"Bar, kamu ini kapan menikahnya sih, Nak? Mama sudah kepingin sekali menggendong cucu dari kamu. Michellia saja anaknya sudah mau dua. Masa kamu kalah sama adikmu? Umur kamu sudah tiga puluh tahun, lho."
Oryza Sativa Dewangga menegur putranya yang sedang duduk santai menonton televisi. Sebagai seorang ibu, ia resah karena putranya ini sama sekali tidak menunjukkan niat ingin menikah. Padahal usianya sudah sangat matang untuk berumah tangga.
"Mama kadang heran, papamu itu Don Juan sejati. Pacarnya tersebar merata di seluruh penjuru kota. Di setiap tikungan kompleks saja ada. Lah kamu, umur segini pacarannya cuma satu kali. Itu pun pada masa kuliah bertahun-tahun yang lalu. Perempuan di dunia ini tidak semuanya sama seperti Diandra, Nak. Nggak semuanya materialiatis seperti si Dian itu. Atau kamu mama jodohin saja ya?"
Ory yang duduk di seberang sofa mendekati putranya. Ia berusaha memudahkan jalan putranya untuk berumah tangga dengan cara menjodohkannya. Ia mempunyai banyak sahabat yang memiliki anak gadis cantik-cantik dengan akhlak yang baik-baik pula. Siapa tahu kelak ia bisa berbesanan dengan salah seorang dari sahabat-sahabat baiknya. Insya Allah.
Akbar pada masa kuliahnya dulu pernah berpacaran dengan Diandra Sasmita, teman sekampusnya selama hampir tiga tahun. Saat memasuki tahun ke tiga itulah, Diandra tiba-tiba saja meminta putus dari Akbar. Kabar terakhir Diandra menikah dengan seorang duda seusia ayahnya karena faktor harta. Semenjak kejadian itu Akbar menutup diri dari masalah asmara. Ia tidak bergeming walau didekati oleh wanita secantik apapun. Akbar seperti mati rasa. Ia dan suaminya sudah capek menasehati Akbar agar mau kembali membuka diri. Tetapi hasilnya tetap nihil. Akbar tetap teguh dengan pendiriannya.
"Menikah itu gampang kok, Ma. Yang susah itu cari jodohnya. Lagi pula menikah itu bukan masalah secepat-cepatnya Ma, tetapi setepat-tepatnya. Nikah kok main cepet-cepetan. Memangnya lomba lari?" Akbar menjawab santai pertanyaan ibunya sambil membuka laptop yang ada di samping sofa. Pekerjaannya menggunung sementara waktu satu hari dua puluh empat jam itu seakan-akan tidak cukup untuknya. Dan seperti biasa ia segera tenggelam dalam kesibukannya sendiri.
"Kalau kamu memang kesulitan mencari jodoh, Mama saja yang mengaturnya untuk kamu mau, Nak?" Akbar menghela nafas panjang. Kalau mamanya sudah mulai menambahkan kata Nak dalam kalimatnya, itu artinya ada permintaan yang tidak terbantahkan oleh wanita yang telah melahirkannya ke dunia tiga puluh tahun yang lalu ini.
"Ya sudah, Mama atur saja. Tetapi ingat, Mama tidak boleh memaksa kalau Akbar tidak sreg dengannya ya, Ma? Karena pernikahan itu kan sifatnya komitmen. Seumur hidup lagi. Jadi tidak mungkin Akbar menikah kalau Akbar merasa tidak cocok dengannya. Oke, Ma?" Akbar merasa sekali-sekali menyenangkan hati mamanya kan tidak salah? Masalah dia mau atau tidak menikah dengan wanita pilihan mamanya, itu kan bisa diatur. Yang penting telinganya selamat dulu dari nyanyian siang malam mamanya tentang jodohnya yang selalu tidak pernah terlihat hilalnya.
"Kamu itu sukanya wanita yang seperti apa, Nak?" Ory gembira sekali. Di kepala cantiknya sudah tersusun nama-nama kandidat wanita yang akan menjadi calon menantunya. Tinggal Akbar saja yang memilih salah satu di antara mereka.
"Akbar tidak ada type khusus, asal wanita itu bukan si Tria. Tidak lucu juga saat nanti Akbar minta dibikinin kopi atau sarapan pagi, kopinya malah diaduk pakai pisau dan nasi gorengnya dimasak dengan pedang alih-alih spatula. Akbar paling tidak suka wanita yang menyalahi kodratnya."
Akbar teringat dengan sosok gahar adik perempuan Tama, Naratria Abiyaksa yang sebenarnya dulu sempat ditaksirnya. Hanya saja selain Tria sudah memilih laki-laki lain, dandanan Tria juga kerap membuatnya sakit mata. Semakin dewasa Tria, penampilannya semakin gahar saja. Ia ilfeel melihatnya. Ngomong-ngomong soal Tama, setengah jam lalu sahabatnya itu baru saja curhat soal batalnya pernikahannya. Ternyata pacarnya berselingkuh dengan Raphael, pacar Tria, adik kandungnya. Double jack pot banget sakitnya kan? Itulah perempuan dengan segala keabsurbannya. Diberikan laki-laki yang baik, malah memilih bad boy. Apabila sudah tersakiti, baru lah mereka berkoar-koar mengatakan bahwa semua laki-laki sama saja. Aneh bukan?
"Lho kenapa dengan Tria, Bar? Anak Om Aksa dan Tante Lia itu kan cantik sekali?" Ory mengerutkan keningnya. Akbar sepertinya antipati sekali terhadap Tria. Padahal Tria itu anak yang baik dan cantik. Mirip sekali dengan ibunya. Termasuk juga hobbynya yang menggemari balap mobil dan ilmu bela diri.
"Cantik? Iya. Baik? Mungkin saja. Tapi Akbar sangat tidak suka melihat ketomboyannya. Tria itu tidak pernah sekalipun memakai rok kan, Ma? Sikapnya juga tidak ada manis-manisnya. Tria itu kasar seperti preman pasar. Akbar ilfeel dengan type wanita yang seperti itu. Akbar sampai merasa kalah gagah dari Tria."
Kalimat Akbar membuat Ory tertawa geli. Tria ia memang tomboy sampai ke partikel syarafnya. Tapi mau bagaimana lagi, si Lia juga seperti itu penampakannya. Tidak heran kalau putrinya menuruni sifatnya.
"Ya sudah. Kalau kamu tidak suka dengan yang type tomboy begitu, Mama akan mencari wanita yang lemah lembut seperti putri keraton. Duh Mama jadi tidak sabar ingin mengendong cucu dari kamu, Bar!" Mata Ory berbinar-binar saat membayangkan ia akan mendapatkan cucu-cucu yang lucu dari Akbar.
"Astaga Mama... Mama... jodohnya saja belum kelihatan hilalnya, ini Mama malah sudah membayangkan menggendong cucu segala." Akbar menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh Akbar keluar sebentar ya, Ma? Akbar mau ke rumah Benny. Ada beberapa berkas yang ketinggalan di rumahnya. Mungkin Akbar pulang agak malam. Soalnya Akbar harus membahas masalah pekerjaan di sana." Akbar meraih kunci mobil di meja buffet dan menyalami mamanya.
"Akbar berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam. Hati-hati di jalan, Bar. Ini sudah malam." Akbar menjawab pertanyaan mamanya dengan menunjukkan jempolnya. Akhirnya ia selamat dari topik perjodohan yang memusingkan kepalanya.
==================================
Tria mengendarai HONDA NSX GT3-nya dengan kecepatan maksimal. Ia galau dan depresi berat. Ia masih sulit mempercayai kalau Raphael sanggup menghianatinya seperti ini. Hatinya remuk saat memergoki Rahpael tengah bercumbu mesra dengan calon kakak iparnya sendiri, Karina Winardi. Padahal kurang dari sebulan lagi kakaknya, akan menikahinya.
Bayangan yang ia saksikan di apartemen tadi tidak bisa lepas dari kepalanya. Pemandangan saat Rapha dan Karina yang buru-buru mengenakan pakaian saat terciduk kembali mengait emosinya. Ia memukul stir mobil berkali-kali. Mencoba melampiaskan emosi yang tak kunjung reda. Tetapi bayangan itu tidak bisa hilang juga. Ia dan Raphael sudah berpacaran hampir setahun lamanya. Ia sudah terbiasa dengan kebersamaan mereka yang semakin hari sepertinya semakin serius. Raphael juga telah memperkenalkannya kepada kedua orang tuanya.
Yang membuatnya berbesar hati adalah kedua orang tua Raphael tidak pernah mempersoalkan penampilan tomboynya. Mereka berdua wellcome-wellcome saja. Bu Miranti, ibu Rapha bahkan sudah sering menyinggung-nyinggung kapan ia bersedia dilamar. Bayangkan, seperti apa hancurnya perasaannya tadi saat melihat peristiwa yang setitik debu pun tidak pernah diduganya. Sebenarnya ia tadi hanya ingin mengambil bindernya yang tertinggal di apartemen Raphael. Ia memang sudah tahu password apartemen Rapha yang merupakan gabungan dari tanggal lahirnya sendiri. Makanya ia pun masuk ke dalam kamar begitu saja. Dulu Rapha mengatakan itu adalah sebagai tanda cintanya kepada dirinya. Cinta? Cinta taik kucing. Cuihh!
Walaupun tadi ia shock, untungnya ia masih sempat merekam aktifitas kedua penghianat menjijikkan itu walau hanya beberapa menit. Tetapi setidaknya ia sudah memiliki bukti. Saat itu juga ia mengirimkan video menjijikkan itu pada kakaknya.
Ia tahu kakaknya pasti mengamuk saat melihat video yang ia kirimkan. Karena ia melihat Karina tiba-tiba saja menerima panggilan telepon dan menghiba-hiba memohon maaf pada kakaknya. Ia yang tidak ingin melihat drama receh itu lebih lama lagi, segera meninggalkan apartemen. Ia menulikan telinganya dari Raphael yang terus saja berusaha meminta maaf dengan suara terbata-bata.
"Gue minta maaf Tri, gue khilaf. Gue terbawa suasana. Beri gue kesempatan untuk memperbaiki kesalahan gue, Tri. Gue berjanji nggak akan mengulanginya lagi." Raphael yang terus mengekori langkahnya di sepanjang lorong apartemen mulai berprilaku sama seperti Karin tadi. Menghiba-hiba memohon maaf. Seperti inilah kelakuan para pecundang. Mati-matian mencari alasan dan terus saja menyalahkan keadaan. Sampah!
"Lo bilang apa tadi Raph? Khilaf? Lo kira gue anak SD yang bisa lo kibulin mentah-mentah? Desahan uh ah oh yes oh no gitu lo bilang khilaf? Kalo mau ngibul all out dong, Raph. Jangan nanggung! Jadi keliatan banget kan gobloknya? Denger ya Raph, mulai hari ini kita putus! Dan inget, lo jangan deket-deket gue lagi kalo lo nggak kepengen junior lo gue bikin sate!"
Dan ia pun meninggalkan Raphael begitu saja. Mantan pacarnya itu masih terus memanggil-manggilnya walaupun ia telah masuk ke dalam lift. Saat Raphael menyusul dan bermaksud ikut masuk ke dalam lift, ia memberinya satu hook kanan sekuat tenaga. Rapha meringis kesakitan seraya memegangi hidungnya yang sepertinya patah. Emang enak!
Mulai saat ini, ia memutuskan bahwa ia tidak akan pernah lagi memberikan hatinya pada laki-laki mana pun juga di muka bumi ini. Laki-laki itu semua tidak ada yang setia dan tidak ada yang bisa dipercaya?
Lo inget-inget kata-kata gue ini ya, preman pasar. Jangan terlalu terpesona dengan laki-laki ganteng. Karena laki-laki ganteng itu kalo nggak gay ya brengsek, termasuk gue!
Ternyata sahabat oroknya itu seratus persen benar. Raphael sudah terbukti tadi bukan gay, tapi brengsek! Ponselnya bergetar. Saat melihat nama Raphael yang tertera di sana, seketika membuat emosinya kembali terkait. Dengan tangan kanan menahan stir mobil dan tangan kiri meraih ponsel, ia langsung saja melemparkan ponsel itu keluar melalui kaca mobilnya. Masih tidak puas juga, ia mundur lagi dan menggilas ponsel itu berkali-kali sampai remuk tak berbentuk. Barulah ia merasa puas. Setelah berhenti sejenak untuk menenangkan adrenalinnya yang up and down, ia kembali melanjutkan perjalanannya. Baru beberapa menit berkendara, gantian ponsel khususnya yang bergetar. Ia memang selalu menggunakan dua ponsel. Satu untuk umum dan satunya lagi khusus untuk orang-orang terdekatnya saja. Saat melihat nama Raphael yang meneleponnya. Ia membiarkannya saja. Kalau bosan, pasti si Rapha akan bosan sendiri.
Tetapi alam sepertinya mengujinya lagi. Seseorang tiba-tiba saja menyeberang jalan tanpa aba-aba. Ia kaget dan seketika menginjak rem dengan mendadak. Suara decitan ban yang di rem mendadak menggema cukup keras di malam yang semakin larut. Nyaris saja! Tria menarik nafas panjang seraya berkali-kali mengumankan kata alhamdullilah dalam hati. Setelah perasaannya sedikit tenang, ia membuka pintu mobil dan bersiap-siap untuk memaki orang hampir saja membuatnya masuk penjara tersebut.
"Hei brengsek! Lo mau mati?! Kalo lo emang pengen banget mati, noh lo terjun sana dari apertemen tingkat 20! Jangan malah bunuh diri dengan cara nabrakin badan lo yang segede gaban itu ke mobil gue dong, sialan!"
Tria memaki-maki seorang laki-laki yang nyelonong begitu saja saat menyeberang jalan dan nyaris saja tertabrak olehnya. Gelapnya jalan tanpa lampu penerangan membuatnya tidak bisa mengenali sosok pria yang nyaris diratakannya dengan aspal tersebut.
"Ck... ck... ck... Entah salah dan dosa apalah yang sudah diperbuat oleh Om Aksa dan Tante Lia sampai mereka mendapatkan putri dajjal kayak lo, Tri. Gue turut berduka cita atas matinya hati nurani lo ya? Udah lo yang salah, eh malah lo yang nyolot. Emang ya kebodohan lo itu ternyata tidak terbatas ?"
Tria mengenali suara tajam dan dingin itu, bahkan tanpa si empunya suara memperlihatkan wajahnya itu.
Adzan Akbar Dewangga!
Akbar menatap sinis wajah murka Tria yang kini semakin tampak seram saja di matanya. Gadis ini memang seperti preman saja kelakuannya. Lihat saja celana jeansnya yang sudah sobek-sobek dan tidak layak pakai. Belum lagi jaket kulitnya yang penuh dengan paku. Penampilan Tria ini sudah menyerupai seekor landak saja. Entah dari segi manalah penampilan yang seperti ini bisa disebut keren. Akbar sampai ngeri sendiri melihat gaharnya penampakan wujud putri teman baik mamanya ini.
"Lo bilang gue apa? Putri dajjal? Lah terus sebutan untuk lo sendiri itu apa? Pangeran gay penyuka batangan? Gitu? Dasar "pemain anggar" syaiton lo! Salah apalah Om Dewa yang laki abis dan Tante Ory yang cakep parah dapet anak laki "belok" kayak lo ini? Kesian, kesian, kesian!" Gantian Tria yang kini mencemooh anak teman baik ibunya ini. Banyak orang mengatakan bahwa Akbar yang laki abis ini gay, karena sama sekali tidak doyan perempuan. Secantik dan seseksi apapun perempuan itu, tidak ada yang pernah berhasil menaklukan hati si beruang kutub ini. Deket-deket dengan manusia ini bakalan kedinginan coeg! Kagak ada anget-angetnya sedikit pun! Sumvah, ane kagak bohong!
"Lo kesian sama ortu gue? Yang perlu dikasihanin di sini sebenarnya itu lo, Tri. Pacar lo main kuda-kudaan sama calon kakak ipar lo kan? Lo nggak usah ngelak, ini kakak lo baru aja curhat sama gue. Jadi yang seharusnya dikasihanin di sini itu siapa? Coba pikir pake otak lo yang cuma segede otak ayam itu?!"
Tria terpaku. Ada rasa malu, terhina dan tidak terima yang hadir secara bersamaan di hatinya. Ia sedih dan malu. Tanpa bisa ia tahan, air matanya mengalir begitu saja. Untuk pertama kalinya ia menangis di hadapan orang lain.
Akbar tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka kalau si preman pasar ini bisa tiba-tiba menangis sampai sesenggukan seperti ini. Tria terlihat menutupi wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya yang bergetar. Dadanya berombak-ombak menahan sedu sedan. Akbar menjadi tidak tega juga melihat keadaan Tria yang terpuruk seperti ini. Ia sudah kelewatan sepertinya.
"Sudahlah Tri. Untuk apa lo tangisin laki-laki nggak bermutu seperti si Raphael itu. Masih banyak laki-laki baik lainnya yang menunggu lo temuin. Lo tinggal tunggu waktu yang tepat aja."
Akbar maju dua langkah. Memeluk tubuh mungil Tria yang entah mengapa terasa begitu pas dalam pelukannya. Harum Tria juga unik. Ia tidak beraroma seperti bunga seperti umumnya para wanita. Tria beraroma buah. Ada rasa segar yang menguar dari tubuh hangatnya. Seperti campuran antara apple dan melon. Rasanya Tria ini begitu enak untuk di "makan".
"Emangnya di dunia ini masih ada laki-laki yang baik, Bar?" Tria balas memeluk erat tubuh Akbar dan diam-diam juga menghirup aroma pinus dan tembakau yang samar-samar menguar dari tubuhnya. Ia menganggap Akbar seperti Tama saat ini. Kakaknya itu selalu memeluknya di kala ia sedang bersedih. Aroma Akbar ini jantan sekali. Sayang sekali ia ini doyannya "pisang" dan bukan "apel".
"Ck! Ya ada dong, Tri. Contoh kongkritnya ya gue."
"Ah lo kan bukan laki, Bar. Lo itu gay, pecinta "batangan". Bukan pecinta perempuan. Lagi pu-"
Hemmmptttt!!!'
Tria kaget saat Akbar melumat ganas mulutnya dan mengobrak-abrik rasa manis bibirnya. Tria yang tidak mempunyai pengalaman dicium sepanas ini terbuai dan menggigil bersamaan. Tanpa sadar, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran berputar-putar yang membuainya dalam panasnya hasrat. Ia tidak bisa mendeskripsikan perasannya. Perlahan bibir mereka berpisah. Tria masih mematung. Ia seperti tidak mempercayai apa yang baru saja mereka berdua lakukan.
"Setelah semua yang gue lakukan ini, apa lo masih menganggap kalo gue ini gay, Tri?" Akbar berbisik dengan suara serak dan parau di telinga Tria.
"Gue-gue..."
Tria yang masih shock tidak sanggup berkata-kata. Setelah ingatannya terkumpul semua barulah ia bereaksi keras.
"Dasar bajingan pervert! Gue matiin lo sekarang!" Tria mengamuk.
Akbar berusaha menahan beberapa pukulan hook dan jab kanan kiri Tria yang sedang mengamuk. Tria ini memang bukan perempuan biasa. Walaupun tubuhnya kecil, tapi tenaganya luar biasa. Terlihat sekali gerakan bela dirinya ini sudah terlatih lama. Setiap gerakannya konstan, bertenaga dan tepat sasaran. Kalau saja ia hanya laki-laki biasa tanpa menguasai teknik bela diri, pasti saat ini wajahnya sudah remuk tak berbentuk. Untungnya ia memang sudah terbiasa dengan yang namanya ilmu bela diri. Papanya sudah mendaftarkannya mengikuti pelatihan bela diri sejak ia mulai bisa berjalan. Ia, Tian, Tama dan Raphael Arthawra Al Rasyid satu club bela diri sedari mereka kecil. Hanya Tria yang beda club. Dia lebih suka satu club dengan Altan dan Bintang, dua sahabat oroknya yang berlatih di Green Hill Muay Thay Club. Asuhan Om Saka, pamannya sendiri. Saat ini dengan mudah ia menahan dua lengan Tria dan menempelkannya pada dada kekarnya.
"Harap lo ingat-ingat pelajaran hari ini. Pertama, gue ini laki-laki normal, bukan gay. Lo udah merasakan sendiri betapa lakinya gue 'kan? Kedua, otak itu bisa lumpuh karena situasi yang tidak terkendali. Contohnya ya kejadian hari ini. Untuk ke depannya, jangan coba-coba mengata-ngatai gue gay lagi, kalo lo nggak mau merasakan betapa "lakinya" gue. Gue bahkan bisa membuat perut lo mlendung tiap tahun kalau gue mau. Paham lo?!"
Akbar melepaskan kedua tangan Tria dan menghampiri mobilnya yang terparkir di sudut jalan. Ia tadi baru saja keluar dari gang rumah Benny yang memang tidak bisa dilalui oleh mobil. Makanya ia memarkir mobilnya di ujung jalan. Siapa sangka saat akan pulang dan menyeberang ke arah mobilnya di parkir, ia malah nyaris ditabrak oleh si preman pasar.
Tria sama sekali tidak menyahuti kata-kata Akbar lagi. Dia tahu kalau ia tidak akan menang jika ia kembali memaksakan diri menghajar Akbar. Ayahnya selalu mengatakan jangan suka memaksakan diri. Jika kita tahu bahwa musuh kita itu lebih kuat, maka mundurlah dengan elegant. Mati hanya karena mempertahankan kekeras kepalaan itu konyol. Alih-alih mempertahankan harga diri, malah berakhir dengan "bunuh diri".
Suara deruman mobil Akbar yang menjauh menyadarkannya dari monolognya sendiri. Akhirnya si gay pervert itu pergi juga. Tria mengibas-ngibaskan kepalanya. Mencoba mengusir bayangan Akbar yang tadi menciumnya dengan ganas. Pipinya memanas. Dengan pacarnya saja ia hanya membolehkan pipinya untuk dicium. Tapi si gay sialan itu malah mencuri ciuman pertamanya. Katanya saja gay, tapi ciumannya ganas pake banget. Berarti selama ini kabar yang mengatakan bahwa Akbar adalah seorang gay hanyalah isapan jempol belaka. Gay itu seharusnya kan tidak bisa bernafsu terhadap lawan jenisnya. Atau jangan-jangan Akbar tadi mengganggapnya sebagai seorang laki-laki tampan? Kan ia memang lebih sering disebut tampan dari pada cantik? Kepalanya makin pusing saja memikirkannya. Auk ah gelap!
Tria baru saja memasang safety beltnya saat ponsel khususnya berbunyi. Ketika melirik nama pemanggilnya, ia berdecak kesal. Karina Winardi! Mau apalagi si pelakor satu ini. Tetapi ia tetap mengangkat teleponnya. Ia tidak mau Karin berpikir kalau ia adalah seorang pecundang. Apalagi memberi kesan kalau saat ini ia tengah menangis merana gundah gulana karena pacarnya direbut orang. Never!
"Ada apa, Rin? Mau mengabarkan kalo lo udah sukses ngerebut pacar orang, atau kabar akhirnya lo batal jadi bini orang?" Ia menjawab santai panggilan telepon dari Karina. Entah mengapa sekarang ia sudah kehilangan rasa sedihnya. Saat ini rasa-rasanya ia malah mensyukuri kejadian di hari ini. Setidaknya ia tidak jadi mempunyai kakak ipar yang berkelakuan seperti iblis dan juga pacar yang mirip dengan demit.
"Nggak dua-duanya, Tri. Gue cuma mau bilang kalo gue itu puas banget udah berhasil nunjukin kalo pacar lo itu sebenernya nggak cinta sama lo. Tapi sama gue. Gimana rasanya ngeliat pacar sendiri ena ena sama gue? Nyesek, gagal jantung atau pengen bunuh diri? Penasaran gue. Lo anjing-anjingin pastinya ya? Secara lo kan preman pasar!
"Gue anjing-anjingin? Ya kagak lah! Gila aja gue nyamain si Rapha sama anjing. Anjing itu kan setia. Kasian anjingnya kali. Ntar dia merasa terhina kalo disamain sama orang-orang tukang selingkuh kayak lo lo pada. Beda level, coeg! Lagian lo nggak usah bangga karena udah berhasil ngerebut pacar orang. Beban lo itu berat lho, Rin. Nggak gampang miara penghianat. Lagian ngapain juga lo nelpon gue? Mau nunjukin betapa busuknya lo? Gue kadang heran ngeliat manusia-manusia nggak ngotak kayak lo. Nggak sayang apa lo punya otak tapi kagak pernah dipake? Udah ya, gue tutup dulu teleponnya. Kelamaan ngomong sama lo bikin gue engap. Sampah semua sih omongan lo!" Tria menutup telepon Karin begitu saja. Eneg kelamaan berbicara dengan orang stress. Lebih baik ia menjernihkan pikirannya. Ikut adu balap liar misalnya. Saat ide cemerlang itu singgah di kepalanya, ia segera memutar balik arah mobil menuju tempat nongkrong favoritnya.
Tria tiba di arena balap liar dengan sambutan tepuk tangan heboh para joki-joki yang sedang mangkal. Sudah cukup lama juga ia tidak ke tempat ini. Raphael tidak suka melihatnya mengikuti bali alias balap liar. Raphael lupa, bahwa melalui arena inilah ia bisa mendapatkannya sebagai pacar. Raphael mengalahkannya di tempat ini setahun yang lalu. Dan konsekuensinya adalah ia harus menjadi pacarnya.
"Wohoooo... akhirnya ratu bali kita turun gunung juga. Dengaren amat Tri, lo tetiba aja mau nongkrong lagi di mari. Gandengan lo mane?" Ricard si biang taruhan menepuk bahu Tria yang baru saja keluar dari mobil dengan gembira. Sumber pundi-pundi uangnya sudah datang.
"Udah metong dia gue racunin pake oli kotor." Jawaban tidak terduga Tria membuat ngakak Ricard dan beberapa joki yang kebetulan berdekatan dengannya. Ia rindu suasana ini. Suara mesin motor yang digeber-geber. Tawa riuh yang kadang diselingi dengan obrolan seputar mesin motor, bahkan obrolan-obrolan nakal beberapa kelompok joki yang suka berpetualang dengan para cabe-cabean pemuja mereka. Ia bukan manusia sok suci. Ia tidak suka menghakimi orang lain. Ia berprinsip, selama lo kagak nyenggol gue, gue mah asik-asik aja. My life my rule. Dosa mah ditanggung masing-masing. Tidak usah menyinyiri hidup orang lain selama kita masih doyan ghibah sana sini.
"Lo mau terima panjar nggak, Tri?" Ricard menepuk bahu Tria. Mengajak untuk bertanding. Ada beberapa joki baru yang potensial hari ini. Di dalam mobil mewah yang terparkir di ujung arena, ada seorang anak pejabat yang sangat gemar mengikuti bali seperti ini. Taruhannya pasti bisa melar tinggi. Alamat untung gede dia!
"Ck! Lo nggak liat apa kalo gue nggak bawa motor? Gue jadi team hore aja di mari." Sahut Tria seraya membuka jaket bikers penuh stud-nya. Saat ini ia hanya menggunakan kaos oblong putih dan ripped jeansnya.
"Ah kalo itu mah gampang. Lo pake aja motor gue. Gimana?" Ricard masih berupaya membujuk Tria.
"Spek mesinnya apa? 58-an standard atau 58-an bebas?" Tria merasa tidak ada salahnya juga ia main sekali-sekali. Ia ingin melepas semua rasa suntuknya hari ini.
"Kita main yang 58-an standard aja? Oke? Kalo lo nggak yakin, ntar gue suruh yang lain lepas baut aja. Biar kita bisa sama-sama ngecek speknya. Gue juga nggak suka ada yang main curang dan pake selundupan." Ricard kembali berusaha untuk meyakinkan Tria.
"Kita main berapa tiang? Gue mau kita mainnya cengli dan gue sendiri yang ngecek scrutineering regulasi mesinnya. Kalo lo lo semua setuju sama syarat-syarat gue, ayo kita main." Keputusan Tria mengundang siulan heboh joki-joki lainnya. Beberapa orang bandar taruhan bahkan bertepuk tangan dengan gembira.
"Gue pasti megang lo, Tri." Denis, Pascal dan Wilmar mengangkat tangan kanan mereka masing-masing dengan optimis.
"Ntar kalo lo udah masuk garis finish, tunjukin gaya superman andalan lo ya, Tri? Mau gua masukin ke IG gue." Pascal nyengir saat merequest permintaan khusus pada Tria. Superman adalah posisi balapan sambil tiduran di atas motor.
"Bentar gue tanya orang yang mau nantang lo du-- nah ini orangnya udah nongol." Tria melihat Ricard bertepuk tangan saat seorang pria bertubuh tinggi besar berjalan menghampirinya.
"Nah Tri, ini Bratasena Pangestu. Gue yakin lo pasti sering ngeliat bokapnya di teve. Gue nggak perlu ngejelasin lagi kan?" Richard kini berpaling pada sang pemuda.
"Sen, ini yang harus lo kalahin. Nah lo bedua silahkan saling kenalan dulu, biar enak ntar lo bedua mainnya. Oh ya Sen, Tria adalah hantunya arena ini. Pokoknya dia ini nggak ada obatnya." Seperti biasa si makelar ini mempromosikan joki-nya.
"Tolong lo pake dulu jaket lo, Joki. Kalo lo cuma pake kaos tipis begini bisa nggak fokus mata gue nanti. Mau gue anggurin sayang, mau gue liatin ntar lo bilang gue kegatelan." Tria melongo sesaat mendengar betapa vulgarnya setiap kata-kata yang diucapkan si anak mentri.
Lo jual gue, gue borong deh.
"Lo yang ngaceng, kenapa mesti gue yang repot? Segala baju gue lo urusin. Otak lo noh yang dibenerin." Tria berdecih sinis. Ia bukanlah kaum feminisme yang ektrim ataupun seorang aktifis perempuan. Ia juga tahu sampai di mana batasan cara berpakaiannya. Ia hanya tidak suka dengan kaum laki-laki yang selalu saja bersikap otoriter dan menghakimi orang lain hanya karena ia tidak mampu menahan nafsunya sendiri. Lagi pula ia bukannya memakai tank top atau lingerine. Dia hanya mengenakan kaus oblong yang ukurannya bahkan sengaja ia lebihkan satu size agar tidak terlihat ketat. Manusia ini saja yang ngeres otaknya.
"Lo galak bener sih, Cantik. Gue demen yang begini ini nih. Pasti lo liar banget dalam segala hal. Bikin gue tambah napsu aja. Tapi gue harap saat lo jadi menantu menteri nanti, lo bisa berkebaya anggun ya, Cantik. Buat bokap dan nyokap gue bangga. Kalo gue sih sebenernya lebih seneng kalo lo nggak usah make apa-apa."
Sena mengedipkan sebelah matanya dengan gaya mesum. Tria menjinjitkan alisnya. Ia risih. Sena seperti sedang menggerayangi dirinya hanya melalui tatapan matanya. Laki-laki modelan begini pasti otaknya selalu ketinggalan di selangkangannya. Kalau saja ia tidak mendengar sendiri berondongan kata-kata vulgar dari salah seorang anak mentri negeri ini, ia pasti tidak akan percaya. Bratasena Pangestu yang nota bene adalah anak orang besar negeri ini, ternyata kelakuannya bejat juga kalau di luar layar kaca. A man is a man. Whatever the species, males never change, do they?
"Lo lupa kita juga punya mantan mentri kelautan dan perikanan yang gahar abis? Merokok, tatoo-an tapi juga bisa anggun saat berkebaya. Satu hal yang harus lo tau, perempuan zaman sekarang itu nggak cuma bisa ngangkang doang, tapi juga bisa lebih berprestasi dari kaum lo. Ayolah, sekarang udah tahun 2020, jangan lo pikir perempuan cuma alat untuk ngangetin lo di ranjang. Gue bahkan bisa bikin lo gosong di sana. So, tolong jaga lidah lo. Jangan asal ngecot doang. Sampah!" Balas Tria ganas. Ini laki sebiji mulutnya najis banget.
"Oh... berarti lo bersedia jadi mantu mentri dong? Makanya lo ngasih perbandingan ada mantan mentri yang gahar kayak lo, Cantik." Sena mengedipkan sebelah matanya. Tria memutar bola matanya. Bener-bener ya ini manusia sebiji!
"Wadoohhhh... belum apa-apa udah panas aja lo bedua. Ya udah, nggak perlu acara kenalan lagi dah. Ribet ntar urusannya kebawa-bawa waktu main. Ya udah kita main 6 tiang. Yang mau pegang Tria atau pegang Sena silahkan pasang di sini. Yang cuma naninu harap menjauh. Herman ayo mulai brodol. Kalian berdua harap segera bersiap-siap." Ricard mulai meneriakkan perintah.
Tria berjalan kembali ke arah mobilnya dan mengambil jaket. Saat-saat akan main begini, adrenalinnya selalu terpacu deras. Ia seperti mendapatkan pelampiasan untuk segala macam permasalahan hidupnya.
"Lo beneran udah putus dari Rapha, Tri?" Ricard sepertinya masih sangat penasaran dengan kisah cintanya. Ia mengangguk.
"Kenapa?" Tanya Ricard lagi.
"Dia ketangkul sama gue tadi pas lagi mau ena ena sama calon kakak ipar gue." Tria nyengir. Dia sudah lupa rasa sakit hatinya. Perasaannya yang sedih tadi sudah hilang semua. Jangan-jangan hatinya ini made in china. Makanya perasaannya gampang rusak. Hahaha.
"Ck! Makanya gue nggak mau nikah sama laki seberapa gantengnya pun mereka. Cukup gue pacarin dan gue emek-emek aja." Gantian sekarang si gay sejati, Ricard yang nyengir.
"Hans gimana kabarnya, Card?" Tria menanyakan kabar adik Ricard yang sakit kanker darah.
"Ya begitulah, Tri. Harus bolak balik kemo. Makanya gue harus rajin-rajin cari duit buat ngerawat dia. Cuma dia satu-satunya keluarga yang gue punya, Tri." Sahut Ricard sendu. Dibalik penampilan Ricard yang gahar dan seram, sesungguhnya ia adalah seorang penyayang yang lembut hati. Kisah kelam masa kecilnya yang kerap kali mendapatkan pelecehan seksual akhirnya merubah orientasi seksualnya. Setiap orang mempunyai permasalahan sendiri bukan? Dunia ini kejam, Man!
"Kalo lo mau gue bisa bantu biaya--"
"Nggak usah Tri. Gue bukan tukang minta-minta. Permintaan gue cuma satu, lo harus menang kali ini. Gue megang lo soalnya. Itu saja udah cukup buat gue. Ayo gaspol kan, Tri!" Ricard memberi semangat.
"Ahsiapppp... " Tria memberikan jawaban lucu untuk sekedar mencairkan suasana sedih yang sempat tercipta.
Tria dan Sena saat ini sedang bersiap-siap main. Sistem start kali ini bukan memakai aba-aba 123. Melainkan hanya dengan sistem geberan yang mengandalkan feeling joki. Tria mulai memancing emosi Sena dengan melakukan blayer dengan grip dan gas yang ditekan hingga RPM tertinggi. Ia tidak tahu bagaimana ekspresi wajah Sena karena mereka berdua kini telah memakai helm full face. Kali ini ia harus menang. Ada titipan doa dari Ricard untuk biaya kemoterapi Hans, adiknya.
Gue harus menang, walaupun gue harus melewati panasnya api neraka, akan gue terjang demi Hans dan Ricard!
NOTES.
Joki adalah pelaku balap atau rider balap liar.
Satu tiang adalah tanda jarak yang berpatokan pada tiang listrik atau tiang lampu yang ada di jalan. Di mana persatu tiang memiliki jarak sekitar 20-50 meter yang dapat dibuat patokan hitung panjang trek.
Lepas baut adalah Liat spek mesin dengan cara bongkar mesin.
Melar adalah Pasangan taruhan bisa dinaikan sesuai kemampuan masing-masing bengkel.
58-an standard adalah spek mesin hanya menggunkan piston 58 mm sedangkan part pendukung lainnya standar.
Pegang adalah pilihan atau berpihak.
Selundupan adalah motor pinjaman untuk di pertandingkan yang tidak mau dikasih tahu nama bengkelnya.
Naninu adalah seseorang yang 'belagu' bergaya sok bos racing tapi enggak punya duit.
Brodol adalah waktunya totalan untuk taruhan dan bikin motor kencang.
Geberan adalah start yang tidak ada hitungan atau aba-aba terlebih dahulu dan hanya pakai feeling joki.
Blayer adalah memancing emosi lawan dengan grip gas ditekan hingga RPM tinggi.
Nggak ada obatnya adalah tidak pernah kalah saat balapan dan tidak ada lawan. Namun, dihaluskan bahasanya menjadi nggak ada obatnya.
Tria melaju kencang berkejar-kejaran dengan Sena. Anak mentri ini ternyata pemain juga sepertinya. Jarak mereka berdua saling bayang membayangi. Tinggal dua tiang lagi. Tria akan mengambil resiko. Ia tidak mau membuat Ricard cuma kondangan saja. Ia harus menang bagaimanapun caranya. Tria melaju tenang saat Sena semakin dekat di samping kanannya. Ketika jarak tinggal satu tiang, ia langsung menggas habis motornya dan melaju kencang dalam posisi ampar-amparan. Tepuk tangan riuh menyambutnya yang duluan masuk dengan jarak sekebon dengan Sena. Ia melakukan selebrasi kemenangan dengan cara digantung dan atraksi superman. Aksinya ini disambut dengan tepuk tangan meriah dan cuitan riuh para pemegangnya.
"Lo emang gila, Tri. Sampe sekarang lo emang nggak ada obatnya. Gue sungkem dah liat kedigjayaan lo. Mana masuknya sekebon lagi. Pasti tengsin berat tuh si Sena nggak lo kasih muka." Ricard memyambutnya dengan gembira. Ia hanya tertawa dan saling bertoss ria dengan Ricard. Senyumnya terbit saat melihat para orang pinggiran juga sedang heboh membagi-bagi rezeki karena kemenangannya. Beberapa orang terlihat mengipas-ngipas lembaran uang kemenangan dengan gaya jumawa. Dari sudut matanya ia melihat Sena dengan wajah memerah menahan malu memandang kesal kepadanya. Masuk dengan jarak sekebon memang amat sangat memalukan. Sekebon adalah jarak finish yang terlalu jauh antara pembalap yang menang di depan. Harga diri si anak mentri ini pasti nyungsep ke got saking malunya.
Tiba-tiba sebuah mobil yang dikenal baik olehnya memasuki arena tracking dengan kecepatan maksimal. Decitan suara ban yang direm mendadak membuat kerumunan membelah dua. Memberi jalan pada mantan joki nggak ada obat lainnya. Mereka mengenali mobil Raphael Danutirta. Mantan pacarnya itu ternyata masih saja keukeh mengejarnya walau dalam keadaan hidung di perban.
Tria menghela napas panjang. Ini laki sebatang doyan banget ngerusuhin hidupnya. Tria sudah bertekad untuk memperlakukan Raphael seperti nyamuk saja. Terlihat dan berbunyi. Tetapi tidak berarti. Ia tidak mau terlihat marah atau histeris yang berlebihan. Baginya putus cinta ya the end, tamat, enceng. Udah gitu aja. Lain cerita kalau putus cintanya, udah putus tapi masih cinta. Bisa pengen ngunyah knalpot kalau kasusnya begitu mah. Ia hanya diam dan memperhatikan saat Raphael keluar dari mobil dan menghampirinya.
"Lo masih marah sama gue Tri? Gue kan udah berkali-kali minta maaf. Kasih gue kesempatan sekali lagi ya, Tri?" Raphael menahan laju tubuh Tria yang terlihat ingin masuk ke dalam mobil. Tria menghitung sampai sepuluh dalam hati. Mencoba menenangkan diri. Ia ingin menjaga lisannya. Kan tidak baik kalau ia mengabsen nama seluruh satwa yang menghuni kebun binatang padahal yang bersalah itu manusia.
"Gini ya, Raph. Kalo lo masih mengerti bahasa manusia, tolong lo menjauh dari hidup gue. Karena untuk gue menerima lo lagi, itu kayak nungguin ayam beranak. Alias nggak mungkin. Sekarang lepasin tangan gue. Gue mau pulang!" Tria menyikut Rapha dengan satu gerakan cepat yang sayangnya sudah diperkirakan oleh si penghianat cinta ini. Raphael balik menahan kedua pergelangan tangannya dengan dua tangan besarnya.
"Lo inget nggak kalo setahun yang lalu kita ngetrack di sini? Gue ngalahin lo dan akhirnya kita jadian. Gue inget banget moment kita berboncengan berdua dalam derasnya hujan. So sweet sekali saat itu kan, Tri? Bagaimana kalo kita ulang lagi moment itu. Kita main sekali lagi. Kalo gue menang, lo harus mau balikan sama gue. Tapi kalo gue kalah, gue janji selamanya gue nggak akan mengusik hidup lo lagi. Gimana Tri? Deal? Setau gue lo ini bukan seorang pengecut yang takut pada tantangan bukan?" Raphael mencoba mengusik harga diri Tria. Ia tahu kalau ego Tria ini gampang panas kalau disenggol.
"Ck! Itu kan dulu, Raph. So sweet emang dulu ujan-ujanan naik motor dua-duaan. Tapi so sweet sekarang bagi gue itu adalah saat ujan-ujanan lo nyetir motor sendirian, terus kesamber petir," sembur Tria pedas. "Denger ya Raph, gue bukannya takut, gue cuma kagak napsu sama tawaran lo. Basi tau!" Tria membuka pintu mobil dan bersiap masuk ke dalamnya. Tiba-tiba saja Raphael menarik kuat lengan kanannya dan membawa tubuhnya dalam pelukan.
"Jangan begini, Tri. Gue mohon jangan begini. Gue tadi cuma cuma khilaf, Tri. Gue terjebak. Sumpah! Jangan tinggalin gue, Tri. Apa yang bisa lakuin agar lo tahu betapa menyesalnya gue, Tri?" Raphael terlihat sangat putus asa oleh penyesalannya sendiri. Ia tidak menyangka kalau keisengannya menyambut tawaran cuma-cuma Karin tadi bisa menjadi berbuntut panjang seperti ini. Sebenarnya sudah hampir dua bulan ini Karin memberinya kode-kode untuk melakukan affairs. Di mulai dari hanya sekedar pandangan menggoda sampai dengan chat-chat mesra. Puncaklah adalah kejadian beberapa jam yang lalu. Karin tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Ia sebenarnya sudah berupaya menolak. Tetapi ia laki-laki. Berpuasa hampir setahun lamanya membuat imannya goyah juga.
Syarat dari Tria saat mereka jadian dulu adalah ia harus bisa merubah tabiatnya yang suka ONS sembarangan menjadi laki-laki yang setia. Walaupun untuk merubah habit itu tidak mudah, tapi ia terus berusaha mencobanya demi cinta. Hampir setahun ini, selama ia menjadi pacar Tria, ia berusaha setia. Sampai yah... beberapa jam yang lalu, saat ia tertanggap basah sedang melakukan foreplay dengan Karin. Ia menyesal! Sungguh-sungguh menyesal. Dia tidak rela saat membayangkan si tomboy seksi ini akan menjadi milik orang lain.
Ia mencintai Tria. Ia mencintai ketomboyannya, kegaharannya, bahkan ketengilannya. Tria unik dengan cara yang pas. Ia bahkan sudah terlihat seksi tanpa harus berpenampilan terbuka. Mata Tria sangat seksi dan ekspresif. Tatapannya magis dan menghipnotis. Raphael sebelumnya tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh teman-temannya tentang betapa seksinya tatapan mata Tria, sampai ia melihatnya sendiri di sini. Di tempat ini hampir setahun yang lalu. Darah kelelakiannya berdesir saat menatap kedua mata magis Tria, sehingga ia pun bertekad untuk dapat memilikinya. Jadi bagaimana mungkin ia akan menyerah begitu saja setelah hampir setahun si cantik ini ada dalam pelukan hangatnya.
"Sering terjadi memang. Giliran enak lo bilang khilaf. Begitu nggak enak, lo bilangnya terjebak. Sorry ya, Raph. Gue nggak segoblok itu! Lepasin gue, Raph. Lagian gue udah nemu pengganti lo yang lebih hot luar dalam."
Tria mendorong dada Raphael dengan sekuat tenaga. Saat mengatakan hot luar dalam, Tria sengaja membuat suaranya mendesah dan membuka sedikit bibirnya. Ia berusaha sebaik mungkin meniru pose photonya Angelina Jolie dengan bibir yang sengaja dibuka dua senti seperti ikan mas koki yang filternya mati.
"Secepat ini? Gue nggak percaya. Mana orangnya?" Raphael berdecih sinis. Ia tidak percaya kalau Tria sudah mendapatkan penggantinya hanya dalam hitungan jam saja. Karena ia tahu, Tria ini bukanlah type orang yang gampang untuk jatuh cinta.
"Oh, lo nggak percaya? Oke. Bentar, gue panggilin orangnya." Tria memutar kepalanya ke samping kanan seraya berteriak kencang," Sena sayang, ke sini sebentar dong. Ini mantan gue pengen ketemu lo!" Tria melihat Sena yang tengah berbincang-bincang dengan beberapa joki terpana sejenak. Namun ia menghampiri juga tempatnya berdiri. Saat ini sedang berdiri berhadap-hadapan dengan Raphael.
"Apa apa, Babe? Ada yang berani mengganggu kamu, hmmm? Cup!" Bola mata Tria membesar saat merasakan Sena merangkul tubuhnya begitu erat dan mencium pipi kirinya dengan gemas. Panasnya bibir Sena yang merambati pipi kirinya membuat Tria merinding.
Dasar tukang cari kesempatan!
"Ini mantan gue nggak percaya kalo lo sekarang udah ngegantiin posisi dia di hati gue. Coba tolong lo ceramahin dia dulu tentang apa yang disebut dengan mantan, supaya otak bebalnya itu bisa kebuka." Tria menggelayuti lengan kekar Sena dengan manja. Seumur hidup ia tidak pernah bertingkah secentil ini dengan siapa pun kecuali pada keluarganya dan Altan tentu saja. Tetapi demi membunuh ego Rapha, kali ini dia rela sejenak bertingkah seperti cabe cabean ayam penyet begini.
"Ooohhh... jadi lo nggak terima kalo pacar lo udah moved on dan punya gandengan baru? Makanya ingatlah slogan jagalah pacar sebelum kehilangan. Kalo perlu kunci stang sekalian biar nggak diambil orang!" Kata-kata Sena membuat wajah Rapha berubah menyeramkan. Selama ini ia tidak pernah melihat Tria tersenyum manis pada pria lain apalagi memanggilnya sayang. Melihat Tria melakukan kedua hal tersebut secara bersamaan pada laki-laki selain dirinya, membuat emosinya langsung naik pada level tertinggi. Ia tidak menyahuti kata-kata Sena, tapi ia langsung menghadiahkan beberapa bogem mentah padanya. Ia emosi sekali. Sena mengelakkan pukulannya sebelum membalas tak kalah ganas. Akhirnya mereka berdua saling jual beli pukulan dengan beringas.
Inilah saatnya!
Tanpa membuang-buang waktu lagi Tria masuk ke dalam mobil dan melesat kencang meninggalkan dua banteng marah yang sedang mengamuk itu. Finally ia terlepas juga dari keharusan memandang wajah memuakkan Rapha. Mengenai dua orang pria yang telah ia adu domba eh lebih cocok dengan sebutan adu banteng karena melihat postur tubuh keduanya, ia hanya bisa mengucapkan kata turut prihatin dalam hatinya.
Baru saja berkendara tidak lebih dari lima belas menit, tiba-tiba saja sebuah mobil Ferrari California T 2015 memotong laju kendaraannya di tengah-tengah jalan. Tria yang kaget refleks menginjak rem. Ia seperti mengalami dejavu. Sepertinya ia perlu di rukyah karena dalam beberapa jam saja ia sudah hampir menabrak dua orang.
Tok! Tok! Tok!
Seorang mengetuk pintu. Bratasena Pangestu. Ck, sepertinya perkelahian telah usai. Cepat sekali. Padahal menurut perkiraanya, butuh waktu sekitar 10 sampai 15 menit baru ketahuan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ketika ketukan di pintu mobilnya semakin kencang, mau tidak mau ia keluar dari mobil juga. Mau apalagi lah ini si anak mentri ini?
"Ape lo!" Bentak Tria sambil berkacak pinggang.
"Ape lo, ape lo! Pinter banget lo ya, ninggalin gue gitu aja setelah lo manfaatin gue buat ngusir mantan lo." Sena mencengkram rahang Tria dengan gemas. Tria menepis tangan Sena kasar. Ini orang tangannya geratil sekali.
"Lah kenapa lo mau? Oon-nya tadi eh sadarnya baru sekarang. Ya udah, berhubung gue lagi baik hati, gue ngucapain banyak-banyak terima kasih deh atas bantuan nggak seberapa lo tadi? Semoga amal ibadah lo diterima oleh yang maha kua--"
"Sialan! Lo ngarepin gue mati? Lo kecil-kecil begini ternyata ngeselin juga ya?" Bentak Sena geram. Gerahamnya saling beradu saking geramnya melihat kedegilan Tria.
"Tapi gue orangnya ngangenin lo, kalo-kalo lo nggak nyadar. Ya udah langsung aja deh, lo ngapain pake nyusulin gue di mari? Mau minta ucapan terima kasih dari gue? Pan udah tadi." Tria kini bersedekap, menatap kedua mata Sena dengan tajam. Sena terkesima sejenak. Jika wanita-wanita yang dikenalnya akan tertunduk malu-malu atau memberikan tatapan penuh arti bila sedang ditatap tajam olehnya. Tapi Tria ini berbeda. Ia malah menyiratkan tatapan menantang balik padanya. Berandal kecil ini tidak ada takut-takutnya jadi manusia.
"Gue mau lo. Jelas?" Sena memajukan wajahnya mendekati Tria. Kini jarak wajah mereka hanya tinggal sejengkal.
"Mau gue? Sana minta sama kedua orang tua gue kalo lo berani. Awas, gue mau pulang. Udah hampir pagi. Gue capek, mau pulang istirahat. Pinggirin mobil lo kalo nggak mau gue tabrak!" Tria masuk ke dalam mobil kembali setelah melihat Sena memundurkan mobilnya. Saat melewati mobil Sena, ia dengan sengaja membuat gerakan seolah-olah akan menabraknya. Ketika melihat Sena memaki, ia tertawa geli. Puas sekali rasanya ia bisa mengerjai seorang anak mentri.
Meminta lo pada kedua orang tua lo? Baiklah, besok bakalan gue boyong keluarga gue buat melamar lo. Liat aja, batin Sena.
NOTES.
Kondangan adalah kalah taruhan digambarkan sepeti orang yang pergi kondangan. Hanya mengantar uang.
Ngampar atau ampar-amparan adalah menandakan jarak menang motor cukup jauh dengan motor antara yang ada di depan dan yang di belakang.
Pinggiran adalah orang lain yang taruhan di luar kesepakatan kedua bengkel, biasanya dilakukan saat di garis finish.
Sekebon adalah jarak finish yang terlalu jauh antara pembalap yang menang di depan dengan yang di belakang (yang di plesetkan menjadi seluas perkebunan).
Di gantung adalah posisi menang di depan lawan sambil mainin gass di depan lawan yang ketinggalan saat posisi balapan.