Bab 2

Resepsi pernikahan Helsa dan dokter Adryan berjalan dengan lancar, meriah, dan begitu megah. Setelah acara selesai, Helsa dituntun Adryan untuk kembali ke kamar pengantin tepatnya di hotel yang sudah mereka booking untuk ijab kabul dan resepsi tadi. Lelah sekali seharian harus berdiri di pelaminan, bertemu dengan para undangan.

Tapi, akhirnya semuanya selesai. Helsa dibantu untuk melepaskan gaun dan juga semua keperluan acara yang masih melekat pada tubuhnya oleh beberapa orang dari butik yang dipercayakan Mamanya. Sedangkan Adryan, pria itu masih melakukan ritual mandinya.

Sepeninggal beberapa orang yang membantu Helsa melepas gaun pengantin, Adryan pun turut keluar dari kamar mandi. Pria itu terlihat segar selepas berendam sebentar. Helsa dari kursi meja rias mencuri pandang pria tersebut, degup jantungnya berpacu dengan cepat melihat Adryan⸺suaminya itu hanya mengenakan handuk kimono berwarna abu. Rambutnya yang basah berjatuhan menutupi keningnya.

“Helsa⸺” Adryan menghampirinya, berdiri tepat dibelakang wanita hamil tersebut. Helsa masih sibuk menghapus make over dari wajahnya. Lebih tepatnya ia sedang menutupi rasa gugup.

“Mas, Helsa mandi,” ujarnya, kemudian beranjak dari kursi.

Adryan tersenyum, ia mencekal pergelangan tangan istrinya sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi. “Mas udah siapin air hangat. Mandinya jangan kelamaan, kamu juga harus istirahat.”

Pria itu kembali melepaskan cekalannya, kemudian beranjak dari hadapan istrinya. Helsa terpaku sebentar pada pijakannya, menatap punggung tegap yang baru saja keluar dari kamar mereka.

***

Selama tiga puluh menit Helsa berada di kamar mandi. Entah apa yang dilakukannya. Dan sekarang ia keluar dengan piyama coklatnya. Perasaan canggung masih ada. Helsa melihat Adryan yang sibuk merapihkan bantal dan juga selimut pada ranjang. Lalu, pria tersebut juga mengambil satu bantal kepala dan juga bantal guling untuk ia pakai.

“Mas, biar Helsa yang tidur di sofa,” seru Helsa. Ia menghampiri suaminya dan duduk pada sofa yang sudah Adryan tatah dengan bantal-bantal tadi.

“Sa⸺” Adryan duduk disampingnya, mengusap surai panjang Helsa. “Sekalipun kamu nggak lagi hamil, Mas nggak akan biarin kamu tidur disini.”

“Tapi Mas…,” Helsa tertegun, tidak bisa melanjutkan perkataannya tatkala Adryan mengecup lama keningnya. “Have a nice dream, my love.”

Setelah mengatakan demikian, Adryan menggendong Helsa ke ranjang dan membaringkan istrinya disana. Pandangan wanita hamil itu tidak lepas dari manik coklat suaminya. Tidak ada kebohongan yang Helsa dapati dari sana. Adryan selalu menunjukkan kesungguhannya.

“Hi, little baby. Good night,” ucap Adryan sambil mengusap perut buncit Helsa, lalu ia mengecup lama disana membuat wanita itu terkesiap.

Cairan bening menggenangi pelupuk matanya. Helsa mengusap sebelum Adryan melihat.

“Kenapa Mas baik sama Helsa?” tanya Helsa.

“Sayang⸺” Itu perdana panggilannya kepada Helsa. Runtuh sudah air mata yang sempat Helsa usap tadi.

“Kenapa Mas ambil keputusan yang Mas sendiri tahu konsekuensinya?” Helsa menatap wajah Adryan, pria menatapnya sendu.

“Karena kamu pilihan Mas. Kamu dan bayi ini pilihan Mas, Sayang,” jawab pria itu dengan lantang.

Helsa menggeleng lirih. Ia menangis. Menangis tergugu dalam pembaringannya, bahkan mengubah posisi tidur miring.

“Helsa nggak tahu sampai kapan kita seperti ini, Mas? Setiap kali Helsa melihat keluarga Mas Adryan, Helsa merasa berdosa,” tuturnya dengan air mata.

“⸺Helsa udah bohongin Bunda, Ayah, dan juga Mas Jefri. Helsa bohongin keluarga Brawijaya.”

Adryan menuntun tubuhnya naik keatas ranjang dan berbaring memeluk Helsa dari belakang. Tangannya mengusap lembut perut Helsa. Kehangatan ia dapati dari sana. Adryan mencium tengkuk leher istrinya, menghirup aroma sabun yang menguar dari tubuhnya.

“Helsa, Mas mau kamu. Selamanya. Bahkan jika harus kembali ke masa lalu, Mas akan tetap memilih kamu,” lirih Adryan.

Semakin meradang tangisannya, semakin erat Adryan memeluk Helsa. Keputusan Adryan menikahi wanita hamil itu tidak pernah disesalinya. Dia bahagia sekali bisa miliki Helsa seutuhnya, meskipun Adryan tahu ada sebagian dari Akmal yang dibawah oleh Helsa. Janin itu⸺iya, segumpal daging bernyawa itu adalah darah daging Akmal. Tapi, Adryan sudah meyakinkan dirinya bahwa ia bisa menjadi Ayah yang baik untuk anak itu kelak. Sejak memutuskan untuk menikahi Helsa, Adryan sudah memantaskan dirinya untuk menjadi Ayah dari janin tersebut.

“Mas mau selamanya sama Helsa?” tanya Helsa.

“Iya, selamanya.”

Wanita itu menggenggam erat jemari suaminya. “Kita gugurkan janin ini.”

***

Matahari pagi sudah mulai naik. Selepas menunaikan sholat subuh, pasangan pengantin baru itu kembali tertidur. Hanya bedanya, mereka tidur dalam keadaan Adryan yang duduk sambil memeluk Helsa. Wanita itu bahkan masih mengenakan mukena berwarna putih dan Adryan pun masih mengenakan sarung.

Dering alarm dari ponsel membangunkannya. Pria itu merenggangkan tangan kirinya, dan berganti menyanggah lengan istrinya agar bisa merenggangkan yang sebelah kanan. Tatapannya jatuh pada wajah cantik Helsa. Adryan mengecup kening Helsa, dan pipi yang semakin cabih.

“Selamat pagi, Sayang,” bisik Adryan.

Tidurnya diusik, Helsa tersentak melihat Adryan di dalam kamar bersamanya. Namun beberapa detik kemudian, barulah ia sadar bahwa mereka sudah sah menjadi suami istri.

“Maaf Mas nggak bangunin, kamu tidurnya nyenyak banget,” kata Adryan.

“Iya, Mas.” Helsa membenarkan posisi duduknya, kemudian Adryan membantu istrinya berdiri.

Hari ini mereka akan pergi ke rumah Ayah dan Bunda, untuk memenuhi panggilan makan siang keluarga. Lalu setelahnya, mereka akan pulang ke apartemen milik Adryan. Empat hari sebelum akad dilaksanakan, semua barang milik Helsa sudah di pindahkan kesana.

“Sarapannya mau dibawah ke kamar atau kita langsung turun aja?” tanya Adryan.

“Mas nggak ke rumah sakit atau nggak adalah kuliah hari ini?” tanya Helsa padanya.

Sebagai informasi, pria yang baru genap usia dua puluh tujuh tahun pada Desember kemarin adalah salah satu mahasiswa kedokteran spesialis Hematologi dan Onkologi pada salah satu universitas tersohor di Jakarta.

“Mas dikasih cuti sembilan hari dari rumah sakit. Dan hari ini minggu, kampus libur, Sayang,” jawab Adryan.

Helsa kemudian membuka mukena, lalu beranjak dari hadapan Adryan. Ia melangkah pergi memasuki kamar mandi.

“Mau mandi?” seru Adryan bertanya.

“Iya,” sahut Helsa.

“Nggak mandi bareng aja?”

Pertanyaan itu berhasil membuat Helsa mendelik dengan wajah yang merona. Adryan mengajaknya mandi bersama?

Mereka bahkan belum melakukan hubungan suami istri di malam pertama, dan sekarang Adryan mengajaknya mandi bersama. Helsa malu sekali.

“Mas cuma bercanda,” ujar Adryan, yang melihat perubahan raut wajah Helsa. Istrinya salah tingkah, dan Adryan tahu itu.

“Kamu mandi duluan, biar Mas yang beres-beres disini.” Helsa mengiyakan perkataan suaminya dengan masuk ke kamar mandi.

Adryan tersenyum menatap punggung kecil yang perlahan tenggelam dibalik pintu kamar mandi.

Kehadiran Helsa di kehidupannya menjadi hal paling Adryan syukuri. Entah, semenjak pertama kali melihat mata sayu wanita itu, ada perasaan sayang yang kuat untuk Helsa. Gadis SMA itu berhasil memporak-porandakan hatinya

***

Menjelang jam dua belas siang. Matahari nampaknya sudah diatas kepala. Sepasang pengantin baru itu berjalan memasuki rumah bercorak Belanda, dengan tangan yang saling menggenggam. Seulas senyum terbit dari bibir keduanya saat kedatangan mereka disambut oleh penghuni rumah.

“Helsa⸺” seru Bunda, yang kini memeluk menantunya. Wanita itu banyak tersenyum ketika putra bungsunya membawa masuk seorang gadis cantik ke rumahnya.

“Gimana, tidurnya nyenyak?” tanya Bunda. Matanya mengerling genit pada Adryan.

“Bun, apaan sih!” decak Adryan.

Helsa tersenyum canggung. “Iya.”

“Ayo, kita ke meja makan sekarang. Sembari nunggu Ayah dan Mas Jefri, Bunda ingin kamu mencoba resep kue buatan Bunda,” kata Bunda, antusias.

“Bunda suka buat kue?” tanya Helsa.

“Bunda jagonya buat suami kamu memberi pujian,” pungkas Bunda, lalu memanggil sekalian putra bungsunya.

“Ayo, Sayang,” panggil Bunda untuk Adryan.

Mereka pergi ke meja makan terlebih dahulu. Mencicipi resep baru yang dicoba Bunda Marimar.

"Itu pinggang nggak usah di peluk posesif gitu, Helsa nggak nyaman," ujar pria berkaos putih yang menuruni anak tangga.

Jefri Van Brawijaya⸺Anak tertua di rumah. Seorang dosen Teknik di salah satu kampus swasta yang ada di Jakarta. Jefri dan Adryan jarak usianya hanya terpaut tiga tahun. Pria itu belum menikah, tapi memiliki kekasih yang ternyata salah satu mahasiswi di kampus tempatnya mengabdi.

“Apaan sih lo! Makanya cepat nikah,” ketus Adryan. Helsa tersenyum malu-malu ketika digoda kakak iparnya.

“Helsa, jangan di dengar omongan Mas Jefri, ya,” kata bunda Marimar. Lalu Bunda beralih menatap putra sulungnya. “Emang bener sih, Jef. Kapan kamu sama Viola?"

“Calonnya Mas Jef yang kemarin itu, Bun?” tanya Helsa, ia mengingat saat hari pernikahan kemarin Jefri menggandeng seorang wanita cantik yang usianya jauh lebih muda.

“Nah itu,” jawab bunda, “Viola namanya.”

“Mahasiswi kesayangannya Jefri,” celetuk Adryan.

“Sudah, sudah. Kalian berdua kalau udah ketemu ada aja yang kalian debatin,” sergah Bunda, mengakhiri perdebatan kakak adik tersebut.

“Helsa, Bunda perhatiin kok kamu gendutan?” Wanita paru baya itu nampak memperhatikan lekuk tubuh sang menantu.

Helsa terkejut mendengar pernyataan Bunda Marimar, apa mungkin postur tubuhnya mulai melebar akibat kehamilannya itu. Astaga, mau bagaimana pun bangkai akan tetap tercium sekeras apapun disembunyikan.

"Emang iya? Nggak kok," timpal Adryan.

"Iya, kamu gendutan sayang," sebut Bunda lagi.

"⸺seperti orang hamil," imbuh Bunda.

Adryan mengeratkan genggamannya pada jemari istrinya, iaa yakin sekali Helsa sedang takut. Bunda Marimar tidak mengetahui kehamilan menantunya. Bukan hanya Bunda, melainkan keluarga besar Brawijaya.

"Amin," ucap Jefri dari arah dapur. "Biar cepat punya ponakan. Terus gue bawah ke kampus, buat modusin mahasiswi gue. Kebanyakan cewek, ‘kan suka sama bocah."

"Nggak gue kasih anak gue sama elu. Soalnya sesat kalau anak gue bergaulnya sama lo,” ketus Adryan.

Suasana rumah terlihat hidup, Bunda Marimar menyayangi Helsa. Selama ini, wanita itu memang menginginkan kehadiran anak perempuan di rumahnya. Dan tiba-tiba saja Adryan membawa calon menantu untuknya.

Bab 3

Morning sickness adalah salah satu hal yang terjadi pada Ibu hamil di usia kandungan yang masih muda. Jika banyak Ibu muda yang menikmati masa kehamilannya, maka tidak dengan Helsa. Morning sickness menjadi sebuah malapetaka untuknya. Helsa tidak tahu harus seperti apa ketika saat ini Ibu mertuanya membawa ia ke salah satu klinik yang dekat dari apartemen.

Kedatangan Bunda Marimar ke apartemen sangatlah tidak tepat. Bunda panik ketika Helsa mual-mual di dapur, memuntahkan cairan bening.

Klinik yang didatangi Bunda dan Helsa adalah klinik milik teman Adryan, tidak jauh dari apartemen. Mungkin hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit.

“Bunda Marimar?” sapa wanita dengan nametag Dr.Wahyuni.

“Kamu Uni?” Bunda Marimar mencoba untuk mengingat wanita itu.

“Apa kabar, Bun?” Dokter Uni mengangguk, membenarkan tebakan wanita parubaya itu.

“Bunda baik. Ini klinik punya kamu?” tanya bunda. Dia tersenyum bahagia, sudah lama tidak bertemu teman lama putranya.

“Iya Bun. Sudah jalan setahun,” jawab dokter tersebut.

“Siapa yang sakit?” tanya dokter Uni pada Bunda.

“Istri Adryan,” jawab bunda.

Dokter Uni sedikit terkejut saat Bunda mengatakan istri Adryan. Ternyata teman masa putih abu-abunya sudah menikah. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, mungkin terakhir saat reunian SMA beberapa tahun yang lalu.

“Ya sudah, langsung masuk aja. Kebetulan ada pasien yang buat janji sama aku, tapi sepertinya masih diperjalanan.”

Dokter Uni segera membawa Helsa dan Bunda ke ruangannya. Lalu membaringkan Helsa di brankar. Wanita itu mulai memeriksa kondisi Helsa. Dipikiran dokter tersebut, ternyata Adryan menyukai perempuan yang jauh muda darinya. Buktinya, gadis ini masih berusia tujuh belas tahun.

"Tadi mual-mual?" tanya dokter Uni.

"Iya, Ni. Bunda takut Helsa sakit.”

Sedangkan di rumah sakit Mawar Medika, Adryan panik setengah mati. Telepon dari Bunda membuat fokusnya buyar detik itu juga. Pikirannya sekarang, Helsa sangat ketakutan dengan kondisi kehamilannya.

Tuas pintu ruangan terbuka, dokter Marcel muncul dari luar.

“Ada apa?” tanya dokter Marcel yang mengetahui bahwa sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.

“Gue hari ini ijin ,ya. Nanti gue kabarin dokter Bagas. Helsa sakit,” jawab Adryan.

“Ya udah, lo balik. Mama Anita bakal gue yang handle,” sahut dokter Marcell menyebut nama salah satu pasien mereka.

Adryan berterima kasih pada Marcell. Ia bersiap untuk kembali. Lebih tepatnya ke salah satu klinik dekat apartemen. Bunda baru saja menghubunginya.

***

“Janin Helsa sehat kok. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Janin?”

"Bunda bentar lagi punya cucu. Usia kandungan sudah enam bulan."

Kabar ini sangat mengejutkan, bagaimana bisa Helsa mengandung sudah enam bulan, sedangkan usia pernikahan bersama anaknya baru memasuki minggu kedua.

“U-ni nggak salah, ‘kan?

“Cucu pertama ‘kan ya Bun? Atau Mas Jefri udah nikah?”

“I-iya. Cucu pertama.”

Air mata wanita berdarah Sunda itu tak terbendung kala mengingat perkataan dokter Uni beberapa saat yang lalu. Kabar mengejutkan pagi ini membuat banyak pertanyaan di benaknya. Bagaimana bisa Helsa mengandung enam bulan, sedangkan usia pernikahan bersama Adryan baru menginjak minggu kedua?

Sejak keluar dari ruangan, tidak ada obrolan diantara mertua dan menantu itu. Mereka saling berdiaman. Helsa bahkan tak berani menatap Bunda.

“Bunda⸺”

Mendengar suara itu, Bunda segera mengusap air matanya. Tatapannya langsung tertuju pada Helsa. Adryan menghampiri istrinya. Ia yakin sekali semua sudah ketahuan, melihat bagaimana Helsa memeluk dan menangis padanya.

“Kalian punya hutang penjelasan pada Bunda!” ketus wanita itu, kemudian keluar dari klinik.

“Mas⸺,” Helsa menangis begitu saja saat Bunda keluar dari sana. Adryan memeluk Helsa begitu erat, mencoba untuk menenangkan kekhawatiran sang istri.

Semua sudah terbongkar. Bangkai memang akan selalu tercium sekuat apapun kamu menyembunyikannya.

***

Pukul delapan malam. Usai makan malam bersama, semua berkumpul di ruang tengah. Rumah Tuan Franco Brawijaya memang tidaklah ramai, apalagi semenjak Adryan dan Jefri beranjak dewasa ini. Memang mereka hanya memiliki dua anak lelaki.

“Bunda, Adryan minta maaf,” ucap Adryan. Helsa tampak gugup mendengar ucapan suaminya. Namun tangannya mendadak hangat ketika Adryan menggenggam jemarinya. Helsa mendongak, tatapan mereka bertemu, ia membalas senyuman suaminya dengan tulus.

Manik mata coklat Adryan bertumbuk dengan Ayahnya. “Ayah, mungkin kabar ini akan membuat Ayah kecewa sama Adryan dan Helsa.”

"Helsa hamil," ungkap Adryan beberapa detik kemudian.

Senyum dari wajah pria paru baya itu terbit. "Ayah mau gendong cucu? Kamu nggak lagi bohong, ‘kan Adryan?"

"Nggak, Ayah. Helsa beneran hamil,” imbuh Jefri.

"Tapi, maaf Ayah. Maaf kalau Adryan hamili Helsa sebelum nikah."

Deg!

Helsa terkesiap dengan pengakuan Adryan. Apa lagi rencana suaminya sekarang? Kenapa Adryan mengakui kehamilan ini adalah ulah nakalnya.

“Mas⸺” Ia menggeleng lirih.

“Helsa hamil anak Adryan. Keturunan Ayah. Keturunan Brawijaya,” ucap Adryan lantang, tanpa ingin melihat Helsa.

Helsa hanya menunduk. Ia malu saat suaminya mengatakan hal tersebut, Adryan benar-benar mengklaim bahwa anak yang dikandung Helsa adalah darah dagingnya. Ya Tuhan, dosa ini cukup Helsa yang tanggung, pria disampingnya tidak bersalah sama sekali.

Dari tempatnya, Bunda menatap jijik pada Helsa. Perempuan murahan, batinnya. Bunda tidak habis pikir dengan semua ini. Helsa yang begitu dipujanya kini hanyalah sampah bagi wanita itu.

“Dibayar berapa kamu sama Adryan?” tanya Bunda.

“Bunda!” tegur Ayah.

Bunda tertawa miris melihat Helsa sudah terisak. “Bunda pikir kamu anak baik-baik, Helsa. Ternyata kamu nggak jauh beda sama perempuan murahan.”

“BUNDA!” pekik Adryan, tak terima saat Bunda mengatakan hal itu.

"Atau kamu yang digoda sama Helsa?" tanya Bunda pada Adryan.

"Kita pulang!" Adryan menarik pelan pergelangan tanģan istrinya, membawa keluar Helsa dari rumah orang tuanya.

Jika berlama-lama meladeni Bunda, Helsa bisa stres disana. Adryan tidak mau melihat Helsa menangis lagi. Tapi, kenyataannya, malam ini perempuan itu menangis karena ulah Bunda⸺wanita yang justru begitu menyayangi Helsa

“Mas⸺,” panggil Helsa sebelum mereka masuk ke mobil.

“Iya, Sayang,” sahut Adryan. Raut wajahnya terlihat begitu kesal. Adryan sangat terluka.

“Minta maaf sama Bunda. Nggak seharusnya Mas bersikap seperti itu sama perempuan yang udah lahirin Mas Adryan,” pinta Helsa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED