Bab 2

Douglas Handerson, namanya yang terdengar mengintimidasi memang sangat sesuai dengan sosoknya. Rambutnya yang berwarna hitam dengan alis tebal sangat kontras dengan matanya yang berwarna coklat hazel. Bentuk hidungnya terpahat sempurna dengan bibir tipis dan rahang tajam. Tubuhnya yang tinggi menjulang sangat menonjol saat ia berada di kerumunan. Semua yang ada pada diri Douglas selalu mampu membuat orang lain menoleh jika dia lewat.

Dan yang membuatnya lebih menarik adalah kenyataan bahwa Douglas bukan lelaki tampan yang bodoh dan hanya mengandalkan wajah. Ia memang terkadang bersikap manja dan kekanak-kanakan tapi nilai olahraga dan prestasi akademiknya selalu masuk urutan tiga besar di sekolah. Dan seakan tidak cukup, Douglas juga merupakan anak tunggal pemilik Handerson Company.

Awalnya Alice kurang menyukai sosoknya yang sangat menonjol dan mendekati sempurna. Karena menurutnya orang tampan selalu bersikap angkuh jika mereka sadar kalau dirinya tampan. Tapi setelah mengenal sosok Douglas selama tiga tahun, Alice tahu kalau ia adalah pria yang baik. Ia selalu ada di saat Alice membutuhkan seseorang untuk bersandar. Seperti yang terjadi di hari pemakaman mendiang ibu Alice.

___

___

POV Alice

Aku menatap foto ibuku yang di hiasi dengan bunga di sekeliling fotonya. Tanganku memegang guci yang berisi abu ibuku. Tidak ada lagi air mata yang menetes. Semua sudah tumpah saat menemani ibuku di rumah sakit selama berbulan-bulan. Ibuku meninggal dunia karena sakit jantung. Jantungnya memang lemah sejak lahir. Kelahiranku adalah keajaiban baginya.

"Aku turut berduka cita Alice" ujar Chloe teman dekatku sambil memegang kedua tanganku ketika mengucapkannya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum lemah. Lalu Chloe memelukku erat seperti mencoba untuk menguatkanku. Aku tahu pelukannya tulus tapi entah kenapa hatiku mendingin dan tidak bisa merasakan kehangatan di balik pelukannya. Apa aku menuju depresi setelah kematian ibuku?

Selang setengah jam berlalu, Chloe pamit pulang agar aku bisa beristirahat. Aku melihat sekeliling. Rumahku sudah sepi. Hanya tinggal beberapa kerabat yang masih tinggal dan menghibur ayahku. Karena bosan, aku meletakkan guci abu di meja.

"Otousan, aku akan keluar sebentar" kataku pamit pada ayahku. Ayahku hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya, mungkin ia tahu bahwa aku juga butuh waktu untuk menyendiri.

Aku menyusuri taman yang terletak di belakang komplek rumahku dan berjalan menuju sebuah pohon besar yang rindang. Aku duduk di sana sendirian, hanya diam melihat rumput yang tumbuh di sekitar pohon dan tidak ingin melakukan apapun.

Cukup lama aku duduk termenung sampai gerimis turun dan menyadarkanku. Aku menadahkan tanganku ke atas, berusaha untuk menggenggam tetesan airnya meskipun mustahil. Semakin lama gerimis turun deras dan berubah menjadi hujan.

Aku tidak bergerak sama sekali dari tempatku duduk. Karena udara semakin dingin, aku menekuk kedua kakiku dan meringkuk. Susana yang basah dan dingin tiba-tiba membuat dadaku terasa sesak. Air mata yang aku kira sudah habis ternyata hanya tertahan dan akhirnya tumpah. Aku menangis sesenggukan di bawah hujan, melipat kedua tanganku dan bertumpu pada kakiku. Semua kenangan tentang ibuku datang seperti film yang di putar di pikiranku. Hatiku sakit sekali. Aku merindukan ibuku.

Suara hujan yang deras menutupi suara tangisku. Tapi itu tidak Tiba-tiba air hujan berhenti membasahi tubuhku. Aku mendongakkan kepala dan terkejut melihat sosok Douglas yang sedang menatapku. Tangannya yang memegang payung di arahkan padaku untuk melindungiku dari hujan.

Aku melihat bajunya basah dan tangannya mulai gemetar kedinginan. "Bodoh, sedang apa kau di sini?" teriaknya lalu menarik tanganku dengan sekali sentakan.

"Lepaskan" kataku. Douglas hanya diam dan tidak menghiraukan permintaanku. Ia menggenggam tanganku agar berlari mengikutinya.

Aku mencoba lagi untuk melepaskan genggaman tangannya di lenganku, tetapi sia-sia saja. Karena sedang bersedih aku tidak punya tenaga sama sekali. Akhirnya aku pasrah mengikutinya berlari. Kami sampai di depan sebuah pertokoan yang sudah tutup untuk berteduh. Douglas melepaskan tanganku.

Karena lelah, aku berjalan ke sudut tembok dan bersandar. Douglas menghampiriku dan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya lalu memberikannya padaku. Sedikit basah.

Lalu ia mulai menceramahiku seperti yang biasa dilakukannya saat aku mulai bertindak konyol.

"Kau ini, otakmu terbuat dari apa sih?" katanya sarkas.

"Aku tidak menyangka kau sebodoh ini" lanjut Douglas sambil memijat kepalanya.

"Kau tahu'kan dilarang berteduh di bawah pohon saat hujan besar seperti ini. Apa kau mau mati tersambar petir?" teriaknya.

Aku hanya menunduk saat dimarahinya seperti ini dan tidak ingin membantah perkataannya sama sekali seperti yang biasa aku lakukan. Karena aku hanya diam, Douglas akhirnya berhenti memarahiku.

Setelah hening yang panjang di antara kami, tiba-tiba ia berjongkok di hadapanku dan mengambil sapu tangan dari tanganku. Douglas mengusap pipiku yang basah. Entah basah karena air mataku atau hujan yang jelas saat ini wajahku sangat berantakan.

"Kalau kau ingin menangis, menangislah. Jangan ditahan. Tapi jangan berbuat sesuatu yang bisa membahayakan nyawamu sendiri." Nada suaranya terdengar lembut, sangat kontras dengan saat ia marah tadi.

Aku menatap matanya. Sorot matanya terasa hangat. Kalau saat ini situasinya tidak seperti ini mungkin aku akan salah tingkah karena ditatap oleh Douglas seperti itu.

Douglas membalikkan badannya dan punggungnya menghadapku. Aku hanya menatap punggungnya yang lebar. Tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan. "Jangan menatap terpesona seperti itu" katanya melirikku dari balik bahunya dan tersenyum.

"Hari ini, hanya hari ini aku akan meminjamkan punggungku untukmu. Kau bisa menangis sepuasnya di sini" Douglas menepuk-nepuk punggungnya.

Karena diperlakukan dengan hangat seperti itu tangis yang sudah berhenti akhirnya keluar lagi. Aku menyandarkan kepalaku dan menangis dengan keras di punggungnya.

Suara tangisanku dan hujan menjadi satu. Aku menangis sangat lama hingga dadaku terasa sesak. Douglas tidak mengatakan apapun dan hanya menatap ke depan. Kemejanya kusut dan basah akibat tangisanku. Dua jam kami di sana dengan posisi seperti itu.

Setelah tangisanku reda, hujan juga ikut berhenti. Seperti tahu kalau hujan sudah berhasil menghiburku. Douglas mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Dia mengatakan akan mengantarku pulang karena hari sudah gelap. Dalam perjalanan pulang kami hanya diam dan tidak berbicara sama sekali.

"Terima kasih" kataku malu-malu saat sampai di depan rumahku, sudah sadar dengan tindakanku tadi. Douglas tersenyum.

"Masuklah dan jangan lupa mandi air hangat" sahutnya. Aku mengangguk. 

"Aku pulang dulu" izinnya. Tapi Douglas sama sekali tidak bergerak sedikitpun dan hanya menatapku.

"Apa?" tanyaku heran. 

"Aku akan pulang kalau kau sudah masuk ke rumah. Siapa yang tahu kalau kau akan pergi lagi dan melakukan tindakan bodoh yang bisa membahayakan nyawamu." 

Aku tersipu malu atas tindakanku yang ceroboh. Aku berbalik dan segera masuk ke dalam rumah, sebelum menutup pintu aku melambaikan tanganku padanya. Douglas hanya mengangguk menyuruhku untuk segera masuk.

Setelah menutup pintu aku langsung berlari ke kamarku yang berada di lantai dua dan melihat Douglas yang berjalan pulang. Aku memperhatikan sosoknya sampai menghilang dari pandanganku. "Terima kasih" bisikku pelan sambil tersenyum.

Keesokan harinya Douglas tidak masuk sekolah karena demam.

Bab 3

Aku senang kau bisa di ajak kerja sama kali ini" ujar Noah dari balik kemudi setirnya. Alice bisa melihat senyum lebar di wajahnya saat mengatakannya.

"Tentu. Aku tidak mau kehilangan manajer paling baik hanya karena tidak mau menghadiri pesta" sahut Alice. 

Noah adalah manajer yang telah mendampingi Alice selama lima tahun. Lelaki itu memiliki perawakan tubuh tinggi kurus dengan warna kulit coklat eksotis. Matanya yang berwarna hijau tersembunyi di balik frame kacamatanya yang tebal. Meskipun wajah Noah memberikan kesan galak saat pertama kali orang melihatnya tapi sebenarnya ia adalah sosok lelaki yang ramah.

Noah tertawa mendengar sindiran Alice. "Maafkan aku karena mengancammu kemarin. Tapi kau tahu'kan kita tidak bisa mengabaikan pesta ini di saat Sebastian langsung yang meminta pada kita untuk datang."

Alice mengangguk mengerti. Ia memang berhutang banyak pada Sebastian. Kalau bukan karena Sebastian yang memberi Alice kesempatan untuk terlibat dalam filmnya, mungkin saat ini ia masih berkutat dengan pekerjaannya sebagai model.

Sebenarnya menjadi model adalah hal yang baik. Selain bisa memakai gaun mewah dan cantik buatan designer, Alice juga mendapat perlakuan istimewa saat berbelanja. Dan Alice cukup menikmati itu semua. Tapi semakin usianya bertambah dewasa, pekerjaan yang datang untuknya juga menjadi terbatas. Karena banyak pendatang baru berusia lebih muda dan lebih mempesona darinya.

"Kita sudah sampai" kata Noah lalu turun dari mobil.

Alice melepas seat belt nya lalu membuka kaca mobil sedikit untuk melihatnya sebentar. Mereka sampai di depan sebuah rumah berlantai tiga yang berdiri megah dan mewah dengan cat berwarna putih dan emas mendominasi. Noah membuka pintu mobil untuknya.

"Terima kasih" ucap Alice.

"My pleasure" jawab Noah.

"Ini rumah Sebastian?" 

Noah menggeleng, "Bukan, ini rumah salah satu sponsor film mu."

Alice mengangguk. Ia berjalan memasuki rumah itu sambil menggandeng tangan Noah. Malam ini ia memilih gaun selutut dengan lengan panjang berwarna biru tua yang dipadukan dengan high heels berwarna hitam. Rambut panjang Alice di kepang oleh Phoebe dan diberi hairpin berbentuk daun sebagai pemanis. Alice merasa cukup puas dengan penampilannya malam ini.

Saat Alice dan Noah sampai di dalam, pesta sudah dimulai. Alice melihat sekitarnya, beberapa orang staf dan lawan main di filmnya sudah hadir lebih dulu dan menyapanya dengan ramah. Alice membalas sapaan mereka satu persatu dengan sopan. Sepertinya pesta ini tidak terlalu buruk seperti yang ia bayangkan, batinnya.

"Alice" panggil seseorang dari jauh. Alice menoleh. Lelaki berambut pirang yang mengenakan kemeja panjang berwarna putih dan celana berwarna cream itu berjalan menghampiri Alice dan memeluknya. Alice membalas pelukannya dengan hangat.

"Aku pikir kau tidak akan datang" kata Sebastian sambil melepaskan pelukan mereka.

Alice menggeleng tersenyum, "Kalau kau yang memintanya tentu saja aku akan datang."

Noah yang berdiri di samping Alice langsung terbatuk kencang saat mendengar perkataannya. Alice tahu kalau sekarang Noah pasti sedang mengejeknya di dalam hatinya karena Alice berpura-pura antusias datang ke pesta ini. Alice melirik Sebastian, pria itu hanya tersenyum mendengar jawaban Alice. 

"Ayo ikut denganku. Aku akan mengenalkanmu pada seseorang." Seb memegang tangan Alice dan langsung menariknya tanpa menunggu persetujuan dari Alice. Mereka berjalan ke sudut ruangan dan menghampiri seorang lelaki yang sedang duduk berduaan bersamadengan seorang wanita.

Saat sudah sampai, Sebastian melepaskan tangannya dan mengatakan sesuatu pada pria itu sambil tertawa. Pria itu ikut tertawa lalu bangkit berdiri. Alice memerhatikan sosoknya.

Badan pria itu tinggi besar seperti seorang atlet. Ia mengenakan t-shirt polos dan jacket kulit berwana coklat yang dipadukan dengan jeans robek-robek di bagian lutut. Sepatu boot hitam yang dikenakannya menambah kesan urakan pada dirinya.

Alice beralih menatap wajah pria itu. Rambutnya berwarna coklat gelap dengan warna mata yang senada. Tampan, adalah kata pertama yang terlintas di benak Alice saat melihatnya sosoknya dengan jelas. Dari keseluruhan penampilannya ia bisa mengatakan kalau pria di hadapannya adalah lelaki yang menawan.

"Alice, Noah. Kenalkan ini Maximiliam Callyps temanku. Dia adalah sponsor utama dalam film kita" kata Seb memperkenalkan pria itu padanya.

"Aku Max" ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Alice.

Alice menjabat tangan pria itu. "Alice. Alice Reeves"

Max mengangguk. Lalu tatapannya beralih ke arah Noah. Ia mengulurkan tangannya pada Noah.

"Max" ujarnya.

"Noah" kata Noah tersenyum lalu menjabat uluran tangan Max.

Setelah selesai memperkenalkan diri, tiba-tiba wanita yang duduk di sebelah Max tadi bangkit berdiri dan menarik tangan Max. Dia tersenyum sinis pada Alice lalu memperkenalkan dirinya sendiri. "Halo Alice. Kenalkan namaku Rebecca Travis" ujarnya.

Alice menyambut uluran tangannya dengan sopan. "Alice Reeves" sahutnya.

Noah yang bisa membaca suasana tegang di antara mereka langsung mengambil alih. "Jadi Max, apa benar kau adalah salah satu sponsor utama dalam film besutan Seb?" tanya Noah.

Max kembali mengangguk. "Benar" jawabnya.

"Luar biasa" seru Noah. "Aku tidak menyangka kalau sponsor utama film Seb masih berusia muda" tambahnya.

Max hanya tersenyum melihat reaksi Noah. Sebastian menepuk bahu Max lalu merangkulnya. "Benar. Dia adalah sponsor utama filmku sekaligus sahabatku sejak kecil" sela Sebastian dengan nada bangga.

Setelah itu Sebastian bercerita tentang bagaimana mereka bisa terlibat dalam proyek film yang sama pada Noah. Alice hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Ia melirik ke arah Rebecca yang ikut menanggapi percakapan ini sambil menggandeng lengan Max dan sesekali memberikan gestur kepemilikan untuk Alice. Seperti anak kecil yang terus menggenggam permen lollipopnya karena takut diminta oleh orang lain.

Alice tidak menghiraukan tatapan Rebecca. Ia hanya fokus melihat penampilan gadis itu. Malam ini Rebecca menggunakan gaun berwarna merah di atas lutut dengan belahan dada rendah. Rambut panjangnya yang berwarna coklat dibiarkan tergerai, menambah kesan seksi pada dirinya. Alice cukup terkesan dengan penampilannya yang berani.

Seorang pelayan berhenti di depannya dan menawarkan Alice minuman.

"Tidak. Terima kasih" tolaknya halus.

"Kenapa? Kau tidak suka minum?" tanya Max tiba-tiba.

Alice menoleh, ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Max. Saat ia akan membuka suara, Noah menyelanya.

"Alice tidak bisa minum karena toleransi alkoholnya sangat rendah" jawab Noah.

Max mengangguk. Alice mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Semua orang di ruangan ini terlihat menikmati pesta. Ia bahkan sempat melihat beberapa artis papan atas yang datang dengan pasangannya ke pesta ini. Sepertinya Max memang bukan orang sembarangan.

Ponsel di dalam clutch Alice bergetar. Ia membukanya dan meraihnya. Alice tersentak melihat nama yang tertera di layar screen. Hatinya terasa tidak karuan saat tahu orang yang menghubunginya adalah orang yang telah menghindarinya selama beberapa tahun belakangan ini.

Kenapa dari semua waktu dia harus memilih sekarang untuk menghubunginya? gumam Alice.

"Alice" panggil Noah. Ia menoleh.

"Ya?" jawab Alice.

"Kau kenapa?" tanya Noah khawatir.

"Maksudmu?" 

"Wajahmu terlihat pucat" sahut Sebastian. Alice reflek menyentuh wajahnya.

"Aku tidak apa-apa" kata Alice sambil terus melirik ponselnya yang masih bergetar. "Maaf sepertinya aku harus keluar sebentar untuk mengangkat telepon" pamitnya.

Tanpa mendengar persetujuan dari mereka, Alice buru-buru berjalan menjauhi kerumunan untuk mencari tempat yang sepi. Saat sudah sampai di depan pintu, panggilan itu terputus dan membuat Alice menghela nafas lega. Ia tidak kembali ke pesta dan memutuskan untuk keluar dari rumah Max.

Alice berjalan menuju taman dan duduk di sana sambil termenung menatap ponselnya dalam waktu yang cukup lama. Douglas Handerson. Ia adalah orang yang baru saja menghubunginya. Meskipun Alice benci mengakui hal ini tapi Douglas adalah kakak tirinya sekaligus teman baiknya di sekolah dulu.

Douglas pergi ke Inggris tujuh tahun yang lalu setelah hari kelulusan sekolah. Dan sejak saat itu ia tidak pernah kembali lagi ke rumah dan memutuskan komunikasi mereka secara sepihak.

Walaupun hubungan mereka menjadi renggang, Alice tidak pernah memiliki keberanian untuk menghubungi Douglas terlebih dahulu. Ia hanya menyimpan nomor lelaki itu di ponselnya. Dan setelah hari-hari yang ia lalui selama beberapa tahun dengan penantian panjang, akhirnya lelaki itu menghubunginya lagi. Malam ini. Alice tidak tahu harus senang atau sedih dengan kenyataan ini. 

Ponsel Alice bergetar kembali. Ie meliriknya. Kali ini pesan masuk dari Noah.

'Kau dimana?'

Alice menarik nafas dalam-dalam dan mengetik pesan.

'Maafkan aku Noah, sepertinya aku harus pulang duluan. Sampaikan salamku pada Seb dan Max'

Setelah membalas pesan dari Noah, Alice segera mematikan ponselnya dan berjalan keluar sendirian untuk mencari taksi meskipun ia tahu udara di luar sangat dingin.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED