"Paman, aku datang." Suara nyaring bocah itu menyambar kuping Marlon, yang tengah menikmati kopi di musim dingin.
Dengan terpaksa Marlon Exietera menaruh gelas di atas meja, kepalanya menoleh untuk melihat kedatangan Rose, putri dari Miller kakak tertua di keluarga Exietera. Mereka memang cukup dekat. Rose sering mendatangi rumahnya kapan pun dia inginkan, dan Marlon akan senang hati menyambut.
Kantung mata Marlon berkedut saat melihat keponakannya itu tidak sendiri, melainkan datang dengan seorang teman, kesan pertama kali yang dia rasakan bergetar. Padahal, teman Rose terlihat biasa saja, hanya mengenakan kemeja casual dengan bawahan rok di atas lutut, ditambah kaus kaki bewarna pink.
Sementara Rose berlari menghampiri Marlon, gadis itu tetap diam di tempat, bahkan wajahnya tersipu merah saat merasakan ditatap begitu intens. Sambil mendengarkan keluhan Rose di sekolah hari ini, kerap kali Marlon melirik keberadaan gadis di ujung tangga, yang kini sudah tertunduk malu.
Ah, dia sangat menggemaskan.
"Rose, kau membawa seorang teman?" tanya Marlon memotong cerita Rose, dia sangat ingin gadis itu datang mendekat.
"Ah, iya, kemari Belle, jangan mematung di situ terus, Pamanku tidak memakan orang." Rose melompat dari pangkuan Marlon, menghampiri, lalu menyeret Chambell.
Marlon bangkit dari duduknya, mata pekatnya semakin tajam menatap teman Rose, dari bawah ke atas, dan berhenti di wajah mungil yang sangat manis. Bagian dari dalam tubuh Marlon bergetar hebat. Ini sangat aneh! Tetapi, sungguh, kedua tangan kekarnya ingin sekali merengkuh tubuh kecil teman Rose.
"Dia memang sangat pemalu, namanya Isabeau Chambell, biasa dipanggil Belle," ujar Rose sambil mendorong punggung Belle ke arah Marlon, agar mereka berkenalan.
Ketika tangan mereka saling bersentuhan, batin Marlon mengerang kala merasa kulit tangannya begitu halus. Hanya dengan berjabat tangan, tetapi sudah membuat Belle berkeringat dingin.
"Bell-e," katanya terbata, wajah Belle memucat saat hendak menarik alih, tetapi ditahan oleh Marlon.
Kalau tidak ada Rose di sini, kemungkinan terbesar Marlon sudah merengkuh tubuh kecil Belle, mencium bibir ranumnya sampai musim dingin berganti. Di mata Marlon, wajah Belle sangat mungil, seperti melihat boneka barbie.
"Marlon."
Belle langsung menyingkir begitu Marlon melepas jabatan tangan mereka, jantungnya berdegup kencang di bawah tatapan lekat nun tajam. Paman Rose sangat mengerikan. Mulai dari tatapan yang tajam, rambut panjangnya, serta brewok di sekitar dagunya, membuat Belle berpikir jika Marlon bukan lelaki baik-baik. Hih! Tanpa sadar Belle bergidik ngeri, ketika di mata Marlon gadis itu mirip boneka, di matanya dia malah tampak seperti Tarzan liar.
Mencebikkan senyum, Marlon mendekati kuping Rose berbisik, sedangkan Belle hanya mengamatinya dengan penasaran. Saat Rose berlalu meninggalkan ruangan, Belle panik bukan kepalang, alih-alih mundur tangan Marlon lebih cepat menjangkau, melakukan apa yang telah diurungkan sejak 10 menit terakhir.
Spontan kedua mata Belle membeliak, kaget, saat ciuman pertamanya telah diambil oleh lelaki tua berjenggot.
Belle menyumpal kuping dengan headseat. Lebih memilih mendengarkan lagu-lagu dari ponselnya daripada mendengarkan celotehan panjang Rose yang membanggakan si Tarzan tua menyebalkan. Selepas bertemu Marlon kemarin, Belle jadi malas mendengarkan cerita Rose, ia hanya mengangguk setiap kali Rose bercerita soal pamannya.
Rose bilang Marlon itu teman curhat terbaik sepanjang zaman. Huh! Andai Rose tahu kelakuan Marlon sesungguhnya. Karena Belle tahu Rose sangat menyayangi Marlon dan demi menjaga pertemanan mereka, maka kejadian kemarin sore tidak dia ceritakan. Untuk ke sekian kali, Belle bergidik ngeri ketika teringat apa yang telah dilakukan Marlon kepadanya. Dia merasa dilecehkan.
"Pamanku itu paling bisa mengerti aku. Dia selalu menyempatkan diri mendengar seluruh curhatanku, meski yang kuceritakan padanya mengenai kampus." Rose sangat bersemangat, mulutnya bergerak cepat memuji sosok Marlon.
Bahkan saking semangatnya, Rose sampai tidak menyadari jika Belle sedang asyik sendiri. Mengaduk-aduk minuman sambil menikmati lagu tua keluaran tahun 1980-an. Seketika wajah Marlon muncul di ingatannya, Belle membeliak untuk seperkian detik, lantas mematikan pemutar musik itu.
Perasaan, yang Belle putar tadi sederet lagu hits terbaru, kenapa bisa berubah jadi lawas? Ini pasti akibat memikirkan Marlon terus. Bukan dalam artian baik, melainkan buruk, karena Isabeau Chambell membenci Marlon setelah pelecehan yang dilakukannya.
"Bell, aku ingin meminta pendapat. Kau kan sudah bertemu Paman Marlon kesayanganku. Menurutmu, dia bagaimana?" tanya Rose menggebu, menatap Belle dengan pandangan berbinar.
"Jelek, tua, dan mesum." Tanpa keraguan Belle menjawab, mengatakan apa adanya. Sontak Rose terperangah, tidak terima. Tetapi Belle tak peduli, dia hanya ingin berkata jujur.
"Bagaimana bisa kau bilang paman Marlon mesum?! Pamanku itu penyayang, wajahnya memang sangar bak singa lapar, tapi kau harus tahu jika dia sangat rajin membelikan makanan untuk burung-burung di sepanjang jalan komplek."
"Itu namanya bukan penyayang, Rose, tapi kurang kerjaan."
"Belle!" Rose memekik, wajahnya merah padam. Dia memang sangat menyayangi sang paman jadi wajar saja marah.
Belle hanya mencibir saat Rose berlari meninggalkan kantin. Mereka berteman sejak awal semester, baru kali ini keduanya terlibat adu cekcok karena beda pendapat. Biarkan saja! Selain manja, Rose sangat kekanakan. Dipikirnya Belle akan datang mengejar? Tentu saja itu tak akan terjadi.
Meneguk sisa minuman hingga tandas, Belle bangkit setelah menumpuk buku-buku di atas meja, lalu membawanya. Sepanjang jalan, Belle masih memikirkan Marlon dan memaki pria itu di dalam hati.
Belle meringis manakala menyadari telah menabrak seseorang, dia mundur seraya berdoa dalam hati supaya orang itu tidak memarahinya. Dengan perlahan, Belle mengangkat kepalanya. Matanya membeliak kala melihat orang yang berada di hadapannya. Si lelaki tua jelmaan Tarzan tengah tersenyum lebar padanya. Marlon? Belum sempat Belle mengelak maupun berteriak, Marlon dengan sigap menarik tangannya. Melewati para mahasiswa tanpa rasa canggung.
"Paman, aku masih ada kelas. Kau mau membawaku ke mana?" tanya Belle. Ia kerap kali kesandung kakinya sendiri, karena berusaha mengimbangi langkah Marlon yang lebar.
"Panggil aku Marlon, aku bukan pamanmu."
"Tapi ..."
"Hari ini kau bolos saja. Aku ingin membawamu menemui ibuku." Marlon memotong cepat, tidak memberi Belle kesempatan berbicara.
"Hah?" Belle melongo sambil menatap sisi wajah Marlon yang ditumbuhi rambut tebal, kemudian bergidik. "Paman tidak bisa seenaknya begitu padaku! Aku tidak mau!"
Terserah Belle mau berkata apa. Karena sekalipun Belle menolak, niat Marlon sudah bulat dan tidak akan melepaskan. Usianya tidak lagi muda. Maka, begitu menemukan gadis yang telah membuat hatinya bergetar hebat, Marlon bersikeras menikahinya.
"Besok atau mungkin sepulang dari rumah orang tuaku, aku akan menemui orang tuamu untuk meminta doa restu."
"Aku harus menemui orang tuamu, kau menemui orang tuaku dan meminta doa restu. Itu semua untuk apa, Paman? Aku tidak mengerti kenapa kau melakukan ini."
"Kita akan menikah."
"APA? MENIKAH?"
Spontan Belle menggeleng keras, tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Rasanya dia hanya ingin menangis ketika Marlon mendorong tubuhnya ke dalam mobil. Belle berusaha lepas dari Marlon. Ia memukul Marlon tapi sepertinya pria itu tak merasakan sakit sama sekali.
"Paman lepaskan aku! Aku tidak mau menikah denganmu, lelaki tua."
Marlon terlihat sedikit kesal. "Diam atau aku akan menciummu di hadapan semua orang!"
Mendengar ancaman itu, Belle mengatupkan mulut. Memilih mengikuti langkah Marlon untuk memasuki mobilnya. Sejujurnya, Belle sangat ingin berteriak, tapi ancaman Marlon nyatanya lebih menyeramkan dari kutukan.
Setelah memasang seatbelt pada tubuh Belle dan memastikan bahwa wanita itu tidak kabur, Marlon segera melajukan mobilnya. Menembus jalanan menuju kediaman Exietera, di mana Marlon diasuh dan tumbuh menjadi lelaki kekar idaman semua wanita.
"Ka-u benar-benar ingin menikahiku?" Suara Belle bergetar, menahan diri untuk tidak menangis.
"Siapa lagi?" tanya Marlon balik.
"Kenapa harus aku?" Dengan memberanikan diri Belle menatap Marlon, meski kulit wajahnya sudah seputih kapas.
Marlon menoleh sekilas, tak ayal bibir penuhnya mengukir seringai nakal. "Karena ... kau membuat hatiku bergetar, Bell."
Kening gadis itu mengerut sesaat mendengar suara serak Marlon menyebut nama singkatnya. Belle masih menatap sisi wajah Marlon dalam diam, memerhatikannya dengan saksama. Apa Marlon menyukai dirinya?
"Kau menyukaiku"
Sontak, Marlon terdiam. Tangan yang semula giat mengetuk-ngetuk stir, kini membatu seperti patung. Tak berselang lama Marlon menoleh lagi, untuk menatap wajah bingung Belle. Di mata Marlon, wanita itu tampak seperti boneka barbie. Ah! Marlon jadi ingin cepat-cepat menikahi Chambell, dia begitu lucu saat memikirkan ucapannya barusan. Seperti tidak menyangka.
"Hmm, iya. Mungkin aku jatuh cinta." Marlon menjawab lambat. Ia tahu jawabannya tak menyakinkan sama sekali tapi cukup membuat wajah Belle menegang, semakin ketakukan.
Belle mengamati Marlon dari samping dengan perasaan takut. Sebelumnya ia tidak pernah jatuh cinta, tidak berpacaran, dan tidak berpikir akan menikah. Apa pamannya Rose sedang bercanda? Dengan pemikiran seperti itu jantung Belle berdetak dua kali, wajahnya memucat saat membayangkan pernikahan. Marlon sebenarnya ingin terus menatao wajah menggemaskan itu tapi ia terpaksa mengalihkan pandangannya dan fokus menyetir. Ia tidak mau membuat mereka berdua celaka.
"Kau takut padaku?"
"Bagaimana bisa kau menyukaiku?" tanyanya tidak mengerti dengan pengakuan pria itu. Mereka baru sekali bertemu, bahkan tidak saling mengebal, rasanya sangatlah janggal.
"Sejujurnya aku sendiri tidak tahu kenapa, aku juga bingung. Yang kutahu, hatiku bergetar saat pertama kali melihatmu bahkan sampai detik ini."
Marlon jadi ikut terbawa suasana, perasaannya membuncah. Ia menyapu rambut gondrongnya beberapa kali, sebelum menarik hidung mungil Belle dengan gemas.
Kediaman Exietera
Dengan ogah-ogahan Belle mengikuti langkah Marlon, yang menariknya menuju pintu utama Exietera. Dia sangat malu, sungguh! Berulang kali Rose telah mengajak Belle berkunjung ke rumah sang nenek, minta ditemani, sesering itu pula dia menolaknya. Kini Marlon malah menyeretnya menghadap nyonya besar.
Setahu Belle nyonya besar Exietera sangat angkuh, ibunya Marlon, tidak lain tidak bukan adalah nenek kesayangan Rose Miller. Selama ini Belle hanya mendengar dari cerita orang betapa buruknya sikap beliau. Meski belum bertemu langsung Belle pernah melihat gambar wanita itu di majalah.
Keluarga mereka pebisnis besar, tak heran bangunan tinggi di depannya menjulang kokoh bak singgasana. Belle tidak ingat semalam bermimpi apa? Sehingga bisa berada di rumah ini berhadapan dengan Gloe. Wanita setengah abad, anehnya masih sangat terlihat cantik.
"Marlon, kau membawa anak siapa?" Gloe menatap sinis Belle, sebagai kesan pertama yang tidak asyik.
"Ah, Ibuku sayang, kupikir kau mengingat ucapanku kemarin malam. Aku akan membawa calon istriku." Marlon melirik bangga Belle, mengamati wajahnya sudah semerah tomat.
"Apa?!" Terang saja Gloe syok, menatap Belle balik, lalu menggeleng keras. "Kau bercanda, ini di luar ekspetasiku, dia masih sangat muda untuk menikah."
Benar, itu sungguh menggelikan, lanjut Belle di dalam hati.
Marlon menyeringai lebar saat melihat Belle bergidik. Memeluk pinggangnya dari samping, dan berbisik. "Semakin sering kau geli saat membayangkanku, maka semakin cepat juga kita akan menikah."
Spontan Belle membeliak, menepis tangan Marlon. Sialnya lelaki tua itu malah mempererat pelukan. Dia sama sekali tidak tahu malu. Belle meringis kecil tatkala satu tangan Marlon meraih wajahnya, memaksa gadis itu mendongak, sementara ekspresi wajah Gloe sudah seperti kebelet buang air.
Menyalahi pilihan Marlon yang ternyata menyukai anak kecil, Gloe sangat ingin menentang, tetapi bagaimana? Keinginannya mendapatkan cucu laki-laki sudah di ujung tanduk. Gloe juga tidak menjamin jika Marlon akan segera mencari pengganti Belle.
"Iya Ibu, namanya Belle, gadis kecil ini memang masih muda, tapi dia sudah tidak sabar," kata Marlon mengada-ngada, berusaha menyakinkan sang ibu, dan melanjutkan. "Kita juga sama-sama suka, saling mencintai, Belle juga menerimaku apa adanya. Hmm, dia bilang kalau cinta tidak memandang usia. Iya kan calon istriku?"
Belum sempat menyangkal, Marlon mendahuluinya dengan mendorong kepala Belle hingga terangguk-angguk. Astaga! Lama-lama dia bisa mati berdiri karena malu. Marlon sangat keterlaluan. Mereka terpaut usia 20 tahun, bahkan baru saja bertemu. Bagaimana bisa langsung menikah? Belle hanya tersenyum masam saat Gloe mempersilakan duduk di ruang keluarga.
"Baiklah, kalau begitu silakan duduk, aku perlu mengenalmu lebih jauh." Sesaat Gloe berlalu, sontak Belle menggeleng.
"Ayo!" ajak Marlon sambil mengayunkan tangannya agar Belle mengikuti.
Tetap diam di tempat Belle mencoba memahami situasi. Kantung matanya berkedut menatap sekitar. Kini Marlon sudah menyeretnya, Belle tidak kuasa menolak, pegangan serta tarikannya begitu kuat bahkan kulitnya sampai memerah.
Menyadari Belle kesakitan Marlon pun melepaskan. Keduanya mematung di tengah jalan dengan satu arah pandangan, menatap kulit putih Belle yang kini bercabit merah. Kedua mata Belle memanas tidak lama gadis itu menangis keras, buru-buru Marlon menghela tubuh mungilnya ke pelukan.
"Cup, cup, Sayang, jangan menangis," ucap Marlon menepuk punggung Belle, alhasil tangisannya semakin kencang.
"Huaaa, Ibu ..."
"Astaga, Marlon! Kenapa dia bisa menangis?" Gloe melotot, merasa terganggu dengan teriakkan Belle.
"Aku tidak sengaja melukai pergelangan tangan Belle, tetapi sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud menyakitinya."
"Nyonya Gloe tolong aku, anakmu sudah tidak waras, aku tidak ingin menikah ..." Mmph! Di dalam ciuman Marlon Belle mendelik, dia memang sakit jiwa. Gloe ada di depan mereka, dan dia sanggup menciumnya seperti orang kelaparan.
Memutar bola mata Gloe memilih pergi, memberi ruang kepada pasangan aneh bin ajaib yang telah berhasil membuat wanita itu pusing tujuh keliling. Gloe sempat berpikir gadis pilihan Marlon seorang model terkenal, nyatanya gadis muda yang kumel. Menaruh bokong di kursi kebesaran, Gloe membuka kipas cantiknya, mengibaskannya sambil menunggu kedatangan Marlon.
Tidak berlangsung lama Marlon dan Belle datang, kepala gadis itu menunduk seakan-akan menghindari kontak mata dengan Gloe. Demi apapun Belle merasa sangat malu. Ketika Belle pikir bibirnya ini tercipta hanya untuk satu lelaki yang jelas bukan Marlon, kini impian itu telah sirna.
Marlon Exietera sudah menciumnya lebih dari sekali. Kalau saja mencuri ciuman termasuk sebuah pelanggaran, maka Belle sudah melaporkan lelaki tua itu ke pihak berwajib.
"Katakan padanya jangan menunduk terus, aku perlu berbicara," ujar Gloe sewot, jika bukan karena seorang cucu sudah sejak tadi dia tolak mentah-mentah.
Memutar bola mata jengah, lalu Gloe melanjutkan. "Apa dirinya tidak diajarkan bagaimana cara bersikap saat diajak berbicara dengan orang yang lebih tua?"
Tidak sabar melihat reaksi Belle, akhirnya Marlon bertindak. Mendorong pundak gadis itu hingga terduduk menghadap nyonya besar Gloe. Kedua pipi Belle bersemu, sisa dari rasa malunya yang belum hilang. Sepasang mata Gloe menatap Belle dengan intens, lalu beralih pada wajah tegang Marlon di sisi kursi.
Berasa ingin diintrogasi.
"Apa pekerjaan ayahmu? Ibumu? Keturunan dari keluarga mana? Kapan terakhir kali kau tidur bersama ibumu? Kenapa kau menyukai anakku? Kuberitahu padamu jika Marlon egois, dia punya kebiasaan buruk yaitu suka menguasai tempat tidur."
Marlon menggaruk tengkuk belakangnya, dia jadi salah tingkah, ketika mengingat telah banyak korban tendangnya apabila tidur ditemani. Tidak peduli mau lelaki atau perempuan. Gloe sendiri pernah terkena tendangan bebas. Waktu itu Marlon mendadak flu, tujuannya hanya ingin menjenguk, tetapi malah ketiduran. Percaya atau tidak saat bangun tidur Gloe sudah terdampar.
"Ibu, untuk Belle cintaku, aku siap berbagi ranjang," sangkal Marlon disusul kekehan, geli sendiri atas kebiasaannya yang aneh.
Mungkin, itu menjadi salah satu dari sekian alasan kenapa Marlon belum menikah. Dia selalu ingin menguasai tempat tidur seluas apapun volumenya.
"Bagus, kalau begitu! Sekarang jawab seluruh pertanyaanku, aku ingin jawaban jujur." Gloe menutup kipas tangannya, dan menatap Belle tajam.
"Eum, maaf, aku lupa apa saja yang kau tanyakan."
"Baik, akan kuulangi. Di mana ayahmu bekerja?"
"Ayahku bekerja di rumah sakit terbesar di kota."
"Wow, apa ayahmu seorang dokter bedah, kenapa aku tidak pernah melihatmu yaa ..."
"Ah, tidak, tidak, ayahku bukan dokter."
"Lalu?"
"Profesi ayahku hanya sebagai tukang parkir di rumah sakit."
What the hell? Gloe kaget, mulutnya menganga lebar, sedangkan Marlon tidak kalah syok mendengar jawaban jujur Belle. Bukan karena profesi ayahnya melainkan betapa percaya dirinya dia saat memberitahu.
Fix, Marlon sangat gemas.