"Kenapa kamu memilih mendatangiku dan menceritakan semuanya kepadaku?" Terdengar suara wanita tua di balik tirai, membuat sang wanita di balik tirai itu menjengit ketakutan. Dia merinding mendengar suara serak wanita tua itu, tanpa bisa melihat siluet wanita itu.
"Kamu tahu aku sudah tidak jadi dukun lagi, kan?" tanya wanita tua itu lagi. Masih belum ada jawaban. Hanya terdengar bunyi jengkerik dan serangga yang lain di luar rumah itu.
"Mara! Jawab aku! Kenapa kamu menemuiku? Sudah kubilang aku tidak menjadi dukun lagi, aku sudah menutup masa laluku!" teriak wanita tua itu.
Wanita muda yang bernama Mara itu terlonjak kaget, karena wanita tua di balik tirai sudah mengetahui siapa dirinya. Mara mulai gelisah, dan beberapa kali mengubah posisi duduknya. Mara tahu bahwa dia berhadapan dengan orang yang sakti.
"Mara? Jawab aku! Kalau tidak maka aku tidak akan membantumu!"
"Berarti nenek mau membantuku, kan?" potong Mara cepat. Terdengar embusan napas panjang.
"Huh! Semua karena bapakmu, kan? Anak durhaka itu!" Wanita tua itu menggerutu.
"Bapakku kan, anak nenek," jawab Mara asal. Nada suara Mara terdengar geli. Wanita tua itu mendengkus.
"Kamu sangat kurang aj*ar. Persis seperti bapakmu. Apa yang dikatakan bapakmu sehingga kamu ke sini?" tanya wanita tua itu. Mara diam saja. Dia belum menjawab pertanyaan wanita tua yang adalah neneknya itu.
"Mara!" teriak wanita tua itu lagi, mengingatkan Mara agar bertingkah sopan kepadanya.
"Bapak bilang nenek adalah wanita abadi. Wanita yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta pada nenek. Karena itulah aku ke sini. Aku ingin mencari tahu ilmu atau ajian apa yang sekiranya membuat nenek bisa sehebat itu," jawab Mara dengan suara yang jelas dan tegas.
Terdengar suara terkesiap dari balik tirai dan perlahan tirai itu terbuka. Mara yang duduk bersimpuh terlonjak kaget melihat wanita di depannya. Dia beringsut mundur perlahan.
Nenek Mara tertawa terbahak-bahak melihat wajah Mara yang ketakutan melihat dirinya dan mencoba menjauhinya.
"Kamu ingin seperti aku?" tanya nenek Mara sambil masih tertawa.
Mara menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Tubuhnya lemas melihat pemandangan yang sangat mengerikan di depannya. Mara melihat kepala wanita muda yang sangat cantik jelita, bersanggul besar dan ber-make up tebal, tetapi ... tetapi badan wanita itu tidak ada dan digantikan oleh tubuh ular yang sangat besar berwarna hitam. Sisik ular itu nampak basah dan berkilat ketika terkena cahaya lampu.
"Kamu ingin jadi ular juga, Ndhuk?" tanya nenek Mara lagi. Mara menggigit bibirnya menahan mual, ketika melihat tubuh ular milik neneknya bergerak meliuk-liuk gelisah di depannya. Mara menelan ludah ketakutan. Dia masih berusaha beringsut menjauh dan keluar dari ruangan itu.
"Kamu sudah pernah melihat wujud asli bapakmu, Ndhuk?" tanya nenek Mara dengan kepala yang ditelengkan ke kanan dan ke kiri, membuat Mara semakin ngeri.
Mara menggeleng samar. Dia tidak tahu kalau bapaknya memiliki wujud yang lain. Jawaban Mara membuat sang nenek terkekeh-kekeh geli.
"Bagaskara memang licik. Bapakmu sebenarnya ingin membuatmu menjadi seperti aku, maka dia memintamu mendatangiku ke sini. Dia ingin melestarikan bangsa kita, Ndhuk," jawab sang nenek dengan terus meliukkkan tubuhnya, seakan nenek Mara resah.
"Bangsa kita?" tanya Mara ketakutan. Sang nenek mengangguk.
"Kamu tahu aku apa, kan, Ndhuk?" tanya sang nenek yang kemudian tertawa terkikik panjang, membuat bulu kuduk Mara berdiri tegak. Mara menggeleng lagi, dia benar-benar tidak tahu sebenarnya nenek itu manusia atau bukan.
"Aku bukan manusia, Ndhuk. Aku ratu jin di sungai Pandan Wangi. Kakekmu dulu menikah denganku dan lahirlah bapakmu, Bagaskara. Lalu ... lalu ... Bagaskara memulai petualangan cintanya dan lahirlah kamu, Mara. Jadi, bisa dibilang kamu bukan manusia murni," bisik sang nenek disertai desisan-desisan mengerikan dari mulutnya.
Mara membeliak tak percaya mendengar jawaban neneknya. Dia tidak menyangka dan tidak terima dengan jawaban neneknya. Wajah Mara sangat pucat, seakan tak ada darah yang mengaliri wajah Mara.
"Kamu adalah keturunanku, Dewi Nagagini, penjaga Sungai Pandan Wangi, Mara, dan karena kamu anak tunggal, maka semua kesaktianku, semua bala tentaraku, semua kerajaanku akan kuwariskan kepadamu," bisik sang nenek. Perlahan tubuh ularnya mendekati Mara.
Mara menjerit ketakutan ketika tiba-tiba sang nenek berada di sampingnya. Lidah nenek Mara menjulur-julur seperti lidah ular. Mara beringsut menjauh.
"Ah, kamu cantik sekali, Mara. Kamu sangat cocok menggantikanku menjadi ratu di Sungai Pandan Wangi. Kamu pasti akan disukai banyak dedemit di lembah Sungai Pandan Wangi. Oh, aku bangga padamu!" bisik sang nenek dengan lidah yang menjulur-julur tiada henti. Mara bergidik ngeri.
"Kamu harus menurut padaku agar tubuh ularmu muncul, ya, Ndhuk? Lebih cepat lebih baik. Aku juga harus mengajakmu ke istanaku. Kamu harus mengenal tempat yang kelak akan menjadi istanamu, Ndhuk," bisik nenek Mara.
Mara merinding ketika tiba-tiba ada tangan yang melingkari bahunya. Mara bertanya-tanya dalam hati, tangan siapa gerangan yang hendak memeluknya? Bukankah neneknya tidak memiliki tangan karena tubuhnya adalah tubuh ular? Pertanyaan Mara menguap ketika tangan itu memeluknya dan membuat tubuhnya melekat erat dengan tubuh neneknya. Seketika Mara merasa sangat mual ketika menyadari bahwa tubuh ular sang nenek sangat bau amis dan berlendir. Mara nyaris muntah.
"Sepertinya aku sangat beruntung hari ini, karena kamu datang sendiri ke sini dan aku tidak perlu mencarimu lagi. Ayo, sekarang kita lihat istana kita!" ajak sang nenek dan tangan yang memeluk Mara seakan mengangkat tubuh Mara perlahan dan membawa pergi.
"Aaahhh! Jangan! Aku tidak mau!" teriak Mara histeris. Mara memberontak liar, tetapi sepertinya dia tidak kuasa melawan kekuatan gaib milik sang nenek. Nenek Mara tertawa keras.
"Kamu sendiri yang mengatakan kamu ingin seperti aku, ingin dicintai banyak orang. Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan tubuh ularmu, Ndhuk," kata sang nenek bijak.
Mara terus berteriak dan memberontak mencoba melepaskan diri. Dia tidak ingin menjadi manusia ular seperti neneknya.
Akhirnya perjuangan Mara berhasil. Entah dengan kekuatan dari mana, Mara berhasil melonggarkan pelukan tangan gaib itu dan dengan menggunakan licinnya sisik ular milik sang nenek, dia berhasil melepaskan diri neneknya. Napas Mara memburu dan dengan penuh kemarahan dia berjalan maju ke arah neneknya. Tanpa basa basi Mara merenggut tubuh ular neneknya dan menarik tubuh itu kuat-kuat. Mara mencengkeram tubuh ular itu dan langsung membanting tubuh ular itu berkali-kali ke lantai dengan keras, sangat keras bahkan, sampai dia melihat darah berceceran dan mulai mengalir deras dari tubuh ular itu.
Napas Mara tersengal. Dia nampak sangat marah.
"Aku tidak ingin menjadi seperti dirimu! Aku hanya ingin menjadi Mara yang disukai banyak pria! Bukan Mara yang menjadi ratu ular! Aku tidak butuh itu!" teriak Mara dengan penuh emosi dan dengan membabi buta dia menginjak-injak tubuh ular yang sudah nampak ma*ti itu sambil terus berteriak-teriak histeris.
Setelah puas dan emosinya mereda, Mara berhenti dan terdiam. Dia melihat tubuh ular yang sudah terluka dan sobek di sana sini. Darah dan otot ular itu nampak berserakan ke segala penjuru ruangan itu, membuat Mara sendiri terkejut, takut dan juga mual.
Mara baru menyadari bahwa kepala neneknya tidak ada di leher ular itu. Kepala neneknya menghilang! Mara membeliak tak percaya. Dia mulai merasa panik. Dengan tergesa, Mara mencari kepala neneknya di ruangan itu, tetapi tidak menemukannya. Mara segera keluar dari ruangan itu dan mencari kepala sang nenek di seluruh bagian rumah itu, tetapi tetap saja dia tidak menemukannya.
Mara terengah di dapur rumah neneknya yang gelap. Napasnya tersengal dan tak beraturan. Lamat-lamat Mara mendengar dengkusan napas di dapur itu. Napasnya seperti orang yang baru saja berlari, terengah seperti halnya Mara. Kemudian Mara melihat nyala api dari salah satu tungku di dapur itu. Mara mundur ketakutan, karena nyala api itu semakin lama semakin terang dan semakin besar dan Mara melihat kepala neneknya muncul dari tungku itu.
Aneh sekali, sanggul neneknya masih utuh dan bagus, walaupun kepala sang nenek dilingkupi api yang menyala terang, membuat dapur yang semula gelap menjadi terlihat jelas sekarang. Mara mundur beberapa langkah melihat kepala sang nenek yang melayang ke arahnya dengan kikikan tawa yang membuat merinding orang yang mendengarnya.
"Mara, kita memang berjodoh! Bagaskara sudah tahu kalau kita sudah diikat oleh benang merah takdir. Dia menyuruhmu ke sini agar kita bertemu dan bersatu," kata sang nenek dengan suara yang melengking tinggi.
Mara berdebar tak menentu, dia tidak paham benar apa maksud neneknya. Mara hanya merasa takut dan ingin pergi dari tempat itu. Mara mundur terus dan kemudian berlari meninggalkan dapur yang kini mulai terbakar oleh api dari kepala neneknya. Mara tidak peduli lagi, dia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah neneknya. Mara tidak bisa berlari jauh, dengan cepat kepala sang nenek bisa menyusulnya dan kepala itu langsung masuk ke dalam tubuh Mara, membuat Mara terjatuh dan terbakar sesaat.
Kemudian hening menyusul semua keributan itu. Beberapa saat kemudian Mara bangkit dan berdiri. Dia mengibaskan bajunya yang kotor karena terjatuh tadi.
"Huh, merepotkan saja!" gerutu Mara sambil masuk lagi ke dalam rumah neneknya.
****
"Hakim ke mana?" tanya Salma kebingungan. Fiki hanya tertawa.
"Paling main di sungai dengan Husna atau Huda. Biar saja, Ma," jawab Fiki ringan. Salma mencebik
"Ustadz, lo! Sekarang, kan, Nur Faidah , kakaknya Hakim sedang menikah, apa, ya pantas Hakim malah bermain-main sendiri? Seharusnya dia memperlihatkan diri pada keluarga kita, atau paling tidak membantu kita," kata Salma bersungut-sungut. Bibirnya mencebik.
Fiki tambah tertawa.
"Biarlah sebentar, Ndhuk. Nanti aku suruh santri untuk mencarinya," jawab Fiki, membuat Salma semakin jengkel dan meninggalkan Fiki sendirian. Fiki semakin geli melihat tingkah istrinya yang uring-uringan sejak kemarin karena mempersiapkan pernikahan --salah satu dari kembar tiga-- anak pertama mereka. Fiki membiarkan Salma marah-marah dan mencebik sambil berteriak ke sana ke mari. Fiki lebih memilih menyingkir dan melakukan hal lain daripada harus menenangkan istrinya yang sedang panas hatinya.
Fiki melihat ketiga anaknya berlari masuk ke dalam rumah dengan baju yang basah. Ah, sempurna sekali! Sebentar lagi pasti terdengar teriakan Salma memarahi mereka. Fiki pura-pura tidak peduli. Dia memilih membantu bapak dan ibu mertuanya masuk ke dalam mobil untuk pulang ke Karang Pandan.
"Titip Salma, njih, Ust?" kata bapak mertua Fiki, yang bernama Fadli. Fiki tersenyum geli dan mengangguk.
"Njih, Pak. Insya Allah," jawab Fiki.
"Dia memang anak yang beda sendiri, Ust, tetapi saya percaya panjenengan baik-baik saja dengan Salma, kan, Ust?" Fiki tertawa dan mengangguk.
"Alhamdulillah, jazakallah, Ustadz," kata Fadli. Fiki mengangguk dan melepas kepergian kedua mertuanya yang sudah sangat sepuh itu. Ah, Fiki sangat ingin seperti mereka. Memiliki kehidupan yang anteng dan damai, menyatu dengan ketenangan batin dan semangat untuk beribadah kepada Allah.
Fiki melihat seseorang mendekatinya dengan agak tergesa. Fiki agak terkejut melihat Malik, asistennya, mendekatinya dengan wajah yang risau dan agak takut.
"Ustadz, mohon maaf mengganggu. Mohon maaf sekali saya terpaksa harus mencari ustadz," kata Malik, asisten Fiki, dengan napas memburu.
Fiki tertawa geli.
"Tidak apa-apa, Mas Malik. Ada apa?" tanya Fiki. Malik berusaha mengatur napasnya sejenak.
"Ada seorang wanita mencari ustadz. Namanya Tini. Dia kerasukan, Ust. Dia mengaku pernah bertemu ustadz di sungai Pandan Wangi," kata Malik dengan masih terengah.
Fiki menggigit bibirnya. Dia mengangguk dan segera menuju ke ruang terapi ruqyah, dari kejauhan dia mendengar teriakan Salma memarahi ketiga anaknya yang baru pulang dari sungai tadi.
****
"Fiki? Nurul Fikri? Kamu sekarang tampan sekali!" teriak seorang wanita sambil berlari ke arah Fiki dan hendak memeluk Fiki. Fiki langsung menghindar dengan setengah tertawa.
"Jangan! Kita bukan mahram," kata Fiki, "duduklah yang tenang! Ceritakan pada saya tentang panjenengan dan kenapa panjenengan ingin menemui saya," lanjut Fiki.
Wanita itu mencebik, tetapi dia tetap mematuhi Fiki dan duduk bersimpuh di depan Fiki.
"Aku Siti Ambarwati. Aku penghuni lembah Pandan Wangi dan ke sini karena disuruh menyampaikan pesan Nyai Nagagini padamu," kata wanita yang kerakusan jin itu.
Fiki mencibir dan mencoba menahan tawanya.
"Baiklah, aku siap menerima pesan Nyai Nagagini. Apa pesannya?" tanya Fiki.
Siti Ambarwati yang berada di dalam tubuh wanita bernama Tini berdeham.
"Nyai Nagagini ingin minta tolong padamu untuk mengunjungi lembah Pandan Wangi, karena dia butuh bantuanmu," kata Siti Ambarwati.
"Halah, mau minta bantuanku apa mau mencari mataku, Nyai?" tanya Fiki geli.
Wajah Tini merah padam, dia nampak terkejut dan juga marah karena Fiki tahu rencananya. Dia mencebik dan membuang muka dari Fiki. Dia memandang ke arah luar dan tiba-tiba Siti Ambarwati berdiri, matanya nyalang memandang pintu.
"Kalau kamu tidak mau ya, sudah! Sudah ada gantinya di balik pintu itu!" teriak Tini. Dia berlari ke arah pintu. Sepertinya ada seseorang yang mengintip di sana ....
****
Tini menerjang pintu yang setengah terbuka dan menabrak udara kosong hingga dia terjungkal dan berguling di lantai beberapa kali. Suatu gerakan absurd, yaitu berguling di lantai dengan sangat lincah, yang sepertinya tidak akan bisa dilakukan oleh seorang wanita feminin seperti Tini, kecuali karena memang ada jin di dalam tubuhnya.
Fiki dan beberapa orang berlari mengejar Tini dan melihat Nurul Hakim berdiri di belakang pintu dengan wajah geli. Nurul Hakim menunjuk ke arah tubuh Tini sambil berkomat-kamit membaca ayat ruqyah, mulai dari taawudz, Al Fatihah, Al Baqoroh dan wajah Tini mulai berkeriut menahan sakit.
Fiki mendekati Nurul Hakim dan membantu anaknya meruqyah Tini. Tini memegangi lehernya, dia seperti mencekik dirinya sendiri. Beberapa ustadzah segera menolong Tini dan mencegah tangannya mencekik lehernya sendiri.
"Jangan! Jangan larang aku membunuh wanita ini! Dia harus mati!" teriak Tini, dia memberontak liar dari para ustadzah yang memeganginya.
"Dia harus ma*ti!" teriak Tini. Dia berusaha menyakiti tubuhnya sendiri dengan berusaha mencakar atau mencekik tubuhnya sendiri. Para ustadzah berusaha sekuat tenaga melarang Tini melakukan hal itu.
Nurul Hakim tidak mempedulikan teriakan-teriakan jin di dalam tubuh Tini yang membabi buta. Jin di dalam tubuh Tini mengumpat dan memaki Nurul Hakim dalam bahasa Jawa yang kasar dan sangat tidak pantas didengar. Nurul Hakim hanya tersenyum samar mendengar umpatan itu. Dia memakai kaus tangan yang tersedia di ruang terapi ruqyah dan mendekati Tini.
"Aja nyedhak! (Jangan mendekat!)" teriak Tini, dia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Jangan lihat aku, Ustadz!" teriak Tini, "aku takut dengan matamu!"
Nurul Hakim nampak tidak sabar lagi dan memegang tengkuk Tini dengan tangannya yang berbalut kaus tangan. Dia mulai mendaraskan ayat ruqyah dengan suara yang cukup lantang dan dalam sekejap Tini muntah-muntah dan kemudian pingsan. Nurul Hakim menghela napas lega.
"Semoga sudah keluar semua, ya, Bi," kata Nurul Hakim. Fiki mengangguk. Dia merasa bangga dengan anaknya yang tidak melanggar peraturan dari gurunya ketika meruqyah, yaitu tidak berbicara dengan jin yang ada di dalam tubuh orang yang mereka ruqyah. Fiki mendesah, nampaknya Nurul Hakim memang mewarisi kengenyelan dirinya. Nurul Hakim sangat kaku, terutama untuk masalah mematuhi peraturan.
Nurul Hakim sangat mematuhi semua peraturan yang bersangkutan dengan kehidupannya. Mulai dari peraturan di dalam rumah, di pesantren dan peraturan dalam meruqyah. Hakim --panggilan Nurul Hakim-- mempengaruhi sepupu-sepupunya untuk selalu berpenampilan rapi, tanpa rambut panjang dan anting atau gelang bagi sepupunya yang laki-laki.
Fiki mendengkus. Dunia ini memang aneh. Nurul Hakim yang sangat patuh peraturan memiliki guru ruqyah yang sepertinya kurang suka dengan peraturan, dengan penampilan yang berkebalikan dengan penampilan Nurul Hakim yang selalu rapi, guru Nurul Hakim memiliki rambut panjang dan memakai anting.
Ah, anting itu. Sejak dulu Fiki meminta Faza --guru Nurul Hakim-- untuk melepaskan anting itu, tetapi Faza menolak permintaan Fiki. Mereka berdua pun tidak pernah membicarakan hal itu lagi, sampai ketika Fiki tahu, bahwa anaknya memilih Faza sebagai gurunya. Hati Fiki langsung mencelos mengetahui hal itu, tetapi untunglah Nurul Hakim orang yang sangat berbeda dengan Faza dan tidak terpengaruh dengan penampilan Faza, yang adalah paman Nurul Hakim sendiri.
Fiki mendekati Hakim yang sedang melepas kaus tangannya di salah satu sudut ruang terapi ruqyah.
"Kenapa kamu ke sungai tadi? Ummi-mu mencarimu, kan?" tanya Fiki pada Hakim. Hakim tersenyum geli.
"Aku mencari Husna dan Huda, Bi. Mereka bilang mereka mau mengantar simbah pulang, makanya kucari mereka ke sungai," jawab Hakim. Fiki tertawa. Dia bisa membayangkan Salma akan memarahi Hakim sebelum Hakim menjelaskan masalahnya pada Salma.
"Ummi memarahiku," gerutu Hakim. Dia mencebik.
"Ya, jelas ummi-mu memarahimu. Pasti ummi-mu mengira kamu bermain di sungai," kata Fiki, mereka berpandangan dan tertawa.
"Ah, ummi selalu mengkhawatirkan banyak hal pada kami, Bi. Padahal kami sudah besar," kata Hakim. Fiki tertawa.
"Bagaimana tidak khawatir, Kim, kalian berada jauh di kota, dan ummi-mu ada di sini. Ummi-mu selalu merindukanmu, Nak," jawab Fiki. Dia memandang anak laki-laki tertuanya itu dengan bijak. Fiki menunggu protesan Hakim, yang sepertinya akan mengatakan lagi kepada Fiki bahwa dia sudah besar dan tidak seharusnya ummi-nya mengkhawatirkan mereka terus. Hakim malah tersenyum.
"Ketika memarahiku tadi ummi menangis, Bi " bisik Hakim pelan. Fiki membeliak tak percaya.
"Benarkah? Ummi bilang apa, Kim?" tanya Fiki penasaran. Hakim tersenyum.
"Ummi bilang : 'Kalau kamu masih main-main saja lebih baik kamu di sini saja membantu abimu!' Ummi juga memarahi Husna dan Huda, tetapi mereka berdua nampak tidak terlalu peduli, bahkan mereka berdua seperti akan tertawa, Bi. Mbak Nuha dan Mbak Nura juga sama saja, mereka mencibirku di belakang ummi. Bahkan Hamzah pun ikut-ikutan mengejekku," kata Hakim agak cemberut.
Fiki nampak tak bisa menahan gelinya, bagaimana tidak, Hakim adalah anak lelaki tertua Fiki yang memberi banyak pengaruh --terutama pengaruh dan pemaksaan untuk mematuhi peraturan-- pada tiga adiknya dan pada ketiga kakak kembarnya. Tak heran ketika Hakim dimarahi ibu mereka, pasti saudara-saudara Hakim mencibirnya karena, bahkan Hakim pun bisa melanggar peraturan, dan sampai dimarahi ibu mereka.
"Kalau aku memang pindah ke sini bagaimana, Bi? Apa abi mau menerimaku sebagai peruqyah?" tanya Hakim. Fiki tertawa terbahak.
"Ya, mungkin, sih kuterima, Kim, tetapi jangan marah kalau nggak digaji, ya?" jawab Fiki bercanda. Mereka berdua tertawa lagi.
"Kim! Ummi bilang apa tadi?" Terdengar teriakan di belakang Fiki dan Hakim yang sedang tertawa. Mereka berdua terdiam, tetapi sama-sama menahan tawa.
"Dicari pakdhe dari tadi, lo, Kim!" desis Salma gemas. Mata Hakim membelalak tak percaya.
"Astaghfirullah! Aku lupa, Mi!" seru Hakim, dia segera berlari meninggalkan kedua orang tuanya. Sepeninggalan Hakim, Salma mencebik pada Fiki.
"Kenapa malah disuruh meruqyah? Baru kuminta beristirahat agar Hakim tidak kelelahan, Ustadz! Lusa dia pulang," kata Salma gemas.
Fiki tertawa.
"Oh, jadi semua kemarahan ini karena Hakim dan adik-adiknya akan pulang ke Karang Pandan, to?" tanya Fiki pada Salma sambil menggenggam tangan Salma. Salma diam saja, bahkan memalingkan mukanya dari Fiki. Rupanya Salma menangis.
"Astaghfirullah! Maafkan aku, Ma," bisik Fiki, "istighfar, Ndhuk. Insya Allah semua akan baik-baik saja, kan?" tanya Fiki masih dalam bisikan.
Salma mencebik.
"Kalian memang selalu membuatku sedih!" seru Salma. Fiki tersenyum.
"Masih belum bisa 'move on' juga?" bisik Fiki. Salma mencebik.
"Mungkin nggak akan pernah bisa! Masak punya anak tujuh, semua mirip dengan bapaknya! Nggak ada satu pun yang mirip dengan diriku! Semua wajahnya, terutama matanya mirip dengan mata bapaknya." Salma bersungut-sungut dan berpura-pura melirik tajam ke arah Fiki.
"Yah, mau gimana lagi? Semua, kan kehendak Allah bukan keinginanku," kata Fiki geli, "aku hanya berdoa agar anakku banyak dan aku diberi umur panjang --seperti bapak dan ibuk-- untuk merawat, mendidik dan menyayangi keluargaku."
Salma menoleh ke arah Fiki dan tersenyum. Fiki selalu mengatakan doanya itu pada Salma dan Salma sangat terharu. Fiki adalah seorang anak yatim piatu yang dirawat oleh kakak dari bapaknya atau pakdhenya. Pakdhenya selalu menyayangi Fiki, tetapi Fiki merasa sedih karena Allah menghendakinya tidak memiliki orang tua kandung, sehingga Fiki selalu berdoa agar Allah memberinya banyak anak dan dia diberi umur panjang untuk dapat membesarkan anak-anaknya itu.
"Maafkan anak-anak kita karena mereka bukan hanya mewarisi mataku, tetapi juga mewarisi kengeyelanku, ya, Ma?" bisik Fiki menggoda Salma.
Salma nyaris tak bisa menahan gelinya, tetapi memang begitu adanya. Fiki memiliki mata heterokromia atau warna iris mata yang berbeda kiri dan kanan. Iris mata kiri Fiki coklat muda dan iris mata kanan Fiki coklat tua, dan semua anaknya memiliki mata yang sama persis dengan mata Fiki. Padahal mereka --Salma dan Fiki-- memiliki tujuh anak dan semuanya memiliki mata heterokromia.
Mereka berdua tertawa. Ah, selalu begitu. Salma tidak pernah bisa melewatkan, melawan, dan menangkal rayuan orang-orang bermata heterokromia itu. Salma selalu luruh dalam rayuan mereka, orang-orang bermata heterokromia, yang adalah suami dan anak-anaknya.
Fiki lega ketika tahu sepertinya Salma tidak sepenuhnya marah pada Hakim anak mereka. Sebenarnya Fiki tahu, Salma pantas sekali marah pada Hakim, yang sudah dewasa dan malah bermain di sungai ketika kakaknya menikah. Fiki meneliti wajah Salma sekali lagi, jangan-jangan ada yang terlewat oleh
Fiki di wajah cantik nan klasik itu. Salma tersenyum geli, dia sepertinya paham maksud Fiki.
"Aku marah pada Hakim bukan hanya karena Hakim itu ke sungai, Ust, tetapi juga karena satu hal," kata Salma. Fiki mengerutkan keningnya.
"Oh, apakah itu? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Fiki dengan wajah bingung. Salma mencebik jengkel melihat wajah Fiki itu, karena kadang Fiki berpura-pura bingung dan kemudian menggodanya. Fiki tertawa.
"Aku serius, Ma. Aku benar-benar tidak paham apa maksudmu," kata Fiki dengan pandangan bersungguh-sungguh. Salma tertawa geli, hilang sudah kejengkelan Salma.
"Nggih, Ust, Salma tahu ustadz pasti akan melewatkan cerita Hakim tentang seorang ustadz baru di pesantren ruqyah Karang Pandan. Kalau menurut Salma, Hakim sangat terganggu dengan adanya ustadz itu, karena ustadz itu menjadi perbincangan wanita ...."
"Ah, Hakim merada cemburu karena ustadz itu merebut reputasi ketampanannya?" potong Fiki dengan geli. Salma tertawa, dia mengangguk.
"Salma pikir juga begitu, Ust. Kalau kata Husna ustad baru itu seperti orang Korea, Ust. Putih, tinggi, tampan, baik hati, lemah lembut dan sangat cerdas. Ustadz baru itu lulusan Al Azhar. Beliau mengajar ilmu Hadits," jelas Salma panjang lebar.
Fiki mengerutkan keningnya. Dia memandang Salma heran dan Fiki bertanya-tanya dalam hati, kenapa Salma tahu cukup banyak tentang ustadz baru itu.
"Kok kamu tahu? Husna pasti tidak tahu tentang sekolah ustadz baru itu, kan? Mana peduli anak satu itu tentang ustadz ustadzahnya," kata Fiki sambil memandang Salma curiga. Salma tersipu malu.
"Aku bertanya pada beberapa orang kepercayaanku di pesantren ruqyah Karang Pandan dan sepertinya ustadz baru itu sedang jadi bahan pembicaraan banyak orang di sana," jawab Salma sambil tersipu, tetapi tetap menjaga etika di depan suaminya.
Fiki terdiam. Dia mempelajari bahasa tubuh Salma. Kenapa Salma jadi seperti orang salah tingkah hanya karena menceritakan seorang ustadz baru di pesantren ruqyah Karang Pandan? Kenapa Salma jadi seperti remaja yang baru bertemu idolanya? Fiki mencebik.
"Kamu pernah bertemu ustadz baru itu?" tanya Fiki agak sebal. Salma tersipu dan mengangguk.
"Hah? Kapan itu?" tanya Fiki keheranan dan juga sedikit cemburu.
"Baru saja. Beliau datang menjemput Ustadz Nurul Ikhlash, Ust," jawab Salma. Fiki tersenyum geli melihat wajah Salma yang merona malu, seperti seseorang yang baru bertemu dengan kekasihnya.
"Dia lebih ganteng dari aku, Ma?" bisik Fiki menggoda. Salma terkejut dan buru-buru bersikap normal, tetapi dia juga berniat mengerjai Fiki yang selalu menggodanya.
"Iya, dong," jawab Salma bercanda. Mereka berdua tertawa.
"Siapa nama ustadz baru nan ganteng itu, Ma? Masak dari tadi ustadz itu-ustad itu terus manggilnya," tanya Fiki. Mereka berdua tertawa lagi.
"Namanya Ustadz Rahmat Salam. Panggilannya Ustadz Salam."
****
Hakim menjengit ketika melihat Nurul Ikhlash --pakdhenya-- tidak sendirian di ruang tamu rumahnya. Hakim langsung kehilangan semangatnya ketika melihat seorang pria muda yang menemani pakdhenya. Pria muda yang sangat putih kulitnya. Pria itu sangat tampan, bertubuh atletis, tinggi, besar, dan proposional antara tinggi badan dan berat badannya. Hakim yang kurus, merasa kurang nyaman kalau bersanding dengan ustadz baru itu, dan Hakim merasa kebanyakan pria akan merasa risau dan kurang nyaman kalau berdampingan dengan pria gagah perkasa dan tampan rupawan seperti ustadz baru bernama Rahmat Salam itu.
"Assalamualaikum, Ustadz Salam," sapa Hakim ramah.
"Waalaikum salaam, Ustaz Hakim." Mereka bersalaman dan saling bertukar kabar sekedarnya.
"Abimu mana, Kim? Aku mau pulang sekarang, ya? Kamu mau pulang kapan? Kalau besok atau lusa abi dan ummi-mu tidak apa-apa, kan?" tanya Nurul Ikhlash.
"Insya Allah tidak apa-apa, Pakdhe. Rencananya Hakim memang mau pulang lusa," jawab Hakim. Nurul Ikhlash mengangguk puas.
"Alhamdulillah kalau begitu. Jangan lama-lama, ya? Aku diminta menyampaikan pesan Ustadz Faza padamu untuk cepat pulang, karena nanti Ustadz Faza galau kalau kamu kelamaan di sini," goda Nurul Ikhlash. Mereka tertawa. Kemudian Nurul Ikhlash meminta Hakim untuk memanggilkan Fiki karena dia akan berpamitan.
Ketika Fiki dan Nurul Ikhlash berbicara sendiri, Salam mendekati Hakim, dan membuat Hakim langsung 'insecure'.
"Ustadz, apa benar kakak ustadz menikah dengan Ustadz Reza yang menjadi asisten Ustadz Mumtaz Baihaqi?" tanya Salam sopan.
Hakim mendesah. Hatinya yang paling dalam mengakui, sebenarnya tidak ada yang salah dengan Salam. Salam hanyalah pria yang ramah, santun, tampan dan cerdas. Pastilah menarik perhatian orang, terutama lawan jenis. Seperti contohnya sekarang ini. Dengan mudah Salam menarik perhatian Hakim dan menjalin percakapan dengan Hakim setelah membuka pertanyaan tentang pernikahan kakak Hakim dan Hakim merasa cemburu.
Apalagi ketika Salam akhirnya keluar dari rumah Hakim dan menuju mobilnya di halaman pesantren. Hakim yakin banyak santri akhwat dan ustadzah yang sengaja mengintip Salam dari kejauhan, dan Hakim pun semakin cemburu. Hakim berniat mencari tahu kenapa Salam bisa begitu.
****
Fiki hanya tersenyum dari kejauhan. Dia tahu Salma pasti akan menghadapi perpisahan dengan anaknya ini dengan penuh emosi. Dan sekarang Salma sedang memeluk Hakim. Lama sekali. Mereka nampak berbicara dan berbisik-bisik dan Fiki melihat Hakim menyeka matanya.
Ah, mau bagaimana lagi? Mereka akan berpisah dalam waktu yang tak jelas berapa lamanya. Sebenarnya jarak mereka tak seberapa jauh. Hanya dua jam perjalanan dengan mobil berkecepatan standar, tetapi sebagai Bu Nyai, Salma tidak bisa seenaknya sendiri pergi ke sana ke mari dan Fiki merasa iba padanya. Kadang Fiki berlaku curang, dia mengantarkan Salma ke pesantren ruqyah Karang Pandan untuk menemui keluarganya dan dia menggunakan kesempatan itu untuk bersantai.
Fiki mendekati keempat anaknya. Masya Allah! Kebanggaan seorang bapak yang melihat anak-anaknya mau belajar ilmu agama membuat Fiki merasa terharu. Dia memeluk Hakim erat.
"Kapan ujian kompetensi ustadznya, Kim?" tanya Fiki. Hakim merona.
"Insya Allah pekan depan, Bi," jawab Hakim sambil tersenyum salah tingkah, "aku belum belajar," jawab Hakim lagi. Fiki tertawa. Dia tahu kemampuan Hakim.
"Umurmu berapa, Kim?"
"Ck! Pertanyaannya nggak relevan," jawab Hakim sambil bersungut-sungut. Fiki tertawa terbahak-bahak.
"Nah, kalau kamu menjawab dengan cara itu, kamu pasti akan diterima jadi ustadz, Kim," jawab Fiki sambil tertawa terbahak-bahak. Hakim pura-pura merengut, tetapi kemudian dia juga tertawa.
Kemudian giliran si kembar. Mereka berdua masih kuliah dengan jurusan yang sama dengan kakek mereka. Kedokteran Hewan dan dengan cita-cita yang sudah mereka miliki sejak kecil, menjadi peruqyah.
"Baik-baik sama ummi, ya, Bi?" kata Huda sambil memeluk Fiki. Fiki tertawa.
"Insya Allah," jawab Fiki.
Husna memeluk abinya tanpa kata. Wajahnya sudah basah oleh air mata. Fiki tersenyum dan menghapus air mata itu.
"Jangan sedih," bisik Fiki. Husna mengangguk, mata Husna menyiratkan suatu hal yang tak dapat diterjemahkan oleh Fiki, tetapi Fiki tahu ada sesuatu yang disembunyikan anak perempuannya itu.
"Kenapa, Ndhuk?" bisik Fiki. Husna menggelengkan kepalanya. Fiki hanya diam. Dia tahu Husna sering memendam rasa yang sebenarnya, tetapi mungkin Fiki bisa menanyakannya besok-besok ketika Husna tidak sedang sedih karena akan meninggalkan orang tuanya.
Hamzah menghapus air matanya dan mengulas sebuah senyuman. Ah, anak ini. Dia sering disebut Fadli kecil oleh keluarga mereka. Anak itu begitu mirip dengan kakeknya dalam versi kulit yang putih. Yang sering membuat Yasna mengatakan 'seandainya Mas Fadli berkulit putih seperti ini, pasti istrinya dua.' Ah, kontroversi sekali ketika Yasna memanggil bapak mertuanya dengan panggilan Mas Fadli. Salma menangisi hal itu.
"Kenapa menangis?"
"Ibuk itu tidak pernah memanggil bapak dengan panggilan Mas Fadli di depan anak-anaknya ...."
"Astaghfirullah! Kalau kamu menganggap bahwa hal itu adalah tanda-tanda akan terjadi hal buruk berarti itu tathayyur, Ma! Naudzubillah! Nggak boleh kayak gitu! Ayo istighfar!" potong Fiki dengan keras dan tegas waktu itu.
Salma memang terdiam, tetapi Fiki yakin Salma pasti akan tetap memikirkan hal itu.
Dan sekarang cucu Fadli yang mewarisi wajah tampan dan tengil kakeknya itu tersenyum pada Fiki.
"Insya Allah bulan depan, hafalan Hamzah selesai. Abi datang waktu Hamzah wisuda, ya, Bi?" tanya Hamzah dengan penuh kebanggaan. Oh, ya, Allah. Fiki nyaris menangis mendengar kabar dari Hamzah itu. Dia memandang mata heterokromia anak bungsunya itu dengan penuh rasa haru dan akhirnya air mata Fiki mengalir juga. Dia mengangguk.
"Insya Allah! Insya Allah, Mas," jawab Fiki. Dia memeluk Hamzah yang tingginya sudah hampir sama dengannya, padahal Hamzah baru SMA kelas tiga.
Ketiga anak pertama Fadli pun mengucapkan perpisahan dengan adik-adik mereka, dengan janji mereka akan mampir ke Karang Pandan sebelum kembali ke Karang Legi. Ya, mereka bertiga seakan menggantikan posisi abi mereka sebagai peruqyah di Karang Legi.
"Insya Allah aku menyusul, ya?" kata Nufa kepada kedua kembarannya. Mereka mengangguk dan mereka bertiga berbisik-bisik di sudur ruang tamu rumah Fiki setelah mobil yang membawa keempat adik mereka berlalu.
Fiki dan Salma berdiri di depan rumah mereka dengan rasa hampa. Tujuh anak dan sekarang mereka sendirian begitu saja. Fiki mengembuskan napas panjang dan tersenyum lebar.
"Dan sekarang kita berdua lagi," kata Fiki pada Salma. Fiki tertawa melihat Salma menangis.
"Wis, ah, nangise. Bariki ana kajian ibu-ibu, lo, Ma. Mosok arep nangis terus, (Sudah, ah, nangisnya. Setelah ini ada kajian ibu-ibu, lo, Ma. Masak mau nangis terus,)" kata Fiki pada Salma. Salma tersenyum dan menghapus air matanya. Dia mengangguk. Salma berusaha menepikan rasa khawatir tentang kedua orang tuanya seperti yang diceritakan Husna tadi malam pada Salma.
Tetapi Salma tetap tersenyum dan menyambut pelukan Fiki, dan membiarkan Fiki memandangnya dengan penuh kecurigaan. Ah, Fiki, kan selalu bermain detektif-detektifan.
****
Faza tersenyum lebar ketika sudah melihat sosok yang ditunggunya selama ini setelah sholat Ashar. Hakim dan Hamzah. Kakak beradik yang cukup berbeda wajahnya, tetapi mata mereka membuat orang percaya kalau mereka adalah bersaudara.
"Alhamdulillah, datang juga idolaku!" seru Faza, membuat Hakim merah padam karena malu, "jadi ikut ujian kompetensi ustadz, kan, Mas?" tanya Faza. Hakim mengangguk.
"Insya Allah jadi, Om. Ezra juga ikut, kan, Om?" tanya Hakim. Faza mengangguk.
"Insya Allah, semoga ibunya Ezra ridho," jawab Fiki. Hakim mengerutkan keningnya, membuat Faza tertawa.
"Yah, begitulah. Bulikmu itu seperti simbah utimu, selalu khawatir," jawab Faza, dia tertawa. Hakim pun tertawa, dia tahu Ezra tidak akan terlalu memedulikan apa yang dikatakan ibunya.
"Ya, kudoakan semoga lancar dan sukses, ya, Kim. Ajaklah Ezra untuk belajar, Kim! Dia sama sekali tidak mau belajar," keluh Faza, dia melepas kacamatanya dan memijit keningnya. Dia memandang ke arah Hakim yang tertawa.
"Kenapa tertawa?"
"Hakim juga belum pernah benar-benar belajar, Om," jawab Hakim, membuat Faza mengerutkan keningnya dan kemudian tertawa.
"Astaghfirullah! Ternyata kamu sama saja, ya?" tanya Faza sambil tertawa geli, "ya, sudah, mau bagaimana lagi. Kurasa aku dulu juga tidak banyak belajar sebelum ujian kompetensi ustadz, bismillahirrahmannirrahiim, om doakan lancar, ya?"
Hakim mengangguk dan tertawa setengah geli. Dia juga beristighfar, semoga dengan caranya menghadapi ujian yang seperti ini tidak akan membuat kualitasnya sebagai ustadz --apabila dia memang lulus ujian kompetensi ini-- akan menurun.
Seseorang melambai dari pintu. Ah, akhwat rupanya. Hakim keheranan, tetapi segera mafhum, karena akhwat itu adalah sepupunya. Marisa. Anak bungsu Faza.
Faza mendesah.
"Om duluan, ya. Setelah Maghrib sepertinya ada pasien ruqyah, Kim. Kamu siap, kan?" tanya Faza. Hakim mengangguk dan melihat omnya keluar dari masjid menemui anaknya. Mereka nampak berbicara sebentar dan seketika Faza masuk lagi ke dalam masjid.
"Kim, mereka datang lebih cepat! Pasien ruqyahnya sudah datang sekarang!"
****
Aida mendesah.
Dia benci keadaan ini. Keadaan di mana dia harus mengajar, tetapi ada pasien ruqyah dan para ustadz belum pulang dari masjid dan hal itu saja sudah membuat Aida menjadi emosi.
"Aku arep ketemu karo wonge kae. Wonge ning kene, to? (Aku mau bertemu dengan orang itu. Orang itu ada di sini, kan?)" tanya seorang wanita muda yang kerasukan itu.
Sebenarnya mereka sudah mendaftarkan untuk ruqyah setelah Maghrib, tetapi sepertinya jinnya sudah tidak sabar lagi. Sehinga keluarga wanita muda itu terpaksa membawa sang wanita ke pesantren ruqyah dua jam lebih awal.
Dan Aida kelelahan. Hari ini jadwalnya sangat padat dan hal itu membuatnya sangat ingin menggigit wanita yang berjumpalitan, berakrobat dan begitu usil tanpa henti di depannya. Dan Aida terpaksa harus menggertakkan rahangnya kuat-kuat untuk mencoba berkonsentrasi meruqyah wanita itu.
Untunglah Marisa datang membawa para peruqyah itu dan Aida buru-buru izin meninggalkan ruang terapi ruqyah.
Faza mengangguk ketika Aida izin kepada Faza. Wajah Faza penuh keheranan.
"Kenapa, Ustadzah? Apakah ustadzah tidak enak badan?" tanya Faza. Aida terdiam sejenak, dia malu hendak mengatakan pada Faza bahwa sepertinya dia baru mendapatkan haidh sekarang, jadi dia mengangguk saja. Wajah Faza nampak kurang percaya.
"Oh, njih, Ust. Istirahat saja, njih, Ust. Semoga Ustadzah lekas sembuh," jawab Faza diplomatis. Aida mengangguk dan bergegas ke kamarnya. Dia harus segera mendapat pertolongan pertama untuk masalah yang satu ini.
****
Hakim melihat wanita itu melompat ke sana ke mari dengan lincah. Wanita itu masih muda dan nampak sangat feminin dan lembut. Sehingga sepertinya tidak mungkin melakukan lompatan, jungkir balik dan segala hal yang sepertinya sangat ekstrim itu, yang kadang menggelikan juga.
"Ustadzah Suci, njih?" tanya Faza. Seorang ustadzah mengangguk dan segera mendekati wanita itu, tanpa rasa ragu atau takut. Wanita itu melihat ke arah Suci dengan pandangan yang heran. Dia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa yang mendekatiku yang wanita? Kenapa bukan ustadz? Kalau yang itu aku mau ... yang itu ganteng seperti oppa-oppa Korea!" terak wanita itu sambil menunjuk ke arah Hakim.
Hakim melengak, dia mendengar tawa tertahan di seluruh penjuru ruang terapi ruqyah yang begitu luas dan sejuk itu. Faza menoleh dan tersenyum tipis.
"Wah, Oppa Kim," bisik Faza. Hakim tertawa juga. Dia merah padam menahan malu, karena beberapa santri akhwat dan ustadzah tertawa geli dan bahkan beberapa menunjuk-nunjuk ke arahnya.
Faza mengisyaratkan agar semua diam dan meminta semua untuk mulai meruqyah, dia sendiri segera memakai kaus tangannya dan maju mendekati wanita muda itu. Wanita itu agak panik melihat Faza. Dia menggelengkan kepalanya.
"Jangan, Ust! Aku hanya ingin bertemu orang itu," kata wanita itu. Faza tersenyum.
"Kamu siapa? Dan kamu ingin ketemu siapa?" tanya Faza.
"Aku ingin bertemu orang baru itu, Ust. Orang baru dari Padang Larang itu. Orang yang tampan seperti ustadz itu," kata wanita itu sambil menunjuk ke arah Hakim lagi. Terdengar dengung istighfar dan tawa lagi.
"Padang Larang? Siapa nama ustadz itu? Lalu mau apa kamu ketemu dengan ustadz itu?" tanya Faza, dia berusaha mengingat siapa ustadz yang dimaksud oleh jin di dalam tubuh wanita itu.
"Namanya Rahmat Salam. Aku hanya mau meminta ustadz itu membuka kiriman untuknya kemarin dulu," wanita itu tersipu malu dan terkikik panjang, "ah, aku jadi malu, Ust," bisik wanita itu pada Faza, dia memeluk lengan Faza. Faza beristighfar dan berusaha melepaskan pelukan itu.
"Aku juga mau sama ustadz. Ustadz ganteng. Boleh, kan, Ust?"
"Astaghfirullah! Tentu saja tidak boleh!" seru Faza sambil menahan tawa setelah akhirnya dia bisa melepaskan pelukan wanita itu. Wanita itu duduk bersimpuh di depan Faza. Dia menangis pelan.
"Aku mau ketemu sama ustadz Rahmat Salam!" teriak wanita itu sambil menghentak-hentakkan tubuhnya dengan marah.
"Kalau hanya sekedar menyampaikan pesan, aku bisa menyampaikan pesan itu padanya dan kamu tinggal keluar dari tubuh wanita ini, ya? Kasihan dia kelelahan kamu ajak jungkir balik dari tadi," kata Faza.
Wanita itu menggeleng.
"Ustadz tidak tahu di mana kiriman itu," kata sang wanita. Faza mengerutkan keningnya.
"Jangan-jangan kiriman gaib, ya?" tanya Faza. Wanita itu menggeleng lagi.
"Aku yang akan bilang sendiri pada ustadz itu," kata wanita itu masih ngeyel. Faza mendesah.
"Baiklah, aku akan memanggilkan ustadz Salam. Syaratnya kamu tidak boleh menyentuh ustadz Salam dan yang kedua setelah menyampaikan pesanmu, kamu harus segera keluar dari tubuh wanita ini," kata Faza dengan tegas. Wanita itu menelan ludah, dia nampak takut pada Faza yang terlihat galak, tetapi kemudian dia mengangguk dengan wajah yang merengut.
"Ganteng tapi pelit, galak lagi," bisik wanita itu cukup keras. Faza mendengarnya dan menoleh ke arah wanita itu.
"Jadi dipanggilkan Ustadz Salam, nggak?" goda Faza. Wanita itu membeliak takut. Dia buru-buru duduk dengan rapi dan mengangguk. Wanita itu menunduk dalam-dalam, membuat beberapa orang tertawa geli.
Tak lama kemudian ustadz tampan berkulit putih bersih itu memasuki ruang terapi ruqyah dengan kebingungan dan sedikit malu. Hakim menegang melihat Salam yang tersenyum bingung pada semua orang, apalagi ketika mendengar bisik-bisik akhwat. Faza mendelik.
"Kalau tidak bisa tenang besok akhwat harus meruqyah sendiri di tempat lain!" seru Faza dan semua langsung terdiam. Hakim tersenyum geli dan merasa puas dengan kemarahan Faza.
Sang wanita muda itu nampak kegirangan melihat Salam. Dia bangkit dan hampir bergerak mendekati pria itu, seandainya dia tidak melihat Faza yang memandangnya dengan galak. Wanita itu menyurut dan duduk dengan sopan di tempatnya semula.
"Cepat lakukan tugasmu, setelah itu keluar dari tubuh wanita itu," kata Faza dengan tegas. Wanita itu mencebik maksimal dan Salam benar-benar kebingungan. Apalagi ketika Faza memintanya duduk di sampingnya.
"Ada apa, njih, Ust?" tanya Salam pada Faza.
"Ada jin yang ingin menyampaikan sesuatu pada ustadz," jawab Faza setengah geli. Wajah Salam bertambah bingung, tetapi dia berusaha menahan diri untuk bertanya lebih lanjut dan memilih untuk diam dan menunggu.
Faza berdeham dan meminta wanita itu menyampaikan pesannya pada Salam. Wanita itu mengangguk.
"Ustadz, tolong kiriman dari Pandan Wangi dibuka, ya? Kiriman itu khusus untuk Ustadz Salam. Jangan sampai besok bukanya, ya? Nanti malah bisa gawat," kata wanita itu. Dia memandang Salam dengan agak genit, tetapi kemudian menganggukkan kepalanya kepada Salam dan menoleh ke arah Faza.
"Matur nuwun, Ust," bisik wanita itu dan dia pingsan seketika.
Beberapa ustadzah yang sudah siap, segera membantu wanita itu dan membawa sang wanita ke ruang rawat diikuti oleh keluarga sang wanita dan setelah ruang ruqyah itu sepi, Salam memandang Faza kebingungan, seakan minta petunjuk.
"Ustadz, saya tidak paham apa maksud wanita tadi. Saya tidak menerima paket atau kiriman dari siapapun dan dari manapun," kata Salam dengan kebingungan.
Faza nampak agak terkejut mendengar perkataan Salam tadi.
"Benarkah, Ust?" tanya Faza untuk memastikan apa yang didengarnya tadi benar.
"Njih, Ust," jawab Salam agak takut, "kalau tidak keberatan, saya minta bantuan asatidz untuk memeriksa kamar saya. Saya takut, Ust," lanjut Salam.
Ah, Faza bernapas lega, karena itu tadi yang inging dikatakannya pada Salam, untunglah Salam mengatakan hal itu terlebih dahulu. Faza mengangguk menyanggupi dan bergegas menuju ke kamar Salam.
****
Salam memijit keningnya. Dia keheranan. Asatidz itu memeriksa kamarnya dua kali dan tidak menemukan benda mencurigakan atau benda aneh yang ada di kamarnya. Kenapa?
Salam mendesah. Entahlah! Dia mengantuk dan memutuskan untuk tidur, ketika dia melihat buku itu. Buku tulis yang sepertinya bukan miliknya. Ah, mungkin milik santri yang belum sempat diperiksanya.
Salam membuka buka itu dan merasakan tekstur aneh pada kertas di dalam buku itu. Buku itu teksturnya kasar dan seperti berpasir. Salam keheranan dan melihat telapak tangannya yang terasa kotor dan kasar. Tetapi dia terlambat ....
****