Percakapan dua penghuni kos itu membuat Ilya ke pikiran semalaman, hingga dirinya tidak bisa tidur. Ilya berniat menanyakan kepada penghuni sekitar, tapi Ilya belum mengenal mereka. Tiba-tiba, Ilya ingat Mira sudah tiga bulan bekerja di perusahaan sebelum dirinya. Maka Ilya menganggap, Mira pasti mengetahui soal Rupert, dan sejarah tentang vampir itu.
Esok harinya Ilya menghubungi Mira, untuk mampir ke kamar kosnya.
Beberapa jam kemudian, Mira datang mengunjungi Ilya. Namun Ilya agak terkejut, karena penampilan Mira agak berbeda dari yang biasanya. Mira terlihat kusut, dan pucat. Melihat Mira, membuat Ilya semakin yakin soal Rupert.
“Mira, apa kau tahu? Hari ini aku mendengar, ada orang yang meninggal di kos ini tiga minggu lalu. Nama korban itu Rupert, bukankah dia adalah orang yang bekerja di perusahaan tempat kita bekerja sekarang?” Ilya memperhatikan ekspresi Mira yang berubah begitu mendengar nama Rupert.
“Bagaimana kau tahu soal Rupert? Apa kau mengenalnya? Apa kalian pernah bertemu?” Mira menggebu-gebu.
Perkataan Mira baru saja membuat Ilya yakin, bahwa Rupert yang meninggal tiga minggu lalu adalah Rupert yang ia dengar waktu itu. Itu berarti, Mira mengenal Rupert, karena mereka bekerja di perusahaan yang sama.
Tetapi Ilya merasa kecewa, kenapa Mira diam saja, dan tidak memberitahukan dirinya soal Rupert? Padahal Ilya, dan Mira masih sering bicara satu sama lain.
“Kenapa kau tidak mengatakan soal Rupert?”
Namun Mira tidak menjawab dan malah berbalik bertanya pada Ilya. Mira terlihat sedikit terkejut, dan tampak kesal. “Apa? Jangan bilang kau menyesal akan bekerja di sini? Jika kuberitahu, apa kau akan menolak tawarannya?”
Keduanya pun bertengkar, Ilya tidak percaya Mira begitu egois pada dirinya. Mira hanya mementingkan dirinya sendiri, dan tidak mengkhawatirkan Ilya sama sekali. Sebagai seorang teman, Ilya menganggap Mira seharusnya malah yang melarangnya bekerja di tempat itu, paling tidak memberitahukannya soal kematian Rupert.
Pada akhirnya, Mira berujung meminta maaf, dan menangis kepada Ilya. Mira meminta Ilya agar tetap bekerja bersamanya, dan tidak pergi dari Kota Wilhem.
“Maafkan aku Ilya, tapi aku takut kau tidak akan bekerja di sini, jika kau mengetahui beritanya... Aku sangat takut!! Terserah jika kau mau bilang aku egois!!! Tapi aku tidak bisa... Rasanya aku tidak punya siapa-siapa, aku takut... La-lagi pula meskipun pembunuhnya belum ditemukan, tapi asal kita waspada, tidak sendirian keluar di malam hari, maka akan baik-baik saja kan?” Mira mengucapkan dengan suara bergetar.
Ilya menghela napasnya... Ilya berpikir seandalnya Mira memberitahukan soal Rupert sebelum dirinya menandatangani kontrak kerja, apakah Ilya akan menolak tawaran untuk bekerja di perusahaan? Ilya mengingat Vincent.
Padahal bukan hanya karena membutuhkan pekerjaan, alasan utama Ilya menerima tawaran pekerjaan ini adalah karena dia bertemu dengan Vincent, orang yang sangat mirip dengan Elias.
Ilya terdiam tidak menjawab, melihat Mira menangis, membuat Ilya menjadi tidak tega. Pada akhirnya mereka berdua berbaikan. Meski begitu, Ilya terlanjur kehilangan kepercayaan pada Mira. Padahal Ilya menganggap Mira selama ini sebagai temannya. Ilya bahkan ingin menceritakan soal Vincent yang mirip dengan Elias, namun Ilya mengurungkan niatnya.
****
Seminggu kemudian, Ilya masuk kerja untuk pertama kalinya di perusahaan. Tidak disangka Ilya bertemu dengan Lyra, mereka berdua tinggal di tempat kos yang sama, bahkan kamar kos mereka bersebelahan. Lyra adalah rekan kerja senior di tim data analis yang sudah bekerja hampir setahun. Keduanya jadi lebih dekat, terutama karena Ilya adalah pengganti Lyra nantinya.
Ilya tidak menyangka, ia harus belajar semuanya, mulai dari report, pendaftaran barang baru, dari Lyra hanya dalam satu minggu. Bahkan karena terlalu sibuk, Ilya tidak punya kesempatan melihat Vincent.
Akhirnya hari terakhir Lyra bekerja di perusahaan pun tiba juga. Meskipun pertemuan Ilya dengan Lyra begitu singkat. Namun karena Lyra orang yang sangat ramah, Ilya merasa sedikit kesepian melihat rekannya itu berpamitan pada karyawan lain.
Semua karyawan bertepuk tangan, dan satu per satu mengambil donat yang Lyra bawa.
Di jam 6 sore, setelah satu tim foto bersama, Ilya dan anggota tim yang lain pulang ke rumah masing-masing.
“Ilya, kau pulang duluan ya, aku masih mau bertemu dengan manajer. Aku akan pulang dengannya,” ucap Lyra.
Ilya mengangguk, dan berjalan ke luar kantor. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, kemudian terbuka dari jendela, terlihat Vincent di kursi kemudi mobil.
“Ilya! Kau pulang sendirian? Tumben, bareng aku saja. Ayo aku antar pulang, sudah sore!”
Seminggu ini, Ilya biasanya pulang bersama Lyra.
“Eh tapi..” Ilya sedikit ragu, tentu saja ia ingin diantar pulang Vincent, tetapi Ilya mengkhawatirkan Jika karyawan lain yang melihatnya pulang bersama bos...
“Apa kau mau dibukakan pintunya?” tanya Vincent lagi.
“Eh??” Ilya pun langsung membuka pintu mobil, dan duduk.
Padahal hanya diantar pulang, tapi kenapa perasaan Ilya begini? Ilya merasa begitu senang dengan hanya diantarkan Vincent.
Sekitar jam 8 malam, Ilya menyadari kalau handphone miliknya tertinggal di kantor. Ilya berniat mengambil ponselnya. Agar lebih cepat sampai, Ilya berniat meminjam sepeda milik Lyra. Namun Ilya heran, mengingat sudah malam begini, kamar kos Lyra masih gelap, dan tidak ada sandal di luar pintu kamarnya. Akhirnya Ilya meminjam pada penghuni kos lain.
“Apa mereka berdua kencan sampai larut malam?” Pikir Ilya tersenyum membayangkan Lyra, dan manajer Edmond.
Kantor masih terang, namun Ilya tidak mendapati ada satpam sama sekali. llya pun bergegas masuk, mengambil ponselnya begitu tiba. Namun Ilya melihat kardus berisi barang Lyra masih ada di mejanya. Ilya bertanya-tanya, apakah Lyra masih ada di kantor?
Bukankah Lyra bilang akan menemui Edmond? Ilya yang penasaran lalu pergi ke ruangan Edmond. Ilya berjalan pelan-pelan berharap mereka berdua tidak menyadari kedatangannya. Ilya tidak habis pikir, kenapa keduanya berpacaran di kantor? Dan apa karena itu, manajer menyuruh satpam pulang?
“Huh?” Dari kejauhan Ilya melihat seorang pria tinggi berambut putih dari belakang tengah memeluk seorang wanita.
“Deg..” Ilya cemas, apakah mungkin itu Vincent? Merasa tidak percaya, Ilya mendekat. Seiring Ilya berjalan ke Ruangan Edmond, Ilya melihat sesuatu yang ada di luar nalarnya.
Ruangan Manajer, maupun ruangan bekerja lain, semua punya jendela yang transparan. Sehingga Ilya dapat melihatnya dengan jelas.
Ilya berusaha tidak berteriak, ia menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya terpaku melihat leher seorang wanita berambut panjang hitam, mengeluarkan darah yang mengalir turun. Mata hitam perempuan itu memancarkan cahaya yang redup, seperti tidak ada kehidupan. Wajah panjang wanita itu putih pucat, tidak bergeming sama sekali, meski wanita itu seharusnya melihat Ilya.
“Lyra... bagaimana bisa? Kenapa bisa begini?” Dalam benak Ilya.
Ilya membayangkan wanita ramah nan ceria itu, kini hanya diam digigit oleh seorang pria.
Ilya tidak mengenali pria itu, sekilas terlihat seperti Vincent, tapi tubuhnya berbeda. Sayangnya, karena posisi pria itu membelakangi Ilya, sehingga Ilya tidak bisa melihat wajah pria itu. Ilya tidak percaya itu Vincent, tapi tidak ada orang lain di kantor yang berambut putih.
Tubuh Ilya gemetaran, kakinya lemas, hingga rasanya Ilya tidak kuat untuk berjalan. Ilya tidak percaya, dia melihat vampir di depan matanya. Ilya tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ilya terus melihat Lyra, bagaimana caranya untuk menyelamatkan Lyra? Jika Ilya tidak pergi ke sana, apa Lyra akan mati?
Akan tetapi Ilya sadar dirinya hanya seorang manusia biasa, apa yang bisa ia lakukan? Ilya berbalik arah berjalan pelan-pelan menjauhi mereka. Saat mencapai cukup jauh, Ilya akan menghubungi polisi untuk meminta bantuan, hanya itu yang terbesit dalam benak Ilya.
Ilya menarik napas berulang, berusaha tetap tenang, kemudian berjalan dengan pelan selangkah demi selangkah sambil memohon di dalam hatinya agar tidak ketahuan.
“Krieet!!” Tiba-tiba Ilya berhenti, begitu mendengar suara pintu terbuka dari belakang.
Jantung Ilya berdebar begitu cepat. Secepat mungkin, Ilya menengok ke belakang. Ilya begitu ketakutan melihat seorang pria berlari mengejarnya. Dengan spontan Ilya berlari sambil menengok ke belakang beberapa kali.
Edmond?? Ilya tidak percaya, kenapa Edmond yang berambut hitam, mewarnai rambutnya? Namun tidak ada waktu bagi Ilya untuk memikirkannya, Ilya hanya berlari secepat mungkin.
“KENAPA KAU YANG MENEMUKANKU???” teriak Edmond dengan amarah, menatap punggung Ilya yang tengah berlari dengan pandangan tajam.
“TOLONG!!!!” Ilya berteriak sekeras-kerasnya, berharap siapa pun ada yang mendengarnya. Meski Ilya tahu tidak ada siapa-siapa di kantor.
Koridor berasa tak berujung bagi Ilya yang berusaha menghindar. Napasnya tersengal-sengal, karena berlari. Sayangnya Ilya tidak berhasil kabur. Edmond berhasil memegang tangan Ilya, lalu menjatuhkan Ilya ke dasar lantai dengan kasar.
Ilya melihat Edmond mengeluarkan pisau, dan hendak menusuk dirinya. Ilya ingin kabur, tapi cengkeraman Vincent terlalu keras, belum lagi badannya juga terasa sakit. Ilya pun menangis, “Apa ini akhirnya? Hanya seperti kehidupannya?” gumam Ilya dalam hati.
Elias... terbesit wajah Elias dalam benak Ilya. Kemudian Ilya menutup matanya, Ilya merasa berakhir sudah semuanya...
“Arrghhh,” Ilya terkejut mendengar suara Edmond berteriak kesakitan. Ilya refleks membuka matanya, dan melihat sebuah jarum suntik ditancapkan di lengan Edmond yang tengah memegang pisau.
Ilya melihat orang yang menancapkan suntikan berwarna kehijauan itu. Vincent?? Bagaimana bisa dia kembali ke sini? Apa dia juga punya barang yang ketinggalan di kantor? Ilya bertanya-tanya dalam hatinya.
“Aku tidak menyangka, kau menyamar seperti diriku. Jika ada yang melihat kau kabur dari sini dalam kegelapan, aku bisa dalam masalah,” ucap Vincent.
“Maaf, aku terlambat Ilya,” Vincent lalu menarik Edmond dan melemparnya ke pojok dinding.
Melihat Edmond tidak bergerak, Ilya penasaran, apa Edmond sudah mati? Bukankah dia vampir? Apa semuanya berakhir begitu mudah karena suntikan?
“A-apa dia sudah mati?” tanya Ilya gemetar sambil berusaha bangkit berdiri.
“Tidak semudah itu, lagi pula aku ingin menanyakan beberapa hal padanya!” Vincent lalu mencabut rambut palsu Edmond.
Vincent yang melihat Ilya kesulitan berdiri, kemudian membantu Ilya, “Lebih baik kau tunggu di sini, aku akan mengantarmu pulang. Kau sepertinya masih terkejut, kakimu masih gemetaran.”
“Aku baik-baik saja,” jawab Ilya singkat.
Vincent mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi seseorang, namun tidak ada yang menjawab panggilannya. Sekilas Ilya mengintip, seseorang bernama Sera tertera di layar ponsel Vincent.
Beberapa menit berselang, Ilya mulai tenang, dan Ilya langsung teringat pada Lyra. Sontak Ilya berlari menuju Ruang Edmond.
Vincent memanggil Ilya, dan mengikutinya.
Sementara, Lyra sudah tergeletak di lantai dekat meja kerja. Ilya langsung menghampiri Ilya, mengambil tangan untuk mengecek denyut nadi Lyra. Mata Ilya berkaca-kaca, Lyra sungguh sudah tidak bernyawa lagi.
Vincent yang mengikuti Ilya terkejut, dan berteriak pada Ilya.
“Menjauh darinya!!” sontak Vincent panik mengambil tangan Ilya, “Apa yang kau hendak lakukan?”
Ilya terkejut mendengar Vincent meneriakinya. Apa Vincent berpikir, dirinya yang membunuh Lyra? Ilya marah, dan berbalik membentak Vincent.
“Aku hanya mengecek dia masih bernafas atau tidak!!! Memangnya kau pikir aku yang membunuhnya???” Air mata Ilya mengalir, suaranya pun bergetar karena tangisan.
Vincent terdiam, merasa bersalah karena sudah berteriak. “Maaf, tapi sebaiknya kau tunggu di luar saja. Biar aku yang menanganinya!” Vincent memegang tangan dan leher Mira, seperti memeriksa sesuatu.
Ilya mundur dari Vincent, namun dia tidak keluar dari tempat itu, meski Vincent memintanya. Ilya memperhatikan Vincent dari belakang, bertanya dalam hati apa yang Vincent lakukan pada Lyra? Apa Vincent ingin memastikan penyebab Lyra mati?
Ilya tidak sengaja menengok ke luar jendela ruangan, matanya terkejut melihat Edmond berdiri dari luar tengah mengarahkan pistol ke Vincent. Ilya bingung, bukankah tadi Edmond sudah pingsan??
Kejadian terjadi begitu cepat, Edmond hendak menarik pelatuk itu, dan sontak badan Ilya bergerak sendiri.
“ELIAS!!!" Ilya berteriak memanggil Vincent dengan nama yang salah secara spontan. Vincent menoleh, melihat Ilya melompat melindungi dirinya, dan “Duarrrr,” Ilya tertembak, terpental ke depan Vincent.
Sontak Vincent menangkap Ilya.
“ILYA!!!” Vincent berteriak, namun Ilya tidak merespons.
Edmond terlihat kaget, “Apa aku salah?? Sekarang aku harus bagaimana?” Edmond kebingungan, dia hendak menarik pelatuk kembali untuk melancarkan tembakan berikutnya.
Namun Vincent berlari, dengan cepat menendang pistol Edmond, lalu mengambil pistol yang terlempar itu, dan menembakkan peluru ke kepala Edmond.
“Duarr,” Edmond tergeletak seketika.
Vincent lalu membuang pistol itu, lalu berlari kembali menghampiri Ilya. Vincent merangkul Ilya yang sudah setengah sadar.
“Ilya aku mohon bertahanlah.........” teriak Vincent bergetar.
Ilya tidak mendengar apa pun perkataan Vincent. Perlahan pandangan Ilya mulai kehilangan cahayanya, dan menjadi gelap.
****
Terdengar teriakan wanita sebelum suara tembakan. Seorang wanita yang kini tergeletak di lantai. Tidak lama tembakan yang sama menjatuhkan seorang pria dewasa ke sebelah sang wanita.
Dengan kesadaran yang tersisa, pria itu berusaha menggapai anak kecil di depannya, “I..Ilya la..ri.......” Kata-kata pria itu tidak jelas, tapi setelah mengucapkan kata singkat itu, dia menghembuskan napas terakhirnya.
Anak perempuan kecil itu menangis, dan tiba-tiba seseorang mendekatinya. Anak kecil itu sempat menengok, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap bagi anak kecil itu.
“Mimpi??” Ilya terbangun menyadari dirinya baru saja mengingat, bagaimana ia kehilangan orang tuanya. Ini pertama kali bagi Ilya mengingat kejadian penembakan itu, karena setelah penembakan, Ilya disekap selama 7 tahun, sehingga ia syok berat, dan tidak mengingat apa-apa. Ilya sampai sekarang tidak tahu apa yang penculik itu lakukan terhadap dirinya.
Pasti karena tembakan kemarin, Ilya berpikir dia jadi mengingat masa lalunya, walau masih samar-samar. Bahkan Ilya tidak mengingat wajah kedua orang tuanya itu.
“Jangan bergerak sembarangan!! ucap seorang perawat di dekatnya. “Aku panggilkan dokter ya,” perawat itu pun pergi tergesa-gesa.
Ilya melihat kedua tangannya, dia tidak percaya dirinya masih hidup setelah melihat vampir. Tapi Ilya sedih, karena dirinya sudah memastikannya sendiri, Lyra tidak selamat...
Namun sebenarnya apa yang terjadi? Ilya masih tidak habis pikir, kenapa Edmond bisa terbangun kembali? Apa Edmond hanya pura-pura pingsan? Ilya kira suntikan itu semacam bius.
Karena Ilya berhasil dirawat di rumah sakit, Ilya menganggap Vincent berhasil melumpuhkan Edmond. Ilya berharap Vincent baik-baik saja, tapi apa Edmond masih hidup?
Ilya menunggu-nunggu siapa pun datang mengunjunginya, memberinya kabar.