Bab 1

“Apa kau mau duduk sebangku denganku lagi?” Elias mengatakannya dengan serius kepada seorang wanita berambut putih, yang menggunakan pita merah di rambutnya. Wanita itu terkejut, mukanya memerah, dan jantungnya berdebar seketika.

****

Tahun 2001, ketika semester baru dimulai, Ilya, dan murid-murid lain berkumpul di aula sekolah. Tepatnya mereka ada di depan papan pengumuman pembagian kelas XI. Tetapi anehnya, meskipun sudah melihat secara keseluruhan, Ilya tidak menemukan nama Elias. Perasaan cemas meliputi Ilya, apa Elias tidak sekolah di sini lagi? Apakah ucapan Elias hari itu tidak ada artinya?

“Ilya!!” Seorang pria berlari menghampiri Ilya.

Ilya menengok ke arah pria itu, “Robert? Kenapa kau berlari sampai terengah-engah begitu?” tanya Ilya keheranan.

“E-Elias..”

Melihat Robert panik membuat Ilya takut, apakah sesuatu terjadi pada Elias? “Apa yang terjadi padanya?”

“Baru saja kemarin aku dengar kabar. Elias sudah pindah saat liburan kenaikan kelas kemarin. Rumahnya kosong, aku juga tidak tahu kapan pastinya, karena aku sekeluarga tengah berlibur ke luar negeri. Tapi yang kudengar dari tetangga, ada penembakan di keluarga mereka, hanya Elias yang selamat. Aku pikir Elias akan menghubungimu,” teman Elias itu terlihat murung.

“Deg...” Rasanya jantung Ilya berhenti sejenak. Penembakan? Hal mengerikan seperti itu juga terjadi padanya?? Ilya jadi mengerti, mengapa selama liburan, SMS yang ia kirim kepadanya, tidak kunjung mendapat balasan.

Pagi esoknya, setelah menghadap wali kelas, Ilya mendapat kontak panti asuhan yang merawat Elias. Entah apa yang terjadi, sehingga seorang mengaku dirinya adalah ibu panti, mengambil hak asuh atas Elias. Ilya berusaha menghubungi nomor telepon panti itu, namun tidak ada yang menjawab. Bahkan Ilya juga tidak menemukan nama panti itu di internet. Apa hanya sampai seperti ini, apakah ia tidak bisa bertemu lagi dengan Elias? Tidak ada yang bisa Ilya lakukan, Ilya menyerah, dan hanya bisa berharap akan keajaiban.

****

Sepuluh tahun kemudian, Ilya mendapat sebuah telepon dari Mira, teman kuliahnya.

“Ilya ada kabar baik, bukankah kau sedang mencari pekerjaan? Perusahaanku bekerja sedang membuka lowongan bagian data analis.”

Ilya pun memberanikan diri, mengambil tawaran temannya, Mira. Ilya memutuskan pergi ke sebuah desa di pulau yang dikelilingi oleh laut. Desa yang luas, terkenal dengan cuaca sejuk, dan periode malam yang lebih panjang dari siang harinya, yang dikenal dengan Desa Wilhem.

Perusahaan Casie, meski perusahaan ini berada di pulau, Ilya terkejut melihat gedung yang begitu tinggi.

“Permisi, Aku di sini untuk wawancara,” ucap Ilya pada seorang resepsionis.

“Ilya!!! Sebelah sini!” ucap seorang wanita berambut panjang pirang melambai tangan ke arah Ilya.

“Mira!!” Ilya mendekati teman yang meneleponnya beberapa hari lalu itu.

Mira lalu mengantar Ilya ke ruangan CEO perusahaan itu.

“Apa kau gugup?”

“Sedikit.” Ilya menggerakkan tangannya terus, tidak bisa diam.

“Tenang saja, dia orangnya tidak galak kok. Malahan dia itu tampan!” ucap Mira dengan senyum berseri di wajahnya. Mira menyemangati Ilya lalu pergi setelah mereka berdua sudah sampai di depan ruangan CEO.

Ilya menarik napas dalam-dalam. “Semangat Ilya, kamu pasti bisa!” ucap Ilya menyemangati dirinya sendiri.

“Krieett!” Ilya membuka pintu perlahan, dan begitu terkejut. Jantungnya seperti mau meledak saat itu juga. Bagaimana mungkin setelah tahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka berdua kembali?

Ilya tidak habis pikir, Elias... Orang yang sudah lama menghilang itu kini ada di depannya, tengah duduk di meja dengan kemeja, dan jas yang rapi. Ilya berlari menghampiri pria di hadapannya itu. “Elias? Kau Elias kan?? Apa kau ingat aku? Ilya Iris, teman sebangkumu waktu kelas 10!!”

“Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” ucap pria itu dengan nada datar.

Seketika dunia seperti runtuh bagi Ilya. Orang yang ia masih sering pikirkan selama beberapa tahun, cinta pertamanya itu tidak mengenalinya lagi. Ilya merasa begitu kecewa. Apa dirinya tidak penting untuk Elias, sehingga dia tidak diingat? Ilya berusaha berpikir positif. Apa mungkin Elias sengaja berkata begitu?

“Kau Ilya Iris kan? Sepertinya ada salah paham.” Pria itu lalu menjabat tangan Ilya, “Senang bertemu denganmu, perkenalkan saya Vincent Valore, CEO perusahaan ini.”

Vincent? Ilya tidak percaya, bagaimana mungkin dua orang yang begitu mirip? Ilya pun memperhatikan pria yang menjabat tangannya itu dengan seksama. Rambut putih, alis mata ungu, bibir mungil, dan wajah tirusnya. Meski sudah beberapa tahun lamanya, masih terlihat begitu sama, mana mungkin orang ini bukan Elias? Hanya saja Ilya menyadari satu hal berbeda, warna rambut Elias. Karena seingat Ilya, Elias berambut hitam.

“Nona Ilya!!” Vincent memanggil Ilya lebih keras untuk mendapat perhatiannya. “Apa kita bisa lanjutkan sesi interview ini?”

“Ah maaf, silakan dilanjutkan.”

Beberapa menit pun berlalu, dan sesi tanya jawab itu mencapai akhir. Ilya, dan Vincent saling berjabat tangan.

“Terima kasih Ilya atas waktunya, sampai jumpa di bulan depan.”

Ilya keluar, lalu menutup pintu Ruangan Vincent, dan bersandar pada pintu itu. Bagi Ilya, bertemu dengan Vincent adalah harapan baginya. Ilya bertekad selama bekerja di perusahaan itu, Ilya akan menemukan bukti, bahwa Vincent adalah Elias. Saat itu terjadi Ilya akan bertanya pada Elias, kenapa Vincent berbohong soal identitasnya.

Tiba-tiba seorang pria berlari melewati Ilya, hampir saja mereka berdua bertabrakan. Untung saja Ilya, bisa menghindar. Akan tetapi pria itu sama sekali tidak memperhatikan Ilya, dan malah buru-buru ke meja seseorang. Ilya pun melihat pria itu sambil menggelengkan kepala.

“Tolong bantu aku Edmond! Rupert absen hari ini, kau harus membantuku menyelesaikan PO-PO ini!” Pria itu menarik tangan Edmond.

“Tunggu Norman!!” Edmond terlihat terusik.

****

Tiga minggu kemudian, Ilya tengah membersihkan kamar kos barunya, yang tidak terlalu jauh dari kantor barunya. Ilya bersemangat untuk bekerja minggu depan, Ilya akan bertemu dengan pria berwajah seperti Elias kembali.

Ilya lalu hendak pergi keluar ke warteg untuk membeli makanan, namun tidak sengaja mendengar percakapan antara penghuni kos lain.

“Hey!! Kau dengar soal penghuni kamar nomor 10?”

“Tentu saja!! Sampai sekarang aku masih merinding!! Aku masih tidak percaya, sudah tiga minggu pelakunya belum ditemukan! Memikirkannya membuatku takut! Kalau saja aku tidak terikat kontrak di tempat kerjaku, aku sudah pindah!”

“Jangan bilang kau juga percaya soal rumor vampir itu!”

“Kalau bukan vampir siapa lagi?? Dia ditemukan di hutan dengan bekas gigitan di lehernya!”

“Bukankah polisi sudah bilang, vampir itu sudah lama mati! Pelakunya adalah manusia yang menggunakan metode layaknya vampir. Pelakunya mengikuti sejarah vampir di tempat ini!”

Suara kedua penghuni kos itu perlahan menghilang seiring mereka menaiki tangga melewati Ilya. Namun perkataan soal Vampir? Rupert meninggal? Membuat Ilya langsung teringat dengan kejadian yang ia dengar saat interview.

Ilya cemas, karena nama Rupert adalah pegawai yang disebut tidak masuk saat hari di mana Ilya wawancara. Ilya hanya berharap, Rupert yang dimaksud penghuni kos tadi adalah orang yang berbeda.

Tetapi yang paling mencemaskan Ilya, adalah soal vampir, dan sejarahnya? Mahluk yang dikenal menghisap darah manusia. Selama ini Ilya kira, vampir hanya mitos, tapi ternyata vampir adalah bagian sejarah di Kota Wilhem.

Ilya bertanya-tanya, apakah pekerjaannya di kota ini akan baik-baik saja.

Bab 2

Percakapan dua penghuni kos itu membuat Ilya ke pikiran semalaman, hingga dirinya tidak bisa tidur. Ilya berniat menanyakan kepada penghuni sekitar, tapi Ilya belum mengenal mereka. Tiba-tiba, Ilya ingat Mira sudah tiga bulan bekerja di perusahaan sebelum dirinya. Maka Ilya menganggap, Mira pasti mengetahui soal Rupert, dan sejarah tentang vampir itu.

Esok harinya Ilya menghubungi Mira, untuk mampir ke kamar kosnya.

Beberapa jam kemudian, Mira datang mengunjungi Ilya. Namun Ilya agak terkejut, karena penampilan Mira agak berbeda dari yang biasanya. Mira terlihat kusut, dan pucat. Melihat Mira, membuat Ilya semakin yakin soal Rupert.

“Mira, apa kau tahu? Hari ini aku mendengar, ada orang yang meninggal di kos ini tiga minggu lalu. Nama korban itu Rupert, bukankah dia adalah orang yang bekerja di perusahaan tempat kita bekerja sekarang?” Ilya memperhatikan ekspresi Mira yang berubah begitu mendengar nama Rupert.

“Bagaimana kau tahu soal Rupert? Apa kau mengenalnya? Apa kalian pernah bertemu?” Mira menggebu-gebu.

Perkataan Mira baru saja membuat Ilya yakin, bahwa Rupert yang meninggal tiga minggu lalu adalah Rupert yang ia dengar waktu itu. Itu berarti, Mira mengenal Rupert, karena mereka bekerja di perusahaan yang sama.

Tetapi Ilya merasa kecewa, kenapa Mira diam saja, dan tidak memberitahukan dirinya soal Rupert? Padahal Ilya, dan Mira masih sering bicara satu sama lain.

“Kenapa kau tidak mengatakan soal Rupert?”

Namun Mira tidak menjawab dan malah berbalik bertanya pada Ilya. Mira terlihat sedikit terkejut, dan tampak kesal. “Apa? Jangan bilang kau menyesal akan bekerja di sini? Jika kuberitahu, apa kau akan menolak tawarannya?”

Keduanya pun bertengkar, Ilya tidak percaya Mira begitu egois pada dirinya. Mira hanya mementingkan dirinya sendiri, dan tidak mengkhawatirkan Ilya sama sekali. Sebagai seorang teman, Ilya menganggap Mira seharusnya malah yang melarangnya bekerja di tempat itu, paling tidak memberitahukannya soal kematian Rupert.

Pada akhirnya, Mira berujung meminta maaf, dan menangis kepada Ilya. Mira meminta Ilya agar tetap bekerja bersamanya, dan tidak pergi dari Kota Wilhem.

“Maafkan aku Ilya, tapi aku takut kau tidak akan bekerja di sini, jika kau mengetahui beritanya... Aku sangat takut!! Terserah jika kau mau bilang aku egois!!! Tapi aku tidak bisa... Rasanya aku tidak punya siapa-siapa, aku takut... La-lagi pula meskipun pembunuhnya belum ditemukan, tapi asal kita waspada, tidak sendirian keluar di malam hari, maka akan baik-baik saja kan?” Mira mengucapkan dengan suara bergetar.

Ilya menghela napasnya... Ilya berpikir seandalnya Mira memberitahukan soal Rupert sebelum dirinya menandatangani kontrak kerja, apakah Ilya akan menolak tawaran untuk bekerja di perusahaan? Ilya mengingat Vincent.

Padahal bukan hanya karena membutuhkan pekerjaan, alasan utama Ilya menerima tawaran pekerjaan ini adalah karena dia bertemu dengan Vincent, orang yang sangat mirip dengan Elias.

Ilya terdiam tidak menjawab, melihat Mira menangis, membuat Ilya menjadi tidak tega. Pada akhirnya mereka berdua berbaikan. Meski begitu, Ilya terlanjur kehilangan kepercayaan pada Mira. Padahal Ilya menganggap Mira selama ini sebagai temannya. Ilya bahkan ingin menceritakan soal Vincent yang mirip dengan Elias, namun Ilya mengurungkan niatnya.

****

Seminggu kemudian, Ilya masuk kerja untuk pertama kalinya di perusahaan. Tidak disangka Ilya bertemu dengan Lyra, mereka berdua tinggal di tempat kos yang sama, bahkan kamar kos mereka bersebelahan. Lyra adalah rekan kerja senior di tim data analis yang sudah bekerja hampir setahun. Keduanya jadi lebih dekat, terutama karena Ilya adalah pengganti Lyra nantinya.

Ilya tidak menyangka, ia harus belajar semuanya, mulai dari report, pendaftaran barang baru, dari Lyra hanya dalam satu minggu. Bahkan karena terlalu sibuk, Ilya tidak punya kesempatan melihat Vincent.

Akhirnya hari terakhir Lyra bekerja di perusahaan pun tiba juga. Meskipun pertemuan Ilya dengan Lyra begitu singkat. Namun karena Lyra orang yang sangat ramah, Ilya merasa sedikit kesepian melihat rekannya itu berpamitan pada karyawan lain.

Semua karyawan bertepuk tangan, dan satu per satu mengambil donat yang Lyra bawa.

Di jam 6 sore, setelah satu tim foto bersama, Ilya dan anggota tim yang lain pulang ke rumah masing-masing.

“Ilya, kau pulang duluan ya, aku masih mau bertemu dengan manajer. Aku akan pulang dengannya,” ucap Lyra.

Ilya mengangguk, dan berjalan ke luar kantor. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, kemudian terbuka dari jendela, terlihat Vincent di kursi kemudi mobil.

“Ilya! Kau pulang sendirian? Tumben, bareng aku saja. Ayo aku antar pulang, sudah sore!”

Seminggu ini, Ilya biasanya pulang bersama Lyra.

“Eh tapi..” Ilya sedikit ragu, tentu saja ia ingin diantar pulang Vincent, tetapi Ilya mengkhawatirkan Jika karyawan lain yang melihatnya pulang bersama bos...

“Apa kau mau dibukakan pintunya?” tanya Vincent lagi.

“Eh??” Ilya pun langsung membuka pintu mobil, dan duduk.

Padahal hanya diantar pulang, tapi kenapa perasaan Ilya begini? Ilya merasa begitu senang dengan hanya diantarkan Vincent.

Sekitar jam 8 malam, Ilya menyadari kalau handphone miliknya tertinggal di kantor. Ilya berniat mengambil ponselnya. Agar lebih cepat sampai, Ilya berniat meminjam sepeda milik Lyra. Namun Ilya heran, mengingat sudah malam begini, kamar kos Lyra masih gelap, dan tidak ada sandal di luar pintu kamarnya. Akhirnya Ilya meminjam pada penghuni kos lain.

“Apa mereka berdua kencan sampai larut malam?” Pikir Ilya tersenyum membayangkan Lyra, dan manajer Edmond.

Kantor masih terang, namun Ilya tidak mendapati ada satpam sama sekali. llya pun bergegas masuk, mengambil ponselnya begitu tiba. Namun Ilya melihat kardus berisi barang Lyra masih ada di mejanya. Ilya bertanya-tanya, apakah Lyra masih ada di kantor?

Bukankah Lyra bilang akan menemui Edmond? Ilya yang penasaran lalu pergi ke ruangan Edmond. Ilya berjalan pelan-pelan berharap mereka berdua tidak menyadari kedatangannya. Ilya tidak habis pikir, kenapa keduanya berpacaran di kantor? Dan apa karena itu, manajer menyuruh satpam pulang?

“Huh?” Dari kejauhan Ilya melihat seorang pria tinggi berambut putih dari belakang tengah memeluk seorang wanita.

“Deg..” Ilya cemas, apakah mungkin itu Vincent? Merasa tidak percaya, Ilya mendekat. Seiring Ilya berjalan ke Ruangan Edmond, Ilya melihat sesuatu yang ada di luar nalarnya.

Ruangan Manajer, maupun ruangan bekerja lain, semua punya jendela yang transparan. Sehingga Ilya dapat melihatnya dengan jelas.

Ilya berusaha tidak berteriak, ia menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya terpaku melihat leher seorang wanita berambut panjang hitam, mengeluarkan darah yang mengalir turun. Mata hitam perempuan itu memancarkan cahaya yang redup, seperti tidak ada kehidupan. Wajah panjang wanita itu putih pucat, tidak bergeming sama sekali, meski wanita itu seharusnya melihat Ilya.

“Lyra... bagaimana bisa? Kenapa bisa begini?” Dalam benak Ilya.

Ilya membayangkan wanita ramah nan ceria itu, kini hanya diam digigit oleh seorang pria.

Ilya tidak mengenali pria itu, sekilas terlihat seperti Vincent, tapi tubuhnya berbeda. Sayangnya, karena posisi pria itu membelakangi Ilya, sehingga Ilya tidak bisa melihat wajah pria itu. Ilya tidak percaya itu Vincent, tapi tidak ada orang lain di kantor yang berambut putih.

Bab 3

Tubuh Ilya gemetaran, kakinya lemas, hingga rasanya Ilya tidak kuat untuk berjalan. Ilya tidak percaya, dia melihat vampir di depan matanya. Ilya tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ilya terus melihat Lyra, bagaimana caranya untuk menyelamatkan Lyra? Jika Ilya tidak pergi ke sana, apa Lyra akan mati?

Akan tetapi Ilya sadar dirinya hanya seorang manusia biasa, apa yang bisa ia lakukan? Ilya berbalik arah berjalan pelan-pelan menjauhi mereka. Saat mencapai cukup jauh, Ilya akan menghubungi polisi untuk meminta bantuan, hanya itu yang terbesit dalam benak Ilya.

Ilya menarik napas berulang, berusaha tetap tenang, kemudian berjalan dengan pelan selangkah demi selangkah sambil memohon di dalam hatinya agar tidak ketahuan.

“Krieet!!” Tiba-tiba Ilya berhenti, begitu mendengar suara pintu terbuka dari belakang.

Jantung Ilya berdebar begitu cepat. Secepat mungkin, Ilya menengok ke belakang. Ilya begitu ketakutan melihat seorang pria berlari mengejarnya. Dengan spontan Ilya berlari sambil menengok ke belakang beberapa kali.

Edmond?? Ilya tidak percaya, kenapa Edmond yang berambut hitam, mewarnai rambutnya? Namun tidak ada waktu bagi Ilya untuk memikirkannya, Ilya hanya berlari secepat mungkin.

“KENAPA KAU YANG MENEMUKANKU???” teriak Edmond dengan amarah, menatap punggung Ilya yang tengah berlari dengan pandangan tajam.

“TOLONG!!!!” Ilya berteriak sekeras-kerasnya, berharap siapa pun ada yang mendengarnya. Meski Ilya tahu tidak ada siapa-siapa di kantor.

Koridor berasa tak berujung bagi Ilya yang berusaha menghindar. Napasnya tersengal-sengal, karena berlari. Sayangnya Ilya tidak berhasil kabur. Edmond berhasil memegang tangan Ilya, lalu menjatuhkan Ilya ke dasar lantai dengan kasar.

Ilya melihat Edmond mengeluarkan pisau, dan hendak menusuk dirinya. Ilya ingin kabur, tapi cengkeraman Vincent terlalu keras, belum lagi badannya juga terasa sakit. Ilya pun menangis, “Apa ini akhirnya? Hanya seperti kehidupannya?” gumam Ilya dalam hati.

Elias... terbesit wajah Elias dalam benak Ilya. Kemudian Ilya menutup matanya, Ilya merasa berakhir sudah semuanya...

“Arrghhh,” Ilya terkejut mendengar suara Edmond berteriak kesakitan. Ilya refleks membuka matanya, dan melihat sebuah jarum suntik ditancapkan di lengan Edmond yang tengah memegang pisau.

Ilya melihat orang yang menancapkan suntikan berwarna kehijauan itu. Vincent?? Bagaimana bisa dia kembali ke sini? Apa dia juga punya barang yang ketinggalan di kantor? Ilya bertanya-tanya dalam hatinya.

“Aku tidak menyangka, kau menyamar seperti diriku. Jika ada yang melihat kau kabur dari sini dalam kegelapan, aku bisa dalam masalah,” ucap Vincent.

“Maaf, aku terlambat Ilya,” Vincent lalu menarik Edmond dan melemparnya ke pojok dinding.

Melihat Edmond tidak bergerak, Ilya penasaran, apa Edmond sudah mati? Bukankah dia vampir? Apa semuanya berakhir begitu mudah karena suntikan?

“A-apa dia sudah mati?” tanya Ilya gemetar sambil berusaha bangkit berdiri.

“Tidak semudah itu, lagi pula aku ingin menanyakan beberapa hal padanya!” Vincent lalu mencabut rambut palsu Edmond.

Vincent yang melihat Ilya kesulitan berdiri, kemudian membantu Ilya, “Lebih baik kau tunggu di sini, aku akan mengantarmu pulang. Kau sepertinya masih terkejut, kakimu masih gemetaran.”

“Aku baik-baik saja,” jawab Ilya singkat.

Vincent mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi seseorang, namun tidak ada yang menjawab panggilannya. Sekilas Ilya mengintip, seseorang bernama Sera tertera di layar ponsel Vincent.

Beberapa menit berselang, Ilya mulai tenang, dan Ilya langsung teringat pada Lyra. Sontak Ilya berlari menuju Ruang Edmond.

Vincent memanggil Ilya, dan mengikutinya.

Sementara, Lyra sudah tergeletak di lantai dekat meja kerja. Ilya langsung menghampiri Ilya, mengambil tangan untuk mengecek denyut nadi Lyra. Mata Ilya berkaca-kaca, Lyra sungguh sudah tidak bernyawa lagi.

Vincent yang mengikuti Ilya terkejut, dan berteriak pada Ilya.

“Menjauh darinya!!” sontak Vincent panik mengambil tangan Ilya, “Apa yang kau hendak lakukan?”

Ilya terkejut mendengar Vincent meneriakinya. Apa Vincent berpikir, dirinya yang membunuh Lyra? Ilya marah, dan berbalik membentak Vincent.

“Aku hanya mengecek dia masih bernafas atau tidak!!! Memangnya kau pikir aku yang membunuhnya???” Air mata Ilya mengalir, suaranya pun bergetar karena tangisan.

Vincent terdiam, merasa bersalah karena sudah berteriak. “Maaf, tapi sebaiknya kau tunggu di luar saja. Biar aku yang menanganinya!” Vincent memegang tangan dan leher Mira, seperti memeriksa sesuatu.

Ilya mundur dari Vincent, namun dia tidak keluar dari tempat itu, meski Vincent memintanya. Ilya memperhatikan Vincent dari belakang, bertanya dalam hati apa yang Vincent lakukan pada Lyra? Apa Vincent ingin memastikan penyebab Lyra mati?

Ilya tidak sengaja menengok ke luar jendela ruangan, matanya terkejut melihat Edmond berdiri dari luar tengah mengarahkan pistol ke Vincent. Ilya bingung, bukankah tadi Edmond sudah pingsan??

Kejadian terjadi begitu cepat, Edmond hendak menarik pelatuk itu, dan sontak badan Ilya bergerak sendiri.

“ELIAS!!!" Ilya berteriak memanggil Vincent dengan nama yang salah secara spontan. Vincent menoleh, melihat Ilya melompat melindungi dirinya, dan “Duarrrr,” Ilya tertembak, terpental ke depan Vincent.

Sontak Vincent menangkap Ilya.

“ILYA!!!” Vincent berteriak, namun Ilya tidak merespons.

Edmond terlihat kaget, “Apa aku salah?? Sekarang aku harus bagaimana?” Edmond kebingungan, dia hendak menarik pelatuk kembali untuk melancarkan tembakan berikutnya.

Namun Vincent berlari, dengan cepat menendang pistol Edmond, lalu mengambil pistol yang terlempar itu, dan menembakkan peluru ke kepala Edmond.

“Duarr,” Edmond tergeletak seketika.

Vincent lalu membuang pistol itu, lalu berlari kembali menghampiri Ilya. Vincent merangkul Ilya yang sudah setengah sadar.

“Ilya aku mohon bertahanlah.........” teriak Vincent bergetar.

Ilya tidak mendengar apa pun perkataan Vincent. Perlahan pandangan Ilya mulai kehilangan cahayanya, dan menjadi gelap.

****

Terdengar teriakan wanita sebelum suara tembakan. Seorang wanita yang kini tergeletak di lantai. Tidak lama tembakan yang sama menjatuhkan seorang pria dewasa ke sebelah sang wanita.

Dengan kesadaran yang tersisa, pria itu berusaha menggapai anak kecil di depannya, “I..Ilya la..ri.......” Kata-kata pria itu tidak jelas, tapi setelah mengucapkan kata singkat itu, dia menghembuskan napas terakhirnya.

Anak perempuan kecil itu menangis, dan tiba-tiba seseorang mendekatinya. Anak kecil itu sempat menengok, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap bagi anak kecil itu.

“Mimpi??” Ilya terbangun menyadari dirinya baru saja mengingat, bagaimana ia kehilangan orang tuanya. Ini pertama kali bagi Ilya mengingat kejadian penembakan itu, karena setelah penembakan, Ilya disekap selama 7 tahun, sehingga ia syok berat, dan tidak mengingat apa-apa. Ilya sampai sekarang tidak tahu apa yang penculik itu lakukan terhadap dirinya.

Pasti karena tembakan kemarin, Ilya berpikir dia jadi mengingat masa lalunya, walau masih samar-samar. Bahkan Ilya tidak mengingat wajah kedua orang tuanya itu.

“Jangan bergerak sembarangan!! ucap seorang perawat di dekatnya. “Aku panggilkan dokter ya,” perawat itu pun pergi tergesa-gesa.

Ilya melihat kedua tangannya, dia tidak percaya dirinya masih hidup setelah melihat vampir. Tapi Ilya sedih, karena dirinya sudah memastikannya sendiri, Lyra tidak selamat...

Namun sebenarnya apa yang terjadi? Ilya masih tidak habis pikir, kenapa Edmond bisa terbangun kembali? Apa Edmond hanya pura-pura pingsan? Ilya kira suntikan itu semacam bius.

Karena Ilya berhasil dirawat di rumah sakit, Ilya menganggap Vincent berhasil melumpuhkan Edmond. Ilya berharap Vincent baik-baik saja, tapi apa Edmond masih hidup?

Ilya menunggu-nunggu siapa pun datang mengunjunginya, memberinya kabar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED