Bab 1

Di dalam sebuah ruang kantor di salah satu perusahaan, tampak dua orang yang pernah mengenal satu sama lain saling menatap dalam diam. Seorang wanita dengan kedua telapak tangan saling bertaut seolah sedang berusaha menghilangkan rasa tegang yang ia alami sejak berdiri di depan gedung yang ia masuki sekarang.

Di depannya, seorang lelaki yang dua tahun lalu pernah hidup bersamanya, terlihat tersenyum dingin —masih sama seperti yang ia ingat dulu, yang kini perlahan mendekat seraya tangan yang sepertinya berniat hendak meraih untuk menggenggamnya.

Laki-laki itu sama sekali tidak tersinggung ketika mendapat penolakan dari si wanita.

"Kita bukan lagi suami istri," ucap si wanita sedikit ketus.

Audi Nayaka adalah wanita yang saat ini berdiri dengan sikap canggung dan ekspresi gugup yang begitu terlihat. Di depannya laki-laki yang tadi hendak menyentuh tangannya, adalah mantan suaminya. Seorang pengusaha kaya raya bernama Darren El Syauqi.

Mendapat penolakan dan kalimat ketus dari Audi, Darren malah tersenyum lebar.

"Aku tahu. Tapi, aku tidak menduga jika kamu akan menolak seperti tadi." Darren menyahut santai.

Audi tidak membalas ucapan lelaki di depannya, ia tetap diam dan berdiri dengan kepala yang terus menunduk.

"Hem, apakah kamu tidak keberatan untuk duduk sebentar?" ucap Darren menawarkan diri.

Audi masih diam. Jujur saja ia tak mau berlama-lama di ruangan itu bersama mantan suaminya. Tapi,

"Aku mau minta tolong padamu!" seru Audi tiba-tiba saat Darren sudah berbalik dan melangkah menuju sofa.

Kedua kaki laki-laki itu terhenti. Lantas menengok dan menatap sang mantan istri dengan seringai di bibirnya.

"Aku yakin ada hal yang mau kamu sampaikan sehingga kamu harus bersusah payah menemuiku. Jadi, duduklah dulu, lalu katakan dengan tenang dan jelas."

Pada akhirnya Audi menurut. Ia sudah memutuskan untuk meminta tolong Darren. Jadi, seharusnya ia lebih bisa bersabar, duduk dan menjelaskan apa permasalahannya sehingga ia rela datang dan menemui mantan suaminya kembali.

"Kamu mau minum apa?" tanya Darren setelah melihat Audi duduk di seberangnya dengan jarak yang cukup jauh.

"Terima kasih. Tapi, aku tidak haus," balas Audi yang tiba-tiba saja merasa heran.

Satu yang bisa Audi lihat, sosok Darren terlihat berbeda dari yang ia kenal sebelumnya. Entah apa yang sudah mengubah Darren menjadi seperti sekarang. Dulu tak pernah sekali pun lelaki itu bertanya kepadanya tentang apa yang ia mau. Tapi, barusan pengusaha itu menanyakan hal sepele kepadanya.

Seolah enggan menggubris penolakan Audi, Darren nyatanya tetap memaksa untuk menjamu mantan istrinya tersebut meski dengan menghidangkan secangkir teh hangat yang ia minta pada Zain.

"Bawa segera!" perintah Darren sebelum memutuskan panggilannya dengan sang asisten pribadi.

Tak ada percakapan yang kemudian terjadi setelah Darren minta dibuatkan minuman. Yang ia lakukan saat ini adalah terus mengamati dan melihat Audi yang masih terus menunduk melihat kedua tangan dengan jari yang saling bertaut. Berpikir jika kecemasan sedang perempuan itu alami saat ini.

'Kenapa ia diam saja dan malahan terus melihat ke arahku? Apakah ia tidak ingin tahu tujuan kedatanganku ke sini? Atau sebenarnya ia menunggu sampai aku mengatakannya sendiri tanpa harus ia bertanya?' batin Audi gugup.

"Darren, aku ...!"

Terdengar pintu ruangan dibuka dari luar. Terlihat Zain datang bersama seorang karyawan yang membawa nampan di tangannya.

"Maaf mengganggu. Ini teh yang Anda pesan, Pak Darren."

"Terima kasih, Zain. Hidangkan untuk Audi juga."

Dua buah cangkir kini sudah tersaji di depan Audi dan Darren. Zain dan seorang karyawan yang tadi datang bersamanya, kini kembali keluar meninggalkan mantan pasangan suami istri itu lagi.

"Silakan diminum dulu sebelum kamu menyampaikan maksud kedatanganmu ke sini," ucap Darren seraya mengambil cangkir teh miliknya, lalu meminum isinya perlahan.

"Aku sudah bilang untuk tidak perlu repot."

"Aku sama sekali tidak direpotkan. Aku menggaji banyak karyawan di perusahaan ini. Meminta salah seorang dari mereka untuk menyajikan minuman tentu bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan."

Kali ini Audi mengangkat kepalanya dan menatap wajah lelaki itu setelah menunjukkan sikap yang sebenarnya.

'Ia tak pernah berubah. Masih angkuh dan dingin seperti dulu. Bahkan, kesombongannya seperti tak ingin lepas dari jiwanya,' batin Audi sembari menatap lekat Darren.

"Ada apa? Apakah kamu kembali jatuh cinta kepadaku?" tanya Darren membuat Audi sontak memalingkan wajahnya ke arah lain.

'Ia juga masih begitu sangat percaya diri!'

Audi tanpa sadar menggeleng. Ia baru menyadari jika Darren terlalu banyak bicara sekarang, lain dari sifatnya yang dulu —yang lebih banyak diam dibanding berkoar mengeluarkan suara.

"Baiklah, sepertinya kamu tidak betah berlama-lama di sini. Jadi, apa tujuanmu datang kemari?" tanya Darren yang sudah kembali meletakkan cangkir ke atas meja. "Minta tolong apa yang kamu maksudkan?"

Berusaha mencari keberanian untuk menyampaikan maksud, Audi terlihat menarik napas dalam dan mengeluarkannya panjang.

"Pinjamkan aku uang!"

Tak ada ekspresi terkejut pada wajah Darren ketika Audi akhirnya bisa mengatakan tujuannya, itu sedikit membuatnya lega sekaligus heran.

"Berapa?"

"Sepuluh milyar!"

Darren kini menatap Audi tajam. Seolah sedang mencari keseriusan di wajah mantan istrinya. Jelas ia terlihat tak mau rugi dalam obrolan mereka sore itu.

"Apakah kamu bisa membantuku?" tanya Audi lagi setelah sekian menit tak ada respon dari Darren.

"Apa jaminan darimu kalau aku mau membantu? Sebab aku sangat jelas tahu bahwa kalian sudah tidak memiliki apapun lagi jika harus mengembalikan pinjaman." Kalimat yang penuh penekanan mampu membuat Audi tersadar jika lelaki di depannya itu adalah seorang pengusaha sekaligus pebisnis. Kata rugi tak pernah ada dalam kamus orang-orang seperti mereka.

Namun, ada hal lain yang mengganjal di hati Audi, apakah Darren tahu mengenai kebangkrutan keluarganya?

'Ah, tidak mungkin kalau ia tak tahu. Sebagai seorang pebisnis, tak akan sulit mengetahui kabar buruk sesama pengusaha atau pebisnis lainnya bukan?'

"Jadi, bagaimana kamu akan membayar?" Kembali Darren bertanya sebab Audi diam tak menjawab.

"Rumah yang kami tempati sekarang akan kami jual. Jika rumah itu laku, dengan segera akan kami kembalikan uang tersebut." Seolah dipaksa menjawab, Audi mengatakan hal yang sebenarnya ia sendiri kurang yakin.

"Hmm, lucu sekali. Memang berapa harga rumah itu jika laku terjual? Apakah bisa mengembalikan semua uang yang akan kamu pinjam?"

"Lima atau enam milyar harga rumah itu. Meskipun kurang aku tetap akan usahakan membayar sisanya. Bagaimana pun caranya."

Darren tampak tak senang. Empat milyar bukan jumlah sedikit. Bagaimana wanita itu mengembalikan sisanya? Terlebih jika rumah itu sampai laku terjual, akan ke manakah Audi dan keluarganya tinggal?

"Aku tidak mau. Tak ada jaminan pasti sebab uang empat milyar bukanlah uang yang sedikit. Terlebih tak ada jaminan dari mana kamu bisa mendapatkannya."

"Tolong aku, Darren! Percayalah padaku kalau aku akan berusaha mengembalikan semuanya. Meski tak ada jaminan, tapi aku tak akan mengingkari janji." Audi tampak terlihat putus asa.

Darren bisa melihat hal itu dengan jelas. Putus asa dan lelah, kini tengah mantan istrinya rasakan. Tapi, ia sama sekali tidak mau mengiyakan permintaan tersebut karena sejatinya ia memiliki keinginan yang lain.

Tampak lelaki itu menggeleng dan itu membuat sang mantan istri memandang lesu.

"Maaf, sepertinya aku tidak bisa membantu. Kamu bisa mencari orang lain yang dengan rela membiarkan uangnya dikembalikan setengah dari pinjaman."

Tidak Darren duga tiba-tiba Audi beranjak bangun, lalu bersimpuh di depannya.

"Tolong aku, Darren. Aku mohon. Aku tahu kamu bisa bantu. Aku pun tahu kalau kamu tidak akan tega membuatku berjalan ke sana kemari demi mencari pinjaman. Tapi, percayalah bahwa aku sudah berkeliling meminta belas kasihan teman, kolega, atau saudara yang pernah kami bantu untuk kini membantu keluarga kami yang sedang kesusahan. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang mau membantu di situasi kami sekarang."

Darren tak mungkin tak tahu. Ia sudah mengetahui dan mendengar bahwa perusahaan milik mantan mertuanya itu jatuh dan bangkrut. Tapi, ia memilih diam dan membiarkan mereka mencari bantuan sebelum nantinya ia akan mendatangi mereka di detik-detik terakhir.

Namun, perhitungan Darren meleset. Ia tak menduga jika mantan mertuanya akan dijemput paksa pihak berwajib sebab tuduhan penggelapan keuangan. Hingga akhirnya ia kedatangan sosok sang mantan istri di hadapannya sekarang.

Darren pun kemudian meminta Audi untuk bangun dan kembali duduk. Tapi, kali ini ia meminta wanita itu untuk duduk di atas pangkuannya.

Sebuah permintaan yang aneh menurut Audi, yang dengan pelan ia tolak. Tapi, saat dirinya memutuskan untuk mundur, Darren justru menarik tangannya hingga ia pun terjatuh dan duduk di atas kedua paha mantan suaminya itu.

"Da-Darren, kita tidak boleh begini," ucap Audi terbata. Ia malu dengan sikap Darren yang begitu agresif.

"Setahun tinggal dan kembali tidur bersamaku untuk sepuluh milyar. Bagaimana?"

"Apa?!"

***

Bab 2

"Aku tidak mau!" seru Audi seraya menarik tubuhnya dari pelukan Darren, lalu bangkit berdiri.

Perempuan itu terlihat marah dan tidak senang dengan kalimat yang barusan terucap dari mulut mantan suaminya tersebut.

Darren sendiri tampak diam dan menunggu alasan penolakan Audi. Bibirnya tetap tersenyum penuh arti.

"Sepertinya aku sudah membuat kesalahan dengan menemuimu di sini. Permintaan itu tidak seharusnya kamu ajukan sebab hubungan kita yang sudah berakhir."

Meski begitu, Darren tampaknya sama sekali tidak terganggu dengan kalimat tersebut. Ia malah berdiri sambil memegang kedua bahu Audi dan berbisik.

"Aku tidak akan memaksa. Kamu sendiri yang datang ke sini dan meminta bantuan dariku. Jika kamu tidak setuju dengan permintaan yang aku sebutkan tadi, kamu boleh pergi," bisik lelaki itu lalu melepaskan pelukan.

Setelahnya Darren berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya. Sedangkan Audi masih diam berdiri dengan hati yang kesal dan penuh amarah.

'Aku memang sangat membutuhkan uang, tetapi aku tidak mau menjatuhkan harga diriku dengan bersedia menerima tawaran darinya,' batin Audi yang kemudian memutuskan untuk bergegas meninggalkan kantor Darren.

Perempuan itu pun kemudian pamit pergi dari ruangan sang mantan suami. Namun, saat itu juga sebuah panggilan dari seseorang mengejutkannya.

Sebelum Audi menarik handle pintu, ia menyempatkan diri untuk menerima panggilan tersebut yang ternyata dari adiknya.

"Ya, hallo! Ada apa, Gas?"

'Mbak, papa dibawa polisi.'

"Apa! Kok bisa? Kenapa sekarang?"

'Aku juga enggak tahu. Mereka datang dengan surat penangkapan yang lengkap dan sah.'

Audi diam di tempatnya. Pikirannya mendadak nge-blank sebab kabar yang adiknya berikan.

'Mbak, apakah bisa pulang sekarang? Aku lagi di jalan menuju rumah sakit.'

"Ke-kenapa? Mau apa kamu ke sana?" Lagi, perempuan itu kaget dengan info yang Bagas sampaikan.

'Mama pingsan, Mbak. Penyakit jantungnya tiba-tiba kambuh.'

"Ya Tuhan!"

Tak mampu lagi berkata-kata, Audi kini malah jatuh terkulai di lantai setelah panggilannya terputus. Bagas -adiknya, langsung menutup telepon setelah menyampaikan kondisi yang tengah dihadapinya.

Semua pergerakan itu tak luput dari pengawasan Darren. Ia terlihat bangun dan mendekati Audi yang kini tengah menangis.

Darren pun jongkok demi menyamakan posisi tubuhnya. Tampak wajah sang mantan istri tertutup kedua telapak tangan. Terdengar isakan pilu yang membuat Darren kemudian mengulurkan tangan, lalu menarik tubuh Audi ke dalam pelukannya.

Selama beberapa saat Darren memberikan waktu bagi Audi untuk melepaskan tangisannya hingga ketika perempuan itu tersadar, ia memilih untuk bangun dan pamit pergi.

"Biar aku antar!" seru Darren yang sejatinya tidak tahu ke mana tujuan Audi.

Perempuan itu menghentikan langkah. Ia hanya berbalik menatap wajah yang tampak serius di belakangnya. Saat sudah hampir mengucap kata 'tidak', tiba-tiba Darren malah menggenggam tangan dan menariknya keluar ruangan.

"Eh, Darren! Kamu ...!"

***

Sebuah rumah sakit milik pemerintah adalah tujuan Audi. Ia tahu adiknya tidak mungkin membawa sang mama ke rumah sakit mewah dan elit seperti saat mereka masih berjaya.

Mobil mewah milik Darren yang mengantarnya ke sana, berhenti tepat di depan pelataran parkir gedung.

"Terima kasih atas tumpangannya. Kamu bisa kembali ke kan ...."

"Aku akan menemani kamu ke dalam!" Seolah tak ingin mendengar kata penolakan yang lain, Darren malah lebih dulu keluar dari mobilnya untuk kemudian membuka pintu mobil di sisi Audi.

'Ah, apapun yang mau ia lakukan, terserah saja!' batin Audi akhirnya tak mau ambil peduli atas sikap Darren yang mendadak perhatian padanya.

Audi kini berjalan cepat, lebih dulu menuju ruang UGD di mana mamanya dibawa oleh Bagas. Meninggalkan Darren yang berjalan bersama Zain, ia membiarkan lelaki itu mencari sendiri di mana ruangan yang dicari.

Hingga ia melihat sosok Bagas yang terlihat duduk di area tunggu di depan sebuah ruangan dengan tulisan UGD di di depannya, Audi pun berlari mendekati adik lelakinya itu.

"Bagas!" panggil Audi membuat pemuda dua puluh tiga tahun itu menoleh padanya.

Setelah dekat, Audi lantas berhambur memeluk Bagas. Ia tak peduli dengan tatapan kaget sang adik yang melihat sosok Darren di belakangnya.

"Bagaimana kondisi mama?" tanya Audi masih memeluk Bagas.

Perlahan pemuda itu melepaskan pelukannya seraya menyapa Darren dengan sikap hormat.

"Selamat sore, Mas Darren. Apa kabar?"

"Kabarku baik. Bagaimana keadaan mama di dalam? Apakah sudah ada kabar?"

Panggilan mama yang masih Darren ucapkan, sempat membuat Audi merasa aneh. Ia yang sudah lama bercerai tidak berpikir jika sang mantan suami masih menganggap ibunya adalah mertuanya.

"Eh, belum. Mama baru masuk beberapa menit yang lalu dan masih ditangani tim medis sampai sekarang. Jadi, aku belum tahu kondisinya sekarang."

Terlihat Audi kesal karena Bagas justru menjawab pertanyaan Darren meski ia yang bertanya lebih dulu.

Darren hanya mengangguk sekali. Seolah paham atas situasi yang baru terjadi.

Tak lama berselang, pintu UGD pun terbuka. Seorang laki-laki paruh baya dan seorang perempuan muda keluar dari dalam ruangan.

"Siapa keluarga dari pasien bernama Ibu Marissa?" ucap sang lelaki yang diduga adalah seorang dokter sebab pakaian yang dikenakannya.

Audi yang sudah melepaskan pelukannya pada Bagas, sontak mendekati sang dokter.

"Saya, Dok. Saya anak Ibu Marissa."

Dokter laki-laki itu menatap Audi begitu serius.

"Bisa Anda ikut kami sebentar? Ada hal yang harus kami sampaikan."

"Eh, ba-baik, Dok," ucap Audi sembari menatap Bagas dengan ekspresi cemas dan bingung.

Tanpa menatap ke arah Darren, Audi lekas mengikuti langkah dokter menuju ruangannya.

Sebab belum ada info mengenai apapun yang berhubungan dengan ibunya, Bagas terlihat kembali duduk dan diam dengan tatapan kosong. Begitu juga Darren yang ikut duduk setelah mantan adik iparnya itu menawarkan tempat duduk kosong di sebelahnya. Sedangkan Zain tampak berdiri di sisi sang bos sembari menunggu perintah.

"Apa yang terjadi?" tanya Darren pada Bagas.

Pemuda di sebelah Darren menengok dan tersenyum pilu.

"Papa dibawa polisi. Mama shock dan akhirnya pingsan."

Mendapat info tersebut, Darren masih bisa bersikap santai dan tenang. Namun, ada hal yang membuatnya penasaran sebab pingsannya sang mantan mertua.

"Sejak kapan Mama Marissa punya penyakit jantung?"

"Eh, dari mana Mas Darren tahu kalau mama punya penyakit jantung?"

"Aku tidak tahu, hanya menebak dari reaksi mama kalian yang bisa pingsan secara tiba-tiba."

"Oh. Aku kira Mas Darren tahu dari Mbak Audi. Sebab tadi aku bilang kalau penyakit jantung mama kambuh."

Darren tetap diam ketika pemuda di sebelahnya kembali tertunduk.

"Sejak dua tahun lalu atau sejak Mas Darren dan Mbak Audi bercerai mama tiba-tiba sering sakit. Kami awalnya tidak tahu ada apa. Hingga kemudian kami memeriksakan sakitnya mama dan baru tahu kalau selama ini beliau punya penyakit jantung yang tidak pernah bereaksi sebelumnya."

Darren merasa terkejut. Apakah penyakit sang mantan mertua sebab kejadian cerainya ia dan Audi? Entahlah.

"Lantas, seberapa parah penyakitnya itu?"

"Belum tahu pasti, Mas. Tapi, aku pikir kejadian papa ditangkap berdampak buruk bagi kesehatan juga penyakit yang mama derita."

Di tempat lain, Audi terlihat kaget dan tak percaya dengan kabar yang dokter sampaikan.

"Harus memberikan jawaban secepatnya. Sebab jika tidak, maka peluang sehat bahkan hidup ibu Anda sangat kecil."

"Tapi, Dok. Apakah tidak ada cara lain?"

"Tidak jika Anda berharap pada penanganan medis dan jelas kami harap Anda memilih jalan tersebut."

Seketika Audi merasa jika dunianya runtuh dan semakin kacau.

Baru saja ia mendapat kabar kalau sang papa dibawa oleh polisi. Sekarang, ia harus mendapati kenyataan jika penyakit sang mama begitu serius dan harus segera mendapatkan penanganan secepatnya melalui jalan operasi.

"Kalau boleh tahu, berapa kira-kira biaya yang harus saya siapkan?" Pada akhirnya Audi bertanya.

"Dua ratus sampai tiga ratus juta minimal uang yang harus disiapkan sebagai biaya operasi ibu Anda."

"Apa! Tiga ratus juta!" pekik Audi yang sepertinya harus menyerah.

"Dan rumah sakit kami tidak tersedia fasilitas untuk melakukan tindakan operasi. Anda harus memindahkan ibu Anda ke rumah sakit yang lebih besar dengan fasilitas yang memadai."

Penjelasan berikutnya seperti sebuah angin yang berdesing di telinga Audi. Membayangkan uang ratusan juta yang harus ia siapkan saja sudah membuat dunianya tak berjejak, apalagi harus memindahkan sang mama ke rumah sakit lain yang lebih besar, yang pastinya membutuhkan biaya lebih banyak.

'Ya Tuhan!' batin Audi ingin menjerit dan menangis.

***

"

Bab 3

Darren bisa melihat sosok Audi berjalan ke arahnya dengan langkah gontai. Ada sesuatu yang penting, yang sepertinya sudah dokter sampaikan kepada mantan istrinya itu.

"Bagaimana, Mbak?" tanya Bagas yang menunggu informasi selanjutnya mengenai kondisi sang mama.

Audi masih tetap diam. Ia hanya menatap adiknya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

"Mbak?" Kembali Bagas memanggil.

Di sisi lain, Darren justru masih terlihat santai dengan posisi duduk yang belum berubah. Ia masih memilih diam hingga perempuan itu berjalan dan berdiri di depannya.

Dengan kedua tangan disilangkan di depan dada, Darren menatap Audi. Ia masih menunggu hal apakah yang akan mantan istrinya itu katakan.

"Aku setuju!" ucap Audi sembari menatap Darren dengan mata berkaca-kaca.

Tak perlu menanyakan keyakinan pada diri Audi sebab Darren seperti khawatir perempuan di depannya berubah pikiran, ia segera berdiri lalu menarik tangan Audi meninggalkan tempat tersebut.

Melihat apa yang terjadi di depannya, Bagas hanya bisa melongo. Ia bingung dan tak tahu apa yang terjadi. Kakaknya malah pergi dan ia ditinggalkan sendiri —berdua dengan Zain, asisten pribadi Darren yang kini terlihat menerima panggilan telepon.

"Ya, Pak!"

'Urus semua keperluan Mama Marissa. Aku serahkan padamu sampai semuanya selesai!'

"Baik, Pak. Saya mengerti!"

Setelah itu Zain menutup panggilannya.

Menatap Bagas yang tampak kebingungan, Zain memilih untuk mengajak lelaki itu menemui dokter yang tadi Audi temui.

"Menemui dokter?" tanya Bagas yang pastinya kebingungan.

"Ya."

***

Sebuah kamar di salah satu hotel yang letaknya tak jauh dari rumah sakit tempat di mana Marissa berada, Darren membawa Audi ke sana.

Lelaki itu tidak tahu jika saat ini mantan istrinya terlihat panik dan ketakutan.

"Darren, kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Audi yang akhirnya bisa bersuara setelah mereka tiba di dalam kamar tersebut.

Audi tampak spontan mengangkat kedua tangan dan mencoba menutupi bagian depan tubuhnya. Ia seperti takut jika Darren akan berbuat macam-macam padanya, dan ternyata itu terbukti sekarang.

Darren langsung mendorong tubuh Audi ke dinding. Tanpa permisi, lelaki itu langsung mendaratkan ciumannya di bibir sang mantan istri.

"Ah, Darr!" desah Audi yang seketika terhenti sebab aksi bungkaman yang Darren lakukan di bibirnya.

Sekian detik Darren berhasil mereguk kenikmatan atas bibir Audi yang menurutnya terasa berbeda dari yang pernah ia rasakan saat masih menjadi pasangan suami istri dulu. Lebih manis dan candu sekarang.

"Hentikan, Darren!" teriak Audi setelah Darren melepas ciumannya.

Terdengar napas yang tersengal sebab ciuman memabukkan yang tanpa sadar Darren lakukan. Audi yang sudah lama tidak pernah melakukan hal itu, tampak kepayahan.

Plak!

Sebuah tamparan Audi layangkan di pipi Darren setelah ia tersadar. Hal itu malah membuat Darren tersenyum sinis, kemudian mengulangi aksi serupa seperti sebelumnya.

Menyadari ada tetesan air mata yang jatuh di pipi Audi, Darren tetap melanjutkan seolah tak memiliki rasa. Bahkan, ia juga mendapatkan perlawanan sekarang. Perempuan itu tidak menyerah dan mencoba supaya ia menghentikan aksinya tersebut.

Namun, tenaga Audi jelas kalah jauh bila dibandingkan dengan tenaga Darren. Lelaki itu -sejak dulu memang memiliki tenaga luar biasa, seolah tak terkalahkan. Hasil dari olah raga, gym yang ia lakukan rutin, juga berenang yang membuatnya selalu tampak keren di mata perempuan mana pun yang pernah melihatnya, kini terbukti mampu membuat sang mantan istri menyerah atas aksinya.

Perlahan Audi menyudahi aksi pemukulannya di dada Darren. Situasi yang menguntungkan lelaki itu yang kini mengangkat kedua tangan mantan istrinya ke atas kepala.

'Darren,' lirih Audi di tengah aksi ciuman itu yang masih berlangsung.

Suara yang hanya terdengar seperti gumaman di dalam mulut jelas Darren sadari dan itu malah membuatnya semakin semangat. Respon Audi menurutnya sudah hanyut juga terlena.

Feeling Darren benar. Aksi yang berlangsung lama itu membuat kedua kaki Audi akhirnya tak kuat menopang lama. Ciuman itu membuat jiwa Audi seketika kosong karena Darren melakukannya seperti rasa ingin memiliki yang begitu kuat. Ia tak tahu kenapa Darren begitu. Hanya saja ia merasa harus menghentikan aksi tersebut sebab dirinya yang belum siap menghadapi aksi selanjutnya.

Namun, posisinya saat ini yang mana didorong oleh Darren sampai menempel ke tembok, lalu tak adanya pertahanan diri sebab kedua tangan yang terkunci di atas kepala, membuat keinginan Audi hanya mimpi belaka. Seketika ia hanya bisa pasrah sampai Darren puas dengan apa yang dilakukannya sekarang.

"Ah!" pekik Darren di saat Audi menjalankan ide di detik terakhir pikirannya yang sudah buntu. Ia menggigit bibir mantan suaminya itu supaya menghentikan aksi yang hampir membuatnya mati kehabisan napas.

"Kamu lupa untuk bernapas?" sindir Darren yang sama sekali tidak marah sebab Audi sudah melukainya.

Darah di bibir bawah Darren dengan luka lecet akibat gigitan, bisa Audi lihat dengan jelas.

"Aku tidak lupa. Tapi, aksi kamu barusan membuat semua yang aku bisa hilang seketika." Audi menatap Darren tajam. Napas masih tersengal dengan wajah memerah sebab ciuman laki-laki di depannya itu.

"Kalau begitu kamu menikmatinya bukan? Sampai-sampai kamu lupa segalanya."

Audi memalingkan wajahnya. Kalimat penuh percaya diri yang Darren ucapkan membuatnya muak dan enggan menatap.

"Tatap mataku kalau aku sedang bicara!"

'Huh! Ternyata masih sama seperti Darren yang aku kenal. Penuh intimidasi dan sangat angkuh!' batin Audi mengejek seraya kembali menatap mantan suaminya tersebut.

Di saat Darren akan melakukan aksi seperti sebelumnya untuk ke sekian kali, Audi mencoba menghentikan.

"Stop! Darren tunggu!" pinta Audi dengan kepanikan yang kembali terlihat.

Darren berhenti di saat hidungnya sudah menempel di pipi Audi. Ia diam dan ingin tahu apa yang hendak sang mantan katakan.

"Ki-kita belum sepakat."

"Apanya yang belum sepakat? Bukankah kamu sudah setuju?"

"I-iya. Tapi, kamu belum memberikan apa yang aku minta."

Darren seketika paham apa yang Audi maksud. Ia lantas menjauhkan tubuhnya dan melepas kuncian di tangan Audi sebelumnya.

Ponsel yang berada di saku jas sudah berpindah ke tangan. Darren lalu memencet sebuah nomor kontak yang ada di riwayat panggilan keluar. Nomor Zain.

'Iya, Pak Darren!' sapa asisten itu lebih dulu.

Di depan Audi yang masih menatapnya dalam diam, Darren memberikan perintah pada anak buahnya itu untuk menunaikan permintaan sang mantan istri.

"Sepuluh milyar kamu kirim ke nomor rekening mantan istriku. Satu milyar kamu kirim ke rekening Bagas. Selain itu seperti perintahku sebelumnya, selesaikan semua hal yang harus kamu urus. Semua harus sudah selesai saat aku kembali nanti."

'Baik, Pak Darren. Saya mengerti. Akan segera saya kerjakan.'

Panggilan itu pun berakhir. Darren kembali memasukkan ponsel ke saku jasnya. Kedua matanya tetap menatap ke arah Audi yang di sepanjang pembicaraannya dengan sang asisten tadi, perempuan itu terus memandang wajahnya tanpa berpaling ke arah lain.

"Permintaan kamu sudah aku lakukan. Sekarang, tinggal kamu yang harus menunaikan kewajibanmu padaku bukan?"

Audi tahu hal itu akan terjadi. Darren yang tak pernah ingkar, benar-benar memberikan apa yang ia minta. Sekarang, waktunya ia melakukan kewajiban seperti yang lelaki itu inginkan sebagai syarat kesepakatan, yakni tinggal dan tidur dengannya selama setahun ke depan.

"Aku mau kita menikah lagi sebelum kita kembali tinggal dan tidur bersama!" ucap Audi seketika membuat seringai di bibir Darren muncul.

Apakah arti dari senyum jahat itu? Apakah permintaan Audi membuat Darren senang, atau justru dianggap sebuah candaan yang menurutnya lucu dan tidak masuk akal?

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED