Bab 1

“Ananda Adryan Van Brawijaya bin Franco Brawijaya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Helsa Septian binti Almarhum Yuda Andrean dengan Mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar uang satu milyar, dibayar tunai.”

“Saya terima nikah dan kawinnya Helsa Septian binti Almarhum Yuda Andrean dengan Mas kawin yang tersebut dibayar tunai.”

“Para saksi, sah?”

“Sah,” jawab segenap saksi pernikahan disana.

Air mata gadis tujuh belas tahun yang baru saja resmi dipersunting itu jatuh membasahi pipinya. Pria itu menoleh padanya, karena akan mencium kening sebagai sunnah. Lalu dibalas dengan ciuman pada punggung tangan pria itu, oleh istrinya.

***

Gadis bersurai panjang itu bernama⸺Helsa Septian. Mata sayunya sembab karena terlalu banyak memuntahkan cairan bening. Keadaan tubuhnya melemah, wajahnya pun pucat. Helsa bahkan belum mengisi perutnya dengan makanan sejak semalaman.

“Kita ke rumah sakit aja, ya, Sayang. Mama takut kamu tipes,” seru wanita berpakain formal itu.

“Nggak usah, Ma. Helsa cuma kurang istirahat, nanti juga baikan," sergahnya, lalu menghampiri wanita yang dipanggilnya Mama.

"Mama belum berangkat?" tanyanya.

“Bagaimana Mama bisa berangkat, jika keadaan kamu seperti ini?” Renata⸺wanita berusia kepala empat yang kini disibukkan oleh perusahaan peninggalan mendiang suaminya. Sejak pagi tak tenang karena keadaan putri semata wayangnya.

“Mama berangkat aja, klien Mama lebih penting sekarang,” ujar Helsa memberi semangat untuk Renata

Renata tersenyum, mengusap surai hitam Helsa. “Kamu yakin?”

“Mama selalu lupa Helsa punya Mbak Ana,” ujar Helsa dengan kekehan dibelakangnya.

“Ya udah. Tapi, Sayang, kalau kamu Masih kayak gini terus, Mama pulang.”

Helsa mengangguk, wajahnya terlihat semakin pucat. Ia memeluk Renata penuh cinta kemudian mencium punggung tangan Mamanya.

"Mama berangkat, Sayang,” pamit Renata dan keluar dari kamar putrinya. Sebelum benar-benar pergi, wanita paruh baya itu mencium singkat pipi anak gadisnya.

Helsa mengamati langkah Renata yang kian hilang dari pandangannya. Bahagia sekali bisa melihat Mamanya kembali tersenyum setelah kepergian Papanya beberapa bulan yang lalu. Walaupun Helsa tahu Renata Masih sering menangis sendiri.

Gadis yang kini duduk di bangku kelas dua belas SMA itu merupakan anak tunggal dari pengusaha sukses di bidang properti. Kesibukan orang tuanya membuat Helsa selalu sendiri. Hal itu yang menyebabkan gadis kelahiran tahun reforMasi ini mencari kebahagiaan diluar. Salah satunya bersama kekasihnya, Akmal Malik.

Oh, lebih tepatnya mantan kekasih.

Dua tahun berpacaran tidak menjamin kekasihnya itu setia. Awalnya memang seperti itu, namun seiring berjalannya waktu, sebuah kesalahpahaman membuat pemuda tersebut berpaling darinya. Video tak senonoh yang merekam kekasihnya tidur bersama gadis lain membuat kehidupan Helsa hancur. Dunianya runtuh dalam sekejap. Dan yang menyakitkan adalah saat ini, gadis tersebut sedang dalam keadaan hamil.

“Helsa boleh minta sesuatu?”

“Apa?”

“Bawa pergi Helsa sejauh mungkin.”

"Maksud kamu?"

"Helsa mau lurusin amanah Papa. Helsa nggak bisa terusin semuanya bersama Akmal. Helsa mencintai Akmal, tapi rasanya sulit sekali untuk bisa terima dia kembali."

"Kamu serius dengan ucapan kamu?"

"Helsa akan temui Akmal kalau nanti semuanya sudah lebih tenang.”

Air mata gadis itu meluruh, mengingat percakapannya satu minggu yang lalu bersama seorang pria yang selalu berada saat ia jatuh. Pria yang tidak pernah bosan menemani Helsa.

"Sa, lo nggak pernah keguguran," lirihnya.

Gadis itu terjatuh lemas pada karpet yang membentang di bawah kaki ranjang. Dia kembali menyadari bahwa janin itu tidak pernah hilang. Bagaimana bisa dia memberi kesempatan kepada dokter Adryan, sedangkan saat ini dia sedang mengandung anak dari mantan kekasihnya.

Kehamilannya sudah diketahui para sahabatnya, terMasuk kekasihnya. Dan kini, sudah satu minggu Helsa absen dari sekolah. Ia bingung harus mengadu pada siapa, sedangkan Renata belum mengetahui kehamilannya. Helsa terlalu takut untuk memberitahu kenyataan pahit ini kepada Mamanya. Helsa takut wanita itu sakit. Helsa tidak ingin kehilangan lagi. Sudah banyak perpisahan yang ia lalui.

***

Senja kini berganti malam. Rumah itu memang selalu terlihat sepi jauh sebelum kepergian Yuda Andrean⸺sang kepala keluarga. Makan malam sudah terjadi pada pukul 19.00 WIB. Sudah hampir 30 menit Renata berkutat dengan laptop di ruang kerja suaminya, yang kini diambil alih olehnya. Ya, sejak kematian Yuda beberapa bulan yang lalu, Renata, lah, yang mengganti posisi suaminya di perusahaan.

“Ma…”

Suara lembut itu menyapanya dari ambang pintu. Renata melepaskan kacamata, kemudian dengan pandangan teduh dan rentangan dua tangan itu memberi isyarat agar putrinya mendekat.

Gadis pemilik mata sayu itu kini sudah duduk bersimpuh dibawah kaki Mamanya. Helsa menangis dengan meloloskan kalimat maaf dari mulutnya. Melihat itu, Renata pikir saat ini Helsa tidak baik-baik saja. Tangan itu bergerak menangkup wajah yang sudah bersimbah air mata.

“Kenapa, Sayang?”

Kosong, begitu yang Renata lihat dari dua manik mata putrinya. Renata melihat pelupuk mata yang kian menghitam dan mata yang sembab.

Helsa memegang tangan wanita itu, mencium punggung tangan wanita yang selalu ia bangkang ucapannya. Sepertinya kata maaf tidak bisa membayar segalanya.

“Mama…, apa bahasa yang tepat untuk anak yang selalu melawan orang tuanya? Apa bahasa yang tepat untuk anak seperti Helsa, yang membawa aib di keluarga?”

“Helsa, Mama nggak ngerti apa yang kamu maksud,” ujar Renata.

“Helsa mau berhenti sekolah,” cicitnya tanpa mau membalas tatapan Renata.

Renata menyentuh dagu gadis itu. “Kenapa mau berhenti sekolah? Empat bulan lagi, Sayang,” seru Renata.

“Empat bulan terlalu lama untuk menanggung beban ini, Ma. Helsa takut, Ma.” Tangis itu semakin meradang, Helsa menatap penuh penyesalan kepada wanita itu.

Dengan segela keberaniannya, gadis itu menggenggam erat tangannya. “Helsa hamil, Ma.”

Deg!

Untuk beberapa detik semuanya bergeming. Jantung Renata berdetak dua kali lebih cepat. Sama halnya dengan Renata, kini Helsa bukan hanya air mata yang membasahi wajahnya, tapi juga peluh dari dahi dan pelipis.

Setelah bergulat selama dua hari dengan pikirannya, malam ini Helsa memberanikan diri untuk mengakui kehamilannya pada Renata. Dan sekarang, pengakuan itu baru saja ia ucapkan pada sang Mama.

Perasaan kecewa dan kesedihan saling beradu pada wajah wanita paruh baya di depannya. Sekali lagi, Helsa mengumpulkan keberanian untuk memberikan alat test pack pada Renata. Runtuh pertahanannya, Renata membuang benda putih bergaris dua itu sejauh mungkin dan memeluk Helsa dengan tangisan hebat. Tangisan seorang Ibu yang sudah gagal menjadi orang tua.

Sejak kejadian Akmal membawa kabur putrinya hingga ke Labuan Bajo, sudah meyakinkan perasaan Renata bahwa putrinya akan mendapatkan Masalah yang besar. Dan sekarang, benar terjadi. Helsa mengandung anak dari pemuda yang tidak pernah Renata restui.

Luka akan kehilangan suaminya belum mengering, dan dengan tidak punya perasaan Helsa membuka perban itu tanpa memandang siapa yang dia sakiti.

“Kalau sudah seperti ini, kamu mau jadi apa Helsa?” Isak tangis terdengar dari dalam ruangan itu. Hati Renata hancur berkeping-keping.

Helsa adalah harapan satu-satunya Renata. Bagaimana bisa dia melepaskan putrinya keluar dari rumah ini? Renata hanya memiliki Helsa seorang.

***

"Banyak-banyak istirahat ya cantik. Minum air putih yang teratur. Jangan stres. Nggak usah mikir hal yang memperlambat kesehatannya. Biar cepat pulang. Nggak enak lama di rumah sakit," nasihat pria berjas putih pada pasiennya.

Sejak pagi, pasien di Mawar Medika begitu padat, mulai dari yang rawat jalan sampai yang rawat nginap. Tapi, dokter dengan marga Brawijaya ini tetap dengan tangan terbuka menangani semuanya.

Adryan Van Brawijaya⸺Seorang dokter umum yang bertugas di rumah sakit tersebut. Adryan juga disebut dokter residen karena sedang dalam pengambilan spesialis Hematologi dan Onkologi. Spesialis yang memfokuskan diri pada komponen darah dan permasalahannya. Adryan lulus di salah satu Universitas di Inggris dan melanjutkan sekolah spesialisnya di Indonesia.

Dan pasien yang baru di nasehatinya adalah seorang anak perempuan berusia dua belas tahun yang mengidap leukimia atau kanker darah. Namanya Denta. Gadis kecil itu menjadi pasien keduanya setelah bertugas. Pasien pertamanya adalah gadis berusia tujuh belas tahun yang memiliki riwayat anemia akut. Namanya Helsa⸺gadis SMA yang berhasil memporak-porandakan hatinya.

"Dokter udah punya istri?" tanya anak itu dengan tatapan yang sangat polos.

Adryan tersenyum simpul. "Belum. Kenapa memangnya?"

"Yahhh…, dokter lahirnya kecepatan," ujar Denta penuh penyesalan.

"Kenapa gitu?" imbuh ibunya, penasaran.

"Iya, dokter ganteng banget, pintar lagi. Kalau kita seumuran, Denta mau nikah sama dokter,” celetuk Denta. Mata polos yang memandang Adryan terlihat sangat geMas.

Adryan dan ibunya tertawa, ada anak kecil yang pikirannya seperti ini. Dokter muda itu teringat akan Helsa. Gadis itu merupakan pasien pertamanya yang sangat berani padanya.

"Dokter ganteng, ngapain kesini? Bukannya pagi tadi udah kontrol?"

"Kamu panggil saya ganteng? Makasih. Kamu orang pertama loh."

"Dokter lihat Akmal nggak?"

"Pacar kamu itu? Kayaknya dari kemarin deh, dia nggak muncul disini."

"Kamu ngapain?"

"Helsa boleh pinjam handphone nggak?”

"Buat telepon pacar kamu? Saya nggak punya kontaknya? Kenal aja enggak."

"Nggak kenal, tapi pas Helsa nanya Akmal, dokter bilang pacarnya Helsa."

"Ganti ya, pulsa saya. Nggak gratis!"

"Iyain. Sini."

Adryan tersenyum mengingat awal pertemuan itu. Lucu sekali wajah pucat Helsa yang hampir tidak pernah senyum saat itu. Bergelayut dengan ingatannya, Adryan tidak menyadari bahwa ponselnya bergetar.

"Dokter, ponselnya bergetar," kata Denta memperingati.

Adryan terkesiap, segera mengambil benda pipih tersebut dari dalam saku jas. Dahinya mengerut saat mendapati siapa yang meneleponnya.

“Saya permisi, Bu.”

“Denta, dokter permisi ya,” pamit Adryan kepada mereka, lalu keluar dari kamar nginap itu.

“Halo…,” sapa Adryan, setelah menekan tombol hijau pada layar ponselnya.

“Iya. Kebetulan pasien saya tersisa satu orang lagi, setelah itu saya temui ibu⸺Sampai jumpah.”

Setelah memutuskan sambungan telepon, pria itu melanjutkan aktivitasnya untuk mengontrol satu pasien lagi. Namun, pikirannya melayang jauh, tumben sekali Renata ingin menemuinya. Apa mungkin Helsa sedang sakit?

***

“Adryan, sepertinya kamu tidak bisa melanjutkan amanah suami saya,” ujar Renata dengan serius. Ada penyesalan yang tersorot dari matanya.

Mendengar perkataan Renata membuatnya terasa leMas. “Helsa berubah pikiran, Bu? Saya paham sekali, dia begitu mencintai kekasihnya.”

Suasana ruangan milik Renata terasa canggung, udara sekitar mereka terasa panas walaupun ada dua Ac di ruangan tersebut. Pertemuan itu terjadi di perusahaan induk keluarga Helsa⸺Andrean Corp. Lebih tepat lagi milik Papanya.

Setelah menyelesaikan tugasnya hari ini, Adryan segera menemui Renata disini. Ia sendiri penasaran dengan apa yang mau dibicarakan wanita ini.

“Bukan. Ini tentang kondisinya saat ini," ujar Renata.

Renata menarik pelan nafasnya, lalu menghembuskan dengan sangat kasar. "Adryan, Helsa sedang mengandung janin milik Akmal."

DUARR!

Seperti bom yang meledak, Adryan menatap sendu wanita itu. Harapannya pada Helsa pupus. Baru saja gadis tersebut membuka jalan untuknya, tapi sekarang jalan itu seolah ditutup kembali. Adryan bingung harus menanggapi apa pada Masalah ini. Berat sekali mengatakan iya dan tidak. Apa mungkin Helsa memang ditakdirkan untuk Akmal?

“Berat sekali saya mengatakan hal ini kepada kamu,” imbuh Renata.

Tersirat perasaan bersalah dari wajah wanita itu. “Maafkan kami. Mendinag Papa Helsa pasti memahami jika kamu menolak amanah darinya,” ujar Renata kembali melumpuhkan harapan dokter tampan itu.

“Helsa akan berangkat ke Kanada setelah urusannya bersama Akmal selesai.”

Adryan menyerngit. Tidak paham apa yang dimaksud Renata. “Maksud ibu?”

“Ma, Helsa udah putusin pisah sama Akmal. Tadinya Helsa mau lurusin amanah Papa, tapi keadaannya berubah, Ma. Nggak mungkin Mas Adryan mau nerima Helsa dalam keadaan seperti sekarang."

"Helsa memutuskan untuk tidak bersama Akmal, dia akan melanjutkan sekolahnya di Kanada. Saya nggak tahu apa yang terjadi pada mereka. Tapi, saya yakin ini keputusan tepat yang diambilnya."

Ingatan Renata kembali pada malam itu. Malam dimana, Helsa mengakui kehamilannya yang sedang berjalan lima bulan.

"Saya mau bertemu dia. Boleh, Bu?" tanya Adryan.

"Helsa di Villa milik Papanya di Puncak. Kamu bisa temui dia disana," jujur Renata.

"Saya akan share lokasinya,” imbuh Renata mengakhiri percakapan mereka siang itu.

***

Hamparan kebun teh dan kabut yang menyelimuti daerah Puncak memanjakan mata sayu seorang perempuan kini berdiri pada balkon. Tak henti-hentinya Helsa memuja alam yang begitu indah dan juga memuja Villa milik Papanya.

Sudah dua malam Helsa menginap bersama Mbak Ana disini, dia tidak ingin diganggu siapapun. Setelah memberi pengakuan atas kehamilannya, Helsa tidak memberi peluang kepada siapapun untuk menemuinya. Kecuali Renata dan Mbak Ana. Dia bahkan memutuskan kontak bersama teman-temannya, termasuk dokter Adryan.

Kata Helsa, pria itu pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik. Helsa sudah menutup rapat harapannya kepada dokter Adryan. Dia bertekad untuk membesarkan anak itu seorang diri, tanpa melibatkan Akmal sekalipun.

“Kamu mau ninggalin Mas?”

Tubuhnya menegang tatkala suara pria yang sangat dikenalnya masuk pada indera pendengaran. Derap langkah kaki itu semakin dekat. Dengan cepat Helsa membalikkan tubuhnya. Benar saja, Adryan menghampirinya dengan tatapan sendu.

“Tau dari mana Helsa disini?” Ia langsung menodong dengan pertanyaan itu.

“Kalau jodoh nggak bakal kemana,” sarkas Adryan.

Pria itu sudah berdiri di sampingnya. Sama seperti Helsa, Adryan dibuat takjub dengan pemandangan di depannya.

“Papa kamu pandai memilih lokasi untuk Villa,” puji Adryan. Lalu ia menoleh pada Helsa, memandang wajah gadis itu. “Sama seperti kamu. Papa kamu tidak salah memberi amanah untuk saya.”

“Mas, kita udah nggak bisa ketemu lagi. Helsa mau Mas pergi dari sini,” pinta perempuan bersurai panjang itu.

Adryan menatapnya dari samping sekali lagi. “Mas udah tahu semuanya, Helsa.”

"Ya udah, mau ngapain lagi temuin Helsa. Nggak ada gunanya lagi," ketus Helsa dengan nada suara yang sudah naik satu oktaf.

Pria itu menghampirinya, menggenggam erat kedua jemari gadis itu. “Kalau kemarin-kemarin kamu yang minta sama Mas, boleh ‘kan hari ini Mas minta sesuatu dari kamu?”

“Apa?” Helsa menatapnya culas.

“Kita tumbuh bareng, ya?”

“Mas, Helsa, dan dia,” lanjut Adryan sembari mengusap perut Helsa dari luar.

“Izinkan Mas jadi imam buat Helsa, dan Ayah untuk dia.”

Helsa tertegun, beberapa saat kemudian ia menghempaskan tangan Adryan. "Nggak!" tolak Helsa, “Masih banyak wanita diluar sana, yang lebih baik dari Helsa.”

“Helsa nggak butuh dikasihani. Helsa bisa sendiri.”

Gadis itu melempar tatapannya ke arah yang berbeda. Matanya digenangi cairan bening yang sialnya sudah meluruh tanpa persetujuannya.

“Helsa, lihat Mas!” Adryan menangkup wajah wanita itu. Lalu mengambil jarak lebih dekat. “Kamu pilihan Mas. Ini bukan soal rasa kasihan, Mas tulus sama kamu. Sejak awal, sejak Mas melihat kamu di rumah sakit, Mas sudah menyatakan perasaan pada kamu.”

“Nggak bisa!” Lagi-lagi Helsa menjauhkan tangan Adryan.

“Apa yang nggak bisa? Karena dia bukan milik Mas?” tanya Adryan.

Helsa sudah menangis dibuat pria itu. Adryan terlalu memaksakan perasaannya. Helsa yakin itu hanya perasaan kasihan kepada perempuan hamil seperti dia.

"Helsa, kita mulai semuanya dari awal. Tinggalkan semua yang sudah berlalu,” titah Adryan.

Perkataan Adryan langsung di hadiah tatapan tidak suka dari Helsa. “Mas, hubungan ini bukan hanya Mas dan Helsa, tapi juga menyatukan dua keluarga yang berbeda. Apa mungkin bisa keluarga Mas Adryan terima Helsa dengan kondisi seperti sekarang?"

"Percayakan semuanya sama Mas," tutur Adryan mencoba untuk meyakinkan Helsa.

Jawaban itu membuatnya frustasi. Adryan bersikeras dengan keputusannya yang sangat bahaya. Apa yang akan ia katakana kepada keluarganya tentang kehamilan Helsa? Mungkinkah dia berbohong?

“Please, marry me.”

Helsa membekap mulutnya saat sebuah cincin berlian seberat satu karat berada di hadapannya. Pria itu tidak main-main dengan ucapannya. Dan saat ini ia melamarnya.

"Sa, Mas mau hidup selamanya sama kamu. Tolong kasih kesempatan yang sama seperti minggu kemarin.” Adryan tertunduk dengan cincin yang masih di depan Helsa.

“Mas…,” Helsa mengangguk lirih, Adryan tahu Helsa Masih terlihat ragu.

“Seriously?” tanya Adryan memastikan.

"Iya, Helsa mau menikah dengan Mas Adryan."

Mendengar jawaban tulus Helsa, Adryan segera melingkarkan cincin itu pada jari manis wanita yang sudah resmi menjadi calon istrinya. Ada setitik air mata yang jatuh dari mata coklat pria itu.

“I love you,” ucap Adryan.

Adryan menautkan keningnya pada kening Helsa, menyalurkan segala rasa bahagianya kepada wanita itu, mendekap kembali Helsa dalam pelukannya. Perasaan kecewa yang sempat melandanya kemarin sudah dinetralisir oleh kebahagiaan hari ini.

Bab 2

Resepsi pernikahan Helsa dan dokter Adryan berjalan dengan lancar, meriah, dan begitu megah. Setelah acara selesai, Helsa dituntun Adryan untuk kembali ke kamar pengantin tepatnya di hotel yang sudah mereka booking untuk ijab kabul dan resepsi tadi. Lelah sekali seharian harus berdiri di pelaminan, bertemu dengan para undangan.

Tapi, akhirnya semuanya selesai. Helsa dibantu untuk melepaskan gaun dan juga semua keperluan acara yang masih melekat pada tubuhnya oleh beberapa orang dari butik yang dipercayakan Mamanya. Sedangkan Adryan, pria itu masih melakukan ritual mandinya.

Sepeninggal beberapa orang yang membantu Helsa melepas gaun pengantin, Adryan pun turut keluar dari kamar mandi. Pria itu terlihat segar selepas berendam sebentar. Helsa dari kursi meja rias mencuri pandang pria tersebut, degup jantungnya berpacu dengan cepat melihat Adryan⸺suaminya itu hanya mengenakan handuk kimono berwarna abu. Rambutnya yang basah berjatuhan menutupi keningnya.

“Helsa⸺” Adryan menghampirinya, berdiri tepat dibelakang wanita hamil tersebut. Helsa masih sibuk menghapus make over dari wajahnya. Lebih tepatnya ia sedang menutupi rasa gugup.

“Mas, Helsa mandi,” ujarnya, kemudian beranjak dari kursi.

Adryan tersenyum, ia mencekal pergelangan tangan istrinya sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi. “Mas udah siapin air hangat. Mandinya jangan kelamaan, kamu juga harus istirahat.”

Pria itu kembali melepaskan cekalannya, kemudian beranjak dari hadapan istrinya. Helsa terpaku sebentar pada pijakannya, menatap punggung tegap yang baru saja keluar dari kamar mereka.

***

Selama tiga puluh menit Helsa berada di kamar mandi. Entah apa yang dilakukannya. Dan sekarang ia keluar dengan piyama coklatnya. Perasaan canggung masih ada. Helsa melihat Adryan yang sibuk merapihkan bantal dan juga selimut pada ranjang. Lalu, pria tersebut juga mengambil satu bantal kepala dan juga bantal guling untuk ia pakai.

“Mas, biar Helsa yang tidur di sofa,” seru Helsa. Ia menghampiri suaminya dan duduk pada sofa yang sudah Adryan tatah dengan bantal-bantal tadi.

“Sa⸺” Adryan duduk disampingnya, mengusap surai panjang Helsa. “Sekalipun kamu nggak lagi hamil, Mas nggak akan biarin kamu tidur disini.”

“Tapi Mas…,” Helsa tertegun, tidak bisa melanjutkan perkataannya tatkala Adryan mengecup lama keningnya. “Have a nice dream, my love.”

Setelah mengatakan demikian, Adryan menggendong Helsa ke ranjang dan membaringkan istrinya disana. Pandangan wanita hamil itu tidak lepas dari manik coklat suaminya. Tidak ada kebohongan yang Helsa dapati dari sana. Adryan selalu menunjukkan kesungguhannya.

“Hi, little baby. Good night,” ucap Adryan sambil mengusap perut buncit Helsa, lalu ia mengecup lama disana membuat wanita itu terkesiap.

Cairan bening menggenangi pelupuk matanya. Helsa mengusap sebelum Adryan melihat.

“Kenapa Mas baik sama Helsa?” tanya Helsa.

“Sayang⸺” Itu perdana panggilannya kepada Helsa. Runtuh sudah air mata yang sempat Helsa usap tadi.

“Kenapa Mas ambil keputusan yang Mas sendiri tahu konsekuensinya?” Helsa menatap wajah Adryan, pria menatapnya sendu.

“Karena kamu pilihan Mas. Kamu dan bayi ini pilihan Mas, Sayang,” jawab pria itu dengan lantang.

Helsa menggeleng lirih. Ia menangis. Menangis tergugu dalam pembaringannya, bahkan mengubah posisi tidur miring.

“Helsa nggak tahu sampai kapan kita seperti ini, Mas? Setiap kali Helsa melihat keluarga Mas Adryan, Helsa merasa berdosa,” tuturnya dengan air mata.

“⸺Helsa udah bohongin Bunda, Ayah, dan juga Mas Jefri. Helsa bohongin keluarga Brawijaya.”

Adryan menuntun tubuhnya naik keatas ranjang dan berbaring memeluk Helsa dari belakang. Tangannya mengusap lembut perut Helsa. Kehangatan ia dapati dari sana. Adryan mencium tengkuk leher istrinya, menghirup aroma sabun yang menguar dari tubuhnya.

“Helsa, Mas mau kamu. Selamanya. Bahkan jika harus kembali ke masa lalu, Mas akan tetap memilih kamu,” lirih Adryan.

Semakin meradang tangisannya, semakin erat Adryan memeluk Helsa. Keputusan Adryan menikahi wanita hamil itu tidak pernah disesalinya. Dia bahagia sekali bisa miliki Helsa seutuhnya, meskipun Adryan tahu ada sebagian dari Akmal yang dibawah oleh Helsa. Janin itu⸺iya, segumpal daging bernyawa itu adalah darah daging Akmal. Tapi, Adryan sudah meyakinkan dirinya bahwa ia bisa menjadi Ayah yang baik untuk anak itu kelak. Sejak memutuskan untuk menikahi Helsa, Adryan sudah memantaskan dirinya untuk menjadi Ayah dari janin tersebut.

“Mas mau selamanya sama Helsa?” tanya Helsa.

“Iya, selamanya.”

Wanita itu menggenggam erat jemari suaminya. “Kita gugurkan janin ini.”

***

Matahari pagi sudah mulai naik. Selepas menunaikan sholat subuh, pasangan pengantin baru itu kembali tertidur. Hanya bedanya, mereka tidur dalam keadaan Adryan yang duduk sambil memeluk Helsa. Wanita itu bahkan masih mengenakan mukena berwarna putih dan Adryan pun masih mengenakan sarung.

Dering alarm dari ponsel membangunkannya. Pria itu merenggangkan tangan kirinya, dan berganti menyanggah lengan istrinya agar bisa merenggangkan yang sebelah kanan. Tatapannya jatuh pada wajah cantik Helsa. Adryan mengecup kening Helsa, dan pipi yang semakin cabih.

“Selamat pagi, Sayang,” bisik Adryan.

Tidurnya diusik, Helsa tersentak melihat Adryan di dalam kamar bersamanya. Namun beberapa detik kemudian, barulah ia sadar bahwa mereka sudah sah menjadi suami istri.

“Maaf Mas nggak bangunin, kamu tidurnya nyenyak banget,” kata Adryan.

“Iya, Mas.” Helsa membenarkan posisi duduknya, kemudian Adryan membantu istrinya berdiri.

Hari ini mereka akan pergi ke rumah Ayah dan Bunda, untuk memenuhi panggilan makan siang keluarga. Lalu setelahnya, mereka akan pulang ke apartemen milik Adryan. Empat hari sebelum akad dilaksanakan, semua barang milik Helsa sudah di pindahkan kesana.

“Sarapannya mau dibawah ke kamar atau kita langsung turun aja?” tanya Adryan.

“Mas nggak ke rumah sakit atau nggak adalah kuliah hari ini?” tanya Helsa padanya.

Sebagai informasi, pria yang baru genap usia dua puluh tujuh tahun pada Desember kemarin adalah salah satu mahasiswa kedokteran spesialis Hematologi dan Onkologi pada salah satu universitas tersohor di Jakarta.

“Mas dikasih cuti sembilan hari dari rumah sakit. Dan hari ini minggu, kampus libur, Sayang,” jawab Adryan.

Helsa kemudian membuka mukena, lalu beranjak dari hadapan Adryan. Ia melangkah pergi memasuki kamar mandi.

“Mau mandi?” seru Adryan bertanya.

“Iya,” sahut Helsa.

“Nggak mandi bareng aja?”

Pertanyaan itu berhasil membuat Helsa mendelik dengan wajah yang merona. Adryan mengajaknya mandi bersama?

Mereka bahkan belum melakukan hubungan suami istri di malam pertama, dan sekarang Adryan mengajaknya mandi bersama. Helsa malu sekali.

“Mas cuma bercanda,” ujar Adryan, yang melihat perubahan raut wajah Helsa. Istrinya salah tingkah, dan Adryan tahu itu.

“Kamu mandi duluan, biar Mas yang beres-beres disini.” Helsa mengiyakan perkataan suaminya dengan masuk ke kamar mandi.

Adryan tersenyum menatap punggung kecil yang perlahan tenggelam dibalik pintu kamar mandi.

Kehadiran Helsa di kehidupannya menjadi hal paling Adryan syukuri. Entah, semenjak pertama kali melihat mata sayu wanita itu, ada perasaan sayang yang kuat untuk Helsa. Gadis SMA itu berhasil memporak-porandakan hatinya

***

Menjelang jam dua belas siang. Matahari nampaknya sudah diatas kepala. Sepasang pengantin baru itu berjalan memasuki rumah bercorak Belanda, dengan tangan yang saling menggenggam. Seulas senyum terbit dari bibir keduanya saat kedatangan mereka disambut oleh penghuni rumah.

“Helsa⸺” seru Bunda, yang kini memeluk menantunya. Wanita itu banyak tersenyum ketika putra bungsunya membawa masuk seorang gadis cantik ke rumahnya.

“Gimana, tidurnya nyenyak?” tanya Bunda. Matanya mengerling genit pada Adryan.

“Bun, apaan sih!” decak Adryan.

Helsa tersenyum canggung. “Iya.”

“Ayo, kita ke meja makan sekarang. Sembari nunggu Ayah dan Mas Jefri, Bunda ingin kamu mencoba resep kue buatan Bunda,” kata Bunda, antusias.

“Bunda suka buat kue?” tanya Helsa.

“Bunda jagonya buat suami kamu memberi pujian,” pungkas Bunda, lalu memanggil sekalian putra bungsunya.

“Ayo, Sayang,” panggil Bunda untuk Adryan.

Mereka pergi ke meja makan terlebih dahulu. Mencicipi resep baru yang dicoba Bunda Marimar.

"Itu pinggang nggak usah di peluk posesif gitu, Helsa nggak nyaman," ujar pria berkaos putih yang menuruni anak tangga.

Jefri Van Brawijaya⸺Anak tertua di rumah. Seorang dosen Teknik di salah satu kampus swasta yang ada di Jakarta. Jefri dan Adryan jarak usianya hanya terpaut tiga tahun. Pria itu belum menikah, tapi memiliki kekasih yang ternyata salah satu mahasiswi di kampus tempatnya mengabdi.

“Apaan sih lo! Makanya cepat nikah,” ketus Adryan. Helsa tersenyum malu-malu ketika digoda kakak iparnya.

“Helsa, jangan di dengar omongan Mas Jefri, ya,” kata bunda Marimar. Lalu Bunda beralih menatap putra sulungnya. “Emang bener sih, Jef. Kapan kamu sama Viola?"

“Calonnya Mas Jef yang kemarin itu, Bun?” tanya Helsa, ia mengingat saat hari pernikahan kemarin Jefri menggandeng seorang wanita cantik yang usianya jauh lebih muda.

“Nah itu,” jawab bunda, “Viola namanya.”

“Mahasiswi kesayangannya Jefri,” celetuk Adryan.

“Sudah, sudah. Kalian berdua kalau udah ketemu ada aja yang kalian debatin,” sergah Bunda, mengakhiri perdebatan kakak adik tersebut.

“Helsa, Bunda perhatiin kok kamu gendutan?” Wanita paru baya itu nampak memperhatikan lekuk tubuh sang menantu.

Helsa terkejut mendengar pernyataan Bunda Marimar, apa mungkin postur tubuhnya mulai melebar akibat kehamilannya itu. Astaga, mau bagaimana pun bangkai akan tetap tercium sekeras apapun disembunyikan.

"Emang iya? Nggak kok," timpal Adryan.

"Iya, kamu gendutan sayang," sebut Bunda lagi.

"⸺seperti orang hamil," imbuh Bunda.

Adryan mengeratkan genggamannya pada jemari istrinya, iaa yakin sekali Helsa sedang takut. Bunda Marimar tidak mengetahui kehamilan menantunya. Bukan hanya Bunda, melainkan keluarga besar Brawijaya.

"Amin," ucap Jefri dari arah dapur. "Biar cepat punya ponakan. Terus gue bawah ke kampus, buat modusin mahasiswi gue. Kebanyakan cewek, ‘kan suka sama bocah."

"Nggak gue kasih anak gue sama elu. Soalnya sesat kalau anak gue bergaulnya sama lo,” ketus Adryan.

Suasana rumah terlihat hidup, Bunda Marimar menyayangi Helsa. Selama ini, wanita itu memang menginginkan kehadiran anak perempuan di rumahnya. Dan tiba-tiba saja Adryan membawa calon menantu untuknya.

Bab 3

Morning sickness adalah salah satu hal yang terjadi pada Ibu hamil di usia kandungan yang masih muda. Jika banyak Ibu muda yang menikmati masa kehamilannya, maka tidak dengan Helsa. Morning sickness menjadi sebuah malapetaka untuknya. Helsa tidak tahu harus seperti apa ketika saat ini Ibu mertuanya membawa ia ke salah satu klinik yang dekat dari apartemen.

Kedatangan Bunda Marimar ke apartemen sangatlah tidak tepat. Bunda panik ketika Helsa mual-mual di dapur, memuntahkan cairan bening.

Klinik yang didatangi Bunda dan Helsa adalah klinik milik teman Adryan, tidak jauh dari apartemen. Mungkin hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit.

“Bunda Marimar?” sapa wanita dengan nametag Dr.Wahyuni.

“Kamu Uni?” Bunda Marimar mencoba untuk mengingat wanita itu.

“Apa kabar, Bun?” Dokter Uni mengangguk, membenarkan tebakan wanita parubaya itu.

“Bunda baik. Ini klinik punya kamu?” tanya bunda. Dia tersenyum bahagia, sudah lama tidak bertemu teman lama putranya.

“Iya Bun. Sudah jalan setahun,” jawab dokter tersebut.

“Siapa yang sakit?” tanya dokter Uni pada Bunda.

“Istri Adryan,” jawab bunda.

Dokter Uni sedikit terkejut saat Bunda mengatakan istri Adryan. Ternyata teman masa putih abu-abunya sudah menikah. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, mungkin terakhir saat reunian SMA beberapa tahun yang lalu.

“Ya sudah, langsung masuk aja. Kebetulan ada pasien yang buat janji sama aku, tapi sepertinya masih diperjalanan.”

Dokter Uni segera membawa Helsa dan Bunda ke ruangannya. Lalu membaringkan Helsa di brankar. Wanita itu mulai memeriksa kondisi Helsa. Dipikiran dokter tersebut, ternyata Adryan menyukai perempuan yang jauh muda darinya. Buktinya, gadis ini masih berusia tujuh belas tahun.

"Tadi mual-mual?" tanya dokter Uni.

"Iya, Ni. Bunda takut Helsa sakit.”

Sedangkan di rumah sakit Mawar Medika, Adryan panik setengah mati. Telepon dari Bunda membuat fokusnya buyar detik itu juga. Pikirannya sekarang, Helsa sangat ketakutan dengan kondisi kehamilannya.

Tuas pintu ruangan terbuka, dokter Marcel muncul dari luar.

“Ada apa?” tanya dokter Marcel yang mengetahui bahwa sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.

“Gue hari ini ijin ,ya. Nanti gue kabarin dokter Bagas. Helsa sakit,” jawab Adryan.

“Ya udah, lo balik. Mama Anita bakal gue yang handle,” sahut dokter Marcell menyebut nama salah satu pasien mereka.

Adryan berterima kasih pada Marcell. Ia bersiap untuk kembali. Lebih tepatnya ke salah satu klinik dekat apartemen. Bunda baru saja menghubunginya.

***

“Janin Helsa sehat kok. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Janin?”

"Bunda bentar lagi punya cucu. Usia kandungan sudah enam bulan."

Kabar ini sangat mengejutkan, bagaimana bisa Helsa mengandung sudah enam bulan, sedangkan usia pernikahan bersama anaknya baru memasuki minggu kedua.

“U-ni nggak salah, ‘kan?

“Cucu pertama ‘kan ya Bun? Atau Mas Jefri udah nikah?”

“I-iya. Cucu pertama.”

Air mata wanita berdarah Sunda itu tak terbendung kala mengingat perkataan dokter Uni beberapa saat yang lalu. Kabar mengejutkan pagi ini membuat banyak pertanyaan di benaknya. Bagaimana bisa Helsa mengandung enam bulan, sedangkan usia pernikahan bersama Adryan baru menginjak minggu kedua?

Sejak keluar dari ruangan, tidak ada obrolan diantara mertua dan menantu itu. Mereka saling berdiaman. Helsa bahkan tak berani menatap Bunda.

“Bunda⸺”

Mendengar suara itu, Bunda segera mengusap air matanya. Tatapannya langsung tertuju pada Helsa. Adryan menghampiri istrinya. Ia yakin sekali semua sudah ketahuan, melihat bagaimana Helsa memeluk dan menangis padanya.

“Kalian punya hutang penjelasan pada Bunda!” ketus wanita itu, kemudian keluar dari klinik.

“Mas⸺,” Helsa menangis begitu saja saat Bunda keluar dari sana. Adryan memeluk Helsa begitu erat, mencoba untuk menenangkan kekhawatiran sang istri.

Semua sudah terbongkar. Bangkai memang akan selalu tercium sekuat apapun kamu menyembunyikannya.

***

Pukul delapan malam. Usai makan malam bersama, semua berkumpul di ruang tengah. Rumah Tuan Franco Brawijaya memang tidaklah ramai, apalagi semenjak Adryan dan Jefri beranjak dewasa ini. Memang mereka hanya memiliki dua anak lelaki.

“Bunda, Adryan minta maaf,” ucap Adryan. Helsa tampak gugup mendengar ucapan suaminya. Namun tangannya mendadak hangat ketika Adryan menggenggam jemarinya. Helsa mendongak, tatapan mereka bertemu, ia membalas senyuman suaminya dengan tulus.

Manik mata coklat Adryan bertumbuk dengan Ayahnya. “Ayah, mungkin kabar ini akan membuat Ayah kecewa sama Adryan dan Helsa.”

"Helsa hamil," ungkap Adryan beberapa detik kemudian.

Senyum dari wajah pria paru baya itu terbit. "Ayah mau gendong cucu? Kamu nggak lagi bohong, ‘kan Adryan?"

"Nggak, Ayah. Helsa beneran hamil,” imbuh Jefri.

"Tapi, maaf Ayah. Maaf kalau Adryan hamili Helsa sebelum nikah."

Deg!

Helsa terkesiap dengan pengakuan Adryan. Apa lagi rencana suaminya sekarang? Kenapa Adryan mengakui kehamilan ini adalah ulah nakalnya.

“Mas⸺” Ia menggeleng lirih.

“Helsa hamil anak Adryan. Keturunan Ayah. Keturunan Brawijaya,” ucap Adryan lantang, tanpa ingin melihat Helsa.

Helsa hanya menunduk. Ia malu saat suaminya mengatakan hal tersebut, Adryan benar-benar mengklaim bahwa anak yang dikandung Helsa adalah darah dagingnya. Ya Tuhan, dosa ini cukup Helsa yang tanggung, pria disampingnya tidak bersalah sama sekali.

Dari tempatnya, Bunda menatap jijik pada Helsa. Perempuan murahan, batinnya. Bunda tidak habis pikir dengan semua ini. Helsa yang begitu dipujanya kini hanyalah sampah bagi wanita itu.

“Dibayar berapa kamu sama Adryan?” tanya Bunda.

“Bunda!” tegur Ayah.

Bunda tertawa miris melihat Helsa sudah terisak. “Bunda pikir kamu anak baik-baik, Helsa. Ternyata kamu nggak jauh beda sama perempuan murahan.”

“BUNDA!” pekik Adryan, tak terima saat Bunda mengatakan hal itu.

"Atau kamu yang digoda sama Helsa?" tanya Bunda pada Adryan.

"Kita pulang!" Adryan menarik pelan pergelangan tanģan istrinya, membawa keluar Helsa dari rumah orang tuanya.

Jika berlama-lama meladeni Bunda, Helsa bisa stres disana. Adryan tidak mau melihat Helsa menangis lagi. Tapi, kenyataannya, malam ini perempuan itu menangis karena ulah Bunda⸺wanita yang justru begitu menyayangi Helsa

“Mas⸺,” panggil Helsa sebelum mereka masuk ke mobil.

“Iya, Sayang,” sahut Adryan. Raut wajahnya terlihat begitu kesal. Adryan sangat terluka.

“Minta maaf sama Bunda. Nggak seharusnya Mas bersikap seperti itu sama perempuan yang udah lahirin Mas Adryan,” pinta Helsa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED