara perbuatanmu, kakak Andry meninggal dan Ghina koma di rumah sakit!" bentak Afnan.
DEG!
Elena terkejut saat mendengar ucapan dari Afnan.
"Apa? Kakak Andry meninggal? Kak Ghina koma?" gumam Elena.
"Kakak Afnan," lirih Elena.
"Jangan panggil aku kakak. Mulai detik ini kau bukan lagi adikku. Kau adalah seorang pembunuh!" bentak Afnan.
"Dasar pembunuh!" teriak Naura.
"Tidak. Aku tidak melakukan apapun." Elena menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudahlah, Elena. Kamu jangan berbohong lagi. Ngaku saja kenapa. Mereka sudah mengetahui perbuatanmu itu," ucap Izza.
PLAK!
Elena menampar keras wajah Izza sehingga membuat sudut bibir Izza berdarah.
"Jaga ucapanmu itu, brengsek! Kau pikir aku ini udah gila, hah! Mereka itu adalah kakak-kakakku. Kakak yang paling aku sayangi diantara kakak-kakakku yang lainnya. Jadi bagaimana bisa kau menuduhku telah membunuh kakak Andry dan membuat kak Ghina koma. Kau hanya anak pungut dikeluarga ini, jadi diamlah dan jangan ikut campur!" bentak Elena.
"Elena!" teriak Naura.
PLAK!
Naura memukul kuat wajah Elena. Elena mengusap darah di sudut bibirnya. Dan menatap tajam wajah Naura.
"Kau berani memukulku demi anak pungut itu, Naura Jecolyn." Elena berucap dengan nada dingin dan dengan tatapan matanya yang tajam.
"Iya, kenapa? Tidak terima? Apa kau ingin membalasnya, hah?" ucap dan tantang Naura.
Elena makin menatap tajam wajah Naura lalu tangannya menarik kuat kerah baju Naura.
"Aku tidak peduli kau membela anak yang tidak tahu diri ini. Aku Elena tidak akan pernah melupakan tamparanmu ini. Aku akan mengingatnya sampai aku mati. Tunggu saja pembalasanku, Naura Jecolyn!" bentak Elena dengan wajah dinginnya.
Setelah mengatakan hal itu, Elena mendorong kasar tubuh Naura sehingga tubuh Naura terjatuh di lantai.
Naura yang mendengar penuturan dari Elena sedikit terkejut. Dirinya tidak menyangka jika adiknya mengatakan hal itu padanya. Naura berpikir dengan memukul adiknya itu, sang adik akan menyadari kesalahannya. Tapi apa yang terjadi. Adiknya mengatakan hal diluar pemikirannya.
"Naura." Rafka dan Afnan menolong Naura untuk berdiri.
Elena melangkah menghampiri kedua orang tuanya lalu menatap wajah keduanya.
"Papa, Mama. Percayalah! Aku tidak melakukan hal itu. Aku tidak mungkin menyakiti kakak Andry dan kak Ghina. Aku menyayangi mereka. Aku menyayangi semua kakak-kakakku." Elena menatap wajah kedua orang tuanya. Dirinya berusaha untuk meyakinkan kedua orang tuanya.
PLAK!
"Aakkhhh." ringis Elena.
Clarissa menampar putri bungsunya. Dan menatap tajam wajah putri bungsunya itu.
"Kau telah menyakiti putraku Andry dan putriku Ghina. Dan sekarang kau berani memukul putri bungsuku, Naura Jecolyn. Mulai hari ini kau bukan lagi putriku. Aku benar-benar menyesal telah melahirkanmu. Jangan pernah menyebutku dengan sebutan Mama karena aku tidak sudi memiliki putri pembunuh sepertimu!" bentak Clarissa.
Elena benar-benar hancur saat mendengar penuturan dari ibunya. Dirinya tidak menyangka bahwa ibunya dengan kejinya mengatakan hal itu padanya.
"Apa yang dikatakan istriku benar. Kau bukan lagi putri kami. Kau hanya seorang pembunuh, tidak lebih. Kau telah berani menyakiti kedua anak-anakku. Lebih baik kau pergi dari rumah ini. Aku tidak ingin kau tinggal disini lagi. Kalau kau masih tinggal disini, bisa-bisa kau akan membunuh putra dan putriku yang lainnya!" bentak Mirza.
Elena menghapus kasar air matanya. Dan kemudian menatap tajam wajah kedua orang tuanya itu lalu beralih menatap tajam wajah Rafka, Afnan, Farraz, Farah, dan Naura. Terakhir, Elena menatap tajam wajah putri angkat kedua orang tuanya itu.
"Hahaha." Elena tertawa bak iblis.
"Kalian semua benar-benar menjijikkan. Kelakuan kalian sudah seperti binatang. Harimau saja yang kejam tidak akan tega menyakiti putrinya sendiri. Tapi kalian sebagai manusia bahkan sebagai orang tua dengan bangganya mengatakan hal sekeji itu pada putri kalian sendiri. Demi anak angkat yang tidak tahu diri itu, kalian menyakiti darah daging kalian sendiri. Kalau itu mau kalian. Baiklah!! Aku akan pergi dari rumah ini. Asal kalian tidak akan menyesali perbuatan kalian padaku. Jika saja hal itu terjadi. Maka semuanya sudah terlambat karena aku tidak akan sudi memaafkan kesalahan kalian dan tidak akan sudi mau mengakui kalian lagi!" bentak Elena.
"Kami tidak akan pernah menyesal atas apa yang kami lakukan hari ini!" teriak Rafka, Afnan, Farraz dan Farah.
Elena mengalihkan pandangannya melihat kearah Rafka, Afnan, Farraz dan Farah dengan tatapan tajamnya.
"Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi setelah kejadian ini. Tuhan maha melihat dan mengetahui segalanya," ucap Elena.
Setelah mengatakan hal itu, Elena pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya dilantai dua.
^^^
Di dalam kamarnya, Elena mengemasi semua pakaiannya lalu memasukkannya ke dalam koper. Dan tidak lupa seluruh uang tabungannya yang selama ini ditabung. Ditambah uang dari hasil lukisannya. Dengan uang itu Elena bisa membeli sebuah MANSION MEWAH. Bahkan lebih Mewah dibandingkan Mansion milik orang tuanya. Serta Elena juga bisa membeli apapun yang dia mau.
Keluarganya menganggap dirinya hanya anak manja yang tidak bisa apa-apa. Tanpa mereka ketahui selama ini, justru si anak manja ini sudah menghasilkan uang banyak dari bakat-bakat dan juga kepintaran yang dimilikinya. Bahkan si anak manja ini juga sudah mendirikan sebuah Perusahaan besar. Bahkan lebih besar di bandingkan Perusahaan sang Ayah. Perusahaannya sudah terkenal sampai mancanegara.
Setelah selesai mengemasi semua pakaian dan barang-barang pribadi miliknya. Elena langsung bergegas keluar dari kamarnya.
Saat ini Elena sudah berada di ruang tengah. Kini tatapannya tertuju pada sebuah pisau yang tergeletak di atas meja, lalu Elena melangkah untuk mengambil pisau itu. Mirza, Clarissa, Rafka, Afnan, Farraz, Farah, dan Naura sedikit terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Elena.
"Kalian lihatlah ini!" teriak Elena sembari meletakkan pisau itu dilengan kirinya. "Buka mata kalian dan liatlah baik-baik," ucap Elena penuh penekanan.
Elena melukai lengannya sehingga darah begitu banyak keluar dari lengannya itu. Elena tidak merasakan sakit sedikit pun. Yang dirasakan Elena saat ini adalah perkataan dan tuduhan orang tuanya dan para kakak-kakaknya untuknya.
Mirza, Clarissa, Rafka, Afnan, Farraz, Farah, dan Naura merasakan kesedihan dan juga sesak di dada mereka saat melihat darah yang keluar begitu banyak dari tangan Elena.
Mereka tidak menyangka jika Elena berani melukai dirinya sendiri.
"Darah ini menandakan bahwa aku bukan lagi bagian keluarga Jecolyn. Dan mulai detik ini namaku Elena. Darah ini menandakan bahwa tidak ada lagi hubungan darah antara aku dengan kalian. Darah ini menandakan putusnya hubungan persaudaraan aku dengan kalian. Darah ini menandakan bahwa kalian bukan lagi orang tuaku dan aku bukan lagi putri kalian. Saat aku keluar dari rumah ini. Secara resmi, kita menjadi musuh. Dan untuk luka di lenganku ini. Aku tidak akan pernah menghilangkan bekasnya karena dengan adanya bekas luka ini, aku akan selalu mengingat kejadian hari ini. Kejadian dimana kalian semua menorehkan luka di hatiku!" bentak Elena sembari menunjuk satu persatu wajah anggota keluarganya sembari masih memegang pisau.
"Aku Elena tidak akan pernah memaafkan kesalahan kalian, walaupun kalian semua sudah mengetahui kebenarannya. Camkan itu Tuan Mirza, Nyonya Clarissa dan juga kalian!!" bentak Elena.
Setelah mengatakan hal itu, Elena membuang pisau tersebut dan kemudian menarik dua kopernya. Elena pergi dengan membawa rasa kekecewaan dan kebenciannya terhadap keluarga Jecolyn.
Setelah kepergian Elena, Clarissa jatuh terduduk lemah di lantai. Dada begitu sesak saat mendengar setiap perkataan yang dilontarkan oleh putri bungsunya itu. Apalagi saat melihat putrinya yang melukai lengannya sendiri. Clarissa dapat melihat dari manik putri bungsunya itu, tidak ada rasa sakit sama sekali saat putrinya itu melukai lengannya. Yang Clarissa lihat adalah kekecewaan, kemarahan dan kebencian.
"Apa aku salah telah berkata seperti itu pada putriku sendiri?" batin Clarissa.
***
Elena saat ini sedang di dalam taksi. Dirinya saat ini ingin ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengobati lukanya tersebut. Dan kebetulan rumah sakit yang akan dikunjungi olehnya itu adalah rumah sakit milik keluarga salah satu sahabatnya yaitu Melvin.
Saat ini usia Elena baru 17 tahun dan Elena saat ini masih duduk dibangku SMA kelas 2.
Saat Elena sampai di rumah sakit, ketika hendak melangkah masuk ke dalam, seseorang mengagetkannya.
"Elena."
Elena membalikkan badannya untuk melihat kearah orang tersebut.
"Kakak Kevin!"
Orang yang memanggil Elena itu adalah Kevin Ardian yang tak lain adalah kandung kandung Melvin Ardian.
Kevin mendekati Elena. Dan ketika telah dekat dengan Elena, dirinya dibuat terkejut saat melihat luka di lengan kiri Elena.
"Astaga, Elena! Lenganmu kenapa? Siapa yang melakukan ini padamu?" Kevin benar-benar panik saat melihat luka yang begitu dalam dilengan Elena.
Kevin langsung menarik tangan kanan Elena untuk menuju ke ruangannya.
"Aish, kakak Kevin. Aku ini bukan anak kambing yang ditarik-tarik seperti ini," protes Elena.
"Diam. Jangan berisik," ucap Kevin. Seketika Elena langsung mengatup bibirnya.
Kevin melirik sekilas ke belakang lalu kemudian tersenyum gemas melihat wajah cantik dan imut Elena.
Di kediaman keluarga Fidelyo, Salma Fidelyo sedang berkutat dengan ponselnya. Dirinya sedari hanya fokus pada permainan yang ada diponselnya dan mengabaikan panggilan-panggilan dari Arga, kakak ketiganya itu.
"Salma! Kau ini dari tadi asyik dengan ponselmu saja. Apa kau tidak mendengar perkataan kakak?" kesal Arga.
"Aish, kak Arga. Kau berisik sekali sih. Kenapa kakak Arga hobi sekali menggangguku? Aku lagi serius nih. Kalau aku kalah, bagaimana?" protes Salma yang masih fokus dengan gamenya.
Arga yang mendengar penuturan dari Salma membelalakkan matanya. Sedangkan Farzan dan Daffa hanya tersenyum mendengar perdebatan kedua adik-adik mereka.
Saat Arga ingin membalas sang adik, Farzan terlebih dahulu menengahinya. "Sudahlah, Arga. Kau harus banyak sabar melihat sikap adik perempuanmu itu."
Arga pun menurut apa yang dikatakan oleh Farzan, kakak laki-laki tertuanya itu.
"Salma, sayang." Farzan memanggil adik perempuannya itu dengan lembut.
"Iya, kakak Farzan." Salma menjawab panggilan dari kakak tertuanya itu tanpa menoleh sama sekali. Dirinya masih asyik dengan gamenya.
"Sudah mainnya. Sudah berapa jam kau bermain Game, hum? Sekarang udah waktunya istirahat," ucap Farzan.
"Baiklah, kakak Farzan." Salma langsung menyudahi permainan gamenya, kemudian mematikan ponselnya. Farzan tersenyum saat adik perempuannya itu menurut.
"Satu minggu lagi masa liburmu habis dan kau akan masuk sekolah lagi, Salma. Apa kau sudah dipersiapkan semuanya?" tanya Daffa.
"Sudah, kakak Daffa." Salma melihat kearah wajah tampan kakaknya itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak.
"Yakin?" tanya Farzan.
"Iya, kakak Farzan. Walaupun aku selalu asyik dengan Game di posnelku. Aku tidak pernah melupakan kewajibanku," saut Salma.
Farzan, Daffa dan Arga tersenyum mendengar jawaban dari Salma. Mereka membenarkan apa yang dikatakan Salma. Salma memang menomorsatukan sekolah dan belajarnya, walaupun tetap asyik dengan Game di ponselnya.
"Kakak gak nyangka kau sudah kelas 2 SMA sekarang." Farzan tersenyum kearah adik bungsunya itu.
"Dan tidak lama lagi kau akan menjadi seorang mahasiswa," ujar Daffa.
"Masih lama, kakak Daffa. Masiiiiihh lamaa." Salma merentangkan kedua tangannya lalu memutar ke kiri dan ke kanan.
Farzan, Daffa dan Arga tersenyum gemas melihat adik perempuan mereka.
"Ya, sudah. Sekarang pergilah istirahat dan jangan main Game lagi," ucap Daffa.
"Baiklah, kakak Daffa." Salma langsung beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju kamarnya di lantai dua.
Setelah kepergian Salma, Arga mengedumel kesal. "Aish! Dasar adik kurang ajar. Giliran denganku saja pasti bawaan ribut mulu!" seru Arga.
"Sabar." Daffa mengusap-usap lembut punggung Arga.
***
SATU MINGGU KEMUDIAN....
Elena berada di rumah keluarga angkatnya yaitu keluarga WILLIAM. Keluarga tersebut begitu sangat menyayanginya. Mereka menyayangi Elena bak seorang princess. Apa pun yang diinginkan olehnya, keluarga tersebut pasti akan langsung mengabulkannya.
Bahkan seluruh keluarga besar William sangat mengistimewakan dirinya. Mulai dari orang tua angkatnya, kedua kakak angkatnya, Kakek dan neneknya dan para sepupu angkatnya.
Elena adalah permata keluarga mereka. Hanya orang-orang bodoh saja yang sudah mencampakkan dan membuang permata mereka demi seorang anak angkat.
Saat ini Elena sedang duduk di ruang tengah sembari menatap layar ponselnya.
Yah! Elena saat ini tengah menatap foto kedua kakak kesayangannya. Dirinya sangat merindukan kedua kakak kesayangannya itu yaitu Andry Jecolyn dan Ghina Jecolyn.
"Hiks.. hiks.. kakak Andry.. hiks.. kak Ghina." Elena menangis terisak.
FLASBACK ON
Andry saat ini berada di depan gerbang sekolah Ghina, Naura dan Elena. Hari ini hanya Ghina dan Elena saja yang masuk sekolah. Sedangkan Naura masih belum diizinkan masuk sekolah karena baru sembuh dari demamnya. Andry memang hampir setiap hari untuk mengantar dan menjemput ketiga adik perempuan kesayangannya itu.
Saat Andry sedang berbicara dengan seseorang di telepon, Andry dikejutkan dengan suara adik kelincinya.
"Kakak Andry."
Andry yang mendengar panggilan dari adik manisnya itu langsung menolehkan wajahnya. Andry pun langsung mematikan panggilan tersebut dan tersenyum kearah kedua adik perempuannya yang sudah berdiri di hadapannya.
"Sudah lama, kakak Andry?" tanya Ghina.
"Lumayan. Sudah 2 jam lebih Kakak menunggu kalian disini." Andry tersenyum evil.
Ghina dan Elena melotot serta mulut mereka terbuka lebar. Andry yang melihat reaksi dari kedua adik perempuannya tersenyum gemas, lalu kedua tangannya mengapit mulut kedua adik perempuannya itu sehingga mulut adik perempuannya itu tertutup.
"Gak segitu juga kali responnya. Jelek tahu," ucap Andry. "Kakak cuma bercanda tadi. Baru sepuluh menit kakak disini." Andry mengusap-usap rambut kedua adik perempuannya secara bergantian.
Saat Elena ingin bersuara, Andry langsung berucap terlebih dahulu.
"Mau pulang atau mau mengobrol sampai malam disini?" tanya Andry.
"Ya, mau pulanglah!" Ghina dan Elena menjawabnya secara bersamaan.
Lalu mereka pun langsung masuk ke dalam mobil.
***
Di dalam perjalanan, tiba-tiba Elena bersuara.
"Kakak Andry. Bagaimana kalau kita singgah ke Cafe dulu? Aku lapar kakak. Aku tadi tidak sempat makan di kantin. Begitu juga dengan kak Ghina," ucap Elena.
"Baiklah. Kita mampir di Jermanis Cafe." Andry langsung mengabulkan keinginan adik perempuannya itu.
Andry tidak bisa bilang tidak jika menyangkut kelinci kesayangannya itu. Apa yang diinginkan oleh adik perempuannya itu, selalu dirinya turuti. Begitu juga dengan adik-adiknya yang lainnya. Tapi dirinya lebih memihak ke adik manisnya ini.
Saat mereka dalam perjalanan, Andry melihat beberapa mobil menghalangi mereka. Andry pun reflek menginjak rem mobilnya.
SKIITT!
BUGH!
Kepala Elena terantuk dikepala kursi. "Kakak Andry. Kenapa menghentikan mobilnya mendadak sih?" protes Elena.
Andry melirik adik bungsunya dari kaca spionnya dan dapat dilihat olehnya sang adik mengelus-elus kepalanya.
"Maafkan kakak, Elen. Kakak tidak sengaja. Elen tidak apa-apa kan?" tanya Andry.
"Hm." Elena menjawab dengan deheman.
Lalu Andry melihat kearah Ghina yang ada di sampingnya. "Kau tidak apa-apa, Ghin?"
"Aku tidak apa-apa, kakak Andry." Ghina menjawab dengan tatapan matanya ke depan. Ghina memperhatikan beberapa mobil yang menghadang.
Andry dan Ghina masih melihat kearah depan. Terlihat begitu banyak manusia-manusia yang telah mengepung mobil mereka.
"Mereka siapa, kakak Andry?" tanya Ghina.
Elena yang mendengar pertanyaan Ghina langsung mengalihkan pandangannya melihat kearah depan.
Saat Elena melihat dengan jelas-jelas orang yang berdiri tak jauh dari mobil mereka sontak membelalakkan matanya.
"Mau apalagi mereka." Elena berseru ketika melihat orang-orang yang telah mengepung mobilnya.
Baik Andry maupun Ghina dibuat bingung akan penuturan Elena. Keduanya saling lirik, lalu kemudian melihat ke belakang.
"Elen, kau kenal dengan mereka?" tanya Andry.
"Yak! Kenapa kakak Andry malah bertanya padaku? Disini bukan aku saja yang kenal dengan mereka. Kakak juga kenal. Bahkan kak Ghina juga," jawab Elena yang matanya masih fokus melihat kearah luar.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari kedua kakaknya. Elena akhirnya memberitahu siapa manusia-manusia laknat itu.
"Mereka itu dari kelompok SCORPION, kakak-kakakku yang lola." Elena menatap kesal kedua kakaknya itu.
"Apa?" seketika Andry dan Ghina terkejut. Lalu mereka melihat kearah luar.
"Brengsek!" kesal Andry.
"Mau apa lagi mereka? Apa mereka masih mengincar Elen?" batin Andry.
Andry benar-benar sangat mengkhawatirkan adik bungsunya.
"Keluar kalian!" teriak salah satu kelompok tersebut
"Kakak Andry, bagaimana ini? Kita hanya bertiga. Sedangkan mereka berjibun. Kalau kita keluar. Kita akan mati konyol," ucap Ghina.
Tanpa Andry dan Ghina ketahui, Elena mengirim pesan dan juga share lokasi ke pada kelompok mafianya. Bahkan pesan tersebut otomatis terhubung pada kelompok-kelompok mafia lainnya.
Kelompok mafia itu adalah kelompok mafia milik Elena yang sudah dibangun olehnya selama 2 tahun bersama ketujuh sahabatnya. Kelompok mafianya itu merupakan kelompok mafia yang sudah terkenal nomor 2 didunia dan di Jerman. Kelompok mafianya itu bernama BLACK WOLF.
BLACK WOLF bekerja sama dengan ke 6 kelompok mafia ternama, terkenal dan paling kejam nomor 1 didunia. Bahkan ke 6 kelompok mafia tersebut sudah tersebar beberapa negara, termasuk Jerman.
Ke 6 kelompok mafia itu adalah 18TH STREET GENG, VOGOS, THE BLOODS, THE CRIPS, LATIN KINGS, MS-13.
Hubungan kelompok BLACK WOLF dengan ke 6 kelompok mafia tersebut cukup baik, sudah seperti saudara.
Para ketua dari masing-masing kelompok tersebut sangat menyayangi Elena selayak adik mereka sendiri. Saat kelompok mafianya memasuki usia 2 tahun 4 bulan, sepak terjang dirinya bersama ketujuh sahabatnya diketahui oleh sang kakak yaitu Andry Jecolyn. Dikarenakan Elena sangat menghormati dan menyayangi kakaknya itu, Elena menceritakan semuanya pada kakaknya.
Andry yang mendengar semua penjelasan dari adik bungsunya itu tersenyum bahagia dan juga bangga. Awalnya, Elena mengira jika kakaknya itu akan marah padanya dan menjauhinya. Namun sebaliknya, sang kakak malah setuju dan mendukung apa yang dilakukan olehnya. Selama dirinya tidak melakukan kejahatan dan menyakiti orang-orang yang tidak bersalah. Maka sang kakak akan selalu ada dipihaknya.
Sedangkan untuk Ghina, Elena belum menceritakan tentang mafianya kepada kakaknya itu. Bukan bermaksud Elena ingin merahasiakannya dari kakak kesayangannya itu. Elena belum siap untuk menceritakannya. Dirinya takut, jika respon kakak keenamnya itu beda dengan respon dari kakak pertamanya.
Tapi Elena berjanji, secepatnya dirinya akan menceritakan masalah kelompok mafianya pada kakaknya itu. Dan bahkan, Elena akan mengajak kakaknya bergabung dengannya.
"Lebih baik kita keluar, kakak. Kalau kita tetap di dalam mobil, bisa-bisa mereka akan lebih nekat lagi. Bisa saja mereka menjadikan kita santapan siang mereka!" seru Elena.
"Yak! Kau pikir kita ini makanan. Kita ini manusia, Elen." Ghina benar-benar kesal akan ucapan dari adik perempuannya itu.
"Bukan tubuh saja yang bantet. Tapi otak kak Ghina juga bantet serta dangkal. Kak Ghina itu bodoh atau bagaimana sih? Disekolahin bukannya tambah pintar. Ini malah makin bodoh. Maksudku dengan santapan siang mereka itu adalah nyawa kita, kak Ghina! Mereka semua bisa saja membunuh kita di dalam mobil ini dengan cara membakarnya." Elena menatap kesal Ghina dan jangan lupa mulutnya yang mengeluarkan sumpah serapah untuk sang kakak.
Ghina yang mendengar ucapan dari Elena hanya bisa melongo dan melotot. Beda dengan Andry, dirinya sedari hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan kedua adik-adiknya. Dalam situasi seperti ini, masih sempat-sempatnya kedua adik perempuannya itu adu mulut.
Saat Ghina ingin protes karena sudah dikatai bantet dan juga bodoh, Andry langsung menghentikannya.
"Kalau kita masih disini dan kalian masih ribut. Kita akan benar-benar menjadi santapan siang mereka semua." Andry menghentikan perdebatan kedua adik perempuannya.
"Hehehehe." Ghina dan Elena terkekeh.
Setelah itu, mereka pun keluar dari dalam mobil.
Kini Elena, Andry dan Ghina sudah berada diluar. Mereka berdiri didepan mobil mereka.
"Mau apa lagi kalian, hah?" teriak Andry.
"Mau kami kalian berdua serahkan bocah ingusan itu!" teriak sang pemimpin sembari menujuk kearah Elena.
Andry dan Ghina melihat kearah tunjuk pemimpin kelompok itu. Mata mereka berdua melotot saat melihat kearah adik perempuan mereka. Lalu mereka berdua kembali menatap tajam kearah sang pemimpin.
Saat Andry ingin berucap, Elena sudah terlebih dahulu bersuara dengan nada kesalnya.
"Yak! Siapa yang kau bilang bocah, hah? Dasar manusia-manusia bau comberan!" bentak Elena sembari mengumpat.
Andry dan Ghina hanya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala mendengar penuturan dari adik perempuannya. Tapi tidak dengan para kelompok tersebut. Mereka semua sudah naik pitam saat mendengar penuturan dari Elena.
"Berani sekali kau mengatai kami sebagai manusia-manusia bau comberan. Dasar makhluk jadi-jadian. Siluman kelinci sialan!" bentak pemimpin tersebut.
Andry dan Ghina berusaha untuk tidak tertawa saat mendengar ucapan dari pemimpin kelompok tersebut yang mengatakan bahwa adik perempuannya adalah manusia-manusia jadi-jadian dan siluman kelinci. Di dalam hati mereka membenarkan akan ucapan dari pemimpin kelompok tersebut.
Elena melirik kearah kedua kakaknya. Dapat dilihat olehnya bahwa kedua kakaknya itu berusaha untuk menahan tawa mereka. Elena yang melihat hal itu hanya mendengus kesal. Lalu tatapan matanya menatap tajam kearah para kelompok tersebut.
"Lebih baik kalian pulang saja. Setelah sampai di rumah, jangan lupa cuci kaki dan langsung tidur. Itu baru benar. Dari pada kalian kelayapan seperti ini. Gak ada untungnya juga buat kalian. Nanti jika induk-induk kalian semua pada mencari kalian, bagaimana!" seru Elena yang memang niatnya membuat para kelompok itu marah.
"Sialan. Banyak bacot juga kau ya!" teriak pemimpin itu. "Aku katakan sekali lagi. Serahkan bocah itu pada kami. Kalau tidak nyawa kalian berdua taruhannya!" bentak ketua kelompok itu.
"Enak saja main nyuruh-nyuruh. Memangnya kau dan kelompokmu itu siapa, hah?!" teriak Ghina.
"Serang!"
Dan terjadi perkelahian yang tak seimbang.
Bugh
Bugh
Duagh
Sreettt
Swiingg
Bugh
Duagh
Duagh
Kreettt
Elena, Ghina dan Andry berhasil melumpuhkan masing-masing 25 orang dari kelompok tersebut. Tersisa 60 orang lagi.
Perkelahian masih berlanjut dengan 60 lawan 3 sehingga membuat Elena, Ghina dan Andry kewalahan. Tapi ketiga masih tetap semangat dan masih sanggup untuk mengalahkan para sampah-sampah itu. Walau sesekali mereka terkena pukulan dan tendangan.
"Aish! Kalau seperti ini bisa-bisa kita bakalan mati. Kita hanya bertiga, sedangkan mereka berjumlah 60 orang. Gilaaa." Ghina menggerutu saat melihat lawannya begitu banyak.
"Kakak lebih milih mati demi melindungi kalian berdua adik perempuan kakak, dari pada kakak menyerahkan salah satu dari kalian pada mereka." Andry berucap sembari menatap tajam kearah para kelompok tersebut.
Ghina dan Elena tersentuh mendengar ucapan dari kakaknya, terutama Elena.
"Ka-kakak Andry," lirih Elena.
Andry dan Ghina melihat kearah Elena lalu mereka tersenyum.
"Percayalah! Semuanya akan baik-baik saja. Kakak tidak akan menyerahkanmu, Elen." Andry menatap wajah cantik adik perempuannya itu
"Iya, Elen. Kakak Andry benar. Kak Ghina rela mati demi melindungimu." Ghina akan melakukan apapun untuk adik perempuannya.
"Sekarang fokuslah. Jangan sampai kalian terluka!" seru Andry.
"Baik, kakak Andry." Ghina dan Elena menjawab secara bersamaan.
Duagh
Duagh
Bugh
Bugh
Sreettt
Kreettt
Duagh
Duagh
Elena, Ghina dan Andry berhasil melumpuhkan 30 orang. Sisa 30 orang lagi.
"Gila. Kakak Andry, lihat!" seru Ghina sembari menunjuk kearah beberapa orang yang datang.
Andry dan Elena melihat kearah tunjuk Ghina. Mereka membelalakkan matanya saat melihat musuh-musuh mereka makin bertambah. Bukannya berkurang, ini malah makin bertambah.
"Sial. Kalau begini caranya kita bisa mati benaran, kakak Andry. Seharusnya mereka tersisa 30 orang lagi. Dan sekarang coba lihat!" Ghina melihat kearah musuh-musuh yang makin bertambah.
Baik Andry, Ghina maupun Elena. Ketiganya sudah sama-sama lelah. Dan mereka juga mendapatkan beberapa pukulan dan juga tendangan. Dan jangan lupa luka sayatan beberapa tubuh mereka.
Mereka kembali mengerahkan kemampuan mereka saat para kelompok-kelompok itu kembali menyerang.
Bugh
Bugh
Bugh
Duagh
Duagh
Kreettt
Sreettt
Duagh
Duagh
"Maaf kami terlambat, Elen!" seru Davian dan Adora.
Mendengar suara dari Davian dan Adora. Elena, Ghina dan Andry melihat kearah Davian dan Adora. Dapat mereka lihat Davian dan Adora datang dengan membawa banyak kelompoknya.
Elena mengetahui kelompok siapa saja yang datang membantunya dan kedua kakaknya.
"Maaf, Elen. Kami terlambat. Kau dan kedua kakakmu baik-baik sajakan?" tanya Steven selaku ketua kelompok mafia THE BLOODS.
"Kami baik-baik saja, kakak Steven." Elena sangat senang saat melihat kedatangan kakak angkatnya itu. "Terima kasih telah datang," saut Elena.
"Tak masalah, Elen. Kau adik perempuan kami! " seru Colin ketua dari kelompok mafia THE CRIPS.
"Apa kau dan kedua kakakmu masih sanggup untuk bertarung?" tanya Steven.
"Kami masih sanggup!" Andry, Ghina dan Elena menjawab secara bersamaan.
"Baiklah, kalau begitu. Mari kita habisi mereka semua!" seru Colin.
Lalu mereka semua pun kembali menyerang kelompok-kelompok tersebut dengan brutal dan bringas. Davian dan Adora melemparkan beberapa senjata kearah Elena, Ghina dan Andry dan langsung ditangkap dengan sangat baik oleh ketiganya.
Swiiinngg
Swiinngg
Elena menebas kepala musuh-musuhnya. Lima orang mati dengan kepala yang sudah putus.
Duagh
Duagh
Jleb
Jleb
Andry menendang perut para musuhnya, lalu menghentakkan pedangnya kejantung para musuh-musuhnya itu. 10 orang mati seketika.
Bugh
Bugh
Duagh
Duagh
Sreettt
Sreettt
Ghina memukul dan menendang orang-orang yang menyerangnya, lalu detik kemudian, Ghina menebas tubuh musuh-musuhnya itu. 10 musuhnya mati dalam keadaan tubuh terpotong.
Begitu juga dengan Davian, Adora, Steven dan Colin. Mereka juga melakukan seperti yang dilakukan oleh Elena, Ghina dan Andry. Mereka membunuh para musuh-musuh dengan sangat sadis.
Saat mereka tengah fokus pada lawan mereka masing-masing. Andry sedikit lengah. Tanpa disadari olehnya, salah satu kelompok musuh pun langsung menyerang Andry dari belakang dengan cara menembak.
Elena yang berdiri tak jauh dari Andry langsung menyadari bahwa kakak laki-lakinya dalam bahaya. Saat orang itu ingin menembakkan peluru kearah Andry, Elena langsung berlari dan mendorong tubuh Andry.
Dor
Dor
Brukk
Tubuh Elena ambruk ke tanah dan langsung tak sadarkan diri.
FLASBACK OFF
"Hiks.. hiks.. kak Ghina.. kakak Andry." Elena terisak saat mengingat kejadian naas itu.
Tangis Elena makin pecah saat mengingat kejadian tersebut. Dirinya tidak tahu apa penyebab dari Andry, kakaknya itu meninggal dan Ghina, kakaknya itu koma. Yang Elena tahu, dirinya tidak sadarkan diri selama 1 minggu di rumah sakit. Dan ketika dirinya sadar, Elena langsung memutuskan untuk pulang ke rumah. Dirinya tidak peduli dengan kondisinya. Yang ada dipikirannya adalah kedua kakak kesayangannya itu.
"Kemungkinan kak Colin, kakak Steven, Davian dan Adora tahu. Aku akan bertanya pada mereka," ucap Elena.
Tanpa Elena sadari, sedari tadi anggota keluarga William tengah memperhatikannya. Baik orang tua angkatnya, kedua kakak angkatnya, Paman, Bibi, kakak-kakak sepupunya serta Kakek dan Neneknya.
Mereka semua berdiri tak jauh dari ruang tengah. Mereka semua menangis saat mendengar perkataan dan juga melihat kondisi Elena.
"Sayang. Aku benar-benar tidak tega melihat Elena seperti ini," ucap Adila William.
"Iya sayang. Aku juga benar-benar tidak tega melihatnya seperti ini. Hatiku merasa sesak dan sakit melihatnya," saut Faris William.
"Aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang telah dilakukan oleh keluarga kandungnya. Seharusnya mereka itu menjaganya, memberikan dukungan padanya, memeluknya. Tapi ini apa? Mereka malah menuduh Elena yang telah membunuh Andry dan menyebabkan Ghina koma!" seru Damar William adik laki-laki Faris William.
"Bahkan mereka lebih memilih percaya pada anak angkat mereka dibandingkan anak kandung mereka sendiri. Benar-benar menjijikkan," ucap Agneta Robert adik perempuan Faris William.
"Aku bersumpah akan selalu menjaga, Elena Drea William. Apapun yang akan terjadi, Elena akan selamanya menjadi adik perempuanku. Dan aku tidak akan membiarkan mereka menyakitinya lagi." Razig William benar-benar marah akan kelakuan keluarga Jecolyn.
"Kakak juga. Jika mereka berani menyakiti Elena. Bahkan mereka berani menyentuh Elena. Kakak tidak akan segan-segan untuk mematahkan tangan mereka!" sela Keenan William menambahkan.
"Kami juga akan melakukan hal yang sama pada mereka, jika mereka berani menyakiti Elena!" para sepupu berucap secara bersamaan.
Mereka adalah Malkie Robert, Sofia Robert, Ivan William, Davian William, Darka William dam Juan William.
"Ya, sudah. Lebih baik kita kesana. Kasihan Elena!" seru sang kakek, Nizam William.
Setelah itu mereka semua pun menghampiri Elena yang masih menangis di ruang tengah. Matanya masih menatap foto kedua kakak kesayangannya itu.
Mereka semua sudah duduk di sofa. Elena belum menyadari kehadiran mereka.
Adila menduduki pantatnya di samping putrinya itu, lalu tangannya mengelus lembut kepala Elena. Dan hal itu sukses membuat Elena langsung menolehkan wajahnya melihat kearah Adila.
"Mama," lirih Elena.
Adila menghapus air mata putrinya itu. Adila tersenyum tulus saat menatap wajah cantik dan wajah manis Elena, lalu kemudian Adila mencium keningnya.
"Kenapa perasaanku sangat nyaman sekali jika berada didekatnya. Tatapan matanya mirip sekali dengan tatapan mata putriku yang hilang. Elena! Apa kau putri Mama yang hilang?" batin Adila.
"Ya, Tuhan. Aku mohon kembalikan putriku. Jika memang aku tidak ditakdirkan untuk bertemu dengan putri kandungku, paling tidak buatlah putriku Elena selamanya berada disampingku. Jangan kau rampas dia dariku," batin Adila lagi.
"Mama," Elena melihat kearah ibunya yang sedang melamun.
Mendengar panggilan dari Elena, hal itu sukses membuat Adila terkejut.
"Aish. Kau ini mengagetkan Mama saja. Dasar nakal." Adila mencubit pelan hidung mancung Elena.