Bab 1

-LOVELINE POV-

Aku terbangun di pagi hari dengan keadaan yang berantakan. Tubuh bagian bawahku terasa begitu perih dan nyeri. Beberapa darah kering juga aku temukan di atas seprei putih yang telah kusut di tempatku berbaring.

Tanpa menebak aku sudah tahu apa yang terjadi semalam. Semalam sama seperti malam-malam sebelumnya. Malam di mana suamik, memakai tubuhku untuk kesenangannya.

Brak-!

Pintu kamar mandi di dalam kamar ini terbuka, dan keluarlah suamiku. Atau sebut saja sebagai orang yang hanya memakai tubuhku tanpa cinta.

Dia adalah seorang pria berusia matang yang kaya raya adan punya segalnya. Dia adalah King Antareska. Seorang pemimpin mafia sekaligus CEO yang sangat diagung-agungkan di negara ini. Waalu begitu, dia -- Suamiku yang selalu mengabaikan diriku.

King menghampiriku dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.

"Uang untuk perawatan tubuhmu ada di dalam laci." Dia berlalu melewatiku yang masih setengah berbaring di atas ranjang tanpa selembar benang apapun.

King, suamiku tengah berdiri di depan cermin rias kami sambil menyisir rambutnya yang basah. Setelah itu dia langsung membuka handuknya dan terlihatlah miliknya yang besar dan sangat tengang. Dia lalu melirik ke arahku.

Buru-buru aku mengalihkan pandanganku, aku takut tertangkap basah olehnya saat sedang mengamati ketampanan dan kesempurnaan suamiku sendiri.

"Ini sudah pagi. Jangan melihatku seperti itu. Kau lihat?" King menunjuk miliknya yang besar dan sangat kokoh di bawah sana.

Aku hanya mengangguk sambil memilin selimut. Setelah itu King langsung memakai celananya lagi sambil berkata. "Jika kau membuatnya selalu bangun, maka kau yang akan kubuat tak bisa bangun dari ranjang!" King berlalu dari kamar dan menutup kuat pintunya.

Ya ... inilah hidupku. Aku menjadi istri simpanan dari pemimpin mafia sepertinya. Dibandingkan menjadi istri, rasa-rasanya aku hanya dimanfaatkan baginya sebagai pelampiasan hasrat dan amarahnya saja.

Dia selalu memakai tubuhku, tapi dia tak membiarkanku untuk hamil. Setiap dia memasukkan miliknya dan menyemburkan semua cairan hangatnya di dalamku tanpa berniat memberikan benih untuk buah hati kami. Aku hanya bisa pasrah. Dia sama sekali tak ingin anak di dalam hubungan ini.

Aku bercermin dan memandangi tubuhku yang penuh dengan bekas kecupannya yang sangat merah.

Kusentuh kissmark buatannya, lalu aku berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan semua noda yang ada di tubuhku.

Tak lama, aku selesai dan langsung kembali ke depan cermin untuk mengoleskan salep penghilang bekas luka. King tak menyukai tubuhku yang terluka atau kotor. Tapi dialah yang membuat semua itu di atas kulitku.

Setelah selesai bersiap, aku lantas pergi ke bawah untuk berangkat ke tempat bekerjaku.

"Nyonya Lin, supir yang akan mengantarkan dirimu sudah siap. Kau mau langsung saja, atau mau sarapan terlebih dahulu?" Seorang pelayan bertanya kepadaku. Aku lantas menggeleng dan tersenyum ramah kepada wanita tua yang bernama Bibi Inah itu.

"Tak perlu Bi, aku akan makan roti saja di mobil." Setelah membawa roti tawar gandum tanpa selai atau apapun, aku langsung masuk ke dalam mobil.

King memintaku untuk terus menjaga bentuk tubuhku. Maka mah tak mau aku selalu diet untuk menjaga bentuk tubuhku ini. Salah satunya hanya dengan sarapan roti gandum tanpa selai, dan menghindari makan malam.

Aku akhirnya sampai di sebuah butik milikku sendiri. Walau aku menjadi istri dari orang kaya seperti King, aku tetap ingin bekerja dan menghasilkan banyak uang.

"Bu Lin, ada pesanan besar di butik kita. Ini rinciannya. Client meminta gaun pernikahan eksklusif yang dirancang langsung olehmu." Aku mengambil laporan itu dan membacanya sekilas.

Aku tersenyum sendu, merasa iri dengan semua pasangan yang akan menikah yang membuat gaun pernikahan mereka di butiknya. Dulu saja saat ia menikahi dengan King. Dia hanya memakai gaun sederhana.

"Katakan kepada dia untuk membuat janji denganku."

"Baik, Bu."

Sebelumnya selamat datang di kisahku. Perkenalkan, aku Loveline Amaris, istri dari King Antareska. Pernikahan kami baru berumur satu tahun.

"Love! Aku datang," ucap seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruanganku.

Aku menghembuskan nafasku lelah. "Ken, jangan memanggilku dengan Love." Aku merasa tak nyaman ketika ada yang memanggilku dengan nama Love, walaupun Love memang bagian dari namaku. Tapi rasanya aneh saat ada orang lain memanggilmu dengan demikian. Karena sejujurnya aku sangat ingin jika King lah yang memanggilku dengan panggilan Love.

"Kakak, kau kan memang Love ... Loveline. Aku suka memanggilmu dengan sebutan itu!" Seorang pemuda yang umurnya tiga tahun lebih muda dariku itu langsung duduk di depanku.

Dia adalah Kevin Alvarez. Sepupu jauh suamiku. Dia seorang yang sangat baik dan ramah. Sangat berbeda dengan King yang selalu menganggap aku sebagai mainan.

"Kakak, kau terlihat tak fit. Ada apa?" Dia menyentuh tanganku.

"Aku tak apa, hanya sedikit lemas saja." Aku menjawab demikian, tetapi Kevin langsung berdiri dan mengangkat tubuhku tanpa permisi. Aku meronta minta diturunkan, tetapi pemuda itu seolah tuli dan tetap membawaku ke kamar yang memang ada di dalam ruangan kerjaku ini.

Dia meletakan tubuhku di atas ranjang, lalu ikut berbaring di sebelahku. Dia mulai mengelus pipiku, bahkan mengecup keningku.

"Apa karena King?" tanyanya.

Aku menggeleng dan memejamkan mataku. Aku tak tahu ini salah atau benar, tetapi Kevin selalu mampu membuatku merasa nyaman untuk beberapa hal.

Aku mendapatkan cinta sebelah tangan, gairah, dan sex dari suamiku, King. Tapi dia tak benar-benar mencintaiku, berbeda dengan Kevin. Bersama Kevin aku merasa sangat dicintai. Walaup begitu, aku sama sekali tak pernah mencintai Kevin, karena seburuk apapun King, dia adalah suami yang aku cintai.

Cup!

Kevin mengecup pucuk hidungku, lalu bertanya dan meminta izin dariku, "Love, apa aku boleh memelukmu?" Aku mengangguk. Dan seketika aku langsung masuk ke dalam pelukannya yang terasa sangat hangat.

Tak terasa rupanya Kevin memelukku hingga aku jatuh tertidur.

Selang satu jam aku terbangun karena mendengar suara ribut dari luar. Saat kulihat ke sampingku ternyata Kevin sudah tak ada.

"Kau! Siapa kau berani tidur dengan istriku?!"

Bugh-!

Bugh-!

Aku buru-buru keluar saat menyadari, jika itu adalah suara dari King.

"King!" Aku sangat kaget. Karena King sedang memukuli Kevin dengan membabi buta.

"King, jangan pukul Kevin!" Aku merentangkan tanganku dan berdiri di depan Kvin yang memegangi perutnya kesakitan.

King tampak semakin marah dengan apa yang aku lakukan. Pertanyaanku, kenapa dia harus marah? Padahal dia tak mencintaiku kan? Jadi bukankah tak masalah, jika aku tidur dengan pria lain?

"Kau membelanya sekarang?! Aku ini suamimu! Apa kau tak bisa menjaga tubuhmu hanya untukku saja!" King bertanya dengan menarik lenganku untuk menjauh dari Kevin.

"King! Jangan kasar kepada Love!" seru Kevin yang tak terima melihatku kesakitan di tangan King.

King hampir saja kembali memukuli Kevin, jika aku tak menahan tangannya.

"King, jangan." Aku berucap lirih sambil menatapnya penuh permohonan.

"Ikut aku. Kita pulang!" King menarik tanganku dan membawaku pulang kembali ke mansion.

Sesampainya kami di mansion, dia langsung menampar kuat pipiku. Hingga ujung bibirku menjadi robek dan sedikit mengeluarkan darah.

"Apa kau sangat murahan, hingga tidur dengan sepupuku jauhku?!" teriaknya di depan wajahku.

Aku menggeleng dan mengangkat wajahku. "Aku tak pernah berpikir untuk tidur dengan siapapun kecuali kau, King. Aku hanya-"

"Hanya apa?! Apa kau pikir aku buta? Aku bodoh?! Kau tidur dengannya! Kau membiarkan orang lain menyentuh asetku!" King menarik paksa rambutku dan membawaku ke kamar mandi.

Di bawah guyuran air dia memandikan tubuhku. Aku menahan air mata yang hampir keluar dari ujung-ujung mataku.

"Kau kotor! Kau harus dibersihkan! Aku tak mau memakai sesuatu yang sudah tersentuh oleh orang lain!" Dia menggelengkan kepalaku ke dalam bathtub yang terisi penuh air dingin.

Aku meronta karena kehabisan nafas, tapi King seolah menutup mata dan membiarkanku mati kehabisan nafas. Lalu King menarikku keluar dari air, dan membiarkan aku yang hampir pingsan di samping bathub.

Aku tak ingat apapun lagi, karena setelahnya kesadaranku seolah hilang. Tapi samar-samar aku melihat siluet seorang wanita yang sedang mencium suamiku, King.

Dan wanita itu berkata dengan sangat sensual di telinga King.

"King, aku sudah memesan gaun pernikahan. Aku tak sabar untuk menjadi istrimu."

Deg!

Apa King akan menikahi wanita itu dan menceraikanku?

Bab 2

Malamnya aku tersadar dengan kondisi jauh lebih baik. Aku sudah digantikan pakaian, sebuah gaun tidur sederhana berwarna putih gading selutut.

Tok ... Tok ... Tok

Pintu kamarku ditekuk dari luar. Sepertinya yang kemari adalah pelayan.

"Masuk saja!" seruku. Aku masih enggan bangun untuk membuka pintunya.

"Nyonya, Bibi membawakan makan malam untuk Nyonya." Pelayan itu meletakan nampan makanan berisi makanan empat sehat lima sempurna.

Aku menggeleng, aku lelah. Setiap hari selalu saja ada pelayan yang mengantarkan makan malam dan memaksaku untuk makan. Padahal mereka tahu, jika aku tak makan malam untuk menjaga badan idelku ini.

"Tapi Nyonya harus makan, ini perintah dari Tuan."

Brak-!

Pintu itu dibuka dengan kasar. King masuk dan langsung menatapku yang saat itu juga sedang menantap matanya juga.

"Apa dia tak mau makan?" tanya King kepada Bibi pelayan.

"I-ya, Tuan King. Nyonya tak mau makan."

Aku merutuki pelayan itu dan diriku sendiri. Aku seharusnya berpura-pura makan malam seperti saat ada King. Atau dia akan marah.

"Keluarlah." King mengusir Bibi pelayan.

Dan setelah tak ada siapapun di dalam kamar ini kecuali kami, dia langsung mendekatiku sambil menatap tajam mataku.

Sifat King memang dingin dan terlihat kejam. Aku sudah sangat paham untuk itu.

"Makan." Dia memintaku untuk makan. Aku mengangguk dan menyendok sayuran. Hanya sayuran saja, aku tak mau menambahkan kerbo ataupun lemak.

King terus mengawasiku untuk makan. Hingga rasanya aku benar-benar merasa tak nyaman, karena mata tajamnya seolah mampu mencekik leherku hidup-hidup.

"Nasi dan dagingnya habiskan." Lagi, dia memintaku untuk menyentuh dua benda yang sangat aku hindari itu.

Aku menggeleng dan meletakan sendoknya. "Aku tak bisa, King." Aku ingin berdiri dan membawa nampan makanan itu ke dapur, tapi King menhan tanganku. Dia tak pikir panjang untuk langsung menerjangku. Sehingga kini aku berbaring di atas ranjang, dengan tubuh King yang mengurungku dari atas

"Kau sudah banyak berbuat kesalahan hari ini. Dan mau menambah kesalahanmu lagi dengan menolak perintahku?" King bertanya dengan nada sinis kepadaku.

Aku menggeleng dan menahan dada King dengan kedua tanganku. "Tidak, King. Bukan maksudku untuk menambah kesalahan. Aku hanya tak makan berat saat malam."

Aku jujur kepada King. Selama ini King memang tak tahu tentang diet yang kujalani. Aku sengaja merahasiakan segalanya dari King.

"Begitu?" King mengambil daging itu. Memasukan benda lezat itu ke dalam mulutnya. Dan langsung mendekati bibirku.

King menggigit kecil bibir luarku, sehingga mau tak mau aku membuka mulutku. Di saat itu pula, King langsung memasukkan potongan daging yang ada di mulutnya ke dalam rongga mulutku.

Aku ingin menolak dengan mengeluarkannya, tapi lidah King ikut bermain di dalam rongga mulutku, untuk memastikan jika daging itu aku makan dengan sempurna.

Namun, bukan sampai di situ saja. King selalu saja tak puas dan terus mengobrak-abrik seisi rongga mulutku. Lidahnya bermain di dalam sana, menyesap dan menggigit semua bagian yang ada. Bahkan hingga aku hampir di buat kehabisan napas.

Setelah itu King langsung bangun dan berdiri membelakangi diriku. Aku tak tahu apalagi yang salah kali ini.

Tapi di saat King akan pergi aku yang menahannya.

"King, jangan pergi. Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu." Dengan berani aku berdiri dan terdiam di belakang tubuh tingginya.

Aku perlahan menyentuh punggung tegap King dan memeluknya erat. Walau King tak mencintaiku dan hanya menganggap diriku sebagai boneka dalam pernikahan ini. Tapi aku tak ingin jika King menikah dengan wanita lain, lalu menceraikan diriku.

"Siapa wanita yang kemari siang tadi?" tanyaku dengan sangat pelan.

Aku tak akan pernah tenang sebelum menanyakan tentang semua ini. Aku harus tahu betul apakah yang aku pikirkan ini salah atau benar.

"Lepas!" King sangat kasar. Dia menarik tanganku dan membantingku kembali ke ranjang.

Dari tempatnya berdiri saat ini, aku dapat melihat emosinya yang begitu besar.

"Itu bukan urusanmu!" King langsung berjalan menjauhiku.

"Aku istrimu King!" Aku berteriak dengan setetes air mataku yang jatuh.

King kembali berhenti di tempatnya. Dan secara perlahan dia berbalik menghadapku lagi.

"Istri simpanan!" desis King yang tak kusadari langsung menerkam tubuhku sekali lagi.

"Kau hanya istri simpananku! Kau tak pantas untuk menanyakan semuanya!" Murka King.

Aku menggeleng dan mencoba bangkit, tapi King malah merobek gaun makanku. Dia melepaskan pengait Breast Hold (BH) yang kukenakan. Lalu menarik dua bola di dadaku dengan cukup kuat. Membuatku membusungkan dada sambil memejamkan mata dan terhanyut di dalam jarang kesakitan dan kenikmatan untuk yang kesekian kalinya.

"Tugasmu hanya untuk mematuhiku tanpa protes atau bertanya apapun!"

"Akkh! Eunghh ...." Tak bisa aku sangkal. Kali ini aku sangat menikmati bagaimana cara King memilin benda kecil merah muda di dadaku dengan bibir dan gigi-giginya.

Aksinya tak berhenti di situ. Dia mulai menyusuri daerah lain di tubuhku. Meninggalkan banyak jejak yang bahkan akan selalu bertambah setiap harinya.

Aku menggelinjang hebat, saat King tanpa aba-aba memasukan jari-jarinya tanpa pelumas apapun ke dalam lubang bawahku.

"King! Aku-- eughhhn ..."

"Kau hanya perlu diam dan menikmati semuanya. Hidupmu hanya sebagai pemuas nafsuku saja, Loveline."

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah. King mengucapkan namaku dengan bibirnya.

Apa aku berlebihan? Tapi aku merasa sangat bahagia, namaku bisa terucap di bibirnya.

Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. King tak puas dengan segalanya yang ada di dalam tubuhku. Dia selalu rakus untuk memakai tubuh ini.

Tapi ... tak bisakah King memberikan sedikit saja cinta di dalam gairahnya untukku?

***

Pagi ini jauh berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Mansion mewah King kedatangan seorang tamu wanita.

Margaret Natasha. Dia adalah Ibu kandung King. Ibu mertuaku. Sayangnya dia juga sangat membenciku. Dia sama sekali tak menganggap diriku sebagai menantunya.

"Ibu, apa kabar." Aku ingin berbasa-basi dengannya yang duduk angkuh di depan televisi. Tapi dia mengacuhkan diriku.

"Di mana King?" Dia menanyakan keberadaan King.

"King masih mandi. Sebentar lagi dia akan turun." Aku sebisa mungkin menjawab dengan lembut.

Tak berapa lama, King turun dengan setelan jas hitam yang melekat indah di tubuhnya.

"King, apa kabar?" Margaret langsung memeluk tubuh putranya dan mencium kedua pipi King.

"Aku baik, Ibu. Ada apa datang kemari tiba-tiba?" King bertanya setelah duduk di samping Margareth.

"Aku datang untuk menanyakan sampai mana persiapan pernikahanmu dengan Vivian?"

Apa? Benar? King akan menikah untuk yang kedua kalinya dengan wanita yang bernama Vivian itu? Lalu bagaimana dengan nasibku?

Saat itu Margaret juga tengah menatap ke arahku dengan jengah.

"King. Aku rasa kau juga tak lagi memerlukan dia."

King ikut melihat ke arahku yang berdiri dengan bahu bergetar.

"Kau ceraikan saja dia."

Apa?! Hatiku terasa sangat sakit. Apa kini mereka akan membuangku? Sungguh?

"Tidak."

Aku mengangkat wajahku dan kembali menatap suamiku. King baru saja menolak untuk menceraikan diriku? Apa aku tak bermimpi?

"Tapi kenapa?! Dia hanya istri simpananmu-"

"Maka dari itu, dia akan selalu menjadi istri simpananku, Ibu." King memotong ucapan Margaret.

Dia melirik ke arahku yang nampak seperti orang bodoh yang selalu mengemis dan mengharapkan cintanya.

"Dia akan tetap menjadi istriku. Istri simpananku."

Apa aku harus senang atau sedih?

Aku menahan air mataku dan mengangguk. "King, Ibu ... aku izin ke butik dulu." Aku lebih memilih untuk kembali menyibukkan diriku dengan pekerjaan di butik. Aku tak mau menjadi gila dan stress karena masalah ini.

Saat aku mau melangkahkan kakiku ke tangga, suara King menghentikan diriku.

"Berhenti." Kakiku nampak terpaku ke lantai. Aku berbalik menatap King yang juga sedang menatapku.

"Ada apa, King? Apa ku butuh sesuatu?" tanyaku.

Tapi King nampak diam dan wajahnya semakin gelap.

"Mulai sekarang kau tak boleh bekerja di luar mansion."

Hah? Apa? "King? Tapi kenapa? Bagaimana bisa aku tak boleh ke butikku untuk bekerja?" aku bertanya dengan panik.

King acuh. Dia berdiri dan berjalan mendekati diriku. Bibirnya ia dekatkan ke telingaku. Aku semakin dibuat geli dan bergetar, karena ulah King ini.

"Aku tak membiarkanmu untuk bekerja di luar mansion. Bekerjalah dari dalam mansion saja mulai saat ini."

King beranjak. Saat dia berada di tangga, dia kembali menoleh ke arahku dan berkata, "aku tak menerima penolakan, Loveline."

Perasaan berdebar dengan sensasi aneh hinggap di tubuhku. "Apa King mulai mencintaiku? Mengapa dia mulai posesif kepadaku?" Entah mengapa pertanyaan itu muncul tiba-tiba.

"Cih! Jangan harap King mencintai dirimu. Selamanya kau hanya akan menjadi boneka Seks-nya saja. Jangan memimpikan hal yang lebih!" Margaret segera pergi dari mansion itu dengan suasana hatinya yang hancur.

Di sisi lain aku semakin bingung. Aku tak bisa bekerja dari rumah. Aku harus ke butik, bertemu client dan membicarakan tentang model gaun yang akan mereka pesan di butikku.

"Apa aku pergi diam-diam saja?" tanyaku sambil melihat King yang masih bersiap untuk berangkat ke kantornya.

"Tapi bagaimana jika King tahu? Aku akan menjadi samsaknya di ranjang nanti ... Tapi aku tetap harus ke butikku."

Bab 3

Aku memutuskan untuk tetap berangkat ke butikku. Aku tak masalah, jika saja nanti King akan menghukumku di ranjang. Toh, aku sudah sangat sering mendapatkan hukuman ranjang dari King. Lagipula, King juga tak akan menyakiti atau membunuhku, dia hanya akan membuatku tak bisa berjalan di pagi berikutnya, karena dia yang menghujam habis lubangku dengan benda pusakanya yang menjadi impian kaum hawa itu.

"Nyonya, mau ke mana?" Salah seorang pelayan bertanya kepadaku.

Aku binggung untuk membuat alasan. Sepertinya sebelum King pergi, dia sudah meminta kepada para pelayan untuk tak memberikan izin kepadaku keluar.

Aku terus berpikir hingga akhirnya menemukan jawaban yang tepat. "Bibi, aku ingin membeli beberapa obat dan juga skincare." Kuharap aku mendapat izin.

"Apakah sangat perlu, Nyonya? Tadi Tuan King meminta kami untuk tak membiarkan nyonya keluar." Wajah pelayan itu nampak bimbang. Ternyata tebakanku memang benar.

"Bibi tenang saja, aku hanya sebentar kok. Setelah membeli semuanya aku akan pulang dengan cepat. King tak akan tahu." Kuharap pelayan ini mau menurutiku.

"Baiklah, Nyonya." Aku bersorak di dalam hatiku.

"Baiklah, Bi. Aku akan pergi sekarang." Aku buru-buru keluar saat pelayan membuka kunci pintunya.

"Apa nyonya akan pergi dengan supir?"

Aku menggeleng. "Aku akan memesan taksi online saja, Bi."

Setelah taksi pesanku datang, aku buru-buru masuk dan meluncur ke butikku.

Sesampainya di sana aku langsung disambut dengan Kevin yang duduk di ruanganku.

"Kevin?" Aku buru-buru menutup pintunya lagi.

Aku menjadi sedikit paranoid, jika saja ada King yang akan tiba-tiba muncul seperti kemarin.

"Kenapa kau ke sini?" Aku bertanya sambil menarik tangan Kevin untuk masuk ke kamar yang ada di dalam ruangan ini. Aku takut jika ada yang melihat keberadaan Kevin di sini.

"Aku mencemaskanmu, Love. King tak macam-macam kan?" Kevin bertanya dengan raut wajahnya yang cemas. Aku yakin Kevin pasti takut melihat emosi King yang seperti kemarin.

Aku menggeleng, dan arah pandang mataku tertuju kepada luka lebam yang ada di wajah Kevin.

"Maafkan King ya. Dia memukulimu kemarin." Aku sangat merasa bersalah untuk yang satu itu.

Kevin mengangguk, lalu kedua tangannya menggenggam tanganku. Membimbing tanganku untuk menyentuh luka lebam di wajahnya.

"Ini sakit, tapi tak masalah, asalkan aku boleh selalu menemui dirimu, Love."

Aku terkekeh dan mengangguk. Kevin memang sangat manja, aku lebih menganggap dia sebagai adikku sendiri. Toh aku ini anak yatim piatu yang tak memiliki saudara. Jadi keberadaan Kevin di antara suami dan keluarga mertuaku sangatlah menghibur diriku.

Rupanya Kevin datang dengan membawa makanan kesukaanku. Aku tak bisa menolak, tapi aku teringat perihal diet yang sedang kujalani.

"Kenapa tak mau? Apa rasanya berbeda?" Kevin menjilat sendok milikku. Padahal sebelumnya aku sudah memakai sendok itu.

"Tidak, itu lezat. Hanya saja aku sedang diet."

Kita berdua membicarakan banyak hal. Hingga sampailah aku menceritakan kepada Kevin, tentang King yang akan menikah lagi dengan seorang wanita bernama Vivian.

"Jika begitu itu bagus, Love. Kau bisa menceraikan dia. Dan memulai hidupmu yang pasti akan lebih bahagia." Kevin nampaknya bahagia dengan kabar ini.

Dia sampai tersenyum cerah dan membuat ujung-ujung garis di matanya nampak sangat jelas.

"Aku tak bisa. Karena King tak ingin menceraikan aku." Kulihat Kevin yang langsung bangkit, dengan memukul kuat meja ini. Aku kaget melihat reaksi Kevin ini.

"Kevin, ada apa?" aku bertanya kepadanya dengan panik. Meja yang ia pukul bukan meja biasa. Ini meja yang terbuat dari batang pohon mahoni yang sangat keras.

Dia memandangku tepat di mata. Lalu mencengkram kedua bahuku cukup erat. Wajahnya dipenuhi guratan halus. Dan dia tak terlihat baik-baik saja.

"Love, kenapa? Kau bisa melawannya kan? Apa satu tahun ini kau betah dengan King? Dia tak mengakuimi seperti istri! Dia hanya memanfaatkan tubuhmu!" Aku bergetar. hebat ketika Kevin secara gamblang menyatakan semua hal itu.

Aku menggeleng dan mencoba melepaskan cengkeramannya yang begitu kuat di bahuku, tetapi aku tak mampu.

"Love, kau tak akan bahagia dengannya! Dan ini adalah kesempatan bagimu untuk lepas selamanya dari Kevin. Ceraikan dia."

Aku tak bisa menceraikan King secara tak langsung aku benar-benar mencintainya.

Kevin masih belum selesai meyakinkan dirinya. Kali ini dia sedikit agak nekad. Dia semakin mendorong tubuhku, hingga aku terhimpit tembok.

Bibir Kevin semakin dekat dengan wajahku. Aku takut. Seketika Kevin tak terlihat seperti Kevin yang aku kenali.

"Aku ... aku mencintaimu, Love." Nada suara Kevin yang seperti sangat lelah untuk menyimpan perasaannya kepadaku mulai mask ke dalam telingaku.

Aku tak salah dengar? Kevin mencintai aku? Aku yang merupakan istri dari saudara jauhnya?

Ini tidak benar. Aku menggeleng kuat dan berusaha untuk mendorong Kevin menjauh, kali ini aku berhasil. Kevin terdorong lumayan jauh ke belakang.

"Kev, ini tak benar. Bagaimana kau bisa mencintaiku? Aku--"

"Ya! Aku sangat mencintaimu, Love. Aku ingin memilikimu, tapi takdir lebih dulu membawamu kepada King!" Kevin menyatakan perasaannya yang ia pendam di depanku secara langsung.

Debaran hatiku tak bisa berhenti sejak tadi. Bahkan aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Tuhan, kenapa kau selalu membuatku ada di dalam keadaan seperti ini?!

"Loveline ... ceraikan King. Lalu menikahlah denganku."

Aku tak percaya dengan ajakan Kevin yang sangat terang-terangan itu. Bagaimana bisa dia berpikir semuanya semudah itu?!

"Kevin. Jangan seperti ini. Semuanya salah. Aku tak bisa bercerai dari King. Dan aku tak bisa menikah denganmu. Aku tidak bisa." Aku menggelengkan kepalaku hebat. Aku ingin menangis dan berteriak saat itu, tetapi Kevin yang di luar kendali kembali maju dan menerjangku.

Dia membawa tubuh kami ke atas ranjang. Dia menghapus air mataku, tapi dia tak mendengarkan aku untuk berhenti melakukan ini semua.

"Love, kita bisa pergi sejauh mungkin dari negara ini, dari King dan dari keluarganya. Kumohon, Loveline ... aku tak bisa menghapuskan cintaku kepadamu." Kevin memohon di depanku. Dia menangis dan air matanya jatuh di atas wajahku.

Untuk beberapa saat aku sangat ingin menyetujui keinginan Kevin. Aku sempat berpikir jika lebih baik dicintai daripada mencintai. Kevin mencintaiku kan? Apa aku harus menuruti Kevin?

"Love! Aku berjanji kepadaku, aku akan membuatmu bahagia. Aku tak akan membuatmu merasa sedih dan kecewa seperti yang King lakukan."

Kevin tak main-main saat itu. Aku sangat tahu dari raut wajahnya yang dipenuhi keseriusan.

"Love-"

Brak-!

"I-bu Loveline?" Seorang pekerja di butikku memergoki aku dan Kevin yang sedang dalam posisi seperti ini.

"Kevin! Minggir!" Aku mencoba mendorong Kevin. Tapi Kevin tak tergoyahkan. Dia menatap pekerjaku itu sambil mengancamnya.

"Pergi dan tutup mulutmu! Atau aku akan berbuat sesuatu yang tak pernah kau bayangkan!" seru Kevin yang langsung membuat pekerjaku ketakutan dan mengangguk mematuhi Kevin.

Setelahnya Kevin kembali fokus kepadaku yang masih berusaha untuk lepas dari jeratannya.

"Loveline, apa jawabanmu? Kau mau kan? Kau harus mau." Kevin terus memaksaku.

Namun, aku masih dilema untuk memilih.

"Beri aku waktu, Kev. Aku harus memikirkan semua ini matang-matang." Syukurlah Kevin mau mengerti. Dia sudah melepaskan diriku. Lalu setelahnya mengecup dahiku.

"Aku yakin kau akan memilihku. Aku akan memberimu watu selama tiga hari untuk memikirkan segalanya, Love."

Kini Kevin telah pergi dan meninggalkan diriku dengan semua pikiran rumit yang memenuhi otakku.

"Astaga! Ini hampir sore, bagaimana jika King sudah pulang? Aku harus segera pulang!" Aku tak mau King menemukan aku yang tak berada di rumah. Dia pasti akan memarahi semua pelayan, jika hal itu terjadi.

Tapi aku baru saja ingat, jika sore ini adalah jadwalku untuk menemui client yang akan berkonsultasi untuk gaun pernikahan mereka.

"Aku akan menanyakan kepada Bibi, apa King sudah di rumah atau belum." Setelah berbincang di telepon dengan Bibi, aku menghela nafasku lega. King belum ada di rumah dan kemungkinan King akan pulang larut, sama seperti biasanya.

Jadi aku masih memiliki waktu. Aku bergegas untuk ke tempat janjianku dengan Client.

Sesampainya aku di sebuah restoran yang cukup ramai, aku langsung paham jika Client-ku duduk membelakangi diriku dengan calon suaminya.

Tapi kenapa punggung calon suami Client-ku nampak tak asing?

Aku membuang semua pikiran negatif yang ada di hatiku. Dan segera melangkah lebih dekat ke meja Client-ku.

"Maaf menunggu lama, Samantha."

Sapaanku menjadi hambar saat aku melihat siapa sosok pria yang ada di dekat Samantha, Client-ku.

"Oh? Hai, kau desainer gaunku kan?" Samantha berdiri dan menyambut kedatanganku.

Aku membeku di tempatku berdiri dengan hati yang kembali terasa teriris.

"Perkenalkan, namaku Vivian Samantha. Dan ini adalah calon suamiku, King Antareska."

Deg!

King menatapku dengan tatapan dingin yang menusuk. Apa King sengaja?! Apa King sengaja memesan gaun di butikku? Dia ingin membuat hatiku semakin sakit?

"Kau memesan gaun di tangan yang tepat, Vivian." King bersuara setelah kami bertatapan.

"Sangat tepat." Kali ini King berdiri dan mendekatiku yang semakin bergetar menahan Isak tangis.

"Ya, aku dengar jika butik miliknya sangat terkenal dengan desain yang orisinil. Aku ingin membuat gaun pernikahanku denganmu sangat indah." Vivian sama sekali tak tahu sepertinya tentangku. Aku adalah Loveline Amaris, istri pertama King.

Aku tak terkejut. Karena aku tahu selama satu tahun ini, King tak pernah memperkenalkan diriku secara langsung ke orang-orang. Dia hanya mengatakan jika memiliki seorang istri tanpa menyebutkan nama ataupun menunjukkan wajahku kepada dunia.

"Kenapa kalian berdua masih berdiri? Ayo duduk."

Aku dan King masih terdiam. Hingga tiba-tiba King menarik paksa tanganku keluar dari restoran.

"King! Hei! Kalian mau ke mana?! King!" Bahkan teriakan dari Vivian tak dihiraukan oleh King.

King seperti tengah kesetanan. Dia menarik tanganku kuat sekali. Setelah memasukan tubuhku ke dalam mobil, dia langsung menutup pintunya sangat kuat.

Brak-!

Dia melajukan mobil ini dengan brutal. Aku bahkan sangat takut walau untuk membuka mataku saat ini.

Kurasakan mobil ini berhenti. Saat itu aku membuka mataku dan melirik King yang mencengkram kuat stir mobil.

"King-"

"Diam! Aku tak memintamu bicara!" King sangat marah kepadaku. Tapi bukannya aku yang harusnya marah kepadanya? Bukannya di sini aku yang tersakiti?!

King mendekatiku. Dia mencengkram kuat kedua pipiku, lalu dengan brutal melahap habis bibirku yang kering.

"King- Ngmmpt!" Aku tak ia beri kesempatan untuk bicara.

King mengobrak-abrik seisi rongga mulutku. Aku hampir menangis dibuatnya.

Hingga selang beberapa menit King menghentikan aksinya. Namun kali ini dia malah semakin brutal.

"Kau tak menuruti perintahku. Kau keluar dari mansion untuk bekerja kan?!" tanya King yang sedang melonggarkan dasi dan ikat pinggangnya.

Mataku semakin ketakutan. Kali ini apa yang akan King lakukan kepadaku?

"Kau harus mendapatkan hukuman, Loveline. Kau bertindak terlaku jauh!"

King menuruni posisi kursiku menjadi terlentang. Dia menarik paksa pakaian yang melekat di tubuhku.

Apakah King akan kembali membuatku merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan?! Apa dia akan kembali menghancurkan diriku?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED