Bab 1

Bab 1

~Perkoro Sing Paling Nyedehke Kuwi Podo Sambat Ora Duwe Duit~

(Hal yang Paling Menyedihkan adalah Mengeluh Tidak Punya Uang)

Aku dan Ibu hanyut dalam lamunan sembari memandangi makam Bapak. Tanah makamnya masih basah. Bahkan kembang rampai di atas pusara terlihat masih segar.

Jasad Bapak sengaja kami kuburkan di halaman depan rumah. Selain karena areal sekeliling rumah yang tertutup sawah, meletakkan makam bapak di depan rumah bisa mengobati kerinduan Ibu akan mendiang suaminya.

“Yuk, awan mau wancine sliramu taksih ning sawah, kongkonane Kusnaedi teko maneh (Yuk, siang tadi pas kamu masih di sawah, orang suruhan Kusnaedi datang lagi),” ungkap Ibu dengan ekspresi khawatir.

Kusnaedi adalah orang terkaya di dusun ini. Beberapa waktu lalu, Ibu meminjam sejumlah uang darinya untuk menutup biaya pengobatan Bapak.

Sayangnya, bunga yang diberikan terlampau besar sehingga kami kesulitan melunasi hutang itu. Jika hanya mengandal upah gaji harian yang tak seberapa dari sawah orang, sampai kapan pun kami akan terus dibebani hutang pada Kusnaedi. Sebab bunga ribanya akan berlipat-lipat melebihi pinjaman dasar.

“Bu, kados pundi menawi mangke enjing dalem kesah dateng griyanipun Bi Zaenab?" (Bu, gimana kalau besok pagi aku ke rumah Bi Zaenab?)

Mendadak aku dapat ide usai membuang pandang ke makam Bapak.

Bi Zaenab adalah orang yang biasanya merekrut pengangguran dari dusun-dusun untuk dipekerjakan pada pabrik-pabrik di Jakarta.

Wajah Ibu berangsur cerah menanggapi usulanku.

"Sakjane kawit wingi Ibu karep mrentah sliramu nyambut gawe, nanging Ibu sungkan. Syukur, yen sliramu nduweni niatan dewe." (Sebenarnya sudah sejak kemarin Ibu ingin memintamu bekerja, tapi Ibu merasa sungkan. Baguslah kamu punya inisiatif sendiri)

“Yayuk merdamel dumugi sambutan awak dewe lunas, Bu. Mbok bilih sampun lunas, Yayuk enggal wangsul." (Yayuk kerja sampai hutang kita lunas, Bu. Nanti pas uda lunas, Yayuk segera balik)

Aku meraih kedua tangan Ibu. Memijatnya lembut agar Ibu mengizinkan.

"Ibu yo nyengkuyung niat apikmu, Nduk. Intine ojo sampek ngelalikake gusti Alloh ugo kudu jujur wanci nyambut gawe." (Ibu yo mendukung niat baik kamu, Nduk. Intinya jangan melupakan Tuhan juga utamakan kejujuran saat bekerja)

Masih dengan binar khawatir, Ibu bangkit dari duduk dan merengkuh kepalaku ke dalam pelukannya.

***

Hari merambat siang saat aku mendatangi rumah Bi Zaenab. Mengutarakan niat menjadi karyawan pabrik di Jakarta.

Aku juga meminta, sekiranya Bi Zaenab punya koneksi agar aku dapat dipekerjakan pada pabrik yang memberi gaji besar.

“Ono, Yuk, kang menehi upah gede. Telung sasi wae, utangmu marang Kusnaedi iso lunas. Nanging dudu pegawe pabrik." (Ada, Yuk, yang memberi gaji gede. Tiga bulan saja, hutang kalian pada Kusnaedi bisa lunas. Tapi bukan sebagai karyawan pabrik)

Bi Zaenab meneguk liur usai berkata demikian.

Pikiranku pun mulai meraba-raba. Jangan sampai kerja yang tidak halal dan berbahaya.

“Yuk …!” tegur Bi Zaenab merusak lamunanku. “Ora usah wedi, gaweane dadi pembantu ning omahe wong sugih. nanging piyambakke mung golek wadon sing wetone Setu Kliwon utawa Rebo Pahing.” (Yuk ...!) (Gausah takut, kerjanya sebagai asisten rumah tangga di rumah orang kaya. Tapi mereka hanya mencari wanita dengan weton Sabtu Kliwon atau Rabu Pahing)

Untuk sejenak, aku terdiam mendengar penuturan Bi Zaenab.

“Kulo saestu wedal dinten Setu, Bu Lek, Ananging duka Setu Kliwon napa Setu sanesipun (Aku memang lahir di hari Sabtu, Bi. Tapi ya gak tau, apa Sabtu Kliwon atau Sabtu lainnya)," jawabku setengah ragu.

Agak heran mendengar bahwa ada orang kaya mencari pembantu berdasarkan weton.

“Jal duduhke tanggal lahirmu, Yuk. Bu Lek tingali apa wetonmu.” (Coba beri tanggal lahirmu, Yuk. Biar Bibi ngecek apa wetonmu)

Bi Zaenab memperlihatkan aplikasi kalender kejawen di ponselnya yang mana dilengkapi fitur yang menjelaskan sifat setiap weton.

Bab 2

Bab 2

Tanpa berpikir panjang, kusebutkan tanggal lahir lengkap dengan tahunnya.

Bi Zaenab manggut-manggut seraya jemarinya sibuk mengusap layar ponsel ke slide kanan. Terus menerus hingga sampai di tahun kelahiranku. Sepasang matanya begitu awas mencermati nama bulan, berikutnya hari lahirku.

“Wah Yuk, bejo kowe, Yuk!!” (Wah Yuk, selamat ya!!) Bi Zaenab sedikit menjerit. “Sliramu pancen kelahiran Setu Kliwon.” (Kamu memang kelahiran Sabtu Kliwon)

Wanita paruh baya ini memamerkan apa yang tertera di ponselnya.

Sekilas kubaca pada catatan kaki di fitur weton, di situ tertulis bahwa orang-orang dengan weton Sabtu Kliwon memiliki watak yang kuat. Saat belum menemukan apa yang tepat dalam hidupnya, pemilik weton ini kerap bertingkah mengacau dan merusak. Namun akan sukses besar kala berada di posisi yang tepat.

“Saiki sliramu mulih disik, Yuk. Matur biyungmu lan tata-tata sandanganmu. Awan iki ugo awak dewe mangkat menyang Jakarta, ketemu calon majikannu.” (Sebaiknya kamu pulang dulu, Yuk. Beri tahu Ibumu dan siapkan juga pakaianmu. Siang ini juga kita langsung ke Jakarta bertemu calon majikan kamu)

Bi Zaenab tersenyum hangat padaku.

Tak menyiakan waktu. Aku lantas pulang, membawa kabar gembira pada Ibu yang sedang menyiang rumput di tengah sawah.

“Sak ngertine Ibu, kadhang-kadhang weton tertamtu dianggep nekak-ake rejeki. Menawa wong sugih menika golek asisten kelahiran Setu Kliwon supoyo rejeki mili deres nang omahe." (Setahu Ibu, terkadang weton tertentu dianggap mendatangkan rejeki. Mungkin orang kaya itu mencari asisten kelahiran Sabtu Kliwon agar rejeki mengalir deras ke rumahnya)

Ibu menjelaskan tanpa berhenti mencabut rumput liar di antara rimbunan padi yang tumbuh subur. Aku pun manggut-manggut tanda mengerti.

Selanjutnya, aku dan Ibu kembali ke rumah. Mempersiapkan tetek bengek keperluan sebelum Bi Zaenab menjemput.

Sekitar jam 1 siang, Bu Zaenab datang dengan mobil Ertiga miliknya. Ia duduk tepat di belakang supir.

“Ayi, Yuk. Mengko telat loh,’’ (Hayuk, Yuk. Nanti telat loh) ajak Bu Zaenab tanpa turun dari mobilnya.

Supirnya bergegas membukakan pintu untukku dan aku duduk di samping Bi Zaenab.

Ada sedih yang menjalar saat terakhir kali melihat wajah Ibu. Wanitaku itu masih berdiri di ambang pintu sampai mobil melaju pergi.

***

Sudah larut malam saat kami tiba di rumah calon majikanku. Rumahnya sangat besar, terdiri dari empat lantai dan berada di suatu kompleks perumahan mewah.

Satu yang membuat perasaanku tak enak, walau rumahnya dicat serba putih dan terkesan glamour. Namun aku merasakan adanya hawa mistis yang kuat.

Rumah ini dijagai makhluk astral di tiap sisinya. Aku tahu, tapi tak mampu melihat seperti apa wujud mereka.

Bi Zaenab mengetuk pintu sementara aku berdiri kelu di balik punggungnya. Dalam hati bergelitik, pantas saja gaji asistennya besar. Bekerja di rumah semegah ini tentu akan sangat melelahkan. Nyaliku serasa ciut seketika.

Beberapa saat berselang, pintu dibukakan. Nampak sepasang suami istri berdiri menjulang di tengah pintu.

Tanpa sepeser kata. Sebaliknya hanya lewat kode-kode mimik yang mereka tunjukkan pada Bi Zaenab, kami dipersilakan masuk dan dituntun ke sebuah ruangan.

Ruangan yang berada di lantai tiga rumah ini.

Lampu di ruang itu didesain remang. Semua perabot berwarna hitam polos, termasuk gorden yang menutupi seantero jendela berkaca lebar. Suasana terkesan seperti berada dalam film Harry Potter.

Selanjutnya kami dipersilakan duduk. Duduk mengitari meja bundar, berbahan marmer hitam.

“Dalem astakake malih tiyang enggal, Ndoro Kakung, Ndoro Ibu. Asmanipun Yayuk. Mugi-mugi dinten menika kasil (Saya bawakan lagi orang baru, Pak, Bu. Namanya Yayuk. Semoga kali ini berhasil),” ucap Bi Zaenab pada pasutri di hadapan kami.

Pria itu beralih menatapku lekat. Kumisnya bergerak-gerak, bibirnya seakan mengucap sesuatu pada sosok tak kasat mata di dekatnya.

“Sliramu lahir dina Setu Kliwon atawa Rebo Pahing?” (Kamu lahir di Sabtu Kliwon atau Rabu Pahing?) tanyanya dengan suara yang ternyata sangat lembut. Beda dengan wajahnya yang garang.

“Setu Kliwon, Ndoro.” (Sabtu Kliwon, Pak) Dengan sopan aku menjawab.

Pria itu memandang istrinya dan si istri terlihat senang.

“Wah iki, cocok. Opo sliramu karep nyambut gawe maring keluargaku?” (Bagus. Apa kamu mau kerja sama keluarga saya?)

“Inggih, Ndoro Kakung. Pramila saking menika dalem dugi.” (Ya, Pak. Oleh karena itulah saya datang)

"Nanging sliramu kudu ngerti. Nyambut gawe ning aku, kuwi dudu gawean lumrah, mula aku menehi upah 20 yuta per wulan." (Tapi kamu harus tau. Kerja sama keluarga saya bukanlah pekerjaan biasa, makanya saya memberi gaji 20 juta per bulannya)

Sampai di sini firasatku sudah tak bagus lagi. Pertama, ia hanya merekrut perempuan kelahiran Sabtu Kliwon dan Rabu Pahing. Lalu sekarang secara blak-blakan mengatakan bukan pekerjaan biasa.

Aku meremas jemariku yang bergetar dan berkeringat halus. Di antara rasa penasaran dan takut, aku bertanya pelan, “Punapa pendamelanipun, Ndoro Kakung?” (Apa pekerjaannya, Pak?)

Bab 3

Bab 3

“Yayuk, gaweane dudu neng omah iki (Yayuk, ketahuilah pekerjaannya bukan di rumah ini)," jawab istrinya mengambil alih pembicaraan. Sementara sang suami mengangguk membenarkan.

“Sliramu bakal diajak maring vila pribadi kita sing ning puncak. Ningkono gaweanmu mung rewangi Nyi Ratni. Dheweke kuwi wong pintar sing wis suwe mbentengi keluwargaku. Kayo ngendikane bojoku, niki dudu gawean lumrah. Ono pantangane!” (Kamu akan dibawa ke vila pribadi kami di puncak. Di sana tugasmu hanya membantu Nyi Ratni. Dia adalah orang pintar yang sudah lama melindungi keluarga saya. Seperti yang suami saya katakan, ini bukanlah pekerjaan biasa. Ada pantangannya!)

“Sanjang mawon, punapa pantanganipun, Ndoro Ibu, Supados kula siap.” (Omong aja apa pantangannya, Bu. Biar saya siap)

Tatapanku tertuju pada si wanita, lantas berganti memandang Bi Zaenab.

Di sampingku, Bi Zaenab mengangguk setuju.

"Sliramu di penging metu seko kerjaan sak durunge gaweanmu rampung. Mbok menowo setuju, upahmu kanggo rongulan tak paringke wanci iki ugo." (Kamu dilarang mengundurkan diri sebelum pekerjaan itu selesai. Kalau setuju, gaji kamu untuk dua bulan saya bayarkan saat ini juga)

Wanita ini berucap tenang. Seakan sudah tahu bahwa tawarannya akan aku terima mentah-mentah.

Mengingat akan hutang yang harus segera dilunaskan, aku pun menyanggupi persyaratan itu.

Selanjutnya, pasangan suami istri ini memperkenalkan diri. Namanya Pak Waluyo (bukan nama sebenarnya) dan si istri bernama Bu Agni (juga bukan nama sebenarnya).

Mereka memberiku uang sejumlah 40 juta dan berjanji akan membayar tuntas jika aku mampu bertahan hidup sampai selesainya pekerjaan yang dimaksud.

Hatiku mencelos menerima uang sebanyak itu. Bebanku terasa ringan seketika.

Segera kutitipkan uang melalui Bi Zaenab, agar diserahkan pada Ibu di dusun. Jika dikali bagikan dengan bunga hutang, masih tersisa empat jutaan sebagai uang belanja untuk Ibu.

***

Sepuluh menit setelahnya, Bi Zaenab berpamitan pulang. Tinggalah aku sendiri dalam ruang ini. Pak Waluyo dan Bu Agni menghilang entah ke mana.

Lama menunggu, tanpa sadar aku setengah tertidur pada sandaran kursi.

Baru saja terbangun saat suami istri itu kembali. Bunyi berdecit dari kaki kursi yang beradu dengan lantai, mungkin sengaja mereka lakukan agar aku tahu diri.

"Eh, klambine kok ireng-ireng to?" (Eh, pakaiannya kok serba hitam to?) Aku yang masih mengantuk, spontan bertanya demikian.

Di depanku, suami istri ini ternyata baru selesai dari berganti pakaian. Pakaian serba hitam yang mereka kenakan, sedikit memantik rasa curigaku.

"Yuk, awak dewe mangkat saiki. Selak kesuwen dienteni Nyi Ratni," (Yuk, kita berangkat sekarang. Nanti kelamaan ditunggu Nyi Ratni) ucap Bu Agni mengalihkan pembicaraan. Sementara suaminya melangkah duluan dengan kunci mobil dimainkan di tangannya.

Aku dan Bu Agni bersisian menuruni tangga hingga kami tiba di area lantai satu dan segera menuju halaman untuk akhirnya menaiki mobil.

***

Perjalanan sangat melelahkan. Bayangkan aku datang dari dusun ke Jakarta dan sekarang langsung diantar lagi ke tempat yang belum kuketahui seberapa jauhnya.

Nahasnya lagi, masih tengah malam saat mobil bergerak meninggalkan kediaman Waluyo.

Aku yang hendak menatap penampakan terakhir rumah megah itu, dibuat kaget oleh sesuatu yang tiba-tiba hinggap di kaca mobil. Tepat di sampingku.

Ia melekat seperti tokek. Aku pikir mungkin sejenis binatang malam. Namun ternyata wujudnya sangatlah mengerikan.

Mirip malaikat iblis. Wajahnya hancur, kepala gundul dipenuhi urat dan sepasang sayap tumbuh di balik punggungnya.

Aku hampir bertanya pada Bu Agni, tapi urung karena makhluk itu segera terbang menghilang.

Beberapa saat kemudian, mobil telah meninggalkan kota Jakarta. Tak ada lagi bangunan tinggi dan benderang lampu-lampu. Kami memasuki kawasan yang gelap dengan rimbun pepohonan mengisi sisi kanan dan kiri jalanan.

“Lho, estu kados mekaten radosanipun, Pak?” (Lho, emang seperti ini jalannya, Pak?) Aku tak tahan untuk tidak bertanya.

Perasaanku makin tak nyaman karena Pak Waluyo maupun Bu Agni tak menjawab. Hanya dua pasang mata mereka yang sesekali menengok ke luar. Seolah daerah ini sangatlah berbahaya.

Batinku menjadi lebih tenang saat mobil telah melewati kawasan hutan yang gelap. Berganti mengarungi tanjakan perbukitan atau semacam dataran tinggi.

“Bu, niki teng pundi? Napa nami telatahipun?” (Bu, ini ke mana? Apa nama tempatnya?) Aku terpaksa bertanya lagi.

Ada sedikit kemajuan. Yang sedari tadi tak menjawab, kini Bu Agni tersenyum kecut sembari menggeleng.

Aku berusaha menenangkan diri dan beranggapan semuanya akan baik-baik saja.

Setelah melewati jalanan yang bergelombang naik turun, tibalah kami di vila yang dituju. Cahaya mobil menyoroti situasi vila itu.

Kumuh. Jauh dari kesan mewah. Walau ukurannya lumayan besar, tapi hampir seluruh dindingnya mengelupas. Menyisakan pemandangan batu bata merah yang seharusnya tertutup campuran semen.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED