Bab 1

Pertanyaan begitu banyak disampaikan kepada wanita 35 tahun itu. Ia bernama Amara, bukan hal mudah baginya memutuskan untuk berpisah dengan lelaki yang sudah memberikan satu anak untuknya itu.

Kenapa cerai?

Bisa dipertahankan, dong, seharusnya?

Kamu nggak sabaran banget jadi istri!

Sederet pertanyaan lain yang seolah menyalahkan juga memojokannya, ia terima juga telan bulat-bulat. Amara sekali pun tak peduli. Ia jengah melihat pria itu bermalas-malasan seolah pasrah dengan keadaan.

"Kamu bebas mau lakuin apa pun setelah putusan cerai kita hari ini, jangan cari aku atau Bari. Aku mampu menghidupi diriku dan Bari tanpa kamu!" tunjuk Amara dengan jemarinya. Pria yang sebentar lagi menjadi mantan pasangan hidupnya itu hanya bisa tertawa sinis.

"Jangan lupa, Amara, motor yang kamu pakai untuk kerja, aku yang cicil. Jadi kembalikan itu."

Amara menatap marah. Dengan kasar, ia melempar kunci motor yang tergeletak di atas meja makan rumah mereka itu. Bari diam, menatap wajah  bundanya dengan pemahaman yang minim akan kondisi orang tuanya.

Sambil menggandeng jemari tangan Bari, Amara melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Dengan menggunakan taksi, ia dan Bari menuju ke tempat mereka yang baru. Memulai semua seorang diri. Ia bertekad, mampu menjadi tulang punggung bagi putranya.

"Ayah? Nggak ikut, Bun?" tanya Bari yang masih berusia tujuh tahun kala itu. Amara menatap, ia tersenyum.

"Ayah mau kerja jauh di tengah laut, jadi kita pergi aja ya, Nak. Bari harus sama Bunda terus, selamanya. Oke?" Amara mengusap kepala Bari yang merespon dengan anggukan kepala. Tak lama, bocah itu tertidur di pangkuan Amara.

Tak ada air mata, tak ada rasa sesak di dada. Untuk apa? Menyesali? Tak perlu. Alasan yang diberikan Amara untuk Bari tampak klise, tapi ia tak merasa terbeban. Biarlah putranya itu paham dengan alasan tersebut hingga masanya nanti tiba untuk lebih mengerti juga penjelasan secara rinci.

Bari dititipkan sebentar di rumah orang tua Amara, saat dirinya datang ke pengadilan untuk menerima putusan cerai. Ia tak sanggup mempertahankan pernikahannya dengan suami pemalas. Sejak terkena pengurangan karyawan atau PHK, ayah dari Bari itu justru hanya berpangku tangan seolah menyalahkan keadaan. Sontak Amara menggantikan peran mencari nafkah.

Awalnya, ia menganggap jika pria itu hanya terkejut sementara dengan perubahan yang terjadi. Tapi ternyata tidak, itu watak aslinya.

Menjalin masa pacaran hanya empat bulan dengan ayah dari Bari, ternyata sangat tak cukup bagi Amara untuk mengetahui semuanya. Berawal saat guncangan kondisi di kantor mantan suaminya itu - yang bekerja disalah satu bank swasta - tiba-tiba memutuskan mengurangi pegawai. Membuat ia saat itu yang masih berharap jika bukan nama mantan suaminya yang muncul, ternyata meleset, karena suaminya menjadi salah satu dari tiga puluh orang yang di rumahkan. 

Tinggal terpisah dengan kedua orang tua masing-masing, mengontrak rumah type 36 di perumahan biasa, membuat ia dan mantan suaminya menghadapi itu berdua saja. Bari yang masih empat tahun dan baru masuk TK, diharuskan pindah ke sekolah biasa yang sesuai dengan keuangan orang tuanya. Pesangon diperoleh, namun, oleh mantan suami Amara justru dibelikan mobil yang alasannya untuk disewakan sehingga bisa menjadi sumber penghasilannya. 

Justru, mantan suaminya tertipu rekannya sendiri, karena mempercayakan dananya tanpa melihat bukti fisik. 200 juta melayang begitu saja. Tersisa 70 juta, Amara mengatur sedemekian rupa, supaya bisa bertahan hingga mantan suaminya itu bekerja lagi. 

Perlahan, uang pun habis, suaminya menjalani bisnis lain yang menjadikan tersisa sepuluh juta uang mereka. Amara mulai frustasi, ia kesal dengan suaminya. Mau tak mau ia mulai berpikir sendiri, demi mencukupi kebutuhan hidupnya dan membayar sewa rumah. Di saat mantan suaminya hanya mengandalkan warisan keluarga yang membuat keributan dan persoalan baru. Maka bercerai, adalah keputusan terbaik.

"Ya halo," jawab Amara saat mendapatkan telpon masuk di ponselnya.

"Udah! Resmi cerai, 'kan! Jangan kamu coba hubungin Kakak saya lagi ya, Amara! Ingat itu. Habis manis sepah dibuang, dasar matre!" umpat suara diujung sana. Amara hanya diam, ia memejamkan matanya. Rugi jika ia marah-marah pada mantan adik iparnya itu yang mudah tersulut omongan orang lain tanpa melihat fakta atau membandingkan dengan cerita pihak lain.

Matre dia bilang?

Amara terkekeh sendiri. Dengan santai ia memutuskan obrolan membuang waktu itu dan berjalan menuju ke angkutan umum yang ia hentikan di depan kantor pengadilan.

Sore hari pun tiba, tak menyurutkan dirinya untuk menuju ke lokasi tempat ia mendapatkan panggilan kerja. Ia akan memulai semuanya sendirian mulai saat itu.

***

"Waktu kerja kamu sebenarnya hanya lima hari, tapi, karena kita ada target dan harus terpenuhi, apa kamu sanggup menambah jam kerja kamu? Akan ada uang insentif, tapi jumlahnya memang tidak besar," ucap pria itu. Amara mengangguk. Tak masalah, toh, perusahaan perumahan itu mau menerima kondisi Amara yang sesekali akan membawa anaknya bekerja. Dengan pengertian seperti itu sudah cukup untuknya.

"Mulai kerja besok, ya, mal buka jam sepuluh, stand kita di tengah lobi utama, nanti kamu bertemu Diva, salah satu senior marketing."

Amara mengangguk. Ia paham dengan penjelasan pria tersebut. Tak berlama-lama, Amara pamit untuk pulang, dan menjemput Bari di rumah kedua orang tuanya.

Wanita itu optimis, ia mampu menjadi andalan Bari, sambil tak lupa mengajarkan kepada anak lelakinya itu jika kelak, ia tak boleh putus asa saat menghadapi musibah dan bekerja keras demi bangkit dari keterpurukan.

***

Rumah orang tua Amara.

Kedua orang tua Amara hanya bisa menghela napas, bantuan keuangan yang ditawarkan ayahnya ia tolak. Ia tak ingin muncul stigma negatif bagi dirinya. Cukup lah keluarga mantan suaminya yang menghina ia sebagai cewek matre dan tak mau susah. Padahal mereka tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumah tangga mereka.

Amara bukan tipikal wanita yang terbuka menceritakan kesusahannya. Justru ia akan menutupi dan menunjukan semua baik-baik saja. Pikirnya hanya satu, ia sudah menikah, melahirkan, kemudian justru berpisah, maka semua resiko buruk pernikahan akan ia jalani dengan baik.

Baginya, tak boleh wanita lemah, terpuruk, sedih, apalagi meraung-raung menangis meratapi nasib diri. Mau hidup enak dan mapan, ya usaha. Dengan cara yang baik, bukan instan atau sekejap mata ingin menjadi kaya raya. Semua ada resikonya, begitu pun jika mencari uang dengan cara instan. Bekerja yang baik, jangan alasan anak menjadi penghalang, bagi Amara, justru anaklah motifasinya, semua akan dilancarkan jalannya jika niatnya baik.

"Rumah itu, gimana Amara?" tanya ibunya. Wanita itu menaruh piring berisi bakwan jagung buatan Amara di atas meja makan.

"Rumah apaan, Bu? Aku sama dia ngontrak, bukan beli," jawab Amara santai. Ia menatap kedua mata ibunya. "Apa dia bilang kalau rumah itu KPR?"

Anggukan kepala ibunya membuat Amara terkekeh sinis. "Bullshit banget dia ternyata, Bu."

Suara kucuran air keran terdengar, Amara mencuci peralatan dapur setelah ia selesai memasak. Makan malam di rumah kedua orang tuanya bisa menjadi hiburan bagi dirinya dan Bari yang sejak tadi asik main bersama ayah Amara.

"Kakakmu telpon, dia mau sewain kamu rumah, Ra, cuma takut kamu tolak. Jadi Ibu yang disuruh bilang ke kamu."

"Nggak perlu. Aku bisa sewa sendiri, walau kontrakan petak, seenggaknya tempat itu bersih, layak dan cukup untuk aku sama Bari, Bu," ucap Amara yang beralih mengambil piring bersih dan kering, kemudian menatanya di atas meja makan.

"Ibu, jangan kayak gitu raut mukanya, aku sanggup, Bu, biayain hidup aku sama Bari. Ibu udah tahu bukan, prinsip aku apa?"

"Iya, tapi, Ra, kalau Ibu sama Ayah kasih bantuan, jangan di tolak ya, gimana juga kamu janda, Ibu sama Ayah pensiunan pegawai negri, buat apa uang kami, kamu lagi butuh, nggak apa-apa ya, Nak?" ujar ibu sambil menatap penuh harap. Amara tersenyum.

"Bu, simpan aja, Ibu bukannya mau jalan-jalan sama Ayah, pergi Bu, pakai uang itu. I can do it, Ibu. Doa, aku butuh doa kalian aja. Aku akan buktiin, aku mampu bangkit seorang diri, tanpa laki-laki di samping aku."

Amara tersenyum. Helaan napas gusar justru terdengar dari ibunya.

"Tapi jangan menjanda lama-lama ya, Nak, kamu tau kan--"

"Ck. Ibu, apa salah jadi janda? Benar, aku tau, menjanda lama-lama itu nggak baik. Tapi untuk apa kalau aku buru-buru buka hati dan kembali nikah cuma untuk patahin stigma negatif janda. Please, Bu, aku juga bisa jaga diri, jaga penampilan, Ibu sama Ayah juga nggak pernah lihat aku pakai baju terbuka? Semua masih wajar, Bu," ucap Amara panjang lebar.

"Apa kamu jadi nggak percaya sama cinta dan pernikahan, Nak? Ibu takut kamu trauma dan milih seumur hidup untuk..." Tampak jelas, ibu ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

Mendengar itu, Amara kembali menatap ibunya. Tatapannya begitu datar.

"Omong kosong soal cinta dan pernikahan. Untuk saat ini dan entah sampai kapan, aku cuma punya satu cinta untuk seorang laki-laki. Hanya untuk Bari, putraku, Bu, cintaku untuk dia. Cinta yang tidak akan pernah habis atau luntur."

Ibu hanya bisa menghela napas pasrah. Amaranya sudah berubah menjadi keras dan begitu tangguh. Tak ada yang bisa keluarganya lalukan selain mengikuti kemauan Amara dan mendoakannya.

***

Amara pulang ke rumah kontrakan petak itu, Bari menggandeng tangan Amara begitu erat. Kepalanya mendongak, menatap sejenak bundanya saat sedang membuka pagar.

"Kita... tinggal di sini, Bun?" tanya Bari sembari mengedarkan pandangan ke sekitar.

"Iya. Ini rumah kita, kecil memang, tapi kita tinggal berdua, sama-sama, hati kita yang harus luas, Bar, Bunda akan bikin kamu nyaman ada di sini, cuma kita berdua, ya, Nak?" tatap Amara sembari tersenyum. Bari mengangguk. Keduanya masuk, Amara menutup dan mengunci pintu pagar, lalu membuka pintu utama.

Bari masuk ke dalam rumah saat pintu di dorong Amara, mengucap salam kemudian. Ia celingukan, melihat ke penjuru ruangan.

"Kamarnya satu dan, nggak ada pintunya, Bun?" Bari tampak terkejut.

"Iya, rumah ini kecil, Bar, nggak pa-pa, ya. Ini ruang tamu plus ruang TV kita, terus ini kamarnya, itu, dapur dan pojok kamar mandi. Cukup kan untuk kita berdua?" tatap Amara sembari mengusap kepala putranya yang mengangguk.

Amara meminta Bari menonton TV sementara ia merapikan tempat tidur yang hanya springbed tanpa alas. Amara tersenyum, ia yakin bisa menyamankan Bari di rumah kontrakan kecil itu dengan jiri payahnya sendiri.

Bersambung,

Bab 2

Hari pertama bekerja sebagai tenaga pemasaran perumahan, begitu terasa berbeda untuk Amara. Selain karena ini pekerjaan pertamanya dibagian itu, ia juga harus membawa serta Bari. Wanita yang itu masih berusia 26 tahun, menggandeng tangan putranya masuk ke mal yang baru mulai beroperasi pada jam 10 pagi. Mereka berjalan ke stand dengan nama perumahan tersebut.

"Bar, nanti jangan ke mana-mana, ya?" ucap Amara sambil berjalan ke satu wanita berhijab yang sudah berdiri di lokasi stand, sedang memasang banner dan merapikan meja.

"Selamat siang, dengan Mbak Diva?" tanya Amara ramah dan sopan. Wanita itu menoleh.

"Iya, dengan Amara, ya?" ia balik bertanya. Amara mengangguk. Diva mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri sebagai senior marketing pameran.

"Saya Amara, Mbak, dan mohon maaf, saya harus membawa putra saya bekerja. Maaf kalau kurang nyaman  untuk Mbak Diva dan tim."

Diva tersenyum. "Nggak apa-apa, saya paham kok, yang penting, Bari nggak pecicilan, ya?" Diva mengusap kepala Bari. Bari mengangguk pelan. Ia mengeratkan gandengan tangannya ke Amara. Sontak ia menoleh, menatap Bari sambil tersenyum yang membuat Bari tenang.

Wajar jika Bari khawatir, selama ini ia tak pernah berinteraksi dengan orang lain, karena Amara begitu mengingatkan untuk tidak percaya kepada orang lain.

Delapan jam waktu umumnya bekerja, Amara nanti akan ditugaskan berdiri di depan pintu masuk, menyebarkan brosur dan menjelaskan beberapa hal kepada calon pembeli. Ia meminta Bari duduk di tempat yang sudah disiapkan Diva, yaitu di belakang papan besar iklan perumahan yang berdiri tegak. Dari sana, Bari juga masih bisa melihat bundanya.

Ada enam orang yang di tempatkan di mall itu, empat pria dan dua wanita. Ke empat pria masih baru lulus kuliah, hanya ia dan Diva yang ibu rumah tangga.

"Bunda di sana ya, Bar, kamu kalau ngantuk, tidur aja, ketutupan papan ini kok, kalau mau lihat Bunda, intip sedikit aja. Bunda di sana, oke?" Amara mencium kening putranya itu. Bari mengangguk dan tersenyum.

"Bun ... Bun!" panggil Bari, Amara menoleh sejenak.

"Toiletnya arah itu 'kan, Bun?" Bari menunjuk ke arah sudut. Amara mengangguk.

"Hati-hati kalau mau ke toilet, inget, nggak boleh jawab kalau ditanya orang yang nggak kamu kenal. Bukannya mau sombong. Berjaga-jaga, karena nggak semua orang--"

"Punya niat baik sama kita. Bari harus hati-hati," jawab Bari melanjutkan ucapan Amara itu. Amara mengangguk.

Ia berjalan ke arah pintu masuk, membawa setumpuk brosur di tangan kirinya. Dengan memakai pakaian formal berupa kemeja dan celana panjang, membuat pelayaknya wanita pekerja kantoran yang modis. Bari tersenyum, ia lalu memilih membaca buku dan komik yang sudah ia siapkan di dalam tas ranselnya. Beruntung sekolah libur kenaikan kelas, jadi Bari bisa menemani Amara bekerja.

***

Mall tampak ramai, Bari tertidur pulas, karena jam menunjukan pukul dua siang, jam tidur siang Bari. Amara diberi waktu istirahat setengah jam. Ia duduk, lumayan pegal kakinya karena berdiri empat jam. Ia makan siang dengan bekal yang dibawa. Hanya nasi dan telur dadar, bukan perkara berat atau menyedihkan. Ia memang begitu keras mengajarkan Bari dalam hal menu makanan.

Tak jarang, kedua orang tuanya lah yang merasa tak tega. Melihat anak dan cucunya makan seadanya. Amara, jelas ia menolak reaksi tak tega itu dan bisa-bisa terjadi adu argumen panjang hanya membahas soal makanan.

"Nasi sama telur juga udah ada vitaminnya, Ibu, walau aku belum bisa kasih menu lengkap, seenggaknya Bari nggak kelaparan. Juga, aku siapin vitamin untuk Bari walau bukan merek terkenal."

Akan seperti itu jawaban Amara jika ibunya bertanya.

Kedua mata Bari terbuka perlahan, ia segera duduk. Amara tersenyum. "Udah makan?" tanyanya. Bari mengangguk.

"Bunda, kalau Bari di rumah Kakek sama Nenek boleh nggak?"

"Kenapa? Bari capek atau bosan temenin Bunda di sini?" Amara balik bertanya. Bari menggeleng cepat.

"Bari takut, Bun, banyak orang. Bari nggak bisa bedain mana yang baik sama jahat," ucapan putranya membuat Amara terkekeh.

"Nggak usah dilihat, kamu baca buku atau gambar aja, Bunda nanti berdiri di sana lagi, kamu bisa lihat ke sana," kata Amara sambil lanjut makan siang. Bari mengangguk.

"Bun,"

"Iya," toleh Amara.

"Sekolah Bari, maksudnya, Bari pindah sekolah tahun ini, temen-temen Bari gimana ya, Bun, baik apa nggak?" Bari bersandar di bahu Amara. Anaknya begitu terkejut saat diberitahu jika harus pindah ke sekolah lokal. Bukan sekolah swasta seperti sebelumnya.

"Pasti. Bunda yakin kamu nanti dapat teman yang baik, sama kayak di sekolah lama. Anak kelas dua SD harus kuat ya, jangan cengeng apalagi manja. Dan, kamu anak laki-laki, Bar."

Bari mengangguk. Satu minggu lagi ia akan masuk sekolah, letak sekolahnya juga dekat dengan rumah kedua orang tuanya. Saat hari sekolah, Bari akan dijemput kedua orang tua Amara dan dititipkan di sana sampai Amara pulang bekerja.

Jarak dari rumah orang tua ke rumah yang disewa Amara juga tak begitu jauh, hanya lima belas menit.

Bari menatap orang-orang yang lalu lalang dengan wajah yang tampak bahagia. Bocah itu kembali menatap Amara yang masih makan.

"Bunda sama Ayah, pisah ya?"

DEG.

Amara diam, ia cukup terkejut dengan pertanyaan Bari. Hanya senyuman yang bisa Amara berikan sebagai jawaban.

"Apa karena Ayah di rumah terus? Bunda yang kerja di toko motor?"

Maksud Bari itu dealer motor. Amara memang sempat bekerja selama setahun di sana. Sebagai customer service. Setidaknya ia tak berpangku tangan hanya mengandalkan uang sisa pesangon mantan suaminya yang juga terus merongrong warisan tanah keluarganya yang belum laku terjual. Amara malu dengan kondisi itu. Dengan bantuan teman kuliahnya, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan itu. Amara sadar, jika koneksi orang dalam itu berpengaruh cepat dalam mencari pekerjaan di masa sulit.

Sempat ia menawarkan kepada mantan suaminya itu, pekerjaan sebagai collecting staff di salah satu perusahaan pembiayaan kendaraan. Tapi di tolak mentah-mentah, dengan alasan, ia tak mau mulai dari awal. Setidaknya, pekerjaan lain yang ia dapatkan harus setara posisinya dengan apa yang sebelumnya ia lakukan.

Tapi, lain di bibir lain dikenyataan. Amara hanya melihat kemalasan. Mantan suaminya itu hanya banyak berkata tanpa fakta.

***

Malam menjelang. Pukul tujuh tepat Amara pamit pulang, begitu pun Diva. Tersisa rekannya yang pria saja, mereka ditugaskan tetap di mall sampai tutup dan merapihkan stand pameran. Bari menggandeng tangan Amara. Ia merekatkan jaket yang dikenakannya. Angin dingin menerpa, mereka berdiri di depan halte yang ada di dekat mall.

"Makasih udah nurut ya, Bar, pegal-pegal nggak badan kamu?" lirik Amara. Bari hanya tersenyum. Ia mengajak putranya duduk.

"Tenang, nanti Bunda urut ya, pakai minyak kayu putih." Amara duduk dan merangkul bahu putranya itu. Mereka sedang menunggu angkutan umum yang akan membawa mereka pulang.

Amara tak tega sebenarnya, tapi Bari juga ingin ikut dengannya. Dillema seorang ibu yang bekerja namun tak percaya dengan orang lain. Ia bisa saja menitipkan Bari di rumah kedua orang tuanya, tapi hati kecilnya justru merasa tak enak. Amara tak ingin kedua orang tuanya mendapat gunjingan tetangga, karena terlihat mengasuh Bari, di saat ia bekerja mencari nafkah dan juga seorang janda. Lebih baik, sementara Bari ia bawa bekerja. Lain halnya jika nanti sudah sekolah, waktu mengawasi Bari juga hanya sebentar, jadi tak terlalu membebani orang tuanya itu.

"Bar, ayo, jangan tidur dulu. Angkotnya udah dateng. Ayo kita pulang!" Amara beranjak. Tampak Bari sudah mengantuk, namun berusaha untuk menghilangkan rasa itu.

Di dalam angkot, Bari tertidur, Amara memeluknya, merekatkan jaket yang di kenakan putranya itu sambil mengusap pelan kepala Bari. Tak pernah ia membayangkan akan menjalani hal itu dengan Bari. Bayangan pernikahan yang bahagia dengan merintis bersama pasangan, menguap bak uap air panas yang perlahan menghilang ke udara.

Ia sedih, tak tega melihat Bari. Namun ia tutupi dengan rasa optimisnya untuk bangkit dan menjadi sukses. Memberikan fasilitas yang nyaman untuk Bari kelak.

Sesampainya di jalan besar yang akan menuju ke kontrakannya, Amara harus menggendong Bari yang begitu mengantuk, ia meminta putranya itu naik ke punggungnya, perlahan ia berjalan, melewati rumah warga lain dan menyapa. Jalanan itu hanya muat untuk satu mobil dan juga satu arah, jadi lalu lalang kendaraan tak banyak.

"Baru pulang, Bunda Bari?" tanya ibu-ibu yang sedang menutup warungnya.

"Iya, Bu, permisi..." sapa Amara sopan. Ia terus berjalan sambil mengingat-ngingat apa ia masih punya stok susu dan roti untuk Bari atau tidak. Ia juga lupa, tadi membeli makan malam untuk Bari.

"Bun..." suara Bari terdengar.

"Hm? Kamu kebangun karena laper, ya?" tanya Amara.

"Iya. Perut Bari sakit." Mendengar itu Amara bergegas berjalan cepat untuk sampai di kontrakan. Bari meminta turun dari punggung Amara ketika tiba di depan pagar. Dengan cepat Amara membuka pagar dan pintu masuk. Ia masuk lebih dulu, membuka kulkas kecil untuk melihat apa ada stok makanan.

Wajahnya menunjukkan kelegaan saat melihat masih ada stok susu dan telur, walau roti tak ada. Bari membuka jaketnya, ia lipat lalu meletakkan di dekat tempat tidur. Sementara Amara mengunci pagar juga menutup pintu.

"Bunda bikin mie rebus pakai telor ya, Bar, mau?" Amara mencuci tangannya.

"Mau Bun," jawab Bari. Bocah itu mengambil handuk, lalu berjalan ke dalam kamar mandi, ia membersihkan mandi tanpa di suruh-suruh Amara.

Wanita itu membuat dua porsi mie rebus dengan telur, satu untuknya dan satu untuk Bari. Ia membawa dua mangkok ke depan TV, Bari sudah duduk menunggu Amara.

"Ayo makan, Bar, biar hangat perutnya." Amara memberikan sendok dan garpu, tak lupa ia memyalakan kipas angis kecil supaya udara tak pengap.

"Bun, Bari lupa, kemarin Kakek mau kasih kita AC, katanya yang di kamar bekas Bunda dulu, bisa dipindah ke sini. Bunda mau?" Kedua mata Bari menatap Amara. Ia diam, karena tadinya mau membeli dengan mencicil setelah ia menerima gaji pertamanya, namun kondisinya memang kontrakan itu panas walau sudah memakai kipas angin. Kulkas dan tempat tidur, ia beli dari uang tambungannya, TV ia pinjam dari kakaknya, kompor gas juga ia pinjam dari ibunya yang masih menyimpan kompor lama.

Ia malu sebenarnya, namun Bari butuh hal itu. "Boleh, nanti Bunda telpon Kakek ya, biar dipindah ke sini ACnya," jawab Amara. Bari tampak senang, keduanya menikmati makan malamnya lagi. Sambil bercerita pengalaman Bari ikut Amara kerja, lelah, namun keduanya tampak senang.

Bab 3

Lima tahun berlalu, perjuangan seorang Amara tak akan mudah. Rumah kontrakan petak itu menjadi saksi kehidupannya bersama Bari, si putra sematawayangnya.

Perjuangan seorang wanita untuk menghidupi diri dan seorang anak tidaklah mudah. Cobaan datang dari berbagai macam pihak, tapi tak membuat Amara lemah, ia tak peduli dan terus berjalan sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan.

"Bun, sebentar lagi taksi onlinenya sampai, Bunda udah siap?" Bari bertanya sambil merapihkan seragam sekolahnya. Amara mengangguk, ia juga sudah tampak rapi dengan seragam kerjanya.

Amara masih bekerja sebagai tenaga pemasaran di perusahaan properti itu. Tapi kini, level dirinya sudah setara seorang supervisor, pendapatan setiap bulan juga cukup untuk kebutuhan hidupnya. Amara mampu belajar cepat, ia juga menjadi sales dengan penjualan rumah yang melebihi target. Jangan bayangkan mudahnya Amara mencapai target penjualan, ia harus menawarkan dari mulut ke mulut, mencari kontak rekan sekolah dan kuliahnya dulu. Di tolak, diabaikan, dicemooh, bahkan diusir karena calon konsumen tak senang dengan Amara yang seolah memaksa untuk menawarkan produk. Padahal, ia menerapkan cara pendekatan natural, atau cara memasarkan produk dengan mencari tahu keadaan sehari-hari calon pembeli.

Wajar, ada yang senang, ada juga yang tidak. Amara goyah? Tidak. Justru di kepalanya penuh dengan ide-ide pendekatan lainnya.

"Bun ... serius, Bunda bawa dagangan juga?" lirik Bari sambil berdiri di dekat pagar. Amara mengangguk seraya mengunci pintu. "Ini udah pesanan orang kantor, Bar, keripik pisang ini banyak peminatnya," jawab Amara santai. Bari menatap lekat ke dagangan Amara itu.

"Bun, ada sample nggak? Bari tawarin ke guru-guru di sekolah," sambung Bari sambil melirik lagi ke dalam kantong plastik merah besar itu.

"Yakin? Nggak malu?" tanya Amara. Bari manggut-manggut.

"Ngapain malu sih, Bun .... " jawab Bari begitu cuek. Amara terkekeh, ia mengambil keripik pisang yang dibungkus dengan plastik ukuran satu kilo dan memberikan ke Bari.

"Jangan lupa dicatat kalau ada yang pesan, ya, Bar," Amara membantu Bari menutup kaitan tas sekolah putranya itu. Bari mengangguk.

Taksi online tiba, mereka segera masuk ke dalam mobil, tujuan pertama ke sekolah Bari - SMP negeri favorit - yang searah dengan kantor properti tempat Amara bekerja. Wanita itu menatap kabin mobil yang mereka berdua tumpangi, ia melirik ke Bari yang duduk tenang. Pikiran Amara mengarah ke niatan lain sembari memandangi jalanan Ibu kota yang selalu ramai. Ia mulai menganalisa dan mengkalkulasi apa yang menjadi tujuannya jangka pendeknya.

"Bar," panggil Amara. Putranya menoleh. "Kamu malu nggak, kalau Bunda jualan baju di bazar atau kita ikut pameran di kantor-kantor? Setiap weekend aja?"

"Kenapa harus malu. Nanti Bari temenin, Bun, Bari bantuin," respon Bari membuat Amara mengangguk mantap. Ia mengusap kepala putranya yang akan beranjak remaja. Tak bisa Amara pungkiri, ia ingin memiliki pemasukan tambahan, ia ingin lebih menjamin kehidupan ia dan Bari dengan hal yang lebih baik. Berdagang pakaian salah satunya.

***

Suara mesin cetak terdengar nyaring. Amara sibuk merapikan brosur dan beberapa data calon pembeli rumah sebelum ia serahkan ke bagian analisa kredit dan diproses ke bank.

Diva berjalan dengan wajah kusut. Ia duduk bersandar di sudut meja kerja Amara. "Kenapa, Mbak?" tanya Amara yang hanya menatap sekilas sebelum kembali merapikan berkas-berkas.

"Aku dipanggil ke sekolah, nih, Ra, anak aku yang kedua ribut sama Kakak kelasnya," cerita Diva. Amara menatap.

"Yaudah, Mbak, sana ke sekolah, jam berapa janjiannya?" Lirik Amara sejenak.

"Masalahnya, anak aku ini mau di keluarin, ini bukan kasus pertama. Aku pusing, Abinya udah maksa masukin ke pesantren."

"Kenapa harus pesantren?" tatap Amara.

"Karena, menurut suamiku, pesantren punya sistem mendidik yang disiplin, dan-"

"Jadi tempat sekolah anak-anak bandel, biar jera?" Amara beranjak. "Mbak, pesantren bukan tempat untuk hal itu, lagian, masih banyak pilihan, Mbak, coba obrolin ke suami Mbak Diva, kalau tujuannya masukin ke pesantren karena hal itu, kasihan pesantrennya, dong, anggapannya jelek. Lha wong, tempat menuntut ilmu yang bagus, malah terkesan bukan."

"Itulah, aku harus pindahin ke mana anak itu? Abangnya udah SMA, malah ikutan ribut terus di rumah sama adiknya itu. Anak aku yang kedua ini super aktif dan keras kepala, makanya aku bingung banget."

"Mbak, coba ajak ngobrol, takutnya ada yang dipendam atau dirasa nggak nyaman, tapi takut menyampaikan. Anak remaja, kalau nggak kita jadikan sahabat, malah bisa jadi musuh bebuyutan. Bukannya, anak Mbak itu, suka main musik, ya?" Amara mencoba mengingat cerita Diva tentang putra keduanya. Diva mengangguk.

"Ajak ke kafe atau nonton konser, pakai pendeketan itu, Mbak, kasih tahu suami juga, komunikasikan," ucap Amara seraya bersiap untuk meeting dengan tim pemasarannya.

Diva diam, berfikir sejenak tentang saran Amara.

"Iya juga ya, Ra. Ih, kamu nih, bisa-bisanya kasih nasehat se-modern ini, aku nggak kepikiran sama sekali," tawa Diva terdengar penuh kelegaan.

"Kayak gini masih jomblo. Amara, aku kenalin sama temen sekolahku dulu mau, ya?" Pertanyaan Diva mampu membuat Amara diam, lalu menggeleng cepat.

"Terima kasih sekali, Mbak, aku masih betah melajang, dadah .... " Amara berjalan dengan membawa satu rim brosur perumahan dan tas kerjanya. Timnya sudah menunggu di ruang meeting sebelum mereka menuju ke lokasi pameran perumahan.

"Ra, mau sampai kapan kamu menjanda, udah lima tahun, anak itu." Diva menggelengkan kepalanya. Lalu kembali ke meja kerja miliknya.

Ruang meeting.

"Target kita itu pasangan muda yang belum punya rumah, kita tawarkan DP yang sesuai dengan kantung mereka. Program DP ringan khusus untuk pasangan yang baru menikah selama enam bulan, saya rasa bisa menarik bagi mereka."

"Syaratnya, minta fotocopy buku nikah, untuk syarat pengajuan pembiayaannya. Tawarkan juga kalau kita kerja sama dengan tiga bank konvensional dan, dua bank syariah. Ingat, ini berlaku enam bulan."

Ke lima anak buah Amara mengangguk paham. Lalu Amara menjelaskan lagi. Ia menulis di papan tulis putih dengan spidol.

"Buat promosi lewat sosial media, terutama aplikasi-aplikasi yang lagi booming, toktok misalnya. Kalian bikin video dengan objek rumah contoh, side plan dan keterangan singkat namun penting. Kayak, total unit akan di bangun berapa, progres pembangunan berapa tahun, itu aja dulu. Nanti, saya akan bikin konsep kontennya."

"Kalian mau bonus dari setiap rumah yang kalian jual, kan? Jadi, ide kreatif memasarkan barang juga perlu. Sementara ini, kayaknya ini aja dulu, sasaran pasar kalian pasangan muda."

Amara menyudahi penjelasan kepada timnya. Semua tampak mengerti dan paham. Pola pikir Amara yang mengikuti tren juga zaman, begitu sangat membantu pekerjaannya itu.

"Kalau Bu Amara, target pasarnya siapa, Bu?" tanya seorang anak buahnya.

"Banyak. Cuma saya nggak akan incar punya kalian, saya nggak mau rakus. Kita tim, harus saling berbagi, jangan mau memperkaya diri sendiri. Oke, selamat berjuang rekan-rekan, saya mau ke pameran juga, semangat ya! Besok meeting lagi jam sembilan, kasih tau laporannya, atau bisa chat saya kalau kalian bingung."

Amara tersenyum, anak buahnya mulai beranjak dan meninggalkan ruang meeting. Ia menjadi yang terakhir keluar. Baginya tak masalah seorang pemimpin mendahulukan anak buahnya. Ia ingin timnya juga belajar bersama dirinya, ia tak akan pelit ilmu.

Lokasi pameran disalah satu kantor besar di Jakarta begitu ramai. Lobi besar itu sudah di sulap menjadi area pameran properti, baik rumah atau apartemen. Amara yang begitu cantik dan ramah, memberikan brosur sambil memperkenalkan diri. Banyak yang menyambut ramah, ada juga yang langsung menolak. Tak mengapa, ia tetap tersenyum melanjutkan keperjaannya.

"Siang Mbak, saya mau tanya beberapa hal, bisa?" seorang pria dengan pakaian kantoran menghampirinya. Amara mengangguk. Ia mengajak pria itu duduk di tempat yang sudah disiapkan. Tak sendiri, pria itu bersama rekannya yang beberapa kali melirik sambil menahan senyum.

"Apa yang mau ditanyakan? Saya Amara, anda?" Amara mengulurkan tangannya, pria itu menyambutnya dengan cepat.

"Saya Noah," jawab pria itu.

"Kalau saya Andra," sambung rekan satunya. Amara mengangguk. Lalu Noah menyikut lengan Andra yang terkekeh.

"Saya mau tanya, untuk lokasi perumahannya, berapa jauh jaraknya dari kantor ini?"

Amara mengangguk. "Lokasi pembangunan cukup jauh memang, Pak, tapi aksesnya mudah. Bisa lewat tol outer ring road, itu hanya melewati dua pintu tol otomatis."

Noah menganggukan kepala. Lalu sesi tanya jawab pun berlanjut, pria itu beberapa kali menganggukan kepala saat Amara menjelaskan dengan rinci.

"Terima kasih penjelasannya, Amara, nanti saya hubungi jika memang berminat, dan, um ... apa kita bisa ketemu di tempat lain di luar jam kerja?"

Amara diam. Ia jengah dengan hal semacam itu. Noah tersenyum begitu tampan, keduanya beranjak dengan tetap menatap Amara, Noah terutama. Amara tersenyum seraya mengulurkan tangan kembali untuk berjabat tangan karena sudah mau bertanya tentang properti itu. Noah menyambutnya.

"Terima kasih sudah menanyakan dengan rinci konsep perumahan yang kami tawarkan, dan saya menolak ajakan anda, permisi, Pak Noah, saya harus kembali membagikan brosur." Amara berjalan meninggalkan Noah dan Andra yang diam, pertahanan Amara begitu kuat dan keras, bak beton yang begitu susah retak.

"Gue penasaran sama dia, Ndra," lirih Noah.

"Pepet lah ... gitu aja repot. Jinak-jinak merpati gue rasa." Andra menepuk bahu Noah, sedangkan pria itu tersenyum penuh harap.

Diva melihat hal itu, ia menghampiri Amara yang sedang membagikan brosur ke pengunjung pameran.

"Ra, kenapa muka kamu begitu? Kesel sama mereka?" tanya Diva. Amara tersenyum kecut.

"Lagu lama. Basi, Mbak. Pura-pura tanya properti, ujung-ujungnya ngajak jalan. Resek banget kalau ada calon pembeli yang prospek ujung-ujungnya malah..., hah..." Kedua bahu Amara merosot. Ia menatap ke Diva lagi.

"Mendingan aku jaga kandang dari pada ikut ke pameran, Mbak. Bikin emosi doang." Ketusnya. Diva cekikikan, ia menepuk-nepuk bahu Amara.

"Berarti udah tanda-tanda, Ra, waktunya kamu cari pasangan, Bari udah besar juga, kan?"

"Bari nggak butuh sosok Ayah. Cukup Bundanya," timpal Amara dengan sedikit emosi.

"Jangan egois. Itu aja pesanku." Diva mengusap bahu Amara sebelum berjalan kembali ke stand mereka. Amara diam, ia menghelana napas lalu kembali berjalan memutari area pameran sembari memberika brosur.

Bersambung,

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Why not!

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED