Brakk..
Noah menggebrak meja ruangan rapat, matanya menatap tajam kepada setiap karyawan yang ada di sana.
"Bisa-bisa nya penjualan kita bulan ini menurun!"
"Kalian ini kerjaannya apa sih? Saya bukan menggaji kalian untuk bersantai-santai!" Noah tampak marah.
"Saya akan tarik kembali kursi pijat dan camilan gratis di pantry ini!" tegas Noah.
Para karyawan hanya menunduk ketakutan, melihat bos mereka marah-marah.
"Pokoknya, kalian harus bisa menaikan lagi penjualan di bulan berikutnya! Saya targetkan, harus lebih unggul dari pencapaian kita terakhir. Jika tidak kalian semua akan saya pecat!"
"Baik Pak,"
Rapat selesai, semua karyawan cepat-cepat keluar dari ruangan rapat. Mereka sebenarnya mengeluh dengan bos mereka yang seenak udel, dan suka marah-marah itu.
Noah Samudera, dia adalah seorang Presdir perusahaan Samudera. Perusahaan milik papa nya yang diwariskan kepadanya. Sebuah perusahaan retail yang memiliki department store di setiap mall.
Noah, Laki-laki berusia 28 tahun. Tinggi, putih, alis tebal, hidung mancung. Sikapnya yang arogan, angkuh, dan suka marah-marah kepada karyawan. Banyak karyawan yang sering kena pecat hanya karena melakukan kesalahan sedikit saja. Bahkan, Sekretaris nya pun terus berganti-ganti, tidak tahan lama.
Tapi, sekretaris satu ini sudah bersama Noah selama 2 tahun. Para karyawan menjulukinya pawang Presdir. Wanita cantik dengan ciri khas kulit kuning langsat dan mata coklat nya itu. Wanita yang kalem, ramah, sopan dan perfeksionis. Dia adalah Jihan Almahyra, wanita berusia 27 tahun.
"Minum.. Minum.. " ucap Noah.
Jihan membuka botol minum lalu menuangkannya ke dalam gelas. "Silahkan, Pak."
"Ahh.. "
Noah melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 12 siang.
"Tempat makan siang saya sudah dipesan?"
"Sudah Pak," ucap Jihan.
"Saya makan sendiri, kamu boleh makan di kantin atau dimanapun."
Jihan mengangguk, "Setelah makan siang, bapak harus kembali ke kantor karena ada beberapa dokumen yang harus ditinjau dan ditandatangani."
"Iya iya." Noah pun pergi sendiri menuju restoran.
Sebelum ke kantin, Jihan ke meja nya yang berada di depan ruangan Noah. Ia menulisnya di catatan untuk menyimpulkan hasil rapat tadi.
"Tuk.. Tuk.. "
Jihan menoleh sambil tersenyum.
"Tumben ngga makan siang sama Pak Noah," ucap Mela.
Jihan tidak menjawab, dia terus menulis.
"Ayo makan dulu, udah jam makan siang ini," ajak Mela.
Mela karyawan dari divisi marketing, dia juga teman dekat Jihan di kantor. Karena, Jihan tidak pandai bergaul hanya Mela saja yang memang benar-benar dekat.
"Sebentar lagi," ucap Jihan.
Mela tahu, jika Jihan belum menyelesaikan pekerjaannya, dia pasti akan menyelesaikannya lebih dulu, tidak peduli mau itu jam makan siang atau jam pulang.
Mela tetap setia menunggu Jihan, sambil terus berbicara. "Pusing gue, Pak Noah marah-marah mulu. Coba dia jadi tim marketing sekali-kali, gimana yang terjadi di lapangan. Survei aja sebulan sekali."
"Lo kan dekat Ji, coba deh bantuin ngomong sama Pak Noah. Kejam banget tau ih, gimana bisa penjualan harus di tingkatkan, sementara produk-produk di departement store gitu-gitu aja," cerocos Mela.
Jihan menutup bukunya, lalu melirik Mela. "Kenapa ngga kamu sampaikan aja saat rapat nanti?"
Mela berdecak, "Masalahnya.. Gue ga berani."
"Kita kan sama-sama karyawan untuk membantu perkembangan perusahaan, ya ngga apa-apa menyampaikan pendapat."
Mereka berdua jalan ke kantin. Makan siang saat itu sisa tumis sayuran dan kentang balado.
"Yah, ngga kebagian daging," keluh Mela.
"Mbak Jihan, sudah saya pisahkan," ucap bu Wati pegawai kantin.
"Terimakasih"
Mereka duduk di salah satu meja yang kosong. Jihan memberikan daging sapi dibuat dendeng kepada Mela.
Mela menoleh, "Dapat darimana? Bukannya tadi abis?"
Jihan hanya tersenyum, "Makan,"
"Masakan bu Wati emang ter lezat."
"Ji, nanti malam ikut yuk, ke pasar malam sama anak-anak."
Jihan menoleh, "Nanti malam?"
"Iya pulang ngantor,"
"Maaf, tapi aku ngga bisa ikut," tolak Jihan.
Mela mencebikan bibirnya, "Kamu kalo diajak keluar habis pulang kerja, pasti ngga pernah ikut. Sekali-kali ikut lah,"
Jihan tersenyum, "Iya, lain kali aku ikut."
"Awas ya?"
Jihan mengangguk. Pikirannya menerawang jauh, sampai tak sadar dia jadi melamun.
"Kenapa?" tanya Mela.
"Aku harus kembali, Pak Noah pasti udah datang." Jihan merapikan bekas makannya yang tidak habis. Lalu meninggalkan kantin.
"Ck.. Gue ditinggal," ucap Mela.
Benar saja, Noah sudah kembali. Tapi, tidak sendirian, di ruangannya itu ada seorang laki-laki, entahlah Jihan tidak kenal. Teman satu-satunya Noah yang Jihan kenal hanya Yoga.
"Mana berkas yang harus saya tandatangani?"
"Saya ambil dulu," ucap Jihan.
Saat Jihan akan kembali ke ruangan Noah. Ia mendengar percakapan antara Noah dan temannya itu.
"Bro, masa sekretaris cantik gitu dianggurin."
Terdengar suara tawa dari mulut Noah, "Cantik? Membosankan gitu, liat aja selalu pakai kemeja panjang dan kacamata."
Temannya itu berkata, "Don't judge book by its cover"
"Halah,"
Jihan sadar memang dengan penampilannya itu, dia sering memakai kemeja, dan celana panjang, rok juga sekali-kali. Ia juga memakai kacamata eye cat, tidak culun-culun amat. Ya, berarti memang Jihan bukan selera Noah. Tapi, Jihan tidak peduli dengan semua itu, yang penting ia kerja dapat gaji.
"Permisi." Jihan memberikan dokumen itu kepada Noah.
Jihan kembali ke meja nya, ia jadi ikut memikirkan rencana agar penjualan di departement store meningkat pesat.
Sekitar 30 menit, Noah keluar dari ruangan bersama temannya itu.
"Jihan, tidak ada jadwal penting lagi kan?"
"Iya Pak, tidak ada."
"Saya akan langsung pulang, jadi kamu juga boleh pulang."
"Baik Pak."
Temannya Noah, mengedipkan matanya kepada Jihan.
Jihan masuk ke ruangan Noah, untuk membereskannya mejanya.
"Pak Noah, ini gimana sih berantakan banget meja nya," gumam Jihan.
Jihan merapikan meja Noah. Menaruh semua barang ke tempatnya semula.
"Nah kan, kalo rapi gini enak diliatnya." Jihan keluar dari ruangan Noah.
Jihan juga memutuskan untuk pulang, pas jam kantor waktunya pulang. Ia menaiki bus ke kontrakannya. Jihan memang bukan asli Jakarta, ia anak rantau dari Jawa Tengah.
Jihan merebahkan tubuhnya, di kasur. Ponselnya berdering, Jihan segera mengangkatnya. "Halo.."
"Ditunggu seperti biasa,"
"Iya nanti saya kesana," Jihan bangkit dari tidurnya, menuju kamar mandi.
Di tempat lain
Noah sedang main billard dengan Lian, temannya yang tadi dibawa ke kantor.
"Jadi kan?" tanya Lian.
"Ke tempat biasa aja lah," ucap Noah sambil fokus main billard.
"Katanya lo pengen tahu dj black angel. Dia lagi naik pamor loh, bisa di booking juga," ucap Lian.
Noah meletakkan tongkat nya, "Yaudah ayo cabut,"
Light Night Club
Noah dan Lian memasuki klub malam itu. Orang-orang sedang menikmati musik yang sedang dimainkan oleh seorang dj black angel. Penampilan dj itu memakai topeng yang menutupi bagian matanya. Rambutnya di cepol, dan hanya memakai crop top, celana jeans pendek.
"Itu dia dj black angel," tunjuk Lian.
Noah melihat dari kejauhan dj itu tampak sedang menikmati musik yang dimainkannya.
"Gue udah booking, Good luck," bisik Lian sambil menepuk-nepuk bahu Noah.
Noah langsung masuk ke ruangan private untuk menemui dj itu.
Sekitar 15 menit menunggu, dj itu pun masuk ke dalam ruangan Noah, masih dengan topengnya.
"Sorry, nunggu lama.. "
Noah memperhatikan dj yang sedang berdiri di pintu.
"Kamu?" tunjuk Noah.
Deg..
Dj black angel kaget melihat siapa orang yang telah mem booking nya.
Noah memperhatikan dj black angel yang hanya berdiri mematung saja di depan pintu.
"Lo?"
"Dj black angel?" tanya Noah.
Dj black angel terlihat gugup, "Ah ya, gue."
"Sini dong, kita ngobrol." Noah menepuk-nepuk kursi disebelah nya.
Dj black angel pun menghampiri Noah dengan langkah yang diseret, seperti enggan menemui Noah.
Dj black angel duduk di kursi tepat samping Noah. Noah memberikan minuman koktail kepada dj black angel.
"Minum, biar kita ngobrolnya santai."
Dj black angel menerima minuman dari Noah sambil meminumnya, tangannya agak gemetar.
Noah terus memperhatikan gerak-gerik dj black angel.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Noah sambil menatap dj black angel.
Uhuk.. Uhuk..
Tiba-tiba dj black angel menyemburkan minumannya dan sampai terbatuk.
"Sorry.. Sorry.. " ucap dj black angel.
"Kita baru pertama ketemu ko. Mungkin lo lihat gue saat nge dj," jawab dj black angel.
Noah mengangguk sambil terus menatap wajah dj black angel. Noah ingin tahu, seperti apa wajahnya karena dj black angel terus menutupinya dengan topeng, walaupun hanya sebatas mata, tapi Noah ingin melihat jelas, siapa dj black angel itu.
"Gue baru pertama datang ke tempat ini dan dengerin musik yang lo mainkan," ucap Noah sambil meminum alkohol.
"Katanya buat booking lo itu cukup susah," ucap Noah sambil mengunyah es batu.
"Gue memang jarang menemui klien. Gue hanya nge dj, kalo ada yang mau booking gue ya gue harus pilih klien yang gue mau dan berapa banyak yang klien itu keluarkan untuk bertemu gue,"
"Lo cukup menarik," ucap Noah sambil tersenyum menyeringai menatap dj black angel.
"Jadi, lo mau apa dari gue?" tanya dj black angel.
"Having s*k?"
Dj black angel tersenyum miring, "Sorry, tapi gue ngga menerima hal seperti itu. Gue cuma menemani klien gue,"
"Kalo lo mau begitu, cari wanita lain. Biar gue hubungi kenalan gue, kalo lo mau?"
Tiba-tiba Noah tertawa, "Haha.. Lucu ya lo. Emang apa bedanya Dj, Lc, wanita malam? Lo tuh sama aja."
Dj black angel cukup jengah, jujur saja memang dia melayani klien, tapi hanya sekedar untuk menemani minum, karaoke atau mendengar celotehan-celotehan mereka. Tidak sampai berhubungan badan.
"Jangan sama kan gue dengan mereka! Kalo lo cuma mau hina gue, mending lo pergi! Biar gue balikin duit lo!" Dj black angel sudah terpancing emosi sampai dia berdiri.
"Tenang, kalem down." Noah perlahan menenangkan dj black angel. Dia meraih tangannya, sampai dj black angel duduk.
"Gue cuma penasaran aja, dan gue mau lo temenin gue minum. Sorry, kalo tadi perkataan gue salah," ucap Noah.
Sebenarnya, Noah ingin mengenal lebih jauh dj black angel karena saking penasaran, dia itu siapa? Dan wanita seperti apa? Karena banyak orang yang membicarakan nya, juga mengidolakannya, apalagi dikalangan para pria hidung belang yang suka ke klub malam.
"Jadi, nama lo Noah?" tanya Dj black angel.
"Yap.. Lo tau kan perusahaan Samudera, nah itu perusahaan gue."
"Nama asli lo siapa?" tanya Noah.
"Sorry gue ngga bisa kasih tau nama asli gue dan buka topeng gue," ucap dj black angel.
"Kalo gue bayar dengan harga tinggi gimana?"
Dj black angel tampak sedang berpikir. "Tetap aja gue ngga bakal buka."
"Menarik." Noah tersenyum menyeringai.
Dia kembali minum alkohol, begitu juga dengan dj black angel, tapi dia hanya minum sedikit.
Tangan Noah sudah berada di pinggang dj black angel, merangkulnya semakin mendekat.
"Kalo grepe-grepe boleh kan?" Noah menatap mata dj black angel, seperti tidak asing baginya.
"Jangan keterlaluan!"
Tapi tetap saja, pada dasarnya Noah nakal. Dia menyentuh paha dj black angel. Dj black angel, menahan tangan Noah.
Lalu Noah menatap bibir dj black angel, "Kalo ini boleh kan?" Jari-jari Noah telah berada di bibir dj black angel.
Noah langsung meraup bibir dj black angel dengan rakus. Ciuman yang tak terkontrol.
Sementara itu, dj black angel melotot saat tiba-tiba kliennya itu menciumnya.
"Hmmhh.. " Dj black angel memukul dada Noah, supaya berhenti.
Noah melepaskan ciuman itu, matanya seperti diliputi oleh gairah. Noah menghirup leher jenjang dj black angel dan sedikit menggigit nya, membuat tanda kemerahan.
"Aww.. "
Sampai tiba-tiba Noah tertidur karena banyak minum. Memang itu kelemahan Noah, jika banyak minum, maka dia akan tertidur.
Dj black angel langsung mendorong Noah ke sofa. "Hah.. Dasar sialan!"
Dj black angel menelepon seseorang lalu keluar dari ruangan itu, meninggalkan Noah sendiri yang sudah terkapar.
***
Matahari pagi yang silau, membuat tidur Noah terganggu. Namun, Noah malah menutup, wajahnya dengan selimut. Sampai akhirnya ada seseorang yang menyingkap selimutnya.
"Bangun.. Ini udah jam berapa? Kamu tuh seorang pemimpin, masa jam segini masih tidur." Suara seorang wanita paruh baya mengomel.
"Masih ngantuk.. "
"Kapan sih kamu dewasanya?"
Seketika, Noah langsung bangun saat baru ngeuh itu adalah suara mama nya.
"Astaga.. Mama.. " Noah duduk di kasurnya. Mama nya juga berada disisi kasur.
"Mama ko bisa ada di sini?" tanya Noah.
Wanita paruh baya dengan rambut pendek sebahu itu adalah ibunya Noah. Seorang singel parents, ayahnya telah meninggal dan mau tak mau Noah lah yang menerus kan perusahaan itu. Namanya Andini, atau disebut bu Andin.
"Kamu ngga liat lagi ada dimana?" tanya mama nya.
Noah melihat sekeliling kamar, rupanya dia ada di kamar rumahnya bukan di apartemen. Karena Noah itu tinggalnya di apartemen, supaya bisa bebas, eh malah kembali ke rumah.
"Ko aku bisa ada di sini ma? Apa yang terjadi?"
"Coba kamu ingat-ingat," ucap bu Andin sambil membuka jendela supaya udara segar masuk.
"Mama tinggal kasih tau aja, apa susahnya?"
"Kamu semalam mabuk," jawab bu Andin.
"Iya aku tau ma."
"Gitulah, tanpa pengawasan dari mama. Kamu pulang larut, mabuk, mama ngga suka kamu seperti itu." Keluhan dari seorang ibu.
"Noah, ngga bermaksud untuk mabuk ma. Noah kelepasan aja,"
"Mama, tunggu di ruang makan. Cepat mandi dan bersiap." Bu Andin turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
Noah berusaha mengingat bagaimana dia bisa pulang ke rumah mama bukan ke apartemen nya.
"Ah sial! Gue ga inget lagi!" Noah mengacak rambutnya frustasi.
"Ini gara-gara dj black angel." Seketika pikiran Noah melayang ke kejadian tadi malam, saat dia mencium dj black angel. "Arghh.. Bibir seksi dan manis itu."
Noah turun ke bawah, di meja makan sudah ada mama dan adiknya, Savina yang masih berusia 17 tahun.
"Pangeran baru bangun, silakan duduk ya," ucap Savina.
"Apa sih de?"
"Kebiasaan abang ini, coba kalo semalam orang itu ngga nganterin ke rumah... " belum melanjutkan kalimatnya, bu Andin sudah memotong nya duluan. "Cepat dimakan, ini udah kesiangan."
Noah jadi kepikiran apa yang dibicarakan oleh adeknya itu. Siapa orang yang telah membawanya pulang ke rumah? Orang itu tau alamat rumahnya?
Noah sampai di kantor, berjalan dengan angkuh dan menebarkan pesona nya.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi, Pak."
Para karyawan menyapa Noah, tapi Noah sama sekali tidak ramah. Dia tidak membalas sapaan para karyawannya itu. Bagi mereka itu sudah biasa.
Ting..
Noah keluar dari dalam lift, melihat sekretaris nya sudah berdiri menyambutnya.
"Selamat pagi, Pak Noah."
Noah melirik sekilas sambil menganggukan kepalanya. Lalu masuk ke dalam ruangan.
Jihan mengikutinya dari belakang, ia berdiri sambil memberitahukan jadwal Noah hari ini.
"Hari ini jadwal, bapak lumayan padat. Pertama, bapak ada pertemuan dengan klien. Lanjut, kunjungan ke departemen store di mall super blok, lalu ada makan siang dengan bu ketua, setelah itu ada undangan ke pesta ulang tahun anaknya pak Dimas."
Noah menghela nafasnya, "Sebentar, tadi ada makan siang sama siapa?"
"Bu ketua."
Noah melambaikan tangannya, "Tidak, batalkan saja!"
"Tapi, Pak Noah, tidak bisa membatalkan nya karena bu ketua sudah reservasi tempat dan beliau menitipkan pesan, jika bapak membatalkannya, maka saham bapak akan diambil." Jihan mengucapkannya dengan tenang karena sudah biasa menghadapi bos nya yang super rese. Kadang, Jihan yang harus memutar otak, jika bos nya itu melakukan hal yang melanggar.
"Yaudah.. Iya!"
"Sekarang, buatkan saya kopi susu harus creamy!" suruh Noah.
"Baik Pak," ucap Jihan dengan senyuman.
Jihan keluar mengusap dadanya. Ia melangkahkan kakinya ke pantry.
"Selamat pagi bu sekretaris," ucap Agung. Suaranya yang nge bass, membuat Jihan kaget, apalagi ia sedang melamun.
"Astaga.. "
"Ko melamun aja?" tanya Agung.
Agung salah satu karyawan di divisi penjualan.
"Saya lagi buat kopi ko," ucap Jihan lalu tersenyum.
"Mba Jihan mau makan siang dimana?" tanya Agung.
Memang Agung ini masih juniornya Jihan, selisih umurnya 2 tahun.
"Sepertinya diluar," jawab Jihan.
"Sama?"
"Pak Noah," jawab Jihan.
Agung tersenyum agak kecut, "Yah, padahal mau makan siang bareng."
"Mm.. Kapan-kapan aku ajak makan siang atau makan malam gimana, mbak?"
Jihan tersenyum, "Boleh kalo kamu traktir."
"Siap mbak," ucap Agung dengan penuh semangat.
Jihan lalu pergi sambil membawa kopi kesukaan Noah harus yang creamy.
Noah sedang berdiri di depan ruangannya, "Lama banget sih kamu."
"Maaf Pak, tadi airnya habis."
"Kita langsung berangkat menemui klien."
Noah pergi begitu saja, tanpa meminum kopinya. Jihan harus banyak-banyak bersabar, ia menaruh kopi buatannya di mejanya.
Mereka berada di dalam mobil menuju tempat klien. Jalanan pagi itu cukup macet.
"Ada apa sih?"
Noah yang tidak sabar terus membunyikan klakson mobilnya.
"Coba kamu cek," suruh Noah.
Jihan pun turun untuk mengecek ke depan. Lalu setelah beberapa saat, ia kembali. "Ada perbaikan jalan, sementara arus lalu lintas sedang dialihkan."
"Ck.. Kenapa tidak ada pemberitahuan sih!"
Noah sedang asyik bermain ponsel sambil menunggu mobilnya jalan.
Tin.. Tin..
Dari belakang, mobil Noah terus di klakson.
"Pak Noah kita harus jalan," ucap Jihan.
Noah dengan terburu-buru memajukan mobilnya sampai ponselnya jatuh. Jihan mengambil ponselnya Noah sambil menundukkan kepala.
"Bisa tidak?" tanya Noah, matanya tak sengaja melihat leher Jihan yang putih, tapi ada kemerahan seperti digigit semut.
"Sudah Pak." Jihan memberikan ponsel itu kepada Noah.
Respon Noah hanya bengong menatap ke leher Jihan.
Jihan yang heran itu, langsung menyilangkan dadanya. Ia pikir Noah melihat dadanya.
"Pak Noah lihat apa?" tanya Jihan. Saat ini, Jihan memakai blouse maroon yang mengekspos bagian lehernya.
"Kamu itu, kenapa merah," tunjuk Noah ke leher Jihan.
Jihan langsung menyentuh lehernya, "Ah ini, digigit nyamuk. Di kos an saya banyak sekali nyamuknya, ganas-ganas," jawab Jihan.
Noah langsung mengalihkan pandangannya dari Jihan ke depan. "Lo mikir apa sih?" batinnya.
Mereka sampai di sebuah hotel untuk bertemu klien yang bernama pak Broto.
"Lokasinya di lobby?" tanya Noah.
"Iya Pak,"
"Itu sepertinya Pak Broto sudah menunggu."
Noah pun berjalan menghampiri pak Broto, kliennya.
"Selamat pagi, Pak Broto," ucap Noah sembari mengulurkan tangannya.
"Selamat pagi, Pak Noah." Pak Broto menerima tangan Noah, mereka pun berjabat tangan.
"Silakan duduk."
Mereka pun duduk sambil membahas proyek yang akan dikerjakan. Jihan hanya menyimak dan mencatatkan apa yang penting.
"Jadi, saya dapat izin ya buka departemen store di mall bapak?"
"Iya, tentu saja."
Setelah berbincang, Pak Broto pamit pergi karena harus segera kembali ke kota nya di Medan. Maka nya mengajak bertemu pagi di hotel.
"Mari Pak, kita ke restoran Jepang," ucap Jihan.
Noah menyetir ke restoran Jepang, dari hotel hanya berjarak 15 menit. Mereka pun sampai di sana. Masuk ke dalam ruangan privat, ala Jepang gitu.
Tampak bu ketua sudah menunggu di sana.
"Selamat siang bu," ucap Jihan.
"Selamat siang," balas bu ketua.
Jihan hendak permisi, meninggalkan Noah dengan bu ketua. "Kalo gitu, saya permisi."
Bu ketua menahan, "Jihan, kamu makan di sini aja, bareng-bareng,"
Jihan pun duduk disamping Noah, gimana pun juga bu ketua adalah yang memantau perusahaan.
"Mama, kenapa sih mau makan sama aku. Kan bisa di rumah, tadi pagi juga sarapan bareng," oceh Noah.
Bu ketua itu adalah bu Andin, ibunya Noah. Dia memang yang menjadi pemantau perusahaan, bagaimana pun juga harus tetap diawasi.
"Di sini mama, bukan sebagai mama mu. Tapi, ketua dan ini juga pertemuan formal."
"Baik, bu ketua."
Jihan sudah biasa mendengarkan mereka bicara, selama 2 tahun ini dia bekerja dan dipercaya di perusahaan Samudera.
Makanan mereka datang, ada sushi dan jenis makanan Jepang lainnya.
"Saya dengar, penjualan turun?" tanya bu ketua.
Noah mengangguk, "Iya, saya sedang mencoba untuk kembali menaikan penjualnya."
"Tepati kata-kata kamu, bukan cuma bisa marah-marah dan mengatur karyawan mu. Tapi, sebagai pemimpin kamu juga harus punya solusinya."
"Baik bu ketu," ucap Noah.
Bu Andin, menatap Jihan. "Terimakasih Jihan, sudah mau bertahan di perusahaan kami."
Jihan tersenyum, "Sama-sama Bu."
Bu Andin sangat suka dengan Jihan, sekretaris yang sopan, baik dan juga cekatan. Tidak seperti sekretaris sebelum-sebelumnya, mereka melamar hanya karena ingin dekat dengan Noah, tapi saat tahu sikap Noah yang suka ngatur dan arogan, para sekretaris itu tidak tahan lama.
"Minggu depan, harus sudah dapat strategi untuk meningkatkan penjualan."
Lalu bu Andin pun permisi, setelah makan siang. Menyisakan Noah dan Jihan, dengan santainya Noah melanjutkan makannya.
"Mama bawel banget sih!"
Noah menatap kepada Jihan, "Kenapa diam aja? Ayo makan,"
"Saya sudah kenyang Pak."
Jihan mengantarkan bu Andin keluar dari restoran. Setelah mobil bu Andin meninggalkan restoran, Jihan kembali ke tempat Noah. Tapi, kosong.
"Pak Noah kemana?"
Jihan coba mencari ke ruangan lain, tapi tidak ada.
"Ah, mungkin di toilet." Jihan mengintip di toilet pria, tampak kosong.
"Apa aku masuk aja ya?" Jihan tampak ragu.
Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk. Saat masuk ke toilet pria, mata Jihan melotot, ia terkejut melihat Noah yang sedang buang air kecil.
"Huwaa.. "
Noah menoleh, dia juga kaget tiba-tiba ada Jihan.