Bab 1

BRAK!

Dobrakan pintu menggema. Barra muncul dari balik pintu dengan ekspresi datarnya. Perlahan, laki-laki setengah baya itu mendekat ke arah Yoan, putri angkatnya.

Yoan yang baru saja terduduk di atas kursi terjengit kaget. Gadis itu baru selesai mengganti kebaya yang ia pakai saat wisudanya.

Sekitar lima belas menit yang lalu, Yoan pulang dari acara wisuda bersama Barra, papa angkatnya. Namun, apa yang terjadi sekarang? Mengapa Barra tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan aura buruk yang menguar?

“Papa?” Yoan memanggil papanya dengan nada heran. Dia juga menetralkan rasa terkejut yang dirasakannya.

“Yoan, ingatkah sejak umur berapa kamu tinggal bersama Papa dan Mama?” Barra bertanya dengan nada sinis.

“Dulu Mama pernah memberi tahu kalau Papa dan Mama menjemputku di panti asuhan saat aku berusia lima tahun,” jawab Yoan. Nada bicara gadis itu memelan. Raut wajahnya tampak sedikit ketakutan.

Barra berjalan mendekat ke arah sang putri sembari menunjukkan seringai kecil.

“Sekarang kamu sudah lulus kuliah. Sudah cukup banyak biaya yang Papa keluarkan untuk memenuhi kehidupanmu,” ujar Barra.

“I-iya, Pa. Aku tidak akan lupa,” lirih Yoan menjawab. Perlahan gadis itu bangkit, lantas berjalan mundur karena papa angkatnya terus berjalan mendekat dengan aura menakutkan.

“Sudah saatnya kamu harus mengganti semua biaya yang Papa keluarkan untukmu,” ujar Barra.

“A-apa? Aku tidak mengerti ucapan Papa. Bu-bukankah Papa dan Mama mengangkatku sebagai anak? Kenapa aku harus mengganti semua biaya hidup?” tanya Yoan tidak mengerti.

“Yoan, kamu sudah dewasa. Seharusnya kamu memahami jika di dunia ini tidak ada yang benar-benar gratis.” Laki-laki renta itu terkekeh di ujung kalimat.

“Baik, aku mengerti. Setelah ini, aku akan bekerja untuk mendapatkan uang dan memberikan semua gajiku untuk Papa,” jawab Yoan.

“Benarkah? Maka kamu akan membutuhkan waktu sangat lama untuk membayarnya, sedangkan Papa membutuhkan uangnya sekarang.” Barra berkata sambil mengganti-ganti raut wajahnya.

“Bagaimana caraku membayar Papa sekarang? Aku bahkan belum mulai bekerja,” jawab Yoan bingung. Nada suaranya masih melirih sama seperti sebelumnya.

Ada apa dengan Barra sebenarnya? Andai Ayara, mama angkat Yoan masih ada, mungkin Yoan masih bisa mengajaknya diskusi.

“Siapa bilang kamu harus mengganti semua biaya? Kamu tidak perlu bekerja untuk mengganti semua biaya itu, Yoan. Manfaatkanlah tubuh indahmu. Itu sudah lebih dari cukup,” ujar Barra. Pandangannya bergerilya, tergerak mengamati Yoan dari puncak kepala hingga ujung kaki.

Yoan kembali berjalan mundur saat melihat papa angkatnya kembali berjalan mendekat. Lagi-lagi dengan raut wajah menakutkan yang membuat tubuh Yoan bergetar hebat.

Melihat perilaku papanya yang tidak biasa, Yoan mulai melempar semua barang yang ada di dekatnya ke arah Barra. Otak kecilnya mulai berpikir mencari celah untuk keluar dari kamarnya sendiri.

“Anak manis, tidak perlu takut! Papa pasti akan memperlakukanmu dengan baik.” Barra berusaha membujuk Yoan.

“Aku mohon, jangan mendekat, Pa!” pekik Yoan ketakutan.

Namun, Barra masih berusaha mendekati Yoan.

Tubuh wanita itu ketakutan. Yoan berakhir menubruk pintu balkon. Kamarnya di lantai dua. Haruskah dia terjun dari sini? Namun, jika Yoan tetap menurut pada papa angkatnya, dia tidak yakin akan mendapat perlakuan yang benar-benar baik.

“Mau lari ke mana?” Barra bertanya. Laki-laki itu lantas tertawa terbahak-bahak melihat Yoan yang kebingungan. Kali ini Barra yakin Yoan akan menyerah sebab jalannya sudah buntu.

“Aku mohon, jangan lakukan ini, Pa!” pinta Yoan. Pipinya sudah mulai basah karena air mata yang mengalir.

“Gadis kecilku, kemarilah!” Barra berkata sambil menepuk-nepuk tempat tidur anak angkatnya itu.

Untuk sesaat Yoan berharap ini hanyalah candaan Barra semata. Namun, sepertinya Barra tidak berniat untuk membalikkan ucapannya.

Tangan kiri Yoan mengarah ke belakang punggungnya untuk membuka pintu balkon. Yoan lantas buru-buru keluar dan menutup pintu balkon. Gadis itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menahan pintu agar papa angkatnya tidak berhasil menangkapnya. Namun sayang, tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan.

Tidak ada waktu lagi! Yoan merasa lebih baik mati daripada harus melayani laki-laki yang bertahun-tahun sudah dianggapnya sebagai orang tua kandung.

BRUK!

“Ouch!” pekik Yoan.

Perlahan Yoan membuka matanya. Gadis itu berpikir akan segera menyusul Ayara atau setidaknya dia harus mengorbankan kakinya. Namun, ternyata tidak … Yoan masih baik-baik saja.

Ah, Yoan rupanya harus berterima kasih pada Bik Umi yang menjemur kasur tepat di bawah kamarnya.

Tidak ada waktu! Barra sudah mengerahkan para penjaga rumahnya untuk mengejar Yoan. Dia harus segera kabur dari rumah ini.

***

Sementara itu di sebuah ruang rapat yang ada di gedung perkantoran yang tampak mewah.

Terdengar suara riuh tepuk tangan diikuti ucapan selamat atas pengangkatan Kenzo menjadi CEO di Pranadipa Corp.

“Waktu dan tempat dipersilakan,” ujar seorang pembawa acara dengan pandangan yang tertuju pada putra tunggal almarhum Ryu Pranadipa dan Rani.

Kenzo lantas maju satu langkah dan membungkuk sedikit untuk memberi hormat.

“Terima kasih untuk kepercayaan yang sudah diberikan. Saya mohon dukungannya,” ucap Kenzo singkat.

Suara tepuk tangan kembali menggema di ruang rapat.

Usai bersalaman, Kenzo bersama Raka berjalan menuju ke ruangan Ryu. Ruangan ini akan menjadi ruang kerjanya sekarang.

Kenzo perlahan mendekati meja kerja Ryu sambil mengedarkan pandang ke seluruh ruangan.

Masih jelas di dalam ingatan saat Ryu sibuk menandatangani dokumen penting. Dengan wibawa penuh, Ryu bertanya kesiapan Kenzo memimpin perusahaan.

“Keinginan Papa sudah terpenuhi. Namun, aku masih membutuhkan Papa untuk membimbingku,” gumam Kenzo lirih. Hatinya masih sangat sedih dan merindukan kedua orang tuanya.

Raka, sang tangan kanan, yang mendengar perkataan Kenzo hanya bisa menghela napas. Tak hanya Kenzo yang sedih, pun Raka turut merasakan kesedihan Kenzo.

Siapa yang tidak sedih kehilangan sosok pemimpin yang begitu bijaksana dan baik hati seperti Ryu? Di mansion, para pekerja tak hanya kehilangan Ryu, tetapi juga Rani, seorang ibu rumah tangga yang berhati lembut.

“Apa saya perlu menata ulang ruangan ini?” tanya Raka menawarkan.

“Tolong ganti semua lampu dengan yang lebih terang,” jawab Kenzo memberi titah.

“Baik, Tuan,” sahut Raka.

Kenzo lantas melangkah keluar dari ruangan menuju lobby, diikuti oleh Raka. Dari luar Kenzo memang terlihat sangat tegar, tetapi hatinya masih merasa sangat kehilangan.

“Tunda semua pekerjaan untukku! Aku ingin ke cafe.” Kenzo kembali berkata.

“Baik, Tuan,” sahut Raka.

Raka segera menghubungi Suparmin untuk menyiapkan kendaraan.

Setibanya di sebuah cafe yang dekat dengan kantor …

“Pesan seperti biasanya, Tuan?” tanya seorang pemilik cafe.

Kenzo mengangguk sebagai respons.

Ukh!

Tiba-tiba seorang gadis dengan penampilan berantakan masuk ke dalam cafe. Gadis itu tidak sengaja menyenggol Kenzo dan langsung duduk tepat di sebelahnya.

“Eee, maaf …,” ucap Yoan. Perlahan dia bergeser ke kursi yang lain.

“Mau pesan apa, Nona?” tanya seorang pemilik cafe.

“Tolong izinkan saya duduk di sini sebentar saja,” jawab Yoan, seorang gadis itu.

“Keluarlah! Tidak ada tempat duduk gratis di sini, Nona,” ledek pemilik cafe itu.

“Aku mohon ….”

“Pesanlah sesuatu! Aku akan membayar untukmu.” Itu suara Kenzo.

Bab 2

Berhasil menghindari orang-orang suruhan Barra membuat Yoan merasa sangat kelelahan. Yoan hanya butuh tempat untuk bersembunyi dan menumpang duduk sebentar saja di dalam cafe.

Lagi pula, Yoan tidak membawa uang saat kabur tadi. Lebih tepatnya, Yoan tidak membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya.

“T-tidak perlu repot, Tuan. Saya hanya sebentar saja,” ujar Yoan merasa tidak enak hati. Sesekali pandangannya terarah ke jalanan, memperhatikan orang-orang suruhan Barra yang masih terus berlari. Jelas mereka tidak berhasil menemukannya dan itu membuat Yoan merasa lega.

“Jangan salah sangka! Aku hanya tidak ingin mendengar keributan,” jawab Kenzo. Nada suaranya terdengar begitu datar.

“Oh,” sahut Yoan ragu. Netranya melihat ke arah pemilik cafe dan Kenzo bergantian.

“Apa yang ingin kamu pesan, Nona?” tanya seorang pemilik cafe itu tidak sabar.

“Segelas air dingin,” jawab Yoan menentukan pilihan.

Dengan seringai mengejek, seorang pemilik cafe itu berlalu untuk menyiapkan pesanan.

“Kamu tidak ingin minum jus?” tanya Kenzo menawarkan.

“Itu sudah cukup, Tuan. Setidaknya saya bisa minum dan tidak diusir,” jawab Yoan sambil meringis.

Kenzo hanya mengangguk samar sebagai respons.

Tak lama kemudian, seorang pemilik cafe kembali untuk menyajikan segelas air dingin untuk Yoan dan secangkir kopi hangat untuk Kenzo.

“Terima kasih,” ucap Yoan pelan.

Kenzo memperhatikan gadis itu sejenak, lalu menyeruput minumannya.

“Kamu kabur dari rumah?” tanya Kenzo.

Deg!

Pertanyaan yang tepat sasaran. Apa penampilan Yoan memperlihatkan dengan jelas kalau dia sedang kabur dari rumah?

Tidak tidak … laki-laki ini tidak boleh tahu masalah yang sedang dia hadapi. Yoan tidak mau kembali ke rumah orang tua angkatnya.

“Tidak,” jawab Yoan singkat.

Kenzo kembali menyeruput kopi tanpa memberikan respons.

Sesekali Yoan melirik ke arah Kenzo dengan kedua tangan yang memegang gelas berisi air dingin.

Tampan!

Mau dilihat dari sisi mana pun, Kenzo terlihat sangat tampan dan kaya. Ah, benar … mendadak Yoan memiliki ide.

“Saya membutuhkan pekerjaan,” ujar Yoan memberanikan diri.

Merasa diajak bicara, Kenzo menoleh ke arah Yoan dengan raut wajah bertanya-tanya, “Ya?“

“Saya membutuhkan pekerjaan. Apa Tuan bisa membantu?” Yoan mengulangi pertanyannya.

“Apa keahlianmu?” tanya Kenzo.

“Eee, itu … saya baru saja lulus kuliah,” jawab Yoan sedikit gugup.

Bagaimana ini? Yoan baru sadar kalau dia membutuhkan ijazah untuk melamar pekerjaan.

“Kamu bisa bekerja di perusahaan atau menjadi pelayan di mansion milikku,” ujar Kenzo.

“Pelayan di mansion?” Yoan mengulangi perkataan Kenzo.

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Kenzo.

Yoan menggeleng cepat.

Tidak, Yoan tidak sedang berpikir tentang tinggi atau rendahnya suatu pekerjaan. Dia justru merasa alam semesta sedang berpihak padanya.

“Apa saja fasilitas yang bisa saya peroleh dengan menjadi seorang pelayan?” tanya Yoan berbinar.

“Kamu akan tinggal di mansion dan mendapatkan makan sebanyak tiga kali dalam sehari,” jawab Kenzo.

“Itu semua di luar gaji yang saya terima setiap bulan, bukan?” tanya Yoan lagi. Dia hanya ingin memastikan saja.

“Benar. Selain itu, kamu bisa bertanya secara detail pada kepala pelayan setelah tiba di mansion nanti,” jawab Kenzo.

“Baik. Saya mau bekerja sebagai pelayan di mansion,” ujar Yoan mantap.

“Apa kamu tidak berminat memanfaatkan gelar sarjanamu untuk menjadi seorang karyawan di kantorku?” tanya Kenzo. Terlihat pemuda itu mengernyit keheranan.

“Bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu singkat saja sudah membuat saya sangat bersyukur,” jawab Yoan sambil tersenyum sangat lebar.

“Kapan kamu bisa mulai bekerja?” tanya Kenzo.

“Sekarang juga,” jawab Yoan cepat.

“Silakan kamu memberi tahu keluargamu terlebih dahulu! Sebab sepengetahuanku, menjadi pelayan di mansion tidak bisa sembarangan keluar dan masuk.” Kenzo kembali berkata.

“Saya tidak memiliki keluarga,” jawab Yoan. Suaranya terdengar melirih.

“Kamu tidak memiliki saudara?” tanya Kenzo lagi. Gadis ini benar-benar membuatnya terheran-heran.

“Saya hidup sebatang kara,” jawab Yoan. Kini raut wajahnya terlihat sangat sedih.

Padahal dulu Yoan merasa bangga bisa memiliki Barra dan Ayara yang sudah dianggapnya sebagai orang tua kandung. Bagaimana bisa keadaan tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat?

“Berarti kamu sama sepertiku,” gumam Kenzo sangat pelan.

“Apa Tuan percaya pada cerita saya?” tanya Yoan yang tidak mendengar perkataan Kenzo. Mendadak Yoan merasa sedikit khawatir.

“Apa aku punya alasan untuk tidak percaya?” Bukannya menjawab, Kenzo justru balik bertanya.

“Entahlah,” jawab Yoan pelan.

Dulu Ayara selalu mengingatkan Yoan bahwa di dunia ini hanya sedikit orang saja yang bisa dipercaya. Sekarang Yoan baru sadar, orang lain bisa saja tidak memercayainya.

Apalagi dengan penampilan yang berantakan dan tidak memiliki apa pun, Yoan bisa dicurigai sebagai seorang penipu.

Meskipun demikian, Kenzo yang tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Yoan, tetap memilih untuk percaya dan berniat untuk membantunya.

“Aku akan membayar minuman ini terlebih dahulu,” ujar Kenzo.

Tanpa menunggu jawaban Yoan, Kenzo segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke kasir.

“Zaman sekarang banyak penipu. Jangan terlalu baik dengan wanita yang baru dikenal!” Seorang pemilik cafe itu berkata pada Kenzo.

Walaupun Kenzo tidak merespons, tetapi Yoan yang mendengarnya merasa tidak enak hati. Ternyata seperti ini rasanya dianggap rendah oleh orang lain.

Selama tinggal bersama Barra dan Ayara, Yoan selalu hidup berkecukupan. Tidak ada seorang pun yang berani merendahkan Yoan karena posisi Barra sebagai seorang presiden direktur di sebuah perusahaan keluarga.

Kini sudah waktunya Yoan mengingat akan jati dirinya sebagai seorang yatim piatu. Sejak lahir Yoan bukan siapa-siapa.

Yoan tidak ingin mendengar lebih banyak lagi perkataan sang pemilik cafe. Lebih baik dia segera keluar dan menunggu di luar cafe.

Dengan sangat hati-hati dan tanpa suara, Yoan berjalan keluar. Yoan lantas berdiri di depan pintu untuk menunggu Kenzo. Yoan meremat-remat ujung bajunya sambil mengedarkan pandang.

Namun, baru saja Yoan melihat ke arah pukul dua, dia melihat salah seorang anak buah Barra.

“Aduh, gawat!” gumam Yoan dengan mata membola. Seketika Yoan kembali masuk ke dalam cafe dan … bruk!

“Ouch!”

Yoan menabrak Kenzo yang ternyata sudah berjalan keluar dari cafe.

“Maaf … saya minta maaf, Tuan. Saya tidak sengaja,” ucap Yoan sambil berusaha mendorong Kenzo agar masuk kembali ke dalam cafe.

“Hei, kita sudah selesai dan aku mau mengantarmu ke mansion sekarang,” ujar Kenzo.

“M-maaf, Tuan. Saya hanya perlu memeriksa, barangkali ada barang-barang Tuan yang tertinggal,” jawab Yoan. Di dalam hati, Yoan merutuki dirinya yang begitu bodoh. Jawaban macam apa itu?

“Tidak ada barang yang—“

Kenzo menghentikan perkataannya dan melihat orang-orang Barra yang melihat ke arah mereka. Firasatnya berkata, orang-orang itu sedang mengincar gadis yang berada di dalam pelukannya ini.

Benar, posisi Kenzo dan Yoan saat ini memang seperti pasangan yang sedang berpelukan. 

Bab 3

Siapa gadis ini sebenarnya? Mengapa orang-orang itu mengejarnya? Apa Kenzo harus melindunginya? Berada di posisi yang sangat dekat membuat Kenzo dapat merasakan tubuh Yoan yang bergetar sangat hebat.

“Tuan, silakan masuk ke dalam mobil!” ujar Raka. Tangan kanan Kenzo ini datang tepat waktu.

“Tetaplah berada di posisimu yang seperti ini dan bergeraklah seirama dengan langkahku!” titah Kenzo.

“I-iya,” sahut Yoan patuh.

Ketika Raka hendak menarik Yoan, Kenzo segera memberi tanda agar Raka tetap tenang dan melindungi mereka.

Kenzo lantas memeluk Yoan dan membawanya masuk ke dalam mobil.

“Sudah aman, tetapi sebaiknya kamu tetap menunduk!” ujar Kenzo.

Yoan bisa bernapas lega sekarang, tetapi dia takut Kenzo akan membatalkan niat untuk memberinya pekerjaan.

Ah, kenapa orang-orang suruhan Barra itu masih saja berkeliaran di dekat cafe? Bukankah tadi mereka seharusnya sudah pergi? Bagaimana kalau mereka mengikuti mobil milik Kenzo? Apa yang harus dikatakan Yoan pada Kenzo? Yoan tidak ingin kembali ke rumah Barra.

Kenzo menoleh ke belakang sejenak sebelum melirik ke arah Yoan yang masih setia menunduk.

“Duduklah dengan baik! Sekarang sudah aman,” ujar Kenzo pelan.

Perlahan Yoan mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Kenzo. Lalu, dia bertanya, “Benarkah?”

Kenzo hanya mengangguk sebagai respons.

Yoan segera duduk dengan benar dan merapikan rambut serta pakaiannya.

“Maafkan saya, Tuan. Itu tadi—“

“Kita langsung pulang ke mansion,” titah Kenzo. Lebih tepatnya, saat ini Kenzo sedang bicara dengan Raka dan Suparmin, supir pribadinya.

“Baik, Tuan,” sahut Raka.

“M-maaf, T-tuan. A- apa s-saya masih boleh bekerja sebagai pelayan di mansion?” tanya Yoan. Dia merasa sangat gugup dan khawatir.

“Bukankah kamu sudah memilih untuk bekerja di mansion?” jawab Kenzo sambil menampilkan raut wajah yang bertanya-tanya.

“Iya, benar,” sahut Yoan pelan. Diam-diam Yoan menghela napas lega. Rupanya Kenzo tidak berubah pikiran.

Di sepanjang perjalanan, sesekali Kenzo memperhatikan Yoan sambil memikirkan sesuatu. Sedangkan Yoan yang merasa diperhatikan justru menjadi salah tingkah dan memilih untuk melihat ke arah luar jendela.

Yoan hanya berharap, keputusannya untuk ikut Kenzo ini tidak salah. Dia harus bekerja agar memiliki uang dan bisa hidup mandiri.

Sementara Kenzo sendiri juga berharap, keputusannya untuk membantu Yoan itu tidak salah. Firasatnya harus benar.

Beberapa saat kemudian, kendaraan masuk melewati pintu gerbang mansion.

Yoan yang masih pada posisinya menatap ke arah luar jendela mobil, melihat mansion dengan berbinar. Mansion ini mirip seperti hotel bintang lima. Ralat! Mungkin Yoan terkesan terlalu berlebihan. Mansion ini ukurannya tidak sebesar hotel bintang lima. Namun, untuk ukuran tempat tinggal ini termasuk sangat luas dan sangat mewah.

Apa masih terlalu dini kalau Yoan merasa bersyukur bisa bekerja di sini? Ini tempat kerja yang sangat bagus.

Suara pintu mobil yang ditutup membuat Yoan terkesiap.

Ah, rupanya Yoan terlalu mengagumi mansion sehingga tidak sadar kalau Kenzo sudah turun dari mobil.

Tanpa berpikir lebih lama, Yoan bergegas keluar dari mobil dan melangkah mengikuti Kenzo. Hingga mereka tiba di ruang tengah.

“Tolong panggil kepala pelayan!” titah Kenzo pada Raka sambil melirik ke arah Yoan yang masih menunduk.

“Baik, Tuan,” sahut Raka.

Tidak membutuhkan waktu lama, Raka sudah kembali bersama Hena, kepala pelayan.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Hena.

“Gadis ini ….” Kenzo menatap ke arah Yoan dengan raut wajah bertanya-tanya. Dia baru ingat kalau mereka belum berkenalan.

“Perkenalkan, nama saya Yoan,” ujar gadis itu sambil membungkuk.

“Benar, namanya Yoan. Aku baru saja menerimanya sebagai pelayan di mansion. Mohon agar membimbingnya,” lanjut Kenzo.

“Baik, Tuan,” sahut Hena.

“Hena adalah kepala pelayan di sini. Kamu bisa bertanya perihal pekerjaan di mansion ini dengannya,” ujar Kenzo. Tatapannya beralih pada Yoan.

“Baik, Tuan,” sahut Yoan.

Kenzo mengangguk samar sebagai tanda kalau dia sudah selesai bicara.

“Mari ikut saya, Yoan,” ajak Hena.

“Terima kasih banyak untuk bantuannya, Tuan,” ucap Yoan sambil membungkuk untuk menghormati.

Yoan lantas berjalan mengikuti Hena melewati lorong, menuju ke sebuah ruangan.

“Ini ruangan yang bisa kamu gunakan untuk beristirahat,” ujar Hena memberi tahu.

Yoan mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan itu sambil bergumam, “Ini kamarku?”

“Benar. Ini kamar kamu,” jawab Hena.

“Baik,” sahut Yoan sambil menatap kagum ruangan itu. Ini melebihi harapannya.

“Dalam satu bulan para pelayan akan mendapat libur sebanyak dua hari. Kalian boleh pulang ke rumah untuk bertemu dengan keluarga. Tentu saja itu boleh dilakukan secara bergantian.” Hena melanjutkan penjelasannya.

“M-maaf, seandainya saya tidak menggunakan hari libur—“

“Kamu bisa mengumpulkan hari libur dalam satu tahun dan menggunakannya sekaligus,” tambah Hena.

“Ah, begitu rupanya. Akan tetapi, apa tidak masalah kalau aku tidak menggunakan hari libur itu?” tanya Yoan.

Pertanyaan Yoan membuat Hena praktis mengernyit.

“Kamu tidak berniat menggunakan hari libur?” jawab Hena dengan nada bertanya.

“Maksud saya … apa saya harus pulang menemui keluarga? B-bagaimana seandainya saya tetap tinggal di mansion?” Yoan memperjelas pertanyaannya.

“Itu tidak masalah,” jawab Hena.

“Baik,” sahut Yoan. Tanpa sepengetahuan Hena, Yoan menghembuskan napas lega.

“Apa kamu punya nomor rekening?” tanya Hena.

“Maaf, saya tidak punya,” jawab Yoan sambil menunduk.

“Baik, kalau begitu upah yang kamu terima tidak bisa dikirimkan melalui rekening,” ujar Hena.

“Tidak apa-apa. Saya bisa menerimanya secara langsung,” jawab Yoan.

“Jika ada kesempatan, bukalah rekening! Itu akan lebih memudahkan,” tutur Hena.

“Baik, Bu,” sahut Yoan. Setidaknya dia bisa merasa lega untuk saat ini.

“Dapur adalah salah satu tempat yang harus dijaga kebersihannya. Itu sebabnya, pelayan di mansion tidak diizinkan masuk ke dalam dapur. Apa kamu mengerti?” Hena menerangkan.

“Baik, saya mengerti,” jawab Yoan.

“Hari ini saya akan menjelaskan semuanya. Besok kamu baru mulai bekerja,” lanjut Hena.

“Baik, Bu,” sahut Yoan.

Yoan lantas berjalan mengikuti Hena dan mengingat baik-baik semua penjelasannya.

***

Sementara itu di ruang kerjanya yang ada di mansion, Kenzo tidak bisa berhenti memikirkan Yoan.

Tidak tidak … Kenzo tidak sedang jatuh cinta. Gadis yang baru ditemuinya itu hanya berhasil mencuri perhatiannya saja.

Kenzo yakin kalau Yoan sedang menghadapi masalah. Akan tetapi, untuk menghargai privasinya, Kenzo tidak mungkin bertanya secara langsung pada Yoan. Mereka baru saja bertemu.

“Jadi, namanya Yoan,” gumam Kenzo pelan.

“Bagaimana, Tuan?“ tanya Raka.

Mendengar suara Raka, tiba-tiba Kenzo memiliki ide. Ah, benar! Daripada merasa penasaran sendiri, sebaiknya Kenzo mencari tahu.

“Raka, aku memiliki tugas untukmu, tetapi kamu harus merahasiakannya,” ujar Kenzo.

“Apa yang bisa saya lakukan, Tuan?” tanya Raka.

“Tolong cari tahu tentang gadis itu!” titah Kenzo.

“Maaf, apa gadis yang Tuan maksud itu Yoan, pelayan baru itu?” tanya Raka.

“Benar,” jawab Kenzo.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED