Restauran mewah yang terletak di lantai paling atas sebuah hotel terlihat tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa meja yang sudah terisi. Seorang gadis yang sedang duduk di dekat jendela menatap pemandangan lampu jalanan yang berkelap-kelip di bawahnya sambil tersenyum puas. Alice Reeves, kembali mengingat moment saat dirinya menerima penghargaan untuk kategori artis pendatang baru terbaik di Festival Film Cannes seminggu yang lalu.
Rasanya masih seperti mimpi ia bisa memenangkan penghargaan itu di film debutnya dan menghalahkan para pesaingnya. Tapi jika ini memang mimpi Alice berharap ia tidak akan pernah bangun dari tidurnya.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?"
Alice menoleh. Phoebe McCain yang sedang duduk di hadapannya menatapnya dengan pandangan heran. Phoebe, wanita berusia 26 tahun yang memiliki rambut ikal berwarna coklat dan kulit pucat adalah teman baik Alice yang datang untuk menemaninya makan malam.
Alice tertawa kecil. "Hanya mengingat kembali moment malam itu."
Phoebe tersenyum mendengar jawaban Alice. Ia mengangkat gelas wine yang ada di sebelahnya dan berkata "Mari kita bersulang untuk merayakan kemenanganmu." Alice tersenyum mengangguk. Ia mengangkat gelas wine nya dan mendentingkannya dengan gelas Phoebe.
"Cheers" ucap mereka bersamaan lalu meminum wine itu dalam sekali teguk. Rasa manis dan pahit meresap ke dalam indra perasa Alice.
"Aku tidak menyangka kau bisa memenangkan penghargaan ini di film pertamamu" ujar Phoebe sambil mengelap mulutnya dengan tissue.
Alice mengangguk setuju. "Benar. Aku juga memikirkan hal yang sama denganmu. Aku bahkan sempat mengira mereka salah membacakan nama pemenangnya." Phoebe tertawa mendengar gurauan Alice.
Alice saat ini berprofesi sebagai seorang aktris pendatang baru. Ia memulai karir sebagai model untuk pemotretan sebuah majalah fashion selama tiga tahun sebelum terpilih menjadi model MV oleh salah satu penyanyi papan atas yang sedang naik daun untuk single terbarunya. Tema short movie yang dipilih oleh penyanyi itu dan lagunya yang meledak di pasaran membuat nama Alice ikut melambung dan mulai di perhitungkan dalam industri hiburan. Sejak saat itu Alice mulai mendapat tawaran iklan dari beberapa brand ternama.
Puncaknya adalah ketika dia bertemu dengan Sebastian Romson, sutradara terkenal yang sedang naik daun. Ia terkesan dengan penampilan Alice dalam MV itu dan meminta Alice untuk mengikuti casting film yang akan di buatnya. Alice lolos casting sebagai peran antagonis dalam film besutannya.
Dewi Fortuna seakan tidak berhenti berpihak pada Alice. Film pertama yang ia bintangi mendapat sambutan hangat dari kritikus dan para penikmat film. Hampir semua orang yang dia temui memuji keterampilan aktingnya dalam film tersebut. Alice bahkan sempat berpikir dirinya mungkin pernah menyelamatkan negara di kehidupannya yang dulu karena keberuntungannya tidak berakhir sampai di situ. Kemarin malam menjadi pembuktian dari semua hasil kerja keras Alice selama ini.
Ponsel Alice yang tergeletak di atas meja bergetar. Ia meliriknya, pesan masuk dari Noah, manajernya. Alice meraihnya dan membacanya.
'Besok kita akan makan malam dengan Sebastian dan para sponsor. Aku akan datang untuk menjemputmu dan kau wajib ikut Alice karena kau adalah salah satu bintang utamanya. Kalau kau beralasan lagi untuk tidak hadir, aku akan mulai mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain.'
Alice menghela nafas setelah membaca pesan dari Noah. Meskipun saat ini dirinya bisa di bilang sebagai seniman tapi ia sama sekali tidak suka dengan yang namanya pesta. Terlalu banyak keramaian di dalam satu ruangan membuat kepalanya pusing saat menghadirinya. Kecuali jika sedang shooting atau pemotretan Alice tidak akan terlalu memikirkan hal itu karena sedang fokus ke hal lain.
"Kenapa dahimu berkerut seperti itu?" tanya Phoebe. Alice memberikan ponselnya pada Phoebe agar dia bisa membacanya langsung.
Phoebe menerimanya dan membaca pesan dari Noah.
"Kau memang harus datang Alice. Mungkin dulu tidak apa-apa kalau kau beralasan tidak hadir. Tapi sekarang aku rasa kau harus mulai membiasakan diri" kata Phoebe sambil mengembalikan ponsel Alice.
Alice memajukan bibir bawahnya mendengar nasihat dari Phoebe, kebiasaannya sejak kecil saat sedang tidak suka dengan sesuatu. "Kau mau ikut?" ajak Alice.
Phoebe langsung menggeleng dengan cepat. "Tidak, terima kasih. Aku lebih baik nonton film di bioskop sendirian daripada harus ikut menghadiri pesta denganmu."
Alice tertawa mendengar penolakan Phoebe. Mungkin karena sifat mereka berdua sama-sama introvert sehingga mereka bisa berteman baik hingga sekarang. "Kau menyuruhku datang, tapi kau juga menolak ajakanku" gerutu Alice.
"Jelas saja. Kau'kan artis jadi kau harus datang, tidak ada alasan bagimu untuk menolaknya. Sedangkan aku hanya seorang guru jadi tidak ada alasan bagiku untuk menghadirinya."
Alice menggelengkan kepalanya, Phoebe memang sangat pintar ketika membalikkan kata-katanya seperti sekarang dan dia juga selalu berhasil membuat Alice terdiam seketika karena tidak bisa membalasnya. Mungkin ini salah satu pengaruh yang dimiliki oleh Phoebe dari pekerjaannya sebagai guru sekolah dasar.
"Baiklah aku akan datang ke pesta besok" kata Alice.
"Bagus" sahut Phoebe tersenyum.
Setelah makan malam selesai mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Alice turun lebih dulu dari taksi karena apartemennya lebih dekat dari hotel dibanding rumah Phoebe.
"Hati-hati" ujar Alice sambil melambaikan tangan pada Phoebe lewat jendela. Phoebe mengangguk tersenyum dan membalas lambaian tangan Alice. Kemudian taksi jalan dan Alice melihatnya hingga taksi itu menghilang dari pandangannya.
____
____
Alice menekan nomor sandi pintu apartemennya. Setelah pintu terbuka, ia masuk dan menyalakan lampu. Apartemen dua kamar yang ia beli dua tahun lalu terasa sangat besar saat ia sedang sendirian seperti sekarang.
Alice menghela nafas sebentar sambil melepaskan sepatu dan menggantung coatnya, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Alice memutar musik sebelum melepas handuknya dan berendam di bathtub. Kegiatan ini adalah favorit Alice. Pemandangan gedung-gedung yang terlihat dari jendela di sisi bathub saat ia berendam mampu memberikan sensasi tenang di dalam dirinya. Inilah salah satu alasan Alice memilih apartemen ini. Karena pemandangan dari kamar mandinya terlihat begitu indah. Alasan sederhana tetapi lebih dari cukup untuk membuat dirinya merasa senang.
Suasana berubah saat lagu All I Want milik Kodaline berputar. Kejadian di masa lalu muncul mendadak di benak Alice secara bergantian tanpa peringatan.
'Kami akan menikah'
'Pulanglah, kita hadapi semua ini bersama'
'Kalau kau mau menangis, menangislah tapi jangan melakukan hal yang bisa membahayakan nyawamu sendiri'
Karena tidak tahan dengan suara-suara yang menggema di kepalanya, Alice langsung menenggelamkan kepalanya ke dalam air di bathtub. Entah berapa lama dirinya seperti itu. Yang jelas saat dadanya mulai terasa sesak karena kekurangan oksigen, Alice tersentak dan segera tersadar kembali.
Alice mengangkat kepalanya dari dalam air dan mengusap wajahnya yang penuh dengan busa. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Alice melakukan hal itu berulang kali sampai emosinya terasa lebih stabil. Ia meraih ponselnya dan mematikan lagu yang sedang diputar. Lagu itu adalah lagu favoritnya. Tapi liriknya yang sangat mewakili perasaannya selalu mampu membuat Alice teringat akan kenangan itu.
Saat lebih tenang ia bangkit dari bathub dan berjalan menuju shower untuk membilas tubuhnya. Setelah selesai mandi, Alice duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Ia menatap sosoknya di cermin dan termenung. Memang benar perkataan orang bijak, semakinseseorang ingin melupakan sesuatu semakin ia mengingatnya.
Dan sekarang ingatan Alice kembali ke momen tujuh tahun yang lalu saat bersama 'dia' di musim gugur.
Douglas Handerson, namanya yang terdengar mengintimidasi memang sangat sesuai dengan sosoknya. Rambutnya yang berwarna hitam dengan alis tebal sangat kontras dengan matanya yang berwarna coklat hazel. Bentuk hidungnya terpahat sempurna dengan bibir tipis dan rahang tajam. Tubuhnya yang tinggi menjulang sangat menonjol saat ia berada di kerumunan. Semua yang ada pada diri Douglas selalu mampu membuat orang lain menoleh jika dia lewat.
Dan yang membuatnya lebih menarik adalah kenyataan bahwa Douglas bukan lelaki tampan yang bodoh dan hanya mengandalkan wajah. Ia memang terkadang bersikap manja dan kekanak-kanakan tapi nilai olahraga dan prestasi akademiknya selalu masuk urutan tiga besar di sekolah. Dan seakan tidak cukup, Douglas juga merupakan anak tunggal pemilik Handerson Company.
Awalnya Alice kurang menyukai sosoknya yang sangat menonjol dan mendekati sempurna. Karena menurutnya orang tampan selalu bersikap angkuh jika mereka sadar kalau dirinya tampan. Tapi setelah mengenal sosok Douglas selama tiga tahun, Alice tahu kalau ia adalah pria yang baik. Ia selalu ada di saat Alice membutuhkan seseorang untuk bersandar. Seperti yang terjadi di hari pemakaman mendiang ibu Alice.
___
___
POV Alice
Aku menatap foto ibuku yang di hiasi dengan bunga di sekeliling fotonya. Tanganku memegang guci yang berisi abu ibuku. Tidak ada lagi air mata yang menetes. Semua sudah tumpah saat menemani ibuku di rumah sakit selama berbulan-bulan. Ibuku meninggal dunia karena sakit jantung. Jantungnya memang lemah sejak lahir. Kelahiranku adalah keajaiban baginya.
"Aku turut berduka cita Alice" ujar Chloe teman dekatku sambil memegang kedua tanganku ketika mengucapkannya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum lemah. Lalu Chloe memelukku erat seperti mencoba untuk menguatkanku. Aku tahu pelukannya tulus tapi entah kenapa hatiku mendingin dan tidak bisa merasakan kehangatan di balik pelukannya. Apa aku menuju depresi setelah kematian ibuku?
Selang setengah jam berlalu, Chloe pamit pulang agar aku bisa beristirahat. Aku melihat sekeliling. Rumahku sudah sepi. Hanya tinggal beberapa kerabat yang masih tinggal dan menghibur ayahku. Karena bosan, aku meletakkan guci abu di meja.
"Otousan, aku akan keluar sebentar" kataku pamit pada ayahku. Ayahku hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya, mungkin ia tahu bahwa aku juga butuh waktu untuk menyendiri.
Aku menyusuri taman yang terletak di belakang komplek rumahku dan berjalan menuju sebuah pohon besar yang rindang. Aku duduk di sana sendirian, hanya diam melihat rumput yang tumbuh di sekitar pohon dan tidak ingin melakukan apapun.
Cukup lama aku duduk termenung sampai gerimis turun dan menyadarkanku. Aku menadahkan tanganku ke atas, berusaha untuk menggenggam tetesan airnya meskipun mustahil. Semakin lama gerimis turun deras dan berubah menjadi hujan.
Aku tidak bergerak sama sekali dari tempatku duduk. Karena udara semakin dingin, aku menekuk kedua kakiku dan meringkuk. Susana yang basah dan dingin tiba-tiba membuat dadaku terasa sesak. Air mata yang aku kira sudah habis ternyata hanya tertahan dan akhirnya tumpah. Aku menangis sesenggukan di bawah hujan, melipat kedua tanganku dan bertumpu pada kakiku. Semua kenangan tentang ibuku datang seperti film yang di putar di pikiranku. Hatiku sakit sekali. Aku merindukan ibuku.
Suara hujan yang deras menutupi suara tangisku. Tapi itu tidak Tiba-tiba air hujan berhenti membasahi tubuhku. Aku mendongakkan kepala dan terkejut melihat sosok Douglas yang sedang menatapku. Tangannya yang memegang payung di arahkan padaku untuk melindungiku dari hujan.
Aku melihat bajunya basah dan tangannya mulai gemetar kedinginan. "Bodoh, sedang apa kau di sini?" teriaknya lalu menarik tanganku dengan sekali sentakan.
"Lepaskan" kataku. Douglas hanya diam dan tidak menghiraukan permintaanku. Ia menggenggam tanganku agar berlari mengikutinya.
Aku mencoba lagi untuk melepaskan genggaman tangannya di lenganku, tetapi sia-sia saja. Karena sedang bersedih aku tidak punya tenaga sama sekali. Akhirnya aku pasrah mengikutinya berlari. Kami sampai di depan sebuah pertokoan yang sudah tutup untuk berteduh. Douglas melepaskan tanganku.
Karena lelah, aku berjalan ke sudut tembok dan bersandar. Douglas menghampiriku dan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya lalu memberikannya padaku. Sedikit basah.
Lalu ia mulai menceramahiku seperti yang biasa dilakukannya saat aku mulai bertindak konyol.
"Kau ini, otakmu terbuat dari apa sih?" katanya sarkas.
"Aku tidak menyangka kau sebodoh ini" lanjut Douglas sambil memijat kepalanya.
"Kau tahu'kan dilarang berteduh di bawah pohon saat hujan besar seperti ini. Apa kau mau mati tersambar petir?" teriaknya.
Aku hanya menunduk saat dimarahinya seperti ini dan tidak ingin membantah perkataannya sama sekali seperti yang biasa aku lakukan. Karena aku hanya diam, Douglas akhirnya berhenti memarahiku.
Setelah hening yang panjang di antara kami, tiba-tiba ia berjongkok di hadapanku dan mengambil sapu tangan dari tanganku. Douglas mengusap pipiku yang basah. Entah basah karena air mataku atau hujan yang jelas saat ini wajahku sangat berantakan.
"Kalau kau ingin menangis, menangislah. Jangan ditahan. Tapi jangan berbuat sesuatu yang bisa membahayakan nyawamu sendiri." Nada suaranya terdengar lembut, sangat kontras dengan saat ia marah tadi.
Aku menatap matanya. Sorot matanya terasa hangat. Kalau saat ini situasinya tidak seperti ini mungkin aku akan salah tingkah karena ditatap oleh Douglas seperti itu.
Douglas membalikkan badannya dan punggungnya menghadapku. Aku hanya menatap punggungnya yang lebar. Tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan. "Jangan menatap terpesona seperti itu" katanya melirikku dari balik bahunya dan tersenyum.
"Hari ini, hanya hari ini aku akan meminjamkan punggungku untukmu. Kau bisa menangis sepuasnya di sini" Douglas menepuk-nepuk punggungnya.
Karena diperlakukan dengan hangat seperti itu tangis yang sudah berhenti akhirnya keluar lagi. Aku menyandarkan kepalaku dan menangis dengan keras di punggungnya.
Suara tangisanku dan hujan menjadi satu. Aku menangis sangat lama hingga dadaku terasa sesak. Douglas tidak mengatakan apapun dan hanya menatap ke depan. Kemejanya kusut dan basah akibat tangisanku. Dua jam kami di sana dengan posisi seperti itu.
Setelah tangisanku reda, hujan juga ikut berhenti. Seperti tahu kalau hujan sudah berhasil menghiburku. Douglas mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Dia mengatakan akan mengantarku pulang karena hari sudah gelap. Dalam perjalanan pulang kami hanya diam dan tidak berbicara sama sekali.
"Terima kasih" kataku malu-malu saat sampai di depan rumahku, sudah sadar dengan tindakanku tadi. Douglas tersenyum.
"Masuklah dan jangan lupa mandi air hangat" sahutnya. Aku mengangguk.
"Aku pulang dulu" izinnya. Tapi Douglas sama sekali tidak bergerak sedikitpun dan hanya menatapku.
"Apa?" tanyaku heran.
"Aku akan pulang kalau kau sudah masuk ke rumah. Siapa yang tahu kalau kau akan pergi lagi dan melakukan tindakan bodoh yang bisa membahayakan nyawamu."
Aku tersipu malu atas tindakanku yang ceroboh. Aku berbalik dan segera masuk ke dalam rumah, sebelum menutup pintu aku melambaikan tanganku padanya. Douglas hanya mengangguk menyuruhku untuk segera masuk.
Setelah menutup pintu aku langsung berlari ke kamarku yang berada di lantai dua dan melihat Douglas yang berjalan pulang. Aku memperhatikan sosoknya sampai menghilang dari pandanganku. "Terima kasih" bisikku pelan sambil tersenyum.
Keesokan harinya Douglas tidak masuk sekolah karena demam.
Aku senang kau bisa di ajak kerja sama kali ini" ujar Noah dari balik kemudi setirnya. Alice bisa melihat senyum lebar di wajahnya saat mengatakannya.
"Tentu. Aku tidak mau kehilangan manajer paling baik hanya karena tidak mau menghadiri pesta" sahut Alice.
Noah adalah manajer yang telah mendampingi Alice selama lima tahun. Lelaki itu memiliki perawakan tubuh tinggi kurus dengan warna kulit coklat eksotis. Matanya yang berwarna hijau tersembunyi di balik frame kacamatanya yang tebal. Meskipun wajah Noah memberikan kesan galak saat pertama kali orang melihatnya tapi sebenarnya ia adalah sosok lelaki yang ramah.
Noah tertawa mendengar sindiran Alice. "Maafkan aku karena mengancammu kemarin. Tapi kau tahu'kan kita tidak bisa mengabaikan pesta ini di saat Sebastian langsung yang meminta pada kita untuk datang."
Alice mengangguk mengerti. Ia memang berhutang banyak pada Sebastian. Kalau bukan karena Sebastian yang memberi Alice kesempatan untuk terlibat dalam filmnya, mungkin saat ini ia masih berkutat dengan pekerjaannya sebagai model.
Sebenarnya menjadi model adalah hal yang baik. Selain bisa memakai gaun mewah dan cantik buatan designer, Alice juga mendapat perlakuan istimewa saat berbelanja. Dan Alice cukup menikmati itu semua. Tapi semakin usianya bertambah dewasa, pekerjaan yang datang untuknya juga menjadi terbatas. Karena banyak pendatang baru berusia lebih muda dan lebih mempesona darinya.
"Kita sudah sampai" kata Noah lalu turun dari mobil.
Alice melepas seat belt nya lalu membuka kaca mobil sedikit untuk melihatnya sebentar. Mereka sampai di depan sebuah rumah berlantai tiga yang berdiri megah dan mewah dengan cat berwarna putih dan emas mendominasi. Noah membuka pintu mobil untuknya.
"Terima kasih" ucap Alice.
"My pleasure" jawab Noah.
"Ini rumah Sebastian?"
Noah menggeleng, "Bukan, ini rumah salah satu sponsor film mu."
Alice mengangguk. Ia berjalan memasuki rumah itu sambil menggandeng tangan Noah. Malam ini ia memilih gaun selutut dengan lengan panjang berwarna biru tua yang dipadukan dengan high heels berwarna hitam. Rambut panjang Alice di kepang oleh Phoebe dan diberi hairpin berbentuk daun sebagai pemanis. Alice merasa cukup puas dengan penampilannya malam ini.
Saat Alice dan Noah sampai di dalam, pesta sudah dimulai. Alice melihat sekitarnya, beberapa orang staf dan lawan main di filmnya sudah hadir lebih dulu dan menyapanya dengan ramah. Alice membalas sapaan mereka satu persatu dengan sopan. Sepertinya pesta ini tidak terlalu buruk seperti yang ia bayangkan, batinnya.
"Alice" panggil seseorang dari jauh. Alice menoleh. Lelaki berambut pirang yang mengenakan kemeja panjang berwarna putih dan celana berwarna cream itu berjalan menghampiri Alice dan memeluknya. Alice membalas pelukannya dengan hangat.
"Aku pikir kau tidak akan datang" kata Sebastian sambil melepaskan pelukan mereka.
Alice menggeleng tersenyum, "Kalau kau yang memintanya tentu saja aku akan datang."
Noah yang berdiri di samping Alice langsung terbatuk kencang saat mendengar perkataannya. Alice tahu kalau sekarang Noah pasti sedang mengejeknya di dalam hatinya karena Alice berpura-pura antusias datang ke pesta ini. Alice melirik Sebastian, pria itu hanya tersenyum mendengar jawaban Alice.
"Ayo ikut denganku. Aku akan mengenalkanmu pada seseorang." Seb memegang tangan Alice dan langsung menariknya tanpa menunggu persetujuan dari Alice. Mereka berjalan ke sudut ruangan dan menghampiri seorang lelaki yang sedang duduk berduaan bersamadengan seorang wanita.
Saat sudah sampai, Sebastian melepaskan tangannya dan mengatakan sesuatu pada pria itu sambil tertawa. Pria itu ikut tertawa lalu bangkit berdiri. Alice memerhatikan sosoknya.
Badan pria itu tinggi besar seperti seorang atlet. Ia mengenakan t-shirt polos dan jacket kulit berwana coklat yang dipadukan dengan jeans robek-robek di bagian lutut. Sepatu boot hitam yang dikenakannya menambah kesan urakan pada dirinya.
Alice beralih menatap wajah pria itu. Rambutnya berwarna coklat gelap dengan warna mata yang senada. Tampan, adalah kata pertama yang terlintas di benak Alice saat melihatnya sosoknya dengan jelas. Dari keseluruhan penampilannya ia bisa mengatakan kalau pria di hadapannya adalah lelaki yang menawan.
"Alice, Noah. Kenalkan ini Maximiliam Callyps temanku. Dia adalah sponsor utama dalam film kita" kata Seb memperkenalkan pria itu padanya.
"Aku Max" ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Alice.
Alice menjabat tangan pria itu. "Alice. Alice Reeves"
Max mengangguk. Lalu tatapannya beralih ke arah Noah. Ia mengulurkan tangannya pada Noah.
"Max" ujarnya.
"Noah" kata Noah tersenyum lalu menjabat uluran tangan Max.
Setelah selesai memperkenalkan diri, tiba-tiba wanita yang duduk di sebelah Max tadi bangkit berdiri dan menarik tangan Max. Dia tersenyum sinis pada Alice lalu memperkenalkan dirinya sendiri. "Halo Alice. Kenalkan namaku Rebecca Travis" ujarnya.
Alice menyambut uluran tangannya dengan sopan. "Alice Reeves" sahutnya.
Noah yang bisa membaca suasana tegang di antara mereka langsung mengambil alih. "Jadi Max, apa benar kau adalah salah satu sponsor utama dalam film besutan Seb?" tanya Noah.
Max kembali mengangguk. "Benar" jawabnya.
"Luar biasa" seru Noah. "Aku tidak menyangka kalau sponsor utama film Seb masih berusia muda" tambahnya.
Max hanya tersenyum melihat reaksi Noah. Sebastian menepuk bahu Max lalu merangkulnya. "Benar. Dia adalah sponsor utama filmku sekaligus sahabatku sejak kecil" sela Sebastian dengan nada bangga.
Setelah itu Sebastian bercerita tentang bagaimana mereka bisa terlibat dalam proyek film yang sama pada Noah. Alice hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Ia melirik ke arah Rebecca yang ikut menanggapi percakapan ini sambil menggandeng lengan Max dan sesekali memberikan gestur kepemilikan untuk Alice. Seperti anak kecil yang terus menggenggam permen lollipopnya karena takut diminta oleh orang lain.
Alice tidak menghiraukan tatapan Rebecca. Ia hanya fokus melihat penampilan gadis itu. Malam ini Rebecca menggunakan gaun berwarna merah di atas lutut dengan belahan dada rendah. Rambut panjangnya yang berwarna coklat dibiarkan tergerai, menambah kesan seksi pada dirinya. Alice cukup terkesan dengan penampilannya yang berani.
Seorang pelayan berhenti di depannya dan menawarkan Alice minuman.
"Tidak. Terima kasih" tolaknya halus.
"Kenapa? Kau tidak suka minum?" tanya Max tiba-tiba.
Alice menoleh, ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Max. Saat ia akan membuka suara, Noah menyelanya.
"Alice tidak bisa minum karena toleransi alkoholnya sangat rendah" jawab Noah.
Max mengangguk. Alice mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Semua orang di ruangan ini terlihat menikmati pesta. Ia bahkan sempat melihat beberapa artis papan atas yang datang dengan pasangannya ke pesta ini. Sepertinya Max memang bukan orang sembarangan.
Ponsel di dalam clutch Alice bergetar. Ia membukanya dan meraihnya. Alice tersentak melihat nama yang tertera di layar screen. Hatinya terasa tidak karuan saat tahu orang yang menghubunginya adalah orang yang telah menghindarinya selama beberapa tahun belakangan ini.
Kenapa dari semua waktu dia harus memilih sekarang untuk menghubunginya? gumam Alice.
"Alice" panggil Noah. Ia menoleh.
"Ya?" jawab Alice.
"Kau kenapa?" tanya Noah khawatir.
"Maksudmu?"
"Wajahmu terlihat pucat" sahut Sebastian. Alice reflek menyentuh wajahnya.
"Aku tidak apa-apa" kata Alice sambil terus melirik ponselnya yang masih bergetar. "Maaf sepertinya aku harus keluar sebentar untuk mengangkat telepon" pamitnya.
Tanpa mendengar persetujuan dari mereka, Alice buru-buru berjalan menjauhi kerumunan untuk mencari tempat yang sepi. Saat sudah sampai di depan pintu, panggilan itu terputus dan membuat Alice menghela nafas lega. Ia tidak kembali ke pesta dan memutuskan untuk keluar dari rumah Max.
Alice berjalan menuju taman dan duduk di sana sambil termenung menatap ponselnya dalam waktu yang cukup lama. Douglas Handerson. Ia adalah orang yang baru saja menghubunginya. Meskipun Alice benci mengakui hal ini tapi Douglas adalah kakak tirinya sekaligus teman baiknya di sekolah dulu.
Douglas pergi ke Inggris tujuh tahun yang lalu setelah hari kelulusan sekolah. Dan sejak saat itu ia tidak pernah kembali lagi ke rumah dan memutuskan komunikasi mereka secara sepihak.
Walaupun hubungan mereka menjadi renggang, Alice tidak pernah memiliki keberanian untuk menghubungi Douglas terlebih dahulu. Ia hanya menyimpan nomor lelaki itu di ponselnya. Dan setelah hari-hari yang ia lalui selama beberapa tahun dengan penantian panjang, akhirnya lelaki itu menghubunginya lagi. Malam ini. Alice tidak tahu harus senang atau sedih dengan kenyataan ini.
Ponsel Alice bergetar kembali. Ie meliriknya. Kali ini pesan masuk dari Noah.
'Kau dimana?'
Alice menarik nafas dalam-dalam dan mengetik pesan.
'Maafkan aku Noah, sepertinya aku harus pulang duluan. Sampaikan salamku pada Seb dan Max'
Setelah membalas pesan dari Noah, Alice segera mematikan ponselnya dan berjalan keluar sendirian untuk mencari taksi meskipun ia tahu udara di luar sangat dingin.